Share

Bab 99

Penulis: Syaard86
last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-07 21:30:51

Malam itu, langit kembali dipenuhi awan tebal yang menyelimuti kota, seakan alam pun mengerti betapa beratnya perjalanan yang telah mereka tempuh. Di dalam rumah, keheningan terasa lebih mendalam daripada sebelumnya. Setelah bertahun-tahun berjuang melalui sidang, intrik, dan ancaman yang tak henti-hentinya, Juan dan Dini kini menghadapi satu momen yang tampak seperti titik balik—titik di mana segala penderitaan dan pengorbanan mulai menunjukkan hasilnya.

Di ruang tamu, Juan duduk termenung sambil menatap keluar jendela yang menghadap ke pekarangan yang kini tertutup kabut tipis. Tangannya masih menyisakan bekas tekanan dari rapat strategi malam sebelumnya. Di sampingnya, Dini memegang erat sehelai syal yang dulu pernah ia kenakan ketika dunia terasa begitu gelap. Meskipun wajahnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kelegaan, mata Dini menyimpan cerita tentang luka yang belum sepenuhnya sembuh.

“Aku masih ingat malam-malam ketika pesan-pesan ancaman itu membuatku terjaga, Dini,” uj
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 100

    Malam itu, di bawah langit berbintang yang tampak berkilau meskipun angin berhembus lembut, rumah Juan dan Dini terasa begitu berbeda. Perjuangan panjang yang telah mereka lalui—sidang panjang, ancaman konspirasi, dan segala intrik yang mengguncang hidup mereka—seolah telah memudar di balik kehangatan yang kini menyelimuti setiap sudut rumah itu. Malam ini, segalanya seakan berpadu menjadi satu: keadilan telah tertuang dalam putusan pengadilan, luka lama mulai terobati, dan masa depan yang lebih cerah perlahan tampak di ufuk. Di ruang tamu yang hangat, Dean tertidur dengan damai, sementara Juan dan Dini duduk berdampingan di sofa besar. Lampu temaram memantulkan bayangan lembut di dinding, menciptakan suasana yang seolah-olah hanya menyisakan keheningan penuh harapan. Setelah hari-hari penuh kecemasan dan pertempuran, kedua jiwa yang telah saling menopang kini menemukan ruang untuk bersandar dan melepaskan segala kepenatan. Juan memandang Dini dengan lembut, "Dini, setelah semua ini

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-07
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 101

    Matahari pagi mulai menyingsing perlahan di balik awan tipis, membawa secercah harapan ke dalam hari yang baru. Setelah segala badai yang telah menerpa mereka—dari intrik konspirasi, sidang panjang, hingga ancaman yang terus menghantui—Juan dan Dini kini berdiri di ambang kebebasan yang sesungguhnya. Meski perjalanan itu meninggalkan bekas luka mendalam, cinta dan tekad mereka telah mengukir kekuatan yang tak terhingga dalam diri masing-masing. Di ruang keluarga yang kini mulai terang oleh sinar pagi, Dean yang polos bermain dengan mainan kayu, sementara Dini menata meja dengan hati-hati. Setiap gerakan terasa bermakna—seolah keluarga kecil itu berusaha menata kembali setiap keping masa lalu agar tersusun rapi menuju masa depan yang lebih damai. Juan duduk di bangku panjang dekat jendela, menatap ke luar dengan tatapan yang penuh harapan dan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman pahit yang telah ia lalui. “Aku masih ingat ketika segala sesuatunya terasa begitu gelap,” ujar Juan pela

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 102

    Malam itu, setelah segala gejolak dan perjuangan yang menorehkan luka dan menguatkan tekad, Juan duduk termenung di ruang kerjanya. Di hadapannya, tumpukan dokumen dan foto-foto yang mengabadikan perjalanan panjang mereka tampak seperti saksi bisu dari segala penderitaan dan kemenangan. Namun, di antara bayang-bayang itu, ada satu pikiran yang semakin jelas—keinginan untuk segera mengikat janji suci dengan Dini. Juan menatap foto Dini yang tergantung di dinding, sosok wanita yang pernah dianggapnya hanya sebagai pengasuh, namun kini telah berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Di balik tatapan lembut itu, tekad dan keyakinan telah tumbuh; ia tahu bahwa dengan menikahi Dini, ia ingin menghapus segala keraguan masa lalu dan memulai babak baru yang penuh harapan dan kebahagiaan untuk keluarga mereka. Keesokan harinya, di pagi yang cerah meski langit masih menyisakan beberapa awan tipis, Juan mengajak Dini duduk di teras rumah. Suasana di luar begitu tenang—suara burung b

