Jeandra melajukan mobilnya perlahan, saat gerbang Pradipta Group tampak di hadapannya. Gedung berlantai sepuluh yang berdiri di tengah pusat bisnis itu, menjulang tinggi dengan struktur beton yang kokoh. Pintu gerbangnya dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berseragam hitam, menunjukkan bahwa tempat ini bukanlah perusahaan sembarangan. Ketika mobilnya mendekat, salah seorang petugas keamanan melangkah maju, mengangkat satu tangan untuk memberi isyarat agar Jeandra berhenti. "Selamat pagi, Nona. Siapa nama Anda dan ada keperluan apa?" tanya petugas itu. Buru-buru, Jeandra meraih kacamata tebal berbingkai hitam yang sudah ia siapkan sebelumnya. Sekali lagi, ia memastikan bahwa rambutnya tetap rapi dalam kuncir ekor kuda sederhana.Perlahan, ia menurunkan kaca jendela dan menampilkan senyumnya yang ramah. “Saya Jeandra. Kandidat sekretaris yang akan mengikuti wawancara hari ini.”Sambil berkata demikian, Jeandra menyerahkan kartu identitas yang telah dipersiapkan. Petugas ke
Sebelum Jeandra sempat menjawab, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah belakang. “Kenan, aku baru saja akan mencarimu.”Jeandra menoleh, dan menatap pria berkacamata dengan setelan jas hitam yang berdiri di dekat mereka. Ia menebak bahwa pria tersebut adalah Gavin, asisten Kenan yang akan mewawancarai dirinya sebentar lagi.Gavin tampak sedikit terkejut melihat Jeandra dan Kenan dalam jarak sedekat ini, tetapi ia segera menutupi ekspresi itu dengan profesionalisme. "Ah, Nona Jeandra. Anda sudah datang. Perkenalkan, saya Gavin," katanya dengan sopan, lalu melirik ke arah Kenan sejenak, seperti menunggu reaksi pria itu. Jeandra menelan ludah. Jadi ini benar-benar Kenan, CEO Pradipta Group, target utama dari misi pentingnya.Kenan pun mengalihkan pandangan dari Jeandra, lalu memandang Gavin dengan ekspresi yang sama dinginnya. "Pastikan dia benar-benar memenuhi kualifikasi," titahnya pendek, sebelum melangkah masuk ke lift.Jeandra tetap berdiri di tempatnya, menga
Jeandra berjalan dengan langkah tergesa menuju parkiran basement. Setibanya di mobil, ia membuka pintu dengan cepat lalu duduk di kursi pengemudi. Tangannya segera melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya, lalu mengurai rambut panjangnya ke bahu.Dengan terampil, Jeandra melepas ikatan rambutnya dan meraih sisir dari dalam tas. Setelah merapikan diri dan membenahi riasan di wajahnya, Jeandra menyalakan mesin dan melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan gedung Pradipta Group.Perjalanan menuju mansion terasa lebih panjang, mungkin karena ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang adik. Begitu gerbang mansion terbuka, Jeandra memarkirkan mobilnya lalu turun dengan langkah ringan. Tujuan utamanya adalah ke ruang makan, di mana aroma makanan yang lezat tercium dari kejauhan. Senyum Jeandra mengembang kala menangkap pemandangan yang begitu akrab—kedua orang tuanya, Jevandro, dan Rakyan yang sedang duduk mengitari meja makan.Tanpa berpikir panjang, Jeandra ber
