Aulya kalang kabut setelah mendengar keputusan ibunya, tapi gadis ini berhasil menahan niat Niana. “Ma, Venus mau bicara dulu sama Al. Kasih Venus kesempatan.”Jadi, saat Alvan pulang Aulya menyambutnya dengan keputusan di luar dugaan suaminya. “Saya akan menghindari Zayden!”Sejenak, Alvan memandangi datar lalu berkata dengan nada selaras, “Saya cuma minta jangan sakiti Umi.”Alvan berbalik maka Aulya beringsut untuk kembali berdiri di hadapan Alvan. “Tidak akan, saya janji!”Alvan masih memandangi datar Aulya. “Saya ragu.”Aulya menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada. “Saya minta maaf dan saya berjanji tidak akan menyakiti Umi dan tidak akan mengecewakan kamu lagi. Saya juga akan menghindari Zayden!”Tatapan Alvan tidak berubah. Kini, pertanyaan dilontarkan dengan dingin, “Kenapa harus menghindari Zayden?”“Saya mau mempertahankan pernikahan sama kamu.”“Sampai kapan?”“Entahlah ....”Alvan tidak menanggapi ucapan Aulya, lalu berkata lebih dingin, “Kalau niat kamu cuma sem
Tidak lama setelah pertemuan Zayden dan Aulya, akhirnya gossip tentang pernikahan Alvan dan Aulya menyebar.Tidak ada ucapan baik di antara semua orang karena mereka saling menyampaikan informasi yang mengatakan jika Alvan dan Aulya terpaksa dinikahkan. Maka, setiap orang memiliki persepsi masing-masing yang salah satunya hamil di luar nikah.Aulya tidak pernah berpikir jika obrolannya dengan Zayden akan menyebar, terlebih dalam waktu singkat hingga akhirnya gadis ini kembali meminta maaf pada Alvan. “Maaf ... saya tidak tahu kalau akhirnya akan seperti ini ....”Raut wajah Aulya ditimbun kegelisahan. “Saya tidak pernah membuat janji sama Zayden. Zayden yang tiba-tiba datang terus bicarakan pernikahan kita ....”Alvan tidak dapat berkata apapun karena nasi sudah menjadi bubur. Namanya sudah jelek di kampus ini karena banyak orang yang berpikir jika seorang anak Ustaz telah menghamili seorang gadis di luar nikah. Jadi mereka dinikahkan secara dadakan.“Ayo pulang.” Hanya satu kalimat y
Alvan tidak mencegah keputusan Aulya karena kali ini cara apapun harus dilakukan untuk membuktikan kekeliruan semua orang.Alvan juga tidak ingin nama besar Ust Ibrahim terbawa buruk. Ayahnya adalah seorang ustaz terkenal, namanya dikenal secara off air dan on air.Hari ini Alvan dan Aulya tetap pergi ke kampus walaupun diiringi bisik-bisik di sepanjang langkah mereka.“Al, aku mau ajak dua temen aku ke toilet. Biar mereka tahu hasilnya negatif. Terus aku bikin pengumuman sambil bawa dua temen aku buat jadi saksi.”Alvan mendesah. “Sebenarnya Tuhan tahu, tapi tidak ada salahnya membuktikan pada manusia. Hanya saja saya sedikit tidak tenang dan sedikit malu dengan rencana kamu.”“Terus kita harus gimana lagi ....”Alvan bergeming sesaat karena jika Fauzan di sini, maka masalah ini akan sangat mudah diselesaikan. Fauzan bisa menjadi saksi sekalian menyampaikan kabar kebenaran pernikahan mereka dengan lebih santai.Terpaksa, Alvan membiarkan Aulya melakukan rencananya karena saat ini Aul
