Baraka manggut-manggut, lalu bergegas mengobati mereka yang terkapar menunggu ajal. Namun dalam hati Baraka segera berkata, "Setelah kuperhatikan, ternyata racun ini bukan untuk mematikan, namun untuk melukai saja. Sebenarnya tanpa ku obati, mereka dapat sembuh walau agak lama. Kulihat warna biru di wajah beberapa orang sudah tampak memudar. Agaknya orang yang memiliki racun ini bermaksud melukai saja, tidak punya niat mematikan mereka. Hmm... kenapa begitu? Apakah karena Tandu Terbang hanya punya racun seperti itu, dan tak punya racun jenis lain yang mematikan lawannya?"
Sedikit demi sedikit mereka mulai sadar, tapi rambut mereka sudah telanjur banyak yang berguguran. Bahkan kepala mereka ada yang sudah menjadi botak di bagian tengahnya. Keganasan racun itu hanya berakibat merontokkan rambut dan melemahkan peredaran darah, termasuk jantung dan paru-paru mereka. Tapi tidak sampai merusak separah dugaan semula.
"Kasihan, kepalamu sampai botak selicin ini, Teman," kata B
"Aku hanya pernah dengar julukan itu, dan pernah dengar cerita kehebatan si Tandu Terbang dari mulut orang-orang di kedai. Tapi aku belum pernah jumpa dengan si Tandu Terbang sendiri. Kusarankan, hati-hatilah jika jumpa dengannya. Karena Tandu Terbang orang berilmu tinggi. Konon ia muridnya Pendita Arak Merah berasal dari Tibet."Kembali sang Pendekar Kera Sakti terperanjat, ia pernah mendengar nama Pendita Arak Merah dari Tibet, sehingga ia pun berkata, "Kalau begitu, Tandu Terbang adalah saudara seperguruan dengan Sri Maharatu dari Pulau Dadap!""Mungkin saja! Aku pernah dengar nama Sri Maharatu, tapi tidak tahu dari mana asal-usulnya dan siapa gurunya."Baraka hanya manggut-manggut. Ia tak mau katakan bahwa Sri Maharatu, yang kondang sebagai murid Pendita Arak Merah dari Tibet itu sudah mati di tangannya dengan jurus 'Yudha'. Baraka sengaja sembunyikan cerita itu agar tidak berkesan sombong di hadapan siapa saja.Setelah berpisah dengan rombongan Batu
"O, jadi selama lima tahun kau menghilang karena kau belajar lagi perdalam ilmu silatmu! Hmm...! Kau tak tahu kalau aku pun perdalam ilmu silatku, sehingga tak mudah merobohkan orang lain!"Baraka geleng-geleng kepala. "Dirobohkan orang lain, diganti merobohkan orang lain. Padahal artinya jauh berbeda!" pikirnya sambil santai setelah menggaruk-garuk kepala.Baraka ada di atas pohon, duduk di sebuah dahan kekar dalam satu sisi sungai yang sama dengan mereka, ia sengaja tidak ikut campur, karena ingin melihat seberapa tinggi ilmu perempuan yang tadi dipanggil Dungu Dipo dengan nama julukan Hantu Tari itu.Perempuan itu perdengarkan suaranya, "Sekalipun tubuhku sudah kembali mulus berkat ramuan dari guruku, tapi dendamku masih belum mulus dan tetap menuntut pembalasan padamu. Tak peduli kau sekarang menjadi orang penting di negeri Muara Singa, persoalan kita tetap persoalan pribadi!""Kulayani apa maumu. Tapi jangan salahkan diriku jika nyawamu tercabut oleh
"Persetan dengan permintaan maafmu!" geram Hantu Tari dengan suara berat. "Kau berhutang satu jurus padaku! Akan kubalas kalau luka ini telah sembuh! Tunggu, tak akan lama kita pasti bertemu dan kau harus bayar hutangmu ini!"Weess...!Setelah bicara begitu, Hantu Tari larikan diri dengan menahan luka di dadanya. Pendekar Kera Sakti tak sempat menahan gerakan Hantu Tari. Tapi pikirnya, memang tak ada perlunya menahan Hantu Tari, sebab ia tak punya persoalan dengan perempuan itu. Namun kepada Dungu Dipo, ia punya persoalan sendiri, yaitu sebagai calon tamu di tempat Dungu Dipo mengabdikan dirinya. Jika Baraka lakukan penyelamatan terhadap Dungu Dipo, hal itu disebabkan karena ia ingin menjalin persahabatan dengan pihak Dungu Dipo, terutama dengan ratu gustinya. Sebab dengan menjalin persahabatan itulah, Baraka berharap dapat mengetahui rahasia pedang pusaka yang konon disimpan oleh gadis gila di sebuah gua di Bukit Tungkai.Baraka membawa Dungu Dipo ke tempat ker
