Pria itu berambut cepak dan berpakaian kasual. Dia memegang pena dan buku. Pria ini adalah polisi yang membubarkan sekelompok reporter di depan gedung Grup Scott waktu itu. Dia juga pernah memberi salep kepada Kyra.Polisi itu tersenyum. Dia tampak elegan saat berbicara, "Kasus Alba belum selesai. Aku baru pulang setelah menyelesaikannya.""Apa Alba pernah menjadi suster di Rumah Sakit Umum Kota Arendalle?" tanya Kyra.Polisi itu mengangguk, lalu menjawab, "Di data Alba memang tertulis seperti itu. Tapi, dia sudah mengundurkan diri 3 hari yang lalu."Kyra merasa aneh. Dia menanggapi seraya mengernyit, "Fasilitas di tempat kerjanya begitu bagus. Banyak orang yang ingin bekerja di rumah sakit itu, tapi nggak berhasil. Kenapa dia malah mengundurkan diri?"Polisi menjelaskan, "Dari hasil penyelidikan kami, Alba menderita depresi semasa hidupnya. Kali ini, seharusnya dia datang ke Desa Triron untuk bunuh diri setelah meninggalkan pekerjaannya."Kyra menggeleng dan menimpali, "Aku pernah ber
Irish memandang Mia dan berkata sembari berlinang air mata, "Bibi Mia, bukannya dulu kamu pernah bilang kamu itu ibu angkatku dan Paman Nelson itu ayah angkatku? Sekarang, Ayah Angkat baru dioperasi. Sebagai anak angkat, apa salahnya kalau aku membeli buah dan bunga untuk menjenguk Ayah Angkat?"Sebenarnya, Mia bukan orang yang temperamental. Namun, Irish sudah menggoda Deven dan merusak pernikahan Kyra. Melihat wajah Irish yang menjijikkan, Mia langsung menampar Irish dan menegur, "Menantuku nggak ada di sini! Untuk apa kamu berpura-pura? Kamu itu wanita yang licik, nggak usah berlagak di depanku! Bawa barangmu dan pergi dari sini!"Irish menimpali, "Ibu Angkat, dulu kamu nggak begini. Apa salahku? Kalau aku berbuat salah, kamu harus memberitahuku. Aku dan Deven nggak punya hubungan apa-apa. Dia hanya kakak iparku. Aku juga membujuk Deven untuk menjaga pernikahannya dengan Kyra. Tolong beri aku waktu lagi untuk membujuk Deven. Boleh, nggak?"Irish menutup wajahnya seraya menangis ters
Kyra histeris. Dia menarik pakaian Irish dan menyeretnya ke samping kolam air mancur di rumah sakit. Kulit lembut Irish sontak bergesekan dengan lantai hingga terkelupas."Kyra, kamu gila ya? Lepaskan aku, cepat lepaskan aku!" seru Irish. Dia terus berusaha memberi perlawanan. Ini adalah kali pertama dia menyadari betapa kuatnya Kyra. Dia sama sekali tidak bisa melepaskan diri.Sebelum Irish bisa bereaksi, Kyra telah meraih rambut keritingnya dan mendorongnya ke dalam kolam air mancur. Air keruh di sana terus masuk ke dalam mulut dan hidung Irish.Wanita itu melawan sekuat tenaga, tetapi sia-sia. Ketika Irish hampir sesak, Kyra baru menariknya dan berucap sambil tersenyum sinis, "Menyenangkan, 'kan? Asyik nggak? Kalau nggak tunjukkan kehebatanku, kamu kira aku gampang ditindas, 'kan?"Irish membalas, "Kyra, aku bakal kasih tahu Deven. Aku ...."Kata-kata ini membuat Kyra murka. Begitu mendengar nama Deven, dia teringat bagaimana pria itu menolak minum obat yang dibelinya dan bahkan ber