Aulya mengantar Alvan ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan suaminya. Syukurnya dokter tidak mengatakan hal buruk, pria itu hanya memberi saran supaya Alvan tidak terlibat dalam aktivitas berat apalagi membahayakan kesehatan serta keselamatannya.“Alhamdulillah ....” Aulya tersenyum haru ke arah Alvan hingga membuat laki-laki ini sedikit meleleh karena ketulusan istrinya yang selama ini diharapkan.Kini, Alvan dan Aulya sedang mengisi amunisi perut di kantin rumah sakit. “Jangan katakan pada Umi,” ucap laki-laki ini.Aulya menjawab lirih, “Tidak akan. Lagian saya malu dan merasa sangat bersalah kalau Umi tahu Zayden serang kamu.”Alvan tersenyum lembut sebagai bentuk terimakasihnya pada Aulya.Sebenarnya materi belum usai, tetapi Alvan dan Aulya memilih membolos karena mungkin kepala Zayden masih memanas dan darahnya masih mendidih. Gadis ini tidak ingin terjadi hal lebih buruk pada suaminya, sedangkan Alvan hanya mengkhawatirkan orangtuanya jika dia sampai terluka.Jadi, Alvan dan
Aulya selalu merasa terpojok, apalagi kini tatapan semua orang mengarah padanya. Dengan keyakinan dan tekad, gadis ini berkata, “Aul ingin tetap melanjutkan pernikahan dengan Alvan.”Maka, keputusan Aulya menjadi pengakhir pertemuan ini. Namun, setelah makan malam Niana berbicara empat mata dengan putrinya. “Kalau kamu sudah yakin dengan Alvan, berikan juga hati kamu pada suami kamu.”Aulya tidak lantas menjawab, maka Niana melanjutkan nasihatnya, “Selain tidak pantas. Tindakan kamu juga berdosa dan membuat Mama dan Papa malu pada orangtua Alvan.”“Tapi Ma ..., Venus masih mencintai Zayden ....”Kini, Niana menegur, “Tidak bisa seperti itu, Sayang!”“Venus tahu. Tapi Venus juga bingung kenapa tidak bisa mencintai Alvan seperti Venus mencintai Zayden.”“Karena kamu masih mencintai Zayden, maka kamu tidak bisa mencintai Alvan!”Sekarang, gadis ini mengeluh, “Venus punya banyak hutang balas budi sama keluarga Al, jadi tidak mungkin Venus memilih Zayden walau Venus maunya sama Zayden ....
Tatapan Zayden seakan menembus hingga ke bagian dalam mata Aulya. Jadi sedikitnya gadis ini merasa takut sekalian bersalah yang diselimuti rasa sakit patah hati.Zayden mendesah setelah menatap tajam dan kaku. “Cuma demi Alvan, laki-laki yang tidak sengaja kamu nikahi, akhirnya kamu meninggalkan saya.”“Maaf ....” Suara Aulya sangat kecil hingga hampir tidak terdengar.Suasana tiba-tiba hening karena Zayden hanya memandangi Aulya yang menunduk. “Di mana cinta kamu yang dulu? Yang cuma buat saya?”Aulya sedang menahan air matanya karena hatinya selalu berdebar untuk Zayden. Cinta yang dulu masih sama hingga hari ini.“Di mana Venus?” Ini adalah pertanyaan terakhir Zayden hingga akhirnya melepaskan pergelangan tangan Aulya kemudian pergi.Aulya hanya menunduk sendu saat menahan air mata yang selalu ingin membobol tanggulnya hingga tubuhnya gemetaran.Kaki Aulya yang tidak sekuat biasanya kini hampir roboh, tetapi sebelum tubuhnya ambruk, Alvan berhasil menahan punggungnya dengan lembut
Heru adalah orang pertama yang menjadi tempat Niana mengadu, kemudian pria ini menyampaikan hasil pertemuan istrinya dengan ibunya Zayden pada Ibrahim dan Aisyah diiringi banyak permintaan maaf.“Kami tidak bisa menyampaikan hal ini pada Nak Alvan,” tambah Heru dengan sedikit desahan penyesalan karena ternyata orangtuanya Zayden tidak menerima perpisahan anak mereka.Sejenak, suasana hening. Lalu Ibrahim berkata, “Sebenarnya saya terpukul mendengar hal ini. Apalagi ibunya Al.”Niana yang menyahut bersama penyesalan yang sama dengan suaminya. “Kami mengerti ....”“Saya akan menyampaikan hal ini pada Alvan ....” Ibrahim tetap menyahut dengan bijak dan pembawaan tenang walaupun hatinya tidak nyaman dan hancur mendengar putranya dihina.Maka, Ibrahim berbicara empat mata dengan putranya di ruangan terpisah dari semua anggota keluarga. Pria ini menceritakan dengan detail dan langsung ke inti masalah.“Al mengerti Abi. Al akan menemui keluarga Zayden untuk meminta maaf.”Jawaban Alvan sudah
