Jeremy menaikkan tatapan dinginnya dan menusukkannya ke hati Meredith yang dipenuhi gairah dan pengharapan.“Aku hanya mencintai satu wanita dalam hidup ini dan wanita itu adalah Linnie. Adapun dirimu, apa menurutmu pria manapun akan menyukai perempuan jahat dan hina sepertimu?”“Heh!” Meredith tertawa getir. Kemudian, dia mengepalkan tinjunya. Matanya juga dipenuhi dengan kecemburuan dan kebencian. “Baiklah, jawaban yang blak-blakan. Begitu blak-blakannya hingga akan membuatku mati dengan sisa-sisa kesedihan!”Dia menggigit bibirnya kuat-kuat hingga merobek dagingnya. Dia tidak melepaskan nya bahkan ketika darah mulai mengalir dari lukanya.Jeremy tidak tertarik melihat Meredith dalam keadaan yang menyedihkan ini, jadi dia bertanya dengan tidak sabar, "Aku tak punya waktu untuk dibuang dengan percuma. Cepat katakan.”Meredith menertawakan dirinya sendiri dengan getir ketika Jeremy menolak untuk melihatnya. “Jeremy, aku akan mati besok. Kenapa kamu tidak mau menatapku? Apakah aku begit
Madeline berlutut dan mengambil benda yang terjatuh di lantai itu. Dia lebih cepat dari Felipe."Kenapa benda ini ada padamu?" Madeline mengerutkan kening saat kedua matanya dilintasi rasa ingin tahu dan rasa heran.Felipe dengan tenang mengambil kerang warna-warni dari tangan Madeline dan menggenggamnya erat-erat di tangannya. “Lebih dari sepuluh tahun yang lalu di pantai Bukit April, ada seorang gadis kecil yang menghadiahkan kerang warna-warni ini kepadaku. Dia bahkan mendoakanku agar selalu berbahagia dan berharap dia bisa bersamaku selamanya."Felipe berkata sambil menatap dalam-dalam kedua mata Madeline, memperlihatkan sepasang bola matanya yang memancarkan rasa kesepian dan kesedihan."Namun, lebih dari sepuluh tahun kemudian, gadis itu jatuh cinta dengan pria lain.""Apa maksudmu?” Mata Madeline membelalak setelah mendengar kata-kata Felipe.Dia menatap wajah tampan Felipe di depannya, tercengang. Pikirannya dilintasi ingatan tentang Meredith yang menyalak padanya di penjara."
"Stop ... jangan bicara lagi. Kepalaku sakit! Jeremy, Jeremy…""Linnie!"Jeremy, yang baru saja kembali dari penjara, tiba di pintu masuk vila dan menyaksikan seluruh pemandangan itu.Madeline memanggil namanya dengan putus asa sementara Felipe memegang kedua tangan wanita itu.Dia buru-buru memarkir mobilnya, bergegas di bawah hujan dengan langkah-langkah lebar, dan memeluk Madeline yang masih bergumam dengan putus asa di pelukannya."Aku disini, Linnie. Jangan takut.” Dia memeluk Madeline. Dia merasa seolah-olah jantungnya ditikam ketika melihat ekspresi menderita di wajah Madeline.Kemarahan menjalari dirinya saat dia berbalik menghadap Felipe dengan tatapan tajam di wajahnya. Kata-kata dingin terlontar dari bibir tipisnya, "Enyah kau. Berhentilah mengganggu istriku. Sebaiknya kau menghilang sekarang juga."Felipe tidak marah dan hanya tersenyum. Sepasang bola mata dinginnya bergeser dari wajah pucat Madeline ke mata Jeremy yang penuh amarah.Dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya m
