Calderon menarik Almora menjauh dari keramaian, menghindari tatapan penasaran orang-orang di sekitar mereka. Suara musik dan tawa tamu yang meramaikan pesta masih terdengar samar, namun dia tidak peduli. Dia membawa gadis itu ke bagian belakang rumah, menuju tempat sepi yang tidak terjamah. Gudang tua menjadi pilihan yang tepat untuk menginterogasi perempuan yang selalu hadir tanpa diminta dalam hidupnya. Aneh rasanya, setiap kali dia mencarinya, Almora selalu entah kemana. Calderon mendorong Almora memasuki gudang. Dengan gerakan cepat, dia menutup pintu dan menguncinya, khawatir akan ada pengganggu yang tiba-tiba muncul dan merusak suasana. Kegelapan menyelimuti mereka, hanya diterangi oleh cahaya remang dari jendela yang pecah.“Apa yang kamu lakukan di rumah saya?” tanya Calderon dengan tatapan tajam, berusaha menampilkan wibawa meski di dalam hati, dia merasakan kegugupan. Almora berdiri di hadapannya, matanya berkilau biru, berani menatap balik.Alm
Calderon sudah empat kali bertemu Almora dan selalu di tempat yang tak terduga. Tanpa rencana dan tanpa aba-aba. Calderon tidak menduga bahwa salah satu staf catering dari tempat yang dipesan ibunya adalah Almora. Dia tidak akan tahu Almora ada di sana kalau saja keributan itu tidak terjadi. Kini, orang-orang yang menimbulkan keributan itu sudah pulang. Almora juga tak terlihat lagi saat pesta usai. Hanya ada keluarga Saka dan Dalas di sana. "Kamu senang 'kan karena pernikahannya di undur?" tanya Tuan Saka pada Calderon. Keduanya berada di teras depan, berdiri tanpa alasan yang jelas, menatap pelayan yang sibuk membersihkan rumah. "Aku tidak akan senang jika pernikahan itu hanya sekedar diundur. Dia melakukannya lagi, yah. Dia selingkuh untuk kedua kalinya," jawab Calderon tidak habis pikir. Perempuan itu baru saja dipergoki tidur di sebuah hotel bersama pria yang Calderon ketahui adalah rekan kerja Tuan Dalas. Tuan Saka tersenyum miring, merasa curiga pada Calderon. "Bagaimana
Almora memutuskan berhenti bekerja sebagai staf catering. Alasannya karena tidak ingin bertemu Calderon. Takut sewaktu-waktu tidak sengaja mengantar makanan di tempat milik Calderon lagi. Almora benar-benar tidak ingin berhubungan dengan pria itu. Bukan hanya karena trauma, tapi juga karena perasaannya sendiri. Perempuan sepertinya akan mudah jatuh hati. Perempuan yang kehilangan tempat untuk pulang, tidak punya sandaran dan butuh perhatian. Jujur saja, Almora butuh sosok penopang dalam hidupnya. Sosok seperti ayah yang begitu cepat meninggalkannya.Namun mau bagaimana lagi? Almora tidak bisa apa-apa sekarang. Dia kehilangan semuanya, termasuk Ken, pria yang teramat dia cintai.Calderon membuat hidupnya hancur."Kamu betulan mau melamar di perusahaan ini?" Suara pria di sebelahnya menyadarkan Almora dari lamunan. Sedikit cerita, Almora memutuskan melamar pekerjaan di perusahaan paling besar di kota. Ada lowongan yang tersedia. Persetan seperti apa perusahaan itu, Almora ingin bekerj
Calderon menatap Almora yang tertegun di hadapannya. Seperti melihat setan bolong di siang bolong. Wajahnya pias, mungkin merasa takut karena untuk kesekian kalinya, di belahan bumi tak terduga, mereka bertemu secara tiba-tiba."Ma-maaf." Almora sadar dan bergegas mengambil gelas kopi di lantai. Tidak ada yang tersisa karena semuanya tumpah, menodai lantai marmar yang putih.Noda kopi di kemejanya bukan masalah. Calderon tidak akan mempermasalahkannya karena Almora yang melakukannya."Saya tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini kita mudah sekali bertemu. Baru kemarin saya melihat mu dan sekarang saya melihat kamu lagi," ucap Calderon mengabaikan kemejanya yang kotor. Bahkan dia merasa baik-baik saja setelah kena tumpahan kopi panas.Almora berdiri di hadapan Calderon usai memungut gelas kopi. Kepalanya mendongak, menatap tubuh menjulang Calderon. Lalu pandangannya tak sengaja jatuh pada noda kopi di kemeja pria itu.Almora malah melakukan kesalahan pada orang yang dibencinya. Sial! Dia
