Dinda senang, Aditia tampak cocok dengan Ronal. Namun, tidak dengan Wahyu. Dia justru gak suka kedekatan Ronal dengan Aditia.
Setelah makan malam, Aditia mengajak Ronal untuk berbicara berdua di ruang kerjanya. Awalnya Ronal merasa takut, tetapi dia yakin dia bisa mengambil hati Aditia."Apa benar kamu seorang duda beranak satu?" tanya Aditia."Benar, Pak Aditia. Saya punya putra bernama Reo dari pernikahan saya yang terdahulu," jawab Ronal.Aditia menanyai mengapa dulu Ronal bercerai. Tanpa rasa takut dan malu, Ronal menceritakan soal perselingkuhan istrinya.Lalu Aditia menanyakan keseriusan Ronal pada Dinda. Sebagai seorang pria dewasa tentu Ronal bisa menjawab semua dengan lancar."Saya sungguh-sungguh ingin menjadikan Dinda ibu dari anak-anak saya, Pak Aditia. Hanya saja jika Dinda menerima saya maka dia juga harus menerima Reo. Jujur saya tak akan bisa meninggalkan Reo, dia sudah kehilangan Mamanya, jadi dia tak mungkin kehTak ingin menjadi menantu yang tak dianggap, Wahyu berusaha mendekati Aditia. Dia acting dengan berpura-pura mencintai Della."Pa, aku tidak mau bercerai dengan Della setelah Della melahirkan," ucap Wahyu saat masuk ke ruangan Aditia."What?? Mana bisa kamu seenaknya sendiri mengubah janjimu," kata Aditia. "Apa kamu kira kamu bisa menjadi penerusku?" tanya Aditia."Tidak, Pa. Wahyu tak mengharapkan hal itu. Tapi Wahyu sudah mencintai Della, jadi jangan ceraikan kamu," jawab Wahyu."Keputusan papa masih sama, setelah Della melahirkan anak laki-laki, kamu harus menceraikannya," kata Aditia. "Keluarlah dari ruangan aku! Aku mau menelfon calon mantuku yang sebenarnya,!" usir Aditia.Wahyu kesal, dia sama sekali tak pernah dianggap oleh keluarga Aditia. Della pun tak akan bisa apa-apa karena Della hanya anak yang penurut.Seperti biasa setiap kesal dan marah, Wahyu mendatangi Dini. Dini merupakan satu-satunya orang yang dia ajak curha
Orang suruhan Aditia memperhatikan foto-foto yang viral. Mereka menyimpulkan kalau pelakunya adalah orang terdekat. "Pak Aditia, seperti pelaku utama adalah orang terdekat. Dia tak mungkin punya foto saat Non Della tertidur," kata orang kepercayaan Aditia."Benar, apa mungkin pelakunya adalah Wahyu?" tanya Aditia."Bisa jadi, kita bisa periksa ponsel Mas Wahyu ," jawabnya.Siang itu, mereka datang ke rumah. Mereka memeriksa ponsel orang-orang yang dicurigai sampai para pembantu pun mengikuti pemeriksaan."Wahyu, kumpulkan ponselmu juga," kata Aditia."Loh papa mencurigai aku?" tanya Wahyu. "mana mungkin aku melakukan hal itu? Sam saja aku memasukkan diriku ke sarang serigala," kata Wahyu."Sudah jangan membantah, turuti saja apa mauku," kata Aditia."Pa, Mas Wahyu gak mungkin melakukan ini," kata Della. "Ini pasti ulah orang lain," sambung Della."Tetap saja dia perlu dicurigai karena dia itu orang lai
"Sejak kapan kamu dekat dengan Sini?" tanya Wahyu. "Sudah dua mingguan, Mas," jawab Della. "Dia sangat baik sekali," ucap Della."Periksa wanita bernama Sini!" perintah Aditia.Orang-orang Aditia lalu ke rumah Dini. Sementara Dini saat itu tengah asyik menonton televisi. Dia sedang makan seblak yang pedas buatannya.Ketika terdengar pintu di ketuk, Dini mengintip dari jendela. Dia merasa heran karena tak mengenal orang-orang itu. Dia membuka pintu perlahan."Dengan saudari Dini?" tanyanya."Iya saya sendiri. Ada apa ini?" tanya Dini."Kami dapat perintah dari Pak Aditia untuk memeriksa ponsel anda. Terkait soal berita Viral Non Della," jawabnya."Oh itu, silahkan masuk, Pak!" perintah Dini.Dini lalu mengambil ponselnya yang ada di meja dan menyerahkannya ke mereka. Mereka membuka leptop dan mulai mengotak -atiknya."Saya itu sangat dekat dengan Della akhir-akhir ini, dia sering datang padaku
