Sejak kapan hal itu terjadi?Sejak Ardika kembali ke Keluarga Basagita.Tuan Besar Basagita sangat membenci Ardika.Luna tahu kalau kakeknya masih tidak senang dengannya. Meskipun merasa tak berdaya, Luna tidak mengatakan apa pun.Saat ini, Wisnu berjalan mendekat, lalu berkata dengan kejam, "Luna, jangan mengira setelah kamu mengambil alih perusahaan ini, Grup Agung Makmur akan mendengarkan perintahmu. Jangan lupa, para petinggi Grup Agung Makmur merupakan anggota keluarga yang dipromosikan oleh ayahku.""Betul. Kepala proyek Kompleks Prime Melati, Aripin Sutoro sangat galak. Kalau kamu pergi ke sana, hati-hati. Sayang sekali kalau wajah secantik itu rusak," kata Wulan dengan bangga.Awalnya, Kompleks Prime Melati adalah proyek milik Grup Agung Makmur. Hanya saja, proyek itu diberikan kepada Luna setelah rugi dalam waktu lama.Ardika berkata dengan nada dingin, "Wulan, aku nggak masalah merusak wajahmu sekarang juga."Wulan yang ketakutan segera menutupi wajahnya, lalu berkata, "Aku h
Mendengar Peter memfitnah Ardika, ekspresi Luna langsung menjadi masam.Peter menunjuk rangkaian bunga mawar di belakang sambil berkata, "Coba lihat, aku menyiapkan 99.999 tangkai bunga mawar untukmu. Lihatlah dengan saksama, kamu bisa melihat namamu."Setelah diingatkan, Luna ternyata melihat namanya yang terbentuk dari beberapa tangkai bunga yang lebih muda warnanya.Namun, Luna sama sekali tidak tertarik.Metode Peter mungkin masih bisa menipu para gadis yang belum punya pengalaman."Terima kasih atas niat baik Tuan Muda, tapi aku nggak bisa menerimanya. Silakan pergi."Luna menggelengkan kepalanya dan membuat ekspresi Peter makin jelek."Terima! Terima! Terima!""Terima! Terima! Terima!"Pada saat ini, orang-orang di sekitar mulai bersorak.Mereka melihat Luna terus menggelengkan kepala dengan wajah memerah, sehingga dikira Luna malu. Oleh karena itu, mereka pun bersorak.Melihat pemandangan tersebut, Peter langsung punya ide jahat."Nona Luna, coba lihat, semua orang menyuruhmu un
Mobil Audi A4 dibeli Luna ketika berhasil mendapatkan uang dari usaha sendiri saat menjadi mahasiswa. Mobil itu juga merupakan mobil yang dipakai sehari-hari oleh keluarganya setelah keluarganya tertimpa insiden.Ini adalah hasil jerih payah keluarganya.Ucapan Peter sama saja seperti penghinaan bagi Luna.Luna pun berjalan ke arah mobil Audi A4 tanpa menjawabnya.Peter yang tidak mengerti pun bertanya, "Nona Luna, memangnya mobilku ini kalah dengan mobil Audi A4 itu?"Ardika sudah sangat kesal dengan pengganggu ini, dia pun melepaskan tangan Luna dan mendekati Peter."Tahu nggak kenapa istriku nggak mau mobilmu? Karena nggak aman."Setelah tertegun sejenak, Peter pun tertawa terbahak-bahak seperti mendengar lelucon."Haha. Kamu ngerti mobil nggak? Bisa-bisanya kamu bilang kalau mobil 4 miliar ini nggak lebih aman dari mobil 600 juta itu ...."Bam!Suara yang keras menghentikan sindiran Peter.Di depan semua orang, Ardika menghancurkan penutup mesin mobil Maserati dengan tinjunya. Asap
