Huànyǐng dan Tiānyin saling berpandangan, seakan membaca pikiran satu sama lain tanpa perlu kata-kata. Sementara itu, Ling Qingyu masih bersembunyi di belakang Huànyǐng, menggenggam erat lengan pemuda itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar. Namun, cengkeramannya segera terlepas saat tatapan dingin dan tajam dari Yuè Tiānyin menyapunya.
"Yuè Èr Gōngzǐ..." gumamnya lirih, menelan ludah sebelum dengan canggung bergegas berdiri di sisi Huànyǐng. "Chénxī, kita masuk saja," ujar Huànyǐng tanpa ragu. Tiānyin mengangguk dan melangkah lebih dulu tanpa banyak bicara. "Huànyǐng Xiōng, bagaimana jika di dalam sana ada Xī Hún Yāo?" tanya Ling Qingyu dengan suara sedikit bergetar. Ia bergidik ngeri dan kembali merapatkan dirinya pada Huànyǐng. "Mana mungkin! Bukankah kau sendiri mendengar ucapan para pencari kayu bakar tadi? Mereka hanya menyebutkan batu yang dipuja penduduk sekitar kuil," sahut Huànyǐng santai, menoleh sekilas ke araSuara gemuruh menggelegar di dalam kuil, menggema di antara pilar-pilar batu yang telah berlumut. Debu halus beterbangan dari langit-langit, berputar dalam bias cahaya senja yang masuk dari celah dinding. Batu besar yang terletak di altar pemujaan perlahan bergerak, seakan menggeliat bangun dari tidur panjangnya. Retakan-retakan halus mulai muncul di permukaannya."Batu itu bergerak!" seru para murid yunior Akademi Bìxiāo serempak. Suara mereka penuh ketakutan. Beberapa mundur dengan tergesa-gesa, sementara yang lain hampir tersandung oleh batu-batu kecil di lantai kuil. Panik melanda mereka, membuat api unggun yang baru saja dinyalakan hampir padam tertiup angin yang berhembus masuk dari pintu kuil yang terbuka."Yuè Èr Gōngzǐ, bagaimana ini? Bagaimana dengan Huànyǐng Xiōng?" Ling Qingyu bertanya dengan suara bergetar. Matanya memantulkan kecemasan saat ia menoleh ke arah pemuda berjubah putih yang berdiri di hadapannya."Lindungi jiwa
Tiānyin dan Huànyǐng menatap batu yang kini terus bergerak, seakan memiliki nyawa sendiri. Ia bergetar, menggeram dalam diam, merasakan kehadiran jiwa-jiwa di sekitarnya. "Hampir malam," ucap Tiānyin, pemuda berjubah putih itu mendongakkan kepala, menatap langit yang mulai dipenuhi semburat jingga. Senja perlahan merambat, membawa serta kegelapan yang akan segera menyelimuti. Dalam kondisi seperti ini, situasi bisa menjadi semakin sulit, terutama bagi murid-murid yunior yang belum berpengalaman menghadapi bahaya semacam ini. "Kalian! Nyalakan sinyal!" Huànyǐng berseru kepada para murid Akademi Bìxiāo. Suaranya tajam menembus udara dingin, "Tetapi, Qianbei… tidak ada senior kami di sekitar tempat ini," sahut seorang murid dengan ragu. "Tidak masalah! Di kota Yin Hen Chéng ada kultivator dari Sekte Musik Abadi, Pemecah Langit, dan Aliran Roh Suci. Mereka pasti memahami maksud sinyal kalian," Huànyǐng menjawab
Héxié Zhìzūn masih menatap pemandangan di depannya. Meski langit mulai gelap, cahaya lentera yang dibawa beberapa kultivator menerangi sekitar bukit. Tarian Kipas Huànyǐng tampak begitu jelas, memukau setiap pasang mata yang menyaksikan. Gerakannya anggun, mengalir seperti ombak yang menari di bawah bulan. Setiap ayunan kipasnya seakan melukiskan jejak cahaya di udara, sementara denting guqin dari Tiānyin mengiringi dengan melodi yang menggetarkan jiwa. Siluet mereka berdua berpadu dalam harmoni, bak lukisan para dewa yang hidup dalam kegelapan malam.“Ling Xiōng! Saatnya menyegel roh!” suara Yuè Lǜ Shén Jūn memecah keheningan, menyerukan pada Ling Qingyu.Pria itu, meski sempat terpukau oleh keindahan tarian Huànyǐng dan Tiānyin, tetap waspada terhadap situasi di sekelilingnya. Tanpa perlu penjelasan, dia memahami urgensi keadaan. Suasana di sekitar semakin dipenuhi energi spiritual yang liar, pertanda roh yang mereka hadapi masih belum sepenuhnya dikendalikan.
