Saat subuh, perahu merapat ke tepian sungai yang berbentuk seperti pantai. Christopher dan Morgan menambatkan perahu agar tidak terseret arus ketika yang lain mulai menurunkan barang dan logistik setenang mungkin. Rombongan menyempatkan sarapan di sekitar kapal sebelum melanjutkan perjalanan. Memanfaatkan satu-satunya kesempatan yang mungkin mereka dapatkan selama di hutan ini. Menyalakan api. Menggunakan persediaan parafin mereka, Christopher menyalakan beberapa parafin yang ditumpuk dan membntuk beberapa tungku buatan di tanah. Setelah puas menikmati sarapan yang mengenyangkan, sekarang saatnya mereka berjalan menembus hutan langsung ke tempat tinggal Suku Kuno Urarina berdasar petunjuk peta dan kompas. Sebelum benar-benar memasuki hutan, Moise Kampe mengumpulkan semua anggota rombongan di tengah dan mulai berbicara, “Pertama-tama, kami bisa sangat berbahaya bagi orang-orang asli pedalaman, ketika berada dekat dengan mereka," ujarnya. Semua mata menatap dan fokus kepada Kampe. H
Thwack!! Thwack!! Thwack!! Anak panah menembus angin, mengikuti tekad pemanah dan menghajar tanah di sekitar mereka. Anak panah yang menancap menyebarkan teror ke sekitarnya. Peringatan, agar mereka tidak melangkahkan kaki seincipun. Itu yang ditangkap Katon dan Morgan. “Morg, Stu, lindungi para wanita. Kampe, umumkan kedatangan kita!” desis Katon, berdiri tegak menutupi Ratih dan mengangkat kedua tangannya. Desert eagle, tergantung tak berguna di ibu jari tangan kiri, tepat di mana saputangan Lembaga Funai terikat di pergelangannya. Tanda menyerah sekaligus memamerkan atribut lembaga Funai. Morgan dan Stuart mengikuti gerakan Katon dan meletakkan badan mereka di depan Sarah dan Emily. Angota rombongan yang lain mengikuti gerakan mereka dengan wajah ketakutan saat Kampe beranjak ke arah Katon. Terdengar gemerisik dedaunan dan desir udara. Kampe yang terkejut, menghentikan langkahnya. Sesaat kemudian mereka telah dikepung oleh sekelompok pria dewasa yang hanya menutupi bagian pri
Mereka dibawa dengan tangan terikat akar kayu pohon yang kasar dan kaku. Dililitkan dari bahu, sepanjang lengan atas, melewati siku dan menyatukan pergelangan tangan di punggung. Sangat tidak nyaman dan menyakitkan. Karena akar kayu yang kasar menggesek dan melukai kulit mereka. Sarah dan Emily menangis ketakutan karena mereka melihat dengan mata kepala sendiri kematian Devon. Apalagi sekarang jenazah Devon dibawa bak membawa bangkai binatang. Ratih terus menundukkan kepala. Tetapi ia tidak menangis. Katon tahu itu. Meskipun ia tidak bisa melihat dengan jelas karena mereka terpisah, tetapi Katon tahu wanitanya tidak menangis. Setelah perjalanan yang melelahkan dan menyakitkan menembus hutan belantara. Pepohonan semakin jarang dan mereka tiba di ruang terbuka yang dikelilingi oleh banyak pohon-pohon besar. Ruang terbuka ini memiliki tanah yang lembab dan dingin. Ada setidaknya 10 rumah tersebar merata di ruang terbuka. Rumah-rumah sederhana yang terbuat dari balok kayu, akar tanaman
