Malam itu, Mika dan Noval duduk berdampingan di dalam mobil yang melaju tenang di jalanan kota. Lampu-lampu jalan menerangi kaca jendela, memantulkan cahaya yang berpendar di wajah mereka. Hawa di dalam mobil terasa hangat, bercampur dengan wangi lembut parfum Noval yang khas.Mika memperhatikan interior mobil dengan seksama. Ini bukan pertama kalinya mereka bepergian dengan mobil ini, tapi ada sesuatu yang membuatnya mulai berpikir. Selama ini, setiap kali mereka pergi bersama, Noval selalu menggunakan mobil yang sama. Sesuatu dalam benaknya mulai mengusik."Aku penasaran." Mika membuka percakapan, suaranya terdengar menggantung.Noval melirik sekilas ke arah istrinya sebelum kembali fokus pada jalan. "Penasaran apa?"Mika menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil melipat tangannya di dada. "Kenapa setiap kali kita pergi, kita selalu memakai mobil ini? Jangan-jangan ini sebenarnya mobil kamu sendiri, bukan mobil teman kamu yang biasa kamu katakan?"Dia menatap Noval curiga. "Ma
Noval duduk di ruang tamu bersama papanya, yang sedang membaca koran. Suasana sore itu tenang, hanya terdengar suara burung berkicau di luar jendela."Mika sudah bertemu dengan keluarga kandungnya. Mereka menerima keberadaannya dengan sangat baik."Untuk ejenak, papanya Noval terdiam. Kemudian, dia menghela napas lega dan tersenyum. "Syukurlah. Itu berita yang sangat baik, Nak. Aku tahu selama ini dia mencari keluarganya. Jika mereka menerimanya dengan baik, itu berarti dia bisa merasakan cinta yang seharusnya dia dapatkan sejak dulu."Noval mengangguk. "Iya, Pa. Aku juga senang untuknya.Papanya Noval menarik napas dalam. "Itu artinya, kamu juga harus segera mengatakan pada Mika tentang kamu yang sebenarnya." Dia menasihati Noval.Noval tersenyum tipis, walaupun ada sedikit keraguan di matanya. "Aku akan menunggu waktu yang tepat, Pa. Aku ingin melakukannya dengan cara yang tidak menyakitinya. Aku tidak ingin dia merasa dikhianati atau kecewa."Papanya Noval mengangguk dengan penuh p
"Kamu ngapain sih nutup tokonya buru-buru amat?" tanya Mika ketika melihat Sinta menutup toko mereka, sedangkan Mika sendiri sedang menunggu mie ayam yang mereka pesan dibuatkan.Sinta baru saja selesai mengunci toko dan dia kini berdiri di samping Mika. "Aku sudah nggak sabar tahu, Mik. Aku nggak sabar untuk mendengarkan cerita kamu tentang keluarga kandung kamu itu. Udah sejak beberapa hari lalu aku menunggunya karena kamu nggak masuk. Dan tadi, waktu aku mau tanya sama kamu, toko lagi banyak orang. Jadi, aku putuskan untuk menundanya lagi. Bisa bayangkan nggak betapa stresnya aku menunggu hal ini?" jelas Sinta panjang kali lebar.Mika terkekeh. "Yelah gitu aja. Lagian nih mie ayam kita juga belum selesai," ujar Mika menunjuk ke arah penjual mie ayam keliling yang sedang meracik pesanan mereka.Sinta langsung menatap ke arah penjual mie ayam. Dia menepuk pundaknya. "Cepetan, Bang. Kami sedang dikejar deadline kehidupan," ujarnya kemudian."Kamu ini." Mika menggeleng pelan. Tak lama,
