My Crazy, Beautiful And Naughty Wifey

My Crazy, Beautiful And Naughty Wifey

last updateLast Updated : 2023-10-10
By:  Sapphire_963Completed
Language: English
goodnovel16goodnovel
6
2 ratings. 2 reviews
118Chapters
9.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

It is a love story between Rachel and Cole, they met in a unusual situation and got married in less than two weeks of working together as Boss and personal assistant. But both have their own reason for the marriage they live together contentedly despite the meddling of the relations on Rachel's side. They started to build an affection for each other until Cole discovered something that force him to reject his wife. Broken hearted Rachel left with her new found relative her mother. After two years she came back as a new woman ready to make every one pay for messing her life. She met her ex-husband again. But bound by her determination to set things right she stay away from Cole and promise to herself she will not fall for same mistake of falling for him again. But Cole has other ideas, and one of that is to win back the woman he rejected before.

View More

Chapter 1

Chapter1 Rachel's impulsive move

Mereka berpikir malam ini akan jadi awal dari kejayaan. Mereka berpikir malam ini akan punya segunung harta yang nanti digunakan untuk membangun istana di pesisir timur guna mengokohkan wilayah kekuasaan. Mereka berpikir malam ini akan penuh dengan suka cita, berpesta sampai pagi dan tidur bersama wanita-wanita cantik.

Akan tetapi, itu hanya apa yang mereka pikir.

Kenyataan yang tersaji jauh daripada itu.

Sebuah pengkhianatan licik dari kelompok yang awalnya dikira sebagai rekan, kini membelot kepada para pendekar dan bersikeras menghancurkan mereka.

Long Wei memutus tali kapal yang tertambat di dermaga, bahkan sebelum ayahnya menurunkan perintah.

“Mundur!” teriaknya. “Kembali ke air. Menjauh dari daratan.”

Belasan anak buah ayahnya yang belum sempat naik ke kapal segera melompat. Beberapa yang masih tertinggal harus berenang menerjang arus sungai Bai He sejauh beberapa kaki sebelum naik dengan susah payah.

“Tembakkan anak panah!” Long Wei berteriak lagi melihat perahu-perahu mulai mengejar. “Bentangkan layar. Cepat! Cepat!”

Layar hitam yang bertuliskan “Hantu Samudra” dan ditulis menggunakan tinta putih berkibar tertiup angin menuju ke laut lepas.

Long Wei menghampiri ayahnya yang mengamati dalam diam di buritan kapal.

“Ayah, orang-orang Zhu tidak mau melepaskan kita.”

Ayahnya memukul pagar pembatas kapal. “Bedebah. Pengkhianat!” katanya geram. “Terus berlayar ke timur, ke laut lepas.” Meskipun demikian, Long Jian, ayah Long Wei tahu kalau tak ada pilihan selain melawan karena mereka sudah terkepung. Perahu-perahu kecil bisa mengejar lebih cepat.

Sebelum Long Wei berbalik untuk melaksanakan perintah, tiba-tiba terdengar suara keras disusul robohnya salah satu tiang kapal. Long Wei memekik ngeri ketika melihat siapa yang telah meruntuhkan tiang sebesar itu. Di belakangnya, Long Jian menggeram.

“Tangan Maut, kau pendusta!”

Orang itu berdiri di atas tiang kapal yang patah, dikepung oleh anak buah Long Jian yang telah siap dengan golok dan tombak. Namun, si Tangan Maut mengeluarkan kekehannya yang menyebalkan.

“Aku tak mau mendengar itu dari mulut bajak laut rendahan.”

Long Jian mencabut pedang besar dan melompat, tubuhnya melayang seperti burung raksasa. Di sisi lain si Tangan Maut terkekeh makin keras, ikut melompat pula.

Bentrokan di udara menciptakan gelombang kejut yang menyebar ke segenap penjuru. Beberapa orang yang terlalu dekat sampai jatuh terduduk karena tak kuat menahan tabrakan tenaga dalam mereka.

Tubuh keduanya melayang turun. Tepat setelah menjejak geladak kapal, mereka kembali saling terjang.

“Wei ji (anak Wei) hadapi mereka!”

