"Pa, kamu apa-apaan sih. Menantu sopan begitu ditanggapin kasar," hardik Rita pada suaminya-Santoso. Mereka berpapasan di ruang tengah kamar Santoso berada di dekat ruang keluarga masih di lantai satu."Menantu? Aku nggak merasa punya menantu, Mah. Kalau kamu, ya, terserah. Bagiku, calon menantuku cuma Kartika!" serangnya tak mau kalah, dia pun lagi menepis tangan istrinya yang ingin meraih tas kerja yang ada di dalam genggaman tangan sebelah kanannya. Dia begitu marah."Ya Allah, Pa. Sekarang takdir Sanjaya udah sama Laniara, kita sebagai orang tua tugasnya mendoakan agar rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, dan warahmah.""Sudah lah, Ma. Papa males bahas soal itu," jawabnya sambil berlalu.Rita geleng-geleng kepala melihat sifat suaminya yang keras, mengurut dada untuk lebih bersabar menghadapi lelaki yang sudah dia temani selama tiga puluh lima tahun itu. Dia memang sudah kebal menghadapi sikap Santoso. Didikan orang tua yang keras membuat Santoso mempunyai watak yang keras juga
Rita bertolak ke kamarnya mengambil gawai pipih yang tergeletak manis di atas nakas. Dia meng-klik icon telepon, lalu memencet satu nama yang ada dalam panggilannya itu, Sanjaya.Mondar-mandir seperti setrikaan di sisi ranjang, entah kenapa tiba-tiba dia bertingkah seperti itu. Sepertinya mencurigakan sekali, apalagi setelah dia bertemu dengan Bobby. Apa rencana Rita sebenarnya.Panggilan pertama tidak di angkat Sanjaya, dia mencoba memanggil sekali lagi, dan akhirnya tersambung."Assalamu'alaikum, San. Kamu dimana? Kok lama ngangkat telepon Mama?""Wa'alaikumsalam, Ma. Ini lagi berenti di pinggir jalan gara-gara terasa getaran handphone. Ada apa nelpon, Ma? Laniara nggak apa-apa 'kan?" Nada suara Sanjaya terdengar panik."Hmm ... nanti aja pas kamu pulang Mama ceritain, San. Gini, ntar kalau udah selesai nyari kerjaannya cari rumah kontrakan ya, San! Cukup tiga kamar aja, nggak usah terlalu gede," pinta Rita dengan napas yang sedikit tersengal-sengal."Hah ... rumah kontrakan, Ma? Si
"Mas ..." aku mendekati Mas Sanjaya, lalu memeluknya dengan sangat erat. Air mataku luruh sejadi-jadinya, mengusap punggungku perlahan seraya menenangkan. Dia tak salah, benar dia tak salah. Aku yang keliru menilai suamiku sendiri. Dibenakku tadi terbayang akan masa lalu yang pernah mengecap pahit sekian tahun.Meskipun kutahu, Mas Sanjaya berbohong demi maksud lain, tapi aku bisa menerima atas kebohongannya itu. Berharap ini untuk pertama dan terakhir kalinya dia berbohong."Maafkan aku, Mas. Sudah suudzon terlalu jauh padamu, kupikir nasibku sekarang akan sama kembali dengan masa lalu," lirihku disela tangisan yang masih menjadi-jadi.Dia melepaskan pelukanku perlahan dan menyeka bulir bening yang masih berlomba jatuh di pipiku meski tak seluruh tadi. Kulihat matanya juga merah dan basah. Aku pun melakukan hal yang sama, menyeka air mata yang menggenang di bola matanya."Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sayang. Kamu tidak salah, aku yang seharusnya jujur sedari awal. Namun apa dayaku