"Apakah Palupi menjadi gila juga karena pukulan beracunnya Hantu Tari!" pikir Baraka kala ia bersembunyi di balik pohon besar berbatang pipih, menyerupai bilik-bilik dinding."Tak ada salahnya jika ia kulumpuhkan dulu walaupun terluka, tapi harus segera kutolong agar nyawanya tak terlanjur melayang."Selagi Baraka berpikir, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan seorang wanita."Aaaah...!"Baraka tersentak kaget. "Itu suara Palupi! Ya, pasti Palupi!" Dan Baraka pun segera sentakkan kaki, pergunakan ilmu peringan tubuhnya untuk melesat dengan cepat melebihi anak panah.Zlaaap...! Dalam sekejap ia sudah berada di tempat yang datar, di sana ia melihat Palupi sedang dikejar-kejar Dungu Dipo. Bahkan sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi dilepaskan oleh Dungu Dipo ke arah punggung Palupi yang berlari-lari ketakutan itu.Claap...! Sinar merah dari tangan kiri Dungu Dipo melesat cepat menghantam Palupi. Tapi Pendekar Kera Sakti bergerak lebih cepat la
Di masa perang dunia ke-2, Kekaisaran Matahari adalah adalah sebuah kekaisaran yang memiliki kekuasaan yang sangat besar dan disegani. Kekuasaannya hampir melingkupi seluruh Asia. Termasuk Jawa Dwipa.DI SUATU MALAM.“Aku pemenangnya.. Malagha akan menjadi istriku!” kata Kazikage dengan lantang hingga membahana ditempat itu. Wajah-wajah ditempat itu tampak berubah pucat, bahkan wajah Malagha lebih pucat lagi. Kazikage seakan tak memperdulikan hal itu, lalu berbalik kearah sebaliknya dan menatap semua orang yang ada ditempat itu.“Atau masih ada yang ingin melawanku, silahkan maju!” bentak Kazikage dengan keras kearah semua orang yang ada ditempat itu, tapi tak ada seorangpun yang terlihat mau menanggapi tantangan Kazikage. Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari tersebut.“Selain Pangeran Anggoro Wardana, kalian semua tak pantas untuk mendapatkan hormatku. Kalian semua adalah pesakitan dari Asia!” kata Kazikage dengan penuh kesombongan.Mendengar kata-kata pesakitan dari Asia yang dilontark
Dengan gerakan cepat, Kazikage kali ini berusaha menangkap ujung Suling mustika itu, tapi lagi-lagi ia kecela, Suling mustika itu kembali di tarik oleh Baraka dengan cepat dan seketika itu pula Suling mustika itu kembali berada tepat di depan kedua mata Kazikage. Begitu seterusnya yang terjadi, berkali-kali Kazikage berusaha menepis atau menangkap Suling mustika didepan matanya itu, tapi selalu tidak terhasil.Hal ini benar-benar sangat mengejutkan, Kazikage yang sangat membanggakan kecepatannya dibuat tidak berdaya didepan seorang pemuda yang masih sangat belia. Beberapa orang tak tahan untuk menahan senyum mereka melihat Tuan Muda dari Kekaisaran Matahari telah berhasil dipermainkan didepan banyak orang.Kazikage bukannya tidak menyadari akan rasa malunya saat ini. Maka tak ingin terjebak lebih lama. Kazikage melesat kearah sebelah kanan untuk melancarkan serangannya, tapi lagi-lagi langkah Kazikage terhenti saat Suling mustika lawannya kembali berada tepat didepan kedua matanya. Rup
