“Nona Kedua, saya diutus oleh Master Klein untuk membawa Anda pulang,” ujar seorang laki-laki berusia 30an tahun yang mengenakan setelan jas formal pada Alex.
Laki-laki itu telah memperkenalkan diri sebagai Samuel Henz, asisten pribadi dari Master Klein dan juga merupakan ayah kandung Alex, Marius Klein adalah namanya. Samuel diperintahkan oleh Master Klein untuk mengurus administrasi rumah sakit yang berhubungan dengan Alex dan membawanya pulang.
Melihat dokter sudah memberikan lampu hijau dan mengatakan kalau tidak ada yang salah dengan tubuh Alex, ia pun mengangguk setuju ketika Samuel mengatakan kalau dia akan membawanya keluar dari rumah sakit. Madam Klein sudah memberi tahu Alex mengenai rencana dari ayah Alex untuk membawa Alex pulang ketika wanita itu mengunjungi Alex pagi tadi, untuk itu Alex pun sudah bersiap-siap dan tinggal mengganti pakaiannya saja.
Berbeda dengan pagi tadi dimana Madam Klein melepaskan bom besar pada Alex yang cukup mempengaruhi mentalitasnya, saat ini Alex sudah tenang 100% seperti apa yang diberitahu oleh ibunya sama sekali tidak mempengaruhinya. Mentalitas Alex dan juga daya adaptasinya dengan situasi yang ia alami sangatlah besar, untuk itu informasi mengenai Alex yang memiliki seorang tunangan pun mampu dia terima dengan mudah.
Mungkin bila orang lain berada di posisi Alex sekarang ini, dimana mereka mengetahui fakta tidak hanya mereka berubah dari seorang laki-laki menjadi seorang perempuan dan kemudian mereka menerima informasi kalau mereka memiliki seorang tunangan, mayoritas dari mereka tidak akan bisa setenang Alex saat menerima fakta yang mengejutkan itu. Kemungkinan besar mereka juga akan merasa histeris, merasa kalau apa yang terjadi tidak lebih dari sebuah mimpi buruk, atau bahkan lebih buruknya mereka akan terkena goncangan mental yang mampu membuat mereka masuk ke rumah sakit jiwa.
Saat ini Alex merasa kalau dia tidak bisa menerima kenyataan dengan tenang maka hidupnya tidak akan tenang selamanya, dia memiliki firasat kalau kehidupan barunya ini tidaklah sesederhana seperti yang ia pikirkan. Alexandra Klein, nama dari tubuh yang kini menjadi milik Alex, sepertinya bukanlah orang yang biasa. Alex berpikir kalau kehidupannya akan penuh dengan warna mulai dari sekarang.
Mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup lagi adalah sebuah keajaiban yang belum tentu bisa didapatkan oleh semua orang, mungkin saja Alex adalah satu-satunya, sehingga mensyukuri apa yang dia terima adalah apa yang Alex lakukan. Alex tidak ingin terbelenggu dengan masalah kecil seperti tunangan serta intrik dari orang-orang di sekitarnya, bahkan perubahan gender yang ia alami pun tidak lebih dari sebuah masalah kecil bagi Alex sekarang ini. Hal seperti ini tidak terlalu besar skalanya bila dibandingkan dengan pengalamannya berada di medan perang melawan invansi zerg maupun harus berhadapan dengan dewan senat Kerajaan Starlight yang mampu memakanmu hidup-hidup tanpa menyisakan tulang belulang.
Nikmatilah hidup selama kau bisa, itulah motto yang Alex miliki sekarang ini. Gadis itu benar-benar bisa berdamai dengan dirinya sendiri, bahkan di kehidupan pertamanya ketika Alex masih kecil, ayahanda Alex sering mengatakan kalau Alex itu seperti memiliki jiwa berusia tua di dalam tubuhnya yang masih berusia muda, dia bisa menerima fakta dengan tenang dan tidak menjadikannya beban. Pangeran Kelima selalu memiliki pemikiran begitu dewasa dan juga bijaksana. Mungkin karena sifatnya itulah ayahanda Alex memilihnya sebagai Putera Mahkota untuk menggantikannya kelak dibandingkan kakak-kakak Alex lainnya.
Kalau ayahanda Alex masih hidup dan dia melihat Putera Mahkota yang ia pilih memutuskan untuk mengundurkan diri daripada naik tahta, kaisar terdahulu pasti akan mengutuk Alex sebagai anak durhaka.
Membayangkan mendiang ayahandanya membuat Alex mengulum senyum yang ingin muncul pada bibirnya. Gadis itu menundukkan kepalanya agar Samuel yang berdiri di hadapannya tidak merasa curiga ketika melihat Alex tersenyum sendiri seperti itu. Meskipun Alex mengalami sesuatu yang gila seperti terlahir kembali, bukan berarti dia ingin orang lain menganggapnya gila.
Setelah Alex mampu mengontrol emosi serta ekspresinya, gadis itu menatap sosok Samuel lagi dan memberinya anggukan kecil.
“Aku akan bersiap-siap dulu kalau begitu, kau bisa mengurus administrasi rumah sakit seraya menungguku,” ucap Alex kemudian.
