Yara menekan bel berulang kali, tapi tidak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu dari dalam. Mungkin dirinya datang di waktu yang tidak tepat, pikir Yara. Mungkin saja saat ini Zara sedang pergi.Karena tak kunjung mendapat sahutan, Yara akhirnya berbalik untuk kembali kepada suaminya yang menunggu di lobi.Namun, belum lima langkah Yara berjalan, pintu di belakangnya tiba-tiba terbuka, membuat langkah kaki Yara seketika terhenti.“Siapa?”Yara tertegun kala mendengar suara yang barusan bertanya kepadanya. Nada suaranya terdengar datar, seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup.Setelah memantapkan hatinya, Yara pun berbalik menghadap orang itu, yang tak lain adalah Zara. Yara bisa melihat Zara terkejut saat menatapnya.“K-Kamu...,” bisik Zara dengan lirih. Matanya membulat, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.“Hai!” Yara berusaha menampilkan senyumnya dengan canggung. “Apa kabar? Boleh aku masuk?”Zara terdiam sejenak, membuat Yara merasa bahwa adiknya itu ak
Yara keluar dari apartemen Zara, ia menghampiri Oliver yang dengan sabar menunggunya di lobi. Saat menyadari kedatangan Yara, Oliver langsung mengunci ponsel yang sejak tadi ia mainkan, kemudian berdiri. Oliver menghampiri Yara dan merangkulkan lengannya di pinggang wanita itu. “Bagaimana pertemuannya?” tanya Oliver sebelum melabuhkan kecupan mesra di kening Yara, membuat Yara tersipu malu. “Nggak buruk,” jawab Yara, “tapi aku cukup merasa lelah.” Yara merasa lelah secara mental, bukan fisik. Oliver merapatkan pelukannya dengan protektif. “Gimana kalau setelah ini aku buat rasa lelah kamu hilang?” tanyanya dengan nada menggoda. Mata Yara mengerling. “Dengan cara apa?” Sambil berjalan keluar lobi, Oliver berbisik di dekat telinga Yara, “Dengan membawamu ke rangjangku.” “Astaga....” Yara memukul pelan dada Oliver. “Itu, sih, bikin makin lelah, tahu?” Oliver terkekeh-kekeh. “Lelah tapi menyenangkan, bukan?” Yara merotasi matanya dengan malas, lantas keduanya tertawa seolah
Oliver menurunkan kedua anaknya di depan halaman rumah Davin, memangku mereka satu persatu. Si kembar menggendong masing-masing tasnya. Lalu sang sopir menurunkan dua koper kecil dari dalam bagasi.“Arthur, Oliver, ingat apa kata Mommy?” tanya Yara sambil berjongkok di hadapan mereka berdua.“Hm!” Keduanya mengangguk serempak.“Kami harus jadi anak baik di rumah Grandpa selama Mommy dan Daddy tidak ada,” ujar Arthur.“Kami juga harus nurut sama Grandpa dan Grandma,” timpal Airell.Yara tersenyum lebar seraya mengacak puncak kepala kedua anaknya bergantian. “Anak-anak Mommy dan Daddy memang pintar-pintar, ya!” pujinya.“Kalau kangen Mommy dan Daddy, telepon saja atau video call. Okay?” Oliver membetulkan kerah kaos Arthur yang sedikit terlipat.“Okay, Daddy!” Si kembar serempak berseru.Di depan rumah, Jingga dan Davin sudah menunggu kedatangan mereka. Oliver menggandeng tangan kedua anaknya di sisi kiri dan kanan. Yara mengikuti mereka di belakang. Sang sopir menggeret koper berisi pa
