Bab 48. RENCANA AKUISISI PERUSAHAAN Kemudian Jaka berniat berdiri dengan cepat dari duduk semedinya, tiba-tiba tubuhnya melenting dengan sangat cepat hingga hampir menabrak plafon rumah yang tingginya empat meter. Dengan cepat Jaka mengontrol kekuatan lentingan tubuhnya dan telapak tangannya menyentuh plafon dengan lembut untuk menghentikan daya dorong lentingan nya. Tubuh Jaka turun dengan perlahan ke atas lantai, “Huh… untungnya saya cepat sigap dan menahan daya lentingan tubuh saya, kalau terlambat sedikit pasti plafon rumahku hancur.” Mata Jaka menatap keluar rumah dari lantai tiga dimana dia berada, “Ternyata sudah siang, saya kan diberi cuti selama dua hari oleh dosen Saras, sebaiknya mau ngapain ya?” Jaka tampak bingung dengan apa yang akan dilakukannya, setelah mendapatkan cuti kuliah selama dua hari. Dari lantai tiga, Jaka bisa melihat bangunan-bangunan yang ada di kejauhan, hingga akhirnya dia melihat gedung pencakar langit di kejauhan. “Oh iya, s
Bab 49. SEKRETARIS SULISTINA Jaka sepertinya tidak peduli melihat sikap semua orang yang memandang rendah dirinya. Sebenarnya hal ini sangatlah wajar, karena penampilan serta aura Jaka saat ini masih aura seorang pemula atau pebisnis pemula, bahkan lebih mirip seperti aura pekerja kelas bawah. Jaka yang sudah terbiasa menghadapi hinaan orang sejak kecil, sama sekali tidak peduli dengan tatapan mereka yang aneh dan terlihat penuh dengan ekspresi merendahkan. Setelah Jaka duduk di meja mereka dan Buyung Paris sudah memperkenalkan semua orang, dia segera membuka percakapan. Sepertinya Buyung Paris diberi wewenang seorang pembawa acara dalam pertemuan ini. “Pak Jaka, seperti bapak bicarakan lewat email, kalau bapak berminat membeli PT Nusa Bangsa, dalam hal ini saya mewakili perusahaan sebagai kuasa hukumnya untuk membantu proses akuisisi ini. Kalau boleh saya tahu, siapakah nama Boss anda yang akan mengakuisisi PT Nusa Bangsa?” Semua orang tampak menatap taj
Bab. 50. DATANG KE PERUSAHAAN “Terimakasih Boss,” ucap sekretaris Sulistina dari seberang ponselnya, meskipun dia belum tahu berapa dana yang sudah diberikan Jaka ke rekening perusahaan. “Permisi bu Sulistina..”Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita mengganggu pembicaraan sekretaris Sulistina dengan Jaka, seketika itu juga sekretaris Sulistina mengerutkan dahinya dengan ekspresi tidak senang terlihat jelas di raut wajahnya. Apalagi orang ini tidak mengerti pintu terlebih dahulu saat memasuki ruangannya. Sekretaris Sulistina segera memberi kode menggunakan jari telunjuk yang diletakkan di depan bibirnya, sebagai tanda kalau wanita yang baru saja datang untuk menahan apa yang akan dikatakannya. Jaka yang masih menelepon Sulistina juga mendengar pembicaraan di tempat sekretarisnya itu, segera saja Jaka berkata, “Coba kamu dengarkan dulu apa yang dikatakan rekanmu, siapa tahu penting.” Perasaan Sulitina seketika menjadi buruk, setelah mendengar perkat