Semakin Baraka menggerakkan tangannya, semakin cepat pergerakan Gelang Brahmananda-nya. Kazikage yang awalnya masih sanggup menangkisnya, lama kelamaan semakin kewalahan. Apa yang dipetunjukkan Baraka, benar-benar mengejutkan semua orang.“Ini sihir...” ucap beberapa orang melihat apa yang dilakukan Baraka. Semua terdengar menggunjing.BUGH!Semua kehirukan itu terhenti saat mereka melihat, tubuh Kazikage terkena gebukan Gelang Brahmananda lawannya.BUGH! BUGH! BUGH!Berikutnya, tubuh Kazikage benar-benar menjadi sasaran empuk serangan Gelang Brahmananda Baraka, begitu kerasnya sampai-sampai ketiga pedang katana yang ada di Kazikage terlepas jatuh ke tanah.BUGH! BUGH! BUGH! BUGH! BUGH!Selanjutnya tubuh Kazikage benar-benar menjadi bulan-bulanan Baraka, hingga akhirnya tubuh Kazikage tak sanggup lagi bertahan dan tersungkur jatuh ditempatnya.Wungngng! Wungngng..! Wungngng...!Begitu Baraka menghentakkan kedua tangannya, ke-10 ‘Gelang Brahmananda’ kembali kearahnya dan masuk kembali k
“Bagaimana bisa?”“Apa yang sebenarnya terjadi?”“Ini gila! Apa yang terjadi?!”Beragam komentar bermunculan diantara penonton yang masih terperangkap dalam rasa kagetnya.Sementara itu, Baraka dengan tenang terus berjalan kearah Kazikage, seakan-akan tidak terjadi apa-apa dalam beberapa waktu yang lalu.“Kau bilang. Kecepatan adalah seni tertinggi dalam ilmu beladiri. Huh! Pengetahuanmu terlalu dangkal. Di atas langit masih ada langit, diatas kecepatan masih ada yang lebih tinggi, yaitu insting dalam pertarungan” jelas Baraka hingga membuat wajah Kazikage berubah.“Insting dalam pertarungan...” Kazikage sampai harus mengulangi apa yang baru saja Baraka ucapkan.“Lebih baik kau menyerah, kau tidak akan menang” ucap Baraka dengan sinis.Kazikage menggeram penuh kemarahan, harga dirinya benar-benar telah dipermalukan oleh seorang pemuda yang menurutnya tadi, sangat mudah untuk dikalahkan. Kazikage bangkit kembali berdiri dengan wajah beringasnya.“Sudah kubilang, hari ini. Kalau tidak ka
"Apakah Palupi menjadi gila juga karena pukulan beracunnya Hantu Tari!" pikir Baraka kala ia bersembunyi di balik pohon besar berbatang pipih, menyerupai bilik-bilik dinding."Tak ada salahnya jika ia kulumpuhkan dulu walaupun terluka, tapi harus segera kutolong agar nyawanya tak terlanjur melayang."Selagi Baraka berpikir, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan seorang wanita."Aaaah...!"Baraka tersentak kaget. "Itu suara Palupi! Ya, pasti Palupi!" Dan Baraka pun segera sentakkan kaki, pergunakan ilmu peringan tubuhnya untuk melesat dengan cepat melebihi anak panah.Zlaaap...! Dalam sekejap ia sudah berada di tempat yang datar, di sana ia melihat Palupi sedang dikejar-kejar Dungu Dipo. Bahkan sebuah pukulan bertenaga dalam tinggi dilepaskan oleh Dungu Dipo ke arah punggung Palupi yang berlari-lari ketakutan itu.Claap...! Sinar merah dari tangan kiri Dungu Dipo melesat cepat menghantam Palupi. Tapi Pendekar Kera Sakti bergerak lebih cepat la
"Persetan dengan permintaan maafmu!" geram Hantu Tari dengan suara berat. "Kau berhutang satu jurus padaku! Akan kubalas kalau luka ini telah sembuh! Tunggu, tak akan lama kita pasti bertemu dan kau harus bayar hutangmu ini!"Weess...!Setelah bicara begitu, Hantu Tari larikan diri dengan menahan luka di dadanya. Pendekar Kera Sakti tak sempat menahan gerakan Hantu Tari. Tapi pikirnya, memang tak ada perlunya menahan Hantu Tari, sebab ia tak punya persoalan dengan perempuan itu. Namun kepada Dungu Dipo, ia punya persoalan sendiri, yaitu sebagai calon tamu di tempat Dungu Dipo mengabdikan dirinya. Jika Baraka lakukan penyelamatan terhadap Dungu Dipo, hal itu disebabkan karena ia ingin menjalin persahabatan dengan pihak Dungu Dipo, terutama dengan ratu gustinya. Sebab dengan menjalin persahabatan itulah, Baraka berharap dapat mengetahui rahasia pedang pusaka yang konon disimpan oleh gadis gila di sebuah gua di Bukit Tungkai.Baraka membawa Dungu Dipo ke tempat ker