Merasa apa yang dikatakan oleh Alex itu masuk akal, Samuel pun mengangguk setuju.
“Kalau begitu saya keluar dulu dan mengurus segalanya. Saat Nona Kedua sudah selesai, Anda bisa menghubungi saya,” jawab Samuel.
Tanpa menunggu Alex untuk memberinya balasan, Samuel pun segera keluar dari dalam ruangan tempat Alex dirawat. Namun, sebelum dia menutup pintu dari luar, Samuel sempat melirik ke arah Alex yang masih terduduk dengan tenang di atas tempat tidur. Dalam hati, Samuel merasa ada yang sedikit berbeda dengan Nona Kedua dari Keluarga Klein ini.
Alexandra Klein dalam ingatannya adalah seorang gadis yang begitu introvert dan bahkan tidak berani menatap orang yang ada di hadapannya. Karena pengalaman hidupnya yang terpisah dari keluarganya membuat gadis itu selalu merasa rendah diri, terkesan pemalu serta sukar mengucapkan kalimat penuh ketika ada seseorang yang mengajaknya bicara. Akibatnya, orang yang dulunya merasa penasaran dengan Alex langsung merasa bosan ketika berhadapan dengan Alex, bahkan keluarganya sendiri saja tidak terlalu menyukai Alex akibat dia yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan mereka yang ada di kalangan atas.
Melihat Alex yang kini tersenyum kalem kepadanya, Samuel merasa sedikit terkagum sebelum dia menutup pintu kamar dari luar. Nona Kedua Klein benar-benar berbeda dengan dirinya yang dulu, sekarang dia jauh terlihat sangat tenang dan entah mengapa Samuel menganggap Alex menjadi lebih anggun dengan temperamennya yang sekarang ini. Apa mungkin pengalamannya yang hampir mati akibat tenggelam kemarin malam membuat Nona Kedua Klein berubah?
Samuel tidak mengetahui jawabannya. Dengan hati yang masih bertanya-tanya, Samuel segera meninggalkan tempat itu untuk mengurus administrasi milik Alex.
“Orang yang aneh,” gumam Alex pada dirinya sendiri setelah melihat Samuel pergi menjauh.
Dia tidak mengerti mengapa Samuel termenung di ambang pintu tadi, tapi episode tersebut tidak membuatnya berpikir lebih larut mengenai hal itu. Setelah Alex merasa Samuel sudah jauh dari kamar tempat Alex dirawat, ia pun turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam sana.
Karena kamar tempat Alex dirawat merupakan kelas VVIP, di dalam kamar pun terdapat kamar mandi dengan fasilitas yang lengkap dan juga sangat bersih. Alex mengambil satu-satunya pakaian ganti yang Samuel bawa untuknya ke kamar mandi.
Meskipun Alex terlahir kembali dengan identitas serta kondisi yang berbeda dari sebelumnya, Alex merasa kekuatan mentalnya dari era interstellar pergi mengikutinya. Ketika Alex melakukan percobaan beberapa saat yang lalu untuk mengecek kekuatan mentalnya, Alex menemukan kekuatan mentalnya masih sama seperti dulu. Bahkan firasat Alex mengatakan levelnya pun masih 4S meskipun di sana tidak ada alat untuk mengecek level kekuatan mental pada saat itu.
Karena kekuatan mental Alex yang masih sama seperti saat dia masih ada di era interstellar, Alex pun bisa melihat ketika Madam Klein ataupun Samuel datang menghampiri kamarnya kala itu. Alex sangat sensitif serta awas dengan situasi di sekitarnya, terlebih dengan kekuatan mental selevel 4S membuat instingnya bertambah semakin kuat.
Tidak hanya kekuatan mental yang mengikuti Alex terlahir di dunia ini, namun light brain yang merupakan otak super pun juga mengikuti Alex. Di era interstellar, light brain adalah alat yang sangat penting untuk dimiliki oleh setiap orang. Dengan alat itu, mereka semua bisa mengakses StarNet dan melakukan apapun, seperti komunikasi dan lain sebagainya. Light brain ini bisa dikatakan sebagai otak super yang diciptakan sesuai dengan individual masing-masing, setiap light brain yang dimiliki oleh seorang individu diciptakan khusus untuk mereka dan pengaksesannya pun hanya bisa dilakukan oleh mereka seorang.
Alex belum mengecek apakah light brain miliknya bisa bekerja dengan baik atau tidak, tapi dia bisa merasakan kehadiran light brain tersebut pada dirinya setelah kesadaran Alex pulih sepenuhnya beberapa saat yang lalu, sehingga Alex bisa memastikan kalau light brain miliknya ikut dengannya ke dunia ini.
Alex membersihkan dirinya di dalam kamar mandi dan mengganti pakaian tipis rumah sakit yang ia kenakan dengan pakaian yang Samuel bawa untuknya. Pakaian tersebut terdiri dari celana jeans berwarna biru yang panjangnya sampai pada betisnya dan sweater rajut berwarna cokelat muda. Ketika Alex mengenakan pakaian tersebut, ada perasaan aneh yang muncul di dalam hatinya, tapi dia menghiraukan hal itu.
