Nancy menatap perawat dengan kebingungan yang tak terucapkan. Kata-kata itu terasa seperti pukulan yang tak terduga, membuatnya terdiam sejenak, mencoba memproses semua informasi yang baru saja dia dengar.
"Melinda?" gumamnya pelan, mencoba mengingat-ingat nama itu dari ingatannya yang kabur.
Perawat itu mengangguk serius. "Ya, Melinda Al-Futtaim. Dia yang menyuruh saya untuk menemukan Anda dan membawa Anda ke sini."
"I-istri Tuan Afgan?"
Perawat itu mengangguk pelan sambil menekan jarum suntik sehingga menembakkan sedikit cairan keluar.
Nancy merasakan jantungnya berdebar dengan cepat. Pikirannya berkecamuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab. Bagaimana Melinda bisa tahu dan bagaimana wanita licik itu ingin mengeksekusi dirinya?
"A-apakah dia akan menghabiskanku?" pikiran Nancy semakin panik dan membuatnya mulai berkeringatan.
Namun, sebelum Nancy bisa menanyakan pertanyaan lebih lanjut, pintu ruangan terbuka dan seorang w
Kehangatan sambutan Dokter Amelia memberi sedikit kelegaan bagi Bob. Mereka tahu bahwa mereka berada di tangan yang aman dengan kehadiran dokter yang berpengalaman di samping Bob.Tanpa banyak bicara, mereka mengikuti Dokter Amelia menuju mobil ambulance. Udara panas Dubai menyambut mereka begitu mereka keluar dari gedung bandara, tetapi semangat mereka tetap tak tergoyahkan.Dengan hati-hati, Bob masuk ke dalam mobil ambulance, disusul oleh Dokter Amelia, bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah sakit di mana Bob akan dirawat.Edward, Emily dan Adelia menaiki mobil lain dan menyerahkan pengobatan penuh kepada Dokter cantik itu."Jaga dia baik-baik. Kami akan mengunjunginya nanti," ucap Adelia seraya melambaikan tangan dari dalam mobil.Dengan itu, mobil ambulance melaju meninggalkan bandara, diikuti oleh mobil lain yang berisi Edward, Emily dan Adelia.Kedua mobil itu berpisah jalan di mana Adelia dan Edward serta Emily
Emily menatap Edward dengan ekspresi campuran antara ketakutan dan kerinduan. Dia merasa terharu oleh tawaran Edward untuk mendukung Adelia, tetapi juga terbebani oleh pikiran tentang kembali ke tempat-tempat yang penuh dengan kenangan yang menyakitkan wanita itu.Dia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang bergetar, "Edward, aku takut. Aku takut untuk kembali ke sana, tapi... tapi aku juga takut kehilanganmu. Aku tahu, Adelia sangat membutuhkan dukungan kita."Mata mereka bertemu dalam keheningan yang sarat makna, mencerminkan perasaan yang tak terucapkan namun sangat dalam. Edward menggenggam tangan Emily dengan lembut, memberikan dukungan yang tak terucapkan namun sangat berarti."Kita akan bersama-sama, Emily," kata Edward dengan lembut. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu ataupun Adelia sendirian. Bersama-sama, kita bisa menghadapi apapun yang datang."Emily merasa lega mendengar kata-kata Edward, dan dia tahu bahwa de
Kakek Rafael tersenyum melihat keceriaan kedua cucunya. Dia merasa bahagia melihat mereka begitu bersemangat untuk menjelajahi dunia, meskipun dia juga merasa cemas akan apa yang mungkin menunggu mereka di Indonesia.Tetapi, dengan cinta dan dukungan keluarganya, dia yakin bahwa mereka akan bisa menghadapi segala rintangan yang mungkin datang. Bersama-sama, mereka akan membentuk satu tim yang kuat dan tak terkalahkan.Dengan hati yang penuh semangat, keluarga itu menyelesaikan persiapan mereka dan menuju bandaraSaat Adelia memberi kabar kepada Bob yang masih terbaring di rumah sakit, Bob merasa tergerak oleh kabar tersebut. Meskipun dia masih dalam pemulihan, tekadnya untuk membantu Afgan begitu kuat. Dia merasa bahwa dia juga harus ikut serta dalam perjalanan ke Indonesia."Dokter Amelia, saya juga ingin ikut," ucap Bob dengan tekad, menatap Amelia dalam-dalam, meskipun suaranya masih sedikit lemah karena cedera yang dideritanya.Dokter Amelia, y