Oliver tercengang melihat Yara yang tidak bisa diam semenjak mereka tiba di resort yang telah mereka sewa. Wanita itu penuh energi, seolah-olah energinya tidak pernah habis. Perjalanan udara yang cukup jauh tak lantas membuat Yara jetlag.“Oliver, lihat!” seru Yara sambil menunjuk vila-vila kayu yang berdiri di atas air. “Indah banget, ‘kan? Seperti di film-film!” Yara tertawa.Oliver tersenyum, ia menghampiri istrinya yang tampak antusias. Lalu memeluk Yara dari belakang sambil bergumam, “Kamu terlihat bahagia sekali, Sayang. Aku senang melihat kamu bahagia.”“Tentu saja aku bahagia!” celoteh Yara, “datang ke tempat ini bersama orang yang aku cintai adalah impianku!”Kata-kata Yara membuat Oliver mengerjap, lalu tertawa kecil. “Astaga, kata-katamu bisa membuatku melayang, Yara.”Namun, Yara tampak tidak peduli dengan ucapan Oliver barusan. Sebab wanita itu langsung melepaskan diri dari pelukan Oliver dan berlari menuju ruang tengah vila.“Ya ampun, ini luar biasa!” pekik Yara sambil
“Astaga, Oliver... sampai kapan kamu akan mengurungku di vila terus?” gerutu Yara sambil mendorong dada suaminya dengan pelan.Namun, Oliver tetap bergeming. Yara tahu pria itu sedang pura-pura tidur. Yara merotasi matanya dengan malas. Oh, sungguh, sejak kemarin mereka hanya menghabiskan waktu di vila.Oliver tidak membiarkan Yara jauh-jauh darinya. Bahkan, Yara yakin bahwa setiap sudut di vila ini telah menjadi saksi bisu percintaan panas mereka. Yara merasakan tubuhnya remuk, tapi entah mengapa hatinya justru terasa bahagia.“Oliver, aku tahu kamu pura-pura tidur,” rengek Yara dengan manja. “Ayolah... sayang banget kita jauh-jauh ke sini tapi nggak mengeksplore di luar vila.”Dengan mata tetap tertutup, Oliver mengulum senyum. “Kita masih punya banyak waktu untuk mengeksplore sekitar, Sayang,” gumamnya dengan suara berat. “Biarkan aku mengisi energiku dulu beberapa menit lagi. Setelah itu ayo kita keluar.”Mata Yara kembali merotasi dengan malas. “Dari kemarin juga kamu selalu bila
Ada yang berbeda dengan Yara akhir-akhir ini. Dan Oliver merasakannya. Wanita itu seolah enggan berjauhan dengannya setiap kali mereka bersama. Yara selalu bergelayut manja. Merengek jika Oliver tidak menghiraukannya atau fokus dengan ponselnya ketimbang dengan Yara. Well, jangan salah paham. Oliver bukannya tidak senang Yara bersikap seperti itu. Oliver senang sekali. Sungguh. Namun, akibat dari sikap Yara tersebut jadi ada salah satu bagian dari tubuh Oliver yang enggan ‘tertidur’. Yara tidak tahu kalau sikapnya itu membuat Oliver selalu ingin menerkamnya. Jangankan bersikap manja, Yara yang diam saja selalu berhasil membuat Oliver tergoda. Sial. Seperti saat ini, Oliver berusaha menelan saliva dengan susah payah kala memperhatikan istrinya yang tengah tertawa riang di hadapannya. Swim suit yang dikenakan Yara membuat Oliver enggan mengalihkan tatapannya ke arah lain, selain kepada Yara. Wanita itu terlihat seksi dan polos dalam waktu bersamaan. Andai mereka sedang tidak berada
Yara berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil menggigit ujung ibu jari tangannya. Sesekali ia menyugar rambutnya dengan gusar. jantungnya berdebar kencang. Wajahnya tampak pucat.Sekali lagi Yara mengecek kalender pada ponselnya, seolah-olah ingin memastikan sesuatu untuk ke sekian kali.“Sepuluh hari...,” gumam Yara dengan suara bergetar. “Aku benar-benar telat sepuluh hari.”Yara menggeleng cepat. Berusaha menyangkal apa yang tengah dipikirkannya.“Nggak mungkin aku hamil, ‘kan?” gumamnya lagi dengan perasaan cemas. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu menatap pintu kamar mandi yang tertutup dengan tatapan panik. Terdengar suara gemericik dari dalam sana. Oliver sedang mandi.Yara kembali merasakan perutnya bergejolak, hanya sesaat. Membuat Yara merasa semakin panik. Sejak kemarin—saat mereka mendayung di atas canoe, Yara merasa terus menerus mual. Bahkan saat bangun tidur pun gejolak itu kembali menyerang perutnya. Kini, Yara sadar bahwa ia telat datang bulan. Dan entah mengapa ia
