72. Memulai
***
Saat itulah ia bisa menikmati halaman rumah Resty yang sangat luas yang belum sempat ia nikmati ketika datang. Tidak heran jika halaman ini didominasi warna hijau karena sang sahabat memang menyukai warna hijau juga berbagai jenis tanaman.
Berbagai macam bunga berada pada pot besar-besar yang berjajar rapi di halaman. Bahkan pagar yang mengelilingi rumah ini pun adalah tanaman hias yang tingginya hampir setara dengan tinggi rumah.
Ketika menghadap ke depan, ia bisa melihat dua gerbang yang dipisahkan tanaman itu sebagai pagar. Entah kenapa ada dua. Yang ia dapati ukuran gerbang itu sedikit
Selamat membaca para readers sekalian. Jangan lupa tinggalkan jejaknya.
73. Mengejutkan*** Ava menatap bangunan persegi yang tidak begitu luas dengan senyum mengembang. Ini adalah minggu kedua setelah ia membuka toko bunga di pusat kota Los Angeles. Tentunya dengan bantuan Resty dan suaminya yang mencari tempat strategis untuk ia berjualan. Belum lagi kolega John—suami Resty yang juga mulai menjadi pelanggan toko bunganya. Percayalah. Ava hampir pingsan ketik pertama kali seorang artis besar mendatangi toko bunga sederhananya. Masih bisa diingat ketika dirinya hanya bisa mematung ketika seorang aktris datang memesan bunga dari tokonya. Hingga kedatangan John yang memperkenal mereka membuat ia tahu dalang di balik ini. Masih asyik duduk pada meja di dekat kasir, suara lonceng berbunyi menandakan seseorang baru saja memasuki toko, membuyarkan angan Ava pada kejadian beberapa waktu lalu. Senyumnya merekah ketika melihat Resty datang dengan Zooe di gendongannya. "Baby Zooe,
74. Sulit Dipercaya *** Pria bermata tajam itu memeluk sebuah bingkai foto di mana si pemilik daksa dalam gambar tak mampu ia gapai. Meringkuk di atas ranjang tempat terakhir kali dirinya bergulat panas dengan seseorang yang siluetnya kini hanya bisa ia dekap. "Ava. Aku merindukanmu. Kamu di mana?" Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Berharap seseorang yang ia cari mendengar apa yang dipertanyakan. Di luar kamar, dua orang paruh baya mengintip melalui celah pintu. Seorang perempuan yang tidak lain adalah Desi menatap sendu keadaan putranya. Matanya kembali memanas, air asin tidak mampu ia cegah untuk mengalir. Di sampingnya Yarendra menatap sang istri, masih ada kekecewaan dalam gurat wajahnya. "Mama lihat apa hasil dari yang Mama lakukan. Mama sendiri yang membuat anak kita hancur," ucapnya dingin. Desi semakin tidak bisa me
75. Morning Sicknes ***Resty tengah berada dalam kamarnya bersama sang suami. Dengan posisi rebahan ia berada dalam rangkulan John suaminya. Waktu luang John ia gunakan untuk menghabiskan waktu bersama. Tentunya setalah Zooe tertidur. "Apa tidak sebaiknya Ava tinggal di sini? Dia sedang hamil." Malam ini mereka memang tengah membahas perihal Ava. Bibir Resty mengerucut. "Aku sudah memaksanya untuk tinggal di sini. Tapi dia tetap bersikeras untuk tinggal di apartemennya." Suara itu terdengar manja. "Jujur. Aku mengkhawatirkannya," ucapnya kemudian. "Apa tidak sebaiknya kita memberi tahu ayah bayinya?" "Ava akan marah kalau aku melakukan itu." Resti mendongak, menatap suaminya yang menghela napas panjang. "Kenapa dia seperti itu? Setahuku kalau wanita hamil selalu ingin dekat dengan suaminya. Seperti kamu
