Lea mengigit jari jempolnya. Bus yang terjebak kemacetan sama sekali tidak mengusik Lea. Pikiran Lea sedang semrawut mengingat tutur bos perusahaannya.
Kembali menerima kartu nama yang sama. Lea bergeming karena akhirnya ia menyadari jika Tanu dan Angga adalah orang yang sama. Papan nama di meja CEO itu tidak mungkin dicetak asal-asalan.
Anggara Dean Hartanuwiguna
“Lea, kenapa lo bisa sebego ini?” gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Bias cahaya di permukaan belakang kartu, samar-samar tertulis Adecoagro. Lea dulu mengira itu hanya pola atau motif pada kartu. Pantas saja Melati sering greget karena ulahnya.
Lea menyentuh bibirnya. Teringat apa yang dilakukan suaminya karena dirinya berontak. Lea bukannya tidak paham, tapi ia merasa bingung dan takut disaat yang sama.
Fase hidupnya dalam sebulan terakhir bagaikan efek dari tongkat sihir. Tiba-tiba makan di resto mewah dengan gaun yang lumayan mahal. Terlibat one n
Kalau saja tadi pengasuh Keysa tidak menelpon dan mengabari bayi itu rewel, Angga pasti akan memaksa untuk mengantar pulang Lea. Namun, pria itu juga sadar jika keponakannya membutuhkannya.Begitu Angga tiba, ia langsung mandi. Teringat saat di perusahaan tadi, ia berkeliling ke sana kemari.“Keysa kenapa nangis, Sayang?” Angga menimang-nimang keponakannya sembari memberikan susu formula.Bagaikan bertemu pawangnya, Keysa berhenti menangis. Bayi empat bulan itu mulai anteng dan menuntaskan rasa laparnya. Seperti biasa, Angga akan duduk dan meletakkan Keysa di dadanya.Keponakannya itu akan cepat tertidur jika punggungnya diusap perlahan. Sementara Angga bisa menikmati waktu beristirahat sejenak sambil membuka tablet. Sore ini membaca laporan yang sudah disusun oleh Putra.“Papa mau bawa pulang Mama Lea ke sini. Keysa jangan rewel ya, kalau sama Mama Lea,” bisik Angga.“Ini kopinya Aden,” ucap Bi Tami.“Makasih, Bi,” balas Angga.“Non Keysa sudah pulas, Den. Mau dipindahkan sekarang?”
Angga nyatanya tak mampu menghindari hal yang mengusik ketenangannya. Pria itu terus saja kepikiran soal Lea. Angga juga teringat pertama kali ia Seno yakin jika Lea adalah istrinya.“Apa kemarin aku terlalu berlebihan? Dia pasti syok sampai jatuh sakit,” gumam Angga teringat reaksi Lea kemarin.Pria itu merogoh ponselnya, tapi urung menghubungi. Angga meraih kunci motornya lalu mengetuk pintu kamar Bi Tami. Ia meminta wanita itu menjaga Keysa sampai ia pulang.Sepanjang perjalanan menuju ke apartemen tempat Lea tinggal, pikiran Angga mulai berkelana. Mengingat momen-momen dirinya bersama Lea. Begitu juga saat Seno memberikan bukti jika Lea benar-benar ditipu oleh tantenya sendiri.Flashback on“Lo sendiri yang bilang sama gue. Gadis yang lo nikahi, putri dari pemilik rumah yang pagarnya ada ornamen bunga matahari. Rumahnya yang tepat di depan kantor kelurahan desa. Rumah yang catnya warna abu putih. Rumah yang dekat mesjid di sana itu!” tutur Sena berapi-api.“Bukan sembarang mesjid,
Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut Lea. Melati sendiri sibuk menolak panggilan telpon yang sejak tadi membuat ponselnya menyala. Benda itu sudah seperti lampu lalu lintas yang tak berhenti bekerja. Kalau bukan panggilan telpon, maka notifikasi pesan yang masuk.Sembari menikmati supnya, Lea pun bercerita dengan apa yang terjadi di kantor. Kejadian yang membuat kepalanya hampir meledak.Dengan sabar Melati menyimak. Sebagai sahabat Lea, ia tentu hawatir memikirkan nasib Lea di Tanufood. Padahal, sahabatnya itu baru saja diterima kerja.Alasan lain yang membuat Melati pusing adalah rencana balas dendamnya pada Tari. Bagaimana jika Lea dipecat sebelum ia berhasil memberikan pelajaran pada Heru dan selingkuhannya itu?“Lo diminta ke ruangannya? Ke ruang CEO? Sendirian?” tanya Melati melongo.Lea mengangguk sendu. “Terus? Lo dimaki-maki? Lo diancam mau dipecat?”Lea berpikir sejenak dan mencoba mengingat apa yang atasan sekaligus suaminya itu lakukan padanya. Angga sama sekali tidak pe