Definisi tambeng adalah Olip. Mika sudah mengatakan pada perempuan itu untuk tidak sering-sering datang ke sini. Akan tetapi, Olip masih saja datang seolah lupa apa yang dikatakan Mika padanya.Dia memarkirkan motor miliknya di depan pintu rumah kedua orang tuanya. Pandangan Olip jatuh pada keberadaan Mika dan temannya yang menyebalkan bernama Sinta yang sedang asyik makan di teras rumah baru kakaknya. Bagi Olip Sinta memang menyebalkan."Dih. Dasar. Enak-enakan makan sama temen di teras rumah. Nggak mikirin adiknya yang lagi kesusahan sampai tinggal di kontrakan kumuh, kecil dan sempit. Dasar. Kakak egois." Olip menggerutu.Membuang muka, dia pun langsung berjalan cepat memasuki rumah kedua orang tuanya karena merasa tidak tahan melihat sesuatu yang membuatnya panas."Ibu?" panggil Olip ketika melihat ibunya yang sedang makan di depan tivi. "Makan apa tuh?" tanya Olip. Dia duduk di kursi yang ada di samping ibunya sembari mengintip isi mangkok yang ada di tangan ibunya."Mie ayam,"
"Aku mau cerita," ujar Mika ketika melihat suaminya yang baru saja menyelesaikan makan malamnya. Noval baru saja pulang sedangkan Mika tidak makan karena dia masih merasa kenyang setelah makan bersama Sinta tadi sore."Apa?" Tanya Noval. Pria itu menyilangkan kaki di atas ranjang dan menatap Mika."Tapi Om Andra dan Nenek datang." Dia berujar."Oh iya?" Sebenarnya Noval tidak terkejut. Dia tahu mereka pasti akan sering datang mengingat istrinya ini yang menolak untuk tinggal di rumah keluarga Saseka."Mereka membicarakan sesuatu? Atau mau Membujuk kamu kembali untuk tinggal bersama?" tanyanya kemudian.Mika menggeleng. "Mereka tidak membujukku untuk tinggal di ruang Saseka. Tapi, Nenek mau memberi aku mobil dan sopir," ujarnya kemudian.Noval tampak mengangguk beberapa kali. "Lalu?""Ya aku bum menerimanya. Aku bilang sama Nenek kalau aku akan membicarakannya sama kamu dulu." Dia berujar dengan jujur.Noval tersenyum. Dia senang dengan keputusan Mika yang akan membicarakan perihal in
"Jadi hari ini?" tanya Mika. Dia memberikan jus jeruk yang diinginkan Noval di hadapan pria itu. Noval menganngguk. "Terima kasih." Dia menerima jus jeruk buatan istrinya lebih dulu dan meneguknya sedikit. Setelahnya dia kembali mengangguk. "Iya jadi. Makanya aku tidak pergi ke bengkel." Noval menjawab. "Ya sudah. Kalau begitu aku siap-siap dulu." Mika melihat suaminya yang hanya mengangguk. Dia pun lekas pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Sedangkan Noval memilih untuk sibuk dengan ponselnya. Namun, tak lama Mika sudah keluar dari kamar. "Yuk," ajak Mika. Noval mengangguk. "Yuk." Memasukkan ponsel pada saku celana, meneguk minumannya hingga tandas, dia langsung bangkit dari duduknya. "Kalian mau ke mana?" tanya Bu Tuti ketika melihat Noval dan Mika keluar bersama. Bukan hal aneh mereka keluar bersama. Anehnya, Noval berpakain normal, bukan pakaian bengkel yang penuh dengan Oli. "Kami mau beli perabotan untuk rumah baru, Bu," ujar Mika. "Oh." Hanya itu jawaban dari Bu Tuti. Dia
Noval dan Mika sampai di rumah keluarga Saseka. Setelah berbelanja hanya barang, keduanya memang menyempatkan diri untuk mampir ke rumah ini, karena Mika ingin membicarakan perihal mobil dan sopir yang kemarin ditawarkan oleh neneknya. "Kalian datang." Nyonya Saseka menyambut bahagia kedatangan cucunya. Mika pun langsung mendekati neneknya yang sedang duduk di sofa lalu memeluk sang nenek. "Selamat siang, Nek," ujar Mika. "Kamu kok nggak ngomong dulu kalau mau ke sini. Kan Nenek bisa minta pelayan masakin makanan buat kalian," ujarnya menatap Mika dan Noval secara bergantian. "Ah. Nggak usah, Nek." Pandangan Mika mengedar. "Om Andra mana?" "Om kamu ya lagi kerja." Nyonya Saseka berujar. "Kalau Tante?" "Lagi ngajar. Sepertinya sebentar lagi pulang." Nenek Saseka mengelus pundak cucunya. "Duduk gih. Kita ngobrol." Nenek Saseka menunjuk sofa sebelahnya. Dia juga meminta pelayan untuk membawakan camilan serta minuman. "Kalian ini habis dari mana? Atau dari rumah mau ke rumah Nene
