Share

Pukul Dua Pagi

last update Terakhir Diperbarui: 2025-03-18 22:50:05

Taka masih duduk di ruang tamu. Lampu utama sudah ia matikan, menyisakan cahaya lampu meja yang temaram. Di hadapannya, secangkir kopi yang tadi ia buat sudah dingin. Matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup rapat.

Di balik pintu itu, Wisang ada di sana. Tapi entah kenapa, rasanya ia seperti berada sangat jauh.

Taka menghela napas, mencoba memahami perasaannya sendiri. Ia marah. Ia kecewa. Tapi yang lebih besar dari itu semua—ia takut.

Selama ini, ia selalu berpikir bahwa meski ada pertengkaran di antara mereka, Wisang tidak akan benar-benar pergi. Wisang akan tetap berada di sisinya, tetap mencintainya, tetap menjadi tempat pulang bagi dirinya dan Ghenta.

Tapi jawaban Wisang tadi—Aku tidak tahu—menghantamnya lebih keras dari apa pun.

Taka mengusap wajahnya. Ia ingin masuk ke kamar itu, berbicara dengan Wisang, meminta maaf jika memang itu yang diperlukan. Tapi kakinya terasa berat. Ia takut, jika ia memaksa masuk, Wisang akan semakin menjauh.

Malam semakin larut.

Dan untuk pert
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • My Beloved Partner   Mungkin

    Wisang duduk di meja makan, menatap piring di depannya tanpa banyak nafsu. Biasanya, makan malam adalah momen yang hangat. Ia dan Taka akan duduk bersama, membicarakan hari mereka, berbagi cerita kecil tentang Ghenta. Tapi malam ini, yang ada hanyalah keheningan. Taka duduk di seberang, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya membuka suara. “Kau sudah makan?” tanyanya pelan. Wisang mengangguk, meski hanya menyentuh makanannya sedikit. “Ya.” Taka terdiam sejenak sebelum akhirnya bangkit, membawa piring kotor ke wastafel. Biasanya, Wisang yang selalu mengomel saat ia lupa mencuci piringnya sendiri. Tapi kali ini, Wisang hanya diam, membiarkan Taka bergerak dengan caranya sendiri. Ketika Taka kembali ke meja makan, ia menatap Wisang lama. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi kata-kata terasa sulit untuk keluar. “Aku akan tidur lebih awal,” Wisang berkata akhirnya, bangkit dari kursinya. Taka refleks berdiri juga. “Wisang…” Wisang menoleh, menunggu. Taka menggigit bibi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-23
  • My Beloved Partner   Menuju Kepastian

    Malam itu, setelah menghabiskan waktu bersama di taman, Wisang duduk di teras rumah dengan secangkir teh di tangannya. Udara malam terasa lebih sejuk dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia sedang berpikir, mencerna semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir.Taka muncul dari dalam rumah, membawa selimut tipis. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Wisang, menyelimutinya dengan pelan."Udara dingin," katanya singkat.Wisang menatapnya sekilas, lalu kembali memandang ke depan. "Aku baik-baik saja."Taka menghela napas, lalu mengeratkan selimut itu di bahu Wisang. "Aku tahu kau kuat. Tapi bukan berarti kau harus selalu sendiri dalam semua hal."Kata-kata itu menusuk sesuatu dalam diri Wisang. Ia tidak menjawab, hanya mengaduk tehnya perlahan.Beberapa saat berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Taka kembali membuka suara."Kau percaya padaku, Wisang?"Pria itu terdiam. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana itu."Jujur saja," lanjut Ta

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-25
  • My Beloved Partner   Masa Lalu Belum Usai

    Larissa baru saja berbalik menuju mobilnya ketika Wisang mengejarnya, langkahnya cepat dan penuh emosi yang tertahan.“Tunggu, Larissa,” panggil Wisang, suaranya tegas.Wanita itu berhenti, menoleh dengan ekspresi datar. “Apa lagi?”Wisang menatapnya tajam. “Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini? Kau membuat janji dengan Ghenta tanpa bicara dengan kami dulu, seolah kau lebih berhak atasnya.”Larissa menyilangkan tangan di dadanya. “Aku tidak perlu izin darimu atau Taka untuk menghabiskan waktu dengan Ghenta. Aku sudah mengenalnya sejak lama, dan dia menyayangiku.”Taka yang berdiri di ambang pintu menghela napas, tetapi membiarkan Wisang menangani ini.“Kau pikir itu alasan yang cukup?” Wisang mendekat, suaranya sedikit meninggi. “Kau tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan kami dan membuat keputusan sepihak! Ghenta bukan anakmu, Larissa!”Mata Larissa berkilat marah. “Dan kau juga bukan ayah kandungnya, Wisang! Tapi kenapa kau bertingkah seolah kau yang paling berhak?”Ucapann