"APA?!" Nancy membulatkan kedua matanya, wanita muda itu berseru dengan suara yang bergetar. Tatapan matanya memandang Melinda dengan campuran antara kebingungan dan ketakutan. Dia tidak mengerti bagaimana dia bisa diharapkan untuk melakukan sesuatu yang sedemikian keji.Nancy sangat terkejut mendengar perintah yang diberikan oleh Melinda. Pikirannya terasa kacau dan hatinya dipenuhi dengan kecemasan. Dia tidak percaya bahwa dia diminta untuk menjadi alat bagi Melinda dalam rencana busuknya yang semakin jahat.Melinda hanya tersenyum dengan kepuasan yang jahat di wajahnya. "Ya, kamu mendengar dengan jelas. Aku ingin kamu bertindak sebagai selingkuhan Afgan dan membuat Adelia percaya bahwa dia telah dikhianati oleh suaminya sendiri. Itu akan menjadi pukulan yang mematikan bagi mereka berdua."Nancy merasa mual mendengar rencana Melinda. Dia merasa bahwa tindakan itu melampaui batas dan tidak bermoral. Dia tidak ingin menjadi bagian dari permainan keji yang merusa
"Kamu sudah mau pergi?" tanya Bayu sambil meletakkan sebelah tangannya ke belakang kepala. Menatap Melinda dengan tubuh polos berdiri dan hendak memakai pakaiannya.Dirinya sendiri sedang telentang santai dengan selimut tipis yang menutup tubuhnya.Melinda melirik pria simpanannya itu, lalu menjawab dengan ketus. "Mungkin mereka akan tiba satu jam lagi.""Jangan lupa transfer bayaran untuk informasi itu," ujar Bayu sambil menguap."Ah ya, aku lupa bertanya, darimana kamu mengenal Dokter Amelia?"Melinda mengangkat alisnya, menunjukkan sedikit kekagumannya pada kecerdasan Bayu. "Dia adalah sahabat lama Afgan yang bodoh itu dan mereka memiliki sejarah yang rumit. Tapi sekarang, semuanya akan berakhir dengan cara yang sangat berbeda."Melinda hanya mengangguk mengerti, seolah-olah tidak tertarik dengan drama yang terjadi di antara keluarga Afgan. Baginya, itu hanyalah bisnis, dan dia telah terbiasa dengan dunia yang penuh dengan intrik dan peng
"Huek ... Huek .... "Afgan memuntahkan d*rah dari mulutnya karena obat penekan kesadaran yang sudah berlebihan. Nancy, perawat yang ditugaskan menjaga dan merawat pria itu segera berlari masuk ke dalam kamar Afgan."T-tuan ...," panggilnya dengan panik pada saat melihat kondisi Afgan.Afgan merasa dunia berputar dengan cepat di sekelilingnya saat ia terjaga dari efek obat penenang yang berlebihan. Setiap napasnya terasa berat dan tersengal, dan rasa mual yang menyiksa mulai menghantuinya. Ketika dia mencoba duduk, tangannya masih dalam kondisi terikat sehingga dia tidak mungkin bisa duduk.Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang tidak beres dalam perutnya, dan dengan mengerikan, dia mulai muntah darah sekali lagi. Muntahan kedua bercampur dengan makanan yang belum selesai diolah dalam perutnya."Tuan ... "Dengan panik, Nancy segera berlari keluar dan mencari pertolongan."Kakak senior, tolong dulu Tu-tuan Afgan, dia ..."Merasa