Matahari mulai muncul di ufuk timur dan sebentar lagi cahayanya akan menyentuh mereka. Katon bersyukur, setidaknya mereka memperoleh sedikit kehangatan. “Ratih baik-baik saja?” bisiknya pelan menatap ke belakang kepala Ratih. Gadis itu menoleh dan mengangguk. “Apa yang akan mereka lakukan, Mas? Membiarkan kita mati sendiri atau dibunuh seperti Devon?” Suara Ratih tergetar ketika mengatakan kalimat itu. “Tidak. Kita akan baik-baik saja. Kita sudah di tempat yang tepat, suku kuno Urarina. Kita hanya perlu bersabar menunggu. Kampe mungkin sedang bernegoisasi dengan mereka,” bisik Katon. “Ton, menurutmu Palmera masih hidup?” tanya Morgan yang telah beringsut mendekati Katon. “Masih. Karena jika tidak, kita sudah dibantai sekarang,” jawab Katon. “Palmera? Siapa?” tanya Ratih perlahan. “Prajurit yang kami selamatkan dari Suku Warao.” Ketika mereka berharap penderitaan mereka segera berakhir. Ternyata teror yang lebih mengerikan justru menerjang. Saat sinar matahari yang berwarna keem
Mata Katon berkedip berusaha mengenali pria di depannya. Sepanjang ingatannya, Palmera tidak segagah ini. Delapan tahun lalu, saat itu ia menyelamatkan prajurit yang kurus dan ketakutan. Bukan lelaki kekar dan berwibawa. Tetapi lelaki biru ini membawa benda pertukarannya. Jika dulu Palmera memberinya taring jaguar sebagai hadiah persahabatan. Katon membalasnya dengan memberi peluru desert eagle-nya. Satu-satunya benda yang terpikir saat itu karena benda itu seunik hadiah Palmera, bagi Palmera sendiri. Tentu prajurit suku kuno itu sangat senang karena ia tidak pernah melihat besi ditempa dan dibentuk sedemikian kecil tetapi presisi. “Ton, kalo kamu sudah selesai terpesona, bisa bilang ke temanmu supaya melepas ikatan kita? Tanganku kesemutan dan pantatku tidak lebih baik,” omel Stuart. “Palmera?” tanya Katon mengabaikan omelan konyol Stuart. {Palmera, Keton, Mogen. Senang bertemu dengan kalian lagi. Maafkan kondisinya, aku akan segera membebaskan kalian} Kata Palmera dalam bahasa k
“Anda ... warganegara Inggris?” tanya Katon takjub. Wanita itu tertawa pada Katon tetapi meluruk ke arah Palmera, memeluk dan mencium pipinya penuh cinta. Palmera menerima dengan penuh wibawa. Tidak membalas, hanya menahan punggung wanita itu dengan lengannya, agar dia tidak meluncur jatuh ke kakinya. {Palmera memberiku teman dari dunia luar?} tanyanya dalam bahasa kuno. Katon sekali lagi takjub sampai lupa mengendalikan mulutnya dan membiarkan menganga. Wanita Inggris ini begitu fasih bicara bahasa kuno. {Dia kawanku. Bukan hadiahmu, Bulan} jawab Palmera datar. {Oh. Kukira dia untukku} kata Bulan atau Omwezi dalam bahasa kuno. Ia turun dari pelukan Palmera sambil sedikit cemberut. {Lalu, apa yang harus aku lakukan?} Selama Bulan alias Omwezi berbicara dalam bahasa kuno, Katon yang cerdas segera menyimpulkan, Palmera bermaksud membantunya dan akan memakai Omwezi sebagai penerjemah di antara mereka. Katon sudah gelisah ingin meneriakkan permintaan tolong agar Ratih, Sarah dan Emily
Seketika Katon menyadari perbedaan wanita-wanita yang dikurung tadi dengan wanita-wanita Suku Urarina ketika ia memasuki pemukiman kemarin. Katon hendak mendebat Omwezi sambil meneriakkan kata “Tidak masuk akal!” tetapi rasanya bukan saat yang tepat. Dia, Ratih dan rombongannya yang berada di situasi rumit. “Yang kau bilang, kami mengesampingkan hak asasi manusia? Tidak sebenarnya. Setiap wanita yang ditawan diperbolehkan melawan prajurit yang menawannya untuk membebaskan diri. Atau, jika wanita yang ditawan tersebut memiliki pasangan dan pasangan sang wanita mengejar kemari, mereka diperbolehkan bertarung satu lawan satu dengan prajurit penawan untuk mendapatkan wanitanya kembali,” jelas Omwezi lagi. “Itu yang kau sebut membela hak asasi manusia?” cibir Katon. Omwezi alias Josephine Kay terkikik geli. “Kami bilang, kami memiliki norma sendiri yang tidak sama dengan norma di dunia modern, Katon.” “Bagaimana denganmu?” tanya Katon. “Aku?” “Ya. Bagaimana kau berakhir berpasangan d
