Saga Mahesa, seorang CEO dari SM COMPANY yang berstatus duda dan memiliki kekayaan yang cukup membuat iri banyak orang.
Saga merupakan anak pertama dari pasangan Arya Mahesa dan Susanti. Sementara adiknya bernama Sinta Mayesa, adalah dokter OBGYN di rumah sakit yang dibangun keluarga mereka.Saga adalah satu-satunya penerus SM COMPANY, perusahaan yang sudah dibesarkan oleh papanya selama ini. Sebab tuan Arya sendiri saat ini memutuskan untuk pensiun dan menghabiskan waktunya di rumah bersama istrinya. Sinta sendiri enggan melanjutkan perusahaan papanya lantaran ia sudah memilii cita-cita tersendiri sejak kecil.Bermula sejak mereka masih bertatus sebagai pelajar SMP, Saga dan Diandra sudah memiliki hubungan yang dekat. Awalnya mereka hanya berteman biasa. Saga, Diandra, Kevin dan Rania memiliki ikatan persahabatan yang kuat. Namun, semua berubah setelah mereka lulus dan melanjutkan kejenjang SMA.Sejak saat itu, Saga dan Diandra sudah mulai menjalin hubungan asmara, bahkan hubungan mereka didukung oleh Rania dan Kevin.Awalnya, hubungan mereka baik-baik saja, bahkan terbilang sangat romantis membuat siapapun yang melihatnya iri.Namun, semuanya berakhir saat mereka lulus sekolah. Karena Saga harus kuliah di luar negeri, sementara Diandra memutuskan tak melanjutkan kuliah.Saat itu Saga menginginkan Diandra mengikutinya kuliah di luar negeri, karena dia yakin jika Diandra pasti bisa mendapatkan beasiswa jika mau mengajukannya. Selain itu, Rania dan Kevin juga akan berkuliah di tempat yang sama dengannya. Saga tak ingin Diandra hidup sendirian di Indonesia tanpa mereka.Akan tetapi, Diandra lebih memilih bekerja dari pada menuruti permintaan Saga. Bukan tanpa alasan, Diandra enggan menuruti Saga lantaran ia tak ingin berhutang budi terlalu banyak, juga karena ia ingin segera membantu ekonomi Ibu Panti tempat dirinya tumbuh dewasa.Karena perbedaan itu, akhirnya hubungan mereka berakhir, begitu juga dengan komunikasi di antara keduanya. Hubungan yang sudah berjalan tiga tahun lamanya harus kandas karena egonya masing-masing.Siapa sangka, jika Saga yang Diandra pikir sudah melupakannya ternyata diam-diam memperhatikannya dari jarak jauh.Saga sengaja mengirim orang untuk mengawasi Diandra dan membantu Wanita tercintanya apabila dalam kesulitan. Bahkan ketika Diandra sudah memiliki kekasih, Saga tetap mengawasinya. Ia tak ingin Wanita yang paling dicintainya terluka.Hingga suatu hari, orang suruhan Saga tiba-tiba memberikan laporan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.Diandra dikabarkan akan segera melangsungkan pernikahan bersama kekasihnya yang bernama Reza. Harapannya untuk bisa kembali merajuk kasih bersama Diandra telah hilang. Membuat ia frustasi dan pergi ke sebuah bar sendirian.Begitu banyak botol minuman yang ia habiskan membuat kesadarannya menurun. Bahkan Saga terus meracau memanggil-manggil nama Diandra. Petugas bartender yang melihat itu akhirnya memutuskan untuk menghubungi nomor yang ada di ponsel Saga.Rania yang tengah tidur merasa terusik oleh suara dering ponselnya. Melihat nama Saga yang tertera akhirnya ia memutuskan untuk segera mengankat telepon.Betapa terkejutnya Rania yang mendengar jika Saga tengah mabuk berat di bar yang bahkan belum pernah ia kunjungi. Tanpa pikir Panjang Rania segera meluncur ke lokasi yang sudah diberitahukan oleh petugas yang menghubunginya tadi.“Saga?” Rania sangat terkejut melihat Saga yang tengah mengamuk di sana.“Saga! Lo ngapain sih? Ayo kita pulang.” Rania hendak menarik paksa Saga keluar dari bar. Namun karena Saga yang terus memberontak membuat Rania kewalahan.