Ciuman Jason mendarat dengan kuat, dipenuhi dengan obsesi yang begitu kuat.Janice berjuang sekuat tenaga, tetapi pria di depannya tidak bergerak sedikit pun, bahkan semakin menjadi-jadi.Saat bibirnya dipaksa terbuka, Janice mengangkat tangan untuk melawan, tetapi kedua tangannya langsung dikunci dengan satu tangan Jason dan ditahan di atas kepalanya.Buk! Punggung Janice menabrak saklar lampu. Seketika, seluruh ruangan larut ke dalam kegelapan.Hanya cahaya dari luar jendela yang berkedip-kedip, memperpanjang bayangan kedua sosok yang saling bertaut.Pergelangan tangan Janice mulai mati rasa. Sebelum dia bisa bereaksi, tubuhnya sudah diangkat.Rasa malu membuatnya melawan dengan sekuat tenaga tanpa peduli pada apa pun. Itu sebabnya, dia tidak sengaja membentur tangannya yang terluka."Uh ...." Janice meringis kesakitan, tetapi suaranya tertahan karena ciuman Jason.Dalam sekejap, perasaan terhina dan kecewa meliputi hatinya. Di bawah sorot lampu dari gedung tinggi di luar jendela, so
Orang tuanya pasti akan melakukan segala cara untuk melindungi Fiona, jadi pada akhirnya hanya Janice yang akan terluka.Namun, rencana awal Elaine adalah menangkap basah mereka sebelum sesuatu benar-benar terjadi. Dengan begitu, Rachel tidak akan terluka dan hubungan antara Keluarga Luthan dengan Keluarga Karim juga tidak akan terpengaruh.Hanya saja ... mungkin Elaine juga tidak menyangka bahwa Fiona tidak memercayainya, sampai-sampai memberikan obat dengan efek terkuat kepada Jason. Efeknya begitu kuat sampai tak ada yang sanggup menahannya.Fiona hanya ingin memastikan bahwa keadaan tidak bisa dibalikkan lagi, agar Landon tidak akan pernah menyukai Janice lagi.Mengenai peran Rensia dalam semua ini ... semua orang akan segera mengetahuinya.Setelah memastikan Janice dalam keadaan aman, Rensia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Landon.Kemudian, dia sengaja mengatur ulang waktu di ponsel Fiona, memperlambatnya beberapa jam. Setelah membangunkannya, Rensia segera menyelina
Saat Rachel mengantre, dia sempat meminta Fiona untuk membantunya mengatur ruang istirahat.Karena kepanikan sebelumnya dan karena Elaine membawanya mencari ke lantai lain, dia sempat lupa tentang ruang istirahat. Sekarang, hanya ruangan itu yang belum diperiksa.Saat Rachel berdiri di depan pintu, tangannya yang memegang kartu akses gemetar. Elaine yang tak sabar langsung merebut kartu itu dan buru-buru membuka pintu.Dia beralasan, "Jason nggak jawab telepon sejak tadi, jangan-jangan dia minum terlalu banyak dan terjadi sesuatu? Ini masalah hidup dan mati, jangan buang-buang waktu."Klak! Pintu terbuka.Aroma samar yang khas dan penuh ambiguitas langsung menyebar ke luar. Bahkan sebelum mereka masuk, beberapa orang di belakang sudah mulai membayangkan yang tidak-tidak.Elaine dan Fiona saling bertukar pandang. Tanpa memberi Rachel waktu untuk bereaksi, mereka langsung mendorong pintu dan masuk."Aku ingin lihat siapa yang berani menggoda Pak Jason!" Fiona melangkah masuk dengan ekspr
Rachel mengulurkan tangannya, mencoba meraih tangan Jason sambil menjelaskan, "Aku nggak berpikir sejauh itu, aku hanya khawatir kamu merasa nggak enak badan setelah minum."Jason menghindari tangannya dengan tenang. Dia berbalik, berjalan ke kamar, lalu duduk dengan santai di sofa. Kemudian, dia menyalakan rokok di bibirnya.Di balik asap putih yang melayang, tatapannya sedikit menyipit saat menatap ranjang. Dia berucap, "Aku cuma minum terlalu banyak dan datang ke sini untuk istirahat.""Nggak ada ... hal lain?" tanya Rachel dengan hati-hati."Nggak ada."Mendengar jawaban Jason, Rachel akhirnya menghela napas lega. Bahkan, Fiona yang bersembunyi di antara kerumunan, diam-diam merasa lega.Benar seperti yang dikatakan temannya, obat itu memang luar biasa. Bukan hanya membuat seseorang kehilangan kendali sepenuhnya, tetapi setelah sadar, efeknya seperti mabuk berat dan memori kabur, sulit membedakan antara mimpi dan kenyataan.Dengan kata lain, Jason akan melupakan semua yang terjadi.
