Home / Pendekar / PEDANG NAGA LANGIT / Bab 48: Pilihan yang Sulit

Share

Bab 48: Pilihan yang Sulit

Author: Andi Iwa
last update Last Updated: 2025-03-24 08:20:35

Li Feng menatap Nona Lan dengan mata terbelalak. Pengungkapan tentang kutukan Pedang Naga Langit mengguncang hatinya. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, sementara pikirannya berputar mencari jawaban.

"Apa yang harus kulakukan sekarang?" tanyanya dengan suara bergetar.

Nona Lan menghela napas panjang. "Li Feng, pilihan ada di tanganmu. Kau bisa membuang pedang itu dan menjalani hidup biasa, atau menerimanya sepenuhnya dan menghadapi konsekuensinya.

Li Feng terdiam. Bayangan ibunya yang sakit di desa Ping An muncul di benaknya. Ia merantau ke ibu kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik, namun takdir membawanya ke jalan yang penuh bahaya.

"Jika aku meninggalkan pedang ini, apakah kutukannya akan hilang?" tanyanya.

Nona Lan mengangguk. "Ya, tetapi kau juga akan kehilangan kekuatan yang telah kau peroleh. Kau akan kembali menjadi Li Feng yang dulu, seorang pemuda desa biasa.

Li Feng menata
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 49 - Kaisar Memberikan Keputusan

    Li Feng berdiri di tengah aula istana yang megah, diapit oleh Panglima Wei dan beberapa pejabat tinggi. Udara terasa berat, seakan beban takdir menekan pundaknya. Pedang Naga Langit terselip di pinggangnya, masih berselimutkan aura dingin yang seakan berbisik di telinganya. Kaisar duduk di singgasananya, tatapan tajamnya menusuk Li Feng seperti pisau yang tak terlihat. Para menteri dan jenderal yang hadir di ruangan itu juga menatapnya dengan berbagai ekspresi—ada yang kagum, ada yang iri, dan ada yang menyimpan niat tersembunyi. "Li Feng," suara Kaisar bergema di seluruh ruangan, membawa ketegangan yang sulit dijelaskan. "Kau telah membuktikan keberanian dan kemampuanmu dalam medan perang. Namun, banyak yang meragukan apakah seorang pemuda dari desa miskin layak menduduki jabatan tinggi di militer." Li Feng mengepalkan tangannya. Ia sudah menduga hal ini. Kekaisaran dipenuhi oleh orang-orang yang tidak ingin melihat seseorang seperti dirinya naik ke atas. "Tidak hanya itu," Ka

    Last Updated : 2025-03-25
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 50: Awal Turnamen yang Berdarah

    Malam itu, saat Li Feng tertidur lelap di kamarnya, bayangan hitam melompat masuk melalui jendela tanpa suara. Belati tajamnya terhunus, mengarah tepat ke leher Li Feng yang terlelap. Namun, tepat sebelum belati itu menyentuh kulitnya, mata Li Feng terbuka lebar. Dengan refleks kilat, ia menggulingkan tubuhnya ke samping, menghindari serangan mematikan itu. "Siapa kau?!" seru Li Feng sambil melompat bangun, matanya menatap tajam ke arah penyerang. Bayangan itu tidak menjawab, hanya melangkah maju dengan gerakan lincah, menyerang kembali dengan kecepatan yang menakjubkan. Li Feng menghunus pedangnya yang terletak di samping tempat tidur, menangkis serangan demi serangan dalam kegelapan malam. Pertarungan sengit terjadi di dalam kamar sempit itu. Kedua belah pihak menunjukkan keahlian bela diri yang tinggi. Li Feng merasakan bahwa lawannya bukanlah penyerang biasa; gerakannya terlatih dan mematikan. Tiba-tiba, penyerang melompat mundur, berdiri di dekat jendela. Cahaya bulan yang mas

    Last Updated : 2025-03-25
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 51 - Pertarungan Pertama dalam Turnamen