(Akhiran “-ji” saat memanggil seorang anak biasa dilakukan orang tua untuk menunjukkan kasih sayang dan keakraban mereka.)

Long Wei menoleh, ternyata orang-orang dari bajak laut “Iblis Laut” telah naik ke lambung kapal.

Long Wei mencabut pedang dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Maju!”

Pertempuran hebat pun tak terelakkan. Long Wei dikawal oleh dua orang anggota pilihan dari bajak laut Hantu Samudra, menghadapi terjangan para lawan. Tubuhnya yang hanya setinggi pundak orang dewasa mampu bergerak gesit ke sana kemari menghindari serangan sekaligus membalas dengan tebasan atau tusukan.

Akan tetapi, perhatiannya terpecah saat melihat perkembangan dari pertarungan Long Jian. Ayahnya itu semakin terdesak dengan ilmu silat Tangan Maut yang aneh luar biasa.

Padahal hanya menggunakan tangan kosong dibantu lengan jubahnya yang lebar, Tangan Maut mampu menghadapi pedang besar Long Jian tanpa rasa takut sedikit pun. Telapak kaki orang itu tak pernah menyentuh geladak secara bersamaan, pasti salah satunya melakukan gerakan menendang atau sekadar terangkat untuk menipu lawan. Tak jarang pula tubuh Tangan Maut berputaran lalu tahu-tahu satu pukulan mendarat di pundak Long Jian.

Ketika pertempuran sedang memanas, terlihat bayangan putih melayang di atas kapal. Ketika turun, gelegar suaranya yang mengguntur mampu menulikan mereka untuk beberapa saat.

Dan tiba-tiba … Braaakkk!!, kapal itu terbelah jadi dua.

“Penipu!” Long Wei tak mampu menahan kemarahannya melihat muka pria tua tersebut. “Beginikah sikap pendekar yang katanya gagah berani, pembela kebenaran? Beginikah para pendekar gagah yang tak hanya jago bertempur, tapi juga jago menipu?”

“Diam, bocah ingusan.” Suaranya berwibawa, penuh getaran. “Untuk melenyapkan bajak laut tak berguna yang selalu menakuti orang-orang, semua cara diperbolehkan.”

“Dasar tak tahu diri! Kami lebih punya harga diri dibanding kalian—akh!”

Long Wei terpaksa berguling ke depan, tempat kapal itu miring ke air hingga hampir tenggelam, saat ada sabetan pedang dari belakang.

“Sial!” Long Wei bergelantungan pada kayu kapal yang hampir patah. Kurang satu tindakan kecil saja maka ia akan benar-benar jatuh ke dalam air.

Hatinya digerogoti rasa ngeri saat melihat pemimpin bajak laut Iblis Laut—orang bermarga Zhu—yang datang ke arahnya menggunakan perahu kecil. Long Wei mampu melihat seringai kecil di wajah pria tersebut.

“Pengkhianat,” geram Long Wei.

Dua anggota Hantu Samudra merosot turun, berniat menolongnya. Namun tepat sebelum mereka sampai, orang yang tadi menyerang Long Wei dari belakang telah menusuk mereka.

“Sial … sialan!”

Tanpa diduga, sesosok tubuh penuh darah tercebur ke sungai dan hampir menabrak tubuh Long Wei yang masih bergelantungan. Air membumbung tinggi dan Long Wei terbelalak, mencoba tidak percaya apa yang dilihatnya secara sepintas tadi.

Akan tetapi ketika tubuh itu muncul kembali ke permukaan, tampak wajah seorang pria paruh baya yang tidak asing lagi di mata Long Wei. Seorang pria dengan jenggot tebal dan mata terbelalak.

“Ayaaaahhh!!!” pekik Long Wei histeris.

Pemuda itu kembali berteriak ngeri ketika kayu yang jadi pegangannya patah, lebih tepatnya dipatahkan. Tubuhnya jatuh ke aliran sungai Bai He yang cukup deras.

Dia menelan cukup banyak air sebelum dengan panik mencoba muncul ke permukaan. Kiranya dia sudah terseret lumayan jauh. Pertempuran masih berlanjut di kapal yang telah miring dan terbawa arus sungai itu. Daripada disebut pertempuran, pemandangan di sana lebih tepat disebut sebagai pembantaian.