Alvan berusaha mendoberak pintu dari luar hingga suara bising itu membuat Aulya cemas, tetapi juga ingin terbebas dari Zayden karena keberadaan mereka di sini akan menjadi fitnah.Saat Alvan berhasil mendoberak pintu, Zayden sudah berdiri di depan Aulya, bertujuan menghadang. “Mau apa?” Suaranya sangat dingin bersama dengusan.Alvan juga mendengus. “Saya mau memastikan Aulya di sini atau tidak!”“Ya, Venus di sini. Kita sedang berdua. Jadi jangan mengganggu!” Zayden menyeringai.Alvan semakin mendengus berang pada Zayden. Lalu menatap ke arah Aulya dengan lembut. “Ayo pulang ....”Aulya segera mengangguk seiring dengan langkah kaki, tetapi Zayden menahan pergelangan tangannya.Alvan kembali berkata, kali ini dengan tegas kepada Zayden, “Lepaskan Aul. Aul istri saya!”Pun, Zayden berkata tegas dengan dengusan. “Venus tunangan saya!”Alvan tidak meladeni Zayden. “Aul, ayo pulang. Umi sama abi menunggu di rumah ....”“Iya, Al,” jawab Aulya dengan anggukan patuh sebagaimana seorang istri,
Zayden dan Alvan bertemu di lapangan basket. Keduanya saling memandang dengan sengit. “Saya yang akan menang!” ucap Zayden dengan memasang wajah angkuh.Alvan menyahut datar, tetapi tatapannya penuh ambisi dan keyakinan. “Mungkin saya masih bisa mengalah dalam permainan, tapi kalau tentang pernikahan, saya akan memperjuangkan Aul sampai akhir!”Tatapan Zayden semakin mengiris, tetapi suaranya tenang. “Perjuangkan saja Aulya sampai kamu menyerah karena Aulya tetap Venus, punya saya.” Seringainya berkibar.Penat, itu yang dirasakan Alvan. Maka, dia memulai permainan tunggal ini. Pertandingan satu lawan satu hanya dirinya dan Zayden.Kedua lelaki yang memperebutkan skor adalah idol kampus, jadi dengan cepat mengundang penonton kaum hawa maupun kaum adam, begitupun dengan Aulya.“Al!” cemas mengambang di hati dan pikiran Aulya. “Al, kenapa harus main basket, kenapa juga harus lawan Zayden. Gimana kondisi kamu ..., saya takut Zayden menyerang kelemahan kamu ....”‘Mata’ itu adalah kelemaha
Hari berikutnya tiba, maka hari ini Aulya mendapatkan telepon dari Niana. Nada suaranya menekan. “Sayang, kamu ini bagaimana. Mama sama Papa sudah bilang, jangan lupa misi kamu di sana, tapi kenapa sekarang Abinya Alvan jadi tahu dan mengundang kami datang!”“Jangan salahkan Venus ...,” rengeknya.“Mama bukan menyalahkan kamu. Tapi sekarang masalah ini jadi melebar. Mama sama Papa tidak ingin masalah ini berkepanjangan.”“Yang namanya perceraian pasti melibatkan orangtua kan, jadi wajar dong, Ma. Tapi ....” Aulya ragu mengatakan keputusannya.Namun, Niana tidak peduli pada kata setelah ‘Tapi.’ Dia hanya peduli pada perceraian Aulya dan Alvan. “Iya, tapi rencana Mama sama Papa jadi berantakan karena orangtua Alvan tahu lebih awal. Tadinya kami akan datang dan langsung menyelesaikan perceraian. Bukan bicara panjang lebar untuk mempertahankan pernikahan.”Suara Aulya diliputi kekhawatiran, tetapi juga bahagia karena keputusanya mempertahan pernikahan mendapat dukungan dari mertua serta s