Berdiri di hadapan cermin besar di atas wastafel kamar mandi, ini adalah pertama kalinya Alex melihat penampilannya setelah dia datang ke dunia ini. Gadis yang berdiri di tempatnya itu memiliki tinggi tubuh sekitar 170 cm dengan postur tubuh yang proporsional. Bagian dadanya besar, pinggangnya begitu ramping, dan kedua kakinya yang panjang akan membuat pakaian jenis apapun yang Alex kenakan selalu terlihat menawan untuknya, seperti model dari majalah pemotretan profesional.
Tidak hanya tubuh Alex yang begitu bagus, wajahnya pun juga sangat cantik dan tidak kalah dengan artis-artis terkenal di luar sana. Dari wajahnya, Alex memiliki paras lebih condong pada kecantikan oriental Huaxia meskipun dia memiliki wajah campuran oriental dengan barat, sepertinya dia mengikuti Madam Klein ketimbang Master Klein. Kulit Alex yang putih merona, bibirnya yang berwarna pink alami, serta tulang wajahnya berbentuk hati itu sangat menawan. Ketika Alex mencoba untuk tersenyum, dia melihat dua lesung pipi muncul di kedua pipi putihnya.
Gadis di hadapan Alex itu memiliki rambut tebal berwarna hitam yang tergerai bebas sampai belakang punggungnya. Rambutnya yang ikal dan setengah lurus tersebut membingkai wajahnya dengan sempurna, poni rambutnya menyentuh wajah serta bagian atas matanya yang memberikan kesan sempurna. Dalam artian singkat, Alex benar-benar terlahir sebagai seorang gadis yang sangat cantik dan menawan.
Namun, dari semua itu yang membuat Alex semakin terkesan adalah kedua matanya. Kedua mata gadis yang ia lihat dari balik cermin sangat mirip dengan miliknya di era interstellar, begitu dalam dengan warna hijau cemerlang layaknya kristal emerald. Warna mata ini Alex warisi dari mendiang ratu yang merupakan ibunda tercintanya.
Siapa sangka kalau Alex akan melihat mata yang sama dengan yang ibundanya miliki di dunia ini. Gadis itu menyentuh cermin yang ada di hadapannya sebelum ia menghela nafas kecil, ada rasa nostalgia yang Alex rasakan secara tidak langsung.
Alex membelai dada kirinya tepat di mana jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Perasaan nostalgia yang dia rasakan perlahan-lahan memudar dan meninggalkan perasaan tenang yang bisa Alex rasakan, gadis itu menghela nafas sekali lagi sebelum dia menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Tidak berselang lama setelah itu, suara ketukan dari luar kamar mandi pun terdengar, Samuel sudah kembali setelah dia selesai mengurus semua keperluan administrasi.
“Nona Klein, apakah Anda sudah selesai?” tanya Samuel dari luar.
Alex membuka pintu kamar mandi dan ia pun memberikan anggukan singkat, “Aku sudah selesai. Kita bisa pergi sekarang.”
Melihat sosok Nona Kedua Klein yang berdiri di hadapannya membuat Samuel sedikit terpana, namun suara yang terdengar tenang menyahutinya itu pun membuyarkan lamunan singkat dari Samuel. Pemuda itu tahu kalau Alex adalah seorang gadis muda yang cantik, mengikuti kecantikan oriental Madam Klein, tapi sebelum ini pesona yang gadis itu miliki ditutupi oleh sifat rendah diri yang selalu Alex perlihatkan. Sehingga Samuel tidak pernah menyadarinya, barulah sekarang ini Samuel menyadari kalau Alex bisa disejajarkan dengan Nona Ketiga Klein yang terkenal menawan tersebut.
Melihat Samuel setengah terlena dalam lamunannya, Alex hanya tersenyum singkat namun tidak memberikan komentar apapun. Dia berjalan melewati Samuel dan mengambil tas kecil yang ada di meja nakas di samping tempat tidur rumah sakit. Tas kecil itu berisi dompet dan juga handphonenya.
“Aku sudah selesai, kita bisa pergi sekarang,” ujar Alex yang sekali lagi membuyarkan lamunan singkat sang Asisten pribadi tersebut.
Samuel merasa kedua pipinya begitu panas akibat menahan malu. Pemuda itu berdehem singkat dan berusaha untuk melupakan rasa malunya, dengan cepat ia pun menyusul Alex yang kini sudah berjalan keluar dari tempat itu. Sang Asisten itu pun menyuruh Alex untuk menunggu sebentar di area lobby sementara dia mengambil mobil yang akan membawanya pulang.
Sepuluh menit kemudian, Alex yang sudah duduk di bangku belakang mobil mewah berwarna hitam itu pun meninggalkan rumah sakit. Dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Klein, baik Alex dan Samuel tidak mengucapkan apapun. Sementara Samuel sibuk mengemudikan mobil dari bangku kemudi, Alex terlihat fokus memperhatikan jalanan di luar sana.