Mika mendekati ibunya dengan uang yang ada di tangan. pagi ini, Bu Tuti harus belanja ke pasar untuk membeli semua bahan makanan yang akan disajikan di acara syukuran rumah Mika nanti. Dia sudah membawa kertas berisi tulian daftar apa saja yang harus dia beli untuk ditunjukkan pada Mika. "Ini. Bahan-bahan yang harus dibeli." Bu Tuti memberikan kertas di tangan pada Mika. Mika mendorong tangan Bu Tuti kembali. "Sudah. Mika percaya sama Ibu. Ibu pasti lebih paham soal ini," ujarnya kemudian. Jujur saja, ada sedikit hal yang terasa aneh di hatinya kala mendengar Mika mengatakan hal itu. Mengedipkan mata beberapa kali, dia pun berdehem. "Ya sudah." Dia kembali melipat kertas berisi daftar belanjaan. "Ini uangnya, Bu untuk beli bahan masakannya," ujar Mika dengan memberikan lembaran kertas berwarna merah bergambar dua pria karismatik berpeci dengan senyum yang sangat menawan. Bu Tuti yang melihat itu langsung melotot. Bibirnya menyunggingka senyum lebar. Dia merasa segar melihat banya
Pak Eko dan Bu Lestari pun menoleh ke arah pemilik suara. Terlihat Pak Purnomo baru saja keluar dati dalam rumah."Ada apa ini berisik-berisik?" tanya Pak Purnomo."Ini Pak. Ada besan datang. Katanya mau ketemu Olip," ujar Bu Tuti."Kenapa ngga diminta duduk?" tanya Pak Purnomo."Iya nih Bu Tuti. Kok saya datang nggak diminta duduk. Bagaimana sih?" tanya Bu Lestari dengan senyum simpul. Dia sepertinya senang kalau melihat besannya yang satu ini dimarahi oleh istrinya.Bu Lestari pun segera menarik suaminya untuk duduk. "Sini, Pak.""Bu. Ambilkan minim dan panggilkan Olip sama Ridwan," ujar Pak Purnomo memerintah sang istri."Iya-oya." Bu Tuti pun bangkit dari tempat duudknyadan masuk untuk memanggil anak dan menantunya juga membuatku minum."Apa kabar, besan?" tanya Pak Purnomo."Baik." Pak Eko menjawab."Pak Purnomo ini gimana aih? Olip hamil kok nggak ngasih tahu kami?" tanya Bu Lestari kemudian.Pak Purnomo terkejut. "Loh? Ridwan tidak menceritakan semua ini ke kalian?" tanyanya ke
Bu Lestari dan Pak Eko menuju rumah Pak Purnomo untuk menemui anak dan juga menantunya. Kabar kehamilan Olip yang didapat membuat mereka kesal sekaligus bahagia."Udah, Bu. Nggak usah ngomel-ngomel mulu," ujar Pak Eko ketika mereka berada di atas motor dan Bu Lestari tampak menggerutu tanpa henti sejak tadi."Ibu ini sedang kesal, Pak," ujar Bu Lestari memberi tahu."Iya Bapak tahu. Tapi udah dong keselnya. Jangan nyerocos terus. Nanti kalau bapak ngga bisa fokus nyeri gara-gara suara Ibu bagaimana?" tanya Pak Eko. Dia melirik keberadaan istrinya melalui kaca spion.Bu Lestari langsung menepuk pundak Pak Eko dari belakang. "Bapak ini. Memangnya suara ibu ini sura apaan sampai-sampai bisa membuat Bapak ngga konsen naik motor?" Dia bersungut-sungut."Ibu hnaya kesal aja, Pak. Kenapa Ridwan dan Olip itu tidak bilang sejak awal kalau dia pindah dari kontrakan ke rumahnya besan. Kalau dia bilang sejak awal, kan kita nggak perlu ke kontrakan dia dulu. Buang waktu. Buang bensin. Capek." Bu L