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-26
  • My Beloved Partner   Dosa Lama

    Taka berdiri di bawah lampu jalan, menunggu dengan gelisah. Hanya ada beberapa mobil yang melintas di sekitar area parkir restoran ini. Ia tidak ingin bertemu Larissa di rumah atau di tempat yang bisa menimbulkan kecurigaan. Maka, ia memilih lokasi netral—tempat yang cukup ramai untuk menghindari kesalahpahaman, tetapi cukup sepi agar mereka bisa berbicara tanpa gangguan.Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di dekatnya. Larissa keluar dari mobil dengan anggun, mengenakan mantel panjang berwarna krem. Wajahnya tetap sama seperti yang Taka ingat—dingin, penuh percaya diri, dan licik.“Kau benar-benar datang,” ucap Larissa dengan senyum tipis.Taka menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu keluargaku.”Larissa mengangkat alisnya, lalu melipat tangan. “Oh? Jadi sekarang kau menyebut mereka keluargamu?” Ia terkekeh kecil. “Padahal dulu, kau pernah menyebutku sebagai satu-satunya wanita yang kau cintai.”Taka menghela napas, berusaha mengendalikan emosi

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • My Beloved Partner   Persekongkolan

    Malam berikutnya.Di sebuah kafe yang cukup tersembunyi di pusat kota, Dimas duduk dengan tenang, menyesap kopinya sambil menunggu seseorang. Senyumnya tipis ketika melihat seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat keemasan memasuki ruangan.Larissa.Ia melangkah anggun, mengenakan gaun hitam sederhana yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan ke arah Dimas. Begitu sampai di meja, ia duduk tanpa basa-basi, menyilangkan tangan di dada."Aku tidak menyangka kau akan menghubungiku duluan," ujar Larissa dengan nada penuh penilaian.Dimas tersenyum kecil. "Kita berdua menginginkan hal yang sama, bukan?"Larissa mengangkat alis. "Kau ingin memisahkan Taka dan Wisang, sedangkan aku hanya ingin Taka kembali padaku. Jangan salah paham, Dimas. Aku tidak peduli dengan urusan pribadimu."Dimas terkekeh. "Oh, tapi kita berdua sama-sama tahu bahwa mereka berdua tidak akan mudah dipisahkan tanpa sedikit… dorongan."Larissa menatapnya lama, lalu m

    Terakhir Diperbarui : 2025-03-27
  • My Beloved Partner   Wisang Semakin Galau

    Malam semakin larut ketika Wisang tiba di yayasan tempat Taka bekerja. Langkahnya mantap, tapi hatinya dipenuhi keraguan. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar tentang pertemuannya dengan Larissa sore tadi. Wanita itu bukan hanya kembali ke kehidupan Taka, tapi juga membawa aura ancaman yang sulit diabaikan.Ketika Wisang memasuki kantor utama yayasan, ia menemukan Taka masih sibuk di balik meja kerjanya. Pria itu tengah membaca laporan keuangan dengan serius, tetapi begitu melihat Wisang, ia langsung meletakkan dokumen itu dan menatap istrinya dengan lembut.“Kau masih di sini?” Taka bertanya, suaranya rendah namun penuh perhatian.Wisang mengangguk, kemudian duduk di kursi di hadapan suaminya. “Aku ingin bicara.”Taka menatapnya dengan penuh perhatian. “Tentang Larissa?”Wisang menghela napas, merasa terbebani dengan segala yang ada di pikirannya. “Aku bertemu dengannya sore ini. Dia datang untuk menjemput Ghenta.”Taka mengangguk, tidak terkejut. “Aku tahu dia akan datang

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-02
  • My Beloved Partner   Undangan Reuni