Bagi Alex yang sudah tinggal di era interstellar selama hidupnya dan telah bepergian dari satu planet ke planet lainnya, ini adalah pertama kalinya dia melihat pemandangan kota kuno dengan teknologi di bawah teknologi eranya. Meskipun teknologi yang ada di dunia ini tidak bisa disandingkan dengan apa yang ada di era interstellar, tapi Alex merasa puas dengan apa yang dia lihat. Terlebih ketika dia melihat adanya pemandangan hijau dari pepohonan yang ditanam di pinggir jalan.
Kemajuan teknologi yang ada di era interstellar membuat area hutan menjadi semakin kecil. Bahkan di area ibu kota yang ada di Planet Pusat pepohonan seperti ini pun hampir tidak pernah terlihat, hanya mereka yang memiliki banyak uang sepeti keluarga kerajaan yang bisa memiliki taman yang dipenuhi oleh warna hijau pohon.
Mobil yang membawa Alex pun berhenti di hadapan sebuah vila besar berlantai tiga. Vila tersebut dicat dengan warna putih, di halamannya terdapat air mancur yang mengalir dan patung malaikat mungil berdiri di atasnya. Taman yang menghiasi vila tersebut juga tertata dengan begitu rapi, beberapa bunga dengan berbagai varian warna mulai bermekaran dan menambah keindahan taman.
“Nona, kita sudah sampai sekarang,” ujar Samuel.
Pemuda itu turun dari mobil dan kemudian membukakan pintu bagi Alex. Ketika Alex turun dari mobil, dia tidak melihat seorang pun yang menyambutnya, bahkan orang tua atau saudara Alex pun juga tidak muncul di sana.
Meski Alex tidak memiliki ingatan dari tubuh ini, dia sama sekali tidak merasa nervous dan sebagainya. Dengan hati yang begitu tenang serta pikiran yang damai, Alex pun masuk ke dalam bangunan vila yang ia yakini adalah rumah dari Keluarga Klein. Samuel tidak ikut masuk bersamanya, tugas asisten pribadi Master Klein tersebut telah selesai setelah ia mengantarkan Alex ke tempat ini.
“Nona Alexandra sudah pulang,” ujar seorang wanita berpakaian seragam seorang pelayan yang datang menyambutnya.
Wanita paruh baya itu adalah salah satu pelayan yang bekerja di vila ini. Meskipun ucapannya terlihat sangat sopan ketika menyambut Alex, tapi gadis itu bisa melihat tatapan mencemooh dan sedikit merendahkan yang terlihat di kedua mata wanita itu.
Bahkan pelayan yang statusnya tidak sebanding dengan Alex pun bisa meremehkan Alex di sini, sepertinya perasaan inferior dan rendah diri yang pemilik asli tubuh ini miliki benar-benar serius.
“Di mana yang lainnya?” tanya Alex dengan singkat.
Ada sedikit keterkejutan yang pelayan itu rasakan ketika Nona Kedua bertanya kepadanya. Dalam ingatan pelayan itu, Alex tidak pernah bertanya ataupun meminta sesuatu dari para pelayan. Karena status Alex yang begitu kikuk dalam Keluarga Klein, mayoritas pelayan yang bekerja pada Keluarga Klein meremehkan Alex, mereka tidak pernah menghormati gadis itu di belakangnya.
Mereka berpikir apa yang bisa dilakukan oleh orang yang dulunya tinggal di tempat kumuh kepada mereka, perubahan status yang begitu tiba-tiba akan selamanya membuat Alexandra Klein merasa inferior.
“Tuan besar dan Tuan muda masih berada di kantor, Nyonya besar masih melakukan kegiatannya di luar sana. Sementara Nona Sophie kemungkinan besar masih ada di kampus,” jawab pelayan itu.
Alex mengangguk singkat. Dia tidak peduli dengan keberadaan anggota Keluarga Klein lainnya sekarang ini, dia bertanya demi kesopanan saja. Setelah mendapatkan jawaban dari pelayan tersebut, Alex berencana untuk kembali ke kamarnya. Namun, mengingat Alex tidak tahu letak kamar gadis ini, ia pun menoleh ke arah pelayan tersebut.
“Aku ingin beristirahat di kamarku. Antarkan aku ke sana!” perintah Alex dengan nada kalem.
Pelayan itu ingin sekali menolak perintah yang Alex berikan, tapi melihat sorot mata tajam yang terpancar pada gadis itu pun membuatnya tidak mampu untuk berkutik lagi.
“Mari ikuti saya, Nona,” ujar pelayan itu pada ahirnya.
Alex berjalan mengikuti pelayan itu dari belakang, mereka naik ke lantai dua dan masuk ke arah sebuah koridor yang menuju sayap kiri dari vila itu. Tidak lama setelahnya mereka tiba di depan sebuah pintu bercat putih yang menghubungkan kamar Alex.
Sebelum pelayan itu pergi, Alex pun memberinya sebuah perintah lagi.
“Kau beritahu koki yang bertugas memasak untuk membuatkanku sesuatu untuk dimakan, setelah itu antarkan ke kamarku!”
