Share

43 : AB - Refuse

Author: Eunmon
last update Last Updated: 2023-01-16 22:15:27

Manhattan, USA | 08.46 AM

“Mari kita akhiri semua kebohongan ini.” Suara bariton itu terdengar jelas di telinga Zara, membuat perempuan itu memandang laki-laki di depannya dengan tatapan penuh protes.

“Apa maksudmu Sean?” tanya Zara bingung.

Sean menyandarkan tubuhnya menatap Zara dengan tatapan datarnya. “Aku akan membersihkan namamu atas scandal itu. Aku tahu kau yang paling dirugikan atas scandal itu, sedangkan Liam tampak acuh terkesan tidak peduli karena dia hanya menganggapmu sebagai yang kedua, tidak lebih.”

Zara diam, menunduk dengan jari-jari tangan saling bertautan. Ini adalah bumerang yang dia dapatkan karena di masa lalu yang terlalu keras menahan Liam agar tidak pergi darinya, dan sejak hubungan Liam berakhir dengan Katherine. Ke esokan harinya Zara yang ditinggalkan oleh Liam. Miris memang.

Dua tahun setelahnya Zara mendapat laporan tentang hubungan gelapnya bersama Liam yang tentunya akan mengguncang kariernya sebagai model. Dari situ Zara meminta bantuan kepada Sean
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   44 : A - Amberlane's Family

    Madrid, Spain | 09.16 AMDi hari weekend Sean masih berada di Madrid, tujuannya hari ini adalah mengunjungi orang tua Kate yang sudah dia janjikan kepada Kate. Sebelum pulang ke Manhattan Sean berencana untuk menemui orang tua Kate, bukan untuk melamar karena itu belum waktunya. Mungkin untuk sekadar mengopi sambil berbincang mengenai masa depan. Selama lima hari ini Sean menginap di hotel yang dekat dengan perusahaan Amberlane, saat jam kantor berakhir dia mengunjungi Kate untuk pergi ke berbagai tempat yang belum dia kunjungi di sini. “Aku baru tahu jika Sean menyukai hal berbau kebohongan semata, atau sebut saja settingan.” Kata-kata itu keluar dari mulut Ken saat ketiganya melakukan panggilan video untuk membahas pekerjaan yang diselangi dengan mengobrol singkat yang berujung panjang lebar. “Mungkin ini adalah cara Sean untuk berusaha mendapatkan pujaan hatinya yaitu dengan mempermainkan hati yang lain. Setelah berhasil, Zara didepak begitu saja seolah tidak pernah ada yang ter

    Last Updated : 2023-01-17
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   44 : B - William's Family

    Mansion William’s, Manhattan, USA | 20.12 PM Setelah berdebat dari minggu sebelumnya, Sean berhasil mengajak Kate untuk ikut bersamanya pulang ke Manhattan. Sebenarnya Sean bukan tipe orang yang suka buru-buru mengenai sebuah hubungan. Hanya saja tahu sendiri kan Angeline sang ibu tidak sabar ingin dikenalkan dengan Kate secara resmi. Dan di sinilah mereka berdua berada sekarang, di depan mansion keluarga William yang berdiri dengan gagah. Kate dapat bertaruh kalau mansionnya di Madrid pun kalah besar. Jika mau membandingkan dengan kekayaan keluarga William, dirinya kalah begitu jauh. Tapi ini bukan waktunya untuk membandingkan. “Jadi, apakah kau akan berdiam berdiri terus di dalam sana darling?” Sean memanggil Kate yang masih berdiam diri di dalam mobil padahal pintunya sudah dibuka oleh pengawal dan Sean bersandar di bahu mobil sambil menatap sang kekasih. Kate terkekeh kecil kemudian keluar dari mobil ketika Sean mengulurkan tangannya. “Aku hanya terpesona dengan semua ke

    Last Updated : 2025-02-19
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   45 : A - Fly to Madrid