Bab 51. MEMERIKSA PERUSAHAAN Setelah memarkirkan mobilnya, Jaka segera keluar dan berdiri memandang gedung tiga lantai di depannya dengan perasaan campur aduk. Bagaimanapun juga, perusahaan ini adalah perusahaan pertamanya, jadi rasa suka cita tentu saja menghiasi hatinya. “Selamat datang di dunia bisnis, semoga awal ini merupakan awal bagi saya untuk menapakkan kaki di dunia bisnis yang sebenarnya,” gumam Jaka dalam hatinya. Setelah menghela nafas untuk merasakan udara di sekitar perusahaan barunya, Jaka segera melangkahkan kakinya dengan perlahan ke arah lobi perusahaan. Sementara itu di lobi perusahaan, semua orang tampak heboh dan berbaris rapi untuk menyambut kedatangan Boss baru mereka. Pandangan semua orang tertuju ke arah Jaka yang sedang berjalan ke arah mereka. “Selamat datang Boss besar…!!”Terdengar suara bergemuruh dari puluhan karyawan yang menyambut kedatangan Jaka. Ekspresi wajah Jaka seketika berubah ketika melihat penyambutan
Bab 52. MEMBERI HUKUMAN Jaka yang sedang berjalan menuju mobilnya, tentu saja mendengar percakapan kedua satpam meskipun mereka berbicara dengan berbisik. Jaka segera menghentikan langkahnya, kemudian melambaikan tangan ke arah mereka berdua. “Kalian berdua kemarilah.” Kedua Satpam yang sedari tadi membicarakan kedua petinggi perusahaan ekspresi wajahnya langsung berubah. “Cepat, kemarilah!” sekali lagi Jaka memerintahkan kedua Satpam untuk menghampirinya. Sementara itu Sekretaris Sulis yang berjalan di belakang Jaka, tampak kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hati dia bertanya-tanya, “Kenapa Boss Jaka memanggil kedua satpam yang sedari tadi diam saja? Apakah mereka telah melakukan kesalahan?” Dengan ekspresi panik, kedua satpam segera berlari mendekati Jaka. Mereka berdua segera membungkuk memberi hormat, meskipun dengan wajah bingung dan tidak mengerti kenapa mereka dipanggil. “Apa kalian tahu untuk apa kalian saya panggil?”
Bab 53. SEBUAH TAMPARAN Tangan Jaka menggenggam erat telapak tangan pria yang memegang bahunya dan menjauhkan dari bahunya, bukan hanya itu genggaman tangan Jaka yang seperti jepit besi langsung meremukan jari jemari tangan pria yang sok Jago ingin mengintimidasi Jaka. Kratak…. “Auuu www…” jeritan pria itu sangat mengerikan ketika telapak tangannya hancur digenggam Jaka. Kejadian ini tentu saja mengejutkan Edo dan Sulistina serta pengunjung Cafe, semua orang memusatkan pandangannya ke arah pria yang baru saja berteriak kesakitan seperti kambing di sembelih. Jaka melepaskan genggaman pada telapak tangan temannya Edo, kemudian melanjutkan makannya, seakan tidak pernah terjadi apapun di sekitarnya. Sementara itu temannya Edo yang telapak tangannya hancur tampak melompat-lompat sambil memegangi tangannya dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Rasa takut seketika menghantui dirinya setelah telapak tangannya hancur setelah di pegang tangan Jaka. “
Bab 54. SATPAM TAK TAHU DIRI “Pak, pak pak Satpam tolong lerai mereka,” ucap Sulistina begitu kedua satpam sudah sampai di depan mejanya. “Ini ada apa bu? Kenapa ada keributan seperti ini?” salah satu satpam membalas pertanyaan Sulistina dengan ekspresi tidak senang terlihat di raut wajahnya. “Itu yang berbaju merah mengganggu makan malam kami, dan Boss saya mengajak pria yang berbaju merah untuk pergi ke halaman untuk duel agar tidak merusak tempat ini. Pak satpam tolong hentikan mereka,” bujuk Sulistina dengan tatapan penuh harap. “Baiklah, kami akan melerai mereka. Apalagi ini adalah cafe dan mereka dilarang membuat keributan di tempat ini, meskipun di halaman Cafe.” “Baik, ibu harap tunggu disini agar tidak terluka.” Setelah menyanggupi permintaan Sulistina, kedua Satpam bergegas pergi ke halaman untuk melerai Jaka dan Edo. Sementara itu Jaka dan Sulistina yang sudah sampai di halaman Cafe sudah dalam posisi siaga untuk melakukan pertarungan.