Air mata Long Wei menetes tanpa sadar, melihat tubuh ayahnya di sisi lain sungai yang alirannya jauh lebih deras.

Dengan penuh kemarahan, Long Wei memandang pria tua berjubah putih di atas kapal yang kini berdiri bersisihan dengan si Tangan Maut yang memakai pakaian serba hitam. Mereka berdua sedang memandangnya.

“Datanglah lagi dan ambil kepala kami beberapa tahun nanti bila kau memang sudah siap.” Suara pria tua berjubah putih itu menggema sampai jauh karena dikeluarkan dengan pengerahan tenaga dalam.

Pemimpin bajak laut Iblis Laut yang pedangnya sudah berlumur darah itu ikut tertawa bergelak, sengaja dikeras-keraskan.

Tubuh Long Wei hanyut sampai jauh sekali dan ingatan terakhirnya adalah sumpahnya sendiri untuk memenggal kepala tiga orang tersebut.

                                                                                 ***

Pagi hari, tepat ketika cahaya pertama sang fajar muncul di balik gunung tinggi sebelah timur, kakek bercaping yang kelihatan seperti orang bosan hidup itu keluar dari pondok kecilnya.

Kulitnya keriput, rambutnya panjang dan berwarna putih, begitu juga dengan alis, kumis dan jenggot. Ia meregangkan tubuh selama beberapa saat kemudian mengambil alat pancing di samping pondoknya.

“Mungkin hari ini hanya dapat satu atau dua ikan,” gumamnya memandang langit berawan. Keningnya tiba-tiba berkerut. “Itu kalau beruntung.”

Ia berjalan menuju sungai. Punggungnya sedikit bungkuk karena usia, tapi langkahnya masih mantap dan cepat.

Tiba di tepi sungai Bai He, ia disambut suara gemuruh air deras yang menghantam bebatuan hitam. Kakek ini memilih salah satu batu yang paling besar, paling tinggi dan paling halus. Ia memasang umpan di ujung kail lalu melemparnya ke tengah sungai. Sesaat kemudian, duduk menunggu sambil menghela napas berkali-kali.

Waktu yang berjalan tidak cukup lama, bahkan belum sampai satu pembakaran dupa ketika tiba-tiba kakek itu terbelalak dan berseru keras.

“Ini hari keberuntunganku!” Ia mencengkeram pancing bambunya. “Ini hari baik!” Dan sambil tertawa-tawa, ia menariknya kuat-kuat.

Sebuah benda hitam besar meluncur ke udara, membuat si kakek melongo lebar. Awalnya ia berpikir itu ikan raksasa, tapi hanya orang tolol saja yang mengira kalau benda sebesar itu memang ikan. Dan lebih tolol lagi orang yang menganggap kalau itu adalah buaya karena ia punya rambut dan tak berekor.

“Setan!” Kakek itu melompat ke belakang. Gerakannya lincah dan tangkas.

Akan tetapi saat “tangkapannya” melayang makin dekat, ia akhirnya sadar bahwa kail pancingnya tersangkut ke jubah sesosok manusia. Kini wajahnya memucat karena manusia itu jatuh dengan kepala lebih dulu menuju batu hitam tempatnya duduk.

“Hyaat!” ia berseru lantang.

Dalam gerakan-gerakan indah, tubuh kakek itu melayang di udara, berputaran. Di saat berikutnya ia sudah menangkap tubuh orang malang tersebut di bagian kerah.

Kakek ini segera menjatuhkan tubuh “tangkapannya” ke tanah dan meninju perutnya. Seketika air menyembur keluar dari mulut orang tersebut.

Kakek ini menyibak rambutnya, ternyata masih amat muda, mungkin lima belas tahunan.

Ia terkejut dan terlonjak saat mata itu tiba-tiba membuka.

Pemuda itu berseru. “Bajingan pendusta!”

Spontan, kakek itu mengumpat. “Setan kecil tak tahu terima kasih!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Sub Script
Sub Script
The plot is very complicated and hard to chew with run on sentences and typos.
2023-12-16 00:45:20
0
0
Angus
Angus
Lots of annoying typos! Urghhhhh
2023-09-12 00:59:59
1
0
118 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status