"Hari ini, kita balik ke Jakarta, Pram, " ujarnya ketika bangun pagi.
Tangannya sibuk dengan ponselnya. Masih kupeluk dia dalam dekapanku. Kurenggangkan pelukanku dan menatap wajahnya.
" Baru dua malam sayang.." protesku.
Kudekatkan bibirku mencoba menciumnya. Tangannya yang halus memegangi pipiku.
" Sudah.. aku ada janji dengan seseorang," jawabnya lirih.
Aku bangkit dan duduk di atas ranjang. Kuraih wanitaku dalam dekapanku. Kubelai rambutnya yang panjang terurai. Harum semerbak keluar dari rambutnya yang hitam.
"Sayang.. aku belum mau pulang. Bagaimana nanti kalau kita di Jakarta? Aku pasti merindukanmu," rajukku.
Sarah meletakkan ponselnya dan memandangku. Dia tersenyum. Tangannya mengusap kumisku yang tipis dan mengelus pipiku.
"Nanti aku yang atur sayang.." katanya menenangkanku.
Pagi ini sebenarnya aku ingin bertanya tentang pria yang bertemu di pantai. Tapi aku tidak ingin membuatnya sedih dan menangis. Biarlah menjadi pertanyaan yang kusimpan dalam benakku.
Sarah melepaskan pelukanku dan beringsut hendak pergi. Aku semakin mempererat pelukanku.
" Yang..aku mau ke kamar mandi kebelet," katanya sambil meringis.
"Bohong ah.. " jawabku manja.
"Aku mau lagi," rengekku.
Dia melotot,"Gak mau."
"Beneran sayang. Perutku sakit," wajahnya mulai pias. Melihat wajahnya pias, kulepaskan pelukannya. Dia segera berlari ke toilet.Kuambil ponselku yang sudah dua hari sengaja kumatikan. Ada beberapa pesan dan panggilan yang tidak terjawab.
Ada sebuah pesan dari adiku di kampung.
( Mas Pram, Nita mau minta uang buat bayar sekolah. Ibu sudah seminggu tidak jualan nasi)
Aduh. Aku belum gajian. Masih seminggu lagi aku gajian. Kugaruk-garuk kepalaku. Kasihan ibu kalau tidak jualan. Aku sebagai anak laki-laki tertua yang bertanggung jawab atas keluargaku.
Darimana aku mendapatkan uang. Apa aku harus pinjam dari kantor? Aku malu dengan Sarah. Tapi Nita memang membutuhkan uang.
Sesaat kemudian Sarah keluar dari kamar mandi dengan badannya yang ditutup handuk sebatas dadanya.
Dia melihatku dan mengernyitkan dahinya. Dengan manja dia duduk dipangkuanku dan melingkarkan tangannya di pundakku."Ada apa sayang.. sini ponselnya," katanya sambil meminta ponselku.
Seperti anak kecil, aku hanya nurut ketika Sarah mengambil ponselku."Nanti aku yang kirim uang ke Nita, Pram," ujarnya ringan.
Dia meletakkan ponselku di atas meja. Kembali dia menciumku hangat."Sana mandi Pram! Kita harus sudah bersiap. Kita balik ke Jakarta hari ini juga."
Dia mendorong tubuhku. Aku tidak mau melepaskan pelukanku.
"Sayang…. sudah mandi sana. Bau asem iih," teriaknya manja.
"Asem tapi suka kan," ledekku.
Aku segera bergegas ke kamar mandi. Pikiranku bercabang-cabang. Apakah Sarah mau memberikan Nita uang untuk membayar sekolahnya. Perasaanku tidak enak. Inilah yang kutakutkan. Seolah aku memanfaatkan Sarah.
Lalu, siapa pria yang berkumis itu. Apakah dia bagian dari masa lalu Sarah? Entahlah..
"Sayang. ..cepat sedikit mandinya. Penerbanganku kita jam 11.00," teriaknya.