“Diandra … Jangan tinggalin gue, Di! Lo gak boleh nikah sama dia! Cuma gue yang paling tulus sama lo, Di! Cuma gue Saga Mahesa!” teriak Saga.“Bagaimana jika kita antarkan teman Anda ke kamar saja? Kebetulan di sini menyediakan sewa kamar permalam,” ucap salah satu bartender menggunakan bahasa Inggris.“Baiklah. Tolong bantu saya membawanya,” ujar Rania.Dengan bantuan petugas bar, Rania membawa Saga ke sebuah kamar sewa di sana. Usai membaringkan Saga ke tempat tidur, petugas bar tadi langsung bergegas pergi meninggalkan Rania dan Saga berdua.“Gue tau lo lagi hancur, tapi jangan gini juga caranya. Nyusahin gue tau gak, lo!” ujar Rania.Saat Rania hendak membukakan sepatu Saga, tiba-tiba lelaki itu terbangun kembali dan meracau memanggil nama Diandra.“Dian, Diandra … Please jangan tinggalin gue! Gue cinta sama lo, Di. Gue sayang sama lo!” Saga terus meracau membuat Rania terdiam.“Lihat gue, Ga. Lihat gue sekali aja! Gue di sini sendirian cinta sama elo, tanpa pernah lo balas. Kenapa selalu Diandra yang ada di hati dan pikiran lo, Ga?” batin Rania sembari menatap Saga dengan mata yang berkaca-kaca.Saat Rania tengah melamun, ia dibuat terkejut oleh kelakuan Saga yang tiba-tiba menariknya hingga terjatuh di ranjang. Lelaki itu bahkan langsung menindih tubuh Rania karena mengira Rania adalah Diandra.“Lo gak boleh nikah sama siapapun selain gue! Lo harus jadi milik gue, Di!” Saga terus meracau.“Sadar, Ga! Ini gue Rania, bukan Diandra!” Rania terus memberontak Saga. Namun, hal itu malah membuat Saga semakin menggila.“Lo harus jadi milik gue! Gak ada yang boleh milikin lo, selain gue!” Saga mencium Rania dengan beringas karena mengira Rania adalah Diandra.“Lo bakal menyesal, Ga! Lo bakal menyesal udah ngelakuin ini sama gue,” ujar Rania sebelum mereka melakukan adegan panas semalaman penuh. Bertukar peluh dan saliva untuk yang pertama kalinya bagi mereka.Malam itupun menjadi malam yang panas di antara Saga dan Rania. Meski Rania sudah berusaha menolaknya, tapi karena Saga terus memaksa hingga akhirnya Wanita itu pun tak bisa berkutik lagi. Siapa sangka jika malam itu membuat keduanya harus terikat dalam sebuah hubungan erat.Rania terbukti mengandung hasil dari percintaan mereka di malam itu. Hal itu membuat Saga mau tak mau harus menikahi Rania guna mempertanggung jawabkan perbuatannya.Mereka menikah bertepatan dengan hari pernikahan Diandra dan Reza sekaligus tanggal pertama Saga dan Diandra menjalin hubungan beberapa tahun lalu. Saga sengaja memilih hari yang sama lantaran ia ingin mengenang momen indah itu dan mengubahnya menjadi kisah baru Bersama Rania, meski ia sendiri belum mencintainya.Rania sendiri tak merasa keberatan, karena ia juga sadar jika pernikahan mereka dilaksanakan karena keterpaksaan, bukan atas dasar cinta seperti layaknya pasangan pengantin baru lainnya.Meski terpaksa, Saga tak pernah memperlakukan Rania dengan kasar. Ia memperlakukan Rania layaknya istri sungguhan, meskipun mereka tak pernah melakukan hubungan badan lagi. Saga tetap memberikan nafkah dan memperhatikan Rania seperti saat mereka masih berteman dulu.Hubungan mereka berjalan dengan baik, tak pernah ada perseteruan di antara Saga dan Rania. Saga mulai mencoba menerima kehadiran Rania dan calon bayi mereka. Begitupun Rania yang tetap sabar menunggu Saga membuka hati untuknya.Hingga saatnya tiba waktu untuk Rania melakukan persalinan, sebuah tragedy buruk menimpa mereka saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.Mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan, hingga membuat keduanya terluka cukup parah.Saga mengalami patah tulang pada kaki dan lengan kirinya. Sementara Rania, Wanita malang itu mengalami pendarahan hingga harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan bayinya.Nahas, bagaikan bertukar nyawa dengan sang putri, Rania menghembuskan nafas terakhirnya sebelum melihat dan memeluk anak yang ia lahirkan. Ia meninggal usai membawa bayi cantik itu melihat indahnya dunia.“Kamu apa kabar?” tanya Diandra. “A-aku baik. Maaf, pertemuan kita harus diawali dengan keadaan kaya gini,” ucap Saga. Saat ini mereka tengah berada di ruangan hanya berdua, lantaran Bella dibawa Sinta ke ruangannya untuk istirahat. “Bukan masalah besar. Lagi pula aku gak kenapa-napa. Cuma luka sedikit yang sebentar lagi juga sembuh,” ujar Diandra sembari tersenyum. “Kamu gak pernah berubah, Di. Sejak dulu kamu selalu begitu, mempertahankan senyummu meski keadaanmu lagi gak baik-baik aja,” batin Saga menatap Diandra sendu. “Mana istri kamu? Kenapa kamu jagain Bella sendirian? Kamu udah kabarin dia kan keberadaanmu sekarang?” tanya Diandra mencoba mencairkan suasana. Saga yang mendengar itu seketika terdiam, berpikir jika mengatakan kebenaran sama saja akan mengungkit masa lalu. “Andai kamu tau, kalau Mama Bella sudah gak ada. Dan Mama Bella adalah teman kita dulu, apa kamu akan merasa kecewa dan dikhianati, Di?” batin Saga. “Ga?” panggil Diandra. “Mama Bella udah gak ada seja
Melihat Dandra yang terdiam, membuat Saga bertanya-tanya. Ia pun mengikuti arah pandang Diandra.“Kamu kenapa, Di? Ada masalah sama pemilik mobil itu?” tanya Saga.“Enggak, gak apa-apa,kok.” Jawab Diandra dengan memaksakan senyumnya.“Semoga Mama gak lihat kita berdua. Aku gak mau ada masalah lagi nantinya, apalagi sampai bawa-bawa orang lain.” batin Diandra.“Ayo aku bantu turun, atau kamu mau ikut kita pulang ke rumahku?” tanya Saga menggoda.“Makasih! Tapi rumahku masih nyaman untuk ditempati,”jawab Diandra ketus.“Cantik, Tante pulang dulu, ya. Ingat pesan Tante, jangan lari-lari di jalan lagi, ya.” Diandra menasehati Bella.“Makasih, Tante. Bella janji, Bella gak lari-lari lagi di jalan,” jawab Bella.“Ya udah, aku pulang dulu, kalau ada apa-apa kabarin aja ya,” pinta Saga yang hanya dijawab anggukan oleh Diandra.Setelah memastikan Saga dan Bella pergi, Diandra bergegas masuk ke dalam rumah dengan menggunakan tongkat yang diberikan Saga.Namun, baru saja ia membuka pintu, Diand
Saga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat dirinya tengah fokus menyetir, tiba-tiba Bella menunjukan benda yang tak asing di ingatannya.“Papa, ini dompet Tante Diandra ketinggalan,” ucap Bella sambal menunjukkan dompet berwarna pink di tangannya.Tentu saja Saga tak merasa asing dengan dompet itu, karena itu adalah dompet yang dia belikan saat dirinya masih menjalin hubungan dengan Diandra dulu.“Kamu dapat dari mana dompet ini, sayang?” tanya Saga sembari menepikan mobilnya..“Ada di bawah situ, Pa. Kita balikin sekarang yok, Pa. Pasti Tante Diandra lagi nyariin dompetnya,” ujar Bella.“Iya, sayang. Tapi ini beneran jatuh ‘kan? Bukan akal-akalan Bella biar bisa ketemu Tante lagi?” tanya Saga dengan mata menyipit. Pasalnya, saat Saga membantu Diandra turun ia tak melihat adanya dompet. Terlebih, ia cukup paham dengan tingkat kecerdasan anaknya yang banyak akal.“Hehe, maafin Bella, Pa. Tapi Bella masih pingin ketemu Tante. Nanti kita undang Tante Dian makan malam ya, Pa.”
