Ini bab kedua siang ini. seperti biasa, satu bab terakhir akan rilis nanti malam. Selamat beraktivitas (◠‿・)—☆ Bab Bonus: 2/3 Bab Bab Reguler: 2/2 Bab (Komplit)
Tak butuh waktu lama, enam belas lampu merah menyala! Selain Maximus Sabre dan Philip Bark yang belum memilih, hampir semua mendukung kematian Ryan. Philip Bark terpaku. Para Guardian yang berjanji mendukungnya telah berbalik arah. Bahkan Tetua Wendelin, sahabatnya sendiri, ikut mengkhianatinya! "Maafkan aku," ujar Wendelin melihat tatapan Philip Bark. "Kali ini aku berpihak pada Zeke Fernando. Ryan adalah variabel yang tak diinginkan. Meski potensialnya besar di masa depan, ancaman yang dia timbulkan terlalu berbahaya bagi kita." "Jika Ryan tidak disingkirkan, para Guardian tak akan bisa tenang. Aku melakukan ini demi kebaikanmu juga." Amarah membakar dada Philip Bark. Dia tak pernah menyangka akan dikhianati seperti ini! Niatnya menyelamatkan Ryan kini tampak mustahil. Apa gunanya suaranya dan Maximus Sabre melawan enam belas lainnya? "Philip Bark," Zeke Fernando tersenyum penuh kemenangan. "Rapat sudah selesai. Kau tak bisa mengubah keputusan kami." "Mari berpencar
Zeke Fernando melirik Guardian lain di belakangnya. Tentu saja dia tak akan mengakui telah menyembunyikan mereka. "Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan." Ryan sudah menduga jawaban seperti ini. Terkadang jawaban hanya bisa didapat melalui kekerasan. Tanpa membuang waktu dengan kata-kata, dia langsung melesat menyerang! Angin kencang berputar di sekelilingnya, niat membunuh meledak dahsyat. Namun tepat saat hampir mencapai Zeke Fernando, sebuah sosok menghadang jalannya. Philip Bark. "Apakah kau juga akan menghentikanku?" tanya Ryan dingin, mengenali sosok yang pernah membantunya. Philip Bark menggeleng. "Ryan, aku gagal membantumu dalam masalah ini. Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah menahan Zeke Fernando dan yang lain. Kau bukan tandingan mereka. Seharusnya kau tidak datang kemari." "Cepat pergi. Aku tidak bisa menahan mereka lama." Begitu selesai bicara, Philip Bark menghunus pedang dinginnya. Aura kuat memancar saat dia mengarahkan senjata ke Zeke Fe
Tanpa ada keraguan, Philip Bark mengangkat pedangnya untuk menahan serangan itu. "Pedang Seribu Petir!" Jurus andalan Philip Bark menggetarkan udara. Meski bukan teknik terhebat, kemampuan ini cukup ditakuti di kalangan elite Nexopolis. Dia tidak berani meremehkan serangan Zeke Fernando sedikitpun. TRANG! Kedua pedang beradu dalam dentuman keras. Gelombang kejut menyebar ke sekeliling saat keduanya terpaksa mundur beberapa langkah. Jelas terlihat bahwa perbedaan kekuatan mereka tidak terlalu jauh. "Philip Bark, sepertinya aku terlalu meremehkanmu!" Zeke Fernando tersenyum dingin. "Sayangnya, bukan hanya kau yang berhasil mencapai level baru!" Dalam sekejap, aura Zeke Fernando melonjak drastis. Pedangnya berkilau keemasan saat dia melancarkan serangan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya. Para Guardian yang menyaksikan terbelalak kaget. Siapa sangka Zeke Fernando juga telah berhasil meningkatkan kekuatannya? Selama ini dia telah menyembunyikan potensi sejatinya d
