Share

Bab 232

Author: BELLA
Sudut pandang Sydney:

Dylan menarik pelatuk, tetapi tidak terjadi apa-apa. Wajahnya memerah, genggamannya pada pistol itu makin erat saat dia terus menarik pelatuknya seperti orang bodoh.

Adegan itu terus berputar di benakku untuk kesekian kalinya malam ini. Saat Dylan keluar dari mobil untuk memberi instruksi kepada anak buahnya, hanya aku sendiri yang ada di dalam mobil.

Aku melihat sekeliling dengan panik dan buru-buru mengeluarkan peluru dari pistol itu dengan tangan gemetar. Aku tidak punya rencana lain, tetapi aku tahu satu hal. Jika Dylan bisa menembak, dia juga pasti akan ditembak.

Itulah yang sedang terjadi sekarang.

Begitu menyadari apa yang terjadi, para pengawal Tavon langsung mengeluarkan senjata mereka dan menembaki Dylan tanpa ampun. Rentetan peluru menembus pakaian dan tubuhnya. 'Dylan juga membunuh Axel dengan cara seperti ini,' pikirku.

Tubuh Dylan akhirnya tidak mampu lagi menahan serangan itu. Saat dia tersungkur ke lantai, tatapannya bertemu denganku yang sedang be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 233

    "Terima kasih," bisikku sambil menghela napas lega.Anak buah Tavon mulai merapikan kekacauan di ruangan itu. Namun, pertama-tama, mereka menyingkirkan jenazah Dylan. Aku melihat dengan tatapan kosong saat tubuh tak bernyawa itu diseret melintasi lantai, meninggalkan jejak darah di belakangnya.Sebagian kecil dari diriku merasa kasihan karena dia menjemput ajalnya dengan cara yang begitu brutal. Namun, aku segera menepis perasaan itu. Ini semua adalah akibat dari perbuatan Dylan sendiri.Lalu, mataku tertuju pada Scarlet dan air mata mulai menggenang. Aku sudah mewujudkan keinginanku, tetapi ada banyak nyawa tidak bersalah yang ikut terenggut. Orang-orang ini tidak seharusnya kehilangan nyawa mereka.Bayangan tubuh Axel yang pucat dan hancur melintas di pikiranku hingga membuat perutku terasa mual. Aku memejamkan mata dan mendoakan Scarlet dan Axel. Kuharap jiwa mereka bisa menemukan kedamaian.Aku membuka mata ketika merasa ada tatapan yang tertuju padaku. Tavon sedang mengawasi para

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 234

    Sudut pandang Mark:Aku mengalihkan pandanganku dari pembicara dalam rapat saat pintunya terbuka, dan asistenku bergegas masuk, lalu menghampiriku dalam sekejap. Asistenku tampak merasa bersalah, tetapi wajahnya juga terlihat senang.'Apa yang bikin dia senang, sih?' pikirku dengan kesal. Apa ada kesepakatan bisnis baru? Apakah ada yang ingin beraliansi atau menawarkan merger lagi?Dia meminta maaf padaku, lalu pada anggota rapat. Kemudian, dia menunduk untuk menyamakan tinggi badanku yang sedang duduk. Dia pun mengetuk layar ponselnya yang sedang dia angkat.Sejak Sydney pergi ke Idelia untuk mencari kekasihnya, hidupku hanya berkutat di pekerjaan dan mengurus Aiden. Aku hanya fokus pada urusan kantor, bukan hanya karena Sydney tidak berada di sini, tetapi juga karena dia pergi meninggalkanku demi pria lain.Aiden adalah satu-satunya hal lucu dan menggemaskan yang mengingatkanku pada Sydney. Aku pun berusaha semaksimal mungkin untuk meluangkan waktu untuk Aiden, apalagi Grace sekaran