    Sebelum Li Feng sempat bereaksi, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Dari balik punggung Jenderal Zhao, sebuah senjata rahasia melesat menuju dadanya. Mata Li Feng membelalak. Jarum beracun! Refleksnya bekerja lebih cepat dari pikirannya. Dengan gerakan secepat kilat, ia memiringkan tubuhnya, nyaris menghindari serangan itu. Namun, satu jarum berhasil menggores bahunya, meninggalkan sensasi panas yang langsung menjalar ke seluruh tubuhnya. "Heh, kau pikir aku akan membiarkanmu menang begitu saja?" Jenderal Zhao menyeringai, tatapannya penuh kemenangan. Li Feng merasakan tubuhnya melemah seketika. Racun! Napasnya mulai tersengal, sementara keringat dingin membasahi pelipisnya. Namun, ia tidak bisa kalah sekarang. Tidak di hadapan begitu banyak orang yang menyaksikan pertarungan ini. Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menggenggam pedangnya lebih erat. Tatapan matanya masih tajam, meski tubuhnya mulai kehilangan kendali. Zhao mengangkat pedangnya tinggi, bersiap memberikan

    Last Updated : 2025-03-26
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 52 - Strategi dan Kelemahan

    Kelelahan dan Bayangan yang Mengintai Langit malam menampakkan sinar rembulan yang redup saat Li Feng berjalan tertatih kembali ke asramanya. Tubuhnya terasa berat, tidak hanya karena pertarungan sengit yang baru saja ia jalani, tetapi juga karena efek sisa racun yang masih mengendap dalam darahnya. Meskipun ia telah mengonsumsi penawar, sisa-sisa racun itu masih menimbulkan kelelahan dan sedikit rasa mual. Li Feng duduk di atas tikar jerami di dalam kamarnya. Cahaya lilin yang redup menari-nari di dinding, menciptakan bayangan yang bergerak seiring hembusan angin. Ia menatap tangannya. Telapak tangannya masih gemetar ringan, bukan karena ketakutan, tetapi karena tubuhnya masih dalam kondisi belum pulih sepenuhnya. Aku menang, tetapi aku tidak boleh lengah. Ini baru awal dari turnamen. Namun, satu hal yang lebih mengganggunya adalah perasaan tidak nyaman yang terus mengikutinya sejak ia meninggalkan arena. Ia merasa diawasi. Dengan cepat, ia menajamkan indranya, memperluas kesada

    Last Updated : 2025-03-26
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 53 - Musuh dari Masa Lalu

    Sorak-sorai penonton masih menggema di udara saat Li Feng berjalan keluar dari arena. Napasnya masih sedikit berat setelah pertarungan sengit melawan Wei Han. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perasaan tidak nyaman yang terus membayangi pikirannya.Ia tahu ada seseorang yang mengawasinya. Dan kali ini, ia semakin yakin bahwa orang itu bukan sekadar penonton biasa.Saat ia melewati lorong menuju asramanya, seorang pria bertubuh kekar dengan jubah coklat berdiri di ujung lorong, bersandar pada dinding dengan tangan terlipat. Matanya yang tajam menatap langsung ke arah Li Feng, seolah menunggu kedatangannya.Li Feng memperlambat langkahnya, tetap waspada.“Li Feng,” pria itu akhirnya berbicara, suaranya dalam dan penuh tekanan. “Kau masih ingat Kedai Tianxiang?”Mata Li Feng menyipit. Itu adalah nama sebuah kedai di kota kecil yang pernah ia kunjungi beberapa bulan lalu. Saat itu, ia terlibat perkelahian dengan seorang pendekar bayaran

    Last Updated : 2025-03-27
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 54 - Teknik Pedang yang Mematikan

    Li Feng berdiri di tengah arena, napasnya masih teratur meskipun tubuhnya sudah mulai merasakan kelelahan setelah melewati beberapa pertarungan sebelumnya. Lawannya kali ini bukan orang sembarangan—seorang pendekar terkenal dengan teknik pedang yang begitu cepat hingga nyaris tidak terlihat oleh mata biasa. Orang-orang yang berkumpul di sekitar arena bergumam, sebagian besar yakin bahwa kali ini Li Feng tidak akan mampu menang. “Li Feng benar-benar sudah di ujung tanduk. Lawannya kali ini adalah Bai Shen, pendekar yang pernah membunuh sepuluh orang dalam satu serangan,” bisik seorang pria berbaju biru di antara penonton. Bai Shen, lelaki bertubuh ramping dengan pakaian serba putih, tersenyum tipis. Pedangnya, yang tipis dan panjang, mengeluarkan suara berdengung saat digerakkan dengan kecepatan tinggi. “Kau telah membuat keajaiban, anak muda,” ucap Bai Shen dengan suara yang terdengar tenang, tetapi penuh tekanan. “Tapi di