76. Frustrasi *** "Apa?" tanya Kafka dengan suara kerasnya. Ia bangkit dari kursi sembari menggebrak meja, menatap tajam beberapa orang di hadapannya. Kali ini Kafka berada di kantornya. Ya. Setelah bujukan dari Rasya juga kondisi papanya yang menurun akhirnya Kafka kembali ke perusahaan. Kenyataan apa yang diyakininya mengenai Ava dan jabang bayi dalam perut wanita itu pun sebagai stamina untuknya. "Kami belum menemukan keberadaan Nyonya Ava Tuan," ucap seseorang bersetelan jas hitam lengkap dengan kaca mata hitamnya. Ia menunduk dengan tangan terlipat di depan tubuh. Kemarahan kembali melingkupi Kafka. Pria itu menyapukan tangannya pada meja di hadapannya. Membuat semua barang yang ada di atas meja berhamburan di lantai. "Cari lagi di mana pun keberadaannya. Jangan kembali atau menghubungiku jika kalian belum menemukannya juga!" t
77. Pilu *** "Pengiriman bunga yang baru dipetik sudah datang, Kak." Suara gadis yang masih duduk di Senior High School itu memecah fokus seorang wanita hamil dalam meneliti laporan toko bunganya. Ia mendongak menatap gadis yang kini mengintip pada celah pintu, bibir berhias liptin itu tertarik memberikan senyum tipis. "Ah, terima kasih, Cassie. Akan kakak cek." Menutup buku di atas meja, ia bangkit dari kursi. Berjalan pelan ke arah pintu di mana gadis itu berada. "Ayo! Temani, Kakak," ajaknya pada gadis yang bernama Cassie itu. "Oke, Kak." Keduanya keluar untuk melihat pengiriman stok bunga yang sudah datang. Keduanya berjalan beriringan melewati rak-rak yang berjejer rapi di sisi kanan dan kiri di mana berbagai jenis bunga berada di sana. Keluar dari toko, keduanya berjalan ke arah kiri di mana sebuah mobil box berada, me
78. Kabar mengejutkan. ***Desi menangis dalam pelukan Yarendra. Keduanya berdiri di samping brankar di mana putra sulung mereka masih terbaring dengan infus di tangan. Kecelakaan tiga hari lalu membuat Rasya dan Clara harus menjalani perawatan di rumah sakit. Keduanya menatap seorang pria dengan kemeja putih kebesarannya tengah memeriksa keadaan Rasya yang baru saja membuka mata setelah beberapa hari terpejam. "Istirahat ya, Pak. Jangan lupa obatnya diminum agar segera sembuh." Rasya hanya mengangguk dengan senyum tipis. Dokter itu berbalik, berpamitan pada pasangan paruh baya yang berdiri di hadapannya. "Oh, Rasya." Desi segera mendekati putra sulung mereka, memeluk menumpahkan rindu yang menyiksa juga ketakutan akan kejadian yang dialami putranya. "Kamu kuat," ucap Yarendra menepuk bahu Rasya. Rasya hanya t
79. Permintaan Kafka *** Ava tengah Asyik merangkai beberapa bunga pesanan costumernya. Baru saja ia mendapatkan pesanan rangkaian bunga untuk acara ulang tahun seseorang malam nanti. Pesanan yang mendadak tidak membuatnya mengeluh. Sebisa mungkin ia memberikan pelayanan terbaik dari tokonya. Akibat ketidaksengajaan yang Ava lakukan, ia menyenggol tempat bunga yang baru saja ditata. Membuat beberapa bunga berjatuhan dan membuatnya kerepotan. Ia meminta bantuan pada Cassie tanpa menoleh atau pun mendengar jawaban dari gadis itu. Namun, tidak lama kemudian ia menerima beberapa bunga yang sebelumnya terjatuh. Gerakan tangan sempat terhenti saat ia menghirup aroma yang mengingatkan dirinya akan sosok seseorang. Sempat terpikir kalau memang dialah pemiliknya. Akan tetapi Ava menepisnya cepat. "Tidak mungkin," ucapnya lirih. Ia kembali melanjutka
80. Mencoba ***Resty mendatangi apartemen Ava ketika ia selesai berbicara pada Kafka. Ia melihat Ava yang tengah duduk bersila pada sofa di depan televisi. Wanita itu menghampiri dan duduk di samping sahabatnya. "Hei," sapanya. "Kamu oke?" Ava hanya mengangguk tanpa menjawab. "Jawaban kamu oke tapi keadaan kamu tidak baik saja, kan?" Tetap tidak ada jawaban dari wanita yang kini memakai sweater tipis cokelat itu. Resty menghela napas dalam. "Aku tadi bertemu Kafka di toko kamu. Kita sempat berbicar—" "Aku tidak ingin mendengar apa pun." Ava memotong cepat ucapannya. Untuk kali ini, Resty tidak akan menuruti Ava lagi. "Tapi, Va. Dia berhak untuk tahu semuanya. Dia ayah dari anak yang kamu kandung. Dia juga berhak untuk merawatnya." Tanpa diduga, Ava bangkit dari duduknya. "Sudah aku kat