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 235

    Aku terus menyediakan dana kampanye untuk James, ayah Sandra, hingga dia terpilih menjadi anggota dewan nasional. Berkat aliansi dan bantuan dari James, pengaruhku di dunia politik makin besar, dan aku menjadi tangan kanannya.Berkat pengaruhku itu, aku bisa bertemu dengan beberapa tokoh penting di dunia politik. Dari koneksi mereka, aku bisa meminta bantuan staf kedutaan Idelia untuk mencari Sydney.....Aku buru-buru pulang ke apartemen dengan gembira. Pengasuh yang aku pekerjakan untuk merawat Aiden saat aku tidak berada di rumah langsung berdiri dan menyapa, "Bapak sudah pulang?"Saat melihat senyum di wajahku, Aiden memandangku dengan hati-hati. Ekspresinya tampak bingung. Dia tidak buru-buru mendatangiku seperti biasanya atau bertepuk tangan, tetapi dia cuma memandangku dengan saksama.Mata polosnya seakan-akan bertanya, 'Ada apa? Kenapa tiba-tiba Ayah senang banget?'Aku tertawa dengan gembira dan membuka tanganku lebar-lebar. Aku bahkan tidak sempat meletakkan tasku lebih dahul

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 236

    Sudut pandang Narator:Satu tahun kemudian.Persiapan pernikahan sedang berjalan dengan sangat lancar. Sydney bergegas masuk ke ruang ganti. Matanya langsung tertuju ke tengah ruangan, di mana Grace berdiri memesona dalam gaun pengantinnya."Grace!" seru Sydney, ekspresi cemberutnya langsung mencair menjadi senyuman cerah saat dia menyaksikan pemandangan menakjubkan di depannya.Grace berbalik dari cermin, dikelilingi oleh sekelompok penjahit yang sibuk menyematkan dan menyesuaikan lipatan gaunnya. Lapisan-lapisan satin dan renda mengalir di sekelilingnya seperti gaun dari negeri dongeng.Grace sendiri yang merancang gaun itu karena dia menginginkan sesuatu yang terbaik dari yang terbaik. Perpaduan sempurna antara elegan dan berkelas. Gaun itu memang adalah sebuah mahakarya. Enam penjahit dengan hati-hati memastikan setiap detail pas di tubuhnya.Beberapa penata rambut juga sibuk di sekitar kepalanya, jari-jari mereka lincah memilin, mengeriting, dan menata setiap helai rambut yang bis

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 237

    "Ugh, baiklah." Mark menggerutu, pura-pura kesal. "Tapi, kamu berutang besar padaku. Seperti, pasokan pengasuhan gratis seumur hidup Aiden."Sydney mendengus. "Seolah-olah anak itu mau mendengarkan siapa pun selain aku.""Benar juga." Mark mengakui. "Apa kamu mau datang ke sini supaya kita bisa ….""Nggak. Aku punya sejuta hal lain yang harus dilakukan. Kita bicara lewat telepon aja," jawab Sydney."Apakah si penata rias ingin dijemput dari Jalur Canria atau harus menunggu helikopter di tempat lain?""Cukup tetap berkomunikasi dengannya lewat telepon." Sydney menginstruksikan. "Aku akan menghubungkan kalian berdua dan kalian bisa mengatur detailnya.""Siap, Bos," kata Mark.Sydney tersenyum, "Terima kasih, kamu memang penyelamat hidup!""Bukankah itu memang tugasku?" Mark bercanda, dan Sydney bisa membayangkan nada menggoda dalam suaranya.Sydney kembali memutar matanya lalu menutup telepon.Mark tersenyum sendiri saat menutup telepon, suara Sydney masih terngiang di telinganya. Dia me

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 238

    Sydney mengangguk, mengusap hidungnya pelan saat berusaha menguasai diri."Ayolah, masa kamu ikut nangis juga," katanya, menarik diri, lalu memberi bahu Grace remasan lembut. "Riasanmu bisa rusak nanti. Kita nggak mau itu terjadi."Grace tertawa kecil dengan suara bergetar, mengedip cepat untuk menjernihkan penglihatannya.Sydney tersenyum dan menyerahkan buket bunga indah yang telah disusun dengan hati-hati untuk acara itu."Nih, ambil ini," katanya sambil memberikan rangkaian bunga harum itu pada Grace. "Semua orang sudah menunggu kita."Grace menerima buket itu dengan anggukan penuh syukur, jari-jarinya dengan lembut membelai kelopak bunga."Terima kasih, Sayang."Bergandengan tangan, kedua sahabat itu berjalan menyusuri lorong yang dihiasi dengan elegan. Sydney masih sibuk menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.Kemudian, Sydney melihat sapu tangan di depan wajahnya. Dia menoleh ke samping dan melihat Mark berjalan di sebelahnya dengan senyum miring."Kamu akan meru

