Share

Bab 89

Penulis: Jannah Zein
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-18 21:21:26

Bab 89

Pintu pun terbuka dan Alifa muncul dengan membawa setelan baju.

"Ini baju yang akan dipakai untuk acara malam ini. Barusan tadi Mbak Inara datang dan mengantar baju-baju yang akan kita kenakan sampai besok," ujar Alifa. Dia melangkah menghampiri ranjang dan meletakkan setelan baju itu di atas ranjang.

"Iya, barusan Mbak Inara chat. Cuman tadi aku males keluar," ujar Aariz. Senyumnya nampak kecut.

"Lah, kenapa gitu?"

Pria itu menarik Alifa dan membawanya duduk di sisi ranjang.

"Aku hanya malas bertemu dengan adik sepupumu itu...."

"Takut jatuh cinta?" goda Alifa.

"Bagiku dia cuma bocah. Apa yang mau diharapkan?"

Seketika perempuan itu terkikik. "Biarpun masih bocah, tapi sudah bisa diajak untuk membuat bocah lho, Mas."

"Nggak, nggak! Aku tidak suka dengan modelan sepupu kamu itu. Dan tolong setelah acara selesai, usahakan mereka bisa segera pulang."

"Mas ingin mengusir mereka?" Seketika alis perempuan itu terangkat.

"Bukan. Aku hanya tidak ingin ada masalah, karena Atta malam i
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terkait

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 90 (Malam pertama)

    Bab 90"Kamu suka kamar ini?" cicit pria itu. Saking asyiknya mengagumi kamar ini, aku tidak menyadari jika tubuhku terangkat. Mas Aariz menggendongku ala bridal, lalu merebahkanku di pembaringan."Apakah aku punya alasan untuk tidak menyukai kamar ini?" Aku berusaha menahan nafas. Rasanya badanku panas dingin. Baru kali ini aku terlibat hal yang begitu intim dengan mas Aariz. Pria itu selalu bersikap sopan kepadaku selama ini, kecuali tadi malam. Dia sempat memelukku meski hanya sekilas, karena aku langsung berontak. Tapi aku mengerti alasannya memelukku, karena dia ingin menghiburku."Sebenarnya ini dadakan, jadi aku nggak sempat meminta pendapatmu. Tapi kalau kamu memang nggak suka dan ada yang ingin diubah, kamu bisa bilang kepadaku. Nanti akan diteruskan kepada orang-orang kita untuk melakukan perubahan pada tatanan kamar ini," ujar pria itu."Aku seperti seorang ratu saja." Senyumku langsung terbit. "Mas jangan terlalu berlebihan kepadaku. Aku hanya cukup menikah dengan Mas,

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-18
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 91

    Bab 91"Kan bisa dikeringkan dengan hairdryer," ucap Atta sekenanya. Dia tak lagi melihat ponsel, malah antusias melihat kakaknya yang menata roti di atas piring, lalu membuatkan segelas susu."Cei cei... yang habis malam pertama, sarapannya di bawain ke kamar." Lagi-lagi pria itu menggodanya."Makanya nikah, Atta. Nanti kamu pasti akan merasakan kayak yang Mas lakukan, bahkan mungkin lebih daripada ini," ujar Aariz datar. Dia bergegas membawa nampan itu pergi menuju kamarnya.Atta hanya menggeleng, lalu kembali memusatkan perhatian pada ponsel. Ada beberapa email yang harus ia buka. Namun baru juga lima menit, ibunya datang ke ruangan ini."Sarapan yang benar, jangan kerja melulu."Pria itu berdehem. "Iya, Ma."Wardah duduk sembari menatap putra bungsunya dalam-dalam. "Apakah kamu tidak berpikir untuk menikah juga?""Memangnya mau menikah sama siapa, Ma?" Pria itu merotasi bola matanya malas."Siapapun perempuan yang kamu inginkan, Mama pasti merestui kok, asal jangan ada hubungannya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 92