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-08
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 103

    Setelah pernikahan, di balik sorotan lampu remang di ruang tamu yang kini tampak lebih hangat, Juan dan Dini menyempatkan diri untuk duduk bersama di teras rumah. Angin malam membawa aroma bunga dari taman yang baru saja mekar, dan di antara senyuman dan tawa kecil yang terulang-ulang, mereka mulai mengurai kenangan-kenangan pahit yang pernah menghantui mereka. Juan memandang Dini dengan penuh kehangatan, “Ingatkah kau, Dini, betapa gelapnya hari-hari itu? Saat aku merasa sendirian dan terjebak dalam intrik yang seolah tak pernah berakhir?” Dini tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Juan. “Aku ingat, Juan. Aku pun pernah merasa bahwa aku hanyalah bayang-bayang dalam hidup ini. Tapi di antara setiap cobaan, aku selalu menemukan kekuatan dalam dirimu. Kau membuatku percaya bahwa aku tak hanya seorang pengasuh, melainkan bagian penting dari keluarga ini.” Malam semakin larut, dan dengan cahaya lembut dari lampu taman yang bergoyang karena angin, mereka mulai berbagi harapa

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 104

    Matahari pagi mengintip lembut di balik jendela ruang keluarga, membangunkan dunia yang baru bagi Juan dan Dini. Sejak sidang dan pertempuran panjang yang telah mengubah hidup mereka, mereka kini berusaha merangkai hari-hari dengan penuh harapan dan cinta. Di ruang tamu yang sederhana namun penuh kehangatan, Juan duduk sambil menyeduh kopi pagi. Di seberang meja, Dini menata beberapa foto keluarga yang tersusun rapi—potret Dean yang tersenyum polos, momen-momen kecil yang pernah mereka abadikan di hari-hari sulit, dan kenangan tentang hari pernikahan yang begitu indah. Masing-masing foto itu bercerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan pada akhirnya, tentang kemenangan kecil yang membuka lembaran baru kehidupan mereka. “Setiap foto ini mengingatkanku bahwa kita telah melalui begitu banyak hal, Dini,” ujar Juan pelan sambil menatap foto Dean yang sedang bermain di taman. “Dan meskipun jalannya penuh liku, aku merasa kita sekarang benar-benar menemukan kebahagiaan sejati.” Dini

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-09
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 105

    Malam itu, di bawah langit yang dihiasi bintang-bintang dan rembulan yang bersinar lembut, Juan dan Dini duduk di teras rumah yang baru saja mereka ukir sebagai tempat perlindungan dari masa lalu yang kelam. Udara malam begitu tenang, namun setiap hembusan angin seolah membawa ingatan akan perjalanan panjang, penderitaan, dan perjuangan yang telah mengukir luka dalam hati mereka. Namun di balik itu semua, malam itu adalah malam yang berbeda—malam di mana janji dan cinta akan menguatkan setiap harapan. Juan menatap Dini dengan penuh kehangatan, sambil menggenggam tangannya dengan erat. "Dini, setiap detik yang kita lewati bersama adalah hadiah yang tak ternilai. Aku tahu kita telah melalui badai, kehilangan, dan kegelapan yang hampir membuat kita menyerah. Tapi di sini, di antara sinar rembulan dan desah angin malam, aku ingin kau tahu bahwa cintaku padamu tak akan pernah pudar." Dini menyandarkan kepalanya di bahu Juan, matanya berkaca-kaca. "Aku pernah merasa aku hanyalah bayang-b