"Chénxī! Jangan tarik lenganku!" Huànyǐng masih memprotes hingga mereka berada di dalam kamar.Tiānyin tidak menanggapinya, diam tanpa sepatah kata. Gerakannya tetap tenang saat ia mendudukkan Huànyǐng di atas tempat tidur, lalu tanpa ragu, menarik lengan hanfu hitam pemuda itu untuk memeriksa nadinya."Chénxī, aku baik-baik saja," ucap Huànyǐng lirih.Namun, kini ia mengerti alasan Tiānyin membawanya ke kamar tanpa membuang waktu. Pemuda tanpa ekspresi itu rupanya mengkhawatirkannya."Bukankah Qingyu Xiōng telah melindungi jiwaku dengan mantra Wú Gòu Hù Hún Jué?" Huànyǐng kembali berucap, suaranya terdengar samar.Tatapannya jatuh pada pemuda bermata biru di hadapannya, yang tengah menyalurkan energi murninya tanpa menanggapi pertanyaannya. Tiānyin tampak sepenuhnya fokus, seolah tidak ingin melewatkan sedikit pun detail dari kondisi tubuhnya."Istirahat," ujar Tiānyin akhirnya. Singkat dan dingin, setelah memastikan keadaan Huà
Chén Xiāng Fǔ, Istana Harum Pagi—kediaman resmi Jìng Jūnlán Wángyé.Jian Wei berdiri diam, membiarkan tatapannya menyapu pemandangan di hadapannya. Angin musim gugur berembus lembut, menggugurkan daun-daun merah kecoklatan yang berputar di udara sebelum perlahan jatuh melapisi tanah seperti hamparan permadani alami. Bunga krisan dan camelia bermekaran di sela-sela bebatuan taman, menyebarkan aroma lembut yang samar namun menenangkan."Bi Hai Wan juga indah di musim gugur, Tiānyù Jiànzhàn."Suara tenang itu membuyarkan lamunannya. Jian Wei menoleh dan mendapati Jìng Jūnlán Wángyé berjalan mendekat. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Kehadiran sang pangeran di saat seperti ini terasa sedikit mengusik hatinya. Dulu, mereka jarang berjumpa seperti sekarang."Selamat atas kelahiran putra sulungmu, Taizi," ucap Jian Wei tulus, disertai rasa hormat yang tidak berlebihan."Terima kasih, Tiānyù Jiànzhàn." Nada suara Jìng Jūnlán Wángyé tetap te
Beberapa hari kemudian, mereka kembali berkumpul di Jiù Dào Jū. Penginapan itu terletak di tengah kota. Namun, suasananya tetap tenang, seolah terpisah dari hiruk-pikuk dunia luar. Di gazebo taman yang dikelilingi pepohonan hijau dan aroma teh yang menguar lembut dari meja batu, Héxié Zhìzūn, Jian Wei, Jian Xue, Mo Chén, dan Jìng Zhenjun Wángyé duduk mengitari meja bundar, berbincang santai di bawah sinar matahari yang menghangatkan udara."Jadi... Apa rencana kalian selanjutnya?" Jìng Zhenjun Wángyé bertanya. Suaranya terdengar tenang tetapi ada ketajaman tersembunyi di baliknya."Yang terpenting menghindari kecurigaan kaisar dan para tetua," Jian Wei menanggapi dengan santai, sembari menuangkan teh ke dalam cawan porselen putihnya. Asap tipis mengepul dari permukaan teh yang baru diseduh."Itu benar," Jìng Zhenjun Wángyé mengangguk pelan. Lalu melanjutkan, "Lalu, apakah ada yang bisa dilakukan untuk memurnikan Heibing Hùfú?""Berlatih Tiān Jí Ti
