Beranda / Urban / Menantu Pahlawan Negara / Bab 2043 Tidak Perlu Bayaran

Share

Bab 2043 Tidak Perlu Bayaran

Penulis: Sarjana
"Nyonya, tolong izinkan Pak Muktar untuk menyerang si Ardika itu. Tadi jelas-jelas dia ingin membunuhku, dia berniat jahat pada Keluarga Siantar!"

Saat ini, Yanti yang napasnya sudah mulai normal kembali, bangkit dari lantai. Hal pertama yang dilakukannya adalah menyalahkan Ardika.

Sorot mata penuh kebencian tampak jelas di matanya.

Tadi dia benar-benar mengira dirinya akan mati.

Ardika melirik wanita itu dengan sorot mata seperti menatap orang idiot, lalu berkata pada Rivani, "Bibi, sebaiknya kamu pecat saja wanita ini. Kalau orang bodoh sepertinya menjabat sebagai kepala departemen keamanan, dia hanya akan mencelakai kalian."

Menghadapi Yanti, dia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.

Jelas-jelas tadi dia yang memanggil Dewi Racun masuk, itulah sebabnya nyawa wanita arogan itu bisa diselamatkan.

Akan tetapi, wanita itu malah tidak tahu diri, kini berbalik menargetkannya.

"Sialan! Berani-beraninya kamu mencoba untuk merusak hubungan kami?!"

Yanti mengeluarkan teriakan melengking s
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
rayhan
bonus bab dong
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 1 Mandi

    "Sayang, ini terakhir kali aku memandikanmu ....""Kita sudah menikah tiga tahun, tapi kita masih belum pernah bercinta ....""Sebelum bercerai, aku ingin memberikan malam pertamaku kepadamu ...."Ardika Mahasura duduk di dalam bak mandi, Luna Basagita yang bertubuh seksi sedang duduk di belakangnya. Kedua tangannya yang putih mulus itu sedang menggosok tubuh Ardika.Ketika air membasahi tubuh mereka, aroma yang harum pun memenuhi udara.Luna mengoleskan sabun mandi ke tubuh yang kekar itu, ketika kedua tangannya melewati otot perut Ardika, wajah Luna langsung merona.Namun, ketika melihat wajah Ardika, rasa sedih membuat air mata Luna ikut terjatuh.Saat ini, Ardika sedang memiringkan kepalanya. Wajah yang tampan itu terlihat bengong, air liur juga menetes dari sudut mulutnya. Dia benar-benar seorang idiot."Sayang, apa yang terjadi selama tiga tahun ini? Kenapa kamu menjadi seperti ini?" ucap Luna sambil terisak.Tiga tahun lalu, Ardika tiba-tiba menghilang di malam pertama mereka.D

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2 Kue Seharga Seratus Ribu

    Suara keras terdengar dari ujung telepon, seolah-olah ada meja dan kursi yang terbalik.Draco pun menjawab dengan nada gemetar, "Bos, ini benar-benar kamu? Ke mana saja kamu?""Selama ini, bos nggak ada kabar sama sekali. Teman-teman juga sangat panik.""Tapi, identitasmu sangat rahasia. Tanpa perintah, kami nggak berani pergi mencarimu."Sambil menghela napas, Ardika lalu menjawab, "Aku bertemu beberapa orang licik. Nggak masalah, sekarang aku sudah pulih.""Ada orang yang ingin mencelakakanmu? Siapa? Bos, berikan perintah! Aku akan bawa teman-teman untuk meratakan mereka," bentak Draco."Nggak perlu," jawab Ardika dengan ekspresi dingin. Terkait masalah Keluarga Mahasura, dia tidak ingin menggunakan bantuan dari luar. Semua ini harus diselesaikan oleh Ardika sendiri."Ada satu hal yang perlu kamu lakukan.""Malam ini, segera bawa Grup Angkasa Sura ke Kota Banyuli.""Selain itu, umumkan bahwa kita akan berinvestasi 20 triliun di Kota Banyuli."Selama tiga tahun bergabung dengan milite

