Dario membeku.Tubuh Marco tergeletak tak bernyawa di lantai, matanya terbuka lebar, tetapi tidak lagi melihat apa pun.Darah masih mengalir dari sudut bibirnya, meresap ke dalam kayu tua rumah itu.Dario mengeras, tubuhnya bergetar sebelum akhirnya…"Tidak!"Dario berteriak sekuat tenaga, suaranya menggema di seluruh ruangan.Dia merosot ke lantai, mencengkram tubuh Marco yang sudah dingin, memeluknya erat. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung."Ini salahku ... ini salahku … maafkan aku Marco!” gumamnya berulang kali, tangannya menggenggam bahu Marco yang sudah tak bernyawa.Namun, Lucas hanya berdiri diam, tanpa rasa bersalah.Lucas menatap tubuh Marco tanpa emosi, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Dario yang masih terisak penuh kemarahan dan kesedihan."Konsekuensi," ucap Lucas pelan, tetapi tajam. "inilah yang terjadi jika ada yang berani melawanku."Dario mengerang, tangannya mengepal keras, tubuhnya gemetar hebat. Namun dia tidak berani melakukan apapun kepada Lucas.Lucas
Rumah itu masih dipenuhi aroma anyir ketika Gigio berjalan keluar. Tangannya berlumuran darah, bukan darah musuh, melainkan darah anaknya sendiri. Napasnya berat, seakan setiap tarikan mengingatkannya pada dosa yang baru saja ia lakukan.Keheningan terasa mencekik, hanya diselingi suara langkah kakinya yang bergema di lantai. Setiap langkahnya terasa berat oleh beban yang tak terlihat. Wajahnya tampak lebih tua dari sebelumnya, seakan usia menambah beban di punggungnya dalam hitungan menit. Kerutan di dahinya semakin dalam, dan matanya menyiratkan keputusasaan yang tak terbendung.Gigio berhenti di hadapan Lucas, menatap lelaki itu dengan mata penuh kehancuran."Aku sudah menghukumnya. Hanya ini yang yang bisa kulakukan," ujar Gigio dengan suara serak, seperti mengandung ribuan jarum yang menusuk tenggorokannya. "aku harap kamu mau memaafkannya dan melupakan semua yang telah dilakukannya "Lucas tidak langsung menjawab. Pandangannya tajam, dingin, penuh penilaian. Dia mengamati Gigio
Lucas menatap Cecilia yang sudah berdiri, siap meninggalkan ruang tamu."Tunggu dulu," kata Lucas dengan suara dalam.Cecilia menghentikan langkahnya, menoleh dengan alis terangkat."Apa lagi?" tanya Cecilia.Lucas menyandarkan punggungnya ke sofa, menatapnya tanpa ekspresi.“Aku akan melihat terlebih dahulu. Jika Nenek Lisa dan Jeremy sudah melampaui batas, baru aku akan bertindak,” kata Lucas.Cecilia mendengus, menatap Lucas penuh rasa muak. Perkataan itu, terdengar sama saja di telinga Cecilia."Tentu saja. Itu jawabanmu, kan? Selalu menunggu dan melihat. Selalu membiarkan masalah berkembang lebih dulu sebelum bertindak,” kata Cecilia, tajam.Lucas tetap diam, ekspresinya tidak berubah.Cecilia mendekat, suaranya lebih rendah tetapi mengandung kemarahan yang terkendali. "Aku sudah sadar sejak pertama kali kalau kamu adalah orang yang tidak berguna. Apakah kamu tidak berniat untuk memiliki sesuatu yang dibutuhkan oleh Angeline?”Lucas menatapnya dengan sorot tajam, tetapi tidak men