"Cepat minta maaf!" pinta Deven dengan nada dingin.Kyra langsung tersenyum pahit. Deven ternyata begitu pilih kasih? Segera setelah itu, Kyra bertanya, "Kamu bahkan nggak tanya apa yang terjadi dulu?""Salah, ya salah. Kenapa kamu masih membela diri? Kyra, cepat minta maaf. Aku nggak mau ulangi lagi!" tegas Deven.Pria itu melepas jasnya dan meletakkannya di bahu Irish. Wanita itu menyelinap ke dalam pelukan Deven seraya berucap, "Terima kasih, Deven."Kyra lagi-lagi tersenyum pahit. Suaminya pernah berjanji bahwa pakaiannya tidak akan pernah dikenakan oleh wanita lain selain Kyra. Sebab, Kyra tidak suka mencium aroma wanita lain pada pakaian pria itu. Deven jelas sudah menyetujuinya. Namun ternyata, janji pria hanyalah kebohongan belaka. Kyra sendiri yang terlalu naif. Dia telah memercayai kebohongan itu."Maunya disuruh ibumu? Oke, aku bakal turuti keinginanmu." Usai berkata demikian, Deven mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Mia.Ketika hendak menelepon, Kyra menatapnya seraya
"Aku lagi bicara sama Alex. Kamu nggak perlu sampai nguping, 'kan?" sindir Deven dengan dingin.Setelah dilirik Deven, Alex langsung menggendong Irish dengan enggan. Tentunya Irish juga tidak ingin digendong oleh bawahan seperti Alex. Hanya saja, Deven terus berjalan di depan tanpa berbalik. Irish agak bingung. Kenapa pria ini tampak sangat peduli padanya di depan Kyra, tetapi malah menjaga jarak di belakangnya?Irish dibawa ke kamar pasien, lalu direktur rumah sakit memeriksanya secara pribadi. Selain minum air kotor dan ada memar di lengannya, tidak ada yang serius.Begitu Alex berbalik dan hendak keluar dari kamar, Irish menjadi gelisah dan segera menarik lengan Deven. Dia bertanya, "Deven, kamu nggak percaya padaku?""Merasa bersalah?" tanya Deven. Dia menepis tangan Irish, lalu memberi isyarat kepada Alex. Alex sangat bisa diandalkan. Beberapa menit kemudian, rekaman CCTV sudah didapatkannya. Kini, kebenaran telah terungkap.Suasana di kamar pasien menjadi sangat hening, Deven me
Irish mengerucutkan bibirnya sambil menangis tersedu-sedu.Pandangan tajam Deven tiba-tiba melembut. Dia memandang Irish sambil berbicara, "Budimu akan kubalas, tapi itu bukan berarti kamu bisa sembarangan balas dendam pada orang-orangku. Tindakanmu ini sangat nggak menghargaiku.""Deven, apa maksudmu? Kamu nggak mau balas dendam lagi?" tanya Irish. Dia menatap pria itu dengan kaget. Padahal Deven sangat membenci Kyra, kenapa masih melindunginya seperti ini?Deven bangkit dan melihatnya dari atas, lalu berujar, "Kamu istirahatlah di rumah sakit selama beberapa hari ini. Tenangkan dulu dirimu. Aku akan balas dendamku sendiri. Kalau kamu berani bertindak di luar batas dan melukai orang-orangku lagi, jangan salahkan aku yang kejam. Kyra masih istriku sekarang. Kalau kamu menindasnya, itu sama saja dengan mempermalukanku."Irish sangat marah dan cemburu. Deven bisa-bisanya berkata bahwa Kyra adalah orangnya dan juga istrinya. Padahal sudah dendam kesumat, tetapi Deven masih bersedia melind
Dalam balutan sweter, Kyra yang bersosok kurus berjalan keluar. Dia terlihat sangat pucat. Tadi, Kyra merasa sekujur tubuhnya sangat kesakitan di kamar mandi. Ketika baru saja meminum obat pereda nyeri, Deven mendadak pulang."Kenapa? Belum puas dengan permintaan maafku? Kamu masih mau menindasku?" tanya Kyra. Dia menutupi bagian hatinya yang sakit dan memaksakan diri untuk mengernyit. Wanita itu terlihat lemah dan hancur.Di sisi lain, Deven duduk di sofa. Dia melihat botol obat kecil di tangannya, lalu melihat ke arah Kyra yang mendekatinya. Tatapannya jatuh pada area yang ditutupi wanita itu. Deven tanpa sadar melontarkan kata-kata perhatian, "Ada apa dengan hatimu?"Ini adalah kali pertama Deven menunjukkan perhatian seperti itu kepadanya. Rasa sakit dan amarah yang dirasakan Kyra langsung mereda. Dia memang mudah untuk ditenangkan. Asalkan Deven sedikit peduli dan perhatian, Kyra tidak akan marah lagi padanya."Nona Kyra, kamu harus memberi tahu suamimu tentang kondisi kesehatanmu