Pelayan itu tiba-tiba saja menatap Alex dengan tatapan penuh keterkejutan, bagaimana mungkin Nona Kedua Klein yang begitu pemalu serta takut untuk memerintah para pelayan tiba-tiba saja memberikan perintah padanya sebanyak dua kali? Pelayan itu tidak sempat mengucapkan apapun karena pada saat itu juga pintu kamar Alex langsung dia tutup begitu saja setelah gadis itu masuk ke dalamnya.
Alex yang memunggungi pintu kamarnya menggeleng kepalanya, merasa takjub dengan tingkah pelayan itu. Kalau pelayan wanita itu saja meremehkannya, maka pelayan lainnya yang bekerja di sini juga akan melakukan hal yang sama.
Pangeran Kelima yang kini menjadi Alexandra Klein benar-benar merasa kasihan kepada gadis ini, bahkan pelayan saja berani menginjak kepalanya seperti itu, bagaimana dengan anggota Keluarga Klein yang lainnya?
Sebuah layar monitor melayang di udara tepat di hadapan Alex, layar tersebut menunjukkan sebuah simbol yang sangat Alex kenal karena selama 40 tahun ia hidup di era interstellar hampir setiap hari Alex melihat simbol tersebut. Simbol yang menjadi pusat dari layar tersebut adalah simbol dari StarNet, sebuah jaringan super intergalaksi terbesar yang menghubungkan semua data di era interstellar.Sebagian besar aktivitas di era interstellar dilakukan melakui StarNet, bahkan urusan kemiliteran serta pemerintahan pun juga menggunakan StarNet dalam kesehariannya. Dalam artian lain, StarNet merupakan jaringan raksasa yang tidak bisa dipisahkan dengan mereka yang tinggal di manapun pada era interstellar.Apabila StarNet hanya ada di era interstellar, lalu bagaimana StarNet yang ada di light brain milik Alex masih menghubungkannya dengan StarNet dari era interstellar? Semua itu masih menjadi tanda tanya dalam benak Alex. Ada rasa penasaran yang begitu besar muncul dalam
Apabila seseorang bertanya apa yang tengah Alex rasakan sekarang ini, tentu dia akan menjawab kalau dirinya merasa lelah. Alex lelah dengan Sophie yang terus mengulang kalimat yang dia katakan, tidak hanya sekali namun berkali-kali.Gadis itu melepaskan genggaman Sophie dari lengannya, dia menghiraukan bagaimana kedua mata Sophie sedikit berkaca-kaca serta mencerminkan kesedihan ketika Alex memaksanya untuk melepaskan genggaman itu secara tidak langsung. Dari ekspresi Sophie yang terpatri di wajahnya, apabila seseorang melihat pasti mereka berpikir Alex tengah membully Sophie dan membuat sedih gadis itu. Dalam hati Alex bertanya-tanya bagaimana bisa perasaan gadis ini serapuh itu.“Alex....” panggil Sophie lagi, ada keraguan kecil di dalam nadanya.Sophie memperlihatkan ekspresi terluka ketika Alex menghindari dirinya saat Sophie ingin menggenggam lengannya lagi. Karena dia tidak ingin melihat penolakan dari gadis itu lagi, akhirnya Sophie pun memili
Di dalam grup pelayan yang bekerja pada Keluarga Klein terdapat sebuah informasi baru yang sangat penting, dan informasi ini mampu mempengaruhi kehidupan mereka ketika bekerja pada keluarga itu. Informasi tersebut berhubungan erat dengan perubahan status dan juga sifat dari Alexandra Klein, Nona Kedua Keluarga Klein.Kalau dulu Nona Kedua yang baru saja kembali ke dalam keluarga ini selalu terlihat malu dan lebih suka mengurung diri di kamar, bahkan sifat dari Alex pun juga terlihat suram yang mengakibatkan dirinya selalu merasa inferior bila dibandingkan dengan semua orang yang ada di sekitarnya. Tidak hanya itu saja, ketika Alex baru kembali di Keluarga Klein dia tidak berani menatap mata orang-orang yang ada di dalam vila ini, termasuk para pelayan yang bekerja di Keluarga Klein. Sebagai akibatnya, para pelayan yang statusnya tidak tinggi pun bisa memandang rendah Nona Kedua yang baru kembali ini.Sayangnya keadaan itu berubah 180 derajat sekarang. Alex yang dulu ti
“Bodoh!!” teriak seorang pria. Pria itu bertubuh kurus kering dan memiliki luka goresan dari kening lurus sampai dagu, membuat parasnya terlihat sedikit mengerikan. Dia berkata kepada orang yang menarik kerah Elliot, “Apa kau mau membunuh kantong emas kita? Kita diperintahkan untuk menculiknya dan bukan membunuhnya!!!” Dalam ucapan pria tersebut terdapat sebuah penekanan yang mengisyaratkan kalau tujuan mereka yang sebenarnya adalah menculik Elliot, mereka tidak diperbolehkan membunuh anak itu. Pria yang wajahnya memiliki luka goresan menegaskan ucapan itu untuk yang kedua kalinya. Orang yang menarik kerah Elliot, pria pertama, sadar kalau apa yang dia lakukan akan membuat tiket emas mereka (Elliot) mati akibat kehabisan nafas. Dengan segera pria pertama melepaskan kerah Elliot dan mengakibatkan anak itu jatuh terduduk di atas tanah. Namun, sebelum Elliot bisa bergerak pria itu lagi-lagi menarik lengannya, menahan anak itu untuk tidak pergi ke mana-mana.