Semua pelayan dan pengawal terbangun dan bergegas keluar, namun tak seorang pun dari mereka bisa menghentikan Jeremy yang memancarkan aura membunuh."Suruh Felipe keluar dan menemui aku." Dia berjalan ke tengah aula dan memelototi semua pengawal yang mengepungnya."Buat apa keributan ini padahal keponakanku yang ingin bertemu denganku?” Suara Felipe terdengar dari atas.Sepasang mata Jeremy yang dingin beralih melihat Felipe tidak bergegas turun.Felipe mengenakan jubah mandi longgar disertai ekspresi riang di wajahnya. "Kalian harus istirahat saat waktunya istirahat. Jangan mengganggu reuniku dengan keponakanku yang menawan.” Dia kemudian menyuruh para pelayan dan pengawal pergi.Sekejap kemudian, hanya ada mereka berdua di aula."Felipe Whitman, apa ini caramu merebut istri seseorang? Dengan terus menerus memberikan tekanan pada Linnie dan membuatnya menderita? Apa kau senang melakukan itu?" Kemarahan muncul dalam kedua bola mata Jeremy saat dia bertanya.Felipe menyeringai, "Aku men
Jeremy membanting sumpitnya ke atas meja.Karen seketika diam. Dia menaikkan pandangannya hanya untuk menemukan bahwa bahkan Old Master pun memelototinya, jengkel karena ketidakpuasan beliau.Madeline, sebaliknya, menawarkan untuk menyeka mulut Old Master sebelum bertemu dengan tatapan Karen. Dia tersenyum dan berkata, "Kurasa pepatah yang mengatakan tentang kepribadian seseorang tidak akan berubah mengacu pada orang sepertimu, ya?"…"Kau tahu bahwa dengan mengatakan omong kosong seperti itu akan membuat semua orang tidak bahagia, tapi kau tetap mengatakannya. Aku tak bisa memahami tindakanmu. Aku ingin tahu apakah kau bodoh atau hanya punya EQ rendah?"Wajah Karen menjadi merah muda. "Kau…""Sudah, diam! Makan sarapan mu!" Winston buru-buru memotong istrinya, tak mengizinkan wanita itu menyelesaikan komentarnya.Namun, Karen tak mau menyerah. Menatap seringai Madeline, dia merasa seolah Madeline sedang mengolok-oloknya.Marah, Karen mengambil tasnya dan pergi keluar tanpa menghabis
Karen bergegas kembali ke villa setelah berdiskusi secara cermat dengan Yvonne di kondominium.Dia melihat Madeline turun dari lantai atas ketika dia memasuki villa. Dia tersenyum dan menyapanya seperti tidak terjadi apa-apa untuk mencegah Madeline mencurigainya."Menantuku," panggil Karen. "Aku minta maaf atas apa yang terjadi pagi tadi. Kau benar, aku adalah orang dengan EQ rendah. Aku tidak pandai berbicara, jadi tolong kata-kataku jangan dimasukkan ke dalam hati."Madeline menjawab sambil tersenyum, "Aku tidak akan memasukkan komentar bodoh itu ke hati."Karen tak bisa mentolerir jawaban blak-blakan Madeline. Senyuman di wajahnya membeku saat kemarahan menjalari dirinya. "Madeline, aku meminta maaf kepadamu dengan nada yang menyenangkan, tapi kau menggunakan sikap seperti itu untuk melawanku? Kau—""Sesuatu yang mencurigakan pasti sedang terjadi jika sesuatu yang tidak biasa terjadi. Pernahkah kau mendengar ungkapan itu sebelumnya?" Madeline langsung memotong, mengangkat tatapan ba
Karen tahu betul bahwa peluang telah datang dan dia dengan cepat mencuri desain Madeline. Dia juga memperhatikan laptop di atas meja tamu yang memajang perangkat lunak desain. Dia langsung log masuk ke emailnya di laptop dan mengirimkan manuskrip elektronik dari desain tersebut ke Yvonne. Dia juga menghapus arsip di laptop.Setelah semua kerepotan itu, Karen mengambil segelas air dan menuangkannya ke atas lembaran kertas. Kemudian, dia meletakkan gelas di sudut atas sehingga akan terlihat seolah-olah seseorang secara tidak sengaja menyenggol gelasnya, membasahi tumpukan kertas.Sementara itu, Yvonne sangat senang menerima desain yang dikirimkan oleh Karen.Dia dengan cepat menelpon Karen untuk memastikan bahwa itu adalah desain yang dipilih Madeline untuk mengikuti kompetisi.Yvonne memandang desain itu dengan puas. "Madeline, aku akan mengakui bakatmu. Sayangnya, sebagus apapun gambarmu, itu tetap akan menjadi produkku! Haha!"Dia tertawa terbahak-bahak saat membubuhkan tanda tanganny
