Kedua alis Jaka langsung naik tatkala mendengar ucapan Sabrina baru saja."Membalas? Seperti apa? Kamu yakin akan membalas Hasbi?" Deretan pertanyaan yang keluar dari mulut Jaka menadakan kalau ia merasa seperti ada yang berbeda pada Sabrina."Iya, Jak. Aku bersumpah akan membalas rasa sakit ini." Sabrina menegaskan ucapannya."Tapi aku tidak suka jika kamu berbuat jahat." Jaka langsung menanggapi. Dia memang tak suka dengan Hasbi, bahkan ia bisa merasakan sakit yang Sabrina rasakan. Namun, melihat wajah Sabrina berselimut dendam, ia tak mau wanita yang dicintainya itu menjadi bringas dan jahat."Siapa bilang aku akan berbuat jahat? Aku bukan wanita seperti itu, Jak. Jangan berpikir yang aneh-aneh dong," bantah Sabrina."Lalu apa?" tanya Jaka lagi masih dengan kedua alis yang terangkat."Aku akan balas rasa sakit ini dengan kesuksesanku. Aku akan balas dengan prestasiku. Akan aku tunjukan kalau aku bukanlah sampah yang dengan hinanya mereka buang. Aku bukanlah parasit yang hanya menum
Hasbi melonggarkan pelukannya pada Miranda. "Aku baru saja keluar, Mira. Masa kamu sudah membicarakan hal itu," protesnya."Aku hanya mengingatkan saja, Mas. Saat ini kita harus menumpang di rumah Papa. Mau sampai kapan?" Celoteh Miranda."Sudahlah jangan bahas itu. Aku ingin segera pulang dan istirahat," pinta Hasbi.Hasbi segera membawa Miranda dan Aksa masuk ke dalam kendaraan roda empat milik papanya, sebab ia tak memiliki kendaraan lagi. Jangankan mobil, rumah pun kini sudah tak dimilikinya lagi.Dalam perjalanan pulang menuju kediaman orang tuanya, Hasbi hanya membisu. Dalam pikirannya tengah berperang dengan keadaan saat ini. Tak pernah dibayangkan sekali pun bahwa hidupnya akan benar-benar hancur. Ditambah dengan kepergian Hani yang mengejutkan membuat keadaan terasa semakin menghimpit saja."Papa harap, masalah ini akan menjadi pelajaran berharga buat kamu ke depannya," celetuk Adhitama yang duduk di kursi depan di dekat Hamza yang menyetir mobil."Iya, Pa. Maafkan aku, Pa. A
"Jawab, Mba!" Sesil menekan."Tidak pernah ada cinta di hati ini untuk Jaka. Selamanya aku dan Jaka hanya sebatas sahabat," jawab Sabrina dengan tegas. Berbeda dengan isi hatinya yang merasa ada yang tak beres. Sabrina ingin menangisi jawabannya tapi dengan susah payah dibendungnya."Mba serius kan?" Sesil dengan bola matanya yang masih basah, kembali bertanya lagi seperti tidak yakin dengan jawaban kakaknya."Serius. Tolong jangan berpikir yang berlebihan tentang aku dan Jaka. Kami memang dekat layaknya saudara kandung seperti aku dan kamu. Kami sudah puluhan tahun bersahabat, Sil. Bahkan disaat kamu masih kecil. Kami dekat bukan berarti ada cinta diantara kami. Aku hanya memiliki rasa sebagai sahabat saja. Tidak ada yang lebih," jelas Sabrina lagi. Panjang lebar ia berusaha meyakinkan Sesil. Adiknya Sabrina itu segera memeluk kakaknya. Tangisan kembali pecah dalam dekapan Sabrina. Sabrina bisa merasakan rasa sedih dan kecewanya Sesil saat ini.Dalam dekapan hangat itu, Sabrina men