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 3 Calon Pewaris

    "Ardika, jangan-jangan ... kamu sudah pulih?"Melihat tatapan Ardika yang jernih, Luna menutup mulutnya dengan tangan dan tampak tidak percaya."Ya, aku sudah pulih, sayang."Ardika menatap ke arah Luna, dia yang begitu tegas dalam medan perang, ternyata bisa merasa sedih juga.Seketika, air mata mengenang di mata Luna. Rasa bahagia membuatnya ikut menangis.Ardika langsung memeluk Luna. Beberapa tahun ini, Luna sudah menderita."Huh! Memangnya kenapa kalau sudah pulih?"Wulan berkata dengan sinis, "Dia tetap saja seorang pecundang."Sambil berkata, Wulan kembali duduk di kursinya. Sambil menunjuk kursi lipat di pojokan, dia pun berkata, "Duduk sana! Berkontribusi 20 triliun? Jangan membuatku tertawa."Ketika Ardika yang mengernyit ingin berkata, Luna segera menghentikannya dan menariknya untuk duduk.Mereka berempat duduk di kursi lipat yang ada di pojokan. Melihat makanan yang mahal dan enak di meja lain, di atas meja mereka hanya ada empat mangkuk mi.Melihat suasana yang begitu hid

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 4 Herkules

    Melihat Ardika yang percaya diri, Luna pun merasa ragu. Setelah memikirkan kondisi keluarganya sekarang, dia pun menggertakkan gigi, lalu berdiri dan berkata, "Kakek, aku akan pergi menagih utang.""Kamu! Kamu sudah gila, ya? Kalau sampai wajahmu rusak karena dipukul Kak Herkules, Tuan Muda Tony pasti akan meninggalkanmu."Desi langsung panik.Semua orang terkejut, bahkan Tuan Besar Basagita juga tidak menyangka Luna akan menyetujuinya.Wisnu dan yang lain hanya mendengkus dingin.Wisnu tiba-tiba mengeluarkan sepuluh ribu dari sakunya, lalu dilemparkan ke kaki Luna sambil berkata, "Melihat keberanianmu itu, aku kasih sepuluh ribu untuk naik transportasi umum."Wulan juga menyilangkan tangannya di dada, lalu mengangkat alisnya sambil berkata, "Kamu sendiri yang mau pergi, ya? Kalau dihajar sampai lumpuh, jangan bilang Keluarga Basagita yang memaksamu."Ardika melirik beberapa orang itu dengan tatapan dingin. Dia tidak ingin memedulikan orang-orang tidak penting ini.Ardika langsung berd

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 5 Ketakutan

    Bernama Ardika?Sambil melirik Ardika, Herkules menjawab dengan bingung, "Ada seseorang yang bernama Ardika Mahasura, saya sedang bersiap untuk menghajarnya."Dari ujung telepon tiba-tiba terdengar suara keras.Herkules buru-buru bertanya, "Tuan John, Anda kenapa?"Detik selanjutnya, teriakan penuh amarah memasuki telinga Herkules."Kenapa denganku? Bajingan kamu! Kamu ingin aku mati, ya?""Aku kasih tahu! Kamu harus menuruti semua permintaannya, kamu harus melayaninya seperti seorang bos, mengerti?"Herkules tertegun. Selama bertahun-tahun, dia tidak pernah melihat John kehilangan kontrol diri seperti sekarang.Herkules lalu bertanya, "Tuan John, sepertinya Anda salah. Dia hanyalah seorang menantu pecundang dari Keluarga Basagita.""Herkules, kamu ingin mati, ya? Di matanya, kamu dan aku hanyalah rumput liar yang tak berguna. Dia bisa membunuh kita dengan mudah.""Tuan John ... ini ...."Setelah mendengarnya, Herkules mulai berkeringat dingin."Aku ingatkan terakhir kali, dia adalah s

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 6 Restoran Gatotkaca

    "Ck." Saking marahnya, Tina pun tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, aku ingin melihatnya. Nggak perlu yang terlalu jauh, apakah kamu tahu hari ini Tuan Muda Tony mengajak mereka makan di mana?""Lantai tiga Restoran Gatotkaca! Tempat yang selamanya nggak mungkin dimasuki oleh pecundang sepertimu."Ketika mendengarnya, kedua mata Desi tampak berbinar. Dia lalu berkata, "Lantai tiga Restoran Gatotkaca? Tempat itu hanya bisa dipesan oleh anggota emas."Di Kota Banyuli, Restoran Gatotkaca termasuk restoran kelas atas. Orang yang menghabiskan puluhan miliar baru bisa mendapatkan kartu anggota emas. Di Keluarga Basagita, hanya Tuan Besar Basagita seorang yang memiliki kartu anggota emas.Adapun lantai tiga ke atas, biaya yang perlu dihabiskan oleh anggota bahkan lebih mengejutkan.Tina menoleh ke arah Ardika, lalu tersenyum sambil berkata, "Ardika, itulah perbedaan antara kamu dan Tuan Muda Tony. Aku nggak tahu kenapa kamu masih percaya diri untuk berada di sisi Luna.""Tina, nggak usah pe