Persiapan pertunangan Dinda dan Ronal sudah 100%. Malam itu, mereka menjadi sorotan para wartawan, kini mereka sibuk membicarakan status duda Ronal. Sehingga berita soal Della mulai surut."Bagaimana bisa seorang Dinda yang desainer terkenal mau menikah dengan seorang duda beranak satu?" Itu pertanyaan yang sering di lontarkan orang-orang.Namun, Dinda akhirnya buka suara di depan wartawan."Dalam keluarga kami tak pernah membedakan status. Asal kamu saling mencintai maka orang tua akan merestui. Bagi orang tua kamu, kebahagiaan anak adalah yang utama," kata Dinda."Bagaimana jika nanti mantan istri Ronal datang dan mengganggu?" tanya Wartawan. "Apa Mbak Dinda tidak takut kalau mereka ingin rujuk?" tanya Wartawan lagi."Kenapa harus takut? Lagi pula Mas Ronal tak akan mungkin rujuk dengan wanita yang sudah menorehkan luka di hati dia dan anaknya. Mana ada sampah yang sudah di buang dipungut kembali," jawab Dinda.Semua wartawan m
"Cepat tanda tangani surat ini," kata Aditia.Aditia tengah mengurus perceraian Della dan Wahyu. Karena hal itu, pernikahan Ronal dan Dinda di tunda."Ku peringatkan kamu, jangan pernah temui Della atau anaknya nanti," kata Aditia. "Kalau kamu sampai melakukan hal itu, maka kamu selamanya tak akan melihat Della dan anak kamu," sambung Aditia."Tapi biar bagaimanapun, anak itu anakku, Pa," kata Wahyu."Aku tak peduli," kata Aditia.Kabar perceraian Della dan Wahyu telah menjadi pembicaraan di mana-mana. Keluarga Wahyu menanggung malu akibat perbuatan Wahyu."Mama kecewa sama kamu, Wahyu. Mama kira kamu sudah mencintai Della malah kamu menghianati dia," kata Yulia."Ma, bantu aku agar bisa bertemu dengan Della. Aku mau bujuk Della agar tak menggugatku," kata Wahyu."Gak mau, mama sudah malu karena ulah kamu. Sekarang mama gak akan peduli lagi sama kamu," kata Yulia.Wahyu menjadi pengangguran, dia hanya n
"Apa kamu yang melakukan semua? Termasuk kekacauan di acara Dinda?" tanya Wahyu."Benar, aku yang melakukannya," jawab Dewi."Bajingan," umpat Wahyu."Aku bisa membebaskan kamu, tapi ada syaratnya," kata Dewi."Aku gak akan sudi, lebih baik aku di dalam penjara," tolak Wahyu."Pikirkan dulu, aku akan mengunjungimu lagi," kata Dewi lalu segera pergi.Ternyata Dewi menyimpan dendam pada Wahyu setelah dia gagal memiliki Wahyu. Dia diam-diam merencanakan balas dendam terhadap Wahyu.Wahyu tak menyangka kalau Dewi Setega itu, kini Wahyu harus hidup di dalam jeruji besi."Apa aku penuhi permintaan Dewi? Tapi apa yang dia minta?" tanya Wahyu.Hari demi hari Wahyu selalu di bully di dalam sel. Wahyu semakin kurus, dia merasa tertekan dan tak bisa tidur nyenyak."Kenapa Dewi tak datang lagi? Sepertinya aku harus menahan egoku agar aku bisa keluar dari sini," kata Wahyu.Wahyu menunggu kedatanga