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 106

    Pagi itu, sinar mentari menyusup melalui tirai jendela, memberikan kehangatan lembut pada dinding rumah yang telah melalui banyak badai. Meskipun keputusan pengadilan telah mengukir titik balik dalam perjuangan mereka, kehidupan Juan dan Dini belum sepenuhnya bebas dari bayang-bayang masa lalu. Namun, pagi itu adalah awal dari sesuatu yang baru, sebuah kesempatan untuk benar-benar membangun masa depan bersama. Di ruang makan, suasana tampak damai. Dean, yang kini telah mulai memahami sedikit tentang dunia di sekelilingnya, bermain dengan mobil-mobilan kecil sambil sesekali melirik ke arah orang tuanya yang tengah menikmati secangkir kopi hangat. Juan dan Dini duduk berhadapan di meja yang sederhana, namun setiap tatapan dan senyum di antara mereka bercerita tentang harapan yang tak terucapkan dan tekad yang semakin menguat. Juan membuka pembicaraan dengan lembut, “Dini, aku tahu kita telah melewati begitu banyak hal. Persidangan, ancaman, dan segala intrik yang menguji kita. Tapi ak

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-10
  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 107

    Pagi itu terasa berbeda. Udara lebih segar, angin bertiup lembut, dan sinar matahari yang menerobos jendela memberikan kehangatan yang nyaman. Juan membuka matanya perlahan, melihat Dini yang masih terlelap di sampingnya. Wajah istrinya terlihat damai, seolah beban-beban masa lalu telah benar-benar sirna. Juan tersenyum kecil, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah Dini. Ia menatapnya dengan penuh cinta, menyadari betapa besar pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk bisa sampai ke titik ini. Tepat saat Juan hendak bangkit dari tempat tidur, Dini menggeliat kecil dan perlahan membuka matanya. “Pagi, suamiku,” bisiknya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. “Pagi, istriku,” balas Juan, lalu mengecup kening Dini dengan lembut. Dini tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu Juan. “Aku masih seperti bermimpi. Semua yang kita lalui… sekarang terasa begitu jauh.” Juan mengangguk. “Itu karena kita sudah menutup lembaran lama dan memulai hi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-11

Bab terbaru

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 108

    Pagi itu, sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai, menghangatkan ruangan dengan lembut. Dini menggeliat pelan, matanya masih terasa berat, tetapi senyuman kecil terbit di wajahnya saat ia menyadari kenyataan baru yang kini ia jalani. Ia menoleh ke samping dan melihat Juan yang masih tertidur, napasnya teratur, wajahnya terlihat lebih damai dari sebelumnya. Dini mengulurkan tangan, mengusap rambut Juan dengan lembut. Ia masih belum sepenuhnya percaya bahwa akhirnya mereka sampai di titik ini. Setelah semua badai yang menerpa, kini mereka benar-benar bisa menikmati ketenangan. Namun, keheningan pagi itu segera dipecahkan oleh suara kecil yang begitu mereka kenali. “Papa! Mama!” Dean berlari masuk ke dalam kamar dengan wajah penuh semangat. Matanya berbinar cerah, dan senyum polosnya membuat segala kelelahan yang tersisa seketika menguap. Juan menggeliat, mengerjapkan mata sebelum akhirnya tersenyum melihat anak kecil itu berdiri di pinggir tempat tidur. “Hey, p

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 107

    Pagi itu terasa berbeda. Udara lebih segar, angin bertiup lembut, dan sinar matahari yang menerobos jendela memberikan kehangatan yang nyaman. Juan membuka matanya perlahan, melihat Dini yang masih terlelap di sampingnya. Wajah istrinya terlihat damai, seolah beban-beban masa lalu telah benar-benar sirna. Juan tersenyum kecil, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh di wajah Dini. Ia menatapnya dengan penuh cinta, menyadari betapa besar pengorbanan yang telah mereka lakukan untuk bisa sampai ke titik ini. Tepat saat Juan hendak bangkit dari tempat tidur, Dini menggeliat kecil dan perlahan membuka matanya. “Pagi, suamiku,” bisiknya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. “Pagi, istriku,” balas Juan, lalu mengecup kening Dini dengan lembut. Dini tersenyum dan menyandarkan kepalanya ke bahu Juan. “Aku masih seperti bermimpi. Semua yang kita lalui… sekarang terasa begitu jauh.” Juan mengangguk. “Itu karena kita sudah menutup lembaran lama dan memulai hi