Santoso tertunduk tak berdaya dengan tangan yang menopang kepalanya, dia duduk di kursi sisi kanan ruang tunggu kamar operasi. Pun Kartika dia duduk sembari memainkan gadgetnya, duduk di kursi ruang tunggu sisi kiri, sesekali tampak merintih kesakitan memegang kepalanya yang diperban. Ada gurat kecemasan di wajahnya dan juga ada beberapa titik luka memar, seperti di sudut bibir sebelah kiri, dan di bagian mata sebelah kanan sejajar dengan letak perban yang menempel di keningnya.Rita berjalan setengah berlari mendekat ke arah Santoso, matanya sembab, pun Laniara mengikuti dengan cepat langkah sang mertua yang baru keluar dari lift. Tidak ada yang lain, selain mereka berempat."Pa ... gimana Bobby?" tanya Rita panik dengan dada baik turun, dia tersengal-sengal memecahkan suasana ruang tunggu yang sunyi sepi. Santoso yang tadi tertunduk spontan berdiri, tapi matanya begitu nyalang menatap sang istri."Kamu kemana aja, lama banget!" bisiknya dengan gigi yang ikut bertaut, mungkin dia mer
PoV SantosoDadaku berdesir kencang ketika melihat seorang dokter perempuan keluar dari ruang operasi. Parasnya yang ayu tak mampu membuat jantungku berdetak stabil, malah semakin berdetak tak karuan. Bibirnya yang tipis tak mengulas senyum sedikitpun, tak ada isyarat kelegaan yang terlihat bahwa operasi yang dia tangani kali ini berjalan dengan baik dan sesuai tujuan yang sempurna untuk pasien. Tak pernah seumur hidup aku merasakan kekacauan hati seperti ini.Tapi beberapa detik kemudian, mata kami beradu pandang dia berusaha mengulas senyum berat padaku, aku bisa membaca dengan baik bahasa tubuhnya. Mungkin dokter ini berpikir ulasan senyum yang dia suguhkan mampu menepis kejanggalan yang ada. Tidak! Malah aku semakin yakin, pasti ada yang tidak beres terjadi pada Bobby. Awas saja kalau informasi yang dia berikan adalah kabar buruk bagiku!Aku, Rita, Sanjaya dan dia. Iya, dia. Dia orang asing yang masuk ke rumahku. Belum ada kata sudi dariku, mengakui sosoknya sebagai menantu di mat
Kejadian selepas Santoso membentak Laniara ....Sanjaya hanya melihat Santoso dan Rita dari sudut matanya ketika masuk ke dalam lift. Gurat amarah yang membuncah masih bersarang, tak kuasa dia lepaskan mengingat sosok itu adalah lelaki yang sudah berjasa di hidupnya selama ini sekalipun sikap Santoso sungguh merobek separuh hatinya.Sanjaya memeluk Laniara, sembari berbisik, "sabar ya, Sayang." Dengan penuh cinta berulang kali dia mengecup puncak kepala sang istri. Sedangkan Laniara masih gugup tapi tak ada air mata yang menggenangi bola mata indahnya itu.Laniara melepaskan pelukan Sanjaya perlahan. Dia menatap dalam manik mata suaminya itu."Harusnya kamu tidak membentak Papa, Mas. Aku tidak mau kamu berkata kasar hanya karena ingin membelaku." Dengan lirih Laniara berucap."Tapi papaku udah keterlaluan membentak kamu, aku mana sanggup melihat kamu dibentak seperti itu." Sanjaya memegang kedua pipi sang istri matanya tampak berkaca-kaca."Iya, Mas. Mungkin Papa tak bermaksud membent
Bak awan yang sudah dipenuhi air, makin berat, tumpah membasahi bumi, sama persis yang terjadi dengan Rita. Sesak dada yang tidak terluakan dengan sempurna tadi ketika beradu mulut dengan Santoso tadi melebur juga di dalam lift. Air matanya tumpah ruah tanpa jeda. Menetes membasahi pipi mulusnya, sekalipun sudah berumur wajah Rita sungguh awet muda. Tapi Rita tidak membiarkan bening itu kian berlomba jatuh sia-sia dengan sigap sia menyeka setiap bulir bening itu tumpah. Untung saja setiap melewati nomor lantai liftnya tidak berhenti.Rita berbisik lirih, "harusnya kamu tidak seegois ini, Pa.""Ya Allah berilah kelembutan dan bukakanlah pintu hati suamiku agar lebih bersikap bijak dan lapang dada serta ikhlas menerima ujian dari-Mu. Jagalah rumah tangga kami, Ya Rabb," bisik Rita lagi. Mengadu pada sang Pencipta matanya juga tampak tertutup."Ya Allah berilah kesembuhan pada anakku. Kumohon jangan panggil dia, beri dia kesempatan untuk hidup sekali lagi." bisik Rita lagi"Dan, kenapa k