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 239

    Sudut pandang Anastasia:Keningku mengerut cemas saat aku kembali menekan nomornya untuk kesekian kalinya."Halo, kalau kamu mendengar ini berarti aku sedang nggak ...."Aku langsung menghentikan pesan suara sebelum selesai."Sayang," rengekku meskipun dia tidak bisa melihatku. "Kamu di mana? Kamu baik-baik saja? Aku sudah mencoba menghubungimu selama berabad-abad. Telepon aku begitu kamu mendengar pesan ini, ya?" Dengan senyum kecil di bibirku, aku menambahkan dengan nada bernyanyi, "Aku kangen kamu."Dengan helaan napas, aku meletakkan ponselku menghadap ke bawah di pangkuanku dan menatap keluar jendela taksi. Sopir baru saja sampai di satu-satunya titik di jalan tol di mana dia bisa berputar balik.Saat itu juga, aku memutuskan akan lebih baik mampir ke tempatnya dulu sebelum pulang ke rumahku sendiri. Kalau tidak, aku pasti akan menghabiskan sepanjang hari dan malam dengan gelisah sampai mendengar kabar darinya.Dua minggu terakhir ini begitu padat karena aku berada di luar negeri

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 240

    Sudut pandang Anastasia:Langkahku semakin panjang dan cepat saat aku menuju apartemennya.Ada bagian dalam diriku yang merasa cukup masuk akal untuk percaya bahwa foto-foto itu bukan hasil editan. Namun, ada juga bagian diriku yang lain, meskipun kecil, yang masih percaya ... atau lebih tepatnya, ingin percaya bahwa semua itu hanyalah kebohongan. Lelucon bodoh yang keterlaluan.Aiden tidak mungkin melakukan itu padaku. Dia bukan tipe pria yang langsung melompat ke pelukan wanita lain begitu aku pergi ke luar negeri. Itu tidak mungkin.Aku melewati gerbang yang terbuka. Saat berhenti di depan pintu, aku baru sadar bahwa napasku memburu dan telapak tanganku yang mencengkeram tas terasa berkeringat.Aku meletakkan tas di samping, menyeka telapak tanganku ke celana jeans-ku, lalu menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.Aku mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Perlahan, aku melingkarkan jari di gagang pintu dan mendorongnya. Pintu langsung terbuka dengan derit pelan.Begitu

Latest chapter

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 343

    Aku mengangguk. "Aku ibu kandungnya, tapi dia bukan ayahnya." Dokter itu menggeleng. "Ya, Ibu bisa menjadi pendonor untuk transplantasi kalau sumsum tulangnya cocok. Tapi, aku ingin memberi tahu Ibu, sangat jarang ada orang tua biologis yang cocok. Tapi, itu nggak akan menghentikan kita. Ibu akan menjalani tes yang diperlukan untuk menentukan kecocokan." Dokter mengambil sebuah berkas dari tumpukan di mejanya. "Apa Ibu siap untuk melakukan tes kecocokan sekarang atau lebih memilih kami jadwalkan untuk hari lain?" "Sekarang saja, tolong," kataku menyeka air mata di wajahku sambil duduk tegak. Dokter membuka berkas dan mulai mengajukan beberapa pertanyaan. Di sela-sela, dia menjelaskan, "Kami perlu semua informasi ini untuk memastikan pengujian yang sukses dan akurat." "Nggak apa-apa, aku mengerti." Aku mengangguk. Dia melanjutkan bertanya dan aku menjawab dengan cepat. "Baik, Ibu bisa melakukan tesnya sekarang," kata dokter itu sambil berdiri dan melirik ke Dennis yang juga

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 342

    Sudut pandang Anastasia:Wajahku basah oleh air mata saat aku mengguncang tubuh Amie agar bangun. Aku memeluknya erat-erat dan menangis. Aku bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.Sementara aku terisak, Dennis bergegas masuk ke kamar."Ada apa? Apa yang terjadi?" Dia bergegas ke sampingku dan langsung menatap Amie. Dia pun mengerti. Dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Dia dengan cekatan mengambil Amie dari lenganku yang gemetar dan meraih kunci mobilnya. Saat dia menggendong Amie ke mobil, aku mengikutinya dari belakang, masih menangis dan memanggil nama putriku.Saat Dennis mengemudi menuju rumah sakit, sebagian perhatiannya tertuju kepadaku. "Nggak apa-apa, Ana," ucapnya seraya meremas tanganku, tatapannya tertuju kepada Amie yang kugendong. "Dia akan baik-baik saja."Saat kami sampai di rumah sakit, sebuah tandu dibawa keluar dan Amie dilarikan ke bangsal. Kami dilarang masuk bersamanya.Aku menangis di baju Dennis saat kami berdua menunggu dokter atau salah satu perawa

