Ayu tersentak. Jantungnya berdegup lebih kencang. "Astaga! Apa yang harus aku jawab," batinnya.
Matanya segera menyapu seluruh ruangan angkot. Semua penumpang kini menatapnya, wajah mereka penuh rasa ingin tahu. Ayu menunduk, berharap bisa menghilang begitu saja.
"Iya, kan? Bener, kan, Mbak?" Ibu itu kembali memastikan, suaranya lebih nyaring.
Seorang ibu lain yang duduk di pojok ikut menimpali. "Oh iya! Saya ingat! Kamu yang bawa jenazah naik motor itu, kan? Astaga, kok tega sih, Mbak? Padahal kamu ini keluarga Gubernur!"
Beberapa penumpang lain mulai berbisik-bisik. Ada yang meliriknya dengan tatapan iba, ada pula yang menatapnya dengan heran, seolah tak percaya.
Seorang pria paruh baya yang duduk di depan akhirnya ikut bicara. "Iya, Mbak. Kalau ada masalah, dibicarakan saja sama Pak Gubernur. Kami yakin beliau itu orang baik. Sama masyarakat aja peduli banget."
Jaka menggertakkan gigi, lalu mencoba menghalanginya. "Ayu, kamu nggak bisa pergi begitu aja!"Ayu menepis tangannya kasar. "Kenapa nggak bisa?" desisnya."Aku bebas pergi kemana saja. Yang penting jauh dari kalian yang menjijikkan!""Ayu, kamu mau tinggal di jalanan?" balas Jaka.Ayu tertawa—bukan tawa bahagia, tapi getir, penuh luka. Ia mengangkat wajahnya, menatap Jaka penuh penghinaan."Lebih baik aku tinggal di jalanan daripada harus terus melihat kelakuanmu yang begini, Mas. Kamu nggak ada bedanya sama keluargamu."Jaka menahan napas, tak bisa membalas.Melihatnya diam, Ayu menyampirkan tasnya ke bahu, lalu berbalik menuju pintu.Tapi suara Jaka menghentikannya. "Ayu, jangan pergi! Kalau kamu pergi, siapa yang akan cuci bajuku? Masakanku? Siapa yang bersihin rumah?"Ayu be
Tangan Ayu mencengkeram lututnya. Bahagia? Kata itu terasa asing baginya sekarang. Ia menggeleng pelan, lalu menunduk. Setetes air mata jatuh ke punggung tangannya."Saya justru tertekan di rumah itu, Umi," suaranya bergetar. "Sampai… sampai saya kehilangan bayi saya."Umi Euis tersentak. "Astaghfirullah…" gumamnya, tatapannya dipenuhi keterkejutan dan kesedihan. "Sabar ya, Nak."Ayu terisak, bahunya bergetar hebat. "Keluarga itu jahat, Umi. Mereka memperlakukan saya seperti—" ia terhenti, menggeleng putus asa. "Saya kabur dari sana…"Dada Ayu terasa sesak, seperti ada yang mencengkeram kuat. Seluruh emosinya, yang selama ini ia tekan, tumpah begitu saja. Tangisnya pecah, histeris, menyayat malam yang sunyi.Tanpa ragu, Umi Euis meraih tubuh Ayu ke dalam pelukannya. Tangan tuanya yang hangat menepuk-nepuk pundak gadis itu, memberikan ketena
"Hanya pengasuh, Umi. Saya masih berusaha mencari ibu susu untuk mereka."Umi Euis menatap bayi-bayi itu dengan sayang, jemarinya mengusap dahi mungil mereka. "Ya Allah… kasihan cucu-cucu Umi ini." Suaranya lirih, seperti doa. "Semoga kalian tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salehah.""Aamiin." Baim menjawab cepat.Umi Euis mengangkat wajah, menatapnya dengan bangga. "Tentu saja mereka akan menjadi anak yang kuat, seperti papanya. Kamu sudah membuktikan itu, Nak. Yatim piatu sejak remaja, tapi lihatlah sekarang… kamu sukses."Baim tersenyum kecil. "Alhamdulillah, Umi. Semua ini juga berkat doa Umi dan adik-adik di panti ini."Umi Euis mengusap lengan Baim yang kekar. Matanya basah. "Umi bangga padamu, Nak. Meski sudah sukses, kamu nggak pernah melupakan kami di sini."Baim menatapnya lembut. "Bagaimana mungkin saya melupakan Umi yang pernah merawat saya di sini?"Umi menggeleng, suaranya sedikit bergetar. "Ah&helli