Katon membeliak ke arah Ratih. Ia berusaha mengirimkan sinyal-sinyal keberatan. Tetapi Ratih malah fokus ke pintu kerangkeng yang sekarang akan dibuka oleh prajurit penjaganya yang masih sangat muda. Ratih turun dari kerangkeng tanpa dibantu dan berjalan menuju ke tengah lapangan. Dengan demikian, ia akan melewati Katon. Pria itu meraih lengan Ratih dan menarik wanitanya. Pipi kanan Ratih memar besar dan sudut bibirnya sobek. Bekas tamparan tangan Aizkora, menunjukkan betapa kuat dan sadisnya pria itu. “Enggak, Neng! Aku yang akan melawan Aizkora!” desis Katon marah. Dari sisi lapangan yang lain, Aizkora meraung marah karena Katon memegang Ratih. “Ton, lepaskan tangan Ratih atau kau akan mendapat hukum adat!” Omwezi meneriakkan peringatan ke arah Katon. Tentu saja Katon bersiap mengabaikan peringatan itu. Tetapi tidak dengan Ratih. Ia mengibaskan tangannya sekuat mungkin agar lepas dari Katon. “Gantikan posisiku untuk Sarah dan Emily, Mas. Mereka tidak bisa bertarung.” Ratih berka
Acara pertunangan malam itu berlangsung meriah, penuh kehangatan dan kemewahan. Alunan musik jazz yang dimainkan secara live mengiringi setiap percakapan dan tawa yang bergaung di sepanjang taman villa. Di tengah-tengah taman, Rosalind dan Morgan berdiri sebagai pusat perhatian. Mereka berdua tampak bahagia. Bersama menyambut tamu-tamu yang datang dari berbagai belahan dunia. Saling memperkenalkan anggota keluarga, dan sesekali berbagi canda bersama para tamu yang mendekati mereka. Sebuah panggung kecil dengan latar belakang laut dan langit yang berhiaskan bintang menambah kesan romantis malam itu. Di atas panggung, band jazz memainkan lagu-lagu klasik yang mengiringi tamu-tamu saat mereka berdansa di lantai dansa yang dibentuk dari marmer putih berkilau. Para pelayan dengan seragam hitam-putih elegan bergerak luwes membawa nampan-nampan berisi minuman anggur terbaik, koktail tropis, dan mocktail segar untuk dinikmati oleh tamu. Hidangan yang disajikan sangat bervariasi, mulai d
Suasana berbeda tampak di sebuah villa megah di Riviera Maya yang berdiri anggun di atas tebing, langsung menghadap Laut Karibia. Dikelilingi oleh pohon-pohon palem tinggi dan taman tropis yang rimbun, villa bergaya arsitektur kolonial modern dengan dinding putih bertekstur, pilar-pilar marmer, dan balkon-balkon melengkung yang langsung menghadap pemandangan laut tak terbatas. Tambahan tampak mencolok dengan lampu-lampu pesta, untaian bunga dan hiasan khas sebuah pertunangan mewah, dilengkapi dengan karpet merah yang menyambut setiap tamu yang hadir. Katon, yang belakangan ini sibuk dengan tanggung jawabnya di New York, tidak ikut mengurus pesta pertunangan adik dan sahabatnya dan hanya hadir bersama Ratih sebagai tamu undangan. Ia baru saja turun dari limousine, mengancingkan jas sambil mengedarkan pandangan ke atas, tempat villa menjulang dengan indah, sesaat kemudian, ia ulurkan tangan ke arah limousine yang terbuka dan membimbing sang istri keluar dari sana. Bersama, dalam ke
