66. Pelajaran
***Akhirnya. Setelah dua hari masalah jaringan. Aku bisa up lagi. Happy reading semuaaaaa.
67. Pergi *** Seorang wanita paruh baya tengah menangis tergugu di dekapan sang suami. Pasangan suami istri itu menatap sedih keadaan putri mereka yang terbaring lemah di salah satu kamar rumah sakit. Kondisi putrinya sungguh memprihatinkan. Luka sayatan di wajah dan lengan tangannya meninggalkan bekas yang sangat kentara. Keluarga ini pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka ingat, mereka mendengar teriakan putri mereka di tengah malam. Saat mereka menghampiri putrinya, mereka menemukan keadaan putri mereka dengan luka di sekujur tubuh. “Pa, sebenarnya apa yang terjadi dengan putri kita?” tanya wanita paruh baya itu pada sang suami. Wajahnya sembab dipenuhi air mata. Kulit putih kini sudah memerah akibat terlalu banyak tangis yang dikeluarkan. “Papa juga tidak tahu, Ma.” Keduanya kembali menatap nanar putri mereka yang masih belum sadarkan diri. Suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh. Terlihat tiga ora
68. Penyatuan ***"Apa?" tanya Kafka dengan teriakkan. Membuat Yarendra dan Desi terkejut. "Kamu ini, bisa tidak, sih, tidak usah pakai teriak, Kaf?" peringat Desi pada Kafka. "Ava mau apa ke Bali, Pa?" "Papa tidak tahu, Kafka." Kafka berdecak. Tanpa kata, ia berlari keluar untuk pergi ke apartemen Ava. *** Ava memasukkan baju-baju pada kopernya. Semua barang-barang yang ia butuhkan sudah ia kirimkan terlebih dahulu. Agar memudahkan dirinya di perjalanan. Gebrakan pintu yang terbuka secara kasar membuat ia terkejut. Ava menghela nafas kala ia melihat siapa pelakunya. "Kafka, kamu membuat aku terkejut," gerutu Ava. Tanpa kata, Kafka mendekati Ava dan mengeluarkan semua baju-baju Ava yang telah susah payah Ava tata dengan rapi di dalam koper. "Kafka, kamu apa-apaan?" Masih den
69. Berangkat***Kafka menarik koper milik Ava saat keduanya memasuki bandara Juanda Surabaya. Tangan kanannya memeluk pinggang Ava erat seolah menyalurkan ketidakrelaan akan kepergian perempuan yang ia cintai. Keberangkatan Ava ke Bali masih tiga puluh menit lagi. Keduanya memutuskan untuk duduk santai sembari menikmati kudapan di salah satu kafe yang ada. "Dua coffee dan dua cake coklat," ucap Kafka pada pelayan kafe. Pandangan Kafka beralih pada Ava kembali. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Ava, meremasnya lembut. "Berjanjilah, cepat kembali." Ava memang tidak menjawab, tetapi balasan sebuah senyuman cukup baginya. Senyum yang selalu membuat dirinya merasa tenang. Satu tangan Ava yang bebas dari genggamannya bergerak menumpu pada tangan kanannya. "Kamu, jangan lagi suka melawan apa maunya
70. Tiba *** Pesawat sudah mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Los Angeles. Ava menatap benda yang melingkari pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 6 sore. Hampir dua puluh empat jam ia melakukan penerbangan dari Surabaya ke salah satu kota yang ada di Negeri Adidaya ini. Tentu kalian tahu siapa yang membuat Ava menginjakkan kaki di tempat ini. Tentunya Resty sang sahabat. Ave mengembuskan napas kasar, lelah merayapi tubuhnya. Setelah dua kali transit di singapura dan Taipe, lalu penerbangan panjang tiga belas jam menuju tempat tujuan cukup menguras tenaganya. Ia menatap sekitar di mana para penumpang lain bersiap-siap untuk turun. Ava pun bangkit, meraih tas yang ada di bagian atas kepala lalu mengeluarkan mantel tebal. Resty memberitahunya kalau ia harus mengenakan pakaian itu sebelum keluar dari pesawat.