“Tuan, Saga? Silahkan masuk, Anda mencari Diandra? Kebetulan Diandra ada di dalam,” ucap Danu gugup. “Papa! Kenapa malah di suruh masuk sih?! Dia selingkuhan Diandra loh, Pa. Perempuan ular itu udah selingkuh dibelakang Reza,” ucap Risa tanpa mengindahkan kode dari suaminya yang menyuruhnya diam. “Diam, Ma! Jangan sembarangan bicara! Tuan Saga ini salah satu kolega Papa dari perusahaan tempat Reza kerja. Beliau ini orang terpandang, jadi gak mungkin berbuat seperti itu,” ucap Danu. Mendengar itu, Risa pun terkejut. Bahkan wajahnya pucat pasi. Tak terkecuali Diandra yang juga sama terkejutnya. Ia tak menyangka jika Saga kini sehebat itu. Sebab dulu dirinya tak mengetahui jika Saga adalah anak pemilik perusahaan terbesar tempat suaminya bekerja. “Kenapa malah diam saja? Cepat minta maaf, Ma. Kamu mau anak kita di pecat dan perusahaan Papa yang kecil itu gulung tikar sebelum mencapai puncak jaya? Cepat minta maaf!” titah Danu pada istrinya. “Eh … Tu-tuan Saga, saya mohon maaf untuk k
“Maksudnya apa, Tuan?” tanya Risa gugup. Sebab ia takut terjebak lagi dengan ucapannya. “Bukankah Anda sendiri yang bilang, kalau saya Sugar Daddy, Diandra? Jadi, mulai sekarang saya turuti apa yang Anda katakann,” terang Saga. “Udah deh, Ga. Jangan makin ngawur ngomongnya. Buruan sana pulang, kasihan Bella nungguin kamu dari tadi. Udah sore, sebentar lagi suamiku pulang. Tolong jangan buat keributan dirumahku, Ga. Please,” pinta Diandra, “Oke, tapi sebelum itu simpan baik-baik kartu namaku. Kalau ada apa-apa, langsung hubungin aku,” ucap Saga. Setelah merasa urusannya dengan Diandra selesai, Saga bergegas kembali ke mobilnya. “Papa kok lama banget sih? Gimana, Pa? Tante Diandra mau gak makan malam di rumah kita?” tanya Bella tak sabar. “Sayang, Tante Bella minta maaf karena gak bisa nurutin permintaan Bella. Lagi pula, sekarang kan Tante masih sakit, jadi biarin Tante istirahat dulu ya,” ujar Saga. “Yah, ya udah deh gak apa-apa.” Karena hari sudah semakin sore, Saga memutuskan
“Ma, apa maksud Mama tadi di telepon? Siapa yang pulang sama Diandra? Laki-laki mana yang jadi selingkuhan Diandra, Ma?!” tanya Reza.Ya, begitu mendapat telepon dari Ibunya yang mengabarkan jika Diandra membuat onar dengan pulang diantar laki-laki lain, Reza langsung bergegas pulang.Reza sendiri tak mengerti, apa yang membuat ia begitu tak terima mendengar kabar itu. Yang pasti, Reza merasa tak ingin ada laki-laki lain yang mendekati istrinya.Egois memang, disaat dirinya dengan begitu nyamannya selingkuh dengan teman Diandra, ia juga tak terima jika istrinya didekati pria lain.“Istri kamu pulang diantar Bos kamu yang sombong itu, Za. Dia bahkan bikin Mama diancam sama Bos kamu itu. Dasar ganjen, pura-pura polos ternyata murahan. Dari dulu kan Mamam udah ilang, jangan nikahin dia. Benar ‘kan dugaan Mama, kalu ternyata istri kamu itu bukan perempuan baik-bak,” cibir Risa.Reza yang mendengar itu sangat terkejut, tak menyangka jika istrinya mengenal atasannya. Ia menatap tajam istrin