"Teknik pedang ini jelas bukan berasal dari Nexopolis," gumam Maximus Sabre penuh minat. "Bahkan di Gunung Langit Biru, gerakan seperti ini bisa dikategorikan sebagai teknik pedang tingkat tertinggi!"Matanya berkilat penuh hasrat dan keingintahuan. Sebagai seorang kultivator pedang, dia paham betul betapa langkanya teknik seindah dan semematikan ini. Ryan bahkan mampu menggunakannya dengan begitu sempurna di usia semuda ini!Ryan tidak memberi waktu bagi lawan-lawannya untuk pulih. Dengan cepat dia mengeluarkan sebutir pil dan menelannya. Tubuhnya memang masih kuat, namun lebih baik tidak mengambil risiko. Setiap musuh yang berhasil dia singkirkan akan meningkatkan peluangnya menghadapi Zeke Fernando nanti."Masih belum menyerah?" Ryan menatap kedua Guardian yang masih berusaha bangkit. "Kalian bisa pergi sekarang dan menyelamatkan nyawa kalian. Atau..." Ia membiarkan kalimatnya menggantung, memb
"Bagaimana pedangmu bisa memiliki kekuatan seperti ini..." bisik salah satu Guardian dengan mata terbelalak sebelum cahaya kehidupan memudar sepenuhnya dari matanya.Ryan berdiri dengan napas terengah, tatapannya sedingin es saat memandang mayat kedua Guardian. Tanpa ragu dia mengeluarkan pil lain dan menelannya."Kalian menciptakan aturan sendiri dari singgasana tinggi kalian," ucapnya dingin. "Tapi karena aturan-aturan itu tidak cocok untukku, maka aku sendiri yang akan melanggarnya!"Keheningan mencekam menyelimuti arena. Kematian dua Guardian lagi telah membuat semua yang hadir membeku tak percaya. Dalam kurun waktu kurang dari sepuluh hari, empat Guardian telah tewas di tangan seorang pemuda!Bahkan Zeke Fernando dan Philip Bark menghentikan pertarungan mereka, terlalu terkejut dengan hasil yang tak terduga ini. Meski bukan yang terkuat, kedua Guardian tadi seharusnya lebih dari cukup untuk menghabisi R
Senyum kejam tersungging di bibir Zeke Fernando sebelum melanjutkan, "Dan setelah kematianmu, pacar kecilmu di Silverbrook dan ibumu di Ibu Kota akan menyusul. Oh ya, berbicara soal keluarga..." Dia berhenti sejenak untuk efek dramatis. "Apa kau tidak ingin tahu keberadaan ayahmu? Maaf saja, aku sudah mengirimnya ke neraka sebelumnya."Ryan tahu Zeke Fernando hanya berusaha memancing amarahnya. Orang yang dikuasai emosi tidak akan bisa berpikir jernih. Namun tetap saja, ancaman terhadap orang-orang terdekatnya membuat darahnya mendidih."Kau sudah bosan hidup!" Ryan mendesis berbahaya. "Aku tidak peduli formasi macam apa yang kau miliki, akan kuhancurkan semuanya!"Tanpa ragu Ryan mengaktifkan teknik Dragon Phantom Flash dan melesat maju. Keenam Guardian meraung serempak, melepaskan ledakan aura yang begitu kuat hingga membuat seluruh puncak gunung bergetar.Enam pedang melesat di udara dalam gerakan terkoor
Senyum kemenangan merekah di wajah Zeke Fernando. Dengan gerakan cepat dia membentuk segel tangan, mengalirkan enam esensi darah ke dalam Pedang Claiomh Solais.Bahaya! Ryan merasakan seluruh inderanya berteriak. Bahkan sebelum pedang itu menyerang, auranya yang mencekam telah membuat tubuhnya nyeri luar biasa."Bocah, karena kau memaksaku menggunakan pedang ini, anggap saja kematianmu sangat terhormat! Haha!""Pergi!"Pedang Claiomh Solais melesat bagai komet hitam, meninggalkan retakan menganga di tanah yang dilaluinya. Ryan tak gentar–berapa banyak kesulitan dan pengorbanan yang telah dia lalui untuk mencapai titik ini? Dia tidak akan menyerah semudah itu!Mengabaikan rasa sakit yang mencabik tubuhnya, Ryan mengedarkan teknik matahari surgawi. Naga Darah kembali muncul untuk melindunginya."Huh! Seekor semut mencoba mengguncang pohon," Zeke Fernando mencibir. "Sungguh