"Iya sayang.." jawabku sambil mempercepat mandiku.
Ketika keluar dari kamar mandi, Sarah sudah berpakaian rapi. Dia juga sudah mengepak pakaian kami di dalam sebuah koper. Dia nampak tergesa-gesa.
"Sayang.. pakaianmu di atas tempat tidur," katanya.
Aku masih mengelap rambutku yang basah dengan handuk.Sarah menungguku di kursi meja rias sambil memainkan ponselnya. Wajahnya nampak serius dan agak cemas.
" Ada apa dengan anak-anak sayang," tanyaku mencari tahu.
" Mereka baik-baik saja. Ada Bi Iyem yang menjaganya. Aku sudah biasa keluar kota urusan bisnis, " jawabnya ringan.
Aku segera berpakaian dengan baju yang disediakan Sarah. Kaos berkerah dengan
warna biru muda dengan celana pendek warna hitam. Sarah juga mengenakan warna yang senada denganku.Kusisir rambutku dan bercermin di kaca. Kelihatan keren dan ganteng. Jam tangan dari Sarah juga kupakai. Aku melihat diriku seperti berbeda. Banyak sekali perubahannya.
Setelah selesai semua, Sarah menggandengku untuk check out dari hotel tempat kami menginap. Sarah langsung memesan taksi menuju ke Bandara Ngurah Rai. .
Di dalam taksi, Sarah hanya diam tidak banyak bicara. Apa yang terjadi? Wanita ini memang penuh misteri. Aku juga memainkan ponselku. Membalas pesan Nita untuk bersabar dulu.
Sarah menyandarkan kepalanya di pundakku. Kuelus kepalanya. Supir taksi nampak tersenyum melihat kami.
Kita sudah sampai di bandara. Sarah sangat terburu-buru. Langkahnya sangat cepat. Matanya sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Sarah menyodorkan ponselnya untuk menunjukan tiket yang telah kami pesan. Petugas mengecek kemudian mempersilahkan kami masuk. Kulirik arlojiku waktu sudah hampir jam 11 siang. Terdengar suara panggilan terakhir untuk para penumpang yang mau berangkat ke Jakarta.
Kami duduk di bangku depan VIP. Setelah duduk Sarah menghela nafas dengan panjang. Seolah ingin melepaskan beban beratnya.
"Pram, maafkan aku ya. Kita cuma sebentar disini," ujarnya menatapku.
Matanya terus memandangiku. Aku pura-pura marah dengannya. Aku tak menatapnya. Pandanganku tertuju kepada layar kecil yang berada di depanku. Maklum orang kampung. Aku belum pernah naik pesawat. Baru kali ini aku naik pesawat. Tanganku iseng menyentuh layar tipis di depanku.
"Pram…," rajuknya.
Dia menggoyang lenganku, tapi aku masih diam. Akhirnya dia mencubit lenganku dengan bibir yang dimoncongkan.
Duuh. Makin gemas saja. Segera kubelai dia dengan lembut. Banyak penumpang yang melewati kami, mereka melirik dan tersenyum. Aku tidak perduli.
" Nanti di Jakarta, kalau aku kangen gimana sayang. Suami istri kok tidak bersama," kataku terus menggenggam tangannya.
"Nanti aku yang atur. Iih kangen ya," ledeknya.
"Iya," bisiku di telinganya.
" Pasti aku gak bisa tidur sayang. Ingin selalu mendekapmu. Kamu memang membuatku tersiksa dengan kondisi seperti ini," imbuhku.
" Rasain!" kelakarnya sambil memalingkan muka.
Kucubit saja hidungnya. Coba kalau masih di kamar hotel pasti sudah kulumat habis itu mulutnya.
Seorang pramugari cantik datang membantu mengecek peralatan kami. Rambutnya yang disanggul rapi dengan riasan yang agak mencolok. Dia memakai busana batik melilit di tubuhnya, tubuhnya yang tinggi samampai dan tersenyum manis kepadaku. Aku tersenyum meliriknya. Sarah mencubit pahaku.