Diandra tengah memainkan ponselanya, sementara Reza tengah serius membaca buku. Mereka sama-sama duduk di atas ranjang. Jika dulu aktivitas di atas ranjang mereka selalu hangat dengan canda tawa, berbeda dengan sekarang yang saling diam.Saat tengah membuka galeri ponselnya, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah foto yang ia ambil tadi pagi. Ingatannya kembali berputar, ia yakin jika warna lipstick yang ada di kemeja suaminya bukanlah miliknya. Karena diliputi rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Diandra memberanikan diri untuk menanyakan siapa pemilik noda lipstick itu.“Kenapa diam, Mas? Siapa pemilik noda ini?” tanya Diandra lagi. Sebab Reza terus bungkam tak langsung menjawabnya.“I-itu, itu punya … Eh, punya karyawanku. Iya, punya Mona si karyawan baru. Kemarin lift rusak, jadi kita semua jalannya lewat tangga darurat. Waktu aku mau naik, kebetulan Mona mau turun. Entah gimana kejadiannya tiba-tiba dia hampir jatuh. Reflek aku tangkap dong, gak tau kalau lipstiknya kena ke b
Dengan menaiki ojek, Diandra menuju alamat yang di berikan melalui pesan singkat dari sosok misterius. Awalnya ia tak ingin mempercayai pesan yang menurutnya tipuan. Tapi begitu pesan ke-dua masuk yang memberi tahukan nama suami sekaligus nama yang menempati kontrakan itu, Diandra memutuskan untuk mengecek kebenarannya.Sesampainya di alamat yang dimaksud, Diandra terpaku menatap mobil yang sangat ia kenali parkir di halaman sebuah kontrakan yang sangat ia kenali siapa pemiliknya.“Gak mungkin, Mas Reza … Ara … Gak mungkin mereka berdua ….” Diandra menutup mulutnya, tak sanggup meneruskan ucapannya.Dengan Langkah kaki gemetar Diandra berjalan menunju pintu.TokTokTok‘Ceklek’Terkejut, itu adalah gambaran dari wajah keduanya. Clara yang mendengar suara ketukan pintu langsung bergegas membukakan pintu. Begitu mendapati tamu yang datang adalah Diandra, Clara tak mampu menutupi kegugupannya.“Oh, Ha-hai, Di? Apa kabar?” tanya Clara basa-basi.‘Plak!’Bukan jawaban mulut, melainkan seb
“Rania,” ucap Saga lirih. “Rania adalah mendiang istriku, Di. Rania teman kita, adalah Mama Bella,” sambungnya. Diandra sangat terkejut mendengar apa yang Saga baru saja. Diandra tak ingin mempercayainya, tapi saat ia menoleh ke arah Kevin, nyatanya Kevin pun mengangguk membetulkan ucapan Saga. Dengan suara bergetar menahan tangis, Diandra bertanya, “Jadi, maksud kamu Rania sudah meninggal?” “Iya, Rania meninggal setelah sebelumnya mengalami kecelakaan saat kami dalam perjalanan menuju rumah sakit. Rania kehabisan banyak darah, dia meninggal begitu Bella lahir,” tutur Saga menunduk. Rasa bersalah kembali menyelimutinya. Setetes air mata berhasil lolos. “Maafin kita, Di. Kita gak ngabarin soal Rania, karena dia yang minta. Waktu Rania nikah dengan Saga, Rania meminta kita buat gak kasih tau ke kamu. Dan saat dia meninggal, kita semua gak ada yang punya nomor kamu,” timpal Kevin. Diandra masih shock mendengar kabar itu. Dengan tatapan kosong, ia bertanya, “Jadi, selama bertahun-t
Toko kue Diandra hari ini begitu ramai, para pembeli tengah mencicipi kue coklat pertama yang Diandra suguhkan. Promosi yang Diandra suguhkan itu sukses menarik perhatian para pembeli. Mereka sangat antusias, bahkan tak segan-segan memesan kue untuk esok hari agar tak kehabisan. Melihat reaksi para pembeli yang begitu menyukai kue buatannya, membuat Diandra semakin semangat untuk terus belajar membuat kue dengan varian lain lagi.“Toko rame banget, Di? Kira-kira aku kebagian kue coklatnya enggak ya?” ucap Arkan yang baru pulang kerja.“Eh, kamu, Ar? Tenang, kue buat kam sudah aku simpan di dalam. Sama buat Ibu-Bapak juga, ya. Awas kalau dihabisin sendiri!” ancam Diandra.“Iya, iya, bawel banget sih. Jadi makin sayang,” canda Arkan.“Tapi sayang, aku makin mual dengarnya,” balas Diandra.Saat mereka tengah asyik bercanda, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di depan toko kue milik Diandra, membuat semua pengunjung penasaran dengan pemilik mobil tersebut. Termasuk Diandra dan Arkan y