Sepertinya Jaka memang sengaja memesan buket bunga yang dihususkan untuk Sabrina. Namun melihat penolakan dari Sabrina, seketika senyum Jaka menurun."Jak, sepertinya aku perlu bicara sama kamu." Sabrina mengambil kembali buket bunga itu kemudian diberikan pada kasir."Sis, berikan buket bunga ini pada Sesil nanti," titah Sabrina pada Siska—penjaga kasir."Baik, Bu.""Loh, Sabi. Sudah kukatakan bunga itu bukan untuk Sesil, tapi untuk kamu." Jaka masih terkekeh."Kita bicara di tempat lain, Jak." Sabrina menarik tangan sahabatnya."Hei, kamu kemana ini?" Jaka tampak tak nyaman."Masuk saja," titah Sabrina menyuruh Jaka masuk ke mobil.Saat ini mereka berdua berada di dalam mobil. Jaka nampak kesal dengan Sabrina sebab pemberian buket bunga itu tak diindahkan. Atas perintah Sabrina, mobil Jaka berhenti di sebuah danau kecil yang sedikit jauh dari keramaian. Mereka berdua kemudian duduk di kursi besi berwarna hitam yang terdapat di sana."Hentikan kekonyolan ini, Jak," pinta Sabrina tatk
Jaka dan Sabrina serentak membeliak terkejut. Keduanya saling melepaskan pelukan sendu. Pelukan sekedar saling menguatkan satu sama lain."Sesil, kok kamu ada di sini?" Sabrina bertanya. Ia merasa aneh karena Sesil tiba-tiba ada di tempat itu."Kenapa? Kaget ya?" Sesil melayangkan tatapan nyalang pada keduanya."Kalau aku gak datang, kalian masih ingin berpelukan?" lanjut Sesil segera menyindir keduanya. Ia menyilangkan kedua tangan di depan dada, tampak murka pada kakaknya."Sil, jangan bicara seperti itu. Tidak sopan," protes Jaka dengan tegas. "Ya terus, yang sopan seperti apa? Seperti kalian barusan, peluk-pelukan di tempat umum?" cibir Sesil nampak tak mampu membendung emosi."Sesil, tidak seperti itu. Apa yang kamu lihat tidak sesuai dengan kenyataan," sanggah Sabrina. Terlihat jemarinya mengusap pipi yang sempat basah oleh tetesan air mata."Masa sih, coba jelaskan dong?" Sesil masih terlihat emosi dan kecewa."Sil, jaga bicara kamu dong. Sabrina sedang bersedih, aku hanya ber
Saat ini Jaka memang tengah mengabaikan Sabrina. Pria itu berusaha dekat dengan Sesil seperti permintaan Sabrina. Sejujurnya terasa sulit tatkala ponsel pintarnya berdering dan ternyata panggilan masuk dari Sabrina.Saat ini Jaka hanya duduk terdiam dengan kedua tangan di atas keyboard leptop. Ia berusaha menyibukan diri dengan pekerjaannya. "Maaf, Sabi. Sudahlah tak usah menghubungi aku lagi," desis Jaka terlihat acuh tak acuh.Biasanya, Jaka selalu menghampiri Sabrina setiap jam istirahat bahkan setelah pulang kerja. Tapi kali ini dia susah payah berusaha menghindar.Satu jam kemudian, ponselnya kembali berdering. Namun kali ini panggilan masuk pada ponselnya dari Sesil. Jaka langsung meraih benda pipih itu kemudian menempelkan benda pipih itu telinganya."Hallo, Sil. Ada apa?" sapa Jaka pada Sesil lewat sambungan telepon."Mas, kamu dimana?" Sesil berbalik tanya. Suaranya terdengar cemas."Masih di kantor. Ada apa?" "Mas, aku sedang ada di rumah sakit," lapor Sesil tergesa-gesa.