    Mansion William’s, Manhattan, USA | 07.04 AMGemercik suara hujan terdengar dari luar membuat suasana pagi ini menjadi lebih dingin dari biasanya. Kate mengeratkan pelukannya dengan nyaman, namun menit berikutnya dia menyadari adanya sebuah perbedaan dari yang biasanya dia peluk. Ada sebuah usapan halus di punggungnya sontak membuat Kate mengerjap pelan dan membuka matanya.Mendapati Sean sedang menatapnya dengan tatapan yang lembut membuat Kate sadar ternyata yang dia peluk semalaman adalah Sean Axel, kekasihnya. “Morning darling.” Itu adalah ucapan pertama yang keluar dari Sean disusul dengan sebuah kecupan ringan mengenai bibirnya.“Morning Axel,” balasnya dengan suara serak. “Sejak kapan kau bangun?” tanya Kate setelahnya.“Satu jam yang lalu. Aku sengaja bangun lebih awal agar bisa memandangi wajahmu yang cantik ini.” Sebelah tangan Sean bergerak untuk menggeser helai rambut agar tidak mengganggu penglihatannya.“Astaga kau ini, wajahku selalu jelek setiap bangun tidur.” Kate sem

    Last Updated : 2025-02-20
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   45 : B - Meet Again

    Hospital International, Madrid, Spain | 15.34 PMPukul setengah empat sore Sean sudah tiba di rumah sakit tempat Kate dirawat. Awalnya Kate tidak dibawa ke rumah sakit, namun ketika demamnya tidak kunjung turun membuatnya harus dibawa ke rumah sakit.Sean buru-buru bergegas ketika Samuel sudah menunggunya di lobby rumah sakit. Pemuda itu juga terlihat sangat khawatir dan yang Sean ketahui Samuel baru tiba di Madrid tadi pagi. Guratan letih itu terpancar dengan jelas di wajahnya.“Bagaimana keadaannya Sam?” tanya Sean langsung ketika mereka memasuki lift.“Kate terkena demam berdarah Sean, sepertinya itu karena beberapa waktu ini dia sering menghabiskan waktunya di gudang untuk ikut mengecek barang.” Samuel menjawab dengan sebuah gerutuan. Padahal waktu itu dia sudah melarang Kate untuk tidak ikut campur urusan gudang. Biarkan diurus oleh pegawai yang lain.Ya Sean tahu bagaimana watak dari kekasihnya. Selain susah untuk dikasih tahu, Kate juga tipe orang yang pekerja keras. Mungkin sa

    Last Updated : 2025-02-21
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   46 : A - Marry Me?

    Madrid, Spain | 21.43 PMMalam ini adalah malam di mana Sean akan melamar Kate secara resmi. Meskipun ajakannya terhadap Kate hanya makan malam romantis di atas yacht milik keluarganya. Logo William Group terpajang dengan jelas, siapa pun yang melihatnya pasti langsung menyadari kalau pemiliknya adalah milyader New York.Angin di atas yacht tentu terasa dingin namun menenangkan, yacht yang mereka tumpangi berada di tengah-tengah laut Spanyol. Di sini lah mereka berdua, duduk di kursi beserta meja yang sudah disediakan oleh pelayan sebelumnya.Tempat ini sudah didekorasi sedemikian rupa agar menambah kesan romantis. Sean memandang Kate yang terlihat sangat cantik dengan balutan gaun hitamnya y

    Last Updated : 2025-02-22
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   46 : B - Long Time no See

    Barcelona, Spain | 14.09 PMMusik klasik dalam sebuah kafe bernuansa metalik menjadi tema yang dapat memikat khalayak umum. Tempat yang dijadikan sebagai bertemu dengan Maria adalah kafe ini, Kate mengajak Maria ke sini karena tempat ini selalu lewat di time line media sosialnya. Dua minggu setelah lamaran Sean hari itu, kedua keluarga belah pihak sedang sibuk mengurus acara pernikahan mereka berdua. Sedangkan gaun untuk acaranya diatur oleh Maria. “Sudah siap untuk meninggalkan Spanyol, Mrs. William’s?” Maria bertanya dengan nada yang terdengar geli. Maria sudah dapat memastikan sejak awal kalau pada akhirnya mereka akan berakhir bersama. Maria tahu cinta seorang Sean Axel William itu tidaklah main-main, dan pemicu awalnya hanyalah Katherine manusia plin-plan saat itu. “Sangat siap Mar, aku tidak memiliki alasan untuk tidak siap.” Jawaban Kate terdengar sangat lugas. Tidak ada lagi yang harus Kate ragukan mengenai hubungannya dengan Sean. Semuanya sudah membuat dia sangat yakin

    Last Updated : 2025-02-22
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   47 : A - Bad Days