Jika Reza tengah disibukkan dengan pernikahannya, lain halnya dengan Diandra yang kini tengah merintis usaha barunya. Diandra kini sudah resmi membuka toko kue dengan memanfaatkan gerai yang menyatu langsung dengan rumahnya. Dengan bantuan Sumi dan Arkan sebagai juri untuk menilai, Diandra kini sudah bisa membuat berbagai macam kue untuk dijual.“Kan, kamu kalau mau berangkat kerja, pergi aja gak apa-apa. Aku juga udah selesai, kok. Tinggal siapin kue terakhir aja,” ujar Diandra.“Gak apa-apa. Lagipula, masih terlalu pagi buat aku berangkat kerja sekarang,” balas Arkan.Namun, tiba-tiba ponsel Arkan berdering menandakan adanya panggilan masuk. Rupanya rekan satu kantornya yang menghubungi Arkan. Arkan dipinta untuk berangkat lebih awal guna menyelesaikan pekerjaannya yang kemarin belum selesai karena akan dipinta pagi itu oleh atasannya.“Hehe, maaf, Di. Aku ditelepon sama teman. Nanti pulangnya aku bantuin lagi ya. Jangan marah, abang bekerja untuk kita,” gurau Arkan.“Iya, Aban
Hari demi hari telah berlalu, kini Reza dan Diandra telah resmi bercerai. Reza bahkan sudah mulai mempersiapkan pernikahannya bersama Clara. Setelah perceraiannya bersama Diandra, Reza tak pernah lagi bertemu dengan Diandra meski hanya sekali. Ia bahkan tak mengetahui kehidupan Diandra saat ini. Kini dunianya hanya dipenuhi oleh Clara. “Sayang, besok baju pengantinnya jangan yang ngetat ya. Kasihan anak kita kalau kamu harus pakai korset atau apapun. Lebih baik pakai gaun aja ya, jangan pakai kebaya,” pinta Reza pada Clara. “Gak mau ah, nanti aku gak cantik kalau pakainya yang besar-besar. Lagian cuman sehari doang, masa gak boleh sih? Kalau kamu mau aku pakai gaun, mendingan sekalian aja kita nikahnya di hotel mewah, Mas. Aku yakin, kalau kita nikahnya mewah, Diandra pasti bakalan cemburu,” ujar Clara. “Tapikan uangku gak sebanyak itu sayang, kita juga kan harus nabung buat biaya persalinan kamu nanti.” Sejak berpisah dengan Diandra, kondisi keuangan Reza memang sedikit menuru
Saga mendapat telepon dari bawahannya yang mengabarkan jika Diandra pergi dari rumahnya dengan menyeret koper. Mendengar kabar itu, membuat Saga berpikir jika Diandra di usir dari rumahnya. Satu sisi ia merasa senang, namun di sisi lain ia juga merasa sedih lantara Diandra harus mengalami hal yang tak menyenangkan seperti itu.“Akan ku pastikan mereka merasakan apa yang kamu rasakan sekarang,”ujar Saga. Tangannya mengepal menahan amarah.“Jadi apa yang mau lo lakuin sekarang?” tanya Kevin.“Gue harus tetap pura-pura bodoh. Jangan sampai Diandra tau kalau selama ini gue selalu mata-matain dia. Gue gak mau Diandra merasa terganggu terus ngejauhin gue. Tapi mulai sekarang lo udah bebas, lo gak peru sembunyi lagi dari Diandra. Kalau suatu saat lo ketemu sama dia dan dia nanyain soal Rania, lo cukup bilang kalau Rania udah meninggal. Biarin gue sendiri yang jelasin soal hubungan gue sama Rania nantinya,” terang Saga.“Ga, gue rasa lo musti periksa kejiwaan, deh. Lo itu udah lebih dari cint