Tak terasa, empat hari sudah berlalu sejak Liora pergi untuk menjalankan tugas mulia. Empat hari yang terasa begitu lama bagi Jevandro. Untung saja kepulangan Rakyan ke mansion, bisa sedikit mengisi kekosongan hari-harinya tanpa sang kekasih.Suasana masih begitu sunyi, ketika Jevandro terbangun oleh dering ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan mata masih setengah terpejam, ia meraih benda pipih itu, dan melihat nama yang tertera di layar—Liora. Seketika, rasa kantuk Jevandro lenyap. Senyum lelaki itu mengembang, semangatnya bangkit hanya dengan melihat nama calon istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menggeser layar untuk menerima panggilan. "Baby," sapa Jevandro dengan suara masih sedikit parau.Dari seberang, terdengar suara lembut Liora, seperti alunan melodi yang sudah lama ingin didengarnya. "Maaf, Sayang, aku mengganggu tidurmu sepagi ini. Aku hanya ingin memberitahu, kalau setengah jam lagi aku akan pulang ke kota Velmora.”Mata Jevandro sontak terbuka leba
"Terima kasih, Bu Marisa. Saya pasti bekerja semaksimal mungkin untuk perusahaan,” balas Serin tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Bisa terpilih di antara sekian banyak pelamar, adalah sebuah karunia yang patut ia syukuri. “Senin nanti, Anda harus membawa fotokopi KTP dan rekening bank atas nama Anda sendiri. Selain itu, datanglah dengan pakaian yang rapi dan profesional, rambut disanggul rapi ke atas, sesuai dengan standar penampilan dari staf call center Verdant Group.”"Baik, Bu. Saya akan menyiapkannya." Serin mengangguk, meskipun ia tahu lawan bicaranya tak bisa melihat.“Kalau begitu, selamat bergabung dengan Verdant Group. Saya tunggu kedatangan Anda Senin nanti.”Begitu panggilan berakhir, Serin menurunkan ponselnya perlahan, masih belum sepenuhnya percaya bahwa apa yang ia dengar adalah kenyataan. Ia diterima bekerja di perusahaan besar.Air mata haru mulai menggenang di sudut mata Serin. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dunia tak pernah berpihak padanya. Namun, har
Jevandro menoleh dengan gerakan lambat, tatapan matanya masih kosong. Suaranya bergetar ketika akhirnya satu kata terlontar dari bibirnya, begitu lirih tetapi penuh luka. "Liora.…”Hanya nama itu yang mampu ia ucapkan. Satu nama yang selama ini mengisi hatinya. Satu nama yang selalu ia bayangkan akan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Rakyan tertegun. Ia menunduk, mengambil ponsel Jevandro yang masih tergeletak di meja. Layar ponsel itu telah gelap, panggilan sudah terputus. Tanpa banyak berpikir, Rakyan mencari nomor terakhir yang baru saja menghubungi Jevandro, kemudian menghubungi nomor tersebut dengan ponselnya sendiri. Nada sambung terdengar beberapa kali, sebelum suara serak dan penuh kesedihan menyapa dari seberang. "Halo, siapa ini?”"Om Kenzo, saya Rakyan. Apa yang sebenarnya terjadi?" sapa Rakyan sedikit bergetar. Perasaannya dipenuhi oleh firasat buruk.Terdengar helaan napas berat di seberang sana. Ada jeda panjang, seolah kata-kata itu begitu sulit untuk diucapka
Seperti singa yang terluka, Jevandro menuju pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah masih menyala, pertanda bahwa prosedur sedang berlangsung. Namun, ia tidak peduli sama sekali.Dengan mata memerah dan napas terengah-engah, lelaki itu mengangkat tangan dan menggedor pintu dengan keras."Buka pintunya! Jangan sentuh, Liora!"Jevandro tidak ingin menerima kenyataan ini. Tidak sekarang, maupun selamanya. Amarah bercampur kesedihan membuat Jevandro lepas kendali. Ia mengangkat kakinya, mencoba menendang pintu operasi sekuat tenaga. Buru-buru, Rakyan menariknya ke belakang, menahannya supaya sang kakak tidak berbuat semakin nekat.“Sabar, Kak. Jangan seperti ini.”Namun, Jevandro tetap meronta-ronta. “Tidak boleh ada yang mengambil Liora dariku! Liora masih ….”Kalimatnya terputus oleh isakan. Tiba-tiba, Jevandro terhuyung dan jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi, dadanya naik turun, bahunya berguncang hebat. Melihat kondisi Jevandro, Kenzo bergegas mendekat. Ia men