    Last Updated : 2025-03-27
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 55 - Intrik di Balik Layar

    Sorakan membahana di arena. Ribuan pasang mata tertuju ke tengah gelanggang, tempat Li Feng berdiri dengan napas memburu. Keringat menetes di pelipisnya, sementara lawannya, seorang pendekar berbadan besar bernama Huang Jie, mengayunkan pedangnya dengan kekuatan luar biasa. Huang Jie bukan lawan sembarangan. Ia bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki pengalaman bertarung yang jauh lebih banyak dibandingkan Li Feng. Tapi bukan itu yang membuat Li Feng curiga. Ada sesuatu yang aneh dalam pertandingan ini—sesuatu yang tidak seharusnya terjadi. Di bangku kehormatan, Jenderal Zhao duduk dengan ekspresi dingin. Senyum samar tersungging di bibirnya saat melihat Li Feng berada dalam posisi sulit. Tak jauh dari sana, Kaisar memperhatikan pertandingan dengan tatapan tajam, seolah sedang menilai sesuatu yang lebih dari sekadar pertarungan. Li Feng menarik napas dalam, mencoba mengendalikan detak jantungnya. Ia tahu, jika ia tidak berhati

    Last Updated : 2025-03-28
  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 56 - Rahasia Putri Ling’er

    Hujan tipis mengguyur halaman belakang istana, menambah kesan muram pada malam yang semakin larut. Bayangan lentera berayun pelan, menyorot sosok seorang gadis berpakaian sutra merah dengan tudung menutupi kepalanya. Putri Ling’er melangkah hati-hati di antara koridor yang gelap, sesekali menoleh ke belakang memastikan tak ada yang mengikuti. Di sebuah sudut yang terlindung dari pandangan penjaga, seorang pria berdiri tegak dengan pedang tersarung di punggungnya. Matanya tajam mengamati sosok yang mendekat. “Putri Ling’er…” Li Feng menundukkan kepala dengan hormat. “Kenapa Anda memintaku datang ke tempat ini di tengah malam?” Ling’er menatapnya dengan ekspresi tegang, seakan ada beban berat yang ia pikul. “Li Feng, aku tak punya banyak waktu. Aku harus memberitahumu sesuatu yang sangat penting.” Li Feng mengernyit. “Tentang apa?” Putri Ling’er menarik napas dalam, suaranya bergetar. “Jenderal Zhao… Dia berenc

    Last Updated : 2025-03-28

Latest chapter

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 68 - Perjalanan ke Gunung Terlarang

    Malam di ibu kota terasa lebih sunyi dari biasanya. Li Feng berdiri di ambang jendela, memandang ke kejauhan dengan tatapan penuh tekad. Keputusan telah diambil—ia harus pergi dari sini sebelum musuh yang lebih kuat datang memburunya. "Xiao Lan, kau yakin tidak apa-apa jika aku pergi sekarang?" tanya Li Feng dengan suara yang sarat kekhawatiran. Xiao Lan yang terbaring di atas tempat tidur dengan perban di lengannya mengangguk pelan. "Aku lebih baik sekarang. Kau harus pergi sebelum mereka menemukan tempat ini." Li Feng mengepalkan tangannya. "Aku bersumpah, aku akan kembali dengan lebih kuat. Tidak ada yang bisa menginjak-injak kita lagi." Tanpa menunggu lebih lama, ia mengenakan jubah hitamnya dan memasukkan beberapa perbekalan ke dalam kantong kain. Xiao Lan menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Hati-hati di Gunung Terlarang, Li Feng. Banyak yang mengatakan tempat itu menyimpan lebih dari sekadar rahasia."

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 67 - Keputusan Meninggalkan Ibu Kota

    Malam terasa sunyi setelah pertarungan yang mengerikan itu berakhir. Cahaya bulan menerangi halaman kediaman Li Feng yang kini porak-poranda. Bau anyir darah masih memenuhi udara, dan mayat-mayat para penyerang tergeletak tak bernyawa. Namun, Li Feng tidak memedulikan itu semua. Matanya hanya tertuju pada satu hal—Xiao Lan yang terbaring lemah di pangkuannya. "Xiao Lan… bertahanlah!" Li Feng menggenggam tangan gadis itu erat. Napasnya memburu, bibirnya gemetar. Xiao Lan tersenyum tipis, meski wajahnya pucat pasi. "Aku baik-baik saja… jangan khawatir…" Kata-kata itu terdengar lemah dan hampir tidak terdengar. Luka di perutnya masih mengeluarkan darah. Li Feng tahu betul, jika ia tidak segera melakukan sesuatu, Xiao Lan akan kehilangan nyawanya. "Tidak! Kau tidak akan baik-baik saja jika terus seperti ini!" Li Feng menatap sekeliling, mencari seseorang yang bisa membantu. "Aldi! Cepat panggil tabib terbaik di ibu kota!"