Reaksi penonton sangat bertolak belakang dengan para juri karena mereka terlihat terpesona oleh desain itu.Melihat ekspresi para juri dan penonton membuat bibir Yvonne melengkung kegirangan.'Sepertinya desain Yvonne telah mencuri perhatian. Lihat saja orang-orang ini! Rahang mereka semua jatuh ke lantai setelah melihatnya!'Karen yang duduk di antara penonton pun ikut bangga saat mendengar pujian yang diberikan penonton.Tatapannya bertemu dengan tatapan Yvonne, lalu dia menoleh ke arah Madeline yang sedang duduk di area kontestan.Baik Karen maupun Yvonne girang melihat Madeline tercengang.'Hmph, aku yakin dirimu sama sekali tak menyangka ini terjadi, benar, Madeline?’'Kerja kerasmu sekarang menjadi milikku!'"Desainer nomor enam, apa kau yakin ini adalah desain yang kau ajukan untuk kompetisi ini?" Mr. Lewinski, yang sebelumnya didekati oleh Yvonne saat pesta amal, menunjuk ke layar dan bertanya.Yvonne mengedipkan matanya, bertingkah santun sambil mengangguk. "Ya, Mr. Lewinski.
Gina, yang berdiri di pintu, melihat adegan itu dan hendak masuk ketika dia dihentikan oleh suaminya.“Jangan membuat lebih banyak masalah lagi. Apa kau benar-benar ingin putramu menjadi bujangan selama sisa hidupnya?”“Siapa bilang aku akan membuat masalah? Aku akan memberi tahu mereka kalau aku sekarang setuju dengan pernikahan ini, oke?”Suaminya terkejut. "Kamu setuju?"Gina hendak menjawab ketika dari sudut matanya, tiba-tiba dia melihat sekilas cahaya di ruangan itu, disusul dengan sorakan dan tepuk tangan dari dalam.Ava melepaskan diri dari pelukan Daniel. Dia terkejut menemukan Madeline dan Jeremy, kedua orangtuanya, dan bahkan Tom dan Maisie perlahan mendekati mereka sambil tersenyum gembira. Ava menatap kosong ke arah Madeline. Kemudian, dia akhirnya mengerti kalau mereka semua telah bekerja sama untuk mengatur ini.Hanya dia dan kedua orangtua Daniel yang tidak diberi tahu.Daniel sama sekali tidak pernah berpikir untuk meninggalkannya. Pria itu hanya menggunakan pendekatan
Setelah mendengar ucapan Ava, Gina perlahan berhenti.Dia tak pernah menyangka kalau di hati Ava masih tersimpan rasa hormat padanya.Ini benar-benar mengejutkannya.Namun, sesaat kemudian dia mendengar Madeline membela Ava. “Ava, kau menghormati mereka, tetapi apakah mereka pernah menghormatimu? Rasa hormat itu harus secara timbal balik.”“Tapi Danny akan selalu menjadi putra mereka. Jika Dan dan aku bersikeras untuk menikah, kedua orangtuanya tidak akan bahagia selama sisa hidup mereka,” kata Ava dengan desahan tak berdaya. "Aku benar-benar tidak ingin Dan terjebak di tengah masalah ini."“Tapi Ava…”“Maddie, jangan bujuk aku. Kau seharusnya sudah tahu pasti bahwa ketika kau benar-benar mencintai seseorang, kau tidak harus tinggal bersama orang itu. Selama orang yang kau cintai aman, sehat, dan bahagia, itu sudah cukup, bukan?”Senyum lega tersungging di wajah Ava seolah-olah dia sudah membuat keputusan akhir di dalam hatinya.Madeline ingin membujuk lagi, tapi sepertinya untuk saat
