Melihat penampilan putranya saat ini, Tiara juga merasa sangat puas.Dia melangkah maju, lalu menarik Jesika dan berkata sambil tersenyum, "Jesika, kamu nggak perlu takut. Jangankan beberapa orang rendahan ini, Dilan bahkan bisa membantumu menangani para tuan muda dari keluarga-keluarga besar di ibu kota itu!"Jesika mengerutkan keningnya dan berkata, "Bibi Tiara, sebaiknya kalian jangan ikut campur dalam hal ini ...."Walaupun Keluarga Gunardi lumayan berpengaruh di ibu kota provinsi, tetapi tetap saja tidak cukup kuat untuk menghadapi latar belakang Rehan.Walaupun dia tidak menyukai kerabat luar biasanya ini, tetapi bagaimanapun juga mereka sedang membelanya. Dia tidak ingin Dilan menimbulkan masalah besar.Namun, sangat jelas Tiara tidak memahami maksud Jesika."Ya ampun, Jesika, sudah kubilang jangan takut. Kamu tenang saja, Dilan akan membantumu menanganinya dengan baik!"Saat ini, Dilan juga menoleh. Dengan seulas senyum menawan menghiasi wajah tampannya, dia berkata, "Ya, benar
"Ya, cari tahu dengan saksama!""Harus cari tahu dengan jelas!"Dilan merangkak bangkit. Sambil menyeka sudut bibirnya, dia memelototi Rehan dengan tajam.Setelah Rehan menyelidiki latar belakangnya dengan jelas, dia akan menyuruh bocah yang telah memukulinya ini berlutut di hadapannya, berteriak dan menangis dengan menyedihkan. Dengan begitu, dia baru bisa melampiaskan kekesalan dan amarah yang bergejolak dalam hatinya.Jesika mengerutkan keningnya dan berkata, "Kak Dilan, lupakan saja, jangan ikut campur dalam hal ini lagi."Dia merasa Dilan sedang mempermalukan diri sendiri.Namun, Dilan melakukan semua ini demi membantunya, jadi tentu saja dia tidak bisa berdiam diri saja."Nggak bisa!"Dilan menatap Rehan dengan tatapan dingin dan berkata, "Masalah ini nggak bisa dibiarkan berlalu begitu saja. Berani-beraninya dia memintamu untuk menemaninya tidur, bahkan memukuliku dan ibuku. Aku nggak peduli siapa dia, hari ini dia nggak akan bisa meninggalkan Kota Banyuli lagi!"Namun, kata-kat
Rehan menyalakan cerutu, mengembuskannya ke wajah Dilan sebelum mengangkat kepalanya, lalu berkata pada Tiara sambil tersenyum, "Oh, kalau begitu kamu harus cari tahu dengan saksama.""Harus cari tahu dengan jelas!"Tidak perlu menunggu tiga menit, dalam kurun waktu kurang dari dua menit saja, ponsel Tiara sudah kembali berdering."Langsung katakan saja!"Tiara menyalakan pengeras suara, lalu melemparkan ponselnya ke atas meja."Nyonya, Rehan berasal dari Keluarga Bangsawan Basagita Suraba, salah satu dari lima keluarga bangsawan besar Netawa.""Mikues, ayahnya, akan segera dipindahkan untuk menjabat sebagai Wali Kota Banyuli, kedudukan yang setara dengan Wakil Kodam Provinsi Denpapan. Dengar-dengar, dokumen pengangkatannya sudah sampai ke Sekretariat Negara!"Seiring dengan terdengar suara di ujung telepon melalui pengeras suara, ekspresi ganas di wajah Tiara berubah menjadi kaku.Dilan yang tadinya tergeletak di lantai sambil berteriak dengan arogan itu juga sudah menutup mulutnya de