Dokter itu mengangguk, menunjukkan bahwa dia memahami ketegangan yang dirasakan Melinda. "Kondisinya stabil untuk saat ini. Kami telah memberikan perawatan yang diperlukan, dan dia sedang dalam tahap pemulihan. Tapi dia masih butuh istirahat dan pengawasan ketat.""Sepertinya dia memiliki luka dalam ususnya, saat ini sudah malam, saya sudah memberikan obat antibiotik. Besok pagi dia harus menjalani usg untuk melihat seberapa besar luka yang ada."Relief yang besar melanda Melinda saat dia mendengar berita itu. Meskipun masih penuh kekhawatiran, setidaknya dia tahu bahwa Afgan masih hidup dan ada harapan untuknya."Terima kasih, dokter. Tolong pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik," ucap Melinda dengan suara yang penuh terima kasih."Untuk sementara, dia tidak boleh diberikan obat penenang lagi!"Melinda menatap tajam ke arah sang dokter, sambil mempertimbangkan perkataan Dokter tersebut dengan hati-hati. Namun, belum sempat Melinda mengatakan
Ketika mobil berhenti di depan mansion Afgan, Adelia merasa detak jantungnya semakin cepat. Sebuah penghunian yang penuh dengan kenangan manis sekaligus pahit.Adelia menghela napas dalam-dalam, mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala kemungkinan. Edward yang mengetahui pergolakkan pikiran wanita cantik itu segera menggenggam tangannya dengan erat."Kamu lapar?" tanya Edward dengan lembut pada saat berada di dalam mobil.Adelia menggelengkan kepalanya pelan sembari memegang perutnya. Walaupun merasa lapar, Adelia merasa tidak ingin menghabiskan waktu lebih banyak. Dia ingin sekali mengetahui kondisi Afgan pada saat ini juga.Mobil yang ditumpangi mereka sampai di mansion satu jam kemudian. Edward segera keluar dari mobil dan menuntun Adelia keluar.Dengan langkah mantap, Adelia menghampiri sekuriti yang berjaga di depan pintu pagar besi yang kokoh dan tinggi mansion tersebut. Tak lama kemudian, petugas sekuriti keluar, dan dia disambut oleh s
"Selamat ulang tahun, Sayang," ucap Afgan seraya mengecup mesra kening istrinya. Adelia terlihat cantik dalam gaun berwarna merah muda, memancarkan pesona yang memikat semua orang yang hadir. Senyumnya yang menawan membuat suasana semakin hangat dan penuh kebahagiaan.Taman yang indah menjadi latar belakang acara tersebut, dihiasi dengan dekorasi menarik yang dipenuhi balon berwarna-warni. Meja-meja penuh dengan hidangan lokal yang menggugah selera.Afgan sengaja mempersiapkan semua makanan khas lokal Indonesia supaya dapat mencerminkan kekayaan budaya dan rasa yang istimewa. Semua tamu yang diundang tampak menikmati setiap momen, tertawa dan berbincang dalam suasana yang meriah.Afgan sengaja memilih suasana taman ini untuk memberikan kesan alami dan romantis. Cahaya lampu hias yang tergantung di antara pepohonan menambah kehangatan malam itu, menciptakan suasana yang sempurna untuk merayakan ulang tahun Adelia."Tempat ini benar-benar indah, Afgan," kat
Nama itu terdengar seperti melodi yang manis di telinganya, dan wajahnya muncul di dalam bayangan gelap di hadapannya.Lima tahun yang lalu, mereka bertemu dalam sebuah acara pesta, di mana keponakannya, Edward, membawa Adelia sebagai pasangan dansa.Adam masih ingat betapa terpesonanya dia saat itu oleh kehadiran Adelia. Wajah dan penampilan wanita itu sangat mirip dengan mendiang istrinya, membuatnya tercengang dan tak bisa berkedip.Adelia, dengan senyum manisnya dan gerakannya yang anggun, menyihirnya dalam sekejap.Dalam kilatan lampu pesta, Adam melihat bayangan istrinya yang telah tiada, dan dia merasakan hatinya tergetar oleh gelombang nostalgia dan kesedihan yang mendalam.Ketika mereka memiliki kesempatan untuk berdansa sebagai pasangan, Adam merasa seperti dia berada di alam semesta yang sama sekali berbeda, di mana waktu berhenti berputar dan kehilangan tidak lagi terasa menyakitkan.Tetapi, seiring malam berakhir, kenyataan kemb