71. Kehilangan***Kafka sedari tadi merasa tidak tenang. Ia merasa gusar. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Namun ia belum mendapatkan kabar dari Ava. Saat dihubungi pun, selalu suara wanita yang tidak Kafka ketahui siapa namanya yang berbicara. Ponsel Ava tidak aktif sama sekali."Arrg. Ke mana, sih, kamu, Va?" Meski tahu ponsel Ava tidak aktif, Kafka tetap mencoba untuk menghubunginya lagi dan lagi. Berharap nanti Ava bisa dihubungi."Kafka." Panggilan Yarendra membuat Kafka menoleh. Di ambang pintu kamar Kafka, Yarendra bertanya, "Sudah mendapatkan kabar dari Ava, Nak?"Kafka menggeleng lesu. Tangannya yang semula memegang ponsel pada telinga turun lunglai. "Belum, Pa."Helaan napas dalam Yarendra embuskan, Kafka mendekati papanya ketika melihatnya limbung. "Ke mana kamu, Nak? Tolong jangan buat khawatir kami." Sesaat
72. Memulai***Ava berdiri di ambang pintu rumah Resty, ia menatap sepasang suami istri itu sedang melakukan ritual perpisahan sebelum sang suami berangkat bekerja, bila mata hazzle itu mengalihkan pandangan ketika menyadari dua orang di hadapannya akan menautkan bibir.Saat itulah ia bisa menikmati halaman rumah Resty yang sangat luas yang belum sempat ia nikmati ketika datang. Tidak heran jika halaman ini didominasi warna hijau karena sang sahabat memang menyukai warna hijau juga berbagai jenis tanaman.Berbagai macam bunga berada pada pot besar-besar yang berjajar rapi di halaman. Bahkan pagar yang mengelilingi rumah ini pun adalah tanaman hias yang tingginya hampir setara dengan tinggi rumah.Ketika menghadap ke depan, ia bisa melihat dua gerbang yang dipisahkan tanaman itu sebagai pagar. Entah kenapa ada dua. Yang ia dapati ukuran gerbang itu sedikit
73. Mengejutkan*** Ava menatap bangunan persegi yang tidak begitu luas dengan senyum mengembang. Ini adalah minggu kedua setelah ia membuka toko bunga di pusat kota Los Angeles. Tentunya dengan bantuan Resty dan suaminya yang mencari tempat strategis untuk ia berjualan. Belum lagi kolega John—suami Resty yang juga mulai menjadi pelanggan toko bunganya. Percayalah. Ava hampir pingsan ketik pertama kali seorang artis besar mendatangi toko bunga sederhananya. Masih bisa diingat ketika dirinya hanya bisa mematung ketika seorang aktris datang memesan bunga dari tokonya. Hingga kedatangan John yang memperkenal mereka membuat ia tahu dalang di balik ini. Masih asyik duduk pada meja di dekat kasir, suara lonceng berbunyi menandakan seseorang baru saja memasuki toko, membuyarkan angan Ava pada kejadian beberapa waktu lalu. Senyumnya merekah ketika melihat Resty datang dengan Zooe di gendongannya. "Baby Zooe,
74. Sulit Dipercaya *** Pria bermata tajam itu memeluk sebuah bingkai foto di mana si pemilik daksa dalam gambar tak mampu ia gapai. Meringkuk di atas ranjang tempat terakhir kali dirinya bergulat panas dengan seseorang yang siluetnya kini hanya bisa ia dekap. "Ava. Aku merindukanmu. Kamu di mana?" Hanya kata-kata itu yang selalu diucapkannya. Berharap seseorang yang ia cari mendengar apa yang dipertanyakan. Di luar kamar, dua orang paruh baya mengintip melalui celah pintu. Seorang perempuan yang tidak lain adalah Desi menatap sendu keadaan putranya. Matanya kembali memanas, air asin tidak mampu ia cegah untuk mengalir. Di sampingnya Yarendra menatap sang istri, masih ada kekecewaan dalam gurat wajahnya. "Mama lihat apa hasil dari yang Mama lakukan. Mama sendiri yang membuat anak kita hancur," ucapnya dingin. Desi semakin tidak bisa me