Mereka tidak menyangka wanita yang satu ini begitu keras kepala.Bahkan Dilan yang sebelumnya berlagak hebat di hadapan mereka saja sudah berlutut di hadapan Rehan, tetapi wanita ini masih saja berani mengusir mereka.Senyuman di wajah Rehan juga menegang. Dia beranjak dari sofa perlahan-lahan, lalu berjalan menghampiri Jesika dan berkata dengan seulas senyum palsu, "Oh, wanita cantik, kamu sedang menguji kesabaranku, ya.""Apa kamu benar-benar mengira aku nggak berani menyentuhmu?"Saat berbicara, dia mengulurkan lengannya, hendak menyentuh dagu putih dan mulus Jesika."Kalau kamu berani menyentuhnya, aku pastikan tanganmu itu akan tinggal di sini selamanya."Tepat pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara dingin seseorang.Secara naluriah, semua orang di dalam ruangan itu mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara."Pak Ardika!" seru Jesika dengan senang. Begitu melihat Ardika, dia langsung merasa lega.Ya, orang itu tidak lain adalah Ardika yang terlambat datang karena terjebak mac
"Karena kamu sudah bersikap nggak hormat padaku tadi, sekarang kamu harus berlutut dengan patuh di lantai dan meminta maaf padaku.""Tentu saja, ucapan permintaan maaf saja nggak cukup, perlu ada bentuk nyatanya.""Aku bukan tipe orang yang serakah, sepuluh persen saham Grup Susanto Raya saja sudah cukup. Oh ya, bersihkan asistenmu itu hingga sebersih-bersihnya, lalu antarkan ke ranjangku malam ini. Dengan begitu, aku baru bisa memaafkanmu!""Inilah persyaratanku, kamu pertimbangkan sendiri baik-baik.""Tentu saja, kamu juga boleh memilih untuk menolak. Tapi, setelah aku menyerang, maka persyaratan akan bertambah!"Seulas senyum dingin yang kejam menghiasi wajah Rehan. Gambaran keturunan orang kaya yang arogan tampak jelas pada dirinya saat ini.Saat ini, selain Jesika, baik para pengikut Rehan, maupun Tiara dan putranya merasa sedikit senang.Hanya karena melontarkan kata-kata tidak sopan pada Rehan, harus mengeluarkan sepuluh persen saham Grup Susanto Raya sebagai bayaran.Ardika mem
"Berlutut, jadikan dirimu sendiri sebagai kain lap, bersihkan ruanganku hingga sebersih-bersihnya. Dengan begitu, aku nggak akan menyentuhmu.""Kalau nggak, biarpun ayahmu, Mikues datang, juga nggak akan bisa menyelamatkanmu."Mendengar Ardika melontarkan kata-kata yang luar biasa arogan itu dengan tenang, suasana di dalam ruangan tersebut berubah menjadi hening sejenak.Bocah ini pasti sudah gila!Rehan juga tertegun sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Menyuruhku menjadikan diriku sendiri sebagai kain lap untuk membersihkan ruangan ini, maka kamu nggak akan menyentuhku?""Teman-Teman, apa aku sudah berhalusinasi?""Hahaha ...."Para pengikutnya juga tertawa terbahak-bahak.Walaupun Tiara dan putranya tidak berani tertawa, tetapi mereka juga menatap Ardika dengan tatapan seperti menatap orang bodoh.Bagaimana dia bisa berani?Mereka sama sekali tidak mengerti."Kamu merasa aku sedang bercanda?"Seulas senyum dingin menghiasi wajah Ardika. Kemudian, tanpa banyak bicara lagi, dia lang
Setelah terkejut sejenak, akhirnya beberapa orang pengawal yang dibawa oleh Rehan kemari sadar kembali."Lepaskan Tuan Muda Rehan!""Bocah, apa kamu ingin mati?!"Sambil berteriak dengan penuh amarah, ekspresi mereka tampak berubah menjadi ganas.Kalau sampai terjadi sesuatu pada Rehan, mereka juga harus menerima konsekuensinya. Karena itulah, beberapa orang itu langsung menerjang ke arah Ardika tanpa ragu.Ardika mengangkat lengannya, melayangkan satu tamparan ke wajah Rehan, lalu berkata tanpa mendongak, "Kalau kalian ingin aku menghabisinya, silakan saja maju.""Ahhh ...."Tamparan ini mengakibatkan Rehan mengeluarkan suara teriakan menyedihkan, pada saat bersamaan cerutu yang sudah sepenuhnya mati dalam mulutnya itu juga melayang keluar."Uh ... uh ...."Rehan langsung beranjak duduk sambil berlutut. Dalam kondisi menyedihkan, dia menggunakan kedua tangannya untuk menekan lehernya, seolah-olah ingin mengeluarkan organ dalamnya.Di bawah pembakaran cerutu itu, mulutnya sudah melepuh