96. Ending ***Empat tahun kemudian. "Darren. Om datang!" teriak Rasya ketika memasuki rumah besar Tuan Yarendra. "Lihat nih Om bawa apa?" teriaknya lagi dengan mengangkat tangan kanan di mana sebuah paperbag terlihat di sana. Sedang tangan kirinya senantiasa merangkul pinggang Clara di mana keduanya saling melempar senyum. Pasangan pengantin baru ini berjalan memasuki rumah lebih dalam. "Om, Rasya." Seorang bocah dengan kaus berwarna merah bergambar super hero yang katanya selalu diidolakan. Langkah kaki mungilnya mendekati Rasya. Sontak saja Rasya melepaskan rangkulannya pada Clara, berjongkok dan menyambut kedatangan keponakan tercintanya. "Apa kabar jagoan?" "Baik, Om," jawabnya polos dengan senyuman yang menampilkan deretan gigi mungilnya. Pandangan iris hitam legam itu mengarah
95. Menjadi Orang Tua***Suara tangis mungil memecah keheningan malam di mana semilir angin syahdu di luar ruangan memeluk semesta. Cahaya temaram lampu tidur itu tak mampu lagi menenangkan si pemilik daksa kala suara yang menjadi kebanggaan mereka akhir-akhir ini menyapa indra pendengaran.Iris mata hitam legam juga bola mata hazzle itu mengerjap beberapa kali, berusaha menyadarkan diri akan sebuah alarm merdu dari pangeran kecil yang berada pada box kayu yang terletak tidak jauh dari ranjang keduanya.Kafka bangkit lebih dulu, dengan tangan kanan ia mengucek mata. Tangis semakin keras terdengar, bertepatan dengan Ava yang juga mendudukkan diri ia bangkit dari ranjang, menyalakan lampu lalu mendekati box bayi dan melihat putranya menangis."Oh, Sayang. Anak Papa kenapa menangis?" Ia mengulurkan tangan, memegang dagu little
94. Kembali utuh***Suasana aqiqahan putra pertama Kafka diadakan di rumah keluarga besar Yarendra. Ini semua dikarenakan Desi tidak memperbolehkan Kafka dan Ava pulang ke rumah mereka lebih dulu.Selain Desi yang ingin tinggal bersama cucu pertamanya, ia juga ingin membantu merawat anak Ava. Desi tidak ingin menantunya itu merasa kerepotan karena merawat anak mereka seorang diri. Jika Kafka mengatakan dia ingin menyewa seorang pengasuh bayi, Desi selalu mengatakan, “Dirawat keluarga sendiri lebih baik daripada orang lain.” Apa yang diucapkan Desi dibenarkan oleh Kafka dan Ava.Alhasil, Ava dan Kafka pun menuruti keinginan Desi untuk tinggal. Bagaimanapun, mereka juga tahu bagaimana Desi begitu menginginkan hadirnya seorang cucu sejak dulu."Darren sedang apa, Sayang?" tanya Kafka yang baru saja
93. Welcome Darendra***“Sayang, hati-hati!" teriak Kafka saat melihat Ava langsung membuka pintu mobil dan turun begitu saja. Baru saja mobilnya berhenti di depan rumah orang tua Kafka. Namun Ava sudah membuat ia jantungan dengan tingkahnya yang tidak bisa diam. Kehamilan Ava sudah memasuki usia sembilan bulan. Perkiraan Dokter Ava akan melahirkan sekitar seminggu lagi. Bukannya membatasi ruang geraknya, Ava malah semakin menjadi.Jika Kafka melarangnya, Ava akan selalu menjawab, “Sayang, kata orang dulu, saat kehamilan kita menginjak usia tua, atau mendekati hari kelahiran, kita harus banyak gerak. Biar nanti proses kelahirannya lancar dan mudah. Kalau perlu nih, ya, aku harus mengepel rumah sambil jongkok.” Jangan tanyakan wajah Kafka saat Ava mengatakan Ava harus mengepel lantai dengan berjongkok. Kafka segera tu
