LOGINHari yang ditunggu pun tiba. Siang itu kediaman keluarga Yolan Svarga telah disulap menjadi area acara tujuh bulanan yang begitu indah, dengan nuansa biru pastel seperti permintaan Jasmine.Balon-balon bergelantungan di gerbang masuk. Tirai-tirai tipis terikat di tiang-tiang dekorasi. Bunga-bunga dengan warna senada menghiasi meja tamu dan panggung kecil di tengah halaman.Jasmine duduk di tengah pelaminan kecil. Perut buncitnya dibalut kebaya biru muda. Wajahnya berseri, bibirnya tersenyum kecil. Kecantikannya semakin terpancar.Ini bukan hanya sekadar acara tujuh bulanannya, tetapi juga ajang pembuktian bahwa dia kini adalah pusat di dalam keluarga Svarga. Di sampingnya, Lintang duduk dengan tenang, namun dengan jelas wajahnya memancarkan semburat bahagia.Embun melangkah perlahan, dia mengenakan dress biru sesuai tema hari ini. Tidak ada senyum, tidak ada air mata. Hanya tatapan kosong yang mencoba tegar di hadapan semua kenyataan kini.Melihat kedatangan menantu pertamanya, Bu Ing
Jenar menghitung hari. Hanya tinggal beberapa hari lagi dia akan masuk ke kantor sang papa. Dia harus memastikan Ethan tidak akan rewel lagi seperti hari ini, agar semuanya berjalan mulus.Sebenarnya, dia ingin masuk hari itu juga, tetapi pak Wijaya menyarankan Jenar agar memulainya hari senin, supaya lebih profesional. Dia terus mengayun-ayunkan tubuh mungil sang putra dalam gendongan yang mulai terlelap. “Sayang … Ethan tidak boleh rewel, ya. Ethan harus jadi anak baik. Mama harus bekerja biar kita bisa Bahagia terus, ya sayang. Bantu Mama, ya,” gumam Jenar lembut sambil menatap buah hatinya penuh perasaan.“Maafin Mama, ya, kalau nanti sering ninggalin Ethan sama kakak Embun, ya. Mama Janji, kalau Mama libur akan main bareng, ya. Mama sayang kalian.”Jenar mencium kening sang bayi yang sudah terlelap dan perlahan membaringkannya ke dalam box dengan hati-hati.*****Jasmine senyum-senyum sendiri sambil memandangi bunga seruni yang bermekaran di taman belakang. Sama seperti perasaann
Setelah sarapan, Lintang bergegas naik ke kamar, dia teringat akan sesuatu. Jasmine pun menyusul sang suami.“Mas, kau sedang apa?” tanya Jasmine muncul dari balik pintu. Dia melihat suaminya sibuk dengan mencari dan mengeluarkan kertas dari laci.“Mas sedang siapkan berkas-berkas dan bukti untuk mengajukan sidang isbat nikah nanti. Kalau semua sudah lengkap, Mas tinggal bawa ke pengadilan,” kata Lintang sambil tangannya bergerak lincah. Dia tidak menoleh pada sang istri.Jasmine senang mendengarnya, tetapi di sisi lain dia mau Lintang menceraikan Embun. Tidak mengapa, mengalah sebentar. Yang penting status yang sama dulu dengan Embun. Rencana kedepannya dia akan pikiran lagi.“Mau di bawa kemana semua itu, Mas?” tanyanya lembut sambil memperhatikan berkas-berkas dimasukkan ke dalam tas kerja. Jasmine duduk di atas tempat tidur menghadap sang suami.“Mas akan membawanya ke kantor. Di sana mas bisa fotokopi dokumen yang perlu,” kata Lintang tanpa mengalihkan perhatian dari berkas-berka
Di kediaman keluarga Svarga, saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Dentingan piring beradu dengan sendok mengisi ruangan ditambah dengan obrolan ringan yang membuat hubungan kekeluargaan semakin erat.“Lintang, kamu sudah punya rencana untuk syukuran tujuh bulanan istrimu?” tanya Bu Inggrid di sela-sela makannya. Lintang mengangkat kepala dan menatap sang ibu. “Lintang belum kepikiran soal itu, Ma.”“Kamu Ini memang tidak perhatian menjadi suami, jangan-jangan kamu tidak tahu berapa usia kandungan istrimu,” sahut Pak Yolan menyela ucapan Lintang. “Kami saja sebagai calon kakek dan nenek selalu menghitung setiap bulannya,” tambah Bu Inggrid.“Bukan seperti itu, Ma, Pa. Lintang sibuk berkerja, jadi terkadang tidak terpikirkan yang lain lagi. Yang penting bagiku istri dan anakku sehat dan selamat. Itu saja,” kata Lintang.“Mas Lintang benar, Ma. Jasmine juga hanya berharap anak kami lahir dengan sehat dan s selamat tanpa kekurangan satu apapun,” imbuh Jasmine.“
Malam semakin larut, semua penghuni rumah sudah terlelap. Namun, tidak dengan Jenar. Dia tidak bisa tidur karena terus memikirkan masalah-masalah yang kini menghimpit hidupnya. Jenar meremas kuat ujung selimut. Perasaan cemas, takut dan bayangan-bayangan buruk berputar di kepala membuatnya sangat tidak tenang. Di kamar yang sunyi dan tenang itu, isi kepala Jenar begitu berisik. “Ya, Tuhan. Tolong berikan aku jalan agar aku bisa menyelesaikan masalah ini,” kata Jenar dalam hati dengan penuh harap.“Aku tahu aku pernah salah, Tuhan, tapi kali ini tolonglah aku. Maafkan kesalahan yang pernah kulakukan. Aku mohon kali ini tolong aku.” Jenar memohon dalam hati. Matanya terpejam. Kepalanya sudah panas berpikir namun tak kunjung menemukan jalan.“Apa aku harus bekerja agar dapat uang?” Jenar bertanya pada dirinya sendiri karena sebuah ide muncul di kepala. “Tapi … apakah Mas Eros akan mengizinkan?” Dia ragu, mengingat Eros hanya ingin Jenar di rumah, mengurus suami dan anak saja. Semangatny
Lintang berdiri di balkon kamar, memandangi gemerlap bintang di langit yang terlihat indah malam ini. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah membuat perasaannya tenang.“Aku bersyukur sekali, akhirnya Embun sadar. Meskipun harus membiarkannya sendiri dulu saat ini, tapi itu bukanlah suatu hal yang buruk. Nanti juga aku akan bisa memeluknya seperti dulu. Lebih tepatnya memeluk kedua istriku.” gumam Lintang sembari mendongak, matanya tak lepas dari keindahan langit. “Aku tidak harus kecewa dengan keputusannya, ini hanya sementara,” tambahnya merasakan sedikit kekecewaan. Kepalanya menunduk.“Aku tahu, kau tidak sekejam itu. Kau hanya kecewa di awalnya saja. Aku tidak salah mempertahankanmu karena akhirnya hatimu luluh juga.” Bibir Lintang melengkung membentuk sebuah senyuman. Pandangannya lurus ke depan seolah Embun berada di sana. “Aku berhasil,” lanjutnya bangga. “Kalau sudah begini, nanti aku tidak akan susah lagi membujuknya agar mau melakukan sidang.” Bibir itu tersenyum semakin lebar.