Perkataan itu membuat Albin merasa cemas. Ditakutkan ada kegagalan di sana.Dokter menjelaskan, "Kami berhasil menyambungkan kembali tangan kanannya. Namun, saraf-sarafnya sangat kompleks. Dario membutuhkan terapi intensif dan waktu yang lama untuk mengetahui apakah tangannya masih bisa bekerja seperti dulu."Albin menatap ke arah pintu ruang operasi, di mana Dario masih tertidur di dalam.Albin menghela napas panjang, menatap dokter di depannya."Yang terpenting adalah kita sudah mencoba," kata Albin mantap. "selebihnya, kita hanya bisa berharap."Dokter mengangguk, menyeka keringat di dahinya. "Kami akan terus mengawasinya. Jika ada perkembangan, kami akan memberitahu Anda."Albin mengangguk. "Terima kasih, Dok."Setelah itu, dokter pamit meninggalkan ruangan, meninggalkan Albin dengan pikirannya sendiri.Beberapa menit kemudian, pintu lorong rumah sakit terbuka, dan langkah tergesa terdengar.Gigio Moratta masuk, diikuti oleh Viviana. Mereka langsung menghampiri Albin.Gigio menata
Ketegangan di ruang rapat terasa pekat, seperti udara sebelum badai.Randy dan Matias saling bertukar pandang, mencari cara untuk membalikkan keadaan.Mereka tidak menyangka Angeline akan begitu tegas dan langsung menunjuk Sabrina sebagai sekretaris pribadinya tanpa melalui mereka.Mereka terbiasa mengendalikan segalanya, termasuk siapa yang menempati posisi strategis di perusahaan ini.Dan kali ini, mereka kehilangan kendali akan hal itu. Inilah yang tidak bisa mereka terima.Randy menghela napas, berusaha menyusun kata-kata."Baiklah," kata Randy pada akhirnya, mencoba terdengar netral. "aku mengerti bahwa memilih sekretaris pribadi adalah wewenang Presiden Direktur."Sabrina dan Angeline tetap diam, menunggu kelanjutannya."Tapi..." Randy melanjutkan, menatap langsung ke mata Angeline, "biasanya, kita mengambil orang dari dalam perusahaan. Seseorang yang sudah mengenal sistem kerja dan budaya di sini. Serta hal itu menjadi sebuah bentuk efisiensi.”Angeline tidak terpengaruh."Seor
Udara di kantor polisi terasa berat, seolah-olah mengandung sesuatu yang tak kasat mata tetapi menekan dada siapa pun yang berada di dalamnya.Di balik meja kayu tua yang penuh berkas, seorang perwira polisi duduk dengan ekspresi serius. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja, kebiasaan yang dia lakukan setiap kali merasa tertekan.Di hadapannya, sepasang suami istri yang berduka duduk dengan ekspresi penuh emosi.Mereka adalah orang tua Marco.Ibu Marco masih menangis, sedangkan ayahnya berusaha menahan amarah."Sekarang, katakan lagi ... siapa yang membunuh anak Anda?" tanya sang perwira, meskipun dia sebenarnya sudah tahu jawabannya."Lucas," jawab ayah Marco dengan suara tegas. "Lucas Jordan!"Suasana di ruangan itu seketika berubah mencekam.Sang perwira membeku. Dia menelan ludah, lalu menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan ini.Lucas Jordan?The Obsidian Blade?Pria yang bahkan para mafia pun enggan berurusan dengannya?Sang perwira