Ternyata, ketika tadi pagi Ardika dan Luna pergi ke Grup Agung Makmur, Desi juga ikut keluar.Kemarin, Desi bilang ingin mengadakan pesta pindah rumah untuk mengundang teman dan tetangga yang dulu untuk makan.Hari ini, dia keluar untuk mencari tempat.Dia tentu saja tidak berani pergi ke Restoran Gatotkaca. Desi pernah mendengar bahwa Hotel Puritama lumayan terkenal, jadi dia pergi ke sana. Ternyata, setelah ditanya, harga paling murah untuk satu meja mencapai 10 juta.Desi rencananya ingin memesan 20 meja. Kalau begitu, dia harus menghabiskan 200 juta.Itu hanya biaya pemesanan, tidak termasuk biaya minuman.Selain itu, tamu undangannya kebanyakan para paruh baya dan yang sudah tua. Desi harus mengundang penyanyi untuk tampil dan meramaikan suasana.Dengan begitu, dia harus menghabiskan 400 juta.Desi tidak ingin menghabiskan uang sebanyak itu, dia pun bersiap untuk pergi mencari tempat lain.Pada saat ini, Desi kebetulan bertemu dengan rekan kerja di rumah sakit yang dulu. Rekan ker
Serius?Desi masih merasa curiga.Namun, sebelum memastikan hasilnya, dia tidak akan menyangkal ucapan Ardika sepenuhnya.Sebelumnya, fakta sudah membuktikan bahwa banyak teman-teman aneh yang muncul tiba-tiba di sisi menantunya ini.Luna memilih untuk percaya pada Ardika."Gini saja. Ardika, nanti sore kamu temani Ibu untuk memesan tempat di Hotel Puritama. Aku akan pergi ke lokasi proyek.""Baik."Ardika pun menyetujuinya.Kemudian, Ardika keluar dari vila dan memanggil dua orang Korps Taring Harimau.Sejak kemarin sore, satu tim prajurit mulai bertugas untuk keamanan Kompleks Vila Bumantara.Ardika memberikan dua batang rokok, lalu berkata, "Ketika istriku keluar, kalian harus ikut untuk melindunginya. Tapi, jangan sampai ketahuan. Kalau terjadi sesuatu, selesaikan sebisa mungkin. Kalau nggak bisa, telepon aku."Ardika harus menemani Desi ke hotel untuk reservasi tempat, jadi dia tidak bisa mengikuti Luna.Namun, Ardika juga tidak tenang kalau Luna pergi tanpa perlindungan. Dia pun
Sebelumnya, Novi melihat Desi berdiri di depan hotel dengan gugup dan tidak berani masuk.Jadi, dia yakin kalau Desi hanya berpura-pura kaya.Novi memalingkan wajahnya dengan ekspresi bangga, kemudian berkata kepada menantunya, "Remon, masuk dan bayar depositnya. Nggak ada gunanya bertengkar dengan orang yang nggak berani masuk ke hotel seperti mereka. Ckck. Di dunia ini, uang memang adalah segalanya.""Baiklah, aku akan segera memesan tempatnya."Remon tidak melihat Ardika atau Desi, tapi langsung masuk ke dalam hotel."Desi, kami masuk dulu."Novi berjalan masuk dengan sombong.Desi dibuat kesal oleh gaya Novi yang sombong itu. Dia pun menarik Ardika sambil berkata, "Menantu, ayo masuk dan pesan tempatnya. Kita pesan yang 40 juta.""Baik."Ardika membawa Desi masuk ke dalam hotel.Di depannya, Novi dan keluarganya sudah memanggil pelayan hotel.Remon berkata, "Tadi pagi kami sudah datang melihatnya, kami ingin memesan Hall Rezeki untuk besok. Hallnya masih belum dipesan, 'kan?""Betu
Meskipun mereka tahu Ardika ada di samping Desi, mereka sama sekali tidak menganggapnya.Melihat Ardika bilang kalau dirinya yang memesan Hall Utopia, Novi langsung mendengus dingin."Desi, siapa ini? Jangan-jangan dia sama seperti kamu, suka berlagak kaya, ya?"Melihat ekspresi Desi sebelumnya, sepertinya tidak tahu kalau Ardika yang memesan Hall Utopia.Jadi, Novi mengira kalau Ardika berpura-pura menjadi pemesannya.Ketika mendengar ucapan Ardika, Desi baru sadar kalau Tuan Ardika itu adalah menantunya sendiri."Dia adalah menantuku, Ardika Mahasura."Sambil merangkul Ardika, Desi menatap Novi dengan bangga.Huh! Apa hebatnya Remon? Dia hanya sanggup memesan Hall Rezeki seharga 20 juta satu meja.Dibandingkan dengan Ardika, selain kenal dengan bos Hotel Puritama, bos itu juga berutang budi pada Ardika.Hall Utopia seharga 40 juta per meja, langsung didiskon hingga 10 juta.Ini yang namanya koneksi."Ardika? Dia adalah Ardika ...."Siapa sangka, ekspresi Novi dan keluarganya langsung