Kedua orangtua Daniel, yang diam-diam mengamati Ava dari kejauhan, berangsur-angsur menjadi semakin gelisah di dalam mobil.“Hmph, berani-beraninya dia bilang kalau dia punya hubungan yang mendalam dengan Dan? Ini sudah lama sekali dan dia masih tidak tahu ke mana Dan pergi,” keluh Gina sambil memutar kedua bola matanya.Ayah Daniel melirik Gina. “Jangan terlalu jahat. Saat ini, yang terpenting adalah menemukan Dan. Ava bukan orang jahat. Pada awalnya, kau tidak menyukai wanita itu karena dia tidak punya orangtua, uang, dan kekuasaan. Sekarang, kedua orangtuanya masih hidup dan sehat, ibunya kaya raya, dan ayahnya adalah seorang dokter spesialis dan profesor. Apa lagi yang membuatmu tidak puas? Apa kau benar-benar ingin putramu tetap melajang sepanjang hidupnya?”Gina tidak senang ketika suaminya mengeluh tentang dirinya.“Bukankah kamu juga awalnya keberatan? Aku akhirnya menyetujui hubungan mereka, tetapi ayahmu menolak untuk setuju untuk menyelamatkan reputasinya. Mengapa sekarang k
Setelah membaca pesan Daniel, Old Master Graham sangat marah hingga sepasang matanya terbuka lebar.'Dia baru saja keluar dari rumah sakit dan dia kabur demi seorang perempuan?’‘Dia bahkan mengatakan bahwa jika dia tidak bisa menikahi perempuan itu, dia tidak akan menikah dengan siapa pun nanti?’Old Master Graham tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi.Namun, ketika memikirkannya lagi, dia masih merasa sedikit gugup.Jika Daniel benar-benar tidak menikah karena ini, bukankah ini akhir dari Keluarga Graham?‘Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.’Setelah berlari keluar, Ava pergi mencari Daniel di semua tempat yang bisa dia pikirkan. Namun, setelah menghabiskan sepanjang pagi mencari pria itu, dia masih tidak bisa menemukan Daniel.Dia mencoba menelepon Daniel, dan meskipun panggilan itu tersambung, selalu tidak dijawab.Seiring berjalannya waktu, Ava merasa sangat lelah. Dia duduk di sebuah kursi di pinggir jalan dan memperhatikan jalan di mana orang-orang lalu lalang.
"Aku akan pulang sekarang juga!"Gina buru-buru berlari ke parkiran. Tiba-tiba, dia berbalik dan menghentikan Ava, yang akan mengikutinya.“Jangan ikuti aku! Kau tidak diterima di rumah kami.”Terlepas dari peringatan Gina, Ava tak bisa menahan dirinya untuk tidak mencari Daniel.Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bagaimana bisa Daniel tiba-tiba memulangkan dirinya sendiri? Pria itu jelas-jelas koma di ranjang rumah sakit dan selama ini tidak sadarkan diri.Dalam perjalanan ke sana, Ava menelepon Daniel, tetapi Daniel tidak menjawab.Ava tidak tahu apakah Daniel membawa ponselnya, tetapi singkatnya, dia tidak bisa menghubungi pria itu.Dia sangat ingin berdiri di depan Daniel sekarang, tapi jalanan yang macet menghambatnya.“Lihat ini dan kau akan tahu apa yang terjadi.” Ayah Daniel terdengar seperti sedang mencela seseorang, lalu pria itu tampak menyerahkan sesuatu kepada Gina.Ava dengan cepat masuk sambil bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Daniel, tetapi begitu dia melangk
Untuk sementara waktu, Ava menatap bangsal yang kosong. Kemudian, dia kembali tersadar dan segera pergi mencari Daniel.Namun, setelah mencari-cari sebentar, Ava tidak bisa menemukan Daniel, dan itu membuatnya merasa sedikit gugup.Pada saat ini, Gina juga masuk.Dia melihat bangsal itu kosong, dan Daniel, yang seharusnya berbaring di ranjang rumah sakit, telah menghilang."Apa yang sedang terjadi? Di mana Dan? Apakah dokter membawa Dan pergi?” Gina menatap Ava dan bertanya dengan ekspresi tidak ramah di wajahnya.Ava sudah terbiasa dengan sikap Gina, jadi dia tidak mau repot-repot berdebat dengan Gina. Sebaliknya, dia menjawab, “Aku juga ingin tahu.”“Bagaimana mungkin kamu tidak tahu? Kau datang sebelum aku.”“Dan sudah tidak ada di bangsal saat aku datang,” kata Ava dan berbalik. "Aku akan pergi ke ruang perawat dan bertanya pada mereka.""Tunggu."Gina meraih tangan Ava, wajahnya gelap.“Ava, dengar aku baik-baik. Dan telah banyak menderita dan beberapa kali terluka karenamu. Karen