Bodyguard Della membawa Della pulang, sampai di rumah Della masih mengamuk."Dia suamiku...," teriak Della."Kamu dan Wahyu sudah bercerai, dia bukan suami kamu lagi," bentak Eni."Gak, Ma. Dia masih suamiku, kami menunggu kelahiran bayi kami," kata Della.Della terus meracau tak jelas hingga Aditia kesal dan mengurung Della di kamar. Dinda merasa kasihan melihat nasib sang adik."Pa, apa papa gak terlalu keras sama Della?" tanya Dinda. "Kasihan kalau dia begitu, dia bisa kehilangan bayinya," kata Dinda."Diam kamu, mendingan kamu urus pernikahan kamu dan Ronal," kata Aditia. "Aku gak mau kalau pernikahan kalian gagal," kata Aditia.Dinda benar-benar kasihan pada Della, diam-diam dia masuk ke kamar Della. Della menceritakan bagaimana tadi dia bertemu dengan Wahyu."Dia gak mengenali aku, Kak. Padahal aku istrinya," kata Della."Dek, kamu dan Wahyu sudah bercerai. Jadi dia bukan suami kamu lagi," kata Di
Hari pernikahan Dinda dan Della pun tiba. Semua persiapan sudah 100%. Dinda tengah di rias oleh perias ternama. Namun, Dinda sedih di saat mereka menikah tak ada Della di sampingnya.Della terpaksa di kurung di rumah dan di jaga ketat oleh para pengawal. Keadaannya semakin tak karuan saat ini."Pengantin kok murung," kata perias Dinda."Aku sedih, Mbak. Adikku sedang sakit," ucap Dinda. "Dia satu-satunya saudara aku tapi tak bisa hadir," kata Dinda.Pukul 09.15 penghulu sudah datang, ijab qobul dilaksanakan pukul 09.30. Mempelai pria sudah siap, tinggal menunggu mempelai putri. Dinda keluar di dampingi dengan Sahara."Sebentar lagi kamu menikah, setelah acara ini selesai kamu bisa menemui Della," kata Sahara yang tahu kesedihan Dinda.Dinda berjalan menuju tempat ijab qobul, dia sangat cantik. Ronal sampai kagum melihat kecantikan calon istrinya.Tepat pukul 09.30 Ronal mengikrarkan ijab qobul dan janji suci pada Dinda.
10 tahun kemudianUsia tak lagi muda, Sahara sudah mempunyai banyak cabang rumah makan di setiap daerah hal itu membuat dia sering keluar kota, terutama ke Bali.Usia Albi sudah 17 tahun dan Aldo sudah 10 tahun. Mereka ke Bali ikut Sahara memantau cabang Bali. Mereka tengah liburan semester."Bagaimana apa semua lancar?" tanya Sahara pada karyawan yang sudah dia percaya."Alhamdulillah lancar, Bu. Sejak ada pemasok sayuran dan bahan makanan yang baru semua jadi lancar. Oh ya hari ini ada pengiriman sayur dan bahan makanan lainnya. Biasanya orangnya sendiri yang mengantar," katanya."Bagus, kalau gitu aku ke dalam ya," kata Sahara.Satu jam kemudian, Sahara keluar dari ruangannya. Tak sengaja dia menabrak seorang pria yang sedang membawa sayur mayur."Maaf, Mbak," ucapnya.Pria itu menoleh ke arah Sahara, "Sahara...," panggilnya."Wahyu...kamu tinggal di Bali?" tanya Sahara."Iya, oh ya aku ke dalam antar ini. Setelah ini ada yang mau aku obrolan kan sama kamu mumpung ketemu," kata Wah
Wahyu mendekati sang Dokter. Dia memandang Dokter tersebut."Saya mau bicara dengan Dokter, jadi ajak Abbi pergi," kata Wahyu.Della mengajak Abbi untuk pulang, sebelum pulang dia pamit pada Wahyu dan Dokter."Apa kamu sangat mencintai Della?" tanya Wahyu."Ya, aku mencintai dia," jawab Dokter."Tolong jaga Abbi, aku titip Abbi padamu. Anggap saja Abbi anak kandungmu," kata Wahyu."Itu sudah pasti, tapi tampaknya Abbi sangat mengharapkan kamu bersama dengan dia," kata Dokter."Itu tidak mungkin, aku dan Della sudah lama bercerai," kata Wahyu. "Aku hanya ingin kamu bahagiakan Della dan Abbi. Sejak dulu aku gak bisa melakukannya," kata Wahyu.Setelah mengatakan hal itu, Wahyu kembali ke kamarnya. Dia sadar bahwa dia tak pantas lagi untuk Della. Dia ikhlas jika Della bersama pria lain. Apalagi pria itu bisa menyayangi Abbi dengan baik.**Dua bulan kemudian, hari di mana Wahyu sudah keluar dari rumah sakit jiwa. Dia sudah sembuh total."Dokter, aku titip surat ini. Berikan pada Della dan