PoV SanjayaAku dan Laniara terbelalak melihat Mama tergeletak di lantai. Masih memakai pakaian semalam. Serentak aku dan istri berjalan setengah berlari menghampiri Mama. Kamar Mama cukup luas, berukuran tujuh kali tujuh meter. Ya, cukup besar dan lengkap."Ma ... bangun ... Bangun, Ma ...." Laniara mengguncang serta menepuk lembut pipi Mama sembari terus memanggil. Aku masih terperangah tak berdaya menatap dalam kedua wanita yang sudah melahirkanku itu yang masih terpejam. Mulutku terasa berat untuk berucap. Tanganku gemetar ketika memegang tubuh Mama yang tidak berdaya. Wajah Mama juga pucat pasi."Mas ... ini obat apa?" tanya Laniara sembari memperlihatkan beberapa butir obat yang dia punguti dari lantai.Aku tak menyahut, bibir ini begitu kelu."Denyut nadi Mama masih ada kok, Mas. Kamu jangan panik," ujar istriku menenangkan. Namun, sekalipun begitu tak ampuh bagiku saat ini.Terdengar Laniara kembali memanggil Mama, tapi Mama tak juga sadar. Jangan 'kan menyahut merespon dengan
PoV SantosoSelepas Subuh aku sudah bersiap, tentu saja ingin menyelidik perempuan itu. Aku yakin dia pasti akan berbuat hal yang tidak-tidak. Dan, akan kubuktikan pada Sanjaya bahwa dia bukan perempuan yang tepat menjadi istri serta menantu di rumah ini.Langit pekat mulai beranjak perlahan, kukemudikan mobil dengan laju kecepatan sedang. Semoga saja perempuan itu masih ada di wisma. Untung juga tadi ketika aku berpamitan sama Sanjaya dia tidak banyak bertanya dan semoga saja dia tidak menaruh curiga.Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, akhirnya aku tiba di wisma tempat Laniara menginap. Kutepikan mobil beberapa sentimeter dari gerbang, kebetulan di tempat aku memarkir langsung tertuju pada pintu masuk utama wisma. Ini sangat membantuku untuk melihat siapa saja yang keluar masuk.Tepat pukul 07. 00 pagi, targetku keluar dari persembunyiannya. Pasti hari ini ada misi buruk yang akan dia lakukan, kalau tidak mengapa dua musti pergi dari rumah. Jikalau dia benar-benar men
Santoso menaruh kembali botol yang berisikan air minum di kursi tunggu ruang ICU. Selain membawa bekal makanan, Rita juga membawa dua botol minum berukuran sedang serta yang kecil. Sedang berisi air mineral dan yang kecil berisi kopi yang sudah mulai mendingin, tentunya untuk suaminya tercinta."Kenapa Papa jadi salah tingkah? Apa benar dugaan Mama?" tanya Rita penuh selidik.Derap langkah dr. Laila dan dr. Vincen semakin mendekati pintu ruang ICU. Bobby ditangani oleh dua orang dokter saraf, yang mana sebelumnya ditindak sama dr. Laila, tapi selama Bobby di ICU dr. Vincen pun turut turun tangan. Karena dr. Vincen memang bertugas di ruangan ICU serta beberapa ruangan lainnya.Fokus mereka menjadi buyar yang tadinya tertuju pada Santoso, kini beralih pada dua dokter yang semakin mendekati mereka."Nanti bakal Papa ceritain, itu dokter yang nanganin Bobby sudah datang," bisiknya."Itu 'kan dr. Laila, dokter yang pernah kamu maki-maki, Pa.""Sstttt ... iya," sahut Santoso kesal.Rita, San