"Pak Yono!"Pelayan hotel itu langsung membungkukkan badannya kepada pria paruh baya yang berada di depan. Dia adalah manajer umum Hotel Puritama.Yono mengiakan, kemudian berlari ke depan Ardika sambil bertanya dengan hormat, "Dengan Tuan Ardika? Ardika Mahasura?"Bam!Pelayan hotel itu tercengang.Novi dan keluarganya juga tercengang.Desi juga ikut tercengang.Manajer umum Hotel Puritama sedang membungkuk ke arah Ardika.Kali ini, mereka tidak salah dengar. Yono memanggil nama Ardika dengan lengkap.Jadi, dia benar-benar Tuan Ardika yang memesan Hall Utopia?"Ya, aku."Ardika mengangguk.Yono langsung berkeringat dingin.Orang penting seperti ini datang ke hotel untuk reservasi, tetapi hampir saja dianggap idiot dan diusir.Yono buru-buru minta maaf, "Maaf, Tuan Ardika. Ini kesalahan hotel kami, aku akan menghukum pelayan hotel kami."Ketika mendengarnya, pelayan hotel itu langsung ketakutan sampai pucat.Lalu, Novi dan keluarganya juga membelalakkan kedua matanya.Mereka tidak meny
"Hahaha, ternyata memang benar kamu! Kenapa? Apa kamu bahkan sudah melupakanku? Aku sudah meneleponmu cukup lama, kamu baru menjawab panggilan teleponku!"Pria di ujung telepon berpura-pura tidak senang, tetapi suara tawa riangnya telah menunjukkan suasana hatinya saat ini.Ardika langsung tertawa dan berkata, "Melupakan siapa pun, aku juga nggak akan berani melupakan Pak Sutandi. Pak Sutandi, bagaimana kondisi tubuh Bapak? Sudah bertahun-tahun berlalu, paling nggak Bapak pasti sudah menjadi kepala sekolah, 'kan?"Sutandi Yasin, wali kelas Ardika saat dia bersekolah di ibu kota provinsi.Saat itu, dia diabaikan oleh Keluarga Mahasura, ditindas oleh anak-anak Keluarga Mahasura yang lain. Jadi, sering kali dia tidak bersedia pulang ke rumah.Di saat-saat inilah, Sutandi selalu membawa Ardika pulang ke rumahnya, meminta istrinya untuk membuatkan masakan lezat untuk Ardika, serta memberi Ardika bimbingan belajar.Tentu saja Ardika masih mengingat hal-hal ini.Hanya saja, setelah dirinya te
Hanya segelintir orang yang mengetahui kebenaran mengenai apa yang terjadi di Grup Susanto Raya pada pagi harinya.Juga hanya beberapa orang yang berada di lokasi kejadian itu yang mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Namun, karena hal itu berkaitan dengan Keluarga Bangsawan Basagita, Keluarga Rewind, serta tokoh-tokoh besar seperti Vanya dan Jigo, jadi tentu saja orang-orang ini tidak berani membicarakan hal tersebut pada orang luar.Karena itulah, mengenai bagaimana Grup Susanto Raya bisa membalikkan keadaan seperti menciptakan keajaiban itu, pihak luar memiliki asumsi masing-masing.Sekarang, presdir Grup Susanto Raya tiba-tiba berganti orang, sedangkan Jesika, sang presdir baru, dengar-dengar adalah seorang Nona Keluarga Siantar, yang merupakan sebuah keluarga kaya di Gotawa.Dengan begitu, kebenaran sudah tidak sulit ditebak lagi.Sangat jelas, kekuasaan Ardika telah direbut oleh asistennya sendiri, dia telah disingkirkan.Grup Susanto Raya sudah menjadi aset Keluarga Siantar