"Iya, Neng," jawab si nenek. "Laki-laki dan perempuan. Mereka tampan dan cantik, seperti papanya."Ayu tidak lagi mendengar suara nenek itu. Pikirannya melayang ke dua bayi mungil yang pernah ada dalam dekapannya di rumah sakit—anak susunya.Tangannya mengepal pelan di atas meja.Dada Ayu bergetar hebat, seakan ada tarikan tak terlihat yang membuat jantungnya berdegup kencang."Nek… apa Nenek tahu siapa nama ayah bayi itu?" suaranya lirih, tapi ada desakan di dalamnya.Kedua nenek itu saling berpandangan. Salah satunya mengernyit, mencoba mengingat. "Emm… kalau nggak salah, namanya Baim."Nenek satunya mengangguk mantap. "Iya, benar. Baim namanya. Badannya tinggi, bahunya bidang. Hidungnya mancung, ada sedikit brewok."Ayu terdiam. Nama itu menggema di kepalanya. Sosok pria yang ia temui di rumah sakit, meski sekilas, ia mengingat ciri-ciri itu dengan jelas.Tangan Ayu mencengkeram sisi meja. "Nek… di
Wajah Baim menegang. Sekali lagi, ia menatap Ayu, kali ini lebih dalam, seakan mencari kepastian di matanya."Apa? Ayu? Kamu ibu susu si kembar?"Ayu mengangguk pelan."Nggak mungkin. Ayu yang dokter bilang, berumur 19 tahun. Sedang kamu, bukankah kamu masih bersekolah?"Tawa kecil lolos dari bibir Ayu. "Saya sudah 19 tahun, Pak. Dan saya sudah pernah melahirkan."Baim tercenung. Pikirannya berputar cepat. Berhari-hari ia bingung bagaimana cara mencari ibu susu yang telah menyusui anak-anaknya, dan ternyata orang yang dicarinya selama ini sudah di depan mata.Mereka bertemu beberapa kali tanpa saling mengenal. Bahkan, Ayu pernah ditolong olehnya. Berada begitu dekat dengannya."Serius?" tanyanya, masih sulit mempercayai fakta yang baru saja ia dengar."Iya, Pak," jawab Ayu mantap. "Berkat makanan sehat dari Bapak, ASI saya selalu banyak. Saya juga sudah mencari si kembar beberapa hari ini. Saya rindu mereka, Pak…" Matany
Ayu menoleh, alisnya bertaut. "Salah paham kenapa, Pak?"Baim menghela napas, jemarinya menggenggam kemudi lebih erat. "Waktu kejadian di hotel. Aku pikir kamu—" ia ragu sejenak, "—wanita nakal. Tapi, kenapa kamu diam saja waktu itu?"Ayu tertawa kecil, tapi bukan karena lucu. Lebih seperti tawa yang tertahan di tenggorokan, sarat dengan sesuatu yang tak terucap. "Karena saya sangat bahagia," katanya akhirnya. "Jadi saya nggak mampu menjelaskan apa pun."Baim menoleh sekilas, matanya menyipit, bingung. "Bahagia? Di tengah kejadian itu?"Ayu mengangguk pelan, jemarinya saling meremas di pangkuannya. "Hari itu, mungkin adalah hari terburuk dalam hidup saya. Tapi, Bapak adalah orang pertama yang mengkhawatirkan saya dengan tulus."Mereka saling berpandangan. Sejenak, dunia luar terasa menghilang. Mata Ayu menelusuri wajah Baim—garis rahangnya yang tega