Gigio menatap mata putranya dalam-dalam, mencoba membaca pikiran yang tersembunyi di balik tatapan tajam itu.Dia melihat sesuatu yang berbahaya. Api dendam yang masih membara di mata Dario Gigio menarik napas panjang, lalu berbicara dengan suara tenang tetapi tegas.“Dario,” kata Gigio. “aku bisa melihatnya di matamu. Kamu masih menyimpan dendam terhadap Lucas.”Dario mengepalkan tangannya di atas selimut, tetapi dia tetap diam.“Aku tahu ini sulit diterima,” lanjut Gigio. “tapi jangan bertindak bodoh. Aku sudah mengorbankan banyak hal untuk menjaga posisi kita, dan Lucas adalah alasan kenapa keluarga Moratta seperti ini sekarang.”Dario menoleh tajam. “Apa maksud Ayah?”Gigio mendengus pelan, lalu duduk di kursi dekat ranjang Dario.“Kamu tahu siapa yang menyembuhkan Viviana?” tanyanya.Dario terdiam.“Bukan hanya itu. Dia juga yang membuat Ayah bisa menjadi Ketua Serikat Dagang,” lanjut Gigio.Dario menarik napas dalam-dalam. Dia sadar akan hal itu. Namun saat ini, sangat sulit un
Moretti dan Diego saling bertukar pandang, tatapan mereka penuh kecemasan yang tidak bisa mereka sembunyikan.Pertanyaan Moretti tadi masih menggantung di udara.Apakah Matteo benar-benar menyerah?Lucas menatap mereka dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu akhirnya berkata, “Aku membiarkan Matteo pergi.”Moretti terkejut. “Apa? Kenapa?”Diego ikut menatap Lucas dengan bingung. “Kenapa tidak menghabisinya sekalian, Ketua?”Lucas mendesah pelan, lalu menatap mereka dengan dingin.Diego sadar akan kesalahannya. Lalu cepat-cepat dia berkata, “Maaf Ketua, bukan maksudku untuk mengatur.”“Aku berharap dia bisa memperbaiki diri,” jawab Lucas akhirnya. “aku ingin memberinya kesempatan untuk berubah.”Moretti terdiam, mencoba mencerna kata-kata itu.Lucas orang yang dikenal murah hati. Namun dia juga sangat tegas.Jadi fakta bahwa dia membiarkan musuh sekuat Matteo pergi, membuatnya sedikit sulit mempercayainya.“Tapi Ketua,” kata Moretti akhirnya. “bagaimana kalau dia kembali dengan dendam
Kesunyian yang melingkupi ruangan itu begitu mencekam. Aura kekuasaan Raja Verdansk terasa semakin menekan setiap detik yang berlalu.Dari singgasananya yang megah, sang raja menatap tajam ke arah dua pria yang berdiri di hadapannya. Tatapannya tidak menunjukkan emosi, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuat John dan Matteo merasa seakan mereka sedang dihakimi.Bagi Raja Verdansk, pertemuan seperti ini adalah sesuatu yang membuang waktu. Dia tidak suka berbasa-basi, tidak tertarik mendengarkan keluhan orang lain. Tetapi, setelah mendengar laporan bahwa Matteo telah berusaha tujuh kali untuk menemuinya, rasa penasarannya sedikit terusik.Lagi pula, yang diketahui olehnya, Matteo bukan orang sembarangan. Dia adalah ketua Serikat Dagang, organisasi paling berpengaruh di Kota Verdansk dan menjadi salah satu lumbung pendapatannya.Namun, yang membuat Raja Verdansk akhirnya memutuskan untuk menerima pertemuan ini bukanlah karena kesetiaan Matteo, melainkan untuk memahami kenapa
Luki duduk dengan santai di ruang tamu, senyum tipis terukir di wajahnya. Dia baru saja mendapat kabar dari Matteo yang membuatnya senang dan penuh semangat.Di tangannya masih ada gelas berisi anggur merah. Dia menggoyangkannya perlahan, matanya menatap cairan itu dengan penuh antisipasi.Langkah kaki terdengar dari arah pintu masuk.Ashton baru saja pulang kerja, jasnya masih rapi, tetapi ekspresinya terlihat lelah. Begitu dia melihat Luki duduk dengan ekspresi mencurigakan, alisnya langsung terangkat.“Ada apa? Kenapa senyum-senyum seperti itu?” tanya Ashton sambil melepas jasnya dan menggantungnya di sandaran sofa.Luki meneguk sedikit anggurnya sebelum menjawab, “Kak, sesuatu yang hebat akan segera terjadi.”Ashton mengernyit. Dia tidak menyukai cara bicara Luki yang penuh misteri.“Apa maksudmu?” tanya Ashton.Luki tersenyum lebih lebar. “Balas dendam akan segera terlaksana.”Ashton langsung menegang. Pikirannya langsung tertuju pada satu nama.“Balas dendam kepada Lucas?” tanya