Aku meringis kesakitan"Maaf,Mas. Tolong bangkunya diletakkan seperti semula karena sebentar lagi pesawat mau berangkat!"
Aku membetulkan bangkuku seperti semula lagi. Sarah juga melakukan hal yang sama. Sarah memakaikanku sabuk pengaman.
"Siang, Ibu," sapa pramugari itu.
"Siang, Mbak, " jawab Sarah.
"Selamat menikmati penerbangan ini. Oh iya anaknya ganteng sekali dan senyumnya menggoda," tambahnya.
Ups…Anaknya?
Sarah hanya tersenyum mendengar kelakar pramugari itu. Kemudian pramugari itu berlalu dari hadapan kami.
"Matanya mulai jelalatan nih," ucapnya marah.
" Makin cantik saja bidadariku ini kalau sedang ngambek," selaku.
Kugelitiki saja dia agar biar bisa tertawa. Akhirnya dia tersenyum. Tangannya yang kugenggam perlahan kukecup mesra. Wanita paling suka kalau dimanja seperti ini.
Pramugari memberikan isyarat kepada para penumpang pesawat untuk bersiap karena sebentar lagi pesawat akan lepas landas.
Aku sebenarnya takut dengan ketinggian. Kupejamkan mataku dan kugenggam era tangan Sarah. Wanita itu mengelus pundakku seolah memberikan rasa nyaman yang luar biasa.
Satu jam kemudian, pesawat yang kutumpangi sudah mendarat di Bandara Sukarno Hatta. Kami bersiap untuk turun dari pesawat. Sarah nampak tergesa-gesa menuruni pesawat. Dia terus menggandengku, jalannya sangat cepat.
Setelah kami mengambil koper , kami segera meninggalkan bandara dengan menaiki taksi. Di dalam taksi, Sarah kembali menghela nafas.
"Pram, nanti setelah sampai rumah. Kamu gak usah masuk kerja dulu. Bisa-bisa kita ketahuan kalau habis bulan madu," kata Sarah di dalam taksi.
" Lo..kok bisa gitu," jawabku melongo tidak tahu apa yang dimaksut dengan perkataan Sarah.
"Aku nanti dipecat sama Pak Sony, Yang." Aku sedikit bingung. Apa rencana Sarah selanjutnya. Wanita yang misterius. Ngajak nikah secara dadakan, bulan madu dadakan.Eh sekarang aku tidak boleh masuk kerja. Lalu bagaimana dengan gajiku.
" Siapa yang punya restoran?" pelotot dia.
"Eh iya. Aku sampai lupa. Mom yang punya restoran," kataku cekikikan.
"Lalu aku harus libur berapa hari, Yang?"
" Bagaimana kalau kangen?" tambahku.
Pak supir taksi ikut tersenyum melihat tingkahku. Ah biarin saja.
"Nanti aku jemput Pram. Jangan takut gitu. Kerjaanku memang banyak. Ini ada tender besar. Ada event yang sangat penting. Ada tamu dari manca negara. Semoga restoran kita menang," ujarnya terus memandangi ponselnya.
Kupejamkan mataku. Kepalaku terasa agak berat. Seperti mimpi saja. Dua malam yang lalu aku disuguhkan dengan nikmat dunia. Yang aku ingin selalu di dekatnya. Sekarang baru tersadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku hanya menjadi pemuas birahi Sarah saja?
Benarkah dia mencintaiku? Atau aku yang terjebak dengan cintanya. Kuusap mukaku kasar. Kulepas pelukanku. Siapakah aku? Pemuda desa yang mengadu nasib di Jakarta. Begitu gampang aku menerima tawaran untuk menikah dengannya.
Aku kasihan melihatnya, sekarang Sarah bisa tersenyum bahagia. Aku mendesah pelan. Sarah mendengarnya dan menatapku.
"Sayang… Do you believe me?" tanyanya tepat di manik mataku.