Rumah dengan desain klasik sederhana yang tertata rapi. Dibagian depannya terdapat gerai yang bisa dijadikan untuk buka usaha. Tepat seperti target yang Diandra cari. Meski kecil, namun rumah itu tampak begitu nyaman. “Bagaimana, Neng? Suka sama rumahnya?” tanya Sopir taksi. “Suka banget, Pak. Tapi maaf, kalau boleh tau, berapa harga perbulannya ya?” tanya Diandra. “Maaf, Neng. Tempatnya disewakan pertahun, bukan perbulan. Soalnya yang punya rumah lagi butuh uang buat biaya pengobatan istrinya di rumah sakit, satu tahunnya 36 juta. Kalau Neng berminat, biar Bapak sampaikan sama yang punya buat Neng tempatin sekarang. Bagaimana, Neng?” tanya Sang Sopir. “36 juta? Tabunganku kayanya sih cukup, tapi gimana buat ke depannya nanti ya? Aku juga kn butuh modal buat buka usaha. Tapi kalau gak diambil, sayang banget, mana udah ada gerainya jug, lokasi juga strategis. Ambil gak ya?” batin Diandra. “Neng? Gimana? Mau diambil atau mau cari kontrakan lain?” tanya Pak Sopir, menyadarkan Diandra
Sakit, itu yang dirasakan Diandra. Usai dikatai mandul, kini ia yang masih berstatus istri sudah diusir dari rumahnya. Rumah yang dulu ia beli bersama suami dari hasil kerja mereka berdua. Baik mertua dan adik iparnya bahkan sama sekali tak membela Diandra.“Tanpa kamu suruh pun aku memang berniat keluar dari rumah ini. Untuk apa aku bertahan di rumah yang jadi sumber penderitaan buatku. Keluar dari sini sepertinya jauh lebih baik, dengan begitu aku bisa memperbaiki nasibku,” ujar Diandra.“Ya udah, kalau gitu tunggu apa lagi? Cepat sana pergi! Gue yakin, begitu lo keluar dari sini, lo bakalan jadi gembel di jalanan,” ujar Rianti sinis.“Gembel jauh lebih terhormat, dari pada orang yang tumpangannya mobil mewah, rumah megah, tapi sanggup merendahkan harga diri hanya demi uang dan jabatan.”“Kurangajar! Jadi maksud lo gue jadi penjilat? Heh, gembel. Ngaca dong lo, tanpa Mas Reza lo itu bukan apa-apa. Udah dipungut tapi mmasih gak tau malu,” dengus Rianti.“Iya nih. Harusnya dari dulu R
Reza kembali ke rumah usai sarapan pagi bersama Clara. Awalnya Clara melarang Reza kembali karena ia masih kesal dengan ucaoan Diandra tadi. Tapi Reza terus meyakinkan Clara bahwa ia pulang hanya untuk membicarakan masalah perceraian saja. Setelah mereka bercerai, Reza akan segera menikahi Clara. Akhirnya Clara pun mengizinkan Reza kembali. Namun, begitu Reza sampai di rumahnya, ia dibuat emosi begitu mendengar ucapan Diandra yang mengatakan akan menjadi saingan adiknya dalam mendekati Saga. Reza merasa marah dan tak terima mengetahui jika Diandra akan mendekati Saga kembali. Sebab Reza yakin jika Saga masih mencintai Diandra. Reza tak ingin Diandra mendapatkan lelaki yang lebih unggul darinya. Dengan kasar ia mendibrak pintu rumah hingga membuat semua orang terkejut. “Kamu bilang apa tadi? Kamu mau mendekati Tuan Saga lagi? Mau balas dendam karena aku sudah dapat yang jauh lebih baik dari kamu, yang bisa ngasih anak buat aku? Kamu dengar baik-baik Diandra, aku gak akan pernah biar
“Dari mana saja kamu sepagi ini? Kenapa kamu bisa pulang sama Tuan Saga? Kamu lupa, kalau kamu harus kenalkan Tuan Saga sama Rianti? Kenapa kamu malah jalan berduaan sama dia?” tanya Risa yang sempat melihat Diandra keluar dari mobil Saga. “Silahkan masuk dulu, Ma. Kita bicarakan didalam saja, karena kebetulan ada yang mau Dian sampaikan,” ujar Diandra dengan tenang. Risa pun berlalu dengan gaya pongahnya melewaati Diandra, ia bahkan menyenggol bahu Diandra hingga wanita itu hamir terjatuh. “Apa? Apa yang mau kamu omongin?! Setelah itu, kamu harus bawa Rianti ketemu sama Tuan Saga sekaligus bawakan makanan ini untuknya. Katakan kalau itu masakan Riantai, mengerti?!” tutur Risa sembari menyodorkan rantang berisi makanan. Namun dengan elegan Diandra menolak rantang berisi makanan itu. Dengan tenang, Diandra mencoba menjelaskan apa yang terjadi antara dirinya dengan Reza. Membuat Risa dan Rianti tercengang. “Maaf, Ma. Tapi Diandra gak bisa ngelakuin itu. Kalau Rianti mau kenalan sama