Lagi pula, selama ini Jesika yang mengelola Grup Susanto Raya, bahkan mengelolanya dengan sangat baik.Kalau benar-benar membiarkan Jesika meninggalkan Grup Susanto Raya, tentu saja Ardika sangat tidak rela.Bahkan Rivani yang sudah berpengalaman dan berwawasan luas, saat ini juga membelalak kaget mendengar kemurahan hati Ardika. "Meminta Jesika menjabat sebagai presdir, memegang kendali atas Grup Susanto Raya? Apa kamu nggak khawatir suatu hari nanti kamu disingkirkan?"Kenyataan bahwa keluarga besar mempekerjakan manajer profesional untuk mengelola perusahaan, alhasil sang pemilik malah disingkirkan, sudah terlalu banyak contohnya.Apalagi, maksud Ardika adalah langsung menyerahkan Grup Susanto Raya kepada Jesika, membiarkan Jesika memegang kendali penuh.Rivani benar-benar tidak mengerti dari mana kepercayaan diri Ardika ini.Ardika melirik Jesika, lalu berkata sambil tersenyum, "Bibi, kalau bahkan putrimu saja nggak bisa seratus persen kupercayai, di dunia ini hanya segelintir oran
"Nggak perlu bayaran?"Rivani membelalak tak percaya. "Bagaimana mungkin nggak perlu bayaran?"Dia tidak percaya ada yang gratis di dunia ini."Nggak ada yang nggak mungkin."Sambil tersenyum, Ardika berkata dengan percaya diri, "Selama aku yang meminta, berapa pun bayarannya juga nggak akan cukup."Melihat Ardika yang saat ini sangat percaya diri, hati Rivani terasa campur aduk.Keluarga Siantar ingin memanggil pembunuh yang menempati daftar peringkat pembunuh, tetapi mereka bahkan tidak punya aksesnya. Namun, hanya dengan satu panggilan telepon saja, Ardika sudah bisa memanggil salah satu di antara pembunuh yang menempati daftar peringkat sepuluh besar itu kemari.Selain melindungi Keluarga Siantar selama dua puluh empat jam, juga tidak meminta bayaran satu peser pun!Sebenarnya apa latar belakang pemuda yang satu ini?Ardika menyimpan kembali senyuman yang menghiasi wajahnya, lalu berkata dengan datar, "Bibi, sekarang aku sudah mengundang Dewi Racun kemari, kupikir Keluarga Siantar
"Nyonya, tolong izinkan Pak Muktar untuk menyerang si Ardika itu. Tadi jelas-jelas dia ingin membunuhku, dia berniat jahat pada Keluarga Siantar!"Saat ini, Yanti yang napasnya sudah mulai normal kembali, bangkit dari lantai. Hal pertama yang dilakukannya adalah menyalahkan Ardika.Sorot mata penuh kebencian tampak jelas di matanya.Tadi dia benar-benar mengira dirinya akan mati.Ardika melirik wanita itu dengan sorot mata seperti menatap orang idiot, lalu berkata pada Rivani, "Bibi, sebaiknya kamu pecat saja wanita ini. Kalau orang bodoh sepertinya menjabat sebagai kepala departemen keamanan, dia hanya akan mencelakai kalian."Menghadapi Yanti, dia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.Jelas-jelas tadi dia yang memanggil Dewi Racun masuk, itulah sebabnya nyawa wanita arogan itu bisa diselamatkan.Akan tetapi, wanita itu malah tidak tahu diri, kini berbalik menargetkannya."Sialan! Berani-beraninya kamu mencoba untuk merusak hubungan kami?!"Yanti mengeluarkan teriakan melengking s
"Tolong ... tolong selamatkan aku ...."Yanti langsung terjatuh ke lantai, mengeluarkan permohonan putus asa pada Rivani dan yang lainnya.Tepat pada saat ini, Ardika melihat ke arah pintu, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Kalau kamu nggak turun tangan sekarang, nyawanya akan melayang."Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu dengan terkejut. Saat itu juga, mereka melihat seorang wanita yang tadi ditegur oleh Yanti berjalan memasuki ruangan perlahan-lahan."Mungkinkah ini adalah Dewi Racun?"Rivani dan Muktar membelalak tak percaya.Seorang pelayan yang terlihat sangat biasa saja dari sudut pandang mana pun ini, bahkan sebelumnya sempat melayani mereka selama setengah jam, bisa-bisanya tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.Kalau bukan karena saat ini wanita tersebut memasang ekspresi dingin, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sosok pelayan yang sebelumnya sangat patuh dan merendah itu, mereka sama sekali tidak akan terpikir akan kemungkinan ini."Ya,