    Wisang duduk di sudut kamar, tangannya mengepal di atas lututnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, tetapi pikirannya jauh dari pemandangan yang terbentang di luar sana. Semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya seperti film yang tak ada habisnya.Pertemuannya dengan Larissa membuatnya merasa semakin terpojok. Wanita itu berbicara seolah-olah dirinya adalah korban, seolah-olah Wisang adalah orang ketiga yang masuk ke dalam pernikahan Taka. Padahal, selama ini, Wisang yang harus menghadapi kenyataan bahwa dia menikahi seorang pria yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya.Dia mencintai Taka, tidak diragukan lagi. Tetapi cinta itu kini terasa bercampur dengan rasa sakit yang sulit ia jelaskan. Bagaimana mungkin dia harus terus bertahan sementara Larissa seolah berusaha membuatnya tampak seperti perebut suami orang? Bagaimana mungkin dia harus bertahan dengan fakta bahwa Dimas dan Larissa sedang berusaha memisahkan mereka?Taka sudah ber

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-02
  • My Beloved Partner   Reuni

    Di suatu tempat yang remang-remang, di sebuah lounge eksklusif yang hanya dihadiri oleh kalangan tertentu, Larissa duduk di sofa beludru dengan segelas anggur merah di tangannya. Di hadapannya, Dimas bersandar dengan santai, mengaduk minuman di gelasnya sambil menatap Larissa dengan tatapan penuh perhitungan."Jadi, kau sudah memikirkan rencana kita?" tanya Larissa, menyesap anggurnya dengan tenang.Dimas menyeringai. "Tentu saja. Taka tidak akan bisa menolak masa lalunya. Kita hanya perlu memancingnya ke dalam situasi yang membuatnya tak punya pilihan selain kembali padamu."Larissa menyilangkan kakinya, mengangkat alisnya dengan ekspresi tertarik. "Dan bagaimana kau berencana melakukannya? Wisang adalah masalah utama di sini. Taka mungkin masih memiliki perasaan padaku, tapi Wisang selalu ada di sampingnya. Dia tidak akan begitu saja membiarkan Taka kembali padaku."Dimas mengetukkan jemarinya di atas meja, berpikir sejenak sebelum berbicara, "Kau benar. Maka kita harus membuat Wisa

    Terakhir Diperbarui : 2025-04-02

Bab terbaru

  • My Beloved Partner   Reuni

    Di suatu tempat yang remang-remang, di sebuah lounge eksklusif yang hanya dihadiri oleh kalangan tertentu, Larissa duduk di sofa beludru dengan segelas anggur merah di tangannya. Di hadapannya, Dimas bersandar dengan santai, mengaduk minuman di gelasnya sambil menatap Larissa dengan tatapan penuh perhitungan."Jadi, kau sudah memikirkan rencana kita?" tanya Larissa, menyesap anggurnya dengan tenang.Dimas menyeringai. "Tentu saja. Taka tidak akan bisa menolak masa lalunya. Kita hanya perlu memancingnya ke dalam situasi yang membuatnya tak punya pilihan selain kembali padamu."Larissa menyilangkan kakinya, mengangkat alisnya dengan ekspresi tertarik. "Dan bagaimana kau berencana melakukannya? Wisang adalah masalah utama di sini. Taka mungkin masih memiliki perasaan padaku, tapi Wisang selalu ada di sampingnya. Dia tidak akan begitu saja membiarkan Taka kembali padaku."Dimas mengetukkan jemarinya di atas meja, berpikir sejenak sebelum berbicara, "Kau benar. Maka kita harus membuat Wisa

  • My Beloved Partner   Undangan Reuni

    Wisang duduk di sudut kamar, tangannya mengepal di atas lututnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela, tetapi pikirannya jauh dari pemandangan yang terbentang di luar sana. Semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir terus berputar di kepalanya seperti film yang tak ada habisnya.Pertemuannya dengan Larissa membuatnya merasa semakin terpojok. Wanita itu berbicara seolah-olah dirinya adalah korban, seolah-olah Wisang adalah orang ketiga yang masuk ke dalam pernikahan Taka. Padahal, selama ini, Wisang yang harus menghadapi kenyataan bahwa dia menikahi seorang pria yang masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalunya.Dia mencintai Taka, tidak diragukan lagi. Tetapi cinta itu kini terasa bercampur dengan rasa sakit yang sulit ia jelaskan. Bagaimana mungkin dia harus terus bertahan sementara Larissa seolah berusaha membuatnya tampak seperti perebut suami orang? Bagaimana mungkin dia harus bertahan dengan fakta bahwa Dimas dan Larissa sedang berusaha memisahkan mereka?Taka sudah ber

