Saudara sudah berkumpul semua. Ibu memang sengaja mengundang keluarga untuk menyaksikan pernikahanku dengan calon menantu pilihannya. Ya, ibu sangat cocok dengan Neva. Aku sendiri tidak begitu tahu alasannya. Padahal kalau dilihat dari segala sisi, putri jauh lebih baik dari Neva. Mungkin saja keduanya cocok karena sama-sama licik.
Yang aku khawatirkan putri sudah mengendus pernikahan keduaku ini. Perasaannya sangatlah tajam. Dulu, saat aku hanya sedikit terkena pisau saat mengajari karyawan memotong daging, dia langsung menghubungi dan menanyakan keadaanku. Feelingnya begitu kuat.
Dia sangat perhatian dan pengandiannya sebagai seorang istri tidak main-main. Kepercayaan yang dia berikan untuk mengelola usaha warisan ayahnya juga sebagai bentuk kepatuhan dan juga menjaga harga diriku di depan seluruh karyawan. Dia tidak akan membiarkan suaminya menjadi bawahannya.
Dan kini, aku membalas semuanya dengan penghianatan dan menipunya. Apakah yang aku lakukan ini salah ataukah benar. Kalau dipikir-pikir, sebagai seorang istri, putri nyaris tanpa cela. Hatinya sangat tulus dan murni. Terlalu jahat jika aku membalasnya dengan kecurangan.
“Huch! Kenapa aku gelisah seperti ini, ya” tanyaku kepada diri sendiri.
Menghempaskan tubuh di atas ranjang dengan keras. Aku tak merasakan sakit. Tidak seperti dulu, karena ranjang kayu reot kini sudah berganti dengan ranjang empuk dan mewah berukuran king size. Bukan hanya ranjang, tapi rumah, mobil dan juga perabotan rumah ini juga hasil dari merampok harta istriku.
Bukan itu saja, tanah ini juga ayah mertuaku yang membelikannya. Lengkap sudah kebaikan keluarga putri di mataku. Namun sayangnya, kenapa mata hatiku tertutup oleh semua pesona Neva. Ya, saat aku melihatnya selalu membuatku tergila-gila. Aku bahkan lupa akan istriku sendiri.
Kini aku merasakan kegelisahan itu kian menguat. Rasa cemas membuatku tak bisa tidur. Hanya memejamkan mata tapi tak bisa terlelap.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun mata ini belum mampu terpejam. Padahal esok hari adalah hari pernikahanku dengan Neva. Aku harus banyak istirahat supaya tubuh terlihat bugar. Namun mata ini tak bisa di ajak kompromi.
Mengambil ponsel dan duduk di tepi ranjang.
“Lebih baik aku menelpon Neva untuk ... tidak. Kenapa tiba-tiba yang melintas di pikiranku adalah putri. Dorongan dalam diri lebih kuat untuk menghubungi istriku yang lugu. Apa sedang terjadi sesuatu dengannya. Mungkin itu yang membuatku merasa cemas!”
“Mungkin saja putri sedang mencemaskan aku karena sudah dua hari ini aku tak menghubunginya. Bahkan sengaja mengganti nomor telpon sementara yang hanya keluargaku dan Neva yang tahu. Bodohnya aku yang tidak memberi kabar. Dia pasti sangat cemas dan khawatir. Hal ini bisa membahayakanku. Dia pasti akan mencari informasi mengenai diriku.”
Mengusap layar ponsel dan mencari nama istriku. Sesaat kemudian terdengar nada sambung. Terputus. Aku mengulangnya hingga beberapakali. Tetap saja tak ada jawaban. Mungkin saja dia sudah tidur. Sekarang sudah larut malam. Besok kalau dia tahu aku menghubunginya, pasti juga menelpon.
Lebih baik sekarang aku mencoba untuk memejamkan mata. Semoga esok aku bisa bangun dengan kondisi segar.
***
POV PUTRI DIAH AYU
Aku memandangi ponselku yang berada di tangan. Penipu itu menghubungiku malam-malam begini. Mau apa dia. Apakah mau mengabarkan tentang pernikahannya esok hari. Berani sekali dia kalau berniat melakukannya. Ataukah dia menyadari kalau segala kebohongannya akan terungkap besok.
“Lihat saja Raditya. Kau akan tahu bagaimana caraku membalasmu. Besok adalah hari terakhir kau menjadi orang kaya. Kau takkan bisa memakai mobil kemana-mana. Bahkan kau juga tak akan memiliki uang sepeserpun!” desisku dengan geram.
“Apa jadinya jika kau menyadari setelah kau tiba di pulau bali, tempat bulan madu bersama istri barumu. Aku bahkan sudah tahu di mana kalian akan menginap!”
“Tunggu saja kedatanganku esok hari. Aku akan memberi kejutan yang takkan kalian lupakan seumur hidup wahai sepasang pengantin!”
Mengambil map yang tergeletak di atas nakas. Lalu membuka dan membacanya lembar demi lembar dengan teliti. Semua sudah sesuai dengan yang aku inginkan. Orang-orang suruhanku bahkan sudah memulai tindakan malam ini. Semua sudah berjalan sesuai keinginanku. Apa yang kulakukan akan melebihi dari bunyi ledakan bom. Sangat mengagetkan dan bisa membuat jantung berhenti mendadak.
Aku takkan memainkan drama dengan menangis dan memohon supaya Raditya tak menikahi wanita jalang itu. Namun aku hanya akan mengungkapkan jati diri dan juga bukti kuat bahwa aku istrinya. Setelah itu aku tak peduli mereka akan menikah atau tidak. Yang jelas mereka hanya sampah yang tak berguna bagiku.
Menurut informasi yang terpercaya, tiga hari setelah pernikahan Raditya akan memboyong keluarga besar dan juga keluarga istrinya ke bali. Mereka sudah menyewa villa yang mewah.
Aku takkan membiarkan mereka dengan seenaknya menghambur-hamburkan uangku. Enak saja. Mereka pikir cari uang itu gampang apa. Ayahku yang sudah berjuang kepala jadi kaki begitu juga sebaliknya, tak pernah mengajarkan aku dan ibu untuk hidup boros.
Tapi Aku juga akan memainkan peran di sini. Lihat saja pembalasan istrimu yang sudah tersakiti ini.
“Assalamu’alaikum. Boleh ibu masuk?” terdengar suara lembut ibu. Suara yang bisa menenangkan hati. Sedikit demi sedikit menurunkan gejolak amarah dalam dada.
“Masuk saja, Bu,” jawabku sembari meletakkan map di atas ranjang.
Ibu tersenyum dan duduk di sampingku. Netranya menatap map berwarna biru yang tergeletak tak jauh dariku.
“Ini apa?”
Aku menaikan satu sudut bibirku. “Itu kejutan untuk Mas Radit,” jawabku sembari mengangkat dagu.
“Boleh ibu tahu apa isinya? Ibu tak ingin kau bertindak yang bisa membahayakan dirimu.”
“Ibu tenang saja. Map ini berisi tentang kewajiban yang harus Radit bayarkan.”
“Maksudmu