Ayu membeku. Seketika, dadanya berdesir tanpa bisa ia kendalikan. Ia tak tahu apa yang membuatnya begitu gugup, tapi tatapan Baim terasa berbeda—hangat, dalam, dan entah kenapa, menelusup hingga ke relung hatinya.Tanpa berpikir panjang, ia spontan berdiri, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Ayo, Pak! Kita pulang. Saya sudah nggak sabar bertemu si kembar."Baim tersenyum tipis, menangkap kegelisahan Ayu, tapi tak berkomentar. Ia hanya menarik napas panjang, lalu mengangguk. "Baiklah."Mereka kembali ke mobil. Selama perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Hanya suara kendaraan yang berlalu lalang dan gemerisik dedaunan yang tertiup angin.Ayu bersandar di kursi, matanya mulai sayu. Kelelahan akhirnya menyergapnya setelah seharian melalui begitu banyak emosi.Tak lama, napasnya melambat. Matanya terpejam.Baim menoleh sekilas. Ia terse
"Apakah mereka sudah tidur?" tanya Baim."Belum, Pak. Mereka harus menyusu. Pengasuh Kandi sedang mengambil stok ASIP di kulkas," jawab perempuan itu dengan sopan.Baim mengangguk, lalu berkata tegas, "Bilang padanya nggak usah. Mulai hari ini, si kembar akan disusui langsung oleh ibu susunya." Ia menoleh ke Ayu, lalu memperkenalkannya. "Kenalkan, namanya Ayu."Ayu tersenyum dan melangkah maju. Ia meraih tangan perempuan itu, menggenggamnya dengan hangat. "Halo Mbak, saya Ayu," sapanya lembut.Perempuan itu membalas senyumannya. "Iya, Mbak. Saya Fatma, pengasuh Juna. Kalau yang sedang ambil ASIP namanya Sari, pengasuh Kandi."Ayu mengangguk pelan, menyimpan informasi itu dalam ingatannya. Matanya beralih ke dua boks bayi yang berayun pelan, lalu berbisik, "Jadi... nama mereka adalah Juna dan Kandi ?""Oh iya, aku lupa bilang," jawab Baim sambil m
Sambo meremas ponselnya, rahangnya mengatup rapat. Sorot matanya menajam saat membaca komentar-komentar yang membanjiri berita daring. Ia melangkah cepat mendekati Hayati yang baru saja melempar gelas, jemarinya masih menggenggam remote televisi."Apa yang terjadi, Ma?" suaranya terdengar berat. "Masyarakat justru menyerangku. Kalau begini, reputasiku bisa hancur."Hayati mengangkat wajahnya. Matanya memerah, napasnya tertahan sesaat sebelum ia menghembuskannya perlahan. Bibirnya melengkung tipis, nyaris seperti sebuah senyum."Tenang aja, Pa," katanya, suaranya rendah, terukur. "Kita cuma perlu membalik pendapat mereka."Tiba-tiba, suara langkah cepat menggema dari koridor. Maharani muncul dengan wajah panik, ponsel tergenggam erat di tangannya."Ma… kacau!" suaranya meninggi, hampir histeris. "Akun sosmedku penuh hinaan. Kalau kayak gini, followers-ku bisa turun!"Hayati tak langsung menjawab. Mat
Ayu menyeringai sinis, lalu berbalik. Tanpa kata lagi, ia melangkah pergi, meninggalkan pesta dengan kepuasan yang berpendar di matanya.Setelah usai melakukan misi di pesta itu, Ayu bergegas keluar ballroom. Ia bertemu dengan Baim yang mengawasinya sedari tadi. Ayu mengangguk memberi kode, Baim membalasnya dengan anggukan yang sama. Ayu kemudian berlalu dari pesta itu, kembali masuk ke dalam Limosin yang menjadi sorotan awak media. Kilatan lampu kamera masih berusaha menembus kaca gelapnya, tapi Ayu sudah tak peduli. Ia menyandarkan kepala, menatap langit-langit mobil dengan napas masih memburu.Tangannya menggenggam erat gaunnya yang sedikit kusut. "Ya Allah… akhirnya aku bisa melewati ini. Aku gak percaya bisa seberani itu di depan umum," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri."Bagus, Ayu."Suara itu datang dari belakang