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 7 Ingin Bertemu Orang Penting

    "Bukankah bosnya Kak Herkules itu Tuan John?"Tina tidak bisa menahan tawanya, lalu berkata, "Ardika, apakah kamu tahu siapa Tuan John? Dia adalah orang penting yang sangat berkuasa. Seorang bos preman yang bahkan harus dihormati oleh Ayahku. Beraninya kamu bilang Tuan John datang meminta maaf? Kamu ingin mati, ya?""Tina, kalau kamu nggak percaya, kamu boleh ikut ke atas," jawab Ardika dengan santai. Namun, Tina malah memelototinya.Setelah sadar kembali dari keterkejutan, Tony pun berkata sambil tersenyum, "Aku rasa dia melihat mobil Tuan John di depan pintu, jadi sengaja berkata seperti itu. Untung saja nggak ada orang luar di sini. Kalau sampai Tuan John mendengar ucapannya, kita semua akan mati."Semua orang langsung terkejut."Aku benar-benar nggak tahan lagi!" bentak Desi dengan kesal sambil menepuk meja. "Tiap hari hanya bisa bersikap bodoh seperti itu, memalukan saja! Cepat pergi, kalau nggak, aku akan menghajarmu.""Ardika, kamu pergi dulu .... Aku akan pulang setelah makan."

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 8 Memukul Tuan Muda Axel

    Tina tampak berseri-seri, dia juga ingin melihat orang penting tersebut."Luna, ayo kita tunggu di depan pintu lift," ajak Tina sambil menarik baju Luna."Nggak usah, aku akan pulang bersama Ardika ...."Setelah minum satu gelas anggur, wajah Luna yang sedikit mabuk tampak kemerahan.Tina pun menasihatinya dengan kesal, "Aduh, kenapa kamu terus memikirkan Ardika si idiot itu? Kali ini adalah kesempatan yang sangat langka. Kalau kita bisa meninggalkan kesan baik untuk orang penting itu, utang keluarga kalian nggak perlu dikhawatirkan lagi, 'kan?""Hmm ... baiklah."Tak lama kemudian, Axel mengangkat panggilan telepon.Semua orang langsung menahan napas.Apakah orang penting tersebut akan turun?Setelah beberapa saat, Axel pun meletakkan ponselnya dengan ekspresi tak berdaya. Dia lalu berkata, "Ayahku baru saja meneleponku, dia bilang perjamuannya sudah selesai dan orang penting tersebut sudah pergi lebih awal.""Aduh, kita kurang beruntung, nggak bisa bertemu orang penting itu ...."Sem

Bab terbaru

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2043 Tidak Perlu Bayaran

    "Nyonya, tolong izinkan Pak Muktar untuk menyerang si Ardika itu. Tadi jelas-jelas dia ingin membunuhku, dia berniat jahat pada Keluarga Siantar!"Saat ini, Yanti yang napasnya sudah mulai normal kembali, bangkit dari lantai. Hal pertama yang dilakukannya adalah menyalahkan Ardika.Sorot mata penuh kebencian tampak jelas di matanya.Tadi dia benar-benar mengira dirinya akan mati.Ardika melirik wanita itu dengan sorot mata seperti menatap orang idiot, lalu berkata pada Rivani, "Bibi, sebaiknya kamu pecat saja wanita ini. Kalau orang bodoh sepertinya menjabat sebagai kepala departemen keamanan, dia hanya akan mencelakai kalian."Menghadapi Yanti, dia benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.Jelas-jelas tadi dia yang memanggil Dewi Racun masuk, itulah sebabnya nyawa wanita arogan itu bisa diselamatkan.Akan tetapi, wanita itu malah tidak tahu diri, kini berbalik menargetkannya."Sialan! Berani-beraninya kamu mencoba untuk merusak hubungan kami?!"Yanti mengeluarkan teriakan melengking s

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2042 Keinginan Membalas Dendam Terlalu Kuat

    "Tolong ... tolong selamatkan aku ...."Yanti langsung terjatuh ke lantai, mengeluarkan permohonan putus asa pada Rivani dan yang lainnya.Tepat pada saat ini, Ardika melihat ke arah pintu, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Kalau kamu nggak turun tangan sekarang, nyawanya akan melayang."Semua orang mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu dengan terkejut. Saat itu juga, mereka melihat seorang wanita yang tadi ditegur oleh Yanti berjalan memasuki ruangan perlahan-lahan."Mungkinkah ini adalah Dewi Racun?"Rivani dan Muktar membelalak tak percaya.Seorang pelayan yang terlihat sangat biasa saja dari sudut pandang mana pun ini, bahkan sebelumnya sempat melayani mereka selama setengah jam, bisa-bisanya tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.Kalau bukan karena saat ini wanita tersebut memasang ekspresi dingin, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sosok pelayan yang sebelumnya sangat patuh dan merendah itu, mereka sama sekali tidak akan terpikir akan kemungkinan ini."Ya,