"O, jadi selama lima tahun kau menghilang karena kau belajar lagi perdalam ilmu silatmu! Hmm...! Kau tak tahu kalau aku pun perdalam ilmu silatku, sehingga tak mudah merobohkan orang lain!"Baraka geleng-geleng kepala. "Dirobohkan orang lain, diganti merobohkan orang lain. Padahal artinya jauh berbeda!" pikirnya sambil santai setelah menggaruk-garuk kepala.Baraka ada di atas pohon, duduk di sebuah dahan kekar dalam satu sisi sungai yang sama dengan mereka, ia sengaja tidak ikut campur, karena ingin melihat seberapa tinggi ilmu perempuan yang tadi dipanggil Dungu Dipo dengan nama julukan Hantu Tari itu.Perempuan itu perdengarkan suaranya, "Sekalipun tubuhku sudah kembali mulus berkat ramuan dari guruku, tapi dendamku masih belum mulus dan tetap menuntut pembalasan padamu. Tak peduli kau sekarang menjadi orang penting di negeri Muara Singa, persoalan kita tetap persoalan pribadi!""Kulayani apa maumu. Tapi jangan salahkan diriku jika nyawamu tercabut oleh
"Aku hanya pernah dengar julukan itu, dan pernah dengar cerita kehebatan si Tandu Terbang dari mulut orang-orang di kedai. Tapi aku belum pernah jumpa dengan si Tandu Terbang sendiri. Kusarankan, hati-hatilah jika jumpa dengannya. Karena Tandu Terbang orang berilmu tinggi. Konon ia muridnya Pendita Arak Merah berasal dari Tibet."Kembali sang Pendekar Kera Sakti terperanjat, ia pernah mendengar nama Pendita Arak Merah dari Tibet, sehingga ia pun berkata, "Kalau begitu, Tandu Terbang adalah saudara seperguruan dengan Sri Maharatu dari Pulau Dadap!""Mungkin saja! Aku pernah dengar nama Sri Maharatu, tapi tidak tahu dari mana asal-usulnya dan siapa gurunya."Baraka hanya manggut-manggut. Ia tak mau katakan bahwa Sri Maharatu, yang kondang sebagai murid Pendita Arak Merah dari Tibet itu sudah mati di tangannya dengan jurus 'Yudha'. Baraka sengaja sembunyikan cerita itu agar tidak berkesan sombong di hadapan siapa saja.Setelah berpisah dengan rombongan Batu
Baraka manggut-manggut, lalu bergegas mengobati mereka yang terkapar menunggu ajal. Namun dalam hati Baraka segera berkata, "Setelah kuperhatikan, ternyata racun ini bukan untuk mematikan, namun untuk melukai saja. Sebenarnya tanpa ku obati, mereka dapat sembuh walau agak lama. Kulihat warna biru di wajah beberapa orang sudah tampak memudar. Agaknya orang yang memiliki racun ini bermaksud melukai saja, tidak punya niat mematikan mereka. Hmm... kenapa begitu? Apakah karena Tandu Terbang hanya punya racun seperti itu, dan tak punya racun jenis lain yang mematikan lawannya?"Sedikit demi sedikit mereka mulai sadar, tapi rambut mereka sudah telanjur banyak yang berguguran. Bahkan kepala mereka ada yang sudah menjadi botak di bagian tengahnya. Keganasan racun itu hanya berakibat merontokkan rambut dan melemahkan peredaran darah, termasuk jantung dan paru-paru mereka. Tapi tidak sampai merusak separah dugaan semula."Kasihan, kepalamu sampai botak selicin ini, Teman," kata B