  • My Beloved Partner   Wisang Semakin Galau

    Malam semakin larut ketika Wisang tiba di yayasan tempat Taka bekerja. Langkahnya mantap, tapi hatinya dipenuhi keraguan. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus berputar tentang pertemuannya dengan Larissa sore tadi. Wanita itu bukan hanya kembali ke kehidupan Taka, tapi juga membawa aura ancaman yang sulit diabaikan.Ketika Wisang memasuki kantor utama yayasan, ia menemukan Taka masih sibuk di balik meja kerjanya. Pria itu tengah membaca laporan keuangan dengan serius, tetapi begitu melihat Wisang, ia langsung meletakkan dokumen itu dan menatap istrinya dengan lembut.“Kau masih di sini?” Taka bertanya, suaranya rendah namun penuh perhatian.Wisang mengangguk, kemudian duduk di kursi di hadapan suaminya. “Aku ingin bicara.”Taka menatapnya dengan penuh perhatian. “Tentang Larissa?”Wisang menghela napas, merasa terbebani dengan segala yang ada di pikirannya. “Aku bertemu dengannya sore ini. Dia datang untuk menjemput Ghenta.”Taka mengangguk, tidak terkejut. “Aku tahu dia akan datang

  • My Beloved Partner   Persekongkolan

    Malam berikutnya.Di sebuah kafe yang cukup tersembunyi di pusat kota, Dimas duduk dengan tenang, menyesap kopinya sambil menunggu seseorang. Senyumnya tipis ketika melihat seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat keemasan memasuki ruangan.Larissa.Ia melangkah anggun, mengenakan gaun hitam sederhana yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Matanya yang tajam langsung mengunci pandangan ke arah Dimas. Begitu sampai di meja, ia duduk tanpa basa-basi, menyilangkan tangan di dada."Aku tidak menyangka kau akan menghubungiku duluan," ujar Larissa dengan nada penuh penilaian.Dimas tersenyum kecil. "Kita berdua menginginkan hal yang sama, bukan?"Larissa mengangkat alis. "Kau ingin memisahkan Taka dan Wisang, sedangkan aku hanya ingin Taka kembali padaku. Jangan salah paham, Dimas. Aku tidak peduli dengan urusan pribadimu."Dimas terkekeh. "Oh, tapi kita berdua sama-sama tahu bahwa mereka berdua tidak akan mudah dipisahkan tanpa sedikit… dorongan."Larissa menatapnya lama, lalu m

  • My Beloved Partner   Dosa Lama

    Taka berdiri di bawah lampu jalan, menunggu dengan gelisah. Hanya ada beberapa mobil yang melintas di sekitar area parkir restoran ini. Ia tidak ingin bertemu Larissa di rumah atau di tempat yang bisa menimbulkan kecurigaan. Maka, ia memilih lokasi netral—tempat yang cukup ramai untuk menghindari kesalahpahaman, tetapi cukup sepi agar mereka bisa berbicara tanpa gangguan.Tak lama kemudian, sebuah sedan hitam berhenti di dekatnya. Larissa keluar dari mobil dengan anggun, mengenakan mantel panjang berwarna krem. Wajahnya tetap sama seperti yang Taka ingat—dingin, penuh percaya diri, dan licik.“Kau benar-benar datang,” ucap Larissa dengan senyum tipis.Taka menyilangkan tangan di dada. “Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu keluargaku.”Larissa mengangkat alisnya, lalu melipat tangan. “Oh? Jadi sekarang kau menyebut mereka keluargamu?” Ia terkekeh kecil. “Padahal dulu, kau pernah menyebutku sebagai satu-satunya wanita yang kau cintai.”Taka menghela napas, berusaha mengendalikan emosi

  • My Beloved Partner   Masa Lalu Belum Usai

    Larissa baru saja berbalik menuju mobilnya ketika Wisang mengejarnya, langkahnya cepat dan penuh emosi yang tertahan.“Tunggu, Larissa,” panggil Wisang, suaranya tegas.Wanita itu berhenti, menoleh dengan ekspresi datar. “Apa lagi?”Wisang menatapnya tajam. “Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini? Kau membuat janji dengan Ghenta tanpa bicara dengan kami dulu, seolah kau lebih berhak atasnya.”Larissa menyilangkan tangan di dadanya. “Aku tidak perlu izin darimu atau Taka untuk menghabiskan waktu dengan Ghenta. Aku sudah mengenalnya sejak lama, dan dia menyayangiku.”Taka yang berdiri di ambang pintu menghela napas, tetapi membiarkan Wisang menangani ini.“Kau pikir itu alasan yang cukup?” Wisang mendekat, suaranya sedikit meninggi. “Kau tidak bisa seenaknya masuk ke dalam kehidupan kami dan membuat keputusan sepihak! Ghenta bukan anakmu, Larissa!”Mata Larissa berkilat marah. “Dan kau juga bukan ayah kandungnya, Wisang! Tapi kenapa kau bertingkah seolah kau yang paling berhak?”Ucapann