Kyra mendengus sinis. Atmosfer di ruangan itu terasa sangat berat dan muram hingga membuat Deven jengkel. Terutama saat dia melihat senyuman di wajah Kyra yang sangat menusuk mata.Deven mengisap rokoknya lagi, lalu mematikan rokok itu dengan jari-jarinya sambil berujar dingin, "Pastikan kamu nggak mengusik dia lagi. Jangan sampai aku bertindak kasar padamu."Kyra terbahak hingga sekujur badannya bergetar seperti baru mendengar sebuah lelucon besar. Jari-jarinya yang mengepal erat ponsel tampak memutih. "Dialah yang mengusikku!" seru Kyra."Dia nggak mungkin mengusikmu tanpa alasan. Kamu kira, dengan statusmu sebagai nona muda dari Keluarga Scott, semua orang harus mengalah dan tunduk padamu?" balas Deven sambil menarik dasinya dengan gusar. Nada bicaranya menunjukkan kesabarannya sudah menipis.Rasa frustrasi perlahan-lahan menyebar dan memenuhi setiap relung hati Kyra. Jelas-jelas Irish yang mulai mengganggunya, tetapi Deven terus membela wanita itu dan berkata bahwa Irish tidak mung
"Pak, istirahat saja dulu. Kamu sudah beberapa hari nggak tidur. Kantong matamu sampai hitam sekali," nasihat Alex yang mencemaskan kesehatan Deven.Deven tidak berbicara. Dia langsung masuk ke lift. Setibanya di hotel, Deven menelepon Alvin. Dia belum menyerah.Setelah mengetahui tujuan Deven menelepon, Alvin berujar dengan nada menyesal, "Pak, bukannya aku nggak ingin membantumu. Kakekku memang keras kepala. Kami sudah membujuknya, tapi dia nggak mau dengar.""Benaran nggak ada yang bisa membujuknya lagi?" tanya Deven yang menggenggam ponsel dengan makin erat."Sebenarnya ada.""Siapa?""Justin, anak Pak Farhan. Anak ini punya hubungan dekat dengan kakek kami. Kakek kami anggap dia cucu. Dia pasti bisa membujuknya."Justin .... Deven tersenyum sinis. Dia juga tahu Justin bisa membantu. Akan tetapi, Deven tidak bisa menerima permintaan Justin yang menginginkan Kyra. Mana mungkin dia menyetujui hal seperti ini!"Pasien yang diterima Pak Chokri diperkenalkan Justin?" tanya Deven."Benar
Dulu, Kyra pasti akan menjelaskan saat Deven salah paham padanya. Deven boleh salah paham terhadap hal lain, tetapi tidak untuk perasaannya kepada Deven.Namun, sekarang tidak masalah lagi. Mereka memang tidak bisa kembali seperti dulu lagi, jadi tidak ada gunanya dijelaskan. Itu hanya buang-buang tenaga."Bagus kalau kamu tahu. Jadi, kita sudah bisa cerai belum?" tanya Kyra. Setelah makan obat pereda nyeri, tubuhnya tidak sakit lagi. Dia bahkan menyunggingkan senyuman indah.Meskipun wajahnya pucat pasi, Kyra tetap terlihat cantik dan elegan. Meskipun kehilangan banyak berat badan, itu sama sekali tidak memengaruhi kecantikan Kyra.Deven memang ingin melihat senyuman Kyra. Namun, setelah melihatnya, dia malah tidak merasa senang. Deven merasa Kyra sangat senang jika melihatnya marah. Wanita ini sampai menunjukkan senyuman yang sudah jarang terlihat.Kyra bisa melihat amarah pada tatapan Deven makin memuncak. Deven berkata, "Kamu sendiri yang keras kepala. Terserah kamu kalau ingin mat