Sinta memberikan minuman pada Mika. Setelah ditinggal Nyonya Saseka dan juga Noval, beberapa waktu dari itu Mika bangun dari tidurnya. Sinta segera membantu ketika melihat sahabatnya itu ingin minum."Noval mana, Sin? Kok kamu yang ada di sini?" tanya Mika kemudian.Sinta mengerucutkan bibirnya mendengar pertanyaan Mika. "Kamu nggak suka kalau aku ada di sini?" tanyanya kemudian.Nika mengembuskan napas kasar. "Bukan gitu.""Iya-iya aku paham," ujar Sinta kemudian."Kamu ini dalam keadaan seperti ini masih saja mau bercanda." Mika menyeka keringat yang ada di keningnya."Dia lagi pergi. Katanya cari makan," ujar Sinta kemudian."Astaga. Aku memang belum masak lagi." Mika memegang kepalanya dan merutuki diri."Ya udah sih. Toh keadaan kamu masih nggak baik-baik aja gini. Lagi pun Noval juga nggak masalah kalau beli di luar. Kaya ini. Kalau aku, pasti mau beli tiap hari aja. Biar nggak capek-capek masak dan badan bau bawang," ujar Sinta dengan kekehannya.Mika berdecak. "Kamu ini." Dia
"Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi!" teriak Pak Bowo pada Ridwan ketika mereka sudah berada di rumah. Pria itu begitu marah oda menantunya akan kejadian hari ini.Selain membuat kerusuhan, kejadian kali ini juga membahayakan Olip dan kandungannya. "Bapak ini kenapa sih malah marah-marah sama Kak Ridwan? Marah tuh sama Kak Mika tuh yang udah dorong aku sampai aku jatuh," ujar Olip membela suaminya."Iya nih Bapak. Bapak kenapa malah marahin Rid---""Diam!" bentak Pak Purnomo sekali lagi. Pria itu menatap ketiganya dengan raut kemarahan. Terutama pada Ridwan."Sudah berapa kali Bapak katakan saka kalian. Noval bukan tipikal orang yang akan sapa mukul orang kain kalau tidak ada apa-apa." Dia bersungut-sungut. Heran sama anak dan istrinya ini. Kenapa masih saja bodoh."Pasti. Bapak yakin. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan sama kamu Ridwan!" Dia menunjuk ke arah Ridwan.Ridwan yang sudah smrasa ketakutan karena yadi dia mendengar jika neneknya Mika akan membawa kasus ini ke jalu
"Ada apa tuh? Ada apa?" tanya para tetangga yang berkumpul di depan rumah Mika dan melihat keributan antara kakak beradik itu. "Mana aku tahu? Lah ini baru mau lihat." Yang lain menjawab. Mereka pun mulai fokusuntuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenatnya terjadi. Mika yang memang sedang berada di rumah beristirahat tak pergi ke toko karena kejadian beberapa hari lalu terkejut dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba saja marah-marah dan juga meneriakinya dengan alasan dia yang sudah menggoda Ridwan. Tentu saja Mika merasa bingung. "Apa maksud kamu?" tanya Mika dengan kerutan di kening dia menatap wajah sang adik yang menunjukkan kemarahan. "Nggak usah pura-pura nggak tahu!" teriak Olip sekali lagi. Bola matanya melotot dan dia mengangkat dagu. "Kak Mika ngapain gidain suami aku?" tanyanya dengan menunjuk ke arah wajah Mika. "Jangan semabrangan kalau ngomong kamu." Mika yang sejak tadi hanya memerhatikan kemarahan adiknya kini mulai tersulut emosi. Apalagi dengan tuduhan
"Ada apa tuh? Ada apa?" tanya para tetangga yang berkumpul di depan rumah Mika dan melihat keributan antara kakak beradik itu."Mana aku tahu? Lah ini baru mau lihat." Yang lain menjawab. Mereka pun mulai fokusuntuk melihat dan mencari tahu apa yang sebenatnya terjadi.Mika yang memang sedang berada di rumah beristirahat tak pergi ke toko karena kejadian beberapa hari lalu terkejut dengan kedatangan sang adik yang tiba-tiba saja marah-marah dan juga meneriakinya dengan alasan dia yang sudah menggoda Ridwan.Tentu saja Mika merasa bingung. "Apa maksud kamu?" tanya Mika dengan kerutan di kening dia menatap wajah sang adik yang menunjukkan kemarahan."Nggak usah pura-pura nggak tahu!" teriak Olip sekali lagi. Bola matanya melotot dan dia mengangkat dagu."Kak Mika ngapain gidain suami aku?" tanyanya dengan menunjuk ke arah wajah Mika."Jangan semabrangan kalau ngomong kamu." Mika yang sejak tadi hanya memerhatikan kemarahan adiknya kini mulai tersulut emosi. Apalagi dengan tuduhan tidak