Ternyata Batu Sampang sudah cabut pedangnya pada saat bersalto tadi. Pedang itu ditebaskan untuk membelah kepala Pendekar Kera Sakti. Tapi dengan cepat Baraka silangkan Suling Naga Krishnanya ke atas kepala dengan disangga dua tangannya. Akibatnya pedang itu menghantam pedang mustika yang seperti menghantam besi baja."Pedang itu punya isi juga rupanya," pikir Baraka. "Pedang itu tidak rusak atau rompal seperti pedang lainnya. Pedang itu masih utuh dan tubuhku tadi seperti disiram air panas dalam sekejap ketika suling mustika beradu dengan pedangnya. Hmm...! Agaknya ia seorang prajurit negeri Muara Singa yang diandalkan untuk lakukan penyerangan terhadap lawan siapa saja. Aku tak boleh lengah sedikit pun. Ia mempunyai jurus-jurus yang dibarengi oleh gerakan sangat cepat. Hampir saja aku tadi mati terbelah oleh pedangnya!""Hiaaaah...!" Batu Sampang tampak buas. Ia menyerang lagi dengan satu lompatan pendek, namun pedangnya segera berkelebat membabat sekujur tubuh Barak
"Agaknya mereka orang-orang Muara Singa," pikir Baraka sambil memperhatikan semua orang di situ menggenggam senjata dalam keadaan lemas. Mereka menggeliat-geliat pelan bagaikan ular keberatan badan. Mata mereka ada yang terpejam, ada yang terbuka sayu. Erangan mereka sangat lirih, bagaikan sedang menunggu ajal tiba."Jika hanya dengan pukulan, tak mungkin mereka mempunyai ciri luka yang sama: wajah membiru, mulut berbusa darah, rambut mereka sebagian rontok. Pasti mereka habis lakukan pertarungan dan terkena racun. Entah racun apa dan bagaimana cara kerjanya," pikir Pendekar Kera Sakti setelah menggaruk kepalanya. "Tapi agaknya aku belum terlambat. Masih bisa sembuhkan mereka dari racun itu."Maka, Baraka pun mengobati mereka dengan hawa ‘Kristal Bening’ miliknya kepada orang yang bertubuh gemuk dan matanya sedang terbeliak-beliak bagaikan sekarat. Orang muda yang bertubuh agak gemuk itu dari mulutnya sempat keluar suara lirih, "Tandu.... Terbang...."
Claaap...!Dungu Dipo lepaskan pukulan pelumpuh urat berwarna kuning dari telapak tangannya. Sasarannya ke arah Palupi. Tapi selarik sinar kuning itu dihadang oleh Baraka dengan suling mustikanya.Traaap...! Sinar kuning itu membentur suling mustika, dan membias balik ke arah penyerangnya. Dungu Dipo kaget dan segera lompat bersalto ke belakang. Sinar kuning itu menghantam pohon.Duur...! Pohon berguncang, daunnya banyak yang gugur, tapi tidak mengalami perubahan apa-apa. Dungu Dipo segera berkelebat dalam satu lompatan ke arah Baraka. Lalu dari mulutnya disemburkan napas yang menghentak kuat.Wuuuss...!Hawa panas yang mampu melelehkan besi mendekati Baraka. Dengan cepat Pendekar Kera Sakti kibaskan Suling Naga Krishnanya ke depan.Wuuuss...!Angin deras bagaikan badai topang terhempas dari kibasan Suling Naga Krishna itu, membuat angin panas menyebar balik ke arah Dungu Dipo."Hiaaah...!"Dungu Dipo sentakkan kedua tan
"Dungu Dipo! Oh, syukurlah kau lekas datang membantu kami!" ujar Marjan.Baraka membatin, "Siapa lagi orang yang dipanggil Dungu Dipo ini? Melihat keakraban mereka, agaknya Dungu Dipo ini juga orang Muara Singa. Tapi kelihatannya ia punya ilmu lebih tinggi dari Kisworo dan Marjan! Aku harus lebih waspada lagi dengan orang tua itu!"Dungu Dipo memang pantas dikatakan sebagai orang tua, karena rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban walau belum begitu banyak. Usianya sekitar lima puluh tahunan. Tubuhnya agak kurus, tulang pipinya bertonjolan, matanya cekung, tapi mempunyai sorot pandangan mata lebih tajam lagi dari Marjan dan Kisworo. Ia tidak berkumis, namun berjenggot tipis. Rambutnya panjang, diikat dengan kain warna merah. Di pinggangnya terselip senjata golok panjang bergagang hitam melengkung.Orang yang beraut muka antara seram dan lucu itu mendekati Baraka dari arah samping, sehingga ia masih bisa berpaling ke arah Marjan dan Kisworo, namun juga bisa memandan