Ternyata Della sedang dekat dengan seorang dokter di rumah sakit jiwa. Dokter itu merupakan teman Dinda saat SMA. Mereka memang belum memutuskan untuk menikah tapi mereka sudah saling mengenal keluarga masing-masing.Abbi tengah duduk di bangku rumah sakit jiwa bersama baby Sisternya."Mbak, kata mama papa udah gak ada. Tapi kok aku gak lihat makam papa," kata Abbi."Mbak juga gak tahu, Sayang," ucap Baby Sisternya.Abbi memilih untuk menanyakan hal itu pada orang lain. Dia menanyakan pada salah satu pembantu di rumah Aditia. Pembantu itu menceritakan pada Abbi siapa nama papa Abbi. Tapi Abbi merasa tak asing dengan nama tersebut."Mama, apa benar nama Papa aku itu Wahyu?" tanya Abbi."Kata siapa, Nak?" tanya Della."Kata Bibi," jawab Abbi. "Kata Bi Mina itu nama papa ku, aku kayak pernah lihat dia," jawab Abbi.Della langsung menegur pembantunya, namun saat itu Abbi mendengarkannya."Bi, aku gak mau ya kalau sampai Abbi tahu kalau papanya itu Mas Wahyu. Apalagi kalau sampai dia tahu
Kain penutup itu terbuka, dan wajah yang tak asing bagi Miko tengah tertidur di sana."Tidak mungkin," teriak Miko.Tangis Miko pecah seketika melihat anak yang dia besarkan dengan kasih sayang telah tiada. Dia melihat Sahara tengah menangis, dia memeluk Sahara."Naura ninggalin kita, Mas. Dia pergi," kata Sahara.Miko dan Sahara terlihat lemah, Nurmala menghubungi semua keluarga lalu mengurus jenazah Naura."Mas, Naura....ini mimpi kan, Mas?" tanya Sahara berderai air mata.Miko hanya mampu memeluk Sahara erat dan menguatkannya. Walaupun sebenarnya dia sendiri sangat rapuh.Dari kejauhan, Wahyu melihat jenazah Naura di masukkan ke kamar Jenazah. Dia diam-diam masuk ke kamar Jenazah setalah petugas pergi. Dia ingin melihat Naura yang terakhir kalinya.Setelah melihat wajah Naura, Wahyu tak bisa menahan tangis. Dia menyesal telah menyebabkan semua terjadi. Namun, penyesalan itu sudah terlambat."Naura, m
Sahara mendapatkan panggilan dari seseorang tak di kenal. Dia mengabarkan jika Naura berada di rumah sakit. Seketika Sahara menuju rumah sakit."Naura...apa ada pasien anak SD yang katanya kecelakaan, Sus?" tanya Sahara.Perawat membawa Sahara ke ruangan di mana Naura di rawat. Seseorang menunggu di sana."Maaf, Mbak. Saya benar-benar tak sangaja menabrak anak, Mbak. Saya melihat dia berlari dan saya tak bisa mengerem mendadak," kata pria itu."Keadaan anak saya bagaimana sekarang?" tanya Sahara."Kata Dokter, dia Koma, Mbak," jawabnya.Tidak berapa lama Miko datang, dia lalu meminta penjelasan pada orang yang menabrak Naura. "Saat saya turun dari mobil untuk memanggil ambulan, saya dengar ada yang bilang kalau anak Mbak di kejar seorang pria. Makanya dia buru-buru menyebrang, sepertinya tujuannya ingin ke kantor polisi," kata pria itu."Apa bapak melihat pria itu?" tanya Miko."Maaf, Pak. Saya tidak m