Pintu kamar terbuka. Elaine yang tampaknya sudah siap sejak awal langsung membawa orang-orang masuk.Kali ini, mereka tidak kecewa, memang ada seseorang yang terbaring di atas ranjang. Dari rambut panjang yang terlihat, jelas itu seorang wanita.Namun, Elaine berpura-pura tidak melihatnya dan langsung berjalan ke depan, menarik selimutnya. "Landon, kamu baik-baik saja? Ah! Ada wanita di sini!"Suaranya yang kaget langsung menarik perhatian semua orang. Wanita di atas ranjang pun tampak terkejut dan segera menarik selimut untuk membungkus dirinya sepenuhnya.Saat Elaine hendak meraih selimut untuk memastikan siapa wanita itu, Landon keluar dari kamar mandi sambil menyeka rambutnya yang masih basah."Apa yang kalian lakukan di sini?" Landon bertanya dengan nada kesal, masih menggenggam handuk di tangannya.Rachel segera berbalik menatap kakaknya. "Kak, kamu baik-baik saja? Kenapa nggak jawab telepon?"Landon menunjuk ponselnya yang sedang dicas di nakas. "Mode senyap."Mode senyap berart
"Jangan coba-coba mengelabuiku! Dari awal, kamu memang nggak berniat menjodohkanku dengan Landon! Kamu hanya memanfaatkanku untuk menjebak Jason, menjatuhkan Janice, dan membuatku jadi orang jahat!""Sebenarnya kamu masih punya rencana cadangan, 'kan? Siapa sebenarnya wanita bernama Rensia dari Keluarga Karim itu?" Karena tidak ada orang lain di sini, Fiona berteriak marah.Saat keluar dari kamar Jason, Fiona tanpa sengaja melihat jam dinding dan menyadari sesuatu. Jam di ponselnya telah diatur ulang hampir tiga jam lebih lambat.Sekarang bukan pukul 9 malam, melainkan hampir pukul 12 dini hari. Artinya, dia bukan pingsan karena terjatuh, tetapi karena seseorang sengaja membuatnya tidak sadarkan diri.Ketika Elaine masuk ke kamar Landon dan menyebut nama Rensia, semuanya menjadi jelas bagi Fiona. Dia telah dimanfaatkan oleh Elaine!Melihat ekspresi histeris Fiona, Elaine sadar bahwa tidak ada lagi yang perlu disembunyikan. Lagi pula, cepat atau lambat Fiona akan terbongkar dan menjadi
Di vila Keluarga Luthan.Saat membuka mata, Janice melihat bayangan seseorang bergerak di dekat kakinya."Ah!" Dia menjerit, lalu langsung menarik selimut ke tubuhnya.Dokter wanita itu tersentak, lalu segera mengulurkan tangan untuk menenangkannya. "Jangan takut, kamu sudah aman sekarang. Aku sedang mengoleskan obat. Kamu melawan terlalu keras tadi, jadi ada sedikit pendarahan."Melihat jas putih di tubuh wanita itu, Janice akhirnya kehilangan tenaga dan berbaring kembali. Seketika, yang dia rasakan hanyalah ketidaknyamanan.Dokter wanita itu menggigit bibir. "Aku belum selesai mengobati lukamu. Tahan sedikit. Kalau nggak, pendarahannya bisa terus berlanjut. Jangan khawatir."Sebagai sesama wanita, tatapan dokter itu dipenuhi simpati, bukan penghinaan. Bahkan, dia menggenggam tangan Janice dengan lembut untuk memberinya sedikit kenyamanan.Janice mengangguk dan perlahan melepaskan cengkeraman selimutnya. Dokter itu mengenakan sarung tangan, lalu melanjutkan mengoleskan obat. Sensasi p