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 66 - Xiao Lan Terluka

    Suara dentingan pedang dan jeritan pertempuran masih menggema di udara ketika Li Feng menghunus pedangnya dengan napas tersengal. Serangan mendadak para pembunuh bayaran membuat kediamannya hancur berantakan, tubuh-tubuh terkapar di halaman rumah, beberapa masih menggeliat dalam sekarat. Namun, tidak ada yang lebih membuat darahnya berdesir selain sosok yang tergeletak di depan matanya. “Xiao Lan!” Li Feng bergegas berlutut di samping gadis itu. Tubuhnya bersimbah darah, matanya setengah terpejam, dan napasnya lemah. Sebuah luka menganga di bahu kanannya, darah merembes tanpa henti, membasahi kain pakaiannya yang sudah kotor oleh debu dan tanah. Tangannya gemetar saat menyentuh pipi gadis itu. “Bertahanlah, Xiao Lan. Aku akan menyelamatkanmu.” Xiao Lan tersenyum samar, matanya mencoba menatap Li Feng meski kelopak matanya terasa begitu berat. “Kau... kau baik-baik saja, Li Feng?” suaranya lemah, hampir tak terdengar di teng

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 65 - Serangan di Kediaman Li Feng

    Malam itu, udara ibu kota terasa lebih dingin dari biasanya. Angin bertiup pelan, membawa bisikan samar dari lorong-lorong gelap yang berkelok di antara bangunan-bangunan besar. Kediaman Li Feng, yang terletak di tepi distrik bangsawan, tampak sepi. Lampu-lampu minyak di halaman depan berkedip tertiup angin, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di dinding batu. Li Feng duduk di ruang utama, wajahnya tegang. Ia masih mengingat dengan jelas momen di istana ketika ia menolak perintah Kaisar. Sebuah keputusan yang bisa dianggap sebagai penghinaan besar bagi kekaisaran. Namun, hatinya berkata bahwa itu adalah pilihan yang benar. Ia tidak ingin terjebak dalam permainan politik yang hanya akan menyeretnya ke dalam jurang kehancuran. Xiao Lan, yang sejak tadi diam di sampingnya, akhirnya angkat bicara, "Tuan Muda, Anda terlihat cemas. Apakah Anda menyesal?" Li Feng menggeleng pelan. "Bukan menyesal, tetapi aku tahu bahwa penolakanku tadi past

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 64 - Penolakan yang Berbahaya

    Angin malam berembus pelan di istana kekaisaran, membawa aroma dupa yang masih menyala di sudut aula utama. Li Feng berdiri tegak di hadapan Kaisar, matanya penuh keteguhan. Di sekelilingnya, para pejabat tinggi dan jenderal terkemuka memperhatikannya dengan ekspresi beragam—ada yang penasaran, ada yang khawatir, dan ada pula yang jelas-jelas mengharapkan kehancurannya. Kaisar sendiri tampak tenang, wajahnya sulit terbaca. Di tangannya, cawan emas berisi anggur merah berkilauan di bawah cahaya lentera. Tawaran yang baru saja ia lontarkan masih menggantung di udara, menunggu jawaban dari Li Feng. "Yang Mulia," Li Feng membuka suara, nadanya penuh hormat, namun tak ada sedikit pun keraguan di dalamnya. "Saya menghargai anugerah yang diberikan kepada saya, tetapi saya harus menolak tawaran ini." Ruangan mendadak hening. Beberapa pejabat terkejut, beberapa lainnya menahan napas. Jenderal Zhao yang berdiri di sisi kanan Kaisar menyeringai tipi

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 63 - Tawaran Beracun dari Kaisar