“Saya tahu ponsel kamu tidak rusak. Kenapa tidak baca dan balas pesanku?” bisik seseorang.Lea terlonjak kaget mendengar suara yang sudah tidak asing lagi di telinganya. Ia pikir, datang ke kantor sebelum pukul tujuh pagi, bisa membuatnya menghindari makhluk yang satu ini. Namun, sialnya rencananya gagal total.“Apa dia pasangin gue GPS? Kok bos yang satu ini masuk kantor sepagi ini?” batin Lea heran.Lea sama sekali tidak tahu jika sejak pukul enam, Angga menunggu di parkiran apartemen tempat tinggal Lea. Niatnya ingin menjenguk Lea sebelum ke kantor. Berperang di antara keinginan dan gengsi, Angga tidak lekas naik ke lantai lima apartemen. Jangan sampai staf keamanan kembali mengusirnya seperti semalam.“Selamat pagi, Pak,” ucap Lea sembari mengangguk sopan.Angga menatap kepala Lea yang masih saja tertunduk. Gadis itu benar-benar pendek jika hanya mengenakan flatshoes. Namun, justru terlihat imut di sisinya yang bertubuh tinggi.Lea masih diam menatap ujung sepatunya. Pintu lift akh
Plak!Heru mengusap pipinya yang baru saja kena tempeleng. Rasa terbakar bercampur perih, kini menjalar hingga ke rahangnya.Ia kembali menatap sang kekasih dengan tatapan tak percaya. Ada apa dengan Tari?“Kamu kenapa sih, Beb?” tanya Heru syok.“Kenapa? Kamu nggak merasa bersalah sama aku?” balas Tari dengan mata berkaca-kaca.Masih dengan mengusap pipinya, Heru bertanya, “Bersalah? Aku salah apa, Beb?”“Kamu mau balikan kan, sama Lea?” tuding Tari melotot tajam. Tak lagi tampak keanggunan yang selama ini membuat Heru terpesona.“Nggak, Beb! Sumpah!”“Bohong!”“Nggak, Tari. Aku cintanya cuma sama kamu!” tegas Heru.“Terus, kenapa tadi kamu terus saja nempelin dia? Bilang aja kamu udah bosan sama aku!” tuduh Tari.Kali ini air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia sudah menyerahkan segalanya pada Heru. Membayangkan pria ini meninggalkannya, Tari tidak merasa tidak sanggup jika terjadi. Lebih dari itu, Lea dan Melati pasti akan mengolok-olok dirinya.“Aku sengaja modusin Lea biar dia ban
Satu persatu staf dan karyawan meninggalkan kantor. Jam kerja sudah berakhir. Sudah saatnya pulang untuk berkumpul bersama keluarga atau bertemu kekasih maupun teman. Namun, hal itu tidak dapat dirasakan Lea yang yatim piatu.Pesannya juga tak kunjung dibalas oleh Melati. Sahabatnya mungkin sedang sibuk menangani pasien. Bagaimanapun, profesi Melati berbeda dengannya.Takut laporan tim quality control ditolak oleh sang atasan, Lea pasrah. Setelah membereskan pekerjaannya, Lea kembali naik ke ruangan Angga. Membayangkan senyum menyebalkan pria itu, seketika Lea cemberut.“Pak, Nona Leana sudah ada di depan menunggu Anda,” lapor Putra dari sambungan telpon.“Tanya kenapa dia tidak menghibungi saya langsung?” ujar Angga.“Ponsel Nona Leana lowbat, Pak.” Putra cepat tanggap saat Lea menunjukkan ponselnya.“Minta dia masuk ke ruangan saya!” perintah Angga.“Baik, Pak,” sahut Putra.Putra membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah map. Kemudian mengulurkan sebuah pulpen pada Lea. “Nyonya,