Oliver mematung kala ia melihat garis dua pada sebuah alat tes kehamilan yang ditunjukkan Yara.“Sayang...,” gumam Oliver dengan suara serak. “Kamu benar-benar hamil?”Yara tersenyum, mengangguk. “Iya. Alat ini menunjukkan kalau aku memang sedang hamil.”Seketika itu juga, Oliver meraih Yara ke dalam pelukannya. Lalu memutar tubuh Yara sambil tertawa dan berseru, “Kita akan punya anak lagi, Sayang. Kita akan punya anak lagi! Aku bahagia!” tawa Oliver menggema di kamar yang terasa hening itu.Yara ikut tertawa sambil memeluk leher suaminya untuk menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh. “Oliver, kepala aku pusing!” keluh Yara sambil masih tertawa.Oliver menghentikan gerakannya. Lalu ia memangku Yara dan menurunkannya di atas kasur dengan hati-hati. Tanpa banyak kata, dan tanpa benar-benar menindih Yara, Oliver menciumi bibir Yara dengan ciuman yang bertubi-tubi, sebagai tanda kasih sayang darinya dan seolah-olah Oliver tengah melampiaskan perasaan bahagianya.“Aku akan menjagamu da
“Siapa yang kirim bunga untuk Airell?!” seru Oliver dengan galak saat ia mendengar Lisa berbicara dengan kurir yang mengantarkan seikat bunga mawar merah dan menyebut-nyebut nama Airell.Oliver kemudian merebut seikat bunga itu dari tangan Lisa dan membaca pesan yang tertulis dalam secarik kertas.‘Bunga ini memang cantik, tapi kalah cantik sama kamu, Airell. —Ben—‘“Ben? Siapa Ben?” geram Oliver. Berani-beraninya bocah ingusan bernama Ben itu menggombali Airell!“Kenapa, Sayang?” tanya Yara yang baru saja menghampiri suaminya dengan kening berkerut.Oliver menunjukkan bunga itu. “Lihat, Sayang. Ada yang kirim bunga buat Airell. Namanya Ben. Astaga, anak jaman sekarang, pipis aja belum lurus tapi sudah berani menggombali anak orang!”“Hush!” Yara memukul pelan lengan Oliver. “Airell sudah remaja, lho. Kamu lupa?”Justru karena sudah remaja, Oliver jadi semakin protektif pada Airell, begitu pula pada Avery yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.Oliver hendak membuang bunga itu ke te
“Sayang, kita mau nambah anak lagi nggak?”“Nggak!” jawab Yara galak. “Tiga aja cukup.”Oliver terkekeh di seberang sana. “Kali aja mau. Aku siap, kok. Kalau aku pulang nanti aku siap nambah anak lagi.”“Idih! Itu sih maunya kamu.” Yara memutar bola matanya malas, lalu ikut tertawa saat Oliver tertawa di ujung telepon.“Kamu nggak tanya kapan aku pulang, gitu? Atau maksa aku pulang?” Suara Oliver terdengar menggoda.“Memangnya kenapa? Kan sudah jelas kamu akan pulang tiga hari lagi.”Yara bangkit dari kursi kerja suaminya. Walaupun sebenarnya ia rindu pada Oliver setelah LDR hampir satu minggu. Namun Yara terlalu gengsi untuk mengakui dan memaksa Oliver pulang. Ia bahkan sering duduk di kursi kerja Oliver demi mengobati rasa rindunya pada pria itu.“Paksa aku pulang, kek. Aku kangen kamu dan anak-anak. Tapi pekerjaan di sini belum selesai.” Oliver terdengar menghela napas panjang. Saat ini ia sedang berada di luar kota untuk perjalanan kantor.Belum sempat Yara menanggapi ucapan suami