    Langit ibu kota tampak kelabu saat Li Feng berjalan melewati gerbang istana. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, seakan mencerminkan suasana hatinya yang tengah dipenuhi kegelisahan. Ia dipanggil oleh Kaisar secara mendadak, sebuah kejadian yang jarang terjadi kecuali ada hal penting yang harus dibahas. Di sepanjang koridor istana, para kasim dan pelayan menundukkan kepala saat ia lewat, tetapi Li Feng dapat merasakan tatapan-tatapan tersembunyi di antara mereka. Bisik-bisik lirih terdengar di kejauhan, tetapi ia mengabaikannya. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang akan ia hadapi di hadapan Kaisar. Ketika akhirnya ia tiba di Balairung Naga Emas, dua prajurit penjaga membuka pintu besar itu. Di dalamnya, sang Kaisar duduk di atas singgasana megahnya, mengenakan jubah kuning keemasan yang memancarkan kewibawaan. Di sebelahnya, Jenderal Zhao berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Mata mereka bertemu sejenak, dan dalam tata

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 62 - Jenderal Zhao Mulai Bertindak

    Kegelapan menyelimuti ibu kota ketika Jenderal Zhao berdiri di balkon kediamannya, menatap bulan yang separuh tertutup awan. Malam itu, pikirannya dipenuhi rencana untuk menyingkirkan Li Feng. Ia telah menunggu terlalu lama, dan kini saatnya bertindak sebelum pemuda itu semakin berkuasa. Di dalam ruangan, beberapa pejabat berpangkat tinggi telah berkumpul. Mereka adalah orang-orang yang setia kepada Jenderal Zhao, mereka yang merasa terancam dengan kehadiran Li Feng yang semakin dekat dengan Kaisar. “Kita tidak bisa lagi menunggu,” kata Jenderal Zhao dengan suara rendah, tetapi penuh ketegasan. “Li Feng harus disingkirkan sebelum ia memiliki pengaruh lebih besar di istana.” Seorang pejabat tua, Menteri Lu, mengangguk. “Kaisar tampaknya semakin mempercayai bocah itu. Jika ia diberi kekuasaan lebih, kita semua dalam bahaya.” “Bagaimana rencana kita?” tanya seorang jenderal lain, alisnya berkerut. Jenderal Zhao

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 61 - Kemenangan yang Tidak Diduga

    Li Feng berdiri dengan pedang di tangannya, tubuhnya bergetar hebat. Rasa sakit menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya, seolah-olah ribuan jarum menusuk kulitnya. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya. Sorak sorai para prajurit di sekelilingnya terdengar samar di telinganya. Kemenangan telah diraih, tetapi sesuatu yang mengerikan menggerogoti tubuhnya dari dalam. "Li Feng!" suara Panglima Wei menggema di tengah medan pertempuran yang telah reda. Ia berlari ke arah pemuda itu, ekspresinya penuh kekhawatiran. Li Feng membuka mulutnya, ingin mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba pandangannya mengabur. Lututnya melemas dan tubuhnya ambruk ke tanah. "Li Feng!" Para prajurit yang baru saja bersorak kini bergegas menghampiri pemimpin mereka yang jatuh tak sadarkan diri. Pedang Naga Langit yang ia genggam pun tergelincir dari tangannya dan tertanam di tanah berlumuran darah. Di dalam istana kekaisar

  • PEDANG NAGA LANGIT   Bab 60 – Duel yang Mengguncang Istana

    Angin malam berdesir dingin, membelai wajah para prajurit yang terpaku di tempat mereka. Kilauan perak Pedang Naga Langit memantulkan sinar bulan, menciptakan bayangan yang bergetar di tanah berdebu. Li Feng berdiri di tengah lingkaran pasukan Kekaisaran, dadanya naik turun, sementara matanya memerah, terperangkap dalam bisikan yang terus menghantui pikirannya. “BUNUH… HABISI MEREKA… TIDAK ADA YANG BISA DIPERCAYA…” Bisikan itu bergema di telinganya, mengiris kesadarannya dengan kejam. Jari-jarinya menggenggam gagang pedang dengan erat, tetapi lengannya bergetar seolah bertarung melawan dirinya sendiri. “Li Feng… jangan lakukan ini…” salah satu perwira pasukan Kekaisaran bersuara, suaranya dipenuhi ketakutan dan kebimbangan. Wu Tian, dengan senyum miringnya, melangkah maju. "Haha! Lihatlah! Pendekar besar Kekaisaran, sang pahlawan perang, kini berubah menjadi algojo bagi pasukannya sendiri!" serunya, suaranya bergema di anta

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status