Meski langit mulai gelap, Jevandro masih bersimpuh di depan makam Liora. Rasa kehilangan menekan dadanya begitu kuat, membuat lelaki itu sulit untuk bernapas. Butiran tanah yang terselip di jari-jarinya terasa nyata, mengingatkan Jevandro bahwa sang kekasih telah meninggalkan dunia fana. Rakyan dan Jeandra berjongkok di samping Jevandro, wajah mereka penuh iba. "Jevan," suara Jeandra lirih, hampir tak terdengar di antara suara desir angin. "Kita harus pulang." Jevandro tetap diam, matanya masih terpaku pada nisan di hadapannya, seakan berharap jika ia menatap cukup lama, keajaiban akan terjadi. "Kondisimu masih lemah, Kak," kali ini Rakyan yang berbicara. "Kakak harus istirahat." Jevandro menjawab dengan anggukan kepala. Ia tahu, tinggal di sini lebih lama pun tidak akan mengubah kenyataan. Dengan perlahan, ia menerima uluran tangan Jeandra yang menggenggam erat jemarinya, sementara Rakyan menopang bahunya dengan kokoh. Mereka bertiga berjalan meninggalkan area makam yang s
Tubuh Serin menegang. Ia tidak menyangka calon suami mendiang Liora akan semarah itu padanya. “A-aku tidak bermaksud melukai siapapun. Aku hanya menerima tawaran dari pihak yayasan,” jawab Serin. Suaranya melemah, nyaris seperti seorang anak yang tidak mengerti kenapa ia harus disalahkan atas sesuatu yang di luar kendalinya. “Aku mengerti, Serin. Tapi, pria itu sepertinya sedang kehilangan akal sehat.” Dara menegaskan, suaranya semakin cemas.Kemudian, gadis itu mencodongkan tubuh ke depan, supaya Serin bisa mendengar suaranya dengan lebih jelas. “Nanti saat penghilatanmu sudah pulih, kamu harus mengingat ciri-ciri pria itu. Dia berwajah tampan, bermata hazel, tingginya sekitar 180cm, dan penampilannya seperti eksekutif muda.”Serin mencoba membayangkan seseorang dengan ciri-ciri itu dalam benaknya. Namun, semuanya masih gelap. Yang terlintas di pikirannya, justru sosok seorang pria dewasa yang garang dan tak mengenal belas kasihan. “…dan kalau aku tidak salah dengar, namanya Jev
Meski langit mulai gelap, Jevandro masih bersimpuh di depan makam Liora. Rasa kehilangan menekan dadanya begitu kuat, membuat lelaki itu sulit untuk bernapas. Butiran tanah yang terselip di jari-jarinya terasa nyata, mengingatkan Jevandro bahwa sang kekasih telah meninggalkan dunia fana. Rakyan dan Jeandra berjongkok di samping Jevandro, wajah mereka penuh iba. "Jevan," suara Jeandra lirih, hampir tak terdengar di antara suara desir angin. "Kita harus pulang." Jevandro tetap diam, matanya masih terpaku pada nisan di hadapannya, seakan berharap jika ia menatap cukup lama, keajaiban akan terjadi. "Kondisimu masih lemah, Kak," kali ini Rakyan yang berbicara. "Kakak harus istirahat." Jevandro menjawab dengan anggukan kepala. Ia tahu, tinggal di sini lebih lama pun tidak akan mengubah kenyataan. Dengan perlahan, ia menerima uluran tangan Jeandra yang menggenggam erat jemarinya, sementara Rakyan menopang bahunya dengan kokoh. Mereka bertiga berjalan meninggalkan area makam yang s