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 341

    Anak laki-laki itu menatap adik perempuannya dan dengan sedikit cemberut, dia melihat sekeliling, matanya mencari apa yang diinginkan adiknya.Aku melihat sekeliling dan menyadari bahwa tidak ada lagi permen. "Permennya sudah habis," gerutuku."Mestinya ada lebih banyak di dapur," jawab Dennis."Aku akan pergi mengambilnya. Tunggu di sini, aku akan segera kembali," kataku kepada Dennis dan pergi.Beberapa detik kemudian, aku mendengar langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakang dan menggelengkan kepala, menyembunyikan senyumku."Apa? Aku juga mau lebih banyak permen.""Baiklah," kataku sambil tertawa pelan.Begitu kami memasuki dapur, jari-jari Dennis melingkari pergelangan tanganku dan dia menarikku agar mendekat kepadanya.Saat dia menatap mataku, tatapannya berpindah-pindah di antara mataku dan bibirku. Aku pun menggoda, "Memangnya permen itu ada di mataku?"Dengan tawa kecil, dia menundukkan kepalanya dan menyatukan bibir kami dalam ciuman yang menggairahkan.Aku mencengker

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 340

    Sudut pandang Anastasia:Lima bulan kemudian."Hai!" Aku melambaikan tangan pada salah satu teman Amie yang baru saja masuk bersama ibunya."Selamat datang." Aku menghampiri mereka. "Terima kasih sudah datang."Ibunya tersenyum. "Pilihanku cuma dua, datang ke sini atau mendengar Kayla menangis di telingaku seharian."Kami tertawa, sementara Kayla hanya bisa tersipu malu. Aku menutup pintu, lalu saat kami berjalan lebih jauh ke ruang tamu, aku melihat ibunya menatap bingkai-bingkai foto yang tergantung di dinding, sama seperti semua orang yang pertama kali masuk ke rumah kami.Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil dan aku mengikuti arah pandangannya untuk melihat foto mana yang menarik perhatiannya. Aku menghela napas saat mataku tertuju pada pria di sampingku dalam foto itu.Dengan setelan terbaiknya, begitu katanya, Dennis berdiri sambil melingkarkan lengannya di bahuku, menatap ke arahku. Aku masih mengingat hari itu seolah baru kemarin.Fotografer sampai lelah menyuruhn

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 339

    Aku rasa mereka berdua memang bersalah dalam beberapa hal, tetapi Clara seharusnya tidak melakukan ini. Oh, dia seharusnya tidak melakukannya. Dia sudah keterlaluan.Clara tahu aku hamil anak Aiden, tetapi dia tidak mengatakan apa pun. Jika bukan demi aku, setidaknya demi bayi itu, dia seharusnya memberitahuku yang sebenarnya. Namun tidak, dia hanya diam dan menyaksikan aku berjuang sendirian membesarkan Amie.Dia ada di sana setiap malam, saat aku menangis diam-diam agar tidak membangunkan Amie karena semuanya terasa terlalu berat. Dia selalu ada di sana. Dia ada di sana, menyaksikan dengan kejam bagaimana Amie tumbuh tanpa seorang ayah.Ya Tuhan! Dia bahkan yang menenangkan Amie setiap kali putriku menangis merindukan sosok ayah!Itu semakin membuatku marah. Bagaimana bisa dia mengaku mencintai Amie, sementara dia yang merenggut bagian penting dalam hidupnya?"Kamu nggak punya pembenaran untuk semua yang sudah kamu lakukan, Clara." Suaraku bergetar, tetapi aku tetap melanjutkan, "Kal