Walaupun Rehan tidak termasuk dalam anggota inti Keluarga Bangsawan Basagita Suraba, tidak bisa dibandingkan dengan para pangeran yang memang merupakan anggota inti Keluarga Bangsawan Basagita Suraba.Namun, bagaimanapun juga, keluarganya juga sudah mengakui leluhur dan secara resmi diakui oleh Keluarga Bangsawan Basagita Suraba.Apalagi, Mikues, ayahnya sudah lama menjabat sebagai wal kota ibu kota provinsi di sebuah provinsi di Netawa, kedudukan ayahnya setara dengan wakil kodam.Latar belakang keluarga seperti ini, membuat status dan kedudukannya tidaklah rendah.Jadi, saat berada di Netawa, dia tidak takut pada apa pun.Biarpun yang memprovokasinya adalah para tuan muda keluarga kaya terpandang, dia juga tidak perlu mempertimbangkan apa pun, menginjak-injak mereka dan menyiksa mereka sesuka hatinya.Rehan pernah takut pada siapa?Namun, dalam kunjungan pertamanya ke Kota Banyuli, dia malah diinjak-injak oleh seorang pemuda kampungan.Ardika tidak hanya memasukkan cerutu yang masih
Ardika mengalihkan pandangannya ke arah Rivani dan berkata, "Bibi, apa aku sudah membuktikan kemampuanku?"Ekspresi Rivani berubah lagi dan lagi.Muktar yang ditampar, tetapi dia juga merasakan wajahnya panas.Pada akhirnya, Rivani memelototi Ardika dengan tajam, lalu berbalik dan pergi."Ardika, karena kamu sudah menang, maka aku akan mengikuti apa yang kamu katakan. Untuk sementara waktu ini, aku akan memercayaimu.""Aku memberimu waktu satu hari. Kalau kamu benar-benar bisa memanggil Dewi Racun itu kemari dan menangani masalah Keluarga Siantar. Tanpa banyak bicara, aku akan meninggalkan Kota Banyuli.""Kalau nggak, aku harus membawa Jesika pergi.""Aku nggak akan menjadikan nyawa putriku sebagai bahan bercanda!"Ardika mengerutkan keningnya, lalu rileks kembali.Satu hari, ya?'Juga sudah cukup.'Setelah melontarkan kata-kata itu, Rivani langsung membawa Muktar meninggalkan Apartemen Sundain."Pak Ardika, sikap ibuku terhadapmu buruk, harap maklum, ya. Jangan dimasukkan ke dalam hat
Bekas tamparan sudah terlihat di kedua pipi Muktar. Mendengar ucapan ini, dia mengatupkan giginya dengan rapat, lalu berbalik dan menerjang ke arah Ardika lagi.Tanpa beromong kosong sama sekali, Ardika kembali melayangkan tamparan dengan punggung tangannya.Kali ini, Muktar sudah mempersiapkan mentalnya dengan baik. Dia sama sekali tidak menyerang, melainkan hanya bertahan.Melihat tamparan yang dilayangkan oleh Ardika itu, hatinya sedikit mencelus. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghindari tamparan tersebut.Saat ini, dia sudah menunjukkan kecepatannya yang paling cepat.Namun, Ardika tetap lebih cepat darinya!"Plak!"Bagaimana Muktar menerjang ke arah Ardika, seperti itu pula dia terpental kembali.Ardika mengerutkan keningnya dan berkata, "Masih belum mengerahkan kekuatan penuh juga? Pak, kamu sedikit meremehkan orang lain, ya!""Pak Muktar, di saat seperti ini, untuk apa kamu masih bersikeras menjaga aturan menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda? Ka