Mendengar itu, wajah Janice semakin pucat. Karena teringat sesuatu, dia sontak mencengkeram lengan Landon. "Rensia, dia tahu semuanya."Sendok di tangan Landon jatuh ke dalam mangkuk, membuat bubur memercik ke selimut. Seketika, suasana terasa agak kacau dan menyedihkan."Janice, situasi Rensia agak khusus. Untuk saat ini, kita nggak bisa bertindak.""Itu keputusan Jason, 'kan? Jason yang memerintahkannya, 'kan?" tanya Janice dengan putus asa."Ya." Landon mengerutkan kening. Dia mencoba menenangkan Janice, tetapi tangannya langsung ditepis."Aku mau pergi dari sini," kata Janice dengan penuh penolakan."Ya, aku akan mengaturnya." Landon meletakkan mangkuknya, lalu berbalik meninggalkan ruangan.Di luar pintu, Zion berjalan cepat menghampiri Landon. "Pak, ada kabar dari Norman. Jason bilang ... rencana tetap berjalan seperti semula."Ekspresi Landon menjadi semakin suram. "Apa Jason menyebut soal Janice?"Zion memahami maksudnya. Dia menggeleng dengan canggung. "Nggak, Norman bilang Ar
Kristin mengangguk, memanggul tas perlengkapan bayi di punggung, dan menggendong anaknya pergi ke toilet.Janice menoleh ke arah tiga wanita lainnya dan menjelaskan, "Investasi bukan hal sepele, menurutku harus dipertimbangkan matang-matang. Lagi pula, ibuku juga kurang paham. Gimana kalau besok ibuku ajak Bibi Fenny buat jelasin semuanya?""Boleh juga."Janice dan Ivy langsung menghela napas lega.Selesai mengganti popok, Kristin keluar dari toilet. Dia beberapa kali mencoba membahas topik soal investasi, tetapi selalu berhasil dialihkan oleh Janice.Akhirnya, pertemuan itu bubar dengan suasana tak menyenangkan.Dalam perjalanan pulang, Ivy menggertakkan gigi. "Aku anggap dia teman baik, makanya cerita soal aku untung dari investasi. Apa maksud dia tadi?""Ibu, orang bisa berubah. Tadi Ibu juga lihat sendiri keadaannya. Kalau suaminya sayang dia, mana mungkin biarin dia bolak-balik ke dokter belasan tahun cuma buat punya anak laki-laki?""Hais ...." Ivy hanya bisa menghela napas panja
Program hamil? Tangan Janice yang sedang memegang cangkir teh langsung kaku. Dari sudut matanya, dia melihat Rachel juga melirik ke arahnya."Ya, baru nikah soalnya. Suamiku suka banget sama anak kecil, katanya mau anak perempuan dulu. Bahkan, kita sudah siapin namanya," kata Rachel dengan tenang."Jason ini buru-buru banget ya, nama saja sudah disiapin. Namanya siapa?" tanya Elaine dengan penasaran."Vega," jawab Rachel perlahan.Duk! Cangkir teh di tangan Janice jatuh ke atas meja."Namanya siapa?" Suara Janice gemetar."Vega, itu nama yang Jason pilih sendiri." Rachel menekankan kata-katanya.Amarah dalam diri Janice langsung berkobar. Itu nama anak perempuannya! Apa hak Jason menggunakan nama itu?Elaine menatap Janice yang kehilangan kendali, lalu tertawa. "Eh, kenapa, Janice? Kita lagi bahas ibumu dan Rachel soal punya anak, tapi ekspresimu kayak kamu yang mau punya anak saja."Janice tersadar, semua orang menatapnya dengan ekspresi aneh. Dia mengepalkan tangannya, lalu mengambil
Janice tampak sangat terkejut. Dia masih ingat waktu kecil, Kristin sering menggendongnya sambil mengatakan dia suka anak perempuan.Tak disangka, demi punya anak laki-laki, dia sampai berobat bertahun-tahun.Janice menoleh ke Ivy, lalu bertanya, "Bu, apa hubungannya denganmu?"Sebelum Ivy sempat menjelaskan, Kristin dan tiga temannya sudah menghampiri bersama."Ivy, lama nggak ketemu, kamu kelihatan makin muda saja ya."Siapa yang tidak suka dipuji? Ivy pun tersenyum, lalu menyentuh wajahnya. Kebetulan sekali, memperlihatkan cincin permata hadiah peringatan pernikahan dari Zachary."Ah, nggak juga. Aku cuma lebih santai saja belakangan ini.""Ya ampun, cincinnya cantik banget! Hadiah dari suamimu ya? Kalian sudah nikah lama, tapi masih seromantis ini.""Iya, iya." Ivy mengangguk. Yang sebenarnya dia banggakan bukanlah cincinnya, melainkan cinta suaminya padanya.Sementara itu, Janice menyadari wajah Kristin tampak kurang senang. Dia menarik lengan Ivy. "Bu, Bibi Kristin lagi gendong b