"Kamu percaya dengan cintaku. Apakah kamu pikir aku hanya menginginkan tubuhmu?"
Sarah menggenggam tanganku. Seolah memberikan kekuatan kepadaku.
"Aku pernah berada di posisi sepertimu Sayang," ujarnya lembut.
Tak terasa taksi yang kami tumpangi sudah sampai di depan rumah Sarah.
"Pak, antar mas ini ke rumahnya ya," perintahnya.
"Siap, Bu." Pak supir langsung keluar membukakan pintu dan mengeluarkan koper dari bagasi.
" Sayang.. Nanti sampai rumah telpon aku ya," pintanya sambil mengecup pipiku.
Aah Sarah. Menjadi suamimu hanya sebentar saja. Baru aku menikmati candunya. Mengapa pernikahan ini dirahasiakan?
Bersambung..
Apa yang terjadi dengan Pram dan Sarah ketika sudah kembali ke Jakarta?
Bab 7. Pernikahan yang disembunyikan. Aku pulang ke kontrakan dengan tubuh yang gontai. Kurebahkan tubuhku ke kasur lantai yang teronggok di kamarku. Kamar yang tidak terlalu besar, hanya berukuran dua kali dua meter. Tidak terlalu sempit untuk ukuran lajang sepertiku. Segera kuganti bajuku yang kotor dengan kaos oblong dan celana pendek. Baju itu yang dibelikan Sarah dari butik mahal di Jakarta. Sementara kaos yang aku pakai hanya kaos murahan tapi nyaman bagiku. Hah.. Aku mendesah dengan berat. Apa yang telah kulakukan? Apakah semua ini drama?Menikahi bosku sendiri secara diam-diam. ( Mas Pram, Nita minta uang) sebuah pesan masuk ke ponselku. Kulirik sebentar benda warna biru pipih yang tergeletak di sampingku. Kuambil
Bab 8. Menempati rumah kontrakan yang baruAku memasuki rumah itu dengan hati berdebar-debar. Pak supir memberikan kunci kontrakan kepadaku. Kemudian beliau pamit untuk pulang."Terima kasih ya, Pak," kataku.Kujabat tangannya dengan hormat. Laki-laki itu tersenyumkemudian melangkah pergi.Aduh sendirian. Semoga tidak ada penghuni lain selain diriku.Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Aku tidak boleh takut. Laki-laki sejati harus berani. Rumah itu terdiri dari tiga kamar. Satu kamar tidur, ruang tamu dan dapur yang cukup lumayan.Deet … deet …Ponselku berbunyi. Sarah menelponku, aku segera mengangkatnya
Bab 9 Pencarian Aska dan sikap Aska"Pram … " teriak Sarah dari kamar mandi."Cepat mandi, Sayang! Antar aku mencari Aska!" tambahnya."Apa! Aska kemana?" Aku segera melompat dari tempat tidurku.Sarah mandi cuma sebentar. Dengan tergesa dia mengelap kering rambutnya yang basah."Cepetan mandinya!" katanya menarik tanganku masuk ke kamar mandi.Aku mandi dengan terburu-buru. Mungkin sepuluh menit aku sudah selesai mandi. Sarah sudah berpakaian rapi dan memakai hijabnya. Dia juga memberesi barangnya yang tergeletak di kasur.Aku berganti pakaian santai. Kaos oblong hitam dan celana pendek hitam. Setelah kusisir rapi rambutku, aku menemui Sarah yang suda
Bab 10 Merayu Aska.Sinar matahari pagi menyeruak masuk ke dalam kamarku melalui jendela kaca. Semalam aku lupa menutup korden kamar. Sehingga sinar matahari membangukanku.Aku menggeliyat. Tanganku meraba-raba seseorang di sisiku. Ah … aku tersenyum sendiri. Sarah tidak berada di sampingku. Ternyata hanya mimpi. Sampai kapan aku menjalani pernikahan seperti ini.Badanku masih pegal setelah kejadian semalam. Hidup seperti mimpi. Baru saja aku bercinta dengan Sarah, tiba-tiba harus pergi untuk mencari Aska.Aska? Aku teringat dengan anak remaja itu. Masihkah dia marah dengan ibunya.Aku bangun dan duduk di pinggiran ranjang empuk ini. Ruangan yang nyaman lengkap dengan fasilitasnya. Kupandangi setiap sudut k