Ratih menelengkan kepala, balas menatap suaminya, “Tujuan orang menikah memang biasanya untuk memiliki keturunan, Mas. Kecuali dari awal sudah bersepakat untuk child free.” Wanita itu diam sejenak untuk mengenali ekspresi suaminya. Saat Katon juga diam, Ratih melanjutkan kalimatnya. “Aku, tidak mau hamil selama ini karena enggan kuliah dengan perut besar. Aktifitas kampus tidak cocok untukku yang berbadan dua walau untuk sebagian orang lain mungkin tidak masalah. Sekarang, saat tidak ada lagi tuntutan kuliah, aku siap saja jika harus hamil. Mas Katon tidak ingin memiliki anak?” “Bagaimana kalau anak kita membawa genku, Ratih?” tanya Katon galau. Ratih menatap wajah suaminya yang tampan, jarang sekali wajah ini terlihat kalut. Tetapi sekarang Ratih melihat, Katon juga bisa rapuh. Ia merengkuh wajah suaminya, memberikan senyum paling tulus untuk menguatkan. “Maka anak kita akan seperti papanya. Kuat, ganteng, dan mampu menghadapi apapun.” Katon mendesah sebal, memutar matanya ke at
Columbia University of New York sedang menunjukkan kesibukan luar biasa. Saat ini mereka sedang dalam masa Commencement week. Yaitu, minggu-minggu menjelang wisuda dilangsungkan. Upacara wisuda di Columbia University berlangsung dengan berbagai acara selama Commencement Week. Dimulai dengan setiap sekolah di bawah Columbia university menyelenggarakan upacara Class Day masing-masing, di mana nama setiap lulusan dipanggil, memberi kesempatan untuk momen yang lebih personal. Beberapa acara lain juga diselenggarakan, seperti Baccalaureate Service—upacara lintas agama yang melibatkan musik, doa, dan refleksi multikultural untuk merayakan pencapaian lulusan sarjana dari Columbia College dan Barnard College, serta sekolah-sekolah lainnya di bidang teknik dan sains. Tradisi unik lainnya adalah penyanyian lagu Alma Mater Columbia oleh seluruh komunitas, sebagai simbol kebersamaan dan perpisahan. Columbia juga memberikan University Medals for Excellence kepada individu yang berprestasi dan m
Sebagai bisnis fashion yang menyasar level menengah ke bawah, Starlight Threads berlokasi strategis di Harlem, 214 West 125th Street, Suite 2A. Ke sanalah Katon membawa istrinya. Pagi Sabtu yang cerah menyelimuti Harlem. Matahari menyorot dari celah-celah gedung perkantoran yang sederhana tetapi berkarakter di kawasan ini. Katon membimbingnya dengan tangan yang mantap menuju bangunan tiga lantai di ujung jalan, sebuah gedung dengan dinding bata merah yang terlihat kokoh namun tidak berlebihan. Di balik kaca jendela yang lebar di lantai dua, papan nama kecil berwarna emas dengan tulisan elegan “Starlight Threads” menggantung, menandakan kegunaan bangunan ini. Ratih memperhatikan detail itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Meskipun sederhana, bangunan itu memiliki daya tarik tersendiri. Tangga menuju lantai atas diselimuti perabot industrial yang chic, dekorasi modern berpadu dengan sisa-sisa gaya klasik yang membuat tempat itu berkesan unik. Studio ini bukan hanya sekadar toko
Katon sangat terkejut dan spontan melepaskan pelukan wanita tersebut. Katon menangkap kedua bahu wanita berbaju merah dan mendorongnya menjauh. Ia tidak memiliki keinginan melihat, siapa gerangan wanita itu. Ia lebih khawatir kepada istrinya, Katon menoleh ke arah Ratih dan mendapati wajah istrinya berubah menjadi penuh amarah dan kekecewaan. “Katon, apa kabar?” tanya Alice manis, ia tak mengindahkan Katon yang berusaha lepas dari pelukannya, mendorongnya menjauh. Bagi Alice, bertemu Katon adalah keberuntungan luar biasa. Pria ini pernah dekat dengannya, menolongnya, memberikan uang perlindungan yang tidak sedikit dan berkat Katon pula, ia selamat bahkan sekarang menjadi bagian dari wanita sukses di Manhattan. Alice Wellington. Dari bukan siapa-siapa menjadi bintang berkat Katon. Uang pemberian Katon ia manfaatkan untuk kuliah dan membuka usaha. Kini, Alice Wellington adalah pemilik Starlight Threads sebuah startup fashion yang memadukan gaya modern dengan sentuhan klasik, mengkh