    Bab 92"Kamu mau bulan madu ke mana?" Pria itu bertanya setelah meletakkan bekas makanku di atas lemari nakas.Spontan aku menggeleng. "Tidak ada urusan bulan madu di benakku. Aku nggak kepikiran apa-apa, Mas. Nggak bulan madu juga nggak apa-apa, lagian pekerjaan Mas kan banyak. Anak-anak juga susah kalau ditinggalkan, walaupun ada baby sisternya. Aku kan sudah bilang, kalau aku nggak janji akan melayanimu seperti layaknya seorang istri yang masih gadis. Aku janda, dan anaknya banyak.""Cuma dua, Sayang. Nggak banyak itu.""Tiga, Mas. Zaid, Gibran, dan Anindita," ralatku. "Bagaimana bisa suamiku melupakan fakta jika aku memiliki anak bernama Zaid? Walaupun dia sudah tiada, tetapi dia tetap anakku!""Maaf, Sayang." Mas Aariz mengusap-usap bahuku dengan lembut."Iya, kita memang punya tiga anak. Tapi kalau kita nanti pergi berbulan madu, pasti akan bersama dengan anak-anak, Naira dan Maya. Kalau nggak gitu, nanti anak-anak repot mencarimu." Pria itu mengelap bibirku dengan tisu. Bibirk

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-19
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 93

    Bab 93"Kamu kenapa, Don?" Pria itu segera bergegas menyusul ke kamar mandi. Wajah Donita nampak pucat, karena dia sudah memuntahkan seluruh isi perutnya."Aku baik-baik saja, Mas, hanya sedikit mual dan pusing." Wanita itu meringis, lalu membasuh wajahnya dan sisa muntahannya yang memenuhi wastafel."Kita ke dokter saja ya. Belakangan ini aku lihat kamu lesu dan nggak ada semangat. Apakah kamu kecapean?""Kemungkinan iya, Mas. Tapi nggak usah ke dokter juga kali. Dibawa istirahat saja pasti akan enakan kok," tolaknya."Nggak ada bantahan, Donita. Kamu harus ke dokter sekarang. Aku nggak mau terjadi apa-apa sama kamu. Kalau ke dokter kan nanti ketahuan penyakitnya. Kamu itu sakit maag atau apa? Bukan cuma kali ini kan kamu muntah? Bahkan sudah beberapa hari ini begitu-begitu saja." Pria itu memapah Donita, lalu membawanya duduk di tepi tempat tidur. Dia sendiri yang mengambilkan dress untuk pakaian ganti sekretarisnya ini, lalu membantunya mengenakan pakaian. Lantaran seringnya melih

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 94

    Bab 94Suara bel di depan membuat aktivitas Donita yang tengah memotong-motong setengah ekor ayam berhenti. Dia mencuci tangannya di wastafel, kemudian segera membalikkan tubuhnya."Biar aku saja," cegah Keenan. Pria yang sebelumnya tengah asyik menghadapi laptopnya itu segera beranjak dari kursi dan bergegas menuju pintu depan.Donita menggeleng, tapi ia kembali fokus dengan kegiatannya. Meskipun indera penciumannya sangat sensitif terhadap bumbu dan masakan, tetapi Donita memaksakan diri untuk tetap memasak. Dia tidak mungkin bermanja pada Keenan yang jelas-jelas bukan ayah dari anak yang tengah dikandungnya. Bahkan dia menolak untuk dinikahi oleh pria itu, karena tidak mau membuatnya repot.Entah kenapa hari ini dia sangat ingin makan ayam masak kecap, tapi ayamnya harus dipotong kecil-kecil. Donita menggunakan setengah ekor ayam yang ditumis dengan bumbu-bumbu yang sudah ia buat sebelumnya. Supaya lebih praktis, wanita menggunakan cooper untuk menghaluskan bumbu. Di samping itu, b

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-20
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 95

    Bab 95Perempuan itu hanya tersenyum tipis. Pantas saja dulu Keenan lebih memilih Alifa ketimbang Aina. Ternyata attitude Aina jelek, padahal sebagai istri pemimpin perusahaan, seharusnya memiliki attitude yang baik. Di samping cantik, dia juga harus cerdas, memiliki public speaking yang bagus, dan bisa menempatkan diri sebagai istri dari pimpinan sebuah perusahaan."Perkenalkan, namaku Donita. Aku sekretarisnya Keenan dan sekaligus sebagai kekasihnya sekarang." Donita menyodorkan tangan yang ditepis oleh Aina. Namun, alih-alih tersinggung, Donita justru tersenyum semakin lebar.Rasanya menyenangkan juga melihat gadis itu yang terlihat kepanasan."Aku tak butuh perkenalan dari kamu. Namun posisi kamu sebagai sekretaris itu rawan. Jangan mengaku kekasih deh. Kamu pikir aku akan percaya, hmmm...? Bukankah seorang sekretaris lebih sering menjadi wanita pemuas bosnya. Aku bukan wanita kampung yang tak tahu apa-apa soal itu.""Terserah apa katamu, Aina. Tapi yang jelas, begitulah keadaanny