Setelah susunan array pelindung terpasang dengan sempurna, Yīnlǜ Shengzhe melangkah ke tengah lingkaran, lalu dengan gerakan tenang dan pasti, ia kembali membentuk formasi yang lebih kecil. Hawa energi mengalir lembut di sekelilingnya, menciptakan getaran halus di udara."Kalian duduklah saling berhadapan!" perintahnya dengan ketegasan yang tak bisa dibantah.Tanpa banyak kata, Tiānyin dan Huànyǐng segera menurut. Mereka duduk bersila, berhadapan dalam formasi lingkaran dengan jarak sekitar dua meter.Dengan gerakan ringan, Yīnlǜ Shengzhe mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong pundi dimensi miliknya. Kilauan samar terpancar saat empat buah Líng Jīng—kristal energi murni yang langka—berpendar dalam genggamannya. Ia meletakkan masing-masing kristal itu di empat titik terkuat dalam formasi, menciptakan keseimbangan sempurna bagi aliran energi dua pemuda di hadapannya. Kemudian, ia mengeluarkan sebuah jimat tipis berukiran pola kuno dan meletakkannya di antar
"Tiānyin! Hentikan aliran energimu! Lalu mainkan Tiáo Hé Qǔ!" seru Yīnlǜ Shengzhe lantang pada putranya.Pemuda bermata biru itu segera menenangkan aliran energi dalam tubuhnya, lalu mengeluarkan guqin dari kantong dimensi di pinggangnya. Jari-jarinya dengan cekatan menyusuri senar, menciptakan alunan Tiáo Hé Qǔ—melodi yang menyeimbangkan harmoni. Nada-nadanya mengalun lembut, merambat ke udara seperti riak kecil yang menyentuh permukaan Sungai Perak.Suara guqin meredam kegaduhan energi dalam tubuh Huànyǐng. Perlahan, napas pemuda itu yang tadinya memburu mulai teratur, ketegangan dalam tubuhnya surut, dan pikirannya terasa lebih jernih. Yīnlǜ Shengzhe mendekat, jemarinya yang berpengalaman menyentuh pergelangan tangan Huànyǐng, memeriksa aliran nadinya. Sementara itu, Tiānyin tetap memainkan Tiáo Hé Qǔ, memastikan keseimbangan tidak goyah."Jian Wu Gōngzǐ, bagaimana perasaanmu?" Yīnlǜ Shengzhe bertanya dengan nada lembut."Tubuhku serasa mau mel
"Yuè Èr Gōngzǐ," bisik Jian Wei, suaranya tenggelam dalam gemuruh angin lembah, saat denting guqin yang melengking jernih semakin memenuhi pendengaran.Di tengah kabut, seorang pemuda berjubah putih, Yuè Tiānyin, melayang anggun di udara. Sinar matahari yang terang memantul pada guqin-nya, membuatnya berkilauan indah. Dengan gerakan halus, jemari Tiānyin menari di atas senar guqin, mengendalikan alunan melodi yang memancar dari alat musik itu. Setiap denting senar memancarkan aura magis, seakan mantra yang menyegel roh-roh liar yang mengamuk tak terkendali. "Chénxī!" seru Huànyǐng, matanya yang ungu berbinar-binar penuh kekaguman. "Lihatlah, Huànyǐng Xiōng! Yuè Èr Gōngzǐ memang tampan dan berbakat! Tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya!"Líng Qingyu, yang entah sejak kapan telah berada di sisi Huànyǐng, mengangguk setuju dengan tatapan kagum yang tak disembunyikan. Mereka berdua terpaku menatap Tiānyin yang dengan khidmat memainkan guqin-nya. Seme
Dentingan lonceng menggema samar di telinga Jian Wei. Suara itu bergema di antara riuh rendah pekikan panik, gemuruh langkah kaki, dan desir angin yang membawa hawa asing. Ia menajamkan pendengarannya, memastikan sumber suara tersebut. "Da Gē! Lihat itu!" Tiba-tiba Jian Xuě berseru, mengalihkan perhatiannya. Jian Wei sontak mengangkat kepala. Langit yang tadinya terbuka kini dipenuhi pusaran energi berbentuk lingkaran. Partikel bercahaya keperakan berputar di udara, memancarkan kilauan ganjil. "Sial!" Jian Wei menggeram, kedua tangannya mengepal erat. Matanya berkilat, menatap adik-adiknya dan anggota sekte lainnya. "A Xuě, lindungi Huànyǐng! Jangan biarkan dia terpengaruh oleh roh-roh di sekitarnya!" "Baik, Da Gē!" Jian Xuě tak ragu sedikit pun. Ia segera berdiri di depan Huànyǐng dengan Xuě terhunus, siap menghadapi apa pun yang datang. "Lei, siapkan Líng Qì Wǎng! Jian Xia, terus pantau situa