"Baik."Pelayan itu membungkuk memberi hormat, lalu berbalik dan mengambilkan satu gelas kosong."Kenapa kamu masih di sana? Cepat keluar!"Yanti memelototi pelayan tersebut, sikapnya benar-benar sangat arogan.Melihat sikapnya terhadap orang asing ini, bahkan Rivani juga tidak bisa menahan diri dan mengerutkan keningnya. Namun, mengingat Keluarga Siantar masih membutuhkan Yanti untuk bertanggung jawab atas keselamatan mereka, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.Terlepas dari seberapa buruk temperamen Yanti, paling tidak juga merupakan anggota Keluarga Siantar yang unggul dan bisa diandalkan. Dalam situasi seperti sekarang ini, tentu saja wanita arogan tersebut lebih layak dipercaya daripada orang asing.Setelah pelayan pergi, Yanti baru mengeluarkan sebuah tabung reaksi yang masih terbungkus rapat dengan hati-hati, lalu menuangkan larutan berwarna oranye di dalamnya ke dalam gelas tersebut dengan hati-hati.Saat itu juga, aroma alkohol yang membuat orang sulit untuk menolak itu pu
Setengah jam kemudian, Ardika dan Jesika sudah tiba di hotel tempat Rivani menginap."Tuan Ardika dan Nona Jesika, 'kan? Silakan ikut denganku."Setelah membungkuk memberi hormat, seorang pelayan wanita membawa mereka berdua ke restoran. Rivani dan Muktar, ahli bela diri yang dipekerjakan oleh Keluarga Siantar sudah menunggu di sana.Selain mereka berdua, masih ada seorang wanita asing yang mengenakan pakaian ketat dan berparas cantik dingin di sana. Begitu melihat Ardika masuk, wanita tersebut langsung mengamatinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan sorot mata sedikit waspada.Ardika tidak memedulikan wanita itu. Dia langsung berjalan melintasi wanita tersebut, duduk di sofa seberang Rivani, lalu berkata dengan tenang, "Bibi, aku sudah memanggil Dewi Racun ke Kota Banyuli.""Mulai sekarang, kalian nggak perlu mengkhawatirkan keselamatan kalian lagi.""Aku yakin sepulang kemarin, kamu juga pasti sudah menyelidiki data-data Dewi Racun. Aku yakin dengan kemampuannya, biarpun R
Ardika mengalihkan pandangannya ke arah Rivani dan berkata, "Bibi, apa aku sudah membuktikan kemampuanku?"Ekspresi Rivani berubah lagi dan lagi.Muktar yang ditampar, tetapi dia juga merasakan wajahnya panas.Pada akhirnya, Rivani memelototi Ardika dengan tajam, lalu berbalik dan pergi."Ardika, karena kamu sudah menang, maka aku akan mengikuti apa yang kamu katakan. Untuk sementara waktu ini, aku akan memercayaimu.""Aku memberimu waktu satu hari. Kalau kamu benar-benar bisa memanggil Dewi Racun itu kemari dan menangani masalah Keluarga Siantar. Tanpa banyak bicara, aku akan meninggalkan Kota Banyuli.""Kalau nggak, aku harus membawa Jesika pergi.""Aku nggak akan menjadikan nyawa putriku sebagai bahan bercanda!"Ardika mengerutkan keningnya, lalu rileks kembali.Satu hari, ya?'Juga sudah cukup.'Setelah melontarkan kata-kata itu, Rivani langsung membawa Muktar meninggalkan Apartemen Sundain."Pak Ardika, sikap ibuku terhadapmu buruk, harap maklum, ya. Jangan dimasukkan ke dalam hat