“Pihak kita sudah mencoba melacak penelepon yang menghubungi pihak kepolisian, tapi saat ini kami belum menemukan identitas orang tersebut. Kami juga menduga kalau si penelepon dan orang yang menyelamatkan Tuan Muda adalah orang yang sama,” ujar seorang pria yang mengenakan pakaian elit lengkap dengan jas hitam dan bersepatu kulit, dia tengah memberikan laporan kepada pemuda yang tengah duduk di balik meja kerja di hadapannya. Suara guratan pena yang berasal dari arah pemuda yang tengah menulis sesuatu pada dokumen di hadapannya menjadi satu-satunya suara yang terdengar di dalam kantor yang lengang tersebut. Mereka saat ini berada di dalam gedung perkantoran utama Horizon Group, tepatnya ada di lantai atas dimana kantor besar milik presiden utama berada. Melihat pemuda tampan yang duduk di kursi bos masih sibuk menandatangani beberapa dokumen pekerjaan di hadapannya, asisten pribadi yang bernama Felix pun meneruskan laporan yang dia terima dari pihak penyelidik.
Saat pintu kamar terbuka, di sana telah berdiri seorang wanita paruh baya yang mengenakan seragam pelayan wanita berwarna merah muda pucat, sebuah celemek berwarna putih menutupi rok yang wanita itu kenakan. Wanita paruh baya itu terlihat terkejut ketika pintu kamar terbuka secara mendadak, bahkan tangan kanannya yang terangkat dan akan mengetuk pintu pun belum sempat ia turunkan. Suasana di sana terasa canggung, ekspresi tidak sabaran yang sedari tadi muncul di wajah pelayan wanita mendadak menjadi kaku sebelum rona merah pucat menghiasi wajahnya, namun rona tersebut hanya terlintas sebentar saja. Namun, mengingat kalau status Alex sekarang jauh lebih tinggi di Keluarga Klein, dia pun langsung mengubah ekspresinya dengan penuh hormat, itu pun ada mimik ogah-ogahan. Meskipun demikian, sorot mata pelayan itu masih tidak berubah, penuh dengan cemooh sebelum kemudian dia menundukkan kepala untuk menutupi kilatan emosi tersebut. Semua pelayan yang bekerja pada Ke
Perseteruan kecil yang terjadi karena intrik dari Sophie dan Nourma langsung Alex lupakan ketika dia ingat dirinya memiliki janji untuk bertemu dengan Vincent sore itu. Alex tidak tahu apa yang Vincent inginkan dari dirinya, tetapi mengingat informasi yang Alex miliki mengenai sosok tunangan yang misterius tersebut, Alex tahu kalau pemuda itu adalah tipe orang yang serius. Untuk itu dia yakin pertemuan mereka berdua pasti dilandasi oleh hal penting yang ingin Vincent sampaikan padanya. Apa mungkin Vincent menyesal telah menerima Alex sebagai tunangan dan setelah berpikir panjang pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan pertunangan ini? Pertanyaan itu tidak jarang muncul di dalam kepala Alex. Dia tidak salah bila berpikiran demikian mengingat hubungan yang mereka berdua miliki terkesan begitu dipaksakan. Untuk mendapatkan suntikan dana dari Horizon Group yang Vincent pimpin serta dukungan dari Keluarga Dietritch, Marius tanpa ragu memutuskan untuk “menjual”
Alex ingat betul apa yang terjadi ketika dia pertama kali datang ke dunia ini. Bisa dikatakan pengalaman yang Alex rasakan kala itu sangat tidak menyenangkan, dia yang baru saja mengalami kematian akibat kecelakaan badai kosmik di luar angkasa tiba-tiba mendapati dirinya berpindah tempat ke dunia ini. Sebelum Alex tahu betul apa yang terjadi, dia harus menghadapi hinaan dan cercaan dan kemudian seseorang mendorongnya ke arah kolam renang, membuat Alex hampir mati tenggelam. Sebelum Alex memiliki waktu untuk mencari dua orang yang membuatnya sengsara pada waktu dia pertama kali tiba di dunia ini dan membuat perhitungan dengan mereka, salah satu dari dua orang itu terlebih dahulu datang pada Alex. Bukankah ini namanya kesempatan manis yang jatuh di atas pangkuan Alex? Istilahnya seperti saat dia merasa mengantuk seseorang mengirim sebuah bantal pada Alex untuk tidur. Meskipun kapital yang Alex miliki saat ini tidak sebanding dengan orang itu, setidaknya dia bisa