"Apa golongan darah Sabrina, Sus?" Jaka segera bertanya."A-," jawab petugas medis itu.Walau sedikit lesu karena golongan darah itu tak ia miliki, namun Jaka tetap semangat. "Saya akan mencari golongan darah itu sekarang," tekad Jaka."Dibutuhkan segera ya, Pak."Jaka mengangguk. Dengan penuh semangat dan keyakinan, Jaka segera pamit pada Sesil. Ia langsung pergi kemudian meminta asistennya untuk mengumumkan ke seluruh kariyawan kantor mengenai pencarian donor darah dengan golongan A- sesegera mungkin. Jaka menjanjikan bayaran jutaan untuk pendonor yang rela mendorokan darahnya.Usahanya tak berhenti sampai disitu, Jaka juga mengumumkan lewat akun sosial medianya, mengharap bantuan dari teman-temannya di dunia maya."Mas. Mas!" Miranda berteriak memanggil suaminya tatkala membaca postingan Jaka Dirgantara di akun sosial media.Saat ini ekonomi pasangan suami istri itu tengah terpuruk. Sepulangnya dari sel tahanan, Hasbi masih saja menganggur. Pria itu seperti terjebak dalam situasi
Hasbi tampak geram mendengar sentakan Jaka padanya. Dua pria itu bersi tegang di dalam area rumah sakit. Andai bukan berada di tempat itu, mungkin Jaka sudah melayangkan pukulan sebagai pelajaran bagi mantan suami Sabrina."Dengar, Jaka. Saya tidak mendoakan Sabrina meninggal. Resepsionis berkata kalau Sabrina tengah berada di ruang operasi. Tapi, para petugas medis keluar dan membawa pasien meninggal dari dalam sana," jelas Hasbi."Lalu, apa saya salah jika meminta bertemu Sabrina untuk yang terakhir?" sambungnya masih meyakini kalau sabrina telah tiada."Tapi, Sabrina masih hidup!" Jaka lebih tegas."Apa!" Mantan suami Sabrina itu terkejut sambil menyeringai. Bola mata Hasbi nampak berkaca-kaca."Lalu, dimana Sabrina?" Gegas Hasbi bertanya lagi. "Sudah saya katakan, anda tidak perlu tahu! Sabrina tak menginginkan kehadiran anda!" Sepertinya Jaka sudah tak bisa membendung emosinya tatkala berbicara dengan Hasbi.Hasbi nampak mengerutkan bibir menahan aliran panas pada darahnya. "And
Suatu hari Jaka memanggil Sabrina dan anak-anaknya di ruang keluarga. Di sana juga ada Jeni yang turut serta hadir. Jaka meminta pada Sabrina untuk bersiap-siap karena mereka akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian baru.Awalnya Sabrina terlihat ragu menerima tawaran suaminya, akan tetapi ia menyanggupi karena Jaka memaksa dan tak mau ditolak ajakannya.Hingga akhirnya dua kendaraan roda empat akan melaju menuju pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa pakaian baru. Dua mobil itu berisi Jaka, Sabrina, Jeni dan empat anak termasuk suster yang turut serta mendampingin. Mereka akan belanja bersama terutama untuk keperluan ulang tahun Aksa yang tinggal menghitung hari.Sabrina nampak berjalan seiringan dengan Jaka setelah sampai di pusat perbelanjaan. Jaka meminta Sabrina memilih apa pun yang diinginkan. Wanita mana yang tak bahagia dengan perlakuan suami seperti Jaka. Sabrina bagaikan satu-satunya wanita paling beruntung di dunia."Sayang, kamu pilih apa pun yang kamu but
"Kenapa, Ma?" Sabrina segera bertanya. Tentu ia masih terkajut dengan jawaban mertuanya."Tapi bohong. Mama setuju dong. Masa iya Mama gak setuju," ralat Jeni yang rupanya hanya bercanda saja.Seketika Sabrina dan Aksa menghela napas lega secara bersamaan."Ya ampun, Mama. Sungguh aku sampai kaget. Aku pikir Mama benar-benar gak setuju." Sabrina mengusap dadanya. Tak disangka kalau mertuanya senang bergurau."Omah, Aksa juga kaget," timpal Aksa masih memasang wajah terkejutnya.Gegas Jeni memeluk Aksa. "Maaf, Sayang. Omah bercanda. Omah 'kan sayang sama Aksa, masa iya gak setuju. Kita akan rayakan ulang tahun Aksa dengan meriah ya. Pokonya kita akan happy-happy," sambutnya. Jeni tampak menampilkan wajah bahagianya kali ini."Terima kasih, Omah. Aksa sayang sekali sama Omah," ucap Aksa yang kembali memeluk Jeni."Omah juga sayang sama, Aksa," balas Jeni.Melihat itu, Sabrina semakin melebarkan senyumannya. Ia semakin dibuat bahagia dengan keadaan di rumah mewah itu."Terima kasih ya, M