Bab 11Aku dan Aska panik melihat Sarah pingsan di tengah pintu utama. Kugendong dan langsung kubawa dia ke kamarnya.Bi Iyem terlihat panik dengan mondar mandir di ruang dapur. Sementara Aska kelihatan cemas melihat keadaan ibunya.Sarah tergeletak lemah di atas ranjangnya. Wajahnya pucat dan bibirnya kelu. Aku panik melihat keadaan Sarah. Segera kuusap kaki dan tangannya. Bi Iyem membawakan minyak kayu putih untuk diusapkan di hidung Sarah.Aska hanya duduk di samping ranjang sembari memegangi tangan ibunya. Setelah hidungnya kuusap dengan minyak kayu putih perlahan Sarah membuka matanya. Badannya bergerak perlahan. Matanya menatapku sayu.Aku ingin segera memeluk tubuh yang lemah itu. Ingin memeluknya dalam dekapanku. Seor
Episode 12: Siapa yang tahan?Pak Sony menatapku tajam. Sebenarnya aku ingin memukul wajahnya. Tapi aku hanya diam. Namanya juga karyawan harus tunduk dengan atasan."Itu surat peringatan, Pram. Kalau kamu tidak disiplin dan tidak rajin, maka aku siap memecatmu," kata Pak Sony dengan nada tinggi.Kamu tidak tahu. Bosmu sudah berada di genggamanku. Aku tersenyum kecut melihat kesombongan Pak Sony. Entah apa yang berada di pikirannya."Satu lagi. Kamu jangan pernah tebar pesona di hadapan Mom Sarah!" ancamnya.Aku berusaha mengalah. Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan."Sudah, Pak?" tanyaku sembari berdiri."Saya boleh melanjutkan kerj
Bab 13. Ungkapan cinta Reni.Restoran sangat ramai hari ini. Aku tidak sempat bertemu dengan Sarah. Apalagi Pak Sony seperti hantu yang membayangiku. Tangannya selalu berkacak pinggang mengamati kami yang sedang bekerja.Sesekali Sarah mengirim pesan di ponselku mengingatkanku untuk makan. Disertai dengan emoji love yang banyak. Dia memang profesional. Selama di tempat kerja, tidak membedakan antara aku dan karyawan lainnya.Sarah belum menjawab pertanyaan tentang janji makan malam dengan Pak Iqbal. Kalau saja dia pergi tanpa sepengetahuanku, aku akan menggigitnya.Hah…tak terasa waktu sudah sore. Aku istirahat sebentar di ruangan belakang. Restoran masih rame. Apalagi malam minggu. Banyak keluarga yang makan di restoran Sarah. Tapi aku mendapatkan jatah kerja pagi. Jam kerjaku
Aku melangkah ke arah mobil warna merah yang berhenti di sisi jalan. Aku seperti mengenalnya. Seperti mobil Sarah?Semakin dekat, aku tahu kalau itu mobilnya Sarah yang membuntutiku. Katanya tidak cemburu. Mengapa dia menguntitku. Awas saja nanti..Kuketuk pintu mobilnya. Spion kaca terbuka. Benar saja. Sarah nyengir sambil menahan tawa."Maaf, Bu. Mobil Anda menggangguku. Silahkan anda mendahuluiku," kataku dengan nada agak tinggi."Maaf!" katanya. "Kamu nguntit aku ya, Sayang," ujarku sembari masuk ke dalam mobilnya."'Katanya gak cemburu. Kok nguntit," ledekku. Tanganku memegang tangannya dan menciumnya.Dia hanya diam. Merajuk manja. Mulutnya menger