96. Ending ***Empat tahun kemudian. "Darren. Om datang!" teriak Rasya ketika memasuki rumah besar Tuan Yarendra. "Lihat nih Om bawa apa?" teriaknya lagi dengan mengangkat tangan kanan di mana sebuah paperbag terlihat di sana. Sedang tangan kirinya senantiasa merangkul pinggang Clara di mana keduanya saling melempar senyum. Pasangan pengantin baru ini berjalan memasuki rumah lebih dalam. "Om, Rasya." Seorang bocah dengan kaus berwarna merah bergambar super hero yang katanya selalu diidolakan. Langkah kaki mungilnya mendekati Rasya. Sontak saja Rasya melepaskan rangkulannya pada Clara, berjongkok dan menyambut kedatangan keponakan tercintanya. "Apa kabar jagoan?" "Baik, Om," jawabnya polos dengan senyuman yang menampilkan deretan gigi mungilnya. Pandangan iris hitam legam itu mengarah
95. Menjadi Orang Tua***Suara tangis mungil memecah keheningan malam di mana semilir angin syahdu di luar ruangan memeluk semesta. Cahaya temaram lampu tidur itu tak mampu lagi menenangkan si pemilik daksa kala suara yang menjadi kebanggaan mereka akhir-akhir ini menyapa indra pendengaran.Iris mata hitam legam juga bola mata hazzle itu mengerjap beberapa kali, berusaha menyadarkan diri akan sebuah alarm merdu dari pangeran kecil yang berada pada box kayu yang terletak tidak jauh dari ranjang keduanya.Kafka bangkit lebih dulu, dengan tangan kanan ia mengucek mata. Tangis semakin keras terdengar, bertepatan dengan Ava yang juga mendudukkan diri ia bangkit dari ranjang, menyalakan lampu lalu mendekati box bayi dan melihat putranya menangis."Oh, Sayang. Anak Papa kenapa menangis?" Ia mengulurkan tangan, memegang dagu little
94. Kembali utuh***Suasana aqiqahan putra pertama Kafka diadakan di rumah keluarga besar Yarendra. Ini semua dikarenakan Desi tidak memperbolehkan Kafka dan Ava pulang ke rumah mereka lebih dulu.Selain Desi yang ingin tinggal bersama cucu pertamanya, ia juga ingin membantu merawat anak Ava. Desi tidak ingin menantunya itu merasa kerepotan karena merawat anak mereka seorang diri. Jika Kafka mengatakan dia ingin menyewa seorang pengasuh bayi, Desi selalu mengatakan, “Dirawat keluarga sendiri lebih baik daripada orang lain.” Apa yang diucapkan Desi dibenarkan oleh Kafka dan Ava.Alhasil, Ava dan Kafka pun menuruti keinginan Desi untuk tinggal. Bagaimanapun, mereka juga tahu bagaimana Desi begitu menginginkan hadirnya seorang cucu sejak dulu."Darren sedang apa, Sayang?" tanya Kafka yang baru saja
93. Welcome Darendra***“Sayang, hati-hati!" teriak Kafka saat melihat Ava langsung membuka pintu mobil dan turun begitu saja. Baru saja mobilnya berhenti di depan rumah orang tua Kafka. Namun Ava sudah membuat ia jantungan dengan tingkahnya yang tidak bisa diam. Kehamilan Ava sudah memasuki usia sembilan bulan. Perkiraan Dokter Ava akan melahirkan sekitar seminggu lagi. Bukannya membatasi ruang geraknya, Ava malah semakin menjadi.Jika Kafka melarangnya, Ava akan selalu menjawab, “Sayang, kata orang dulu, saat kehamilan kita menginjak usia tua, atau mendekati hari kelahiran, kita harus banyak gerak. Biar nanti proses kelahirannya lancar dan mudah. Kalau perlu nih, ya, aku harus mengepel rumah sambil jongkok.” Jangan tanyakan wajah Kafka saat Ava mengatakan Ava harus mengepel lantai dengan berjongkok. Kafka segera tu
92. Kedatangan Ava.***Suara pintu diketuk membuat ia membenahi jasnya. "Masuk," ucapnya tegas.Betapa terkejutnya Kafka ketika melihat wanita tadi yang memasuki ruangannya. Oh tidak. Ia lupa tidak memberi pesan pada Rai mengenai wanita ini yang tidak diinginkan kedatangannya."Selamat siang, Pak Kafka," sapanya dengan senyum yang dibuat manis. Percayalah. Bagi Kafka tetap manis senyum Ava.Wanita itu berjalan ke arah meja Kafka dengan berlenggak-lenggok menampilkan bokong sintalnya. Bukannya tergiur, Kafka malah merasa muak."Selamat siang, Ibu Rachel."Wanita bernama Rachel itu bukannya duduk di kursi yang tersedia, melainkan duduk di meja Kafka tepat di samping pria itu. Telunjuknya bergerak pelan di atas meja. "Bagaimana kalau panggil Rachel saja?"Kafka menarik tangannya dari atas meja k