Mendengar cerita Sabrina, seketika Jeni tercengang. "Lalu, apa yang Raisa sampaikan sama kamu, Sabi?" tanyanya penasaran."Raisa mengucapkan terima kasih padaku, Ma. Dia berterima kasih karena aku tela merawat dan menjaga Abang Yusuf dengan baik." Sabrina kembali menjelaskan.Isi dada Jeni terasa bergetar mendengar itu. "Pasti Raisa merasa tenang di alam sana. Kamu telah menjaga Yusuf dengan baik. Mama yakin Raisa bangga padamu, Sabi."Sabrina menurunkan tatapan. Ia masih ingat dengan jelas wajah Raisa kala itu. "Semoga saja ya, Ma. Aku tidak menganggap Abang Yusuf anak tiri kok. Meski pun dia tak lahir dari rahimku, aku menyayanginya bagai anak kandung sendiri," tuturnya."Karena kamu memang wanita baik, Sabi. Mama sungguh bangga bisa mendapatkan menantu seperti kamu. Jaka memang tak pernah salah mencintai kamu," balas Jeni. Sabrina hanya bisa menyodorkan senyuman saat sang mertua memujinya.Sampai saat ini dunia Sabrina memang terasa lebih berwarna dari biasanya. Anak-anaknya berpa
Satu bulan kemudian keluarga Dirgantara nampak disibukan dengan persiapan pernikahan Sesil yang tinggal menghitung hari.Adik Sabrina itu nampak disibukan dengan segala macam persiapan menjelang pernikahannya. Hingga Sabrina pun harus turun tangan dalam membantu adik kandungnya itu.Hingga tiba pada saat ijab kabul pernikahan terucap dengan lantangnya oleh pria yang Sesil cintai. Pernikahan telah sah dilangsungkan dan Sesil telah diperistri kekasihnya. Satu hari usai pernikahan, Sesil dan suaminya langsung terbang ke bali untuk bulan madu selama satu minggu. Tentu suasana saat ini semakin membuat Sabrina lega dan bahagia karena tugasnya menjaga Sesil kini telah berpindah pada suami Sesil.Sabrina kian merasa bahagia dengan keluarga saat ini. Ia juga bahagia dengan kesibukannya saat ini sebagai ibu rumah tangga untuk empat anak-anaknya.Pagi ini bahkan Sabrina nampak sibuk menyiapkan perlengkapan sekolah Aksa. Sabrina juga selalu menemani Aksa sarapan di ruang makan bersama Jaka yang j
Sabrina dan Jaka mengukir senyuman yang lebar tatkala melihat Sesil dan Jeni berpelukan. Keluarga yang nyaris sempurna setelah beberapa kali terpa ujian."Permisi, Nyonya. Makan malam sudah siap." Ijah melapor pada majikannya yang tengah bercengkerama."Oh iya. Terima kasih, Jah," ucap Jeni.Ijah tersenyum. "Sama-sama, Nyonya," balasnya kemudian berlalu setelah tugasnya selesai.Sementara Jeni segera mengajak keluarganya untuk segera makan malam, "Ayo kita makan malam bersama dulu yu."Serentak Sabrina, Aksa, Jaka dan Sesil mengangguk secara bersamaan sebagai pertanda mengiyakan ajakan Jeni barusan. Gegas mereka beranjak dari tempat duduk beralih menuju ruang makan.Di atas meja makan sudah tersaji aneka makanan yang lezat hasil dari masakan Ijah. Pembantu rumah tangga itu memang spesial memasak untuk malam ini. Melihat keluarga majikannya yang akur dan bahagia, ia merasa sangat senang.Ijah, Siti dan Iyem yang berada di ruangan sebelah ruang makan nampak tersenyum melihat kebersamaan
Sabrina akhirnya membiarkan Aksa tetap ikut bersama Sesil. Ia juga paham sebab tak ada yang menemani Sesil di rumahnya. Sabrina kembali masuk ke mobil suaminya.Sementara Aksa satu mobil bersama Sesil akan kembali ke rumahnya. Suasana hati Aksa sedikit membaik setelah ditenangkan oleh Sabrina tadi. Air matanya sudah surut namun ia memilih tetap diam dalam perjalanan pulang tanpa banyak bicara.Sesekali sebelah tangan Sesil mengusap rambut tebal Aksa. Sulit dijelaskan, tapi dia sudah menyayangi Aksa. Aksa memang terlahir dari orang tua yang tak lain adalah mantan suami Sabrina tapi Sesil tak lagi mempermasalahkan itu. Ia sudah menyayangi Aksa dengan sebenar-benarnya.'Ya Tuhan, anak kecil di dekatku sungguh malang. Dia tak menginginkan kesedihan ini terjadi. Izinkan hamba untuk selalu menjaga dan merawatnya sampai dewasa nanti,' harap Sesil dalam hati.Harapan yang sama yang tengah diucapkan Sabrina saat ini. Dalam perjalanan pulang bersama suaminya, Sabrina masih memikirkan perasaan A
"Aku dan Aksa akan melayat, Mba. Aku akan mengantar Aksa. Kasihan kan," balas Sesil.Sabrina kembali dibuat dilema. Bagaimana mungkin ia akan tega membiarkan Aksa bersedih sendirian. Anak itu telah kehilangan segalanya. Orang tua satu-satunya Aksa kini turut berpulang ke sisi Tuhan karena penyakit komplikasi yang diidap. Sabrina tak pernah menyangka dengan kehidupan mantan suaminya yang memilukan."Sil, aku juga ingin ikut melayat. Aku kasihan pada Aksa. Tapi aku akan minta izin Mas Jaka terlebih dahulu ya," kata Sabrina. Ia masih menempelkan benda pipih itu pada telinganya."Kita ketemu di rumah tahanan saja ya, Mba. Kasihan Aksa tak bisa menunggu lagi." Sesil kembali bicara."Iya, aku ingin bicara dengan Aksa terlebih dahulu " pinta Sabrina."Boleh, Mba." Dalam detik yang sama, sepertinya Sesil langsung memberikan ponsel pintarnya pada Aksa."Iya, Ibu." Suara Aksa terdengar bergetar berat."Aksa, dengarkan Ibu ya. Tetap tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Aksa dan Kak Sesil pergi
Sabrina sudah berdiri di depan rumah. Ia segera bertanya pada security di depan rumahnya."Mas, itu ambulance kemana?" tanya Sabrina pada pria berseragam layaknya security di rumahnya itu. Degup jantungnya masih sama, sebab suara sirine ambulance semakian mendekati arah rumahnya."Itu ada tetangga rumah sebelah yang meninggal, Non," jawab Security Sabrina.Seketika Sabrina menghela napas lega. "Saya pikir siapa. Kaget banget," desisnya. Akhirnya napas yang sempat tersengal kini mulai terasa lancar."Hanya tetangga, Non. Kabarnya meninggal karena kecelakaan," jelas security itu lagi."Ya sudah saya masuk lagi ya. Kabari saya kalau Mas Jaka pulang," pinta Sabrina."Siap, Non." Pria itu dengan tegasnya.Sabrina kemudian segera masuk kembali ke rumahnya. Ia masih belum juga tenang sebab belum mendapatkan kabar dari suaminya. Ia tak bisa menelepon Jaka lagi, sebab anak kembarnya minta ASI. Seperti biasa, Sabrina menyusui anak kembarnya secara bergantian. Ia selalu melakukan kewajibannya se
"Klinik yang di dekat toko, Mba. Duh kasihan sekali Aksa. Aku sampai gak tega melihatnya. Sedari tadi Aksa mengigau nama papanya terus," kata Sesil lagi."Ya Tuhan, kasihan sekali Aksa. Memangnya kamu gak pernah bawa Aksa nengokin papanya di penjara?" Sabrina bertanya lagi."Sudah, Mba. Ceritanya dua hari yang lalu Aksa ingin bertemu papanya di penjara, aku mengabulkan keinginan Aksa. Ternyata Mas Hasbi sakit Mba. Semenjak saat itu Aksa terus saja memikirkan papanya." Sesil menjelaskan."Mas Hasbi sakit apa memangnya?" Lagi-lagi Sabrina bertanya. Ia masih menempelkan ponsel pintar pada telinganya."Katanya komplikasi, Mba. Sakit paru-paru dan lambung kronis. Aksa sampai sedih melihat papanya. Saat ini ada di klinik tahanan tengah dirawat oleh perawat di sana," kata Sesil."Ya Tuhan, sungguh aku kasihan pada Aksa. Anak sekecil Aksa sudah memiliki banyak sekali beban. Sebenarnya aku ingin menemui Aksa sekarang, tapi keadaannya tidak memungkinkan, Sil," terang Sabrina pada adiknya."Kena