Mendengar cerita suaminya, tentu saja Olip menjadi marah. Perempuan itu meradang dan langsing bergegas pergi untuk menemui kakaknya. "Kurang ajar. Berani-beraninya Kak Mika ini." Dia bersungut-sungut.Ridwan yang terkejut dengan reaksi Olip pun ternyata langsung mengejar langkah sang istri. Dia menahan lengan Olip ketika berhasil mengejar langkah istrinya. "Kamu mau ke mana?" tanya Ridwan."Mau ke rumahnya Kak Mika." Olip pun menunjuk ke arah rumah Mika.Sudah Ridwan duga. "Ngapain?" tanyanya kemudian dengan ekspresi terkejut."Ya mau ngelabrak mereka lah," jawab Olip penuh dengan ambisi."Nggak suami nggak istri sama aja," sambung Olip.Bola matanya melotot, warna kulit wajahnya terlihat memerah pertanda kalau perempuan itu tengah menahan amarah. "Enak aja dia godain kamu. Nggak tahu malu. Udah punya suami juga. Masih aja godain suami orang. Mana suaminya gebukin kamu lagi. Harusnya tuh yang Noval gebukin istrinya yang ganjen itu."Noval ikut melotot. "Nggak usah." Dia menahan tangan
Ternyata, apa yang katakan Pak Purnomo membuat Olip berpikir. Perempuan itu merasa apa yang dikatakan bapaknya benar. Tidak mungkin Noval datang dan memukul Ridwan tanpa alasan. "Pasti ada sesuatu di balik semua ini," ujarnya kemudian."Udah dua hari ini suamiku nggak bisa nyari kerja gara-gara dihajar Noval tanpa jelas. Bikin kesel aja." Dia menggerutu."Sebaiknya aku tanyakan saja pada Kak Ridwan apa yang sebenarnya terjadi. Biar aku tahu alasan kenapa Noval main pukul Kak Ridwan. Biar aku ada penjelasan yang jelas ketika aku melaporkan Noval nanti." Dia menjentikkan jari dan tersenyum.Perempuan itu meletakkan gelas yang sebelumnya berisi susu nutrisi ibu hamil lalu pergi menuju kamarnya di mna Ridwan sedang beristirahat di sana."Loh, Lip? Mana minuman untuk aku?" tanya Ridwan yang melihat istrinya kembali tanpa membawa apapun padahal tadi dia meminta Olip untuk mengambilkan minuman.Olip tidak menjawab. Perempuan itu malah menaiki ranjang lalu duduk di hadapi Ridwan. Dia memberik
"Sekarang katakan. Apa yang sudah kamu lakukan sehingga Noval memukuli kamu?" tanya Pak Purnomo yang sudah mengantuk Ridwan ke ruang tamu rumah mereka.Sedangkan Ridwan yang ditanya seperti itu malah menghindari tatapan bapak mertuanya. Dia berdesis cukup keras sembari memegangi bagian-bagian tubuhnya yang dipukuli Noval seolah memberitahukan betapa sakitnya pukulan itu.Cara yang dilakukan oleh Ridwan berhasil menarik simpati Olip. Perempuan itu pun menatap bapaknya dan menepuk lengan bapaknya pelan. "Bapak ini. Kaka Ridwan lagi kesakitan ini. Kok malah ditanya-tanya sih?" "Ya bapak, kan hanya tanya. Apa susahnya dia tinggal jawab. Orang tinggal buka mulut aja. Nggak harus jalan kaki sepanjang lima kilo mereka." Pak Purnomo berujar."Ya, kan tapi suami aku ini sedang kesakitan. Lihat itu ujung bibirnya lebam. Pasti sakit kalau dibuat bicara," ujar Olip dengan menunjuk ke arah ujung bibir Ridwan yang terlihat merah."Harusnya Bapak itu tanya tuh menantu Bapak yang satunya. Kenapa dia