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-21
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 96

    Bab 96Hari terus berganti.Meski Donita terus menolak tawarannya, tetapi Keenan tetap memperlihatkan perhatian pada wanita itu. Membuatkan susu ibu hamil, mengingatkannya untuk mengonsumsi vitamin, bahkan membelikannya setelan kerja untuk ibu hamil.Perut Donita memang masih rata. Tapi beberapa bulan kemudian, pasti akan terlihat dan Keenan sudah memperhitungkan resiko itu. Dia tidak akan memecat Donita. Namun demi menjaga nama baik perempuan itu, dia merencanakan cuti panjang untuk Donita, sehingga dia bisa menjalani kehamilannya dengan baik dan tanpa beban. Sebab bukan tidak mungkin jika dipaksakan untuk terus bekerja saat perutnya membuncit, akan muncul gosip miring yang dialamatkan kepada Donita dan mengguncang mental perempuan itu. Sebenarnya bukan cuti, karena Donita akan tetap bekerja. Donita akan bekerja dari apartemen mereka. Keenan pun akan membatasi wanita itu untuk keluar dari apartemen jika perut Donita mulai membesar.Dengan bekerja dari apartemen, setidaknya Donita ti

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22
  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 97

    Bab 97Seketika Keenan membeku. Dia tak menyangka akan bertemu dengan pria ini di sini. Dia sudah mencoba menghindari dokter Aariz dengan tidak membawa Donita ke RSIA Hermina. Namun dia melupakan jika dokter Aariz juga praktek di rumah sakit lain. Seharusnya ia tahu jika ini adalah rumah sakit milik pemerintah daerah, yang di mana dokter Aariz masih merupakan dokter yang paling banyak dicari calon pasien, terutama calon pasien yang tidak mungkin masuk ke RSIA Hermina, karena rumah sakit itu tidak bekerjasama dengan pihak BPJS."Selamat malam, Pak Keenan, Ibu Donita. Silahkan duduk. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Pria itu menyambut dengan sikapnya yang sangat profesional. Tutur kata dan senyum yang ramah dan hangat, khas seorang dokter."Selamat malam juga, Dok. Saya ingin memeriksakan kehamilan," ujar Donita."Baiklah, Bu. Silahkan berbaring. Kita USG dulu ya," ujarnya sembari bangkit dan berjalan menuju alat USG yang tepat berada di samping tempat tidur pasien.Donita menurut. Dia

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-22

Bab terbaru

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 148

    Bab 148Lily melangkah lunglai keluar dari ruangan direktur rumah sakit ini. Pikirannya berkecamuk hebat. Berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar, apalagi saat kakinya melangkah semakin mendekati Keenan dan Ina, yang tengah duduk di salah satu bangku panjang rumah sakit ini.Tangannya memegang sebuah map, pegangan yang sangat erat, demi berusaha menyembunyikan gelisah yang menderanya."Aku minta maaf atas pernyataanku tadi, Om. Ternyata memang terjadi salah paham di sini. Data-data yang aku lihat di laptop itu adalah data yang belum update, jadi yang benar itu adalah data yang ada di ponsel Om. Om bisa lihat sendiri di map ini dan bandingkan, apakah sama rincian biayanya dengan rincian biaya yang dikirimkan oleh pihak rumah sakit ke ponsel Om." Lily menjelaskan dengan suara bergetar.Lily menyodorkan map itu kepada Keenan yang dengan segera dibuka oleh pria itu, lalu Keenan pun membuka ponselnya, berusaha membandingkan angka-angka yang tertera di lembaran kerta

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 147

    Bab 147"Kamu masih belum nyerah juga buat bujukin saya untuk menengok Eliana, Ina?" tukas pria itu. Kesal juga rasanya, dua perempuan di apartemennya ini kompak, dua-duanya memintanya untuk menjenguk Eliana di rumah sakit."Memangnya apa salahnya? Bapak nggak perlu ngasih uang kok, yang penting datang sebentar. Cuman itu aja. Kita datang bukan buat Bu Eli, tetapi buat kita sendiri. Kita menunjukkan bahwa kita lebih baik dari Bu Eli, bukan menganggap dia nggak punya salah sama kita.""Kalian itu nggak bosan-bosannya," keluh pria itu sembari membantu mendorong troli yang penuh dengan barang belanjaan. Keduanya tengah berada di supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Acara belanja bulanan yang dimanfaatkan Ina untuk kembali membujuk pria itu agar mau menengok Eliana."Kamu mau tahu alasan lain, kenapa saya nggak mau menengok perempuan itu?" dengusnya gemas. "Kamu harus tahu, In. Dia itu semakin diberi hati, malah minta jantung.""Ya, jangan dikasih jantung dong, Pak. Cukup

