Rena mengambil nampan sarapan yang dia siapkan untuk Raihan. Dia menyimpan nampan itu di dapur dengan wajah sedih. Tiba-tiba seorang pelayan wanita menatap ke arahnya sambil tersenyum."Kenapa dibawa kembali makanannya? Apa Tuan Raihan menolak makanan ini?" tanyanya.Rena tak menjawab, hanya mengangguk berlahan. Dia masih mematung, hingga Raihan datang ke dapur dan mengambil air dari lemari es.Saat itu Rena menatap setiap pergerakan yang dilakukan Raihan. Tapi kali ini berbeda, tidak ada lagi pria menyebalkan yang mengganggunya. Tidak ada Raihan yang memberikan perhatian dan cinta gilanya terhadap Rena.Raihan menoleh, namun eskpresi wajahnya datar. Tanpa berkata apa-apa pria itu keluar dari dapur dan mengacuhkan Rena. Saat itu ada hati Rena yang tak rela diabaikan oleh Raihan. Sikap angkuh Raihan membuat dia kehilangan pria yang selama ini mencintainya dengan tulus."Kenapa? Ada apa dengan kamu, dan Tuan? Kamu menolak cintanya ya? Wah, kamu cari masalah! Kamu harusnya bahagia, Tuan
Rena menatap lekat ke arah Raihan, sementara Raihan sendiri menunggu jawaban dari Rena. Tiba-tiba Rena tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya."Katakan dengan jelas, apa arti anggukan itu?" ucap Raihan."Aku akan belajar mencintaimu. Tapi jangan lagi bersikap dingin padaku!" ucap Rena dengan suara pelan.Raihan tersenyum, dia menarik tangan Rena ke dalam pelukannya. Rena terkejut, namun tidak berani menepis pelukan tubuh dari pria itu. Entah kenapa pelukan kali ini membuat hati Rena merasa nyaman. Sepertinya ada sesuatu yang menyerang hatinya hingga dia tak bisa mengendalikan perasaannya."Sekarang, ikut denganku!" ucap Raihan."Tapi aku sedang bekerja! Bagaimana dengan pekerjaanku?" ucap Rena cemas."Kafe ini milik Dave, kan? Dave, aku mau ajak karyawanmu untuk jalan-jalan ya!" ucap Raihan sambil tersenyum ke arah bos Rena."Ya Tuan, ajak kencan atau ajak nikah juga tidak apa-apa! Asal minta izin dulu pada keluarganya," tawa Dave yang terlihat sibuk dengan kafenya yang ramai pengunj
Keesokan harinya setelah kejadian makan siang bersama Raihan, dan beberapa hadiah yang diberikan oleh Raihan. Entah kenapa Rena sulit untuk melupakan pria itu. Terkadang terlihat dia tersenyum sendiri di hadapan cermin, membayangkan tingkah duda yang membuat hatinya meronta-ronta merindukannya."Huh, aku sudah dibuat tidak waras oleh pria itu!" ucap Rena sambil membayangkan wajah Raihan."Pria mana yang sudah menaklukkan hati kakakku ini?" tawa Hana, penasaran. "Anak kecil, sejak kapan kamu menguping di sana?" "Sejak kamu senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Apa kamu jatuh cinta, kak? Katakan! Siapa pria hebat yang membuat kau jatuh cinta itu? Ayo katakan padaku, katakan!" rengek Hana."Anak kecil, jangan mau tahu urusan orang dewasa!" balas Rena sambil tersenyum."Apanya yang dewasa? Kamu dan aku hanya berbeda 4 tahun, apa aku masih dianggap anak kecil?" ucap Hana kesal."Hahaha... Sudahlah, urusi saja hidupmu dan cintamu sendiri!""Huh, Kakak tidak asyik!" "Kamu mau pergi ke
