POV Livia
“Cinta tidak seharusnya seperti ini,” jawabku, berusaha menahan air mata. “Cinta seharusnya memberi kebahagiaan, bukan menyakiti. Aku tidak bisa hidup dengan orang yang tidak menghargai hidupku, apalagi anak kita.”
“Jadi, apa ini berarti kamu akan terus maju dengan perceraian?” tanyanya, suara penuh keraguan.
Aku mengangguk, merasakan kepastian dalam hatiku. “Ya, aku harus melanjutkan hidupku. Aku tidak bisa terjebak dalam hubungan yang tidak membuatku bahagia lagi.”
Dia terdiam, tampak hancur. “Livia, aku tahu ini semua salahku. Tapi aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja,” ujarnya, suaranya putus asa.
“Adrian, kamu harus mengerti. Ini bukan hanya tentang kita lagi. Ini tentang diriku dan masa depanku. Aku ingin menemukan kebahagiaan yang sejati, dan itu tidak akan pernah terjadi jika aku terus bers
POV LiviaDia menatapku dengan tatapan campur aduk. “Apa kamu yakin ini yang terbaik?” tanyanya, dengan nada yang tampak khawatir.“Ini yang terbaik untukku, Adrian. Aku perlu melanjutkan hidupku,” jawabku, mencoba menegaskan keputusanku.Dia mengangguk pelan, tetapi aku bisa melihat kekecewaan di wajahnya. “Aku harap kamu tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu,” katanya lagi, suaranya penuh dengan kesedihan.Setelah beberapa saat, aku berbalik dan berjalan keluar dari kantor. Setiap langkah terasa lebih ringan, tetapi hatiku tetap berat. Meskipun aku tahu bahwa aku telah mengambil keputusan yang tepat, ada rasa kehilangan yang sulit untuk diabaikan.Saat aku berjalan menuju halte bus, aku merasa campur aduk. Keputusan untuk resign adalah sesuatu yang kuinginkan, tetapi perpisahan dengan Adrian juga membawaku pada perasaan kehilangan yang mendalam. Sem
POV LiviaAku menemukan tempat duduk di sudut dekat jendela, dan segera memesan kopi. Dengan secangkir kopi di tangan, aku duduk memandangi orang-orang di luar. Beberapa pasangan tampak bahagia, anak-anak bermain, dan semua itu membuatku teringat pada masa-masa yang lebih sederhana.Saat aku merenung, ponselku bergetar di meja. Aku melihat nama pengacaraku, dan jantungku berdegup lebih kencang. Dengan rasa cemas, aku menjawab panggilan itu.“Selamat sore, Livia. Ini Rina, pengacaramu,” katanya dengan nada serius. “Aku ingin memberitahumu tentang proses perceraianmu.”“Ya, bagaimana?” tanyaku, merasa gelisah.“Prosesnya berjalan agak alot. Adrian tidak mau menceraikanmu, dan bukti yang kamu berikan tidak cukup kuat untuk mendukung klaimmu,” jawabnya, suaranya penuh perhatian.Hatiku tercekat. “Apa maksudmu bukti ti
POV Livia“Bu, aku tahu bahwa semua ini sulit. Tetapi aku sudah berusaha untuk berubah. Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa menjadi orang yang lebih baik untuk Livia,” jawab Adrian, berusaha meyakinkan.Ibu menggelengkan kepala. “Livia, kamu harus mendengarkan ibumu. Kamu tidak bisa kembali ke hubungan yang penuh kebohongan dan rasa sakit. Apa kamu benar-benar yakin ini yang kamu inginkan?” tanyanya, penuh perhatian.Aku menatap Adrian yang berdiri di sampingku, wajahnya penuh harapan.“Bu, aku sudah berpikir matang-matang tentang ini. Aku ingin memberi Adrian kesempatan kedua. Dia sudah berjanji untuk berubah,” jawabku, berusaha tegas.“Janji tidak cukup, Livia. Kamu harus melindungi dirimu sendiri. Aku tidak ingin kamu kembali ke situasi yang menyakitkan,” kata ibuku, suaranya masih penuh kekhawatiran.“B
POV Adrian“Adrian, aku ingin yang terbaik untukmu. Aku ingin melihatmu bahagia, tetapi aku tidak percaya bahwa Livia adalah orang yang tepat untuk itu,” ibuku melanjutkan, suaranya mulai lembut tetapi tetap tegas.“Bu, aku benar-benar mencintainya. Kami ingin hidup berdua dan membangun kembali semuanya. Aku ingin memberinya kesempatan kedua, dan aku berharap kamu bisa mendukungku,” jawabku, merasakan ketegangan di dalam diri.Ibuku terdiam, tampak bingung. Dia tahu betapa kerasnya aku berjuang untuk mendapatkan kembali Livia, tetapi dia juga khawatir jika aku akan tersakiti lagi.“Adrian, jika kamu memutuskan untuk melakukannya, aku tidak bisa menghentikanmu. Tapi ingat, jika ini tidak berhasil, aku tidak ingin melihatmu kembali dalam keadaan hancur,” katanya, suaranya penuh keprihatinan.“Terima kasih, Bu. Aku akan berusaha sebaik mungkin
POV AdrianBegitu kami selesai dengan ruang tamu, kami beralih ke dapur. Livia sangat bersemangat untuk menciptakan ruang memasak yang nyaman.“Kita perlu menata semua peralatan dapur dengan rapi. Ini harus menjadi tempat yang menyenangkan untuk memasak,” katanya.Kami menghabiskan waktu untuk mengatur semua peralatan, bumbu, dan alat masak. Livia memiliki banyak ide kreatif untuk menyimpan barang-barang dengan cara yang efisien. Dia menggantungkan beberapa wadah di dinding untuk menyimpan rempah-rempah dan bahan makanan kecil.“Ini tidak hanya praktis, tetapi juga terlihat menarik!” ujarnya dengan penuh semangat.Saat malam tiba, kami merasa puas dengan kemajuan yang telah kami buat. Kami duduk di sofa baru di ruang tamu, dikelilingi oleh barang-barang yang sudah kami atur.“Ini sudah mulai terasa seperti rumah,”
POV AdrianLivia tertawa kecil. “Aku akan mencoba. Tapi aku juga berencana untuk membuat beberapa perubahan di sini. Mungkin kita bisa mendekorasi kamar tidur setelah kamu pulang.”Aku mengangguk, merasa bersemangat dengan ide itu. “Itu terdengar hebat. Kita bisa memilih tema yang kita suka bersama.”Dengan perasaan campur aduk, aku meninggalkan rumah yang baru saja kami bangun bersama. Perjalanan menuju kantor terasa lebih lama dari biasanya. Dalam pikiranku, aku terus memikirkan semua hal yang ingin aku lakukan di rumah bersama Livia. Bayang-bayang momen-momen indah yang kami habiskan di sana membuatku ingin segera kembali.Setibanya di kantor, suasana langsung terasa berbeda. Di luar, harapan dan kebahagiaan yang kami bangun di rumah baru bertolak belakang dengan kesibukan dan tekanan pekerjaan. Karyawan lain tampak sibuk dengan tugas masing-masing, dan
POV AdrianSetelah mencuci tangan, aku membantu Livia menyelesaikan masakan. Kami berbicara tentang hari-hari kami, tentang semua hal kecil yang kami kerjakan selama aku pergi. Rasanya seperti kami sudah lama tidak bertemu, padahal baru beberapa jam yang lalu.Saat makan malam, kami berbagi tawa dan cerita. Setiap suapan terasa lebih nikmat karena kami melakukannya bersama. Rumah yang kami bangun terasa semakin hidup dengan kehadiran kami.“Terima kasih telah membuatkan makan malam yang luar biasa,” kataku setelah menyelesaikan makan. “Aku merasa sangat beruntung bisa berbagi ini denganmu.”Livia tersenyum, matanya berbinar. “Aku juga merasa beruntung. Meskipun kamu harus pergi ke kantor, aku tahu kita masih bisa saling mendukung.”Setelah makan, kami berdua membersihkan meja dan mencuci piring. Aku melihat ke sekeliling dan merasakan betapa bera
POV AdrianAku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui pikiranku. Aku ingat saat aku membuat keputusan yang salah, saat aku membiarkan egoku menguasai diriku. Sekarang, setiap kali melihat Livia, aku selalu teringat akan kesalahanku dan betapa beruntungnya aku masih bisa memiliki dia di sisiku.“Tidak akan aku sia-siakan kesempatan kedua ini,” pikirku, tekad menguat dalam hati. Aku berjanji untuk menjadi lebih baik, untuk tidak hanya mencintainya tetapi juga menghargai setiap momen yang kami miliki bersama. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.Malam itu, saat Livia terlelap, aku menyaksikan suasana rumah kami. Setiap sudutnya mengingatkanku akan perjalanan yang telah kami lalui. Dari ruang tamu yang baru saja kami tata hingga dapur tempat kami memasak bersama, semuanya dipenuhi dengan kenangan indah. Aku merasa betapa hidupnya rumah ini menjadi berkat kehad
POV LiviaMaya merangkulku sebelum pergi. "Ingat, Livia. Kau tidak sendirian. Aku di sini jika kau butuh sesuatu," ujarnya, menatapku dengan penuh perhatian.Setelah Maya pergi, rumah terasa sepi. Suara televisi yang sebelumnya ramai kini hanya menjadi latar belakang yang membosankan. Aku kembali duduk di sofa, berusaha untuk tidak berpikir tentang rasa sakit di lututku dan kesepian yang tiba-tiba menyelimuti.Malam semakin larut, dan aku merasa sendirian. Aku meraih ponselku, berharap ada pesan dari Adrian yang bisa menghiburku. Namun, tidak ada yang masuk. Rasa hampa mulai menyelimuti hatiku. Mengapa rasanya sulit sekali untuk menghadapi keadaan ini?Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan menonton film, tetapi tidak ada yang bisa menarik perhatianku. Setiap kali aku melihat jam, harapanku untuk melihat Adrian pulang semakin pudar. Akhirnya, aku memutuskan untuk berbaring di tempat tidur, mencoba meredaka
POV LiviaSetelah beberapa saat, Adrian tiba di rumah. Wajahnya tampak cemas saat melihatku duduk di sofa dengan kaki terangkat.Setelah beberapa saat, Adrian tiba di rumah. Wajahnya tampak cemas saat melihatku duduk di sofa dengan kaki terangkat. "Livia! Maafkan aku karena aku gak bisa mengantarkan mu ke rumah sakit.”"Aku baik-baik saja, Adrian. Kaki ku hanya butuh dikompres saja, dan tidak ada yang perlu dicemaskan," kataku, berusaha menenangkan suasana. Meskipun ada rasa sakit, aku tidak ingin membuatnya merasa bersalah atau khawatir lebih dari yang diperlukan.Adrian masih tampak gelisah, tetapi aku bisa melihat bahwa dia berusaha untuk tenang. "Tapi aku tidak ingin kau mengalami ini sendirian. Aku seharusnya ada di sini untukmu," ujarnya, berusaha mencari alasan untuk mengurangi rasa bersalahnya."Ini bukan kesalahanmu, Adrian. Kau sedang sibuk dengan peke
POV LiviaSetelah beberapa lama, aku mulai merasa lelah. Rasa sakit di lututku membuatku ingin segera beristirahat."Adrian, aku mulai merasa mengantuk. Apa kita bisa istirahat sebentar?" tanyaku, menguap kecil."Ya, tentu saja. Mari kita istirahat," jawabnya sambil mematikan film. Dia membantuku bangkit, dan kami menuju ke kamar.Ketika kami sampai di kamar, aku duduk di tepi tempat tidur dan mencoba mengangkat kaki yang sakit. Adrian melihatku dengan penuh perhatian. "Kau ingin aku membantu merawat lututmu?" tanyanya, nada suaranya lembut."Kalau bisa, aku akan sangat menghargainya," kataku, merasa sedikit canggung.Rasa sakitnya cukup mengganggu, tetapi aku tidak ingin merasa merepotkan.Dia mengambil kotak P3K dan mulai merawat lukaku. Sentuhan lembutnya membuatku merasa nyaman. "Ini mungkin akan sedikit terasa, tetapi aku akan be
POV Livia Saat aku berjalan pincang menuju Toko Buku, pikiranku masih dipenuhi dengan perdebatan yang baru saja terjadi. Aku sangat ingin mendukung Adrian, tetapi aku juga khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tekanan dari ibunya dan Marlina sangat besar, dan aku tidak ingin dia merasa terjebak.Ketika aku tiba di Toko Buku, Rina, atasanku, segera melihatku. "Livia! Apa yang terjadi? Kenapa kau pincang?" tanyanya, nada suaranya penuh kekhawatiran."Aku jatuh di kantor Adrian. Lututku sedikit terluka," jawabku, berusaha menyembunyikan rasa sakit yang sebenarnya.Rina mengernyitkan dahi, mendekatiku. "Kau tidak terlihat baik. Mari, aku akan membantumu. Kita bisa mencari obat untuk mengurangi rasa sakitmu."Aku mengangguk, merasa bersyukur dengan perhatian Rina. Saat kami menuju ruang belakang untuk mencari obat, hatiku masih bergejolak dengan perasaan campur aduk. Semua yang terjadi di kantor Adrian masih terbayang jelas di pikiranku."Apakah semuanya baik-baik saja di ka
POV LiviaRasa cemas mulai menggelayuti pikiranku."Apa yang mereka lakukan di sini?" gumamku dalam hati. Aku merasa terjebak antara ingin tahu dan takut akan apa yang akan kutemui.Tanpa berpikir panjang, aku mengikuti mereka dari jauh, berusaha mendengarkan percakapan mereka saat memasuki kantor Adrian. Suara mereka samar, tetapi aku bisa merasakan ketegangan di udara. Ada sesuatu yang besar sedang direncanakan di balik pertemuan ini.Kutatap pintu kaca yang memisahkan aku dari ruang kerja Adrian. Di dalam, aku melihat Adrian duduk di mejanya, tampak lelah dan tertekan. Ibu dan Marlina berdiri di depannya, berbicara dengan nada yang mendesak. Hatiku bergetar melihatnya berada dalam situasi seperti itu.Aku memaksa diriku untuk mendekat, berusaha menangkap setiap kata yang mereka ucapkan."Adrian, kau harus mempertimbangkan ini dengan serius. Ini adalah
POV AdrianIbuku adalah sosok yang kuat, dan tekadnya untuk menyelamatkan perusahaan tidak akan surut hanya karena penolakanku. Namun, aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Livia. Dia adalah bagian terpenting dari hidupku, dan aku bersumpah untuk melindungi hubungan kami."Adrian, bagaimana jika kita mencari solusi lain untuk perusahaan?" Livia tiba-tiba bertanya, membangkitkan semangat dalam diriku. "Mungkin kita bisa melakukan presentasi kepada investor baru, menunjukkan visi kita yang sebenarnya.""Itu ide yang bagus," jawabku. "Kita bisa merancang proposal yang menunjukkan potensi pasar dan keunggulan produk kita. Mungkin kita juga bisa mendekati investor yang lebih fleksibel dan memahami nilai-nilai kita."Livia tersenyum, matanya berbinar penuh semangat. "Aku bisa membantumu membuat presentasi itu. Kita bisa bekerja sama untuk merumuskan strategi yang tepat."Kami mulai berdiskus
POV Adrian"Ada apa, Adrian? Kenapa wajahmu terlihat tegang?" tanyanya, mendekat."Aku baru saja berbicara dengan ibuku dan Marlina," kataku, berusaha mencari kata-kata yang tepat. "Mereka ingin aku menikah dengan Marlina minggu depan."Mata Livia membelalak. "Apa? Kenapa mereka melakukan itu?" dia tampak bingung dan marah."Mereka bilang itu untuk kerja sama perusahaan. Tapi aku menolak. Aku tidak bisa melakukannya, Livia. Aku mencintaimu, dan aku tidak akan mengorbankan hubungan kita," jelasku, berusaha menenangkan dirinya.Livia terlihat terharu, tetapi juga sedikit kecewa. "Adrian, aku tidak ingin kau berada di posisi sulit seperti ini. Aku tidak ingin kau merasa tertekan karena aku.""Tidak, Livia. Ini semua tentang kita. Aku berkomitmen padamu, dan tidak ada yang bisa mengubah itu," kataku dengan tegas.Dia tersenyum, tetapi aku bisa meliha
POV Adrian “Bagus sekali. Selain itu, penting untuk memantau ovulasi. Menggunakan aplikasi atau kalender untuk mencatat siklus menstruasi dapat membantu kalian mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mencoba hamil.” “Itu ide yang bagus. Kami akan mengatur itu,” jawab Livia “Setelah semua ini, kita akan menjadwalkan pertemuan rutin untuk memantau kesehatan Livia dan perkembangan program hamil. Ingat, komunikasi yang baik di antara kalian berdua sangat penting.” “Kami berkomitmen untuk saling mendukung. Terima kasih, Dokter, atas semua informasinya,” kata ku. “Sama-sama. Saya senang bisa membantu kalian. Ingatlah, perjalanan ini memerlukan waktu, jadi bersabarlah dan nikmati setiap langkahnya.”Aku merasakan beban di pundakku sedikit menghilang. Aku tahu b
POV LiviaAdrian ikut tertawa. “Itu lucu! Mungkin dia juga butuh sedikit hiburan selain pengembangan diri,” katanya, menatapku dengan senyum hangat.“Sepertinya kau sudah menemukan tempat yang tepat,” kata Adrian, menatapku dengan penuh perhatian.“Aku merasa begitu! Ini adalah langkah yang tepat untukku,” kataku, merasakan keyakinan mengalir dalam diriku. “Setiap buku di toko itu bercerita, dan aku ingin menjadi bagian dari cerita-cerita itu. Aku ingin membantu orang menemukan buku yang tepat untuk mereka.”Adrian mengangguk, tampak mengerti betapa pentingnya hal ini bagiku. “Itu luar biasa, Livia. Kau memang selalu punya passion untuk buku dan literatur. Ini adalah kesempatan yang sempurna untuk mengejar impianmu.”Saat kami sampai di rumah, aku merasakan kehangatan yang menyelimuti. Hari pertama di toko buku telah membe