92. Kedatangan Ava.***Suara pintu diketuk membuat ia membenahi jasnya. "Masuk," ucapnya tegas.Betapa terkejutnya Kafka ketika melihat wanita tadi yang memasuki ruangannya. Oh tidak. Ia lupa tidak memberi pesan pada Rai mengenai wanita ini yang tidak diinginkan kedatangannya."Selamat siang, Pak Kafka," sapanya dengan senyum yang dibuat manis. Percayalah. Bagi Kafka tetap manis senyum Ava.Wanita itu berjalan ke arah meja Kafka dengan berlenggak-lenggok menampilkan bokong sintalnya. Bukannya tergiur, Kafka malah merasa muak."Selamat siang, Ibu Rachel."Wanita bernama Rachel itu bukannya duduk di kursi yang tersedia, melainkan duduk di meja Kafka tepat di samping pria itu. Telunjuknya bergerak pelan di atas meja. "Bagaimana kalau panggil Rachel saja?"Kafka menarik tangannya dari atas meja k
91. Terima kasih, Sayang. ***Kafka memandang horor ibu-ibu berdaster di depan mobilnya. Ia menatap Rani yang menampakkan raut wajah tidak enak hati padanya. Wanita itu mendekati ibunya."Bu. Bukan. Ini atasannya Rani di kantor," ucapnya pelan namun masih bisa didengarkan Kafka.Bola mata ibu Rani semakin terkejut. "Kamu pacaran sama bos kamu?""Wah. Rani dapat pacar bos besar," ucap ibu-ibu yang lain.Rani menepuk keningnya. Sedangkan Kafka melipat tangan di depan dada merasa tidak perlu meladeni mereka. "Bukan ibu-ibu!" teriak Rani.Ia menunjuk keberadaan Kafka. "Dia bos Rani. Sudah punya istri. Dia datang mau beli rujaknya Mbak Wati. Soalnya istrinya lagi ngidam.""Oalah." Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah ibu-ibu itu."Mari, Pak saya antar ke warung Mbak Wati." Kafka mengangguk. Ia b
90. Rujak***Kafka baru saja keluar dari ruang meeting bertepatan dengan ponselnya yang berbunyi. Nama Ava yang tertera membuat pria itu segera menggeser tombol hijau ke atas, ditempelkan benda pipih itu ke telinganya."Ya, Sayang," sapanya. Ia sedikit memberikan senyum hangat pada kolega yang baru saja keluar dari ruang rapat bersama dengan Rasya."Sayang. Aku pengen rujak. yang—""Rujak, ya? Siap. Akan aku belikan sekarang juga. Sabar, ya, Sayang," ucap Kafka. Ia melangkah cepat ke ruangannya. Setiap Ava meminta sesuatu untuk kehamilannya Kafka selalu bersemangat."Tapi—""Tenang, Sayang. Aku akan carikan. Apa pun yang kamu mau akan aku belikan. Bahkan kalau aku harus mencarinya ke ujung dunia, akan aku lakukan untukmu. Sudah dulu, ya. Aku akan mencarinya."Ia memasuki ruangan p
89. Sabar*** "Begini?""Potongannya nggak rapi.""Begini?""Matengnya nggak rata.""Begini?""Bentuknya nggak kayak hati.""Begini?""Kuningnya pecah." "Begini?""Sayang. Bentuknya kurang sempurna." Kafka meremas dan mengacak rambutnya kasar, merasa frustrasi dengan apa yang diinginkan sang istri. Ini ke sekian kali ia mencoba tetapi tidak ada satu pun yang pas dengan yang dikehendaki Ava."Yang bagaimana lagi, Sayang?" tanya Kafka dengan wajah yang menunjukkan kekesalan.Tahu apa yang terjadi pada suaminya, bibir Ava mengerucut. Ia melipat tangan di depan dada sembari membuang muka ke samping. "Tapi memang semuanya tidak ada yang sesuai seleraku," ucapnya cemberut."Ini udah pas, Sayang.""Belum." Tahu apa yang diminta Ava pada Kafka pagi ini sebagai menu sarapannya? Telur cep
88. Permintaan tengah malam.***Waktu menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Dua insan tengah berbaring di ranjang ukuran king size pada sebuah kamar. Hanya saja, ada yang membedakan di antara keduanya.Jika salah satu dari mereka tengah terlelap dalam tidur nyenyak, maka salah satu dari mereka masih membuka kelopak matanya dengan lebar. Iris hazzle itu bergerak ke atas, bawah, kanan dan kiri. Memutar beberapa kali. Meneliti setiap apa yang bisa dijangkau pandangan.Baru saja Ava terbangun dari tidur lelap ya. Sesuatu membuat dirinya merasakan rasa ingin yang teramat sangat. Wanita itu menggigit bibir bawah, sesekali melirik keberadaan sang suami yang masih tertidur.Ada keraguan dalam dirinya untuk meminta apa yang diinginkan pada Kafka. Hanya saja, kalau tidak diwujudkan ia merasa gelisah.