Ketika Alex dan Sophie tiba di ruang depan, di sana sudah ada Marius, Olivia, Louis, dan juga Vincent yang tiba lebih dahulu dari mereka. Suasana di ruangan tersebut sangat kelam, ketegangan yang diakibatkan oleh kemarahan Marius akibat apa yang terjadi saat itu sama sekali tidak bisa dibendung. Meskipun Marius tidak berteriak untuk mengungkapkan kemarahan yang dia miliki, ekspresi diam serta nada dingin yang dia gunakan untuk berbicara jauh lebih ampuh untuk mengekspresikan kemarahannya. Situasi macam apa yang bisa membuat laki-laki ini kehilangan ketenangannya? Melihat Vincent yang tengah duduk sedikit lebih jauh dari tempat Keluarga Klein, Alex berjalan menghampiri suaminya dan duduk di sampingnya pada salah satu sofa panjang tidak jauh dari Keluarga Klein dengan tamunya. “Apa yang terjadi?” tanya Alex, dia setengah berbisik di telinga Vincent. Sebuah tanda tanya besar menghiasi ekspresi wajah Alex, dia ingin tahu drama macam apa yang akan dia tonton di ruang tamu ini. Vincent t
Setelah Louis pulang dari kantor, makan malam bersama di vila Keluarga Klein pun pada akhirnya dimulai. Acara makan malam tersebut bisa dikatakan sebagai acara formal di mana Alex pulang ke rumah bersama Vincent setelah pernikahan mereka berdua digelar dua minggu lalu.Dengan status Alex dalam Keluarga Klein sebelum dia menikah, acara seperti ini sebenarnya tidak perlu diadakan. Namun karena suami Alex adalah Vincent Dietritch, tentunya acara makan bersama seperti ini perlu diagendakan oleh Keluarga Klein. Tidak hanya status Vincent yang tinggi di mata banyak orang, Keluarga Klein yang kini bergantung pada pohon raksasa seperti Keluarga Dietritch harus berusaha menjalin hubungan yang baik dengan Vincent demi keuntungan yang besar di masa depan.Di atas meja makan sudah tersaji beberapa makanan yang terlihat sangat lezat, mulai dari makanan pembuka sampai makanan penutup ada di atas meja. Meskipun situasi di keluarga ini sering membuat Alex jengkel, gadis itu tidak akan memungkiri kala
Perjalanan untuk menuju kediaman Keluarga Klein yang ada di area Bravery Hills membutuhkan waktu kurang lebih lima belas menit pada kondisi biasa dan ditempuh menggunakan kendaraan bermotor atau mobil, apabila pada kondisi macet sedang terjadi maka perjalanan untuk menuju ke sana akan membutuhkan waktu kurang lebih satu jam lamanya. Dalam melakukan perjalanan menuju area Bravery Hills kendaraan yang membawa Alex dan Vincent cukup beruntung karena kondisi jalanan saat itu tidak sedang pada kondisi padat, sehingga mereka tidak terjebak macet dan menunggu waktu lama untuk tiba di Bravery Hills. Kendatipun demikian, Alex yang menjadi penumpang dalam mobil itu berpikir andaikata mereka terjebak macet di saat-saat sekarang ini, dia tidak akan merasa marah ataupun kesal. Alex berpikir demikian karena sebenarnya dia merasa sedikit malas untuk segera tiba di Bravery Hills dan berhadapan langsung dengan Keluarga Klein. Alex bukanlah orang naif yang berpikir kalau Marius dan yang lainnya akan m
Beberapa hari berlalu setelah Alex menikah dengan Vincent. Tidak ada yang berubah secara signifikan dalam kehidupan Alex, dia masih bisa melakukan kegiatannya sehari-hari tanpa ada gangguan dari pihak manapun. Bagi Alex, menikah maupun belum menikah sama-sama tidak memiliki pengaruh besar untuknya. Cuma di sini ada sedikit tambahan dalam hidup Alex, yaitu keberadaan seseorang yang tinggal bersama dengan dirinya. Meskipun Alex dan Vincent pada dasarnya bertemu setiap hari dan juga tidur dalam satu ranjang, perubahan kecil itu masih bisa Alex hiraukan. Vincent adalah orang yang sangat sibuk, dia berangkat ke kantor di pagi hari dan pulang di sore hari. Walaupun Vincent berusaha untuk tidak pulang telat dan menemani Alex makan malam setelah pulang dari kantor, kegiatan dan juga jadwal yang mereka berdua miliki memiliki perbedaan yang sangat besar, bisa dikatakan keduanya hampir tidak bertemu kecuali di malam hari. Tidak heran kalau Alex merasa kehidupannya tidak ada yang berubah (minus
Suara tawa kecil dari Alex membuat situasi semakin dingin dan juga kelam, di seberang sana Sara yang mendengarkan suara tawa itu merasakan bulu kuduknya berdiri, seperti sesuatu yang begitu menakutkan menghantam dirinya. Ada rasa was-was dan juga kekhawatiran, Sara bersiap untuk menoreh wajahnya dengan Alex kalau gadis itu meminta penjelasan darinya nanti. Meskipun persiapan hatinya belum matang serta kekhawatiran Sara akan balas dendam dari Keluarga Dietritch nanti, dalam hati Sara tidak ingin terus terkurung di bawah bayang-bayang Alex. Bagi Sara gadis itu dulunya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan dirinya, bagaimana mungkin Sara rela menjilat kaki orang yang dulu pernah dia anggap rendah? “Sara, aku hanya bercanda dan mengerjaimu tadi. Aku percaya dengan kata-katamu.” Perkataan Alex yang tiba-tiba saja dilontarkan tersebut membuat Sara membatu di tempat. Apakah benar Alex bercanda dengannya tadi? Suasana dingin dan juga penuh tekanan yang tadi menyelimuti Alex kini me