Lucas tetap berjongkok di balik semak-semak, matanya tidak pernah lepas dari istana mewah itu. Lampu-lampu temaram di sekeliling gedung menciptakan bayangan panjang yang bergerak pelan mengikuti tiupan angin malam.Di sebelahnya, Sam mulai gelisah. “Jadi … kita cuma akan diam di sini?” bisiknya.Lucas tidak menjawab. Pertanyaan itu telah ditanyakan oleh Sam sebelumya, jadi Lucas tidak perlu lagi untuk menjawab karena membuang-buang energi saja.Lucas masih mengamati setiap detail pergerakan di depan vila. Dia terpikir untuk mengambil beberapa foto dan video sebagai bukti.Namun saat ponselnya dikeluarkan, ada panggilan suara masuk. Tidak ada suara dan tidak ada getaran karena memang Lucas mengatur ponselnya agar sunyi. Dia tidak ingin ada gangguan saat sedang mengawasi Matteo dan John.Di layar ponselnya nama Troy terpampang di sana. Lucas mendesah pelan. Troy sudah meneleponnya sepuluh kali. Tanpa ragu, Lucas akhirnya menerima panggilan itu.‘Apa yang terjadi, The Obsidian Blade? Ke
Di balik bayangan pepohonan, Lucas tetap berjongkok dengan tenang. Matanya fokus pada vila besar di depan mereka, sementara di sampingnya, seorang pemuda bernama Samuel tampak gelisah.Samuel, atau yang biasa dipanggil Sam, masih tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dia hanya seorang pengendara motor biasa yang tiba-tiba diseret ke dalam situasi ini.Sam menelan ludah, lalu berbisik, “Hei, kita sudah sampai di sini. Sekarang bisa jelaskan, kenapa kita mengikuti orang itu?”Lucas tetap diam, matanya tidak berkedip sedikit pun.Sam melirik Lucas dengan ragu. “Dengar, aku memang butuh uang, tapi aku tidak mau terlibat dalam sesuatu yang berbahaya. Kamu bahkan belum memberitahuku siapa pria yang kita ikuti.”Lucas akhirnya menoleh ke arah Sam, sorot matanya tajam dan dingin. Aura berbahaya keluar dari tubuhnya begitu saja, membuat Sam langsung merasa tidak nyaman.Jantung pemuda itu berdetak lebih cepat. Seolah-olah dia baru saja menantang seekor harimau di tengah hutan.“Ad
Pada awalnya Lucas ingin membiarkan Matteo pergi. Namun dia juga mengingat lagi tentang keresahan hatinya tentang Lucas bebepaa hati yang lalu.Lucas menatap jalanan yang macet dengan rahang mengeras. Matteo sudah menghilang dari pandangan mereka, dan itu membuat nalurinya berteriak.“Baiklah Troy. Kejar dia!” perintah Lucas dengan suara tegas.Troy tersenyum. Inilah yang diinginkan olehnya. Yaitu menghukum Matteo dengan keras.Tanpa membuang waktu, Troy pun langsung menginjak pedal gas, mencoba menyalip kendaraan di depannya.Awalnya dia cukup mulus untuk melewati mobil-mobil di depannya meski sedang padat. Namun pada akhirnya, kondisi jalanan tidak berpihak kepada mereka. Lalu lintas menjadi semakin pada sehingga tidak ada ruang untuk menyalip lagi.Terdengar klakson kendaraan bersahutan, menciptakan kekacauan di jalan utama kota Verdansk.Troy mengumpat pelan. “Sial. Mobilnya tidak terlihat lagi.”Lucas menyipitkan matanya, berusaha mencari tanda-tanda keberadaan Matteo. Dia tahu b