    William Group, Manhattan, USA | 20.23 PMSuasana kantor William Group sudah lebih sepi, para pekerja sudah pulang lebih dahulu sejak pukul enam sore hari. Hanya ada beberapa yang bertugas mengerjakan lembur harian, tentunya malam ini pun Sean sebagai pimpinan ikut bergabung.Kendala yang sedang William Group alami saat ini adalah gedung apartemen di Chicago yang baru beroperasi sekitar dua bulan itu mengalami kebakaran. Untungnya tidak ada korban jiwa, mungkin ada beberapa orang yang mengalami luka ringan.Penyebab kebakaran itu berasal dari gudang yang menyebar ke dapur dan ke ruangan lainnya. Siang tadi Sean sudah melakukan rapat koordinasi untuk perencanaan renovasi serta menghitung beberapa kerugian akibat dari kebakaran itu.Lebih memilih untuk fokus dengan pekerjaan adalah hal yang Sean lakukan saat ini. Mengabaikan beberapa panggilan tidak terjawab dari kekasihnya sedari tadi. Saat ini Sean merasa sedikit jengkel ketika mendengar pertemuan Kate dengan mantan kekasih perempuan i

    Last Updated : 2025-02-25
  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   48 : Gala Premier

    Mansion Amberlane, Madrid, Spain | 09.23 AM Hal pertama yang dilakukan oleh Kate ketika pagi menyapa adalah merapikan barang bawaannya. Tepatnya hari ini dia akan mengunjungi Sean ke Manhattan, meskipun semalam Sean sudah memaafkannya perihal dia bertemu dengan Liam. Kate tahu Sean takut dia kembali bersama Liam, apalagi kebersamaannya dengan Liam bisa dikatakan sangat lama. Namun saat ini hatinya sudah di isi oleh Sean, apa yang pernah dilalui bersama Liam itu memang kenangan indah. Tetapi tidak untuk diulang. “Dasar manusia sedang kasmaran, tidak bisakah kau menunggu Sean saja yang ke mari Kate?” Samuel menyeletuk setelah duduk di ranjang Kate. Laki-laki itu menatap sang kakak yang sedang jatuh cinta level max sepertinya. Kate berdecak, “Diamlah Muel, kau tidak akan paham jika kau tidak merasakannya.” Samuel lantas tertawa kecil, tidak pernah mengira sebelumnya kalau hubungan orang dewasa begitu rumit namun menyenangkan. Setelah apa yang dilakukan oleh Liam di masa lalu, Kate berhas

    Last Updated : 2025-03-18

Latest chapter

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   Pelabuhan Akhir Sang Pewaris

    POV Katherine MargarethaHal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya adalah menua bersama seseorang yang kau cintai dan kau kasihi dengan sepenuh hati, seseorang yang mampu mengubah hidupmu menjadi lebih indah dari sekadar angan-angan yang samar di ujung pikiran. Sean Axel William, pria yang kini menjadi suamiku, telah berhasil menjadikanku perempuan paling beruntung di dunia ini. Dengan kesabaran yang tak pernah goyah, usaha yang tulus dalam setiap langkahnya, dan cinta yang dia tunjukkan melalui tindakan-tindakan kecil yang penuh makna, dia mampu menyentuh diriku dari berbagai sudut yang bahkan aku sendiri tidak pernah sadari sebelumnya. Ada saat-saat ketika aku bertanya pada diriku sendiri, bagaimana mungkin seorang pria seperti Sean—dengan segala kelebihan yang dimilikinya, dengan ketegasan dan kelembutan yang berdampingan—memilih untuk mencurahkan hatinya sepenuhnya kepadaku? Namun, jawaban itu selalu sama: cinta sejati tidak memerlukan alasan yang rumit, hanya ketulusan untuk

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   57 : Gamaliel Nicholas William

    Hospital International, Manhattan, USA | 18.45 PMTiga bulan kemudian, di sebuah rumah sakit besar di pusat New York, suasana ruang bersalin dipenuhi ketegangan sekaligus harapan yang membumbung tinggi di antara dinding-dinding putih steril yang mencerminkan cahaya lampu neon terang. Ruangan itu luas namun terasa sesak oleh emosi yang bergolak, dengan aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan suara monitor detak jantung bayi yang berdengung pelan di latar belakang. Ritme cepat dan teratur dari monitor itu menjadi pengingat bahwa kehidupan baru sedang berjuang untuk hadir ke dunia, sebuah suara yang sekaligus menenangkan dan menegangkan. Kate terbaring di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat pasi namun penuh tekad, rambut cokelatnya yang basah oleh keringat menempel di dahi dan pipinya, membingkai wajahnya yang lelah. Kontraksi datang bertubi-tubi seperti gelombang yang tak kenal lelah, membuatnya menggenggam tangan Sean dengan kekuatan yang mengejutkan untuk tubuhnya