Hari ini berbeda dari biasanya karena terjadi pertemuan penting antara Ibrahim dan Aisyah bersama Alvan dan Aulya.Suara Ibrahim menjadi yang pertama mengisi ruangan dan terdengar menggema di telinga Alvan dan Aulya. “Kenapa kalian baru pulang?”Alvan menatap ayahnya saat menjawab walaupun sebelumnya wajahnya sedikit menunduk, “Kami minta maaf, Abi. Kemarin kita pergi mendadak dan mendadak tidak pulang. Kemarin kami menginap.”“Kenapa harus menginap?”Lagi, atmosfer ruangan terasa sangat aneh, dingin. Walaupun saat ini Alvan dan Aulya belum mengetahui maksud Ibrahim mengundang mereka ke ruangan ini. Apa karena kemarin mereka tidak pulang? Tapi harusnya ini sudah bukan hal baru.Lagi, Alvan yang menjawab, “Kalau pulang mungkin akan terlalu malam.”“Terlalu malam atau kalian sengaja menghindari kami, orangtua kalian!” Volume suara Ibrahim bertambah, termasuk ketegasannya hingga membuat Alvan dan Aulya yakin jika saat ini terdapat sesuatu yang belum mereka ketahui.Alvan menyahut santun
“Zayden, kita harus bicara!” ucap tegas Aulya tanpa senyuman, justru raut wajahnya sangat dingin.Zayden menyahut dengan suara lembut disertai senyuman hangat, “Bicara apa?”“Tentang perceraian saya sama Al!” Amarah dilukis Aulya dalam wajah cantiknya, tetapi sikap Zayden tidak berubah.“Saya siap mendengarkan.” Senyuman Zayden semakin hangat.Sejenak, Aulya memandangi sepasang mata Zayden yang hitam legam dan dalam hingga terlihat misterius.“Saya tidak mau bercerai sama Al. Jadi tolong berhenti mengharapkan saya dan bilang sama orangtua kamu, kita tidak akan pernah bercerai!”Aulya pikir Zayden akan terluka dan menunjukan isi hatinya dalam ekspresi seperti yang pernah dilihatnya, tetapi dugaannya salah. Laki-laki ini sangat tegar dan tenang. “Saya akan tetap menunggu kamu. Lagian, bukan saya yang mau kalian bercerai, tapi Mama sama Papa kamu.”“Tapi pasti kamu juga, kan!”Tentu saja Zayden tidak akan mengaku untuk menjaga nama baiknya di hadapan gadis yang diinginkannya. “Jangan nud
Pagi ini raut wajah Aulya sangat cemas setelah membaca chat yang dikirim ibunya semalam. [Papa sudah bicara pada Ustaz tentang perceraian kalian.]Titik-titik keringat dingin bermunculan di puncak dahi Aulya. “Aul tidak mau cerai sama Al ..., tapi kan Aul juga tidak mungkin jadi anak durhaka!”Perasaan gelisah yang menyelimuti hati Aulya semakin tebal tatkala Niana kembali mengirimkan chat setelah tahu putrinya membaca chat semalam. [Jangan lupa misi kamu di sana. Ingat, jangan terbuai oleh apapun yang dilakukan Alvan!]Aulya memperbanyak istigfar yang dilantunkan di dalam hati karena sedang berada di kamar mandi, di depan wastafel.Kedua kelopak matanya tertutup saat Aulya mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini hingga akhirnya menemukan solusi yang menurutnya paling mudah. “Saya harus bicara sama Zayden. Saya harus berhasil buat Zayden benci dan akhirnya berhenti menunggu saya cerai sama Al!”Tekadnya sekuat karang di lautan, tetapi ciut seketika saat menatap wajah Alvan karen
Alvan dan Fauzan mengisi waktu dengan mengaji, begitupun dengan Aulya walaupun tempat laki-laki dan perempuan terpisah.“Padahal saya maunya mengaji sama Al, tapi tidak mungkin sih, ini kan masjid walaupun kita suami istri,” gumam Aulya seiring melirik ke kiri dan kanan, memperhatikan para gadis yang mengaji masing-masing.Waktu magrib tiba tanpa terasa. Aulya dapat menyaksikan Alvan yang berdiri di paling depan karena dia ditunjuk menjadi imam walaupun sempat menolak.Senyuman bangga Aulya terlukis begitu saja melihat suaminya yang tampak hebat dalam urusan ilmu agama. Apalagi saat memimpin rumahtangga.Punggung Alvan terlihat kekar, tapi juga lembut di mata Aulya hingga akhirnya satu-persatu laki-laki menutupi Alvan hingga suaminya menghilang dari pandangan, dan Aulya hanya bisa melihat punggung pria lain.Dari shalat magrib, lalu berlanjut ke shalat isha. Aulya mengisi waktu dengan mengaji dan sedikit saling bertukar cerita dengan beberapa gadis di sana.Aulya mendapatkan banyak te