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Di dalam kantornya, Matias membaca pesan dari Randy dengan ekspresi serius. Dia langsung menghubungi rekannya itu via panggilan suara.‘Apa maksudmu dengan ‘orang ini berbahaya’?’ tanya Matias tanpa basa-basi begitu Randy menjawab panggilan suaranya.Di seberang telepon, Randy mendesah. ‘Dia bukan orang yang bisa kita kendalikan. Dia dingin, profesional, dan tidak tertarik dengan tawaran apa pun. Hal ini terlihat jelas saat dia berkunjung ke divisiku.’Matias mengernyit. ‘Jadi kita tidak bisa melobinya? Atau hanya belum tahu saja celahnya?‘Sepertinya akan sulit,’ jawab Randy. ‘aku sudah mencoba mengajaknya makan malam untuk mengenalnya lebih jauh, tapi dia langsung menolak dengan tegas seperti dia tahu apa rencanaku. Dia bukan tipe yang bisa dijebak dengan cara biasa.’Matias menyandarkan tubuhnya ke kursi, berpikir dengan keras.‘Hmmm … jalau begitu, kita harus tahu apa yang membuatnya bergerak,’ kata Matias akhirnya. ‘aku akan mencari tahu berapa gaji dan bonus yang dia dapat setia
Suasana di ruang rapat BQuality Group begitu tegang. Mata-mata penuh kecurigaan tertuju pada pria yang berdiri di depan ruangan, Nero. Dengan jas hitam rapi dan postur tegap, dia memancarkan aura otoritas yang sulit diabaikan.Jack Will melangkah maju, mengedarkan pandangan tajam ke setiap orang di ruangan. Dia tahu kehadiran Nero akan menimbulkan reaksi, terutama dari orang-orang yang selama ini merasa aman dalam permainan mereka sendiri."Posisi ini," kata Jack Will dengan suara tenang namun tegas, "dibentuk untuk menjamin transparansi dan integritas dalam perusahaan kita. Kita tidak bisa membiarkan ada celah bagi siapa pun untuk memperkaya diri dengan cara yang kotor."Ucapan itu seperti tamparan bagi beberapa orang di ruangan, terutama Randy dan Matias. Mereka tidak bereaksi secara langsung, tetapi rahang mereka mengeras.Jelas bagi mereka, keputusan ini adalah langkah untuk menjegal mereka. Sesuatu yang sangat tidak membuat mereka nyaman.Jack Will melanjutkan, "Sebagai Head of B
Angeline cemas jika Lucas melakukan sesuatu yang jauh. Semenjak Lucas memiliki sasana Brotherhood, Angeline cemas jika Lucas akan melakukan kekerasan fisik kepada orang yang tidak disukai.Lucas menatap Angeline, matanya berkilat tajam. “Aku ingin Randy dan Matias kapok dan tidak bermain-main lagi.”Angeline menghela napas panjang. Dia tahu Lucas tidak akan tinggal diam setelah mendengar ancaman itu. Tetapi dia juga tidak ingin segalanya menjadi semakin runyam.“Kumohon, Lucas.” Angeline menatapnya serius. “jangan main kekerasan. Aku tidak mau membuat masalah ini semakin besar. Aku juga tidak mau berurusan dengan polisi.”Lucas mendengus kecil, menatap Angeline dengan ekspresi tenang namun berbahaya. “Aku tahu bagaimana cara menangani mereka. Percayalah, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa menyeretmu ke dalam masalah.”Angeline tetap menatapnya, berusaha mencari kebenaran dalam kata-katanya. Lucas memang licin. Dia tidak akan bertindak tanpa perhitungan. Namun tetap saja, ini t