Ratih dan Katon telah kembali ke New York. Segera, mereka disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Katon segera memimpin Growth Earth Company yang berada di Park Avenue. Pertikaiannya dengan Satria entah bagaimana menjadi perang dingin. Mungkin campur tangan Arini yang membuat Satria tidak datang menghukum langsung putera sulungnya. Yang Katon tahu, beberapa bulan ini papanya sibuk dengan kantor Growth Earth Company yang ada di Canada. Membuat Rosalind sibuk dengan Growth Earth Company yang berpusat di Jakarta. Hampir keteteran dengan bisnis skincare-nya sendiri. “Gak pengen pulang, Mas? Pegang GEC Jakarta dan kendalikan New York dari sini.” Rosalind saat menghubungi Katon melalui panggilan telepon sekedar bertukar kabar. “Tidak, terima kasih. Ratih sedang menyelesaikan tugas akhir. Dia harus fokus di sini. Masa kutinggal. Enak saja!” Rosalind menghela napas. “Kenapa , sih? Glowing Beauty-mu kan sudah jalan?” Katon memastikan kepada adiknya. Glowing Beauty ada di bawah Growth E
Pagi pertama mereka di Maldives dimulai dengan keajaiban pemandangan matahari terbit dari bungalow di atas air yang langsung menghadap laut. Katon, yang sudah bangun lebih dulu, menyiapkan sarapan di teras pribadi mereka. Hidangan lokal seperti mas huni, campuran tuna segar dengan kelapa yang wangi, tersaji di meja bersama kopi hangat yang mengepul. Angin laut meniup lembut, menyelimuti mereka dalam suasana pagi yang sejuk dan menyegarkan. Ratih tersenyum sambil menatap jauh ke horizon, di mana matahari mulai naik perlahan, mewarnai langit dengan semburat oranye keemasan. Ia telah duduk di teras, emnikmati layanan Katon, sebagai ganti layanannya semalam. "Mas," katanya sambil mengambil seteguk kopi, "aku pengen seperti ini bisa kita bagi bersama semua keluarga, suatu hari nanti." Katon menoleh, menatapnya dengan mata bertanya. "Maksudmu, liburan besar bersama mereka di tempat seperti ini?" Ratih mengangguk. "Ya, bukankah indah rasanya kalau semua orang bisa berkumpul di sini? Mam
Di dalam kamar tidur mereka, di bungalow mewah yang mengapung di atas perairan Maldives, Katon dan Ratih tengah menikmati malam pertama bulan madu yang tertunda. Malam itu, kamar tidur mereka terisi oleh suasana yang sempurna. Dinding kaca besar di depan tempat tidur menampakkan hamparan laut lepas berwarna biru pekat, dihiasi kilauan bintang dan rembulan yang menggantung anggun di langit. Suara ombak yang lembut menjadi irama pengantar yang menenangkan, membawa mereka ke dalam dunia penuh keintiman dan keheningan yang hanya mereka berdua miliki. Di lantai kamar, lilin-lilin aromaterapi tersebar. Masing-masing memiliki pendar kecil yang hangat, mengisi ruangan dengan aroma melati dan kayu manis lembut. Cahaya lilin yang berpendar-pendar membuat bayangan hangat di sekitarnya, mempertegas lantai kayu di sekitar lilin dengan kilaunya. Semilir angin laut masuk melalui celah balkon, membelai lembut rambut Ratih yang tergerai di pundak hingga punggung. Wanita itu sedang berada di atas