Oliver duduk dengan punggung tegak di atas sunbed, netra hitam di balik kacamata hitamnya memperhatikan Yara yang sedang mengajari Avery berjalan tanpa alas kaki di atas pasir pantai. Deburan ombak sesekali terdengar dari kejauhan, diiringi bunyi sekawanan burung camar yang sesekali melintas di udara. “Sial! Apa yang laki-laki itu lakukan?” desis Oliver pada dirinya sendiri saat melihat seorang lelaki tak dikenal menghampiri Yara dan mengajaknya mengobrol. Tidak bisa dibiarkan. Detik itu juga Oliver berdiri, dan sempat bicara pada si kembar Arthur dan Airell yang tengah bermain pasir di sebelahnya, “Arthur, Airell, tunggu di sini sebentar.” Oliver bergegas menghampiri Yara setelah mendapat anggukkan dari kedua anaknya. “Maaf, ada kepentingan apa Anda dengan istri saya?” tanya Oliver pada lelaki itu tanpa basa-basi sambil menekankan kata ‘istri saya’. Lelaki yang hanya mengenakan celana selutut itu tersenyum canggung dan tampak terintimidasi oleh tatapan tajam Oliver. “Oh, t
“Kak Zio!”“Yeay! Kak Zio datang! Aku kangen Kak Zio!”Arthur dan Airell berlari menghampiri Zio. Zio berjongkok, merentangkan kedua tangan dan memeluk si kembar secara bersamaan.“Aku juga kangen kalian,” ucap Zio sambil tertawa bahagia.Arthur yang pertama kali melepaskan diri dari pelukan itu. “Kak Zio, ayo lihat adik aku. Avery cantik, lho!”Mendengar ucapan Arthur, Airell pun cemberut. “Memangnya aku tidak cantik?”“Cantik, sih. Tapi sedikit.” Arthur tertawa jahil.“Arthur...!” rengek Airell dengan bibir yang semakin memberengut.Zio tersenyum dan menggenggam tangan Airell. “Kamu cantik, Airell. Nggak ada yang ngalahin cantiknya kamu.”Mata Airell seketika berbinar-binar. “Sungguh?”“Hm! Aku serius.” Zio mengangguk. “Kalau begitu ayo kita lihat Avery. Di mana dia sekarang?”Airell tersenyum ceria, ia menarik tangan Zio sambil berkata, “Avery lagi sama Daddy. Ayo!”Melihat interaksi mereka bertiga, Yara pun tersenyum penuh haru. Tak bisa dipungkiri bahwa ia pun merindukan Zio.“Zi
“Oliver, kamu baik-baik saja?” Marshall menelengkan kepala, menatap wajah sepupunya yang terdapat lingkaran hitam di bawah matanya. “Kamu sepertinya kurang tidur.”Oliver mengembuskan napas panjang. Ia duduk dengan tegap di sofa, tepat di hadapan Marshall. “Menurutmu aku bisa tidur nyenyak? Setiap malam Avery selalu bangun dan saat siang dia tidur nyenyak.”Avery William adalah nama untuk anak ke tiga Yara dan Oliver. Nama itu Oliver sendiri yang memberikannya.Mendengar keluhan Oliver, Marshall tertawa puas. “Gimana dengan Yara?”“Aku membiarkan dia tidur kalau malam. Lagian Avery selalu ingin bersamaku. Seolah-olah dia tahu kalau dulu ayahnya nggak menemani kakak-kakak dia waktu masih bayi.” Oliver tersenyum kecil, hatinya berdenyut nyeri kala membayangkan Yara melewati masa-masa mengurus bayi kembar sendirian.“Mengurus satu bayi saja sudah repot, apalagi dua,” timpal Marshall, “kamu tahu maksudku?”Oliver mengembuskan napas. “Aku tahu. Kamu nggak perlu menambah rasa bersalahku kar
Oliver terduduk lemas di kursi yang ada di koridor rumah sakit. Wajahnya pucat pasi. Rambutnya acak-acakan. Dan kedua lengannya tampak merah, dipenuhi bekas gigitan dan cakaran. Oliver melamun. Seakan-akan sibuk dengan dunianya sendiri, hingga Oliver mengabaikan keadaan di sekitarnya.Jingga keluar dari ruangan bersalin. Ia prihatin melihat kondisi Oliver yang tampak terguncang. Lalu menghampirinya.“Oliver, kenapa kamu diam di sini? Yara dan bayi kalian menunggu di dalam,” ucap Jingga dengan lembut.Ya, Yara sudah melahirkan beberapa saat yang lalu ditemani Oliver. Setelah bayinya berhasil dilahirkan dengan selamat dan sempurna, Oliver pun keluar dari ruangan itu dan duduk termenung sendirian.“Oliver...,” panggil Jingga saat Oliver tidak merespons ucapannya.Oliver tetap bergeming. Melamun dengan tangan gemetar.Jingga menghela napas panjang. Ia duduk di samping putranya, lalu menggenggam tangannya yang terasa dingin.Saat itulah Oliver keluar dari lamunannya dan menatap Jingga deng