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 146

    Bab 146"Aku yang membuat mereka bercerai, dan aku pula yang harus membuat mereka rujuk. Ini sama sekali tidak lucu, Winda.""Tapi aku menginginkan mereka bisa rujuk," ucapnya berapi-api. Perempuan itu sangat cantik, dengan tubuh semampai, dengan kulit wajah yang begitu glowing. Namun kecantikan tubuhnya tidak lantas membuat hatinya juga cantik. Winda salah langkah. Dia berpikir Aariz tetap mencintai setelah mereka di cerai paksa, dan ia menikah lagi. Tak pernah disangka jika ternyata mantan ibu mertuanya menghadirkan perempuan baru yang bisa mengalihkan dunia Aariz.Kini terpaksa ia mati-matian mengembalikan cintanya. Segala cara harus ia lakukan."Atau kamu ingin jika aku menyingkirkan Alifa dengan cara kasar?!""Apa urusannya denganku? Tapi sekedar mengingatkan, sebaiknya kamu berpikir ulang untuk menyingkirkan Alifa. Status Alifa saat ini cukup kuat. Dia mendapatkan kasih sayang dan perlindungan dari keluarga El Fata, beda jauh saat kamu masih menjadi istrinya dokter Aariz. Kamu

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 145

    Bab 145"Papa berangkat dulu ya, Sayang." Pria itu menggendong baby Arga, lalu mendaratkan kecupan di wajah mungil itu sekilas, dan menyerahkan kembali kepada Donita."Mas jadi menengok bu Eli?""Buat apa?" Pria itu merotasi malas kedua bola matanya, lalu menatap wanita itu tanpa kedip. "Apa untungnya buatku? Dia hanya ingin meminta perhatianku dan aku tidak akan pernah memberikan perhatianku lagi kepadanya.""Dengan alasan kemanusiaan....""Jika kamu pikir selama ini aku bukan manusia, rasanya kamu sudah salah paham. Aku sudah memanusiakan Eliana, memberinya kesempatan untuk hidup, dan memberinya kesempatan untuk kembali dekat dengan anaknya. Apa itu bukan manusia namanya?! Padahal untuk kesalahan sebesar yang sudah ia perbuat, dia sebenarnya lebih pantas untuk mati.""Dendam itu tidak baik, Mas."Aku sedang tidak membalas, tetapi membiarkan tangan Tuhan bekerja. Mungkin ini karma buat dia.""Mas." Perempuan itu memegang tangan Keenan setelah ia kembali merebahkan baby Arga di pembar

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 144

    Bab 144"Saya hanya memberi kesempatan kepada Eliana untuk kembali dekat dengan putrinya, tapi bukan berarti itu adalah lampu hijau untuknya bisa kembali memanfaatkan saya. Dan saya pikir, ini memang bagian dari rencananya. Siapa lagi yang bisa dimintai tolong selain saya?!" Keenan menerima selembar kertas itu dari Ina sore ini saat ia baru pulang kerja.Dia membacanya sekilas. Alamat sebuah rumah sakit, dan ia tahu lokasinya."Tapi kasihan Bu Eli. Dia bilang dia kena tumor payudara dan harus dioperasi besok pagi," sahut Ina. Gadis itu memandangi Keenan tanpa berkedip."Kamu pikir dia hanya sekedar minta support, dukungan, atau minta ditengok, gitu aja?!" tukas pria itu."Jangan terlalu polos, Ina. Kamu ini baby sister anak saya, dan tahu benar bagaimana sikap Eliana selama ini. Tidak mungkin kan tiba-tiba saja dia baik dengan anaknya sendiri, yang sejak lahir sudah ia abaikan, kalau nggak ada apa-apa?!""Saya pun juga berpikir ke arah sana, Pak. Tapi saya hanya kasihan. Mungkin Bu El

