***** "Bos, anda yakin akan pergi sendirian ke sana?" Pertanyaan ke khawatiran dari Justin tentang Leanne yang akan pergi ke suatu tempat, di mana musuh mereka bersembunyi kini sudah diketahui dengan pasti. "Bukankah kita sudah membicarakan semuanya Justin? Terlalu banyak orang akan terlihat mencolok. Kita sudah sepakat dengan aku pergi sendiri ke sana dan kalian menunggu di posisi yang telah di tetapkan." Ucap Leanne dengan tangan yang sibuk memasukkan sebuah pistol dan alat pertahanan diri lainnya ke sebuah ransel hitamnya. "Tapi Bos, sangat berbahaya dan berisiko jika Bos seorang diri masuk ke sarang mereka. Sedangkan kita tidak tahu berapa banyak orang yang ada di sana." Ucap Justin dengan mata yang terus mengikuti pergerakan Leanne. "Bagaimana jika mereka menyadari keberadaan, Bos? Biar aku saja yang pergi ke sana." Lanjutnya. Permintaan negosiasi Justin itu tidak akan merubah keputusan Leanne. Leanne tahu seberapa khawatirnya Justin terhadapnya, sebab itu terlihat
***** Setelah tembakan biusan itu ia luncurkan, Leanne memunculkan dirinya. Nathan dan Morgan langsung mengacungkan pistol mereka kepada Leanne. Tanpa memberikan jeda Nathan dan Morgan pun menembak Leanne, dan Leanne sendiri segera menghindar. Leanne melempar pistol biusnya setelah ia mengeluarkan isinya terlebih dahulu dengan satu tangannya. Ia mengambil pistol sungguhannya yang ia selipkan pada betisnya. Dengan tangguhnya Leanne pun menembak balik mereka. Baku tembak pun terjadi, Morgan terus melesatkan pelurunya dengan ia cari-cari kesempatan untuk mengambil koper yang berisi narkotika serta tabung cairan itu. Sedangkan Nathan mengambil koper yang berisi uang. Leanne menyentuh earphone nya lalu ia berkata, "Sekarang." Titah Leanne tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari musuh. Sultan dan timnya beserta Justin segera masuk kedalam bangunan setelah mendapatkan instruksi dari Leanne. Sedangkan Leanne mengejar Nathan dan Morgan yang terlihat berlari akan keluar, s
***** Melihat mobil targetnya seperti akan menabrakkan mobil dengannya, Leanne pun menambahkan kecepatan mobilnya juga. "Ternyata kau tidak akan menyerah begitu saja." Sinis Leanne menyorot tajam pada mobil musuhnya. "I am pleased with your persistence." Ujar Leanne. Entah apa yang di pikirkan Leanne, yang pasti Leanne semakin menginjak dalam gas mobilnya. Di mobil Morgan, Nathan sudah sangat ketakutan berbeda halnya dengan Morgan yang seakan menantang maut. Ia terlihat senang. Ketika mobil mereka sebentar lagi akan saling menyentuh dengan tiba-tibanya Leanne segera membanting setir. Morgan terkejut dengan tindakan tiba-tiba Leanne yang memutar arah. DOR!! Dan rasa terkejut itu hanya sesaat karena berikutnya ia mengerang sakit. Lagi-lagi timah panas menembus kulitnya. Dengan tegas, tangkas dan cepatnya Leanne melesatkan kembali pelurunya ke tangan Morgan. Leanne melihat mobil targetnya sudah tidak terkendali, sebab tangan Morgan yang di tembak jadi hilang kendali.