“Oliver, perutku sakit banget.”Bisikan Yara tersebut berhasil menghentikan Oliver yang sedang berbincang-bincang dengan kliennya. Oliver langsung menoleh pada Yara dan melihat wanita itu tengah mengerutkan kening seperti menahan rasa sakit.“Sayang, perut kamu sakit?”Yara mengangguk. “Sakit banget,” katanya sembari mencengkeram lengan Oliver kuat-kuat.Raut muka Oliver seketika berubah menegang. Tangannya menangkup pipi Yara dan berkata dengan tegas, “Kita ke rumah sakit sekarang!”Tanpa basa-basi, Oliver segera mengangkat Yara ke pangkuan. Sikapnya itu mengundang perhatian dari orang-orang di sekitar mereka. Namun Oliver tampak tidak peduli. Saat itu juga ia membawa Yara keluar dari ballroom dengan ekspresi panik yang gagal ia sembunyikan.“Oliver, jangan terlalu khawatir. Sekarang sakitnya sudah hilang lagi, kok,” kata Yara, berusaha menenangkan Oliver yang kini tengah mengemudi dengan tatapan kalut.“Sayang, mana bisa aku nggak khawatir,” sergah Oliver sembari mengusap wajah deng
“Oliver, sudah kubilang, aku bisa melakukannya sendiri. Astaga....”“Tidak! Selama aku bisa melakukannya untukmu, akan kulakukan!” tegas Oliver, sebelum akhirnya pria itu memangku Yara ke kamar mandi.Yara memutar bola matanya malas, tapi ia tidak menolak lagi. Karena sekali lagi Yara menegaskan, Oliver adalah pria yang tidak menerima penolakan.Sejak awal kehamilan, Oliver selalu memberi perhatian lebih dan memanjakan Yara. Apalagi saat kehamilan Yara sudah membesar seperti sekarang, Oliver bahkan tidak mengizinkan Yara melakukan aktifitas yang sedikit berat. Pria itu lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. memenuhi segala kebutuhan Yara dan melayaninya dengan sepenuh hati.Oliver sering berkata pada Yara bahwa ia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang tidak menemani Yara sewaktu kehamilan si kembar.“Jangan lihat aku. Aku malu,” protes Yara saat Oliver sudah melepaskan seluruh kain yang membungkus tubuhnya.Oliver tersenyum kecil. “Apa yang membuat kamu malu, Sayang?” tanya
“Daddy! Mommy! Ada tamu!”“Shit!” Oliver mengumpat sambil memejamkan matanya sejenak kala mendengar seruan Airell di luar sana.Namun, hal itu tidak menyurutkan gairah Oliver. Ia berusaha menggerakkan dirinya dengan selembut mungkin agar tidak menyakiti istrinya yang kini berada di hadapannya. Posisi wanita itu memunggunginya.“Oliver...,” desah Yara sambil mencengkeram sprai erat-erat. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan desah agar tidak keluar lebih keras lagi. “Airel bilang... ada tamu.” Yara berkata dengan napas terengah-engah. “Itu pasti Zara, dia sudah... datang.”“Ssstt!” Oliver menarik dagu Yara agar menoleh ke arahnya. Lantas dilumatnya bibir sang istri dengan rakus tanpa menghentikan gerakannya. “Jangan hiraukan, Sayang. Fokus saja padaku,” bisik Oliver sesaat setelah ia menjauhkan bibir mereka berdua.“Daddy! Mommy! Ada Aunty Zara!” seru Airell lagi, kali ini diiringi ketukan pintu.