Karena berpikir seperti itu, itu menunjukkan bahwa Julie adalah orang yang masuk akal."Lilly." Julie berjalan ke arah Lilian dan berjongkok, menyapanya dengan ramah. “Lilly, aku sangat menyukaimu. Kuharap dirimu bisa berbahagia setiap hari, dan kuharap kau segera bisa bicara.”Lilian adalah anak yang pengertian. Dia menyunggingkan seulas senyum manis dan mengangguk penuh semangat, menunjukkan bahwa dia menerima doa Julie.Julie berdiri dan menghadap Fabian. Saat ini, kekaguman di matanya makin bertambah dan kegigihannya yang sangat kuat sebelumnya telah banyak berkurang.Jika kita menyukai seseorang, kita tidak harus dengan keras kepala memperjuangkannya.Julie tidak mengatakan apa-apa dan hanya tersenyum pada Fabian.Fabian juga tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia membungkuk dan mengangkat Lilian ke dalam gendongannya. Sebelum berbalik, dia memberi Julie senyum ramah.“Miss Charles, kau masih bisa datang kepadaku jika kau membutuhkan bantuanku di masa yang akan datang. Lagi pula, aku
"Ya," kata Fabian terus terang.Julie mengira dirinya akan merasa malu karena hal ini, tetapi dia tak tahu mengapa dia masih merasa sangat santai. Meski begitu, dia tetap merasa sedikit malu.Agar Julie tidak merasa malu, Fabian tersenyum dan berkata, “Aku ingin membantumu keluar dari situasi itu, Miss Charles, tetapi aku tidak mau melewati batas. Aku juga tidak menyangka seseorang mengambil video dan mengunggahnya ke internet. Lilly dan aku telah membuatmu terlibat dalam banyak kesulitan. Aku benar-benar minta maaf mengenai itu.”Selesai mengatakan itu, Fabian mengambil jeda, lalu dengan lembut melirik Lilian."Tapi Miss Charles, yakinlah, tidak akan ada masalah seperti itu lagi di masa yang akan datang."Julie tertegun sejenak ketika mendengar kata-kata itu, dan entah kenapa dia merasakan rasa kehilangan yang kuat muncul dari lubuk hatinya.Dia menatap Fabian dengan curiga, dan tentu saja, kata-kata yang dia dengar selanjutnya membuatnya merasa menyesal."Miss Charles, aku telah mene
Adegan Mr. Martinez membuat keributan dan Fabian akhirnya datang bersama Lilian untuk menyelamatkan situasi direkam dan diposting di internet.Si pengunggah video masih sedikit berhati-hati dan telah menyensor penampakan Lilian, tetapi sosok dan wajah Fabian terlihat jelas di video.Patty sekilas mengenali orang dalam video itu sebagai Fabian.Setelah melihat komentar-komentar di bawah video, Patty semakin cemas."Julie, kok bisa-bisanya kamu jatuh cinta pada seorang ayah tunggal?"Julie mengerutkan kening. “Ya, aku tidak akan menyangkal. Aku memang naksir Mr. Johnson.”"Apa?"“Ck ck ck … Julie, apa kau benar-benar menyukai ayah tunggal itu?” Sorot mata Mrs. Gill sangat halus. “Seseorang telah menggali semua informasi mengenai pemuda itu, dan ternyata dia adalah adik Yorick. Dulu, Yorick menimbulkan segala macam masalah dan melakukan apa pun yang dia inginkan di Negara F. Kakak perempuannya, Lana, juga terkenal di lingkungan pergaulan kami.”"Apa? Dia adik Yorick dan Lana?” Patty bahka