Kembali ke PoV Laniara ya ..."Terus selama di sana kamu nginap di mana?" tanya Mama Rita sembari melepaskan pelukan perlahan."Tidak jauh dari pemukiman itu ada wisma, di situ aku menginap, Ma."Pakaian kamu bagaimana, Sayang? Bahkan pas pulang tadi kamu tidak membawa apapun dari rumah."Aku menatap kedua manik mata Mas Sanjaya, ada rasa bersalah saat aku memutuskan pergi tanpa minta persetujuannya terlebih dahulu."Mas ... sebenarnya aku ingin cerita sama kamu soal niat aku ini. Cuma ketika melihat Mama terbaring lemah tidak berdaya kuputuskan untuk ngelakuinnya sendiri tanpa melibatkan kamu. Dan ... kalau aku jujur, pasti kamu akan melarang aku, pasti kamu akan selalu bilang ini semua ujian. Lalu, aku akan larut dalam rasa bersalahku ketika mata ini menatap Mama yang lemah dan telinga ini akan mendengar soal Bobby yang belum ada perkembangannya. Dan, semua pakaian ku masih berada di wisma, Mas."Mata Mas Sanjaya makin berkaca-kaca."Aku akan semakin merasa bersalah tanpa melakukan
Bobby masih terbaring lemas sembari bangun dari koma selama lebih kurang dua Minggu lamanya."Permisi, Mbak," sapa Santoso yang lebih dulu ingin masuk ke ruangan Bobby."Iya, Pak. Jangan lupa cuci tangan dan pakai baju ini dulu, ya!" ucap Sonia, perawat ruang ICU yang berjaga shift malam."Iya, Mbak. Bobby beneran baru sadar, Mbak?""Iya, Pak. Tak lama Bobby sadar, saya langsung menghibungi Bapak. Alhamdulillah banget ya, Pak. Bobby bisa sadar secepatnya ini. Bener-bener takdir Allah itu tak disangka-sangka. Soalnya saya sangat jarang menemukan pasien yang sadar secepat ini sadar dari koma, Pak.""Benarkah, Mbak?" tanya Santoso tidak percaya. Hal yang wajar jikalau Santoso tercengang seperti itu, mengingat belum ada keluarganya yang pernah koma."Iya, Pak. Selama saya mengabdi kurang lebih sepuluh tahun, ini sungguh keajaiban sang Pencipta. Apalagi Bobby mengalami luka cukup parah ditambah kondisi tubuhnya sudah lemah." Ya wajar saja, karena Bobby anak yang punya pergaulan bebas entah
"Gimana, Mama saya, Dok?" tanyaku pada seorang dokter yang berdiri di sisi tempat tidur Mama."Kita berbicara di ruangan saya saja, Pak," jawabnya. Membuat rongga dadaku semakin sempit."Baik, Dokter."Aku mengekori sang dokter menuju ruangannya. Papa? Dia tidak ikut. Aku pun juga tidak menawarinya untuk ikut dengan ku ataupun meminta Papa untuk tegap berada di dekat Mama."Jadi bagaimana keadaan Mama saya, Dok?" tanyaku ketika aku sudah dipersilakan duduk oleh dr. Laura di ruangannya yang tidak jauh dari ruangan IGD."Apa Mama, Bapak sedang lagi dalam masalah besar? Tampaknya beliau depresi berat.""Saya tidak tahu pasti, Dok. Tapi yang jelas, sekarang adik saya masih belum sadar pasca operasi kemarin."Dr. Laura mengangguk paham."Untuk sementara waktu, mamanya dirawat di sini dulu sampai benar-benar pulih. Karena obat penenang yang dia telan melebihi dosis dan itu juga yang menyebabkan pada akhirnya beliau pingsan.""Jadi, Mama minum obat penenang, Dok? Obat yang tadi itu, penenang
PoV SanjayaAku dan Laniara terbelalak melihat Mama tergeletak di lantai. Masih memakai pakaian semalam. Serentak aku dan istri berjalan setengah berlari menghampiri Mama. Kamar Mama cukup luas, berukuran tujuh kali tujuh meter. Ya, cukup besar dan lengkap."Ma ... bangun ... Bangun, Ma ...." Laniara mengguncang serta menepuk lembut pipi Mama sembari terus memanggil. Aku masih terperangah tak berdaya menatap dalam kedua wanita yang sudah melahirkanku itu yang masih terpejam. Mulutku terasa berat untuk berucap. Tanganku gemetar ketika memegang tubuh Mama yang tidak berdaya. Wajah Mama juga pucat pasi."Mas ... ini obat apa?" tanya Laniara sembari memperlihatkan beberapa butir obat yang dia punguti dari lantai.Aku tak menyahut, bibir ini begitu kelu."Denyut nadi Mama masih ada kok, Mas. Kamu jangan panik," ujar istriku menenangkan. Namun, sekalipun begitu tak ampuh bagiku saat ini.Terdengar Laniara kembali memanggil Mama, tapi Mama tak juga sadar. Jangan 'kan menyahut merespon dengan