Rena keluar dari gerbang kampusnya, meninggalkan Selin dengan wajah kesal. Rena duduk di sebuah kursi panjang yang ada di depan kampus. Tiba-tiba seorang pria duduk tepat di sampingnya."Apa jam kuliahnya sudah selesai?" bisik pria itu di telinga Rena. Rena terkejut dengan suara yang tidak asing untuknya. Matanya melotot menatap ke arah pria yang berada tepat di sampingnya. Bibir Rena bergetar, sambil mencoba mengucak-ngucak matanya takut jika yang dilihat ini salah."Kamu? Kamu ada di sini? Hah, tidak mungkin! Ini kan masih jam kerja, pasti aku terlalu merindukannya hingga aku merasa dia ada didekatku!" oceh Rena tanpa sadar.Raihan tertawa dengan senyum tampan di wajahnya. Tiba-tiba Raihan mendekatkan bibirnya ke arah bibir Rena, dan....CUP ...Raihan mengecup Rena tepat di bibirnya, membuat Rena seketika tersipu malu dengan hal yang dia katakan barusan tentang Raihan. Namun Raihan justru merasa senang, dengan pengakuan yang diberikan Rena untuknya.Raihan menarik tubuh Rena agar
Rena hanya bisa menutup wajahnya dengan buku yang ada di tangannya. Wajahnya memerah karena ulah pria tampan yang kini menjadi kekasihnya itu. Tapi Raihan malah tertawa dengan sikap Rena yang malah malu-malu kucing saat itu."Kenapa menyembunyikan wajahmu?" bisik Raihan sambil menggeser lebih dekat kursinya ke arah kursi Rena."Kamu mau apa?" tanya Rena terkejut."Sayang, apa kamu akan berekspresi seperti itu saat kekasihmu mendekatimu? Kamu harus mulai terbiasa dengan sedikit kecupan mengejutkan dariku. Aku benar-benar suka eskpresi lucu di wajahmu saat kamu terkejut," tawa Raihan."Tapi kita sedang ada di tempat umum, tidakkah kamu merasa malu jika ada yang melihat kamu mengecup bibirku?" ucap Rena mengendus kesal."Tidak, aku tidak malu! Bahkan kalau kamu bersedia menikah sekarang, aku akan langsung ke KUA untuk mendaftarkan pernikahan kita sekarang juga," tawa Raihan."Tidak waras!" "Hahaha... Tapi kamu menyukai pria tidak waras ini kan?" tawa Raihan.Rena tersenyum, sambil mencu
Keesokan harinya, Rena sudah ada di kampus bersama keluarganya. Ada ibu, ayah, dan adik perempuannya yang saat itu menyemangati Rena di hari kelulusannya. Terlihat mereka gembira dengan gelar sarjana yang akhirnya bisa didapatkan oleh Rena saat itu. "Kamu benar putriku yang sangat membanggakan!" ucap ayah Rena penuh rasa bangga."Huh, apa Ayah hanya akan bangga pada Kak Rena saja? Padaku tidak ya?" ucap Hana sedih."Pada kamu juga, Ayah bangga pada kalian!" ucap ayah sambil tersenyum."Kamu benar-benar hebat! Kamu mendapatkan nilai terbaik, Ibu benar-benar tidak percaya. Bukankah selama ini kamu terlihat tidak fokus pada kuliahmu karena asyik memikirkan tuan Raihan?" tawa ibu."Itu tidak benar! Aku selama ini berusaha untuk mendapat nilai terbaik. Aku ingin dapat pekerjaan yang layak dan bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga kita. Ayah tidak usah bekerja lagi, begitupun dengan Ibu. Aku ingin Hana juga bisa melanjutkan kuliahnya yang terhenti karena aku. Pokoknya aku mau kit
Rena menyuapi Alif dengan penuh kasih sayang, Alif terlihat begitu senang dengan hal yang dilakukan Rena untuknya. Biar bagaimanapun, Alif sudah lama mendambakan sosok seorang ibu dalam hidupnya. Sejak ibu kandung Alif meninggalkan Raihan dan dirinya, Alif dibesarkan oleh Raihan dan keluarganya tanpa sosok seorang ibu.Tiba-tiba Alif menangis, lalu memeluk tubuh Rena. Saat melihat Alif yang terlihat begitu sedih, Rena semakin tidak tega untuk pulang padahal hari sudah larut malam."Alif, ini sudah malam! Mama harus pulang, tapi besok Mama akan kembali ke sini untuk menjaga Alif. Bagaimana?" ucap Rena sambil tersenyum."Tidak mau. Alif mau Mama di sini temani Alif!" teriak Alif dengan wajah sedih."Tapi aku harus pulang, sayang! Jika tidak pulang, pasti akan dicari orang rumah," ucap Rena pelan."Ayah. Bujuk Mama tetap tinggal di sini menemaniku!" rengek Alif."Nak, Mama bilang akan kembali besok pagi! Kau bisa ditemani Ayah dulu, jangan merengek pada mamamu terus, dia juga butuh istir