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2041 Menguji Racun Sendiri

    "Baik."Pelayan itu membungkuk memberi hormat, lalu berbalik dan mengambilkan satu gelas kosong."Kenapa kamu masih di sana? Cepat keluar!"Yanti memelototi pelayan tersebut, sikapnya benar-benar sangat arogan.Melihat sikapnya terhadap orang asing ini, bahkan Rivani juga tidak bisa menahan diri dan mengerutkan keningnya. Namun, mengingat Keluarga Siantar masih membutuhkan Yanti untuk bertanggung jawab atas keselamatan mereka, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun.Terlepas dari seberapa buruk temperamen Yanti, paling tidak juga merupakan anggota Keluarga Siantar yang unggul dan bisa diandalkan. Dalam situasi seperti sekarang ini, tentu saja wanita arogan tersebut lebih layak dipercaya daripada orang asing.Setelah pelayan pergi, Yanti baru mengeluarkan sebuah tabung reaksi yang masih terbungkus rapat dengan hati-hati, lalu menuangkan larutan berwarna oranye di dalamnya ke dalam gelas tersebut dengan hati-hati.Saat itu juga, aroma alkohol yang membuat orang sulit untuk menolak itu pu

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2040 Kepala Departemen Keamanan

    Setengah jam kemudian, Ardika dan Jesika sudah tiba di hotel tempat Rivani menginap."Tuan Ardika dan Nona Jesika, 'kan? Silakan ikut denganku."Setelah membungkuk memberi hormat, seorang pelayan wanita membawa mereka berdua ke restoran. Rivani dan Muktar, ahli bela diri yang dipekerjakan oleh Keluarga Siantar sudah menunggu di sana.Selain mereka berdua, masih ada seorang wanita asing yang mengenakan pakaian ketat dan berparas cantik dingin di sana. Begitu melihat Ardika masuk, wanita tersebut langsung mengamatinya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki dengan sorot mata sedikit waspada.Ardika tidak memedulikan wanita itu. Dia langsung berjalan melintasi wanita tersebut, duduk di sofa seberang Rivani, lalu berkata dengan tenang, "Bibi, aku sudah memanggil Dewi Racun ke Kota Banyuli.""Mulai sekarang, kalian nggak perlu mengkhawatirkan keselamatan kalian lagi.""Aku yakin sepulang kemarin, kamu juga pasti sudah menyelidiki data-data Dewi Racun. Aku yakin dengan kemampuannya, biarpun R

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2039 Memberimu Waktu Satu Hari

    Ardika mengalihkan pandangannya ke arah Rivani dan berkata, "Bibi, apa aku sudah membuktikan kemampuanku?"Ekspresi Rivani berubah lagi dan lagi.Muktar yang ditampar, tetapi dia juga merasakan wajahnya panas.Pada akhirnya, Rivani memelototi Ardika dengan tajam, lalu berbalik dan pergi."Ardika, karena kamu sudah menang, maka aku akan mengikuti apa yang kamu katakan. Untuk sementara waktu ini, aku akan memercayaimu.""Aku memberimu waktu satu hari. Kalau kamu benar-benar bisa memanggil Dewi Racun itu kemari dan menangani masalah Keluarga Siantar. Tanpa banyak bicara, aku akan meninggalkan Kota Banyuli.""Kalau nggak, aku harus membawa Jesika pergi.""Aku nggak akan menjadikan nyawa putriku sebagai bahan bercanda!"Ardika mengerutkan keningnya, lalu rileks kembali.Satu hari, ya?'Juga sudah cukup.'Setelah melontarkan kata-kata itu, Rivani langsung membawa Muktar meninggalkan Apartemen Sundain."Pak Ardika, sikap ibuku terhadapmu buruk, harap maklum, ya. Jangan dimasukkan ke dalam hat