Sarannya itu sudah Lea pertimbangkan matang-matang. Bukan keputusan yang ambil tiba-tiba. Ia bahkan memikirkannya berkali-kali dalam 24 jam lebih.Lea tidak ingin jadi batu sandungan dalam karir maupun hidup Angga. Dirinya bagaikan daun kering yang tak layang bersanding dengan bunga indah.Lea pernah memiliki harapan ingin membangun keluarga kecil dengan suaminya Tanu. Pria sederhana yang mengaku sebagai petani. Kini, harapan itu sepertinya harus ia kubur saat menyadari suaminya adalah seorang petani berdasi. Putra salah satu konglomerat di negara ini.“Dan?” Kali ini Angga menyilang lengan di dada. Tatapaannya lekat dan mengunci tatapan Lea.“Anggap aja kejadian di Tulungagung adalah kejadian yang hanya jadi sebatas kenangan,” pinta Lea.“Karena?” Sepasang alis yang bergerak naik itu menuntun jawaban.Lea menelan saliva saat merasakan perubahan suara Angga yang terengar lebih dingin dari sebelumnya. Pria itu jelas marah. “Kita nggak cocok,
Angga tersenyum dan malah menyilang lengan. Gayanya sudah seperti pemilik kamar saja.“Aku tidak berniat menginap malam ini. Mungkin kapan-kapan kalau kamu belum juga mau ikut pindah denganku. Lagian, di rumah ada yang lebih cantik dari kamu, yang nungguin aku pulang,” ucap Angga sembari mengedarkan pandangan.Lea komat-kamit tanpa suara. “Tadi saja gombal dan maksa ikut pindah. Sekarang malah bilang ada yang lebih cantik yang nungguin dia. Terus, ngapai dia ke sini? Bikin naik tensi aja,” batin Lea kesal.“Tidak usah cemburu,” bisik Angga.“Siapa juga yang cemburu?” elak Lea.“Aku cuma penasaran, Nyonya Anggara Dean hidup seperti apa tanpa suaminya.” Angga bersandar di depan pintu kamar Lea lalu memutar gagang pintu.Lea membelalak lalu berusaha menarik Angga keluar. Namun, apalah daya tubuhnya yang kecil, dibandingkan Angga yang tinggi besar.“Tolong pulanglah sekarang. Nanti Melati bisa syok lihat Mas Angga di sini,” bujuk Lea kare
Ivanka dengan raut wajah tegas, menghampiri putranya yang duduk di pean klinik. Kini saatnya ia menagih penjelasan pada putranya. Ivanka sadar jika berita viral ini bisa ia manfaatkan untuk meminta Angga segera menikah.Lebih dari itu, ia cukup mengenal keluarga Darmawan. Vina atau Vivian Natisya Darmawan. Putri keluarga itu adalah salah seorang model terkenal yang berkecimpung dalam industri pemasaran sandang.Setahun belakangan Vina memang jarang muncul di media. Kabar yang terdengar jika gadis cantik itu dilamar seorang pengusaha kaya asal negri tetangga. Kemudian beredar kabar di beberapa koleganya jika Vina kabur dari acara pertunangan.“Angga, sekarang jelasin sama bunda!” pinta Ivanka sambil menyilang kedua lengan di depan perutnya. Keangkuhannya tak pernah surut.“Jelasin apa?” balas Angga yang sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari ponselnya.“Ya jelasin yang tadi? Kenapa kamu ada di apartemennya Seno s
Sebelum pulang, Seno meminta tolong Angga agar mampir ke lantai apartemennya un tuk mengambil berkas Adecoagro. Berkas yang diurusnya bulan lalu, masih ada di meja kerja dalam apartemennya. Seno baru saja selesai mandi saat Bi Tami meminta tolong Seno menjaga Keysa karena wanita itu butuh untuk membeli beberapa bahan masakan di minimarket dekat apartmen.Baru saja Angga memasuki area parkir basemen apartmen. Lea membalas pesannya. Istrinya bersedia bertemu besok.Angga menekan sandi pintu apartemen Seno. Begitu ia masuk, ia heran melihat tumpahan air di atas meja. Seketika ia ingat jika di apartmen Seno ada seseorang yang tinggal. Gadis yang tidak sengaja diserempet oleh Seno. “Permisi, Nona. Saya datang untuk mengambil sesuatu di kamar Seno,” ucap Angga.Hening. Tak ada sahutan.Angga mengernyit heran saat menyadari pendingin ruangan yang masih aktif. Samar tercium aroma makanan yang mirip mie instan. Karena penasaran, Angga menghubungi Seno.“Halo, kenapa? Berkasnya di meja kerja,