Seperti singa yang terluka, Jevandro menuju pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Lampu merah masih menyala, pertanda bahwa prosedur sedang berlangsung. Namun, ia tidak peduli sama sekali.Dengan mata memerah dan napas terengah-engah, lelaki itu mengangkat tangan dan menggedor pintu dengan keras."Buka pintunya! Jangan sentuh, Liora!"Jevandro tidak ingin menerima kenyataan ini. Tidak sekarang, maupun selamanya. Amarah bercampur kesedihan membuat Jevandro lepas kendali. Ia mengangkat kakinya, mencoba menendang pintu operasi sekuat tenaga. Buru-buru, Rakyan menariknya ke belakang, menahannya supaya sang kakak tidak berbuat semakin nekat.“Sabar, Kak. Jangan seperti ini.”Namun, Jevandro tetap meronta-ronta. “Tidak boleh ada yang mengambil Liora dariku! Liora masih ….”Kalimatnya terputus oleh isakan. Tiba-tiba, Jevandro terhuyung dan jatuh berlutut di depan pintu ruang operasi, dadanya naik turun, bahunya berguncang hebat. Melihat kondisi Jevandro, Kenzo bergegas mendekat. Ia men
Jevandro menoleh dengan gerakan lambat, tatapan matanya masih kosong. Suaranya bergetar ketika akhirnya satu kata terlontar dari bibirnya, begitu lirih tetapi penuh luka. "Liora.…”Hanya nama itu yang mampu ia ucapkan. Satu nama yang selama ini mengisi hatinya. Satu nama yang selalu ia bayangkan akan menghabiskan sisa hidup bersamanya. Rakyan tertegun. Ia menunduk, mengambil ponsel Jevandro yang masih tergeletak di meja. Layar ponsel itu telah gelap, panggilan sudah terputus. Tanpa banyak berpikir, Rakyan mencari nomor terakhir yang baru saja menghubungi Jevandro, kemudian menghubungi nomor tersebut dengan ponselnya sendiri. Nada sambung terdengar beberapa kali, sebelum suara serak dan penuh kesedihan menyapa dari seberang. "Halo, siapa ini?”"Om Kenzo, saya Rakyan. Apa yang sebenarnya terjadi?" sapa Rakyan sedikit bergetar. Perasaannya dipenuhi oleh firasat buruk.Terdengar helaan napas berat di seberang sana. Ada jeda panjang, seolah kata-kata itu begitu sulit untuk diucapka
"Terima kasih, Bu Marisa. Saya pasti bekerja semaksimal mungkin untuk perusahaan,” balas Serin tak mampu menyembunyikan rasa bahagia. Bisa terpilih di antara sekian banyak pelamar, adalah sebuah karunia yang patut ia syukuri. “Senin nanti, Anda harus membawa fotokopi KTP dan rekening bank atas nama Anda sendiri. Selain itu, datanglah dengan pakaian yang rapi dan profesional, rambut disanggul rapi ke atas, sesuai dengan standar penampilan dari staf call center Verdant Group.”"Baik, Bu. Saya akan menyiapkannya." Serin mengangguk, meskipun ia tahu lawan bicaranya tak bisa melihat.“Kalau begitu, selamat bergabung dengan Verdant Group. Saya tunggu kedatangan Anda Senin nanti.”Begitu panggilan berakhir, Serin menurunkan ponselnya perlahan, masih belum sepenuhnya percaya bahwa apa yang ia dengar adalah kenyataan. Ia diterima bekerja di perusahaan besar.Air mata haru mulai menggenang di sudut mata Serin. Selama ini, ia selalu berpikir bahwa dunia tak pernah berpihak padanya. Namun, har
Tak terasa, empat hari sudah berlalu sejak Liora pergi untuk menjalankan tugas mulia. Empat hari yang terasa begitu lama bagi Jevandro. Untung saja kepulangan Rakyan ke mansion, bisa sedikit mengisi kekosongan hari-harinya tanpa sang kekasih.Suasana masih begitu sunyi, ketika Jevandro terbangun oleh dering ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dengan mata masih setengah terpejam, ia meraih benda pipih itu, dan melihat nama yang tertera di layar—Liora. Seketika, rasa kantuk Jevandro lenyap. Senyum lelaki itu mengembang, semangatnya bangkit hanya dengan melihat nama calon istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia segera menggeser layar untuk menerima panggilan. "Baby," sapa Jevandro dengan suara masih sedikit parau.Dari seberang, terdengar suara lembut Liora, seperti alunan melodi yang sudah lama ingin didengarnya. "Maaf, Sayang, aku mengganggu tidurmu sepagi ini. Aku hanya ingin memberitahu, kalau setengah jam lagi aku akan pulang ke kota Velmora.”Mata Jevandro sontak terbuka leba