Setelah sesi mencicipi makanan selesai, Zion masuk dan melaporkan bahwa ada rapat dengan perwakilan dari kantor pusat.Akhir-akhir ini Landon memang terus berada di Kota Pakisa, sementara pekerjaan di kantor pusat Kota Heco sudah menumpuk.Melihat betapa sibuknya Landon, Janice langsung berkata, "Kamu urus saja urusanmu, aku dan Ibu bisa pulang sendiri kok."Landon melihat jamnya. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."Setelah melihatnya pergi, Ivy pun merasa puas sampai terus tersenyum. "Pak Landon sesibuk itu, tapi masih mau temani kamu pilih restoran dan cicip makanan. Calon menantuku ini memang luar biasa.""Ibu, kami belum nikah, jangan panggil dia menantu terus, nanti ada yang salah paham."Ivy memang agak polos, makanya ucapannya sering kali menimbulkan masalah. Namun, kali ini menyangkut pernikahan Janice, jadi Ivy langsung menutup mulut dan lebih berhati-hati.Janice tersenyum, menggandeng lengan ibunya. "Ayo, aku antar Ibu pulang.""Nggak usah, aku sudah janjian sama teman lama bu
Ivy segera menyela, "Jangan membahasnya lagi, hanya dengan mendengarnya saja pun aku sudah merasa jijik. Kamu memang suka makan itu saat masih SMA, tapi suatu hari perutmu sakit karena makan kebanyakan dan besoknya muncul beberapa jerawat besar.""Kamu sampai percaya kata-kata di internet bahwa jahe bisa menghilangkan jerawat besar, jadi tengah malam diam-diam pergi ke dapur dan akhirnya bertemu dengan ...."Setelah mengatakan itu, Ivy menggigit bibirnya dan segera mengganti kata-katanya. "Jahenya terlalu pedas sampai jerawatmu jadi mereka dan besoknya bengkak. Sangat lucu sekali."Mendengar cerita itu, Landon langsung menutup mulutnya karena menahan tawa.Sementara itu, Janice terus meminum air karena merasa malu. Pada saat itu, dia baru saja menempelkan jahe di wajahnya, tetapi malah bertemu dengan Jason yang baru pulang dari acara makan malam. Dia yang diam-diam menyukai Jason tentu saja tidak ingin terlihat memalukan di depan orang yang disukainya, sehingga dia berusaha lari sambil
Suara yang familier itu langsung membuat Janice merasa terkejut. Saat melihat mengikuti jari-jari putih itu, dia melihat pria itu ternyata adalah Jason yang sudah tidak terlihat selam sebulan lebih.Jason terlihat lebih kurus dan wajahnya makin tajam serta berbahaya. Bahkan tatapannya terlihat sangat hampa dan terus bergerak. Hanya dengan melihat sekilas, sudah membuat orang merasa sangat dingin.Setelah tertegun sejenak, Janice menyadari dia sudah menatap Jason terlalu lama. Dia segera tersadar kembali dan memalingkan tubuhnya. "Nggak perlu."Saat Janice berjalan melewatinya, Jason langsung menggenggam pergelangan tangan Janice dengan erat. Dia menatap wajah Janice yang rahangnya tegang dan kedua matanya memancarkan emosi yang mendalam. Pada detik berikutnya, dia langsung menutup pintu dan memaksa Janice untuk kembali masuk ke dalam toilet.Janice langsung mundur beberapa langkah sampai menabrak meja rias dan kepalanya menyentuh cermin yang dingin. Saat Jason mendekatinya dan mengamat