Raihan tersenyum menatap Rena yang terlihat malu mendengar hal yang dia dikatakan. Rena masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha untuk tidak memperlihatkan ekspresi malunya pada Raihan. Rena menutupi wajahnya dengan jas kantor Raihan hingga dia tertidur lelap di atas sofa ruang rawat Alif.Raihan hanya tersenyum senang melihat ekspresi Rena yang malu-malu. Dia membuka jaket yang menutupi wajah Rena. Terlihat wanita itu tak bergeming dan tetap terlelap dalam tidurnya. Raihan mengusap lembut wajah Rena dan menutupi bagian tubuh Rena menggunakan jasnya itu. Tak terasa bibir manis Raihan mengecup lembut bibir Rena."Aku akan mengikatmu agar kamu selalu ada di sisiku, bagaimanapun caranya! Aku sudah lama mencari wanita yang bisa menggetarkan hatiku dan menyayangi putraku dengan tulus. Ternyata hanya kamu wanita hebat yang bisa melakukan ini padaku sekaligus. Kamu bisa menakhlukkan hatiku dan putraku!" ucap Raihan sambil memainkan jarinya di bibir Rena.Sesekali terlihat Rena
Rena tersenyum dan akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan Raihan padanya. Kini Rena mulai belajar menjadi wakil CEO didampingi oleh sang suami. Rena terlihat bersungguh-sungguh dalam mempelajari setiap hal yang diperintahkan oleh Raihan dan tugasnya sebagai wakil CEO. Tapi saat Rena benar-benar sedang serius, Raihan justru malah menggoda istrinya. Dia terlihat senang memberikan banyak pekerjaan yang bukan pekerjaan Rena sebagai wakil CEO. Rena diminta untuk menulis nama panjang Raihan di kertas seratus lembar. Tak hanya itu Rena diminta untuk memajang foto Reyhan disebelah mejanya. Walaupun terlihat pekerjaannya cukup aneh, tapi Rena berusaha untuk tidak melawan. Dia mengerjakan setiap pekerjaan yang diperintahkan oleh Raihan tanpa perdebatan. Padahal Rena tahu betul jika sang suami saat ini tengah mengerjainya. "Sudah selesai belum, pekerjaan yang barusan aku berikan? Setelah selesai kamu bisa memulai tugas yang lain. Di sini ada beberapa tumpukan dokumen yang harus kamu periksa. H
Raihan tersenyum ke arah Rena, mengecup kening istrinya penuh cinta. Terlihat begitu takut jika kehamilan akan menyiksa sang istri."Jika kamu belum siap, aku bisa menunggu!" ucap Raihan pelan."Kenapa? Tadi kamu yang paling antusias? Sekarang tiba-tiba kamu berubah jadi khawatir seperti itu. Apa yang kamu pikirkan? Tidak mau aku mengandung anakmu? Apa aku tidak layak?" ucap Rena kesal."Hei, tajam sekali mulutmu ini! Aku melakukan itu karena mengkhawatirkan keadaanmu. Aku baru menyadari jika proses memiliki anak butuh perjuangan saat melahirkan. Aku tidak tega jika kamu harus merasakan sakit itu!" "Bodoh sekali! Aku ini wanita. Aku mau punya anak dari rahimku sendiri. Percayalah, aku pasti kuat!" ucap Rena memeluk tubuh Raihan."Benarkah? Kamu sudah siap untuk hal itu?" "Tenang saja, aku sudah siap!" ucap Rena sambil tersenyum.Beberapa hari kemudian, Rena kembali bekerja di kantor Raihan. Dia terlihat serius mengerjakan tugas dari manager Ana tentang desain kantor Amazong. Anggist