Perkataan ini sontak memadamkan hasrat dalam hati Kyra. Benar, orang tuanya telah meninggal. Bagaimana bisa dia berpelukan dan berciuman dengan Deven di sini?'Kyra, kamu terlalu lemah. Deven cuma merendahkan harga dirinya untuk membujukmu, tapi kamu langsung terjebak? Memalukan!' batin Kyra.Sorot mata Kyra seketika menjadi dingin dan penuh ejekan. Namun, Deven masih belum menyadari apa pun. Dengan mata terpejam, dia masih ingin mencium Kyra. Ciuman tadi membuatnya sungguh tak terlupakan.Deven ingin melanjutkan, tetapi Kyra sontak mendorongnya. Sebelum Deven bereaksi, Kyra sudah melayangkan tamparan ke wajahnya. Pipinya terasa perih, membuat Deven termangu.Ketika menatap Kyra kembali, dia melihat tatapan penuh ejekan itu. Kyra mencelanya, "Deven, kalau kamu butuh wanita, cari saja Irish.""Dia bukan istriku. Ngapain aku cari dia?" balas Deven."Waktu kalian melakukan pemotretan pernikahan, kenapa kamu nggak berpikir begitu?" sindir Kyra."Waktu itu, aku ...." Deven ingin mengatakan
"Kalau kita cerai, aku langsung terima pengobatan!" pekik Kyra.Saking kesalnya, Deven sampai tertawa mendengar ucapan Kyra. Di ingatan Deven, Kyra paling takut merasa sakit.Namun, sekarang Kyra begitu tersiksa karena rasa sakitnya. Keringat bercucuran di dahi, wajahnya pucat pasi.Kyra masih terus melakukan perlawanan. Wanita yang dulunya mengatakan akan menemaninya, kini malah ingin meninggalkannya.Hati Deven diliputi kepedihan. Dia benar-benar tersiksa. Pada akhirnya, dengan ekspresi suram, dia memasukkan semua obat itu ke mulut Kyra.Saat berikutnya, Deven meraih pinggang Kyra dan merangkulnya dengan erat. Tubuh Kyra menempel dengan dada kekar Deven. Tidak ada sedikit pun celah di antara keduanya.Kyra ingin mendorong, tetapi tidak punya tenaga sebesar itu. Tenaganya sudah habis, apalagi dia mogok makan belakangan ini. Bagaimana mungkin dia sanggup mendorong Deven?Bibir Deven yang panas sontak mencium bibir Kyra yang kering dan pucat. Kyra ingin meninju Deven, tetapi Deven langs
Ini sudah pasti persekongkolan. Justin dan Kyra saling mencintai, jadi Kyra ingin bercerai. Tidak ada yang namanya kebetulan di dunia ini.Kyra tidak memahami maksud ucapan Deven. Persekongkolan apa yang dimaksudnya? Dia sampai mengira Deven ingin memfitnah Justin, tetapi ini hal yang wajar."Benar, kami memang sekongkol!" Kyra sama sekali tidak berniat untuk menjelaskan.Amarah pada tatapan Deven menjadi makin kuat. "Kamu nggak bisa hidup lama lagi. Apa perceraian begitu penting bagimu? Kamu nggak bisa berhenti berdebat dan fokus pada kesembuhanmu dulu?""Daripada berobat atau hidup, aku lebih ingin terbebas darimu. Masa aku harus mati dengan status masih menjadi istrimu? Aku nggak mungkin bisa tenang di alam sana! Sebelum mati, aku harus memastikan kita nggak punya hubungan apa-apa lagi!" pekik Kyra dengan mata berkaca-kaca sambil terisak-isak."Ternyata menjadi istriku lebih tersiksa daripada mati?""Benar! Yang kamu katakan benar!""Kyra, kamu rasa aku nggak bisa menemukan wanita l
Ucapan ini membuat Kyra termangu sesaat. Nada bicara Deven persis saat dirinya dipaksa makan obat penguat janin. Apakah ini yang dinamakan trauma?Sama seperti sebelumnya, Deven memaksanya makan obat dengan tegas. Pria ini tidak pernah menanyakan pendapatnya dan selalu memaksakan kehendaknya.Kenapa Deven selalu bersikap angkuh dan merasa diri sendiri benar? Deven memang tidak pernah berubah. Egois dan sombong.Kyra mengernyit, mencengkeram perut atasnya. Dia mulai mencium bau amis darah di mulutnya. Sementara itu, Deven menjulurkan tangannya ke hadapan Kyra. "Makan."Kyra bersikeras menelan darahnya. Dia menepis tangan Deven dengan kesal. Obat pereda nyeri pun berserakan. Ada yang jatuh ke dekat kaki Deven, ada yang masuk ke tong sampah.Kyra tidak ingin seperti ini. Bahkan ketika dirinya sudah mau mati, dia masih tidak berkesempatan untuk membuat keputusan. Bukankah hidupnya sangat menyedihkan? Kyra ingin menjadi dirinya sendiri.Pada akhirnya, Deven kehilangan kesabarannya. Dia suda