"Target utama kita adalah roh yang sudah kita kunci tadi. Setelah itu kita bisa berburu roh lain di zona yang sudah terbuka," jelas Jian Wei sembari melompat ke depan gua yang tersembunyi di celah tebing es yang menjulang tinggi. Sinar matahari siang memantul di permukaan es, menciptakan kilauan tajam seperti pecahan kaca."A Xue, ayo kita gunakan Xiáng Líng Zhèn untuk menangkap Xuě Láng Wang!" serunya pada Jian Xuě."Baik, Da Gē!" Jian Xuě menyusul, melompat ringan ke depan gua."Gunakan energi es, kau bisa menggabungkannya dengan energi es milik Huànyǐng," saran Jian Wei.Jian Xuě mengangguk mantap, lalu mulai menggambar pola formasi lingkaran dengan elemen energi es di udara. Garis-garis bersinar biru keperakan muncul di udara, membentuk corak rumit yang berpendar lembut. Begitu formasi selesai, ia menyegelnya dan mengarahkannya ke dalam gua. Dari dalam terdengar geraman marah, berat dan bergema, mengguncang lapisan es di sekitar mereka.
Jian Wei memimpin mereka mendekati lokasi jejak roh terdekat. Langkah-langkah mereka nyaris tak bersuara, seolah menyatu dengan hembusan angin dingin yang menyelusup di antara celah-celah tebing. Beberapa roh dikenal sangat peka terhadap suara, bahkan sekadar desir angin pun bisa membangkitkan kewaspadaan mereka."A Xue, gunakan Bīng Suǒ Shù untuk memperlambat pergerakannya," bisiknya lirih. "Jejak energinya akan lebih lama bertahan dan memudahkan kita melacaknya."Jian Xuě tanpa ragu menghunus pedangnya, Bīng Xīn Shèng Jiàn, pedang suci hati es yang berkilauan di bawah cahaya samar. Dengan satu gerakan ringan, udara di sekitar mereka mendadak terasa jauh lebih dingin. Teknik Bīng Suǒ Shù pun dilepaskan, menciptakan embusan es yang membekukan area sekitar tanpa menimbulkan suara."Dia masih berada di dalam gua sempit itu," ucap Jian Xuě pelan.Jian Wei mengangguk. "Baiklah! Kita harus segera menguncinya!" ujarnya, tetap dalam bisikan. Ia menoleh k
Tiān Bīng Yá, Tebing Langit EsTebing Langit Es adalah salah satu lokasi paling ekstrem di Shén Wù Gǔ. Kabut putih pekat menyelimuti tempat ini, bercampur dengan serpihan es kecil yang melayang di udara, menciptakan suasana dingin dan penuh misteri. Angin berembus kencang, membawa butiran salju yang berputar-putar sebelum akhirnya jatuh membentuk lapisan putih tebal di sepanjang permukaan tebing.Di tengah pemandangan yang memukau sekaligus mematikan ini, Huànyǐng dan saudara-saudaranya berdiri dalam balutan mantel tebal, berusaha menahan hawa menusuk yang merasuk hingga ke tulang."Wow! Dingin sekali!" Seruan itu terdengar dari beberapa orang yang segera mengerahkan energi spiritual mereka untuk menstabilkan suhu tubuh. Namun, meski telah mengenakan pakaian hangat dan melindungi diri dengan energi, hawa dingin di Tebing Langit Es tetap menggigit.Huànyǐng menengadah, menatap tebing-tebing yang menjulang tinggi di hadapannya. Permukaannya yang ter