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 106

    Pagi itu, sinar mentari menyusup melalui tirai jendela, memberikan kehangatan lembut pada dinding rumah yang telah melalui banyak badai. Meskipun keputusan pengadilan telah mengukir titik balik dalam perjuangan mereka, kehidupan Juan dan Dini belum sepenuhnya bebas dari bayang-bayang masa lalu. Namun, pagi itu adalah awal dari sesuatu yang baru, sebuah kesempatan untuk benar-benar membangun masa depan bersama. Di ruang makan, suasana tampak damai. Dean, yang kini telah mulai memahami sedikit tentang dunia di sekelilingnya, bermain dengan mobil-mobilan kecil sambil sesekali melirik ke arah orang tuanya yang tengah menikmati secangkir kopi hangat. Juan dan Dini duduk berhadapan di meja yang sederhana, namun setiap tatapan dan senyum di antara mereka bercerita tentang harapan yang tak terucapkan dan tekad yang semakin menguat. Juan membuka pembicaraan dengan lembut, “Dini, aku tahu kita telah melewati begitu banyak hal. Persidangan, ancaman, dan segala intrik yang menguji kita. Tapi ak

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 105

    Malam itu, di bawah langit yang dihiasi bintang-bintang dan rembulan yang bersinar lembut, Juan dan Dini duduk di teras rumah yang baru saja mereka ukir sebagai tempat perlindungan dari masa lalu yang kelam. Udara malam begitu tenang, namun setiap hembusan angin seolah membawa ingatan akan perjalanan panjang, penderitaan, dan perjuangan yang telah mengukir luka dalam hati mereka. Namun di balik itu semua, malam itu adalah malam yang berbeda—malam di mana janji dan cinta akan menguatkan setiap harapan. Juan menatap Dini dengan penuh kehangatan, sambil menggenggam tangannya dengan erat. "Dini, setiap detik yang kita lewati bersama adalah hadiah yang tak ternilai. Aku tahu kita telah melalui badai, kehilangan, dan kegelapan yang hampir membuat kita menyerah. Tapi di sini, di antara sinar rembulan dan desah angin malam, aku ingin kau tahu bahwa cintaku padamu tak akan pernah pudar." Dini menyandarkan kepalanya di bahu Juan, matanya berkaca-kaca. "Aku pernah merasa aku hanyalah bayang-b

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 104

    Matahari pagi mengintip lembut di balik jendela ruang keluarga, membangunkan dunia yang baru bagi Juan dan Dini. Sejak sidang dan pertempuran panjang yang telah mengubah hidup mereka, mereka kini berusaha merangkai hari-hari dengan penuh harapan dan cinta. Di ruang tamu yang sederhana namun penuh kehangatan, Juan duduk sambil menyeduh kopi pagi. Di seberang meja, Dini menata beberapa foto keluarga yang tersusun rapi—potret Dean yang tersenyum polos, momen-momen kecil yang pernah mereka abadikan di hari-hari sulit, dan kenangan tentang hari pernikahan yang begitu indah. Masing-masing foto itu bercerita tentang perjuangan, pengorbanan, dan pada akhirnya, tentang kemenangan kecil yang membuka lembaran baru kehidupan mereka. “Setiap foto ini mengingatkanku bahwa kita telah melalui begitu banyak hal, Dini,” ujar Juan pelan sambil menatap foto Dean yang sedang bermain di taman. “Dan meskipun jalannya penuh liku, aku merasa kita sekarang benar-benar menemukan kebahagiaan sejati.” Dini