Maharani mengangkat tangan, gelagapan. "Aduh… Rani lupa mau kasih tahu Mama! Pokoknya bukan itu intinya!"Ia menarik lengan ibunya, suaranya semakin mendesak."Sekarang apa yang harus kita lakukan? Gimana kalau Ayu bicara aneh-aneh ke wartawan?!"Hayati terdiam sesaat, napasnya mulai memburu.Di luar ballroom, kilatan kamera dan suara sorakan masih terdengar.Ayu ada di sini.Dan itu hanya bisa berarti satu hal—badai akan segera datang.Mata Hayati membesar, nyaris keluar dari rongganya. Rahangnya mengatup rapat, garis-garis kemarahan terukir jelas di wajahnya. "Kamu gak diundang," suaranya tajam seperti pisau. "Rakyat jelata dilarang ikut pesta orang kaya."Tawa Ayu meledak, nyaring dan penuh ejekan. Ia melangkah santai, tubuhnya condong ke depan, mendekati Hayati. "Mama… Mama…
"Ke mana Anda selama ini?"Suara-suara itu bertubi-tubi, menusuk gendang telinga Ayu dari segala arah. Dadanya mulai sesak, napasnya tersendat. Jemarinya yang menggenggam tas mulai bergetar.Kerumunan terasa semakin mendekat, seperti dinding yang siap meremukkannya kapan saja. Lututnya lemas, instingnya berteriak untuk kabur.Namun, di antara sorotan kamera yang menyilaukan, matanya menangkap sosok yang familiar.Baim.Berdiri tak jauh dari sana, mengenakan setelan jas hitam yang elegan, tangannya diselipkan ke dalam saku.Ia tidak berkata apa-apa.Hanya sebuah senyum tipis yang menghiasi wajahnya, tatapan matanya tenang, penuh keyakinan.Seakan-akan ia sedang berbisik tanpa suara, "Semuanya akan baik-baik saja."Ayu menelan ludah. Jemarinya yang gemetar perlahan mengendur. I
Ayu mengangguk, meski hatinya masih berdegup kencang.Baim melangkah pergi, meninggalkan Ayu dengan debaran hebat di dadanya. Punggungnya semakin menjauh, tetapi jejak kehadirannya masih tertinggal di hati Ayu, menggetarkan seluruh perasaannya."Ya Allah, Mas… Bagaimana mungkin aku bisa menahan perasaan ini?" batinnya lirih.Ia menarik napas panjang, mencoba meredam kekacauan dalam dirinya. Matanya jatuh pada tas yang tergeletak di dekatnya—tas yang dibelikan Baim tempo hari. Perlahan, ia meraihnya, jemarinya menelusuri permukaannya seakan mencari jawaban.Ia teringat kata-kata Baim saat memberikannya tas itu. "Kamu akan membutuhkannya suatu saat nanti."Ayu tersenyum miris. "Ternyata dia benar."Siapa sangka, hari itu telah tiba. Hari di mana ia harus berdiri tegak, menyaksikan suaminya bersanding dengan wanita lain di pela
Ayu mengangguk, meski keraguan masih menyelimuti dirinya. "Tapi... mungkinkah saya bisa cantik?"Baim menatap mata Ayu dalam-dalam, seolah ingin meyakinkan bahwa perkataannya benar. "Kamu sudah cantik, Ayu. Polesan ini hanya akan membuat kecantikanmu semakin bersinar."Ayu terenyuh. Baim adalah orang pertama yang pernah memujinya. Sementara Jaka, suaminya, bahkan tak pernah sudi menatap wajahnya lama-lama. Terlebih lagi mertua dan iparnya—yang selama ini hanya memberinya cacian dan hinaan. Hal itu membuatnya tidak percaya diri dan yakin bahwa dirinya memang sehina itu."Ayu… apa yang membuatmu ragu?" tanya Baim."Saya… saya tidak yakin bisa terlihat menarik, bahkan dengan riasan sekalipun.""Ayu, lupakan mereka yang merendahkanmu. Orang yang menganggapmu tak berharga hanyalah mereka yang tak mampu melihat keistimewaanmu. Di tangan yang tepat, kamu akan selalu bernilai."Setelah berpikir sedikit lama, Ayu akhirnya mantap u