Kyra benar-benar bahagia. Tidak ada sedikit pun kesedihan dalam hatinya.Tiba-tiba, pintu bangsal terbuka. Angin dingin berembus masuk, membuat Kyra yang berbaring di lantai merasa makin dingin hingga tubuhnya gemetaran.Saat berikutnya, Kyra mendengar suara pintu ditutup dan suara langkah kaki yang terburu-buru. Dia menunduk, lalu melihat sepasang sepatu kulit yang dibelinya sebelum perang dingin dengan Deven.Dulu, Kyra sangat senang melihat Deven memakai sepatu kulit ini. Namun, sekarang dia buru-buru mengalihkan pandangan karena tidak ingin melihatnya.Organ dalamnya terasa makin sakit, seperti ada kapak yang membelah seluruh organ dalamnya. Rasa sakit ini sungguh menusuk.Kyra tidak bisa menahan kesakitan ini. Dia menggigit bibirnya sambil menangis sesenggukan. Deven awalnya marah, tetapi ketika melihat Kyra begitu kasihan, amarahnya langsung sirna dan digantikan dengan rasa iba.Deven berjongkok untuk menggendong Kyra ke ranjang. Kesehatan Kyra sangat buruk. Kyra tidak seharusnya
Sudah gila?Kyra menggigit bibirnya yang kering dan pecah-pecah hingga meneteskan darah. Setelah mengalami semua ini, apa tidak sepantasnya Kyra kehilangan kewarasannya? Dia meringkukkan tubuhnya dan memeluk kedua kakinya dengan erat. Sekujur tubuhnya gemetaran hebat.Perawat itu terkejut melihat situasi ini. Setelah menjadi perawat selama bertahun-tahun, baru kali ini dia melihat pasien yang begitu keras kepala. Karena takut akan terjadi kecelakaan medis, perawat itu buru-buru berlari ke luar ruangan untuk mencari Deven.Pada saat ini, Deven sedang bersandar di koridor. Alex sedang melaporkan sesuatu padanya, "Pak Deven, tubuh Bu Kyra sudah sangat parah sekarang. Kalau masih terus mogok makan, kondisinya akan semakin gawat."Deven mengerutkan alisnya dalam-dalam. Awalnya, dia mengira Kyra hanya bercanda karena ingin membuatnya kesal. Tak disangka, Kyra benar-benar serius. Saat Deven baru hendak mengatakan sesuatu, tiba-tiba terdengar suara perawat."Pak Deven, gawat!" teriak perawat i
Kyra mengulurkan tangannya karena kesakitan. Ternyata rasa sakit yang ditimbulkan karena penyakit kanker begitu menyiksa. Mana mungkin semudah itu tidak mau minum obat? Baru permulaan saja Kyra sudah tidak sanggup bertahan!Kyra ingin minum obat untuk meredakan rasa sakit di tubuhnya. Perawat itu menyerahkan obat pereda nyeri ke telapak tangan Kyra yang dingin. "Ayo cepat diminum."Dalam benak Kyra tiba-tiba teringat dengan ucapan Deven tadi. "Kyra, apa lagi ulahmu? Apa ini saat yang tepat untuk mengambek?""Kamu punya dua pilihan. Pertama, jalani pengobatanmu dan tetap menjadi istriku. Kedua, biarkan dirimu hancur begitu saja, mati sebagai istriku dan terpisah selamanya dari pria murahan yang ada di hatimu."Di depan mata Kyra, kembali terbayang saat Nelson terjatuh dari balkon. Dia terhempas ke tanah dan meninggal dengan mata terbuka. Dengan darah yang dimuntahkannya, Nelson menuliskan kode brankas ruang kerja di tanah. Ternyata kodenya adalah tanggal lahir Kyra.Tak lama kemudian, K