Adam membalas senyuman wanita itu dengan senyuman manis. "Maka aku akan menjadi milikmu."Sekali lagi mereka berciuman dengan penuh gairah. Sarah terhanyut dan merasa tidak berdaya, tetapi dalam ruang kecil hatinya yang tersisa, dia tahu dengan pasti bahwa Adam bukanlah tipe pria yang akan dengan mudah jatuh hati padanya.Dia menyadari bahwa perasaan Adam padanya hanyalah alat yang dimanfaatkannya untuk menyakiti Melinda lebih dalam lagi. Tetapi, meskipun dia sadar akan ini, dia terus menekan perasaannya sendiri, membiarkan dirinya larut dalam penipuan terhadap hatinya.Setiap hari, Sarah merasa semakin terjebak dalam permainan Adam. Dia memberi dirinya alasan bahwa ini adalah cara untuk menjaga Melinda tetap aman, meskipun di lubuk hatinya, dia tahu bahwa ini hanya sebuah pembenaran dari nafsu dan ketakutan akan kehilangan Adam.Saat malam tiba, Adam mengajaknya keluar untuk makan malam romantis, dan Sarah setuju tanpa ragu.Meskipun dia menyadari
Melinda menggelengkan kepala, matanya kosong memandang ke dalam ruangan. "Aku tidak tahu," ucapnya pelan. "Aku merasa seperti semua impianku hancur, seperti tidak ada lagi yang bisa kuinginkan."Sarah merangkulnya lebih erat. "Tetapi, Melinda, kamu masih punya banyak hal di depanmu. Kehidupanmu tidak berakhir di sini."Melinda menatap sahabatnya dengan pandangan yang penuh keraguan. "Tapi bagaimana aku bisa melupakan semua ini? Bagaimana aku bisa mempercayai seseorang lagi setelah ini?""Bagaimana membuktikan kebenaran bahwa aku hanya difitnah oleh Adam? Semua ini adalah jebakannya."Sarah tersenyum lembut. "Kamu mempunyai hak untuk didampingi seorang pengacara hukum, aku akan mengurusnya dan percayalah, tidak semua pria seperti Adam. Semua ini mungkin hanya salah paham."Melinda mengernyitkan alisnya perlahan, mencoba menyerap kata-kata yang diucapkan oleh Sarah. Namun, perjalanan untuk pulih dari luka ini masih terasa sangat jauh baginya dan kebe
Adam tersenyum dengan licik lalu melanjutkan kalimatnya di depan microphone yang sedang dipegang."Yayasan Melinda i-care sudah menipu publik dengan penjualan tiket konser di acara pertandingan baseball ini. Seharusnya saya mendapatkan applause untuk keberhasilan menjebak pelaku yang sudah menipu tiket kalian, bukan?"Perkataan Adam mendapat seru riuh dari para penonton. Mereka merasa keadilan sudah ditegakkan untuk mereka.Dua orang polisi wanita segera menarik dan memasangkan borgol ke tangan Melinda yang disatukan di belakang punggungnya."I-ini tidak benar! Kamu jahat sekali!" seru Melinda sambil berusaha meronta, tetapi dua orang yang memegangnya sangat kuat."Kamu juga melakukan hal yang sama terhadap keluarga Al-Futtaim, Sayang. Adelia adalah seorang wanita yang baik. Bila saya arus memilih, maka saya akan memilih Adelia menjadi istri yang layak menggantikan mendiang istriku karena wanita itu memiliki semua yang tidak kamu miliki."Me