Bab 55. SITUASI YANG MEMBINGUNGKAN Tubuh Jaka melenggak lenggok seperti sedang menari ketika menghindari pukulan beruntun satpam ini, kemudian Jaka yang sudah kesal dengan apa yang dilakukan satpam ini segera menampar wajah satpam di depannya hingga terpelanting dan jatuh menghantam lantai. Satpam ini sepertinya terluka cukup parah, karena pipinya langsung bengkak di giginya hancur terkena tamparan Jaka. Pemandangan ini tentu saja mengejutkan semua orang yang melihat keributan ini, sementara itu Sulistina yang sebelumnya masih duduk di kursinya, segera berdiri dan berjalan keluar Cafe untuk menghentikan keributan ini. Sebelum keluar dari Cafe, Sulistina membayar makanannya terlebih dahulu ke meja kasir, baru pergi menemui Jaka. “Boss, sebaiknya kita pergi dari tempat ini untuk menghindari masalah yang lain lagi,” bisik Sulis yang sudah berada di dekat Jaka. “Sebentar, biar saya bayar makanan kita terlebih dahulu.” “Tidak perlu Boss, saya sudah
Bab 123. SIALAN “Hallo Boss muda, ada apa nih Boss muda menghubungi saya?” Terdengar suara seorang pria dengan suara serak dari seberang panggilan. “Gini Bang, saya sedang ada masalah sedikit. Karena itulah saya menghubungi abang,” jawab Ridwan dengan nada serius. “Ha ha ha ha… Boss muda ternyata masih mengenalku. Saya merasa tersanjung Boss muda sudi menghubungi saya. Oh iya, ada pekerjaan apa nih? Apakah saya perlu menghabisi seseorang tanpa jejak, atau cukup memberi pelajaran saja?” Suara telepon langsung hening ketika bang Sapto menebak apa yang diinginkan Ridwan dengan menghubunginya. Setelah menghela nafas berat, Ridwan melanjutkan percakapannya dengan sambil tetap fokus mengemudi. “Saya ingin abang menghabisi seseorang, kalau bisa abang mencari orang yang bisa membunuh seseorang yang mempunyai ilmu kebal.” “Apa? Ilmu kebal?” Terdengar suara bang Sapto sangat terkejut ketika mendengar perkataan Ridwan. “Maksud Boss Ridwan, sasaran kali i
Bab 122. BERTEMU MUSUH LAMA “Jaka, kamu dari mana saja? Kenapa kamu baru kelihatan?” kata salah satu teman kuliah Jaka yang melihat Jaka memasuki ruang kelas semester tiga. “Saya sedang cuti sebentar, jadi tidak bisa mengikuti pelajaran,” jawab Jaka berusaha memberi alasan yang logis. “Tapi, bagaimana kamu bisa gabung bersama kita di semester tiga? Bukankah kamu tidak mengikuti ujian kenaikan semester?” “Sudah, tentu saja saya sudah mengikuti ujian susulan untuk kenaikan semester. Karena itulah sekarang saya bisa berkumpul dengan kalian.” Teman-teman Jaka masih bingung dengan apa yang terjadi dengannya, bagaimanapun juga Jaka sudah tidak mengikuti kegiatan belajar selama enam bulan lamanya. Kebingungan mereka tidak bisa mendapatkan jawaban yang cukup memuaskan, mereka berpikir apakah bisa dengan mengikuti ujian susulan, mahasiswa yang lama cuti bisa naik semester. Hari-hari berlalu dengan tenang sejak Jaka mulai mengikuti jam kuliah di Universitas Matri