Rena meminta banyak hal malam ini, dan mendapatkan semuanya dari kerja keras suaminya. Entah kenapa Rena merasa bangga, menikmati hidup ala kadarnya seperti ini. Yang terpenting di saat hidup tak menjadi seorang sultan, Rena merasa jauh dicintai dan merasa percaya diri mendampingi Raihan. Satu-satunya ketakutan Rena selama ini adalah status Raihan sebagai orang terkaya yang mencolok."Kelihatannya kamu sangat menikmati makan ini ya? Apa kamu suka melihat suamimu jadi pedagang rendahan?" ucap Raihan kesal."Hahaha... Bukan begitu, tapi aku lebih tenang saat kamu bukan siapa-siapa. Terakhir kali, aku dan Amor berdebat karena dirimu. Hari ini, aku dan Sinta juga berdebat karenamu. Sejujurnya aku tidak suka dengan statusmu sebagai sultan. Tidak bisakah kita hidup sebagai rakyat biasa saja?" ucap Rena menyandarkan kepalanya di bahu Raihan."Kamu istriku yang konyol! Saat banyak wanita mendekatiku karena uang, kamu justru malah ingin aku meninggalkan semuanya. Tapi itulah yang membuat aku
Raihan mengunci pintu kamar hotel dengan senyum menggoda. Terlihat jelas keromantisan yang akan terjadi pada Rena dan Raihan saat itu. Hanya dengan sedikit sentuhan, Raihan mampu membuat Rena tak berdaya melawannya.Tubuh mungil Rena membuat Raihan beberapa kali menelan ludahnya. Merasakan nafsunya memuncak hingga ke ubun-ubun. Dalam sekejap, pakaian yang dikenakan Rena lepas dari tubuhnya. Raihan tersenyum menyeringai, menatap tubuh polos itu membuat dia langsung menyerang Rena tanpa aba-aba. Rena hanya mengerang, sesekali tangannya mencengkram kuat punggung Raihan yang berada di atas tubuhnya.Tak lama setelah selesai melakukan aktivitas kegemaran Raihan, Rena terlelap tidur. Raihan dengan bangga memeluk istrinya dan mengusap lembut pucuk kepala Rena. Terlihat wajah bahagia terpancar dari bibir Raihan."Jika kamu benar-benar berhasil mengandung anakku, aku akan semakin menyayangimu. Hal yang paling indah yang kumiliki, adalah menjadikan kamu pasangan hidupku dan ibu untuk putraku, A
Rena kembali masuk ke dalam kamar hotel itu, menahan kesal menghadapi tingkah sekertaris suaminya. Secara terang-terangan dia ingin menjebak Raihan, tentu saja Rena merasa sangat kesal.Raihan tersenyum menatap ke arah Rena, dari atas tempat tidur. Dia masih terlihat lemah setelah menghabiskan waktu untuk bertarung dengan Rena. "Kenapa sayangku? Kenapa dengan ekspresi wajahmu yang menggemaskan itu? Apa kamu sedang marah?" tanya Raihan."Tentu saja aku marah. Sekertarismu bermasalah, sejak datang menemuiku dia terus mengancamku. Cih, dia pikir dia bisa mengancamku? Aku istrimu, aku lebih berhak atas kamu daripada wanita itu'kan?" ucap Rena kesal."Iya sayang, kamu lebih berhak atas aku dibanding siapapun! Jika kamu cemburu seperti ini, aku merasa sangat bahagia. Ayo kita buat adik untuk Alif!" bisik Raihan sambil mengedipkan sebelah matanya."Huh, apa-apaan! Ingin punya anak? Bisakah kamu jaga dirimu dulu agar tidak digoda wanita lain? Bagaimana jika saat aku sedang hamil, kamu digoda
Rena menoleh ke arah sekertaris Raihan yang berada di belakangnya. Merasa bisa menggagalkan rencana sekertaris itu untuk menjebak suaminya. Terlihat Sinta mengerutkan keningnya, menatap kesal ke arah Rena yang berada di dalam pelukan Raihan saat itu. "Kurang ajar! Kenapa wanita bodoh itu harus ikut ke luar kota segala? Jika ini terjadi, maka dia akan mengganggu rencanaku untuk mendapatkan hati Tuan Raihan!" gumam Sinta sambil meremas kesal tangannya sendiri.Rena dan Raihan duduk di kursi belakang mobil, sementara Sinta duduk di depan, disebelah supir pribadi Raihan. Sesekali mata sekertaris itu menatap ke arah Rena dan Raihan melalui kaca spion mobil. Rena yang sadar gerak-geriknya sedang diperhatikan, dengan sengaja memeluk mesra suaminya. Dia bisa melihat sekertaris itu terlihat kesal, ajang untuk memanas-manasi hati Sinta berjalan dengan sukses."Sayang, kenapa tiba-tiba kamu manja seperti ini? Apa yang terjadi padamu?" tanya Raihan seolah tahu ada hal yang tak biasa terjadi pad