Di panggung kehormatan yang menjulang di atas arena perburuan, angin berembus lembut, membawa aroma teh dan arak yang disajikan dalam poci giok. Cahaya matahari yang menyaring dari sela-sela tirai sutra tipis menerangi wajah para tamu kehormatan—para ketua sekte, pemimpin klan, tetua berpengaruh, serta pejabat kekaisaran. Dan tentu saja, di pusat segala perhatian, duduk dengan tenang Kaisar Jìng Yǔhàn, mengenakan jubah kebesaran berwarna hitam keemasan yang memancarkan wibawa.Sementara para peserta perburuan bergegas ke zona pelacakan, para tamu berbincang dengan santai, sesekali menyesap teh atau arak hangat dari cawan mereka."Yīnlǜ Shengzhe, sudah lama dirimu tidak menghadiri Perburuan Roh. Apakah ada sesuatu yang membuatmu tertarik kali ini?" tanya seorang ketua klan dengan nada penuh rasa ingin tahu.Pria yang dipanggil Yīnlǜ Shengzhe itu hanya tersenyum tipis. Garis ketampanannya jelas menurun pada kedua putranya, tetapi ekspresi tenangnya membuatny
Perburuan Roh Musim Gugur dimulai. Seperti tradisi setiap tahunnya, ada tiga babak yang harus dilalui para peserta sebelum meraih kemenangan dan hadiah istimewa yang selalu dinantikan."Pelacakan, pertempuran strategi, dan penangkapan akhir adalah tiga babak dalam Perburuan Roh. Kita harus melewati babak pelacakan terlebih dahulu sebelum bisa menghadapi tantangan berikutnya," jelas Jian Xue kepada adik-adiknya.Mereka tengah menunggu Jian Wei yang pergi mengambil undian untuk menentukan zona awal perburuan. Penentuan ini bertujuan memisahkan sekte-sekte besar di tahap awal agar pertarungan lebih seimbang. Dengan begitu, sekte kecil memiliki kesempatan untuk bersinar, sementara ketegangan antar sekte besar tetap terjaga hingga pertemuan di babak selanjutnya.Jian Xia, yang sejak tadi terlihat cemas, akhirnya bersuara. "Èr Gē, apakah kau sudah mempelajari zona perburuan kali ini?"Jian Xue menoleh dan mengangkat bahu dengan ekspresi sedikit meringis
“Jian Gūniang!”Seruan menggema dari tribun penonton saat Jian Xia melintasi panggung kehormatan. Pemuda dan gadis-gadis bersorak memanggil namanya, melemparkan bunga dan hadiah ke udara. Namun, Jian Xia hanya membalas dengan senyum tipis nyaris tak terlihat, seolah kegaduhan itu tak benar-benar menyentuhnya.“Kya! Tiānyù Jiànzhàn! Tampan sekali!” Seruan lain terdengar. Kali ini dari sekumpulan gadis yang mencuri pandang penuh kagum ke arah pria berjubah hitam dan ungu yang duduk tenang, matanya tak bergeming dari jalan di depannya."Jian Èr Gōngzǐ juga tampan!""Eh, itu Jian Si dan Jian Wu Gōngzǐ, bukan?"Teriakan dari tribun semakin riuh.“Tampan seperti kakak mereka!”“Jian Wu Gōngzǐ imut dan menggemaskan!”Kalimat terakhir itu nyaris membuat Jian Xue dan Jian Lei jatuh dari kuda mereka. Mereka saling bertukar pandang sebelum terkikik geli. Imut dan menggemaskan? Itu tentu mengacu pada Huànyǐng, adik mereka y
Shén Wù Gǔ adalah perpaduan luar biasa antara kabut mistis yang melayang di udara, hijaunya pepohonan yang menjulang tinggi, serta sungai berkilauan yang berkelok-kelok di antara tebing-tebing batu. Setiap zona perburuan di dalamnya memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari lembah berkabut yang penuh rahasia, hutan lebat yang dipenuhi makhluk spiritual, hingga air terjun gemuruh yang menyembunyikan tantangan tak terduga. Tempat ini bukan sekadar indah, melainkan sarat dengan aura magis dan bahaya tersembunyi.Itulah kesan pertama yang tertangkap saat para peserta Perburuan Roh menyaksikan Shén Wù Gǔ yang terbentang luas di hadapan mereka."Indahnya! Sungguh sesuai dengan julukannya, Lembah Kabut Dewa!" seruan-seruan kagum terdengar bersahut-sahutan di antara para kultivator muda.Bahkan Huànyǐng dan saudara-saudaranya pun tak bisa mengalihkan pandangan. Langit biru membentang luas, menaungi lautan kabut yang berputar perlahan seakan memiliki nyawa. Pucuk-pu