***** Setelah kemarin pagi dirinya kembali bertengkar dengan Leanne. Damian yang menjaga Claudya hingga jam 10 itu pun dirinya sambil membawa pekerjaannya di sana, dan pukul 12 siang dirinya harus pergi ke Dubai untuk meeting yang tidak bisa di wakilkan. Maka ia sendiri yang pergi ke sana dengan jet private-nya. Cukup enam sampai tujuh jam untuk ia tiba di sana lebih cepat dari pesawat umum lainnya. Damian tidak memberi kabar Leanne jika dirinya sedang perjalanan bisnis. Segala keperluan Damian sebelumnya telah di siapkan oleh Joshua. Ia menjejakkan kakinya di Dubai pukul 18 lebih 30 menit, menurut waktu di tanah air, sedangkan di Indonesia tiga jam lebih cepat dari Dubai. Sampainya di Dubai Damian langsung bertemu kliennya untuk meeting. Pertemuan bisnis dengan rekan bisnisnya berjalan langsung hingga dua jam lebih lamanya. Setelah menyelesaikan meeting nya Damian segera kembali ke bandara untuk kembali ke tanah air. Tidak ada waktu untuknya istirahat. Sebab Damian sendiri
***** "Siapa Agent yang kalian maksud?" Damian menyela pembicaraan Sultan, dan Sakha. Meski sejak tadi ia tidak memperhatikan mereka karena fokusnya terhadap Leanne yang sedang mendapatkan penanganan, akan tetapi ia bisa mendengar perkataan mereka. Dan dirinya sangat terkejut ketika menangkap pembicaraan terakhir mereka, yang di mana di dalam ruangan orang yang ia tunggu kabar baiknya nyatanya adalah seorang agent. Untuk memastikan lagi pendengarannya, Damian bertanya kepada Sultan dengan tatapan menuntutnya. Namun Sultan yang di tatap seperti itu, tidak kunjung menjawabnya. "Istri anda dia adalah seorang agent." Bukan, bukan Sultan yang menjawab melainkan Justin menatap Damian dengan datar. Kenny menatap Justin memperingati, namun di abaikan. "Tidak mungkin." Lirih Damian tak percaya sehingga tubuhnya mundur beberapa langkah. Joshua menangkap tubuh Damian yang hendak terjatuh, dia mendudukkan tubuh besar Damian pada kursi tunggu. Joshua sendiri di buat terk
***** Suara air yang mengalir, angin yang berhembus tidak terlalu kencang namun dapat mengibarkan rambut panjang bergelombang milik Leanne. Mata yang tertutup merasakan kesejukan itu, perlahan terbuka menatap pemandangan indah di hadapannya. Padang bunga dengan aliran sungai yang jernih membuat Leanne terpukau. Keindahan surga di hadapannya membuat Leanne tidak mau memejamkan matanya kembali, ia takut ketika mata ia pejamkan keindahan surga ini akan hilang. Berbagai bunga di sekelilingnya membuat Leanne tidak tega memetik mereka, hanya usapan lembut yang ia berikan pada bunga-bunga yang bisa ia jangkau. Harum semerbak dari berbagai bunga membuat Leanne nyaman untuk tinggal di sini, ia tidak rela jika harus meninggalkan tempat seindah ini. Melihat air sungai yang mengalir tenang membuat langkah Leanne berjalan ke arah sana. Berjongkok, lalu menyentuh air itu dan perasaan dingin yang ia rasakan. Air yang sangat jernih itu dapat melihat pantulan dirinya sendiri. Leanne menyentuh
***** Ketika Joshua memberikan kabar tentang apa yang telah terjadi pada Leanne pada kedua keluarga itu, orangtua Damian dan Leanne hampir bersamaan tiba di rumah sakit. Anita dan Harris tentu saja terkejut dan sedih ketika mendapatkan kabar jika anaknya kecelakaan sehingga Anita meraung keras oleh tangisannya. Begitu pun Rose, meskipun Leanne menantunya Rose pun tidak dapat menahan tangisannya. Kasih sayang Rose pada Leanne begitu tulus. Dan kini hari ini adalah hari kedua Leanne koma, keluarga Damian dan juga orang tua Leanne kembali ke rumah sakit lagi. Namun untuk saat ini suasana terasa terasa tegang sebab di antara mereka ada Anthony dan Noel. Kehadiran mereka membuat aura di antara mereka semakin mencekam. Menunggu di depan ruangan ICU, yang di mana saat ini Leanne tengah di check keadaannya oleh Rai. Anthony dan Noel mereka berdua baru saja tiba di mana Leanne di rawat. Mengetahui keadaan cucunya yang tengah koma dari Kenny membuat Anthony dan Noel segera terbang ke t
***** Mereka yang berada di luar begitu penasaran dengan suara gaduh di dalam hal apa yang tengah terjadi di dalam ruang ICU. BRAK!!! Pintu ICU terbuka, di ambang pintu Leanne berdiri dengan punggung tangannya yang berdarah. Terlihat jika selang infusan telah di lepas paksa oleh Leanne. Saat di dalam para perawat kaget dengan sadarnya Leanne juga tindakan Leanne hingga membuat mereka menjerit. "Dokter," Seorang perawat wanita itu memanggil Rai, karena cemas dengan pasiennya. Namun dengan kode dari Rai mengangkat telapak tangannya tanda diam perawat itu pun diam membisu. "Sayang," Panggil Damian menghampiri Leanne yang terlihat bingung, namun langkahnya terhenti ketika nama seseorang 'lah yang di panggil istrinya dan bukanlah dirinya. "Rai...Raigan." Lirih Leanne berjalan mendekati Rai dengan langkah lemasnya. Namun baru saja tiga kali melangkah, langkah Leanne terhenti dan ia menatap intens Rai. "Kau bukan Rai. Kau bukan Naka ku." Ucap Leanne pada akhirnya. Ia menyadar