Bab 121. ANAK YANG MENGAGUMKAN “Tidak ada apa-apa, ayo kita ngobrol yang lainnya saja,” sanggah Melati Sugiri menghindari percakapan tentang pemuda yang membuatnya penasaran. “Ha ha ha ha… sepertinya Melati sedang puber kedua, lihatlah Brondong yang duduk sendirian di sana,” sahut Caroline sambil memberi tanda ke arah meja Jaka. Semua wanita seketika menoleh ke arah meja Jaka Kelud, hal ini tentu saja membuat wajah Melati langsung memerah menahan malu. “Ha ha ha ha… kamu memang mempunyai mata yang tajam, lihatlah wajah pemuda itu memang cukup ganteng,” canda salah satu teman Melati. “Kalian membuatku malu saja. Sepertinya kalian salah menerka apa yang bikin saya penasaran,” bela Melati mencoba meluruskan apa yang ada di dalam pikirannya. “Salah? Sepertinya kami tidak salah menebak isi hatimu. Sepertinya kamu memang sudah seperti yang lainnya, suka dengan pria muda, ha ha ha ha…” Bibir Melati cemberut mendengar ejekan teman-temannya, kemudian Melati
Bab 120. MELATI SUGIRI Dengan perasaan takjub, Jaka melihat bahwa ruangan di dalam cincin spiritual ini, luasnya seukuran lapangan sepak bola. “Hebat, benar-benar hebat. Apakah ini yang dinamakan cincin spiritual atau cincin penyimpanan seperti yang saya baca pada novel online genre fantasi? Betul, ini adalah cincin penyimpanan yang sangat ajaib itu. Hari ini adalah hari keberuntunganku, baiklah sebaiknya saya segera pergi dari tempat ini sebelum ada orang yang melihatnya,” pikir Jaka yang segera memasukkan pusaka Kujang emas dan peti kayu hitam itu ke dalam cincin spiritual dengan kekuatan energi spiritualnya. Segera, Jaka keluar dari gua penyimpanan dan menutup kembali tempat itu. Setelah itu tubuh Jaka melesat ke langit, terbang dengan cepat meninggalkan situs reruntuhan kuno untuk kembali ke kamar penginapannya. Senyum puas menghiasi wajah Jaka ketika di sudah sampai di kamarnya, kali ini dia ingin memeriksa sekali lagi isi dari cincin spiritual yang ada di
Bab 119. PUSAKA KUJANG EMAS Dung… dung… dung… Suara menggema terdengar dari balik dinding batu yang di ketuk Jaka, hal ini tentu saja membuatnya semakin penasaran. Kemudian sekali lagi Jaka memperhatikan batu aneh yang menyerupai sebuah tonjolan. Kembali Jaka mengutak-atik batu aneh itu, kali ini Jaka menyalurkan energi Prana ke batu itu. Tiba-tiba saja batu aneh yang di pegangnya masuk ke dalam dinding batu, dan tiba-tiba juga terdengar suara berderak seperti benda bergeser. Drrtt… drrtt… drrtt…Sebuah pintu terpampang di depan Jaka, ketika dinding batu di depannya bergeser dengan pelan saking beratnya dinding batu itu. Debu tebal beterbangan ketika pintu batu itu terbuka, Jaka mengebutkan tangannya untuk menepis debu yang beterbangan di depannya. Kemudian setelah pintu berhenti bergeser, di hadapan Jaka terlihat sebuah ruangan yang gelap gulita. Apalagi sekarang tengah malam, tentu saja suasana di dalam gua lebih gelap lagi.