"Hmph! Pedang rendahan seperti itu berani mempermalukan diri di hadapan Pedang Claiomh Solais?" Zeke Fernando mencibir meremehkan. "Hancurkan!" Mengabaikan serangan Ryan, dia mengayunkan Pedang Claiomh Solais dengan seluruh kekuatannya. Namun tiba-tiba dia merasakan perlawanan luar biasa dari pedang di tangannya. Aura mengerikan meledak dari Pedang Claiomh Solais, membuat dunia seolah berubah warna. Darah dalam tubuh Zeke Fernando bergolak hebat hingga dia tak kuasa menahan muntahan darah segar. Pedang legendaris itu bukan hanya menolak membunuh Ryan, tapi bahkan berbalik menyerang pemiliknya sendiri! WHUUSH! Tubuh Zeke Fernando terpental bagai layang-layang putus tali sebelum menghantam tanah dengan suara memekakkan. Sebuah kawah besar tercipta di tempat dia mendarat. Tak seorang pun menduga hasil ini. Zeke Fernando, sang Guardian legendaris, dikalahkan oleh pedangnya sendiri? Mengapa Pedang Claiomh Solais seolah melindungi Ryan? Dengan organ dalam terguncang parah, Ze
"Hmm? Apa batu ini ingin aku mengendarai mobil ini?" Ryan mengangkat alisnya heran. Seolah memahami pertanyaannya, batu giok naga bergerak cepat ke bagian bawah mobil. Menyadari ada sesuatu, Ryan mengalirkan energi qi ke telapak tangannya. Dengan satu gerakan mulus, dia mengangkat mobil itu sepenuhnya. Matanya langsung berbinar–sebuah formasi kuno tersembunyi di bawah mobil! Formasi ini begitu halus hingga tak terdeteksi. Jika bukan karena mobil tua yang menutupinya, Tetua Zigfrid pasti sudah menemukannya lebih dulu. Dengan gerakan lincah, jari-jari Ryan membentuk segel rumit. Karakter emas berpendar di telapak tangannya–teknik Dao Jimat Spiritual yang dipelajarinya dari Peter Carter akan lebih dari cukup untuk menghancurkan formasi ini. BOOM! Formasi itu hancur seketika. Lantai garasi retak, memunculkan lubang sedalam satu meter. Di dalamnya, sebuah kotak brokat dengan ukiran "Untuk keluarga Pendragon" tergeletak diam. "Warisan dari kakek," gumam Ryan yakin. Tanpa
Setelah pencarian yang sia-sia, wajah Tetua Zigfrid memucat. Matanya yang tajam menangkap sebuah potret yang tergantung di dinding. Tanpa pikir panjang, dia mencabik lukisan itu dengan beringas. "Situasi di Gunung Langit Biru semakin kacau," desis Tetua Zigfrid dengan gigi gemeretak. "Arthur Pendragon muncul entah dari mana dan menghancurkan markas Sekte Hell Blood di depan semua orang! Bahkan Floridas Kennedy kemungkinan besar tewas di tangannya." Dia menggelengkan kepala frustasi. "Aku tak mengerti. Apa sebenarnya dendam Arthur ini terhadap Sekte Hell Blood?" Ryan nyaris tertawa mendengar kebingungan Tetua Zigfrid. Tentu saja pria tua itu tak akan pernah menduga bahwa Arthur Pendragon dan Ryan Pendragon adalah orang yang sama. "Sejak insiden di Penjara Catacomb, kedamaian seakan menjauh dari Sekte Hell Blood," lanjut Tetua Zigfrid dengan nada getir. Matanya berkilat berbahaya. "Apa pun yang terjadi, Ryan tidak boleh dibiarkan hidup! Ferdinand Kennedy!" Seorang pemuda tamp