Kesibukan kantor pada umumnya akan digambarkan dengan tumpukan berkas, dering telpon atau perangkat lainnya. Meski bekerja dan menjadi bagian dari perusahaan besar, suasana tampak berbeda di ruang quality control. Aroma mulai menguar dari makanan yang manis dan gurih dengan sentuhan rasa pedas. Pagi tadi, para staf quality control memang sedang melakukan uji coba produk jajanan baru dengan berbahan kentang.Meski suasana masih riuh rendah, tapi tampak dua di antaranya sedang duduk tenang di hadapan mikroskop. Berusaha fokus memastikan agar bahan produk uji coba ini tidak terdapat kontaminan mikroba. Apalagi bahan atau benda asing yang ukurannya sulit dilihat dengan mata secara langsung.Tiba-tiba pintu ruangan bergeser. Sang ketua tim melangkah masuk dengan membawa berkas penilaian uji coba. Di tengah ruangan, di atas sebuah meja berjejeran makanan hasil uji coba produk baru dari bahan kentang.Dengan tenang, ketua tim mengitari meja. Mencicipi satu persatu varian yang dibuat. Kemudia
Melati, sahabat Lea yang mengetahui satu fakta dari aib perselingkuhan Heru dan Tari. Ternyata selama ini, sebagian uang kerja keras Lea habis digunakan Heru untuk memanjakan Tari.Melati masih menyimpan kesal. Meski Heru sudah mengganti separuhnya, tetap saja Melati masih belum puas. Karena itulah, Melati sengaja memviralkan wajah Tari sebagai orang ketiga.Dikarena berita itu, Tari nyaris dipecat dari pekerjaannya. Beruntung ada Heru yang menyogok HRD agar Tari tidak dipecat. Sebagai gantinya, Tari dimutasi ke kantor cabang yang ada di Malang. Ibunya, Sonia, malah meminta Tari meninggalkan Heru, kemudian mencari pria kaya lainnya. Dengan kecantikan dan tubuh putrinya, Sonia yakin jika putrinya bisa menjerat pria kaya raya agar mau menikahinya.Sudah dua pekan ibu dan anak itu pindah ke Malang. Sejak saat itu pula Tari mudah emosi. Apalagi saat Heru tidak langsung menjawab telpon atau membalas pesannya.Wanita takut keadaan akan berbalik. S
Seno tiba-tiba menghentikan langkahnya. Hal itu turut membuat Angga berhenti. Kemudian mengikuti arah pandang Seno.Di depan ruangan staf quality control, tampak seorang pria yang sudah tidak asing bagi keduanya. Dari tempat mereka berdiri, suara pria itu masih terdengar jelas.Mata Angga seketika membebelak mendengar pria itu datang mencari Lea. Istrinya.Disaat yang sama, Seno melirik Angga. Sahabat sekaligus atasannya itu seperti gunung berapi yang sudah siap meledak. Bahkan, Angga membawa langkahnya berbelok menghampiri sepupunya itu.“Eh, ada Dokter Juna. Selamat sore, Dok!” sapa Lea dengan ramah.Deg!Angga tertegun melihat senyum manis istrinya ditujukan pada sepupunya. Lain halnya dengan Seno yang justru cukup menikmati suasana. Ingin sekali rasanya ia meledek Angga habis-habisan! Sok jaim tapi cemburuan.“Gimana? Udah kelar kerjaan kamu? Saya mau tepatin janji sama kamu, Lea,” kata Juna.Lea mengernyit bingung