Alex merasa tubuhnya remuk seperti baru saja dihantam oleh truk bermuatan besar berkali-kali, terutama bagian pinggang yang sekarang ini begitu kebas dan sedikit sulit untuk digerakkan. Bagian bawah tubuhnya begitu kaku dengan rasa nyeri yang menjalar ke mana-mana, bahkan menggerakkan jari tangan saja membuatnya harus bekerja keras yang membuat Alex ingin menyerah begitu saja. Semua ini adalah salah Vincent, Alex menyalahkan pemuda itu karena dialah sumber dari rasa sakit yang harus Alex rasakan sekarang ini. Apabila Alex teringat akan apa yang terjadi semalam, wajah gadis itu langsung diselimuti oleh aura kelam layaknya langit mendung, Alex ingin memberikan sumpah serapah kepada Vincent. Sayangnya keinginan itu langsung sirna karena dia berjengit sakit setelah tanpa sadar bergerak sedikit saja. Tidak ada yang menyangka kalau orang yang selalu terlihat tenang, memiliki kontrol diri yang kuat, dan juga begitu dingin sampai orang lain meragukan apakah dia memiliki nafsu adalah seorang
Hari yang sibuk karena menjadi satu dari dua tokoh utama dalam pesta pernikahan akan membuatmu lupa kalau tubuhmu sangat lelah, dan saat semuanya berakhir barulah kau menyadari kalau dirimu lelah baik itu secara jiwa dan raga. Hal itulah yang Alex rasakan setelah pesta pernikahannya yang digelar besar-besaran selesai tepat pada malam hari, dia merasa tubuhnya remuk akibat rasa lelah yang luar biasa melanda dirinya. Alex merasa berterima kasih kepada Vincent karena pemuda itu menyuruhnya untuk pergi istirahat ke atas dan tidak perlu melibatkan diri lagi setelah pesta selesai, status yang Alex sandang setelah menikah dengan Vincent membuat para pelayan di keluarga ini mengikuti semua perintah yang dia miliki, dan gadis itu juga tidak perlu membersihkan semua yang ada setelahnya. Tanpa ada niatan untuk mengutarakan protes yang terkesan begitu hipokritis, Alex bergegas keluar dari ruangan utama di mana pesta pernikahannya tadi digelar untuk menuju lantai tiga. Kamar utama dalam rumah bes
Resepsi pernikahan yang digelar oleh Keluarga Dietritch bisa dikatakan sebagai sebuah momen yang begitu besar dan juga dinantikan oleh banyak orang, pasalnya yang menjadi tokoh utama dari pernikahan ini adalah Kepala Keluarga Dietritch sendiri. Dia ditakuti dan juga disegani oleh banyak orang pada saat yang sama, kemampuannya dalam dunia bisnis yang sudah diakui sejak dia masih muda serta tindakannya dalam mengambil setiap keputusan yang begitu mutlak membuat sang kepala keluarga muda ini mendapatkan tempat pertama di mata banyak orang. Dalam pesta pernikahan yang digelar di salah satu rumah besar milik Keluarga Dietritch, banyak tamu undangan berasal dari rekan bisnis Vincent dan juga mereka yang memiliki pengaruh penting baik dari dunia ekonomi, politik, dan lain sebagainya di San Forcio. Setiap tindakan Vincent selalu mendapatkan perhatian, tidak terkecuali ketika pemuda itu datang menghampiri Alex yang kini berada di sebuah tempat terpencil dan hampir luput dari perhatian banyak
Elliot Dietritch, berusia sepuluh tahun dan bercita-cita menjadi orang hebat seperti pamannya adalah pewaris dari seluruh harta kekayaan Keluarga Dietritch untuk sementara ini. Sejak kecil Elliot sudah terbiasa melihat kelamnya dunia dari atas, statusnya tersebut membuat pemikiran dan juga mental Elliot tumbuh jauh lebih cepat bila dibandingkan dengan anak-anak seumuran dengannya. Mengalami percobaan penculikan maupun pembunuhan adalah hal yang sudah sering Elliot alami, bahkan dengan pengawalan yang ketat dari keluarganya sekalipun tidak membuat orang-orang yang ingin mencelakai Elliot merasa jera. Saking seringnya Elliot mengalami percobaan penculikan maupun pembunuhan, anak itu merasa begitu terbiasa dan tidak panik lagi ketika hal berbahaya muncul di depannya. Tidak heran kalau ibu Elliot menjadi sosok wanita yang paranoid, dia selalu berpikir kalau dunia akan melakukan hal jahat kepada anak semata wayangnya tersebut. Hal paling tidak mengenakan yang Elliot alami dalam waktu ter