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2038 Muktar Mengaku Kalah

    Bekas tamparan sudah terlihat di kedua pipi Muktar. Mendengar ucapan ini, dia mengatupkan giginya dengan rapat, lalu berbalik dan menerjang ke arah Ardika lagi.Tanpa beromong kosong sama sekali, Ardika kembali melayangkan tamparan dengan punggung tangannya.Kali ini, Muktar sudah mempersiapkan mentalnya dengan baik. Dia sama sekali tidak menyerang, melainkan hanya bertahan.Melihat tamparan yang dilayangkan oleh Ardika itu, hatinya sedikit mencelus. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghindari tamparan tersebut.Saat ini, dia sudah menunjukkan kecepatannya yang paling cepat.Namun, Ardika tetap lebih cepat darinya!"Plak!"Bagaimana Muktar menerjang ke arah Ardika, seperti itu pula dia terpental kembali.Ardika mengerutkan keningnya dan berkata, "Masih belum mengerahkan kekuatan penuh juga? Pak, kamu sedikit meremehkan orang lain, ya!""Pak Muktar, di saat seperti ini, untuk apa kamu masih bersikeras menjaga aturan menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda? Ka

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2037 Apa Kali Ini Sudah Mengerahkan Kekuatan Penuh

    Melihat telapak tangan Muktar akan mendarat di wajahnya, akhirnya Ardika bergerak.Dia menggerakkan kepalanya sedikit ke samping. Di bawah tatapan sedikit terkejut Muktar, dia menghindari serangan pria tua itu dengan mudah.Pada saat bersamaan, dia melangkah maju ke depan, lalu melayangkan satu tamparan."Pergerakan bocah ini cukup cepat, hanya saja nggak tahu bagaimana kekuatannya."Muktar menyunggingkan seulas senyum dingin, lalu mengubah arah telapak tangannya untuk menyambut serangan Ardika."Plak ...."Di saat dua telapak tangan itu berbenturan, terdengar suara ledakan di udara."Kamu ...."Tiba-tiba saja, ekspresi Muktar berubah.Dia hanya merasakan sakit yang luar biasa menjalar di telapak tangannya, sebuah kekuatan yang dominan memasuki tubuhnya melalui lengannya. Anggota tubuh dan tulangnya seakan-akan berpindah tempat, membuat darah dalam tubuhnya bergejolak, sehingga wajah tuanya yang bersih dan putih itu langsung memerah.Lengan Muktar langsung terkulai ke bawah.Namun, kek

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2036 Tunjukkan Kemampuanmu

    Rivani memandang rendah Ardika dari dalam lubuk hatinya, tentu saja dia akan mempersulit Ardika dari berbagai aspek.Dia merasa Ardika hanya mendengar gosip dari tempat tertentu, lalu menyebutkan gosip tersebut untuk mengelabuinya.Ardika menggelengkan kepalanya, lalu sengaja berkata dengan nada bicara sangat menyayangkan, "Bibi, sepertinya kamu sudah bertekad untuk menjual putrimu.""Eh, Ardika, apa maksudmu?!"Kelopak mata Rivani melompat dengan cepat, ekspresinya sangat ganas. Dia benar-benar ingin mencabik-cabik mulut bocah sialan itu hingga hancur!"Bibi, sebenarnya kamu bisa saja memercayaiku untuk sementara waktu. Hanya mencoba saja juga nggak ada ruginya."Ardika berkata dengan acuh tak acuh, "Tapi kamu malah bersikeras nggak bersedia memercayaiku. Selain bertekad untuk menjual putrimu, aku benar-benar nggak bisa menemukan alasan lain kamu bertindak seperti ini.""Kamu ...."Rivani tahu jelas Ardika sedang merangsangnya, tetapi dia tetap kesal setengah mati."Baiklah, kalau beg

  • Menantu Pahlawan Negara   Bab 2035 Dewi Racun

    Ardika tidak sedang membual.Kala itu, demi membunuhnya, organisasi intelijen Aliansi Panca pernah mengeluarkan dana fantastis, mengundang pembunuh hebat dari berbagai negara untuk membunuhnya secara diam-diam.Di antara orang-orang tersebut, termasuk orang-orang yang menempati peringkat di Situs Gelap Heidim.Menghadapi bocah-bocah yang berinisiatif cari mati sendiri seperti ini, tentu saja datang satu, Ardika bunuh satu.Namun, beberapa di antaranya, karena berbagai alasan-alasan khusus, mereka tidak mati, melainkan dibiarkan pergi oleh Ardika.Jadi, Ardika mengatakan orang-orang ini berutang nyawa padanya, memang tidak berlebihan.Hanya dengan satu panggilan dari Ardika, orang-orang ini akan datang."Memangnya kamu bisa?"Namun, Rivani tetap tidak memercayai ucapan Ardika. Dia mengira Ardika hanya sedang membual."Ardika, kuakui di antara anak-anak muda, boleh dibilang kamu memang unggul. Bagaimanapun juga, kamu membangun semuanya dari nol. Bisa meraih pencapaian seperti hari ini, b

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status