  • My Beloved Partner   Menuju Kepastian

    Malam itu, setelah menghabiskan waktu bersama di taman, Wisang duduk di teras rumah dengan secangkir teh di tangannya. Udara malam terasa lebih sejuk dari biasanya, atau mungkin hanya perasaannya saja. Ia sedang berpikir, mencerna semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir.Taka muncul dari dalam rumah, membawa selimut tipis. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Wisang, menyelimutinya dengan pelan."Udara dingin," katanya singkat.Wisang menatapnya sekilas, lalu kembali memandang ke depan. "Aku baik-baik saja."Taka menghela napas, lalu mengeratkan selimut itu di bahu Wisang. "Aku tahu kau kuat. Tapi bukan berarti kau harus selalu sendiri dalam semua hal."Kata-kata itu menusuk sesuatu dalam diri Wisang. Ia tidak menjawab, hanya mengaduk tehnya perlahan.Beberapa saat berlalu dalam keheningan, sebelum akhirnya Taka kembali membuka suara."Kau percaya padaku, Wisang?"Pria itu terdiam. Sebuah pertanyaan sederhana, tapi jawabannya tidak sesederhana itu."Jujur saja," lanjut Ta

  • My Beloved Partner   Mungkin

    Wisang duduk di meja makan, menatap piring di depannya tanpa banyak nafsu. Biasanya, makan malam adalah momen yang hangat. Ia dan Taka akan duduk bersama, membicarakan hari mereka, berbagi cerita kecil tentang Ghenta. Tapi malam ini, yang ada hanyalah keheningan. Taka duduk di seberang, tampak ragu-ragu sebelum akhirnya membuka suara. “Kau sudah makan?” tanyanya pelan. Wisang mengangguk, meski hanya menyentuh makanannya sedikit. “Ya.” Taka terdiam sejenak sebelum akhirnya bangkit, membawa piring kotor ke wastafel. Biasanya, Wisang yang selalu mengomel saat ia lupa mencuci piringnya sendiri. Tapi kali ini, Wisang hanya diam, membiarkan Taka bergerak dengan caranya sendiri. Ketika Taka kembali ke meja makan, ia menatap Wisang lama. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan, tapi kata-kata terasa sulit untuk keluar. “Aku akan tidur lebih awal,” Wisang berkata akhirnya, bangkit dari kursinya. Taka refleks berdiri juga. “Wisang…” Wisang menoleh, menunggu. Taka menggigit bibi

  • My Beloved Partner   Pukul Dua Pagi

    Taka masih duduk di ruang tamu. Lampu utama sudah ia matikan, menyisakan cahaya lampu meja yang temaram. Di hadapannya, secangkir kopi yang tadi ia buat sudah dingin. Matanya terpaku pada pintu kamar yang tertutup rapat.Di balik pintu itu, Wisang ada di sana. Tapi entah kenapa, rasanya ia seperti berada sangat jauh.Taka menghela napas, mencoba memahami perasaannya sendiri. Ia marah. Ia kecewa. Tapi yang lebih besar dari itu semua—ia takut.Selama ini, ia selalu berpikir bahwa meski ada pertengkaran di antara mereka, Wisang tidak akan benar-benar pergi. Wisang akan tetap berada di sisinya, tetap mencintainya, tetap menjadi tempat pulang bagi dirinya dan Ghenta.Tapi jawaban Wisang tadi—Aku tidak tahu—menghantamnya lebih keras dari apa pun.Taka mengusap wajahnya. Ia ingin masuk ke kamar itu, berbicara dengan Wisang, meminta maaf jika memang itu yang diperlukan. Tapi kakinya terasa berat. Ia takut, jika ia memaksa masuk, Wisang akan semakin menjauh.Malam semakin larut.Dan untuk pert

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status