Angga menghubungi Bi Tami sebelum ia pulang. Ia bertanya apakah ada sesuatu yang Keysa dan wanita itu butuhkan. Angga bisa sekalian mampir membelikannya. Namun, Seno memberi isyarat jika hal itu akan jadi urusannya.“Antar dulu istri lo pulang. Dia masih syok ngira lo tulang selingkuh, duda tapi single, sama duda punya anak,” goda Seno lagi.Angga berdecak kesal lalu menarik Lea ke dalam pelukannya. “Nggak ada wanita lain. Kamu yang pertama, terakhir dan satu-satunya,” bisik Angga sambil mengusap punggung Lea.“Nggak usah pamer di depan gue, Ga!” ketus Seno yang tengah membereskan berkas-berkas tadi. Termasuk berkas yang basah karena terkena tumpahan air yang Lea siramkan pada Angga.Setelah Seno pulang lebih dulu, Angga menarik Lea duduk di sofa. Ia tunjukkan foto-fotonya bersama Keysa. Begitu juga dengan kejadian awal di mana keponakannya dilahirkan dalam kondisi prematur.“Aku minta maaf dengan
“Iya, namanya Keysa. Bukan Pak Putra yang bilang, tapi Dokter Juna,” jawab Lea yang masih enggan menatap Angga.Tiba-tiba terdengar suara tawa seseorang. Lea dan Angga tersentak kaget. Hampir saja Lea jatuh dari pangkuan suaminya.Seno yang berada di balik pintu kamar pribadi itu tidak bisa mengendalikan tawanya. Ia sama sekali tidak menyesal sudah menguping obrolan pasangan aneh yang satu ini.Putra dan Juna sudah sukses membuat Lea salah paham. Entah bagaimana reaksi Lea saat tahu jika Keysa adalah keponakan suaminya atau bisa disebut keponakannya juga. Bukankah Lea sudah resmi jadi istri Angga?“Diem lo!” tegur Angga.“Sorry, Ga. Istri lo lucu banget soalnya,” ucap Seno beranjak keluar.Pria itu mengambil tempat di depan Angga dan Lea yang duduk di sofa tunggal. Tatapan Seno beralih pada botol air kemasan mineral di meja. Kemudian beralih menatap pakaian pasangan itu yang sama-sama basah.
Lea menarik napas panjang saat mendapat pesan balasan dari Angga. Pria itu setuju bertemu sore nanti. Lea sendiri setuju untuk menemui Angga di ruangannya.Tersisa waktu sejam lagi jam pulang kantor. Lea lekas menyelesaikan sisa pekerjaannya. Dengan begitu, ia juga bisa tenang menyelesaikan masalah lainnya.Sementara di ruang CEO, Angga tersenyum lebar. Ini pertama kalinya Lea berinisiatif mengirimkan pesan lebih dulu. Biasanya, harus dirinya yang bertidak lebih awal.“Gimana sama cewek yang lo serempet? Lo yakin dia bukan mata-mata perusahaan lain yang mencoba deketin lo?” tanya Angga pada Seno yang sedang menikmati secangkir kopi hangat.Seno menggeleng lalu berkata, “Nggak tahu gue. Makanya gue bawa dia sementara ke apartemen gue.”“Lo udah gila? Sejak kapan lo bawa cewek masuk ke apartemen?” tanya Angga heran.“Dia nggak minta ganti rugi sama gue. Tadinya gue kira dia bakalan minta duit.”“Tapi?”“Dia minta gue cariin kost atau kontrakan sementara. Katanya dia kabur dari perjodoha
Seno menghela lega saat dokter menyampaikan gadis yang tak sengaja terserempet mobilnya baik-baik saja. Hanya luka lecet di lutut dan siku. Tak ada benturan fatal.“Ampun deh, ini Papanya Keysa ngapain nelpon gue kayak penagih utang aja?” gumam Seno saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Angga.Setelah membaca pesan dari sahabat sekaligus bosnya itu, Seno terkekeh. Ternyata Angga yang gengsian ini posesifnya level mercon.Setelah menemani Keysa imunisasi, Seno mengantar Angga ke perusahaan. Gadis kecil itu rewel dan tidak mau lepas dari Angga. Bi Tami sampai menyerah karena setiap kali ia dan wanita itu menyentuh Keysa, maka anak itu akan menangis.Sekitar sejam kemudian, gadis itu siuman. Seno meminta maaf dan berjanji akan bertangung jawab. Ia akan menanggung semua biaya pengobatan dan mengantarkannya pulang.“Kamu beneran merasa bersalah udah serempet aku?” tanya gadis cantik itu. Tatapannya menelisik Seno. Pria di samping brankar itu tidak mengenali siapa dirinya. Mungki