"Kemejanya kenapa, pak?" tanya Joya, salah satu pegawai yang lumayan ramah terhadapnya. Padahal Calderon sering kali jutek dan judes, tapi Joya tidak mempan dengan hal itu."Ketumpahan kopi," jawab Calderon menatap noda yang telah mengering di kemejanya. Terlihat jelek dan merusak pemandangan. Calderon benci melihatnya."Aduh, pak. Sebentar lagi kan bapak ada meeting," ucap Joya memegangi kepalanya, syok dengan ketidakpedulian Calderon terhadap penampilannya.Dahi pria itu berkerut. "Kenapa? Kan bisa saya ganti.""Bawa baju ganti memangnya?""Bawalah."Barulah senyum terkembang di wajah Joya. Akhir-akhir ini tidak ada yang memperhatikan Calderon. Dia baru saja kehilangan sekretarisnya karena suatu kecelakaan. Max ada, tapi Joya tidak yakin pria itu bisa diandalkan untuk mengurus jadwal dan penampilan Calderon. Max tidak ahli bekerja di dalam kantor. Anak itu lebih cocok bertugas di lapangan. Namun sesekali, Max akan membantu mengatur jadwal Calderon. Tapi untuk beberapa hari ini, Max
"Ada perlu apa?" tanya Calderon, menghampiri Camelia yang menunggu di lobi. "Mau ngajak kamu makan siang bareng," jawabnya dengan senyuman. Sejauh ini, hanya Calderon yang merasa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Sedangkan Camelia, dia tetap bersikap selayaknya tidak pernah terjadi apa-apa.Calderon tidak langsung menjawab. Matanya bergerak, memperhatikan setiap manusia yang melewati lobi. Sebenarnya dia tidak perlu khawatir dengan karyawannya. Mereka tidak akan menggosip tentang Calderon. Tapi bagi Calderon, harga dirinya hilang jika tetap berurusan dengan Camelia. Berita perselingkuhan perempuan itu sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Calderon bisa dianggap bodoh karena masih mau meladeni perempuan itu."Saya sibuk," jawab Calderon.Camelia mencebikkan bibirnya. "Ayolah, Cal.""Saya tidak bisa," tolak Calderon.Camelia menghela napas pelan. "Kalau kamu terus-terusan kayak gini, hubungan kita gak akan pernah baik, Cal.""Siapa bilang saya mau berbaikan?" tanya Calderon tan
Setibanya di kantor, Almora langsung mencari ruangan Joya. Kemarin wanita itu meminta Almora untuk menemuinya terlebih dahulu, mungkin ingin menyampaikan di bagian mana Almora akan diletakkan sebab kemarin wanita itu hanya mengatakan bahwasanya Almora telah diterima. Hanya itu saja.Selayaknya anak baru yang ingin membangun citra diri, Almora tentu akan datang lebih pagi agar tidak terlambat. Memakai kemeja putih dan rok span selutut berwarna hitam. Mona yang menyuruhnya memakai pakaian seperti itu. Katanya Almora masih baru, belum boleh banyak gaya. Terlebih dahulu Almora perlu mempelajari pakaian seperti apa yang boleh dikenakan di kantor.Sebagai anak baik dan teladan, Almora menurut saja. Sekalian cari aman."Permisi, buk." Almora mengetuk pintu ruangan Joya dengan sopan."Masuk."Setelah mendapat izin, Almora mendorong pintu dengan pelan. Dia tersenyum ramah pada Joya. Wanita itu berdiri di dekat mejanya, memegang sebuah map. Di antara bahu dan telinga kanan ada telpon yang terse
"Sudah bangun?"Almora tidak merasakan pusing atau sejenis sakit kepala lainnya kala membuka mata. Dia jatuh pingsan bukan karena sakit, tetapi karena syok menyadari kepada siapa dia bekerja. Calderon Mosaka berdiri tak jauh dari tempatnya terbaring, menatap dengan senyuman yang tampak membingungkan. Entah dia merasa menang melihat Almora terbaring tak berdaya, entah sedang mengejek karena Almora memang tidak punya kesempatan untuk lari."Apa sebelumnya kamu tidak pernah melihat pria tampan sampai pingsan begitu?" tanyanya ingin tahu. Dari sekian banyak perempuan yang bertemu dengannya, baru Almora yang bereaksi secara berlebihan. Almora bergerak bangkit. Turun dari sofa, lalu berdiri di sisi sofa dengan pandangan tertuju pada Calderon yang masih menatapnya. Almora tidak ingin membuat keributan dan meninggalkan kesan buruk sebagai seorang bawahan. Hubungan mereka memang sedang tidak baik-baik saja. Bahkan Almora sangat membenci Calderon dan berharap tidak bertemu lagi dengan pria i