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   56 : Pregnancy

    William’s Mansion, Manhattan, USA | 07.21 AMPagi itu, sinar matahari lembut menyelinap melalui celah-celah tirai beludru tebal yang menghiasi jendela besar kamar tidur utama di kediaman Sean dan Kate, sebuah rumah mewah bergaya modern yang berdiri di pusat kota dengan pemandangan taman hijau yang luas. Cahaya keemasan itu memantul di lantai marmer putih mengilap, menciptakan pola-pola halus yang menari-nari di sekitar ranjang besar berkanopi kayu mahoni tempat Kate duduk. Dia mengenakan gaun katun longgar berwarna putih yang lembut, kainnya mengalir lembut menutupi perutnya yang kini membuncit di usia kehamilan lima bulan. Beberapa bantal tambahan disusun di punggungnya, memberikan sedikit kenyamanan pada tubuhnya yang terasa semakin berat setiap hari. Udara pagi membawa aroma kopi yang baru diseduh oleh pelayan dari dapur di lantai bawah, bercampur dengan hembusan angin sejuk yang menyelinap melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa serta wangi samar bunga mawar dari taman. Kate

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   55 : Family Reunion

    Mansion William’s, Manhattan, USA | 20.54 PMMalam itu, kediaman keluarga Sean di kawasan pinggiran kota dipenuhi kehangatan yang khas dari reuni keluarga. Rumah besar bergaya Victorian itu berdiri megah dengan dinding bata merah dan jendela-jendela lengkung yang dikelilingi taman kecil penuh bunga mawar. Ruang makan di dalamnya luas, dengan meja kayu mahoni panjang yang sudah berusia puluhan tahun, permukaannya dipoles hingga mengilap. Lampu gantung antik dari kuningan dan kristal bergoyang pelan di langit-langit, menyebarkan cahaya kuning keemasan yang lembut ke seluruh ruangan. Aroma daging panggang yang baru keluar dari oven bercampur dengan wangi kentang tumbuk dan sayuran segar, menciptakan suasana yang menggugah selera sekaligus nostalgia. Angeline sibuk mengatur hidangan di atas meja dan dibantu oleh beberapa pelayan. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu mengenakan gaun biru tua yang sederhana namun elegan, rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi. Mark duduk di ujung m

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   54 : Maria And James

    Manhattan, USA | 09.12 PMPagi itu, sebuah kafe kecil di pinggir kota menjadi saksi pertemuan Maria dan James. Bangunan sederhana dari kayu dengan jendela-jendela besar itu berdiri di tepi jalan yang sepi, dikelilingi pepohonan maple yang daunnya mulai menguning di awal musim gugur. Di dalam, aroma kopi panggang dan roti bakar mengisi udara, bercampur dengan suara mesin espresso yang berdengung pelan di belakang konter. Meja kayu kecil di sudut ruangan, tempat Maria dan James duduk berhadapan, tampak sederhana dengan dua cangkir kopi yang mulai mendingin dan beberapa remah roti di piring kecil. Cahaya pagi yang masuk melalui jendela menyinari wajah mereka, namun suasana di antara keduanya terasa jauh dari hangat. Maria duduk dengan tangan bertopang di dagu, matanya yang cokelat tua menatap James dengan campuran harap dan frustrasi yang sulit disembunyikan. Rambutnya yang hitam panjang tergerai di bahunya, sedikit berantakan karena dia berkali-kali mengusapnya dengan gelisah. Dia menge