Jeandra berjalan dengan langkah tergesa menuju parkiran basement. Setibanya di mobil, ia membuka pintu dengan cepat lalu duduk di kursi pengemudi. Tangannya segera melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di hidungnya, lalu mengurai rambut panjangnya ke bahu.Dengan terampil, Jeandra melepas ikatan rambutnya dan meraih sisir dari dalam tas. Setelah merapikan diri dan membenahi riasan di wajahnya, Jeandra menyalakan mesin dan melajukan kendaraan beroda empat itu meninggalkan gedung Pradipta Group.Perjalanan menuju mansion terasa lebih panjang, mungkin karena ia tidak sabar lagi untuk bertemu dengan sang adik. Begitu gerbang mansion terbuka, Jeandra memarkirkan mobilnya lalu turun dengan langkah ringan. Tujuan utamanya adalah ke ruang makan, di mana aroma makanan yang lezat tercium dari kejauhan. Senyum Jeandra mengembang kala menangkap pemandangan yang begitu akrab—kedua orang tuanya, Jevandro, dan Rakyan yang sedang duduk mengitari meja makan.Tanpa berpikir panjang, Jeandra ber
Sebelum Jeandra sempat menjawab, suara langkah kaki lain terdengar mendekat dari arah belakang. “Kenan, aku baru saja akan mencarimu.”Jeandra menoleh, dan menatap pria berkacamata dengan setelan jas hitam yang berdiri di dekat mereka. Ia menebak bahwa pria tersebut adalah Gavin, asisten Kenan yang akan mewawancarai dirinya sebentar lagi.Gavin tampak sedikit terkejut melihat Jeandra dan Kenan dalam jarak sedekat ini, tetapi ia segera menutupi ekspresi itu dengan profesionalisme. "Ah, Nona Jeandra. Anda sudah datang. Perkenalkan, saya Gavin," katanya dengan sopan, lalu melirik ke arah Kenan sejenak, seperti menunggu reaksi pria itu. Jeandra menelan ludah. Jadi ini benar-benar Kenan, CEO Pradipta Group, target utama dari misi pentingnya.Kenan pun mengalihkan pandangan dari Jeandra, lalu memandang Gavin dengan ekspresi yang sama dinginnya. "Pastikan dia benar-benar memenuhi kualifikasi," titahnya pendek, sebelum melangkah masuk ke lift.Jeandra tetap berdiri di tempatnya, menga
Jeandra melajukan mobilnya perlahan, saat gerbang Pradipta Group tampak di hadapannya. Gedung berlantai sepuluh yang berdiri di tengah pusat bisnis itu, menjulang tinggi dengan struktur beton yang kokoh. Pintu gerbangnya dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berseragam hitam, menunjukkan bahwa tempat ini bukanlah perusahaan sembarangan. Ketika mobilnya mendekat, salah seorang petugas keamanan melangkah maju, mengangkat satu tangan untuk memberi isyarat agar Jeandra berhenti. "Selamat pagi, Nona. Siapa nama Anda dan ada keperluan apa?" tanya petugas itu. Buru-buru, Jeandra meraih kacamata tebal berbingkai hitam yang sudah ia siapkan sebelumnya. Sekali lagi, ia memastikan bahwa rambutnya tetap rapi dalam kuncir ekor kuda sederhana.Perlahan, ia menurunkan kaca jendela dan menampilkan senyumnya yang ramah. “Saya Jeandra. Kandidat sekretaris yang akan mengikuti wawancara hari ini.”Sambil berkata demikian, Jeandra menyerahkan kartu identitas yang telah dipersiapkan. Petugas ke