Bab 118. RERUNTUHAN KUNO “Zaman sekarang pikiran para anak muda benar-benar aneh, mereka begitu suka dengan hidup bebas dari pengawasan orang tua. Semoga generasi muda yang akan datang tidak ada lagi yang seperti itu,” gumam Jaka dalam hatinya. Jaka yang terbiasa hidup dalam kemiskinan, tidak pernah sedikitpun mempunyai keinginan untuk hidup menggelandang dengan simbol kebebasan seperti anak-anak punk ini. Meskipun dia tidak melarang anak-anak remaja itu untuk hidup dijalanan dengan bekal uang yang minimal. Bagi Jaka saat remajanya lebih banyak digunakan untuk belajar dan bekerja mencari kayu bakar untuk membantu orang tuanya. Setengah jam kemudian, setelah nongkrong di taman kota, Jaka segera bangkit dari duduknya dan menghentikan taksi untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Jaka yang tak tahu harus melakukan apa? Hanya bisa duduk bersantai sambil membaca buku dan pelajaran yang akan diujikan beberapa hari yang akan datang. Sambil membaca bu
Bab 117. AKSI JAKA KELUD Tangan yang memegang pistol langsung diarahkan ke tubuh Jaka Kelud, meskipun dengan tangan gemetar. Dor! Dor! Dor! Dor! Suara tembakan mengagetkan warga yang sedang menonton keributan ini, wajah semua orang memucat karenanya. Sementara itu empat peluru mengenai tubuh Jaka dengan telak di bagian dadanya, pakaian yang dikenakannya langsung berlubang. Kedua penculik itu tersenyum gembira, ketika melihat tembakan mereka dengan tepat mengenai tubuh bagian depan Jaka yang berdiri di depan pintu belakang. “Ha ha ha ha…. rasain tuh makan pelor panas, makanya jadi orang jangan suka mencampuri urusan orang,” ejek salah satu penculik sambil memandang ke tubuh Jaka yang berdiri di depan pintu. Rasa takut mereka berdua langsung menghilang, setelah tembakan mereka mengenai tubuh Jaka Kelud. Akan tetapi kegembiraan mereka segera menghilang ketika sebuah senyuman muncul dari wajah pemuda yang memasukkan kepalanya kedalam mobil.
Bab 116. MENGHANCURKAN MOBIL PENCULIK “Ada apa ini? Kalian menabrak kakak ini ya?” Tiba-tiba terdengar suara orang menegur pria yang sedang memarahi Jaka, seketika pria yang sedang dirundung emosi segera tersadar dan menoleh ke arah sumber suara. Seketika itu juga ekspresi wajah pria gerombolan penculik langsung berubah, di sekelilingnya ternyata sudah ada puluhan warga yang penasaran dengan apa yang terjadi. “Eh… tidak apa-apa, hanya saja pria ini ingin bunuh diri dengan cara menabrakkan tubuhnya ke mobil kami,” dengan gagap pria kelompok penculik memberi alasan atas apa yang sedang terjadi. Puluhan warga yang sudah mendekat ke keramaian ini, langsung saling pandang. Antara percaya dan tidak percaya, mereka segera mendekat kearah Jaka. “Bang ada apa ini? Apa benar kamu ingin bunuh diri?” “Siapa yang ingin bunuh diri? Mulut pria itu saja yang asal ngomong, bapak-bapak, kebetulan anda ada disini. Saya berusaha menghentikan mobil ini karena mereka ada
Bab 115. MENGHADANG MOBIL PENCULIK “Tolong beri jalan,” ucap Jaka sambil menatap ketiga pemuda kampung di depannya. “Beri jalan? He he he he…. sepertinya kamu tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu yang sudah berani memasuki kamar wanita yang bukan muhrim?” celetuk Anto sambil menatap sinis ke arah Jaka. Ketiga pemuda kampung ini berjejer rapi menghalangi jalan keluar Jaka dari kamar kontrakan Dian Utami. “Bang Anto, apa yang kamu lakukan? Beri jalan kepada temanku!” perintah Dian Utami sambil melotot ke arah Anto dan kedua temannya. Anto dan kedua temannya seakan tidak mendengar perkataan Dian Utami, mereka bertiga tetap menghalangi jalan keluar Jaka dengan senyum penuh ejekan membayang di wajah mereka. Jaka menatap pemuda kampung di depannya dengan perasaan tidak suka, melihat ketiganya bersikeras untuk menghalangi jalannya, Jaka tetap melangkah untuk menabrak mereka bertiga. Telapak tangan Jaka mengibas seperti mengusir lalat yang mengerubuti