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   53 : Meeting

    William Group’s, Manhattan, USA | 08.00 AMPagi itu, pukul delapan tepat, sinar matahari pagi menyelinap melalui jendela-jendela besar ruang rapat di lantai dua puluh gedung William Group, perkantoran modern yang menjulang di pusat kota. Cahaya keemasan itu memantul di permukaan kaca tempered yang menjadi dinding ruangan, menciptakan kilau lembut yang kontras dengan suasana tegang di dalam. Meja konferensi panjang dari kayu walnut mengilap mendominasi ruang, dikelilingi kursi-kursi kulit hitam yang ergonomis, tempat duduk para karyawan senior perusahaan. Aroma kopi yang baru diseduh menguar dari mesin espresso di sudut, bercampur dengan suara lembut kertas-kertas yang dibolak-balik dan ketukan pelan jari di tablet digital. Sean, direktur operasional berusia tiga puluh empat tahun yang baru menikah tiga bulan lalu, duduk di ujung meja, posisinya mencerminkan otoritas yang telah dia bangun selama bertahun-tahun di perusahaan ini. Sean mengenakan setelan abu-abu gelap dengan potongan sem

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   52 : Liam Xaviendra Side

    Xaviendra’ Penthouse, Brooklyn, USA | 01.45 AM Malam itu, setelah meninggalkan pesta pernikahan megah Sean Axel William dan Katherine Margaretha, Liam Xaviendra kembali ke penthouse barunya di Brooklyn. Ruangan itu terasa dingin dan sepi, hanya diterangi lampu meja kecil di sudut yang memancarkan cahaya kuning redup. Liam duduk di sofa tua kesayangannya, setelan abu-abu yang dia kenakan di pesta masih melekat di tubuhnya, namun dasinya telah dilepaskan, tergeletak sembarangan di lantai. Di tangannya, dia memegang segelas wiski, memutar-mutar cairan itu sambil menatap kosong ke arah jendela. Pemandangan kota New York yang biasanya memukau kini terasa hampa baginya. Bayangan Kate dalam gaun pengantin putih terus menghantui pikirannya. Senyum bahagia Kate saat menari dengan Sean, tatapan penuh cinta yang dia berikan pada suaminya, semua itu menusuk hati Liam seperti pisau. Dia tahu, dia tak punya hak atas apa pun lagi. Dua tahun lalu, dia menghancurkan hubungan mereka dengan perselingkuh

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   51 : I Love You More

    Mature content!William’s Mansion, Manhattan, USA | 01.02 AM Malam setelah pesta pernikahan megah, Sean Axel William dan Katherine Margaretha, kini suami-istri, tiba di mansion mewah Sean di Upper East Side, New York, pada pukul satu dini hari. Bangunan bergaya klasik itu telah disulap menjadi tempat istimewa untuk malam pertama mereka. Lampu-lampu redup menerangi fasad luar, sementara di dalam, kelopak mawar merah bertebaran di lantai kayu mengilap, membentuk jalur menuju kamar tidur utama. Lilin-lilin kecil berkelip di sepanjang lorong, memancarkan cahaya hangat yang berpadu dengan aroma lavender dan vanila, menciptakan suasana intim yang memabukkan. Jendela besar di kamar memperlihatkan gemerlap kota New York, menjadi latar sempurna untuk malam yang penuh cinta. Sean membuka pintu depan, tangannya menggenggam tangan Kate dengan erat. Kate, yang telah berganti dari gaun pengantinnya ke gaun satin putih sederhana, melangkah masuk, matanya membelalak kagum. Kelopak mawar membentuk jal

  • Pelabuhan Akhir Sang Pewaris   50 : Wedding Party

    Malam ini dalam sebuah gedung megah di kota metropolitan Manhattan, New York City berkilau di bawah lampu kota yang tak pernah padam, saat pesta pernikahan Sean Axel William dan Katherine Margaretha berlangsung megah di ballroom The Plaza Hotel. Ruangan itu bagaikan istana modern, dengan chandelier kristal raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya ke meja-meja berbalut linen putih yang dihiasi rangkaian mawar putih, peony, dan aksen emas. Sean, pewaris William Group, tampak gagah dalam tuksedo hitam beraksen emas. Sementara Kate memukau dalam gaun pengantin berenda halus yang dirancang khusus, memancarkan aura anggun dan memikat. Di luar, media massa berdesakan, kamera berkedip tanpa henti, mencatat momen dengan tagline malam itu: "Sang Pewaris William Group Menemukan Cinta Sejatinya." Ballroom dipenuhi ratusan tamu dari kalangan elit, suara gelas sampanye berdenting bercampur dengan tawa dan obrolan ringan. Orkestra klasik memainkan melodi lembut di sudut ruangan, seme

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status