Baim mengangguk, matanya lurus ke jalan di depan. "Yah. Di pesta itu, pasti akan banyak wartawan. Kamera di mana-mana. Kamu harus berdiri di sana sebagai seorang ratu." Ia menoleh lagi, menatap Ayu dengan sorot mata yang tajam namun hangat. "Tegakkan kepalamu. Jangan pernah tertunduk, setakut apa pun kamu nantinya. Tetaplah pura-pura berani seperti sekarang."Ayu terpaku. Kata-kata itu menyusup ke dalam dirinya, menggetarkan sesuatu yang selama ini rapuh. Ia menatap Baim dalam-dalam, seakan mencari kepastian."Tapi… bagaimana kalau saya gagal, Mas?" suaranya pelan, nyaris berbisik.Baim tak langsung menjawab. Ia menarik napas, lalu tersenyum, kali ini lebih lembut. "Kamu nggak boleh gagal," ucapnya mantap. "Aku akan mengawasimu dari kejauhan."Ayu menggigit bibirnya. Pikirannya berkecamuk. Kata-kata Baim seperti sebuah perisai, tapi di saat yang sama, ketakutan itu tetap men
Mak Ti mengangguk kecil, kemudian berjalan menuju telepon. "Biar saya panggilkan lewat saluran telepon, Pak."Baim mengangguk. "Terima kasih, Mak..." Suaranya terdengar lebih lembut kini, seraya matanya kembali menyapu ruangan, menangkap sisa kehangatan yang sempat terhenti oleh kehadirannya.Matanya sesekali melirik ke arah Fatma dan Sari yang duduk di sofa. Ia menyandarkan satu tangan ke pinggang, lalu berkata dengan nada tenang, "Oh ya. Fatma... Sari. Aku sudah ambil ASIP di rumah sakit. Kalian ambil di mobil, ya."Fatma menegakkan punggungnya, sementara Sari menoleh dengan tatapan bertanya."Hari ini Ayu ikut denganku. Kemungkinan sampai malam. Jadi kalian susui si kembar dengan ASIP dulu."Fatma dan Sari segera bangkit. "Baik, Pak," jawab mereka hampir bersamaan, lalu bergegas keluar rumah.Dari sudut ruangan, Indri menyipitkan mata, bibirnya sedikit mengerucut. Ada yang menggelitik rasa ingin tahunya. Ia akhirnya melangkah mendekat, me
Seperti api tersulut bensin, wajah Indri memerah. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Hei, Ayu!" suaranya melengking. "Gak tahu diri banget kamu, ya! Pak Baim itu masih punya istri! Kamu juga punya suami!"Ia melangkah lebih dekat, hampir menudingkan jari ke wajah Ayu. "Teganya ya kamu jadi pelakor!"Udara di dapur seketika menjadi lebih panas. Fatma dan Sari menahan napas, mata mereka melebar, sementara Bi Imah yang baru kembali dari sudut ruangan hanya menggeleng pelan, menghela napas panjang.Ayu masih diam, tapi kali ini tatapannya mulai berubah. Tidak lagi penuh sindiran, tapi lebih tajam. Seolah dalam kepalanya, ia sedang memutuskan apakah akan membalas... atau membiarkan Indri tenggelam dalam amarahnya sendiri.Ayu menyandarkan satu tangan di pinggang, bibirnya melengkung tipis. Tatapannya menusuk langsung ke mata Indri."Indri... Indri," suaranya terdengar pelan, tapi penuh ejekan. "Kasihan kamu ya. Gak dapet respon dari Mas Baim. Makanya