Liburanku di desa sudah selesai. Kini kami sudah berada di Jakarta kembali. Sarah sudah sibuk dengan kegiatannya di restoran. Perombakan besar-besaran dilakukan Sarah. Dia mulai membenahi keuangan restauran yang sempat berantakan. Juga pengambilan modal Hans yang sangat besar.Aku juga mulai sibuk dengan caffeku yang semakin lama tambah ramai. Malah pertemuanku dengan Sarah hanya waktu jam makan siang dan pulang bareng.Setelah selesai dengan urusanku di Caffe aku selalu setia untuk menjemputnya. Terkadang Santi sesekali mengirimkan sebuah pesan. Semua itu juga aku memberitahu Sarah. Kejujuran dan kepercayaan adalah penting bagiku.Aska mulai sibuk dengan Boarding Schoolnya. Saat ini Aska memilih sekolah terpadu dengan pesantren yang ada
Sore ini semua rombongan akan pergi ke kota Semarang. Kami ingin menikmati indahnya ibu kota Jawa Tengah. Malamnya kami semua akan menginap di sebuah villa yang sudah disewa Sarah.Ibu menolak untuk ikut bersama kami. Nita sangat bahagia ketika ikut dengan rombongan. Walaupun Sarah memaksa, ibu menolak dengan cara halus. Hanya Bi Iyem yang nanti bertugas menjaga Atta dan Arsya. Akhirnya kami berangkat pergi keliling Kota Semarang. Mobil Caravel warna biru itu meninggalkan rumah ibu menuju Simpang Lima Kota Semarang. Selama perjalanan terdengar semua anak bersandau gurau. Aska nampak sibuk masih memainkan ponselnya di samping Nita. Mereka bercanda berdua. Sementara Atta dan Arsya sibuk dengan ponsel memainkan game. Sarah juga sibuk dengan ponselnya sendiri.Kulirik Sarah yang wajahnya makin cantik setelah
Bab 103Hari ini masih pagi, kumandang azan di musala dekat rumah terdengar sangat merdu. Suara Pak Ahmad sangat menggetarkan jiwa.Aku memindahkan Atta dan Arsya ke dalam kamarku. Sementara Aska sudah bangun. Ibu dan Bi Iyem sudah rapi dengan mukenanya bersiap untuk ke musola.Sarah sudah sibuk di dapur memasak air panas untuk membuat teh. Aku memeluknya dari belakang."Good morning, Cinta!" sapaku sambil mencium lehernya yang terbuka. "Good morning, Sayang," balasnya dengan membalikkan badan menghadapku."Duh menantu ibu, rajin amat, ya!" sindirku masih memeluknya."Sana gih, ke musala dulu. Soalnya tegangan
Bulan madu ke luar negeri yang sebelumnya kami rencanakan akhirnya dibatalkan. Sarah hanya ingin tahu kampung halamanku sekalian berinteraksi dengan keluargaku.Sarah akan mengajak semua anak-anaknya juga Bi Iyem. Sejenak melupakan kejadian yang telah menimpaku dan Sarah. Ibu sangat gembira ketika mendengar mereka akan ikut pulang kampung untuk liburan.Sementara semua urusan bisnis yang ada di Jakarta sudah diserahkan kepada semua pegawainya. Aku juga sudah menunjuk pegawai kepercayaanku untuk memegang kendali atas kelancaran cafe.Tidak lupa aku nanti akan memantau dari jauh perkembangan cafe dan restoran Sarah.Hari yang ditentukan semua rombongan bertolak ke Semarang. Kali ini aku kembali y