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 143

    Bab 143"Nggak! Nggak mungkin! Nggak mungkin! Nggak!" Perempuan itu seketika berteriak histeris. Tempo hari Eliana hanya mendapatkan pemeriksaan fisik, kemudian hasilnya akan dicek di laboratorium. Dan hari ini dia diberitahu hasilnya oleh dokter spesialis."Mohon maaf, Bu. Tapi saya menyatakan hal yang sebenarnya. Saya mendiagnosa sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Ibu positif mengidap tumor payudara....""Jadi...." Mata perempuan itu seketika mengembun."Tidak ada jalan lain untuk menghentikan semuanya, Bu. Kedua payudara Ibu harus segera dioperasi untuk menghindari penyebaran yang tidak bisa kita kendalikan.""Saya harus kehilangan payudara saya, Dok?""Daripada Ibu harus kehilangan nyawa Ibu, bagaimana?"Lunglai rasanya seluruh persendian Eliana. Vonis ini sangat mengerikan dan dia tak pernah membayangkan jika akibat dari penolakan menyusui bayinya dulu berakibat fatal. Setidaknya itu penjelasan yang diterimanya dari dokter spesialis. Menyusui bayi di tengarai bukan cuma b

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 142

    Bab 142Eliana melenggang santai menuju sofa dan duduk di kursi nan empuk itu. Tak terlihat gurat lelah dan marah di wajahnya. Perempuan itu ternyata pandai berakting."Aku tunggu di sini, Ina. Aku ingin bertemu dengan putriku. Sudah sebesar apa dia sekarang?" Matanya berbinar-binar saat menyebut nama putrinya."Tapi, Bu....""Percayalah, aku tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin bertemu dengan Sherina, putriku. Sudah lama aku tidak ke sini. Bukan aku tidak ingin bertemu putriku, tapi Mas Keenan yang melarang. Bahkan aku bersabar dengan menemui Mas Keenan di kantor saja, walaupun aku sangat ingin menemui Sherina kembali. Dulu mas Keenan memintaku untuk lebih memperhatikan Sherina, dan sekarang aku memenuhi keinginannya." Eliana mengarang alasannya panjang lebar.Ina langsung berdecih. Kemarin kemana saja? Saat orang-orang, bahkan Sherina sekalipun sudah putus harapan dengan peran Eliana sebagai seorang ibu, kenapa sekarang baru ingat jika ia memiliki seorang putri kecil yang butuh

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 141

    Bab 141Wanita itu mendengus. Dia mengibaskan tangannya kasar demi melepaskan pegangan tangan dua orang petugas security yang menyeretnya sampai ke luar gedung. Ditonton secara gratis oleh ratusan orang yang kebetulan berpapasan dengan mereka tak lagi menumbuhkan rasa malu di hati Eliana. Hatinya sudah mati. Dia sudah terbiasa dengan tatapan sinis semua orang. Meski jika dipikir-pikir, dia seperti seorang pengemis saja, yang meminta uang untuk biaya hidup sehari-hari kepada mantan suami.Dia sudah tak punya harga diri. Namun Eliana tak punya pilihan. Ekonomi keluarganya sudah berada di titik nadir. Dia sudah mencoba mencari pekerjaan, tetapi tak ada pekerjaan yang layak untuknya. Dia memang berpendidikan di luar negeri, namun dia tidak serius menuntut ilmu. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk clubbing dan pesta yang menghabiskan uang milik orang tuanya. Jadi tidak ada hal yang bisa dibanggakan dengan pendidikannya di luar negeri, bahkan dia diberhentikan secara paksa dari u

  • Menyusui Bayi Dokter Tampan    Bab 140

    Bab 140Keenan tahu, orang yang dimaksud oleh dokter Aariz itu adalah Eliana, dan dokter Aariz juga memberi tindakan operasi caesar kepada Eliana atas paksaannya, karena pria itu tidak mau terlalu lama mendengarkan umpatan kesakitan dari mantan istrinya itu.Pria itu mendengar dengan jelas apa yang disampaikan oleh dokter Aariz. Obrolan mereka sangat jelas terdengar. Namun Keenan sengaja tidak mau turut campur. Tidak ada urusan dengannya. Lagi pula sepertinya Alifa memang hanya menginginkan bertemu dengan Donita.Terlihat jelas dari sikap dokter Aariz bahwa dia begitu posesif. Dia dan dokter Aariz sama-sama laki-laki dan tentu tahu bagaimana caranya agar pasangan tidak lagi berhubungan dengan mantan. Jelas sekali bahwa pria itu tidak menginginkan Alifa berhubungan kembali dengan mantan suaminya, walaupun hanya sebatas berteman."Apa aku terlihat menyedihkan?" Pria itu memutar bola matanya malas sembari berjalan mendekat setelah sepasang suami istri itu meninggalkan ruangan perawatan

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status