Alvan memberanikan diri masuk ke toilet perempuan ditemani gadis yang memberi tahunya. Lalu mengetuk pintu perlahan. “Aul?”Suara Alvan berhasil membuat Aulya terhenyak hingga reflek gadis ini berdiri seiring menyeka dengan cepat air matanya. “I-iya ....” Suaranya masih bergetar.“Sudah selesai?” Suara lembut Alvan dengan hati cemas walaupun tidak disampaikan secara langsung.Aulya kembali menjawab masih dengan suara bergetar, “Su-sudah. Tapi tunggu sebentar.”Kali ini Alvan berkata canggung karena bagaimanapun ini adalah toilet wanita. “Iya ..., saya ... tunggu di luar.”“Iya, di luar saja.”Langkah Alvan terasa berat, tetapi tetap meninggalkan toilet sebelum tempat itu ramai dan mungkin membuat orang-orang berpikiran negatif padanya. “Titip Aul. Tolong tanyakan keadaannya,” ucapnya pada si gadis sebelum dia pergi.Maka, walaupun hati Alvan tidak tenang dia harus kembali ke tempatnya semula dengan perasaan cemas sekalian menerka-nerka. “Apa bener Aul nangis? Kenapa?”Sekitar dua meni
Saat ini Alvan merasa sudah ditendang dari keluarga istrinya sendiri karena bukan hanya tidak diinginkan menjadi menantu, tapi juga berniat dibuang.Alvan beristigfar di dalam hatinya. Lalu segera meninggalkan toilet dan kembali menemui Aulya.Senyuman sumringah istrinya menjadi hadiah untuk Alvan karena hanya Aulya yang menerimanya sebagai anggota keluarga baru walaupun dulu gadis itu juga berniat membuangnya.“Saya cuma ke toilet sebentar kok ..., lebay deh sampai peluk-peluk,” kelakar Alvan.“Kangen ....” Aulya bergelayutan manja di lengan Alvan, di hadapan orang-orang yang keluar masuk toilet, tapi gadis ini tidak canggung apalagi malu karena harus memanfaatkan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin.Kini, perasaan heran yang sempat menyelimuti Alvan sudah musnah setelah mengetahui alasan di balik perubahan sikap Aulya. Jadi sekarang dia membiarkan istrinya mengikutinya kemanapun tanpa protes.Namun, kebersamaan Aulya dan Alvan menjadi kabar buruk untuk Zayden dan berhasil memba
Mulai sekarang Aulya berjanji akan mengabaikan Zayden apapun yang terjadi karena dia hanya akan fokus pada Alvan. Hanya ingin menghabiskan waktu dengan suaminya dan membuat kebahagiaan dengan suaminya di sisa waktu yang mereka miliki.“Al, saya mau hamil,” bisik Aulya saat mereka berbaring bersama.Alvan terkejut mendengar ucapan Aulya. “Kamu yakin?”“Iya, saya mau hamil ....” Aulya tersenyum manis dan dipenuhi harapan Alvan akan mengabulkannya.Sejenak, Alvan tidak bersuara lalu berkata, “Kehamilan adalah kehendak Tuhan. Kita, sebagai manusia cuma bisa berusaha.”“Ya sudah, ayo kita berusaha!” celetuk Aulya penuh semangat hingga membuat Alvan tersenyum lebar, tetapi juga bingung.Aulya menarik pakaian Alvan karena suaminya tidak melakukan apapun selain berbaring dengan wajah bingung. “Ayo ....”“Iya, sabar ....” Hati Alvan senang dipaksa seperti ini, tapi juga kebingungan dengan tingkah Aulya, apalagi keinginan mendadaknya.Alvan bertelanjang dada setelah pakaiannya dilepas dengan ba