Melinda merenggangkan lehernya, mencoba untuk melihat lebih jelas ke arah panggung yang sedang disiapkan di tengah lapangan.Ia merasa detak jantungnya semakin kencang seiring dengan lama menunggu. Hari ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu dengan penuh harap.Adam Offel, telah memberinya petunjuk bahwa hari ini akan menjadi salah satu yang tak terlupakan. Dia ingin memberikan kesempatan kedua kepada pria itu.Dengan gaun pengantin yang indah melilit tubuhnya, Melinda merasa seperti sang ratu yang siap menerima mahkota kebahagiaan. Tetapi, di tengah kerumunan, ia tidak melihat bayangan Adam yang diharapkannya. Ketidakpastian mulai merayap di dalam pikirannya.Melinda duduk di kursi yang sudah disediakan khusus untuknya. Menyaksikan pertandingan dengan perasaan tidak menentu.Tiba-tiba, lampu-lampu sorot mulai menyala, dan kerumunan berbisik-bisik dengan kegembiraan yang menggelora. Melinda merasakan kegelisahan memenuhi dadanya ketika seseorang mel
Setelah sampai di sana, Melinda langsung berpura-pura bertanya, mencari informasi, namun tidak ada yang mengetahui acara lain selain acara baseball yang memang setiap akhir pekan dilaksanakan di sana."Besok yang bertanding adalah group banteng dengan group singa. Apakah Anda ingin membeli tiket?" tanya petugas tanpa mencurigai apa pun.Wajah dan reaksinya datar, bahkan dia malas untuk melihat ke arah orang yang menanyakan tiket."Baik, terima kasih, aku sudah punya tiket masuk," sahut Melinda lalu bergerak keluar meninggalkan gedung.Malam harinya, wanita itu tidak bisa tidur. Sama sekali tidak bisa memberi istirahat kepada matanya yang sudah lelah.Sesekali dia mematut dirinya di depan cermin dengan memegang gaun yang indah.Keesokan harinya, Melinda terbangun dengan mata yang terasa berat di bawah kelopaknya. Goresan-goresan hitam di sekitar matanya menandakan betapa dalamnya tidur yang dia alami."Mama?" Silvia masuk ke kama
Bel pintu berbunyi, membuyarkan lamunannya yang dalam. Melinda menghela napas dalam-dalam, merenggangkan otot-ototnya yang tegang, lalu beranjak menuju pintu dengan langkah gontai. Dia menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum membuka pintu."Siapa ya yang datang sekarang?" gumamnya pelan.Dengan ragu, ia membuka pintu dan dihadapkan pada seorang pria pengantar paket yang tersenyum ramah di depannya. Paket besar berwarna cokelat muda tergeletak di depan kakinya."Maaf mengganggu, Ma'am. Ini paket untuk Anda," kata pria itu sambil menyodorkan sebuah formulir pengiriman.Melinda mengangguk, mengambil formulir tersebut, dan menandatangani dengan cepat. Pikirannya masih melayang-layang antara rasa penasaran dan kekhawatiran.Pria pengantar itu kemudian menyerahkan paket tersebut kepadanya dengan senyuman hangat sebelum bergegas pergi. Melinda menutup pintu dan kembali ke dalam rumah dengan paket besar yang terasa begitu misterius di tangannya.Dengan hati-hati, ia memb
"Maaf, Nyonya Melinda. Kami hendak memberitahukan bahwa bahan material bangunan yang dipesan atas nama Melinda i-care sudah jatuh tempo. Sejumlah satu Milyar!"Hatinya berdegup kencang. Bagaimana mungkin dia berutang sebanyak itu atas sebuah proyek bangunan?"S-saya tidak pernah memesan apa pun," sahut Melinda dengan suara terputus-putus.Melinda berusaha memeriksa ingatannya, mencari-cari jejak apa pun yang bisa menjelaskan situasi ini, tetapi tidak ada yang muncul. Rasanya seperti terjatuh ke dalam jurang tanpa dasar."Maaf, saya tidak yakin tentang hutang ini," ucap Melinda dengan suara gemetar, mencoba menutupi kepanikannya."Seseorang bernama Tuan Adam yang mengurus semuanya," sahut penagih hutang dengan nada tajam. "Dan dia menyatakan bahwa Anda bertanggung jawab atas pembayarannya. Bukankah semua material itu dikirim kepada Melinda i-care?"Melinda menelan salivanya yang terasa pahit, merasa seakan-akan dunianya runtuh sek