Bak awan yang sudah dipenuhi air, makin berat, tumpah membasahi bumi, sama persis yang terjadi dengan Rita. Sesak dada yang tidak terluakan dengan sempurna tadi ketika beradu mulut dengan Santoso tadi melebur juga di dalam lift. Air matanya tumpah ruah tanpa jeda. Menetes membasahi pipi mulusnya, sekalipun sudah berumur wajah Rita sungguh awet muda. Tapi Rita tidak membiarkan bening itu kian berlomba jatuh sia-sia dengan sigap sia menyeka setiap bulir bening itu tumpah. Untung saja setiap melewati nomor lantai liftnya tidak berhenti.Rita berbisik lirih, "harusnya kamu tidak seegois ini, Pa.""Ya Allah berilah kelembutan dan bukakanlah pintu hati suamiku agar lebih bersikap bijak dan lapang dada serta ikhlas menerima ujian dari-Mu. Jagalah rumah tangga kami, Ya Rabb," bisik Rita lagi. Mengadu pada sang Pencipta matanya juga tampak tertutup."Ya Allah berilah kesembuhan pada anakku. Kumohon jangan panggil dia, beri dia kesempatan untuk hidup sekali lagi." bisik Rita lagi"Dan, kenapa k
Kejadian selepas Santoso membentak Laniara ....Sanjaya hanya melihat Santoso dan Rita dari sudut matanya ketika masuk ke dalam lift. Gurat amarah yang membuncah masih bersarang, tak kuasa dia lepaskan mengingat sosok itu adalah lelaki yang sudah berjasa di hidupnya selama ini sekalipun sikap Santoso sungguh merobek separuh hatinya.Sanjaya memeluk Laniara, sembari berbisik, "sabar ya, Sayang." Dengan penuh cinta berulang kali dia mengecup puncak kepala sang istri. Sedangkan Laniara masih gugup tapi tak ada air mata yang menggenangi bola mata indahnya itu.Laniara melepaskan pelukan Sanjaya perlahan. Dia menatap dalam manik mata suaminya itu."Harusnya kamu tidak membentak Papa, Mas. Aku tidak mau kamu berkata kasar hanya karena ingin membelaku." Dengan lirih Laniara berucap."Tapi papaku udah keterlaluan membentak kamu, aku mana sanggup melihat kamu dibentak seperti itu." Sanjaya memegang kedua pipi sang istri matanya tampak berkaca-kaca."Iya, Mas. Mungkin Papa tak bermaksud membent
PoV SantosoDadaku berdesir kencang ketika melihat seorang dokter perempuan keluar dari ruang operasi. Parasnya yang ayu tak mampu membuat jantungku berdetak stabil, malah semakin berdetak tak karuan. Bibirnya yang tipis tak mengulas senyum sedikitpun, tak ada isyarat kelegaan yang terlihat bahwa operasi yang dia tangani kali ini berjalan dengan baik dan sesuai tujuan yang sempurna untuk pasien. Tak pernah seumur hidup aku merasakan kekacauan hati seperti ini.Tapi beberapa detik kemudian, mata kami beradu pandang dia berusaha mengulas senyum berat padaku, aku bisa membaca dengan baik bahasa tubuhnya. Mungkin dokter ini berpikir ulasan senyum yang dia suguhkan mampu menepis kejanggalan yang ada. Tidak! Malah aku semakin yakin, pasti ada yang tidak beres terjadi pada Bobby. Awas saja kalau informasi yang dia berikan adalah kabar buruk bagiku!Aku, Rita, Sanjaya dan dia. Iya, dia. Dia orang asing yang masuk ke rumahku. Belum ada kata sudi dariku, mengakui sosoknya sebagai menantu di mat