Ryan tidak bisa tetap tenang mendengar kabar buruk ini. Jelas seseorang sedang mengambil tindakan terhadapnya, dan kemungkinan besar pelakunya adalah orang-orang Sekte Hell Blood, termasuk Tetua Zigfrid! Yang membuatnya bingung, mengapa mereka tidak langsung datang ke ibu kota untuk berurusan dengan Keluarga Pendragon, malah menyerang Ibu Kota Provinsi Riverpolis dan Kota Golden River? Bahkan rumah lama keluarganya di Golden River tidak luput dari sasaran. Apa yang mereka cari? Rahasia keluarganya? Atau mungkin mereka telah berhasil mendapatkan informasi dari ayahnya? Tiba-tiba Ryan teringat sesuatu yang membuatnya tersentak–Juliana Herbald dan Rindy Snowfield telah kembali ke Ibu Kota Provinsi Riverpolis! Meski Tetua Zigfrid mungkin tidak mengenal mereka, keduanya tetap dalam bahaya! Dia segera meminta Adel menghubungi keduanya. Untunglah mereka masih selamat. Ryan kemudian bangkit dan memberi perintah pada Sammy Lein, "Siapkan pesawat untukku. Aku akan kembali ke Riverpol
Immortal God melepaskan jarinya dan berbalik menuju nisan pedang. "Jika tidak ada yang penting, jangan mencariku. Aku ulangi–aku belum sepenuhnya mengakuimu, dan aku tidak akan mengajarimu apa pun, apalagi membantumu." Setelah mengatakan itu, bayangannya menghilang dan nisan pedang kembali sunyi. Lex Denver menghampiri dan menepuk bahu Ryan. "Mari kita kesampingkan masalah Pil Ilusi Archaic untuk saat ini. Ini memang kepribadian Immortal God. Ketika dia lebih memahami dirimu, dia akan menerimamu secara alami." Ryan mengangguk. "Guru, Anda mengatakan orang ini seorang alkemis. Mengapa dia malah memberiku teknik pedang?" Lex Denver menatap nisan pedang dengan sorot dalam. "Aku tidak pernah mengatakan dia hanya seorang alkemis. Dia memang tahu cara membuat pil, tapi bukan hanya itu. Dia menguasai formasi, teknik pedang, dan jimat spiritual. Bisa dibilang dia orang yang unik. Jika kau mendapat bimbingannya, jalur bela dirimu akan sangat terbantu." "Baiklah, sekarang saatnya kau meni
Sosok di nisan pedang kedua mengerutkan dahi melihat pemandangan ini. Bukan karena Ryan berhasil memurnikan Pil Roh Air, tapi karena kualitas pil itu jauh melampaui ekspektasinya. Lex Denver melirik lelaki tua di sampingnya dan berkata dengan nada acuh, "Meski aku tahu kau memiliki temperamen aneh, aku khawatir kata-katamu tadi hanyalah sebuah provokasi." Orang tua itu tidak langsung menjawab. Matanya menyipit saat menatap Ryan dengan sorot penuh minat. "Aku hanya berkata jujur," ujarnya setelah beberapa saat. "Jika pemilik Kuburan Pedang bahkan tidak bisa membuat Pil Roh Air, apakah menurutmu dia memenuhi syarat untuk menjadi penyelamat kita? Jangan lupa bahwa anak ini membawa harapan bagi kita semua!" "Perang di era kuno telah menjebak kita, membuat kita mustahil untuk dilahirkan kembali atau bereinkarnasi, apalagi diselamatkan," lanjutnya dengan nada berat. "Dan kau tahu betapa kuatnya entitas itu. Meski tingkat kultivasi anak ini cukup mengesankan, dia masih terlalu jauh dar
"Paviliun Ivoryshroud dan Sekte Hell Blood adalah eksistensi yang sangat merepotkan di Gunung Langit Biru. Orang biasa tidak mungkin bisa menyinggung mereka," ujar Shirly skeptis. Lina Jirk yang berdiri di samping mengangguk setuju. Cerita ini memang terdengar terlalu fantastis untuk dipercaya. "Kak Shirly, aku berani bersumpah demi jiwaku!" Hestia berseru dengan sungguh-sungguh. "Aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri! Kakek Juan dan banyak kultivator dari Gunung Langit Biru juga menyaksikannya. Mungkin tidak lama lagi berita ini akan menyebar ke seluruh Gunung Langit Biru." Mendengar sumpah Hestia, kerutan di dahi Shirly semakin dalam. Dia mulai mempertimbangkan kemungkinan kebenaran cerita ini. "Berapa umurnya? Dari keluarga mana dia berasal? Dan siapa namanya?" Shirly mengajukan serangkaian pertanyaan, jelas tertarik pada sosok misterius yang mengerikan ini. Tatapan Hestia tegas dan penuh tekad saat menjawab, "Orang ini seusia dengan Kak Shirly! Bakatnya... bahkan tam