91. Terima kasih, Sayang. ***Kafka memandang horor ibu-ibu berdaster di depan mobilnya. Ia menatap Rani yang menampakkan raut wajah tidak enak hati padanya. Wanita itu mendekati ibunya."Bu. Bukan. Ini atasannya Rani di kantor," ucapnya pelan namun masih bisa didengarkan Kafka.Bola mata ibu Rani semakin terkejut. "Kamu pacaran sama bos kamu?""Wah. Rani dapat pacar bos besar," ucap ibu-ibu yang lain.Rani menepuk keningnya. Sedangkan Kafka melipat tangan di depan dada merasa tidak perlu meladeni mereka. "Bukan ibu-ibu!" teriak Rani.Ia menunjuk keberadaan Kafka. "Dia bos Rani. Sudah punya istri. Dia datang mau beli rujaknya Mbak Wati. Soalnya istrinya lagi ngidam.""Oalah." Terlihat jelas raut kekecewaan di wajah ibu-ibu itu."Mari, Pak saya antar ke warung Mbak Wati." Kafka mengangguk. Ia b
90. Rujak***Kafka baru saja keluar dari ruang meeting bertepatan dengan ponselnya yang berbunyi. Nama Ava yang tertera membuat pria itu segera menggeser tombol hijau ke atas, ditempelkan benda pipih itu ke telinganya."Ya, Sayang," sapanya. Ia sedikit memberikan senyum hangat pada kolega yang baru saja keluar dari ruang rapat bersama dengan Rasya."Sayang. Aku pengen rujak. yang—""Rujak, ya? Siap. Akan aku belikan sekarang juga. Sabar, ya, Sayang," ucap Kafka. Ia melangkah cepat ke ruangannya. Setiap Ava meminta sesuatu untuk kehamilannya Kafka selalu bersemangat."Tapi—""Tenang, Sayang. Aku akan carikan. Apa pun yang kamu mau akan aku belikan. Bahkan kalau aku harus mencarinya ke ujung dunia, akan aku lakukan untukmu. Sudah dulu, ya. Aku akan mencarinya."Ia memasuki ruangan p
89. Sabar*** "Begini?""Potongannya nggak rapi.""Begini?""Matengnya nggak rata.""Begini?""Bentuknya nggak kayak hati.""Begini?""Kuningnya pecah." "Begini?""Sayang. Bentuknya kurang sempurna." Kafka meremas dan mengacak rambutnya kasar, merasa frustrasi dengan apa yang diinginkan sang istri. Ini ke sekian kali ia mencoba tetapi tidak ada satu pun yang pas dengan yang dikehendaki Ava."Yang bagaimana lagi, Sayang?" tanya Kafka dengan wajah yang menunjukkan kekesalan.Tahu apa yang terjadi pada suaminya, bibir Ava mengerucut. Ia melipat tangan di depan dada sembari membuang muka ke samping. "Tapi memang semuanya tidak ada yang sesuai seleraku," ucapnya cemberut."Ini udah pas, Sayang.""Belum." Tahu apa yang diminta Ava pada Kafka pagi ini sebagai menu sarapannya? Telur cep
88. Permintaan tengah malam.***Waktu menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Dua insan tengah berbaring di ranjang ukuran king size pada sebuah kamar. Hanya saja, ada yang membedakan di antara keduanya.Jika salah satu dari mereka tengah terlelap dalam tidur nyenyak, maka salah satu dari mereka masih membuka kelopak matanya dengan lebar. Iris hazzle itu bergerak ke atas, bawah, kanan dan kiri. Memutar beberapa kali. Meneliti setiap apa yang bisa dijangkau pandangan.Baru saja Ava terbangun dari tidur lelap ya. Sesuatu membuat dirinya merasakan rasa ingin yang teramat sangat. Wanita itu menggigit bibir bawah, sesekali melirik keberadaan sang suami yang masih tertidur.Ada keraguan dalam dirinya untuk meminta apa yang diinginkan pada Kafka. Hanya saja, kalau tidak diwujudkan ia merasa gelisah.