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 338

    Sudut pandang Anastasia:Wajah Clara terpaling ke samping akibat tamparan keras yang baru saja aku layangkan ke pipinya.Dia terhuyung ke belakang, memegangi wajahnya, lalu menatap lantai dalam diam untuk waktu yang lama.Tamparan itu hanyalah hal paling ringan dari semua yang ingin aku lakukan padanya. Aku benar-benar menahan diri agar tidak melontarkan hinaan sambil menghajarnya. Namun, untuk apa? Itu tidak akan mengubah apa pun. Yang sudah terjadi tetaplah terjadi. Semuanya sudah menjadi masa lalu."Kamu akhirnya tahu." Suaranya terdengar lirih. "Dennis yang memberitahumu, 'kan?""Aku nggak percaya kamu sampai memerasnya agar tetap diam soal ini. Kamu pikir dia sepertimu? Seorang pembohong? Kamu tersenyum padaku, tapi jauh di dalam hatimu, kamu membenciku karena ...." Aku membuat tanda kutip di udara dengan jariku, lalu melanjutkan, "Merebut Aiden darimu."Clara tetap diam, tidak mengatakan apa pun."Clara, kenapa kamu tega? Kamu temanku! Aku percaya padamu. Aku menceritakan segalan

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 337

    Sudut pandang Anastasia:"Amie ...." Aku mengeluh sambil tertawa. "Kamu belum selesai? Tanganku pegal."Amie terkekeh-kekeh. "Tetap jaga ekspresi wajahmu seperti tadi. Aku perlu menggambar bibirmu dengan benar."Aku menghela napas dan mengangkat kedua tangan ke udara, lalu menyeringai lebar. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia ingin menggambarku dengan pose seperti ini.Saat ini, di kamar rumah sakit Amie, aku duduk bersila di kursi dengan tangan terangkat dan senyum lebar di wajahku.Aku bertahan dalam pose itu selama beberapa menit lagi sampai akhirnya Amie meletakkan buku gambarnya dan bertepuk tangan. "Selesai! Mama, kamu kelihatan cantik sekali!"Amie sudah menghabiskan banyak waktu di rumah sakit dengan menggambar, jadi dia semakin mahir. Saat aku bergeser ke tempat tidur untuk melihat hasilnya, aku tertegun melihat sketsa di bukunya. Yang ada di sana bukan sosok manusia yang realistis, melainkan gambar seperti orang-orangan dengan tangan terangkat, kaki bersilang membentu

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 336

    Sudut pandang Aiden:Aku menggertakkan gigi, mencengkeram setir dengan erat saat melaju ke alamat yang dia kirimkan.Pikiranku kacau. Meskipun aku tahu telah kehilangan Anastasia, dia tetap ada dalam benakku. Aku masih menyalahkan diri sendiri karena tidak berusaha lebih keras mencarinya saat dia pergi pertama kali. Aku menyalahkan diriku karena tidak mengejar taksi yang dia naiki pada hari dia mengakhiri segalanya di antara kami ... sampai ... sampai apa? Mungkin sampai dia meminta sopir untuk berhenti.Sharon juga ada dalam pikiranku, atau lebih tepatnya, kontrak pernikahan terkutuk yang aku miliki dengannya. Sekarang, setelah ayahnya menelepon dan memintaku menemuinya di sebuah alamat yang dia kirimkan, aku yakin kekacauan akan segera dimulai.Jika dia memintaku untuk menemuinya di sini, itu berarti dia telah terbang ke negara ini.Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan panggilannya, terutama setelah aku benar-benar menyadari bahwa aku telah kehilangan Ana. Yang aku inginkan hanyalah

  • Milyader, Mari Bercerai   Bab 335

    Dia tampak terkejut, yang entah kenapa justru membuatku heran. Aku hanya berharap dia tidak meragukan dirinya sendiri karena tadi malam dia benar-benar sempurna.Dennis menggeleng, lalu menenggak habis isi cangkirnya. "Aku harus memberitahumu sesuatu."Aku terdiam, tanganku membeku di udara, masih memegang sendok pengaduk teh. "Apa yang ingin kamu katakan padaku?"Dia mengalihkan pandangannya, menatap sesuatu di belakangku sebelum akhirnya kembali menatapku. "Ini tentang Aiden ... lebih tepatnya tentang apa yang terjadi bertahun-tahun lalu, tentang tuduhan perselingkuhannya.""Oh," gumamku datar. "Itu." Itu sudah berlalu. Lagi pula, sekarang semuanya baik-baik saja. Dia akan menikah dengan seseorang yang mencintai dan mempercayainya, sementara aku sudah menemukan seseorang yang kusukai dan yang juga mencintaiku. Semuanya sudah sesuai dengan jalan yang memang seharusnya kami tempuh."Ya, itu." Dennis melanjutkan dengan hati-hati, sepertinya salah paham dengan ekspresiku. "Sebenarnya, di

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status