Bab 101Bang Zoel berjalan tertatih menuju ke arah kami.Tangan kanan menjulur ke arahku."Pram, selamat atas pernikahan kalian! Aku nitip anak-anak kepadamu. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Sekalian aku pamit mau ke Bali siang ini. Bisnis istriku akan segera dimulai," ujar Bang Zoel dengan tulus.Aku menjabat tangan Bang Zoel dan memeluknya."Iya, Bang Zoel. Semoga tetap menjadi saudara. Hati-hati dan semoga sukses," ucapku.Gantian Bang Zoel menatap Sarah yang masih menunduk. Entah mengapa Sarah tidak mau menatap pria yang telah memberikan tiga anak ini. Mungkin luka yang terlalu dalam Bang Zoel torehkan sehingga Sarah begitu muak meli
Sebelum balik ke kampung, Ibu dan Nita ingin menghabiskan waktu keliling Jakarta. Ibu ingin melihat banyak tempat di Kota Metroplitan ini. Seperti Monas, Taman Mini dan yang menjadi impian ibu adalah bisa salat di Masjid Istiqlal Jakarta.Hari Minggu ini kami sekeluarga akan jalan-jalan ke Taman Mini dan Masjid Istiqlal. Kebetulan bersamaan anak-anak juga libur sekolah. Sehingga bisa membawa mereka keliling Taman Mini.Segala persiapan sudah ada di dalam mobil. Dari makanan ringan hingga minuman lengkap. Bi Iyem juga memasak beberapa makanan untuk Arsya dan Atta.Ibu dan Nita sudah siap menunggu di teras rumah. Mereka nampaknya sudah bangun pagi sekali. Membantu Bi Iyem mempersiapkan bekal.&nb
Bab 99Sarah segera mengambil ponselnya. Dia nampak menyembunyikan sesuatu dariku. Namun aku tidak berani menanyakan pada Sarah. Apalagi ada ibu dan Nita. Takut merusak suasana gembira yang ada."Ibu, Sarah dan Pram pamit dulu. Ada urusan penting di restoran," ujar Sarah sambil memberi kode kepadaku."Iya, Nak," sahut ibu setelah sarapan selesai."Bi, nitip anak-anak, ya," pinta Sarah.Bi Iyem hanya mengangguk ketika Sarah menyampaikan pesan kepadanya.Ketika sampai di kamar, Sarah memberikan aku baju ganti. Celana panjang dan kaos dengan kerah."Ada apa sih, Yang?" tanyaku tidak men
Malam ini aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa tidur di kamar Sarah tanpa harus sembunyi-sembunyi. Kamar Sarah sudah dihias dengan bunga dan sprei kesukaan Sarah.Ibu dan Nita tidur di kamar tamu. Sementara anak-anak tidur di kamar masing-masing.Hari ini tidak terlalu capai karena hanya sedikit tamu yang diundang. Seharian hanya ngobrol dengan Rere dan Paman. Kami juga menyempatkan untuk berbincang dengan karyawan yang lain.Acara sudah selesai sore tadi. Aku juga sudah berganti pakaian dengan baju koko dan sarung. Sementara Sarah sudah menukar bajunya dengan gamis biasa.Setelah acara makan malam bersama dilanjutkan dengan salat jamaah. Semua anggota keluar
Bab 97Hari Yang Ditunggu.Hari yang ditunggu telah tiba, Sarah tidak mau acara pernikahan secara besar-besaran. Semua mendadak merubah tidak sesuai jadwal. Entah apa penyebabnya. Sarah hanya mau ijab kabul di rumahnya.Hari itu, aku sudah dandan dengan memakai jas hitam celana hitam serta peci. Sementara ibu memakai baju kebaya dengan kain serta kerudung. Wajah tuanya tersenyum melihatku. Nita, adiku memakai setelan baju gamis warna merah muda. Dia sangat cantik sekali.Dari keluarga Sarah yang hadir adalah adik Sarah, Rere dengan suaminya serta anak-anaknya. Ada juga paman yang akan menjadi wali saksi pernikahanku dengan Sarah.Dari karyawan restoran, Sarah mengundang Bagas dan Reni. Aku juga mengundang karyawanku yang ada di Caffe Aska.&