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 103

    Setelah pernikahan, di balik sorotan lampu remang di ruang tamu yang kini tampak lebih hangat, Juan dan Dini menyempatkan diri untuk duduk bersama di teras rumah. Angin malam membawa aroma bunga dari taman yang baru saja mekar, dan di antara senyuman dan tawa kecil yang terulang-ulang, mereka mulai mengurai kenangan-kenangan pahit yang pernah menghantui mereka. Juan memandang Dini dengan penuh kehangatan, “Ingatkah kau, Dini, betapa gelapnya hari-hari itu? Saat aku merasa sendirian dan terjebak dalam intrik yang seolah tak pernah berakhir?” Dini tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Juan. “Aku ingat, Juan. Aku pun pernah merasa bahwa aku hanyalah bayang-bayang dalam hidup ini. Tapi di antara setiap cobaan, aku selalu menemukan kekuatan dalam dirimu. Kau membuatku percaya bahwa aku tak hanya seorang pengasuh, melainkan bagian penting dari keluarga ini.” Malam semakin larut, dan dengan cahaya lembut dari lampu taman yang bergoyang karena angin, mereka mulai berbagi harapa

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 102

    Malam itu, setelah segala gejolak dan perjuangan yang menorehkan luka dan menguatkan tekad, Juan duduk termenung di ruang kerjanya. Di hadapannya, tumpukan dokumen dan foto-foto yang mengabadikan perjalanan panjang mereka tampak seperti saksi bisu dari segala penderitaan dan kemenangan. Namun, di antara bayang-bayang itu, ada satu pikiran yang semakin jelas—keinginan untuk segera mengikat janji suci dengan Dini. Juan menatap foto Dini yang tergantung di dinding, sosok wanita yang pernah dianggapnya hanya sebagai pengasuh, namun kini telah berubah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Di balik tatapan lembut itu, tekad dan keyakinan telah tumbuh; ia tahu bahwa dengan menikahi Dini, ia ingin menghapus segala keraguan masa lalu dan memulai babak baru yang penuh harapan dan kebahagiaan untuk keluarga mereka. Keesokan harinya, di pagi yang cerah meski langit masih menyisakan beberapa awan tipis, Juan mengajak Dini duduk di teras rumah. Suasana di luar begitu tenang—suara burung b

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 101

    Matahari pagi mulai menyingsing perlahan di balik awan tipis, membawa secercah harapan ke dalam hari yang baru. Setelah segala badai yang telah menerpa mereka—dari intrik konspirasi, sidang panjang, hingga ancaman yang terus menghantui—Juan dan Dini kini berdiri di ambang kebebasan yang sesungguhnya. Meski perjalanan itu meninggalkan bekas luka mendalam, cinta dan tekad mereka telah mengukir kekuatan yang tak terhingga dalam diri masing-masing. Di ruang keluarga yang kini mulai terang oleh sinar pagi, Dean yang polos bermain dengan mainan kayu, sementara Dini menata meja dengan hati-hati. Setiap gerakan terasa bermakna—seolah keluarga kecil itu berusaha menata kembali setiap keping masa lalu agar tersusun rapi menuju masa depan yang lebih damai. Juan duduk di bangku panjang dekat jendela, menatap ke luar dengan tatapan yang penuh harapan dan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman pahit yang telah ia lalui. “Aku masih ingat ketika segala sesuatunya terasa begitu gelap,” ujar Juan pela

  • Perjanjian Di Ujung Pengkhianatan   Bab 100

    Malam itu, di bawah langit berbintang yang tampak berkilau meskipun angin berhembus lembut, rumah Juan dan Dini terasa begitu berbeda. Perjuangan panjang yang telah mereka lalui—sidang panjang, ancaman konspirasi, dan segala intrik yang mengguncang hidup mereka—seolah telah memudar di balik kehangatan yang kini menyelimuti setiap sudut rumah itu. Malam ini, segalanya seakan berpadu menjadi satu: keadilan telah tertuang dalam putusan pengadilan, luka lama mulai terobati, dan masa depan yang lebih cerah perlahan tampak di ufuk. Di ruang tamu yang hangat, Dean tertidur dengan damai, sementara Juan dan Dini duduk berdampingan di sofa besar. Lampu temaram memantulkan bayangan lembut di dinding, menciptakan suasana yang seolah-olah hanya menyisakan keheningan penuh harapan. Setelah hari-hari penuh kecemasan dan pertempuran, kedua jiwa yang telah saling menopang kini menemukan ruang untuk bersandar dan melepaskan segala kepenatan. Juan memandang Dini dengan lembut, "Dini, setelah semua ini

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status