Rena terkejut, dia dengan wajah bahagia menerima rangkaian bunga yang diberikan Raihan. Saat Raihan memberikan kotak perhiasan, Rena membuka kotak itu dengan gugup. Ternyata sebuah kalung canting dengan batu permata merah diberikan Raihan untuk Rena. Rena mengembangkan senyumnya, memeluk mesra suami yang ada di hadapannya."Terima kasih sayang," ucap Rena masih menenggelamkan wajahnya di tubuh Raihan."Apa kamu suka?" "Sangat suka, terima kasih!" ucap Rena mempererat pelukannya.Wanita-wanita sosialita yang ada diacara itu, menatap iri pada Rena. Tidak ada yang mengira jika Tuan Raihan yang dikenal arogan, cuek, dan pekerja keras itu, mampu memberikan kejutan manis untuk istrinya. Bisik-bisik itu membuat Rena enggan melepaskan pelukannya di tubuh sang suami."Sayang, lepaskan pelukanmu dulu! Aku mau pakaikan kalung ini untukmu," ucap Raihan sambil mengambil kalung dan memasangkan kalung itu di leher Rena.Semua orang bersorak-sorai menatap ke arah Rena dan Raihan. Senyum terukir inda
Septina dan Erlina menatap ke arah Rena dengan senyum bersinar di wajah mereka. Seolah tidak percaya jika sahabat mereka tidak bohong tentang status pernikahannya dengan CEO pemilik perusahaan. "Rena, aku tidak mengira jika kamu benar-benar istri rahasia Tuan Raihan. Kenapa kamu menyembunyikan statusmu sebagai istri Tuan Raihan?" ucap Erlina sambil tersenyum. "Aku sudah bilang waktu itu, tapi kalian tidak percaya. Aku mau bilang apa, jika kalian tidak percaya padaku!" ucap Rena mulai memetik dokumen di tangannya. "Maafkan kami karena kami sempat tidak percaya dengan ucapanmu. Wajarlah kami meragukanmu, kamu bahkan tidak terlihat seperti seorang nyona besar. Kamu bahkan masih masih menjadi desainer rendahan setelah hubunganmu dan Tuan Raihan terkuak di media sosial. Apa yang kamu pikirkan?" ucap Septina bingung. "Memangnya hal mengasyikkan apa yang bisa dilakukan sebagai istri CEO kaya?" tanya Rena. "Apa kamu bertanya hal seperti ini pada kami? Tentu saja kami akan menghabiskan u
Setelah selesai melakukan hubungan percintaannya bersama Rena, Raihan terkapar lemas di samping Rena berbaring. Dia mengecupi setiap bagian wajah istrinya penuh kasih sayang. Rena menundukkan kepalanya, walaupun sudah sering melakukan hal itu bersama suaminya, namun dia masih tidak bisa menyembunyikan rasa malunya."Kenapa sayang? Setelah kamu menggodaku, dan membuatku sepuas ini, wajahmu terlihat tidak bahagia? Apa kamu masih marah padaku?" bisik Raihan."Tidak. Tidak ada yang harus membuatku marah! Kamu suamiku, kamu berhak melakukan apapun padaku termasuk memberitahukan hubungan kita pada dunia. Aku yang minta maaf, selama ini aku bersikeras menyembunyikan hubungan kita. Maafkan aku!" bisik Rena merasa bersalah."Tidak apa-apa. Mulai sekarang, kamu tidak perlu berpura-pura tidak mengenalku. Aku adalah suamimu dan kamu adalah istriku. Kedepannya aku ingin kita tetap bersama-sama, dengan begitu tidak akan ada orang yang bisa mengganggu dan menghancurkan hubungan kita," ucap Raihan me