Ivy jelas tidak peduli dengan hal itu karena itu memang uang pribadinya dan tidak ada hubungannya dengan Keluarga Karim. Jika nanti ada keuntungan, dia akan menyerahkannya pada Zachary. Namun, jika rugi, dia juga tidak akan mengganggu Zachary dengan masalah kecil seperti itu.Namun, Janice tetap merasa khawatir karena Fenny sudah tidak kembali ke Kota Pakisa selama bertahun-tahun dan selama ini hanya mengirim ucapan selamat pada hari perayaan. Mengapa Fenny bisa tiba-tiba memperkenalkan proyek besar pada Ivy? Yang lebih pentingnya lagi, dia tidak mendengar ada proyek besar apa pun pada saat itu dan bahkan di kehidupan sebelumnya.Saat Janice hendak bertanya lebih lanjut lagi, Landon meneleponnya. "Janice, siang ini kita ada janji untuk melihat restoran. Aku sudah sampai di kompleks perumahanmu, kamu bisa turun sekarang.""Baiklah, tapi ibuku ada di sini. Bagaimana kalau kita pergi bersama?" tanya Janice sambil melihat tatapan Ivy yang penuh dengan harapan.Hubungan Janice dengan Ivy sa
Setelah menerima lamaran dari Landon, Janice awalnya berpikir untuk mengadakan makan bersama orang tua dari kedua belah pihak saja. Namun, Landon tetap ingin memberikannya upacara pertunangan yang layak, dia pun tidak bisa membantah Landon. Dia terpaksa setuju karena berpikir itu hanya upacara kecil, Keluarga Luthan tidak akan mengundang tokoh besar dari kalangan mereka.Sebenarnya, Janice khawatir statusnya akan membuat Landon kesulitan. Setelah mengetahui alasannya, Landon pun setuju. Setelah semuanya dipastikan dan melewati hari tenang selama dua hari, dia akhirnya memberi tahu Ivy tentang acara pertunangan ini.Keesokan harinya, Ivy langsung datang menemui Janice pagi-pagi sekali. Begitu masuk, dia menatap kiri dan kanan dari wajah Ivy dan berkata dengan kesal, "Kenapa kulitmu agak kering?"Janice meraba pipinya dan berkata, "Mungkin karena pergantian cuaca."Ivy langsung menyodorkan sebuah kartu salon kecantikan ke tangan Janice. "Aku sudah mengisi saldonya untukmu, ingat untuk me
Setelah mengatakan itu, Zion langsung pergi.Seperti gadis lainnya, Janice hanya menundukkan kepala dan melihat cincin itu. "Berlian ini terlalu besar, aku nggak berani memakainya keluar.""Besar ya? Aku sebenarnya ingin membeli yang 20 karat, tapi aku tahu kamu nggak suka yang terlalu mencolok. Jadi, aku memilih yang lebih kecil," jelas Landon.Janice terdiam saat mendengar berlian yang begitu besar seperti telur merpati masih dibilang kecil.....Di pulau.Norman masuk ke dalam kamar sambil membawa sarapan. "Pak Jason, saatnya makan."Mendengar itu, Jason yang duduk di ujung tempat tidur bergerak. Saat perlahan-lahan mengangkat kepalanya, keringat sudah mengalir melewati otot-otot tubuhnya yang tegang dan tatapannya terlihat hampa. Dia berkata dengan suara yang serak, "Letakkan saja."Norman meletakkan sarapannya dan segera menyerahkan handuk, lalu melanjutkan, "Fiona langsung dibawa pergi orang asing begitu pesawatnya mendarat, bahkan keluarganya pun nggak tahu dia ada di mana. Kala