Jadi mengapa jika dia berasal dari zaman kuno! Bahkan jika dia seorang Dewa alkemis kuno sekalipun, Ryan tidak akan mundur sama sekali! Tekadnya semakin kuat saat mengingat perjalanannya selama ini. Lima tahun yang lalu, lelaki tua itu menyelamatkannya dari bagian hilir Sungai Emas dan membawanya ke Gunung Langit Biru karena melihat takdirnya yang unik. Sejak saat itu, Ryan telah melewati berbagai rintangan dan cobaan. Dia tidak akan membiarkan seorang kultivator kuno yang sombong menghentikan langkahnya sekarang! BOOM! Pusat Kuburan Pedang seolah dilanda badai dahsyat, dengan Ryan berada tepat di pusatnya. Energi spiritual berputar-putar liar, menciptakan pusaran angin yang mampu menghancurkan apa pun yang disentuhnya. Nisan pedang yang tadinya memancarkan cercaan dan hinaan mendadak terdiam. Sebuah suara lembut penuh keterkejutan terdengar, "Eh, orang ini sebenarnya..." Suaranya melemah saat sosok tua berjubah putih perlahan muncul dari nisan pedang. Aura samar yang di
"Kau harus pergi ke suatu tempat..." Namun tiba-tiba Lex Denver teringat sesuatu dan mengubah kata-katanya. "Lupakan saja. Tempat itu ada di Gunung Langit Biru. Hal pertama adalah yang perlu kau lakukan terlebih dahulu." Tatapan Ryan tertuju pada nisan pedang kedua yang kini bersinar terang. Dia bisa merasakan aura kuno yang sangat kuat berkumpul di sekitarnya, jauh lebih pekat dari yang pernah dia rasakan sebelumnya. "Guru, apakah kultivator kuno ini seorang alkemis?" tanyanya penasaran. "Dia bukan hanya itu." Lex Denver menggeleng dengan senyum misterius. "Kau akan mengerti saat melihatnya nanti." Tanpa ragu lagi, Ryan mengulurkan tangan dan menyentuh nisan pedang. Seketika itu juga, cahaya yang dipancarkan semakin terang hingga menyilaukan mata. Seluruh Kuburan Pedang berguncang hebat, bahkan Dragon Vein yang biasanya kokoh pun mulai menunjukkan retakan! Ryan mengira nisan pedang itu akan segera retak dan sosok sang kultivator kuno akan muncul, namun setelah menunggu lima
Ryan memejamkan mata, merasakan dantiannya yang kini telah mengembang berkali-kali lipat. Dengan gerakan santai, dia melancarkan sebuah pukulan ke udara kosong. Gelombang kejut tak kasat mata merambat cepat, dan sebuah pohon raksasa yang berjarak lebih dari sepuluh meter langsung hancur berkeping-keping! "Wow," gumamnya takjub. "Dan itu bahkan saat aku menahan diri. Bagaimana jika aku mengeluarkan kekuatan penuhku?" Seulas senyum percaya diri tersungging di bibirnya. Dengan kekuatan ini, dia yakin bisa melindungi diri di Gunung Langit Biru. Bahkan jika harus menghadapi Tetua Zigfrid sekalipun, dia tidak akan gentar! Tiba-tiba Ryan teringat sesuatu. Matanya beralih pada naga darah yang perlahan turun kembali ke tubuhnya dari langit. Selama terobosan tadi, dia sempat merasakan transformasi makhluk spiritual itu. Bukan hanya ukuran tubuhnya yang membesar, tapi aura dan pola di permukaan kulitnya pun mengalami perubahan signifikan. "Muridku, kau tidak menyia-nyiakan tiga tetes