Melihat telapak tangan Muktar akan mendarat di wajahnya, akhirnya Ardika bergerak.Dia menggerakkan kepalanya sedikit ke samping. Di bawah tatapan sedikit terkejut Muktar, dia menghindari serangan pria tua itu dengan mudah.Pada saat bersamaan, dia melangkah maju ke depan, lalu melayangkan satu tamparan."Pergerakan bocah ini cukup cepat, hanya saja nggak tahu bagaimana kekuatannya."Muktar menyunggingkan seulas senyum dingin, lalu mengubah arah telapak tangannya untuk menyambut serangan Ardika."Plak ...."Di saat dua telapak tangan itu berbenturan, terdengar suara ledakan di udara."Kamu ...."Tiba-tiba saja, ekspresi Muktar berubah.Dia hanya merasakan sakit yang luar biasa menjalar di telapak tangannya, sebuah kekuatan yang dominan memasuki tubuhnya melalui lengannya. Anggota tubuh dan tulangnya seakan-akan berpindah tempat, membuat darah dalam tubuhnya bergejolak, sehingga wajah tuanya yang bersih dan putih itu langsung memerah.Lengan Muktar langsung terkulai ke bawah.Namun, kek
Rivani memandang rendah Ardika dari dalam lubuk hatinya, tentu saja dia akan mempersulit Ardika dari berbagai aspek.Dia merasa Ardika hanya mendengar gosip dari tempat tertentu, lalu menyebutkan gosip tersebut untuk mengelabuinya.Ardika menggelengkan kepalanya, lalu sengaja berkata dengan nada bicara sangat menyayangkan, "Bibi, sepertinya kamu sudah bertekad untuk menjual putrimu.""Eh, Ardika, apa maksudmu?!"Kelopak mata Rivani melompat dengan cepat, ekspresinya sangat ganas. Dia benar-benar ingin mencabik-cabik mulut bocah sialan itu hingga hancur!"Bibi, sebenarnya kamu bisa saja memercayaiku untuk sementara waktu. Hanya mencoba saja juga nggak ada ruginya."Ardika berkata dengan acuh tak acuh, "Tapi kamu malah bersikeras nggak bersedia memercayaiku. Selain bertekad untuk menjual putrimu, aku benar-benar nggak bisa menemukan alasan lain kamu bertindak seperti ini.""Kamu ...."Rivani tahu jelas Ardika sedang merangsangnya, tetapi dia tetap kesal setengah mati."Baiklah, kalau beg
Ardika tidak sedang membual.Kala itu, demi membunuhnya, organisasi intelijen Aliansi Panca pernah mengeluarkan dana fantastis, mengundang pembunuh hebat dari berbagai negara untuk membunuhnya secara diam-diam.Di antara orang-orang tersebut, termasuk orang-orang yang menempati peringkat di Situs Gelap Heidim.Menghadapi bocah-bocah yang berinisiatif cari mati sendiri seperti ini, tentu saja datang satu, Ardika bunuh satu.Namun, beberapa di antaranya, karena berbagai alasan-alasan khusus, mereka tidak mati, melainkan dibiarkan pergi oleh Ardika.Jadi, Ardika mengatakan orang-orang ini berutang nyawa padanya, memang tidak berlebihan.Hanya dengan satu panggilan dari Ardika, orang-orang ini akan datang."Memangnya kamu bisa?"Namun, Rivani tetap tidak memercayai ucapan Ardika. Dia mengira Ardika hanya sedang membual."Ardika, kuakui di antara anak-anak muda, boleh dibilang kamu memang unggul. Bagaimanapun juga, kamu membangun semuanya dari nol. Bisa meraih pencapaian seperti hari ini, b
Saat ini, keluhan yang sebelumnya memenuhi hati Jesika terhadap ibunya, langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak.Jesika segera menyeka air matanya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Ardika, lalu berkata dengan nada bicara memohon, "Pak Ardika, aku belum pernah memohon padamu untuk melakukan apa pun untukku. Tapi kali ini, aku ingin memohon bantuanmu untuk melenyapkan Istana Neraka.""Aku nggak menginginkan bonus itu lagi!""Selama kali ini kamu bisa menyelamatkan nasib Keluarga Siantar, aku bersedia bekerja untukmu seumur hidup!"Bekerja seumur hidup.Dengan kemampuan Jesika dalam berbisnis, boleh dibilang pengorbanan ini cukup besar.Namun, saat kata-kata ini masuk ke telinga Rivani, dia merasa sangat konyol dan tidak masuk akal."Jesika, apa otakmu sudah rusak?! Kamu memohon bantuannya untuk melenyapkan Istana Neraka?"Rivani menatap Jesika dengan tatapan tidak percaya.Dia merasa demam yang dialami putrinya beberapa waktu yang lalu telah membuat otak putrinya bermasalah, put
"Sebenarnya, Keluarga Siantar juga bukannya nggak melakukan apa-apa.""Melalui jalur Bank Sentral, kakekmu sudah menawarkan hadiah besar. Ada tiga organisasi pembunuh terkenal baik dari dalam maupun luar yang telah menerima tawaran hadiah ini dan pergi memburu Raja Neraka.""Tapi, nggak lama kemudian, tiga organisasi pembunuh ini sudah lenyap. Dari pemimpin hingga anggota inti organisasi-organisasi tersebut, telah dibunuh. Kepala mereka kembali diantarkan ke Kediaman Keluarga Siantar.""Sekarang kalian sudah tahu betapa menakutkannya Istana Neraka, 'kan?""Jesika, apa kamu kira sebagai seorang ibu, jelas-jelas aku tahu itu adalah sebuah jurang, aku akan mendorongmu masuk ke dalam?"Rivani menatap Jesika, berbicara dengan suara dalam, nada bicaranya sudah kehilangan ketenangan tadi.Sangat jelas, Istana Neraka dan Raja Neraka telah memberikan tekanan mental yang besar untuknya.Ini juga merupakan alasan mengapa dia terburu-buru datang ke Kota Banyuli untuk menjemput Jesika pulang.Ekspr
Kata-kata "menjual anak" benar-benar terlalu tidak enak didengar.Namun, dia tidak bisa menemukan kata-kata untuk membantah.Karena pernikahan antara Keluarga Jesika dan Keluarga Darma kali ini, memang ada persentase transaksi yang sangat besar.Rivani memutuskan untuk tidak memperdebatkan topik ini dengan Ardika."Kamu mau membantu menyelesaikannya?"Rivani mengamati Ardika dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, lalu berkata dengan ekspresi meremehkan, "Kamu ingin tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Keluarga Siantar? Oke, aku akan memberitahumu!""Karena Keluarga Siantar telah ditargetkan oleh sebuah organisasi pembunuh bernama Istana Neraka. Kalau kami nggak menjalin hubungan pernikahan dengan Keluarga Darma untuk menangani masalah ini, seluruh Keluarga Siantar akan tertimpa musibah.""Raja Neraka, pemimpin Istana Neraka sudah mengeluarkan pernyataan, akan membunuh seluruh Keluarga Siantar.""Apa kamu mengerti maksud membunuh seluruh Keluarga Siantar? Itu artinya seluruh angg
"Jesika, sudah pernah kubilang padamu, bagi wanita, air mata adalah sesuatu hal yang paling nggak bernilai.""Tapi, karena sekarang masih berada di Kota Banyuli, kamu bisa menunjukkan sisi lemah dan lembutmu itu untuk terakhir kalinya.""Setelah pulang ke rumah nanti, kamu harus menunjukkan sikap layaknya seorang wanita dewasa yang sempurna, harus membuat Keluarga Darma puas.""Kalau kamu masih saja lemah dan lembut seperti sekarang, aku hanya bisa bilang kamu nggak akan bisa menjalani kehidupan sesuai keinginanmu di Kediaman Keluarga Darma. Nggak akan ada orang yang merasa simpati padamu karena air matamu, malah hanya akan membuat orang mengira kamu lemah dan mudah ditindas."Tidak ada gejolak emosi dalam kata-kata yang diucapkan oleh Rivani.Apa yang dialami oleh Jesika, hanya seperti mengulang apa yang pernah dialaminya saja.Di saat seperti ini, daripada berperan sebagai seorang ibu yang penuh kasih sayang, sebaiknya dia bersikap kejam dan tegas, merangsang Jesika untuk kembali ber