Kecewa itu yang di rasakan oleh Bang Omar. Teman yang dia anggap baik ternyata menusuknya dari belakang. Saat Bang Omar tengah mencari kontrakan baru, di jalan dia bertemu dengan Sahara dan Miko."Bang Omar...," panggil Miko."Eh Pak Miko," ucap Bang Omar."Abang mau kemana? Kok bawa si kecil?" tanya Sahara melihat si kecil ikut berpanas-panasan."Panjang ceritanya, Bu. Tapi ini saya mau cari kontrakan baru," jawab Bang Omar.Sahara dan Miko saling pandang, mereka merasa kasihan pada Bang Omar."Bang, mendingan Abang ikut ke rumah kamu saja. Di rumah kami masih ada kamar kosong," kata Miko. "Kasihan kalau Bang Omar kerja di kecil mau di titipkan siapa? Kalau di rumah saya kan banyak orang, ada yang jaga," kata Miko."Tidak usah, Pak Miko. Saya tidak mau merepotkan Pak Miko," tolak Bang Omar.Miko tetap memaksa hingga Bang Omar ikut ke rumah Sahara. Sampai di sana Bang Omar menceritakan soal apa yang terjadi saat
Siang itu, Miko memanggil Wahyu untuk datang ke ruangannya. Di sana sudah ada Sahara yang menunggu kedatangan Wahyu."Maaf, Pak Miko memanggil saya?" tanya Wahyu."Wahyu, apa benar kamu habis menemui Naura kemarin di sekolahannya?" tanya Miko.Wahyu tampak terkejut, dia yakin Naura yang bercerita hal itu pada Miko dan Sahara."Maksud kamu apa memberi tahu Naura kalau kamu papanya?" tanya Sahara. "Kamu harusnya bicara sama aku dulu sebelum menemui Naura, apalagi membahas soal papa Naura," kata Sahara."Maaf, Sahara. Aku hanya ingin di akui oleh anakku," kata Wahyu."Kamu ingin di akui? Emangnya kamu pernah ada buat dia? Gak kan. Pantas saja Della melarang kamu ketemu Abbi," bantah Sahara. "Aku kecewa sama kamu," ucap Sahara."Aku hanya ingin di akui dan di panggil ayah saja oleh Naura. Karena aku tak bisa melakukannya ke Abbi," kata Wahyu."Aku tahu tapi cara kamu salah. Menemui Naura tanpa izin aku, apalagi memb
Dua tahun berlaluWahyu sudah dinyatakan bebas, dia keluar dari lapas hari itu. Tak ada yang menjemputnya. Dia hanya berbekal alamat Bang Omar. Dia tak akan pulang ke rumah orang tuanya."Wahyu, maaf aku tak bisa menjemputmu. Istriku masih kerepotan karena anak kamu demam," kata Bang Omar."Tidak apa, Bang," ucap Wahyu."Oh ya, aku udah Carikan kamu kontrakan di sebelahku ini, udah aku bayar untuk satu bulan ke depan ya. Setelah itu bayar sendiri," kata Bang Omar."Sekali lagi terimakasih, Bang," kata Wahyu.Wahyu lalu istirahat di kontrakannya, setelah tenaganya terisi penuh. Dia mulai dari ke makam Kamila dan Dini. Dia ingin mengunjungi mantan istrinya dulu."Kamila, maafkan aku. Baru kali ini aku sempat menemui makammu," kata Wahyu. Setelah mengirim doa untuk Kamila, Wahyu ganti ke makam Dini yang memang berada di satu area.Setelah itu dia kembali ke kontrakan. Dia melihat istri Bang Omar tampak di luar deng
Sahara menghadiri pemakaman Dini, biar bagaimanapun dia pernah mengenal Dini sebagai sahabat Kamila."Aku gak nyangka, setelah Carry tiada, kini Dini juga meninggal," kata Sahara."Ya mau bagaimana lagi, setiap yang hidup pasti akan kembali ke yang maha kuasa hanya menunggu giliran saja," kata Miko.Sepulang dari makam, Sahara menyempatkan diri mampir ke lapas. Dia mengabari Wahyu kalau Dini telah tiada."Baru saja dia datang menemui aku, tapi kini sudah pergi," kata Wahyu. "Dia malah berpesan sama aku, kalau dia mati, dia minta aku untuk menjaga malamnya," sambung Wahyu."Aku kira dia belum ke sini sebelumnya," kata Miko."Sudah, tapi aku juga tak menyangka akan secepat itu dia pergi," kata Wahyu."Setiap yang hidup di dunia ini kan pasti akan kembali pada yang kuasa. Bukan hanya Dini kita juga nanti akan kembali. Tinggal nunggu saatnya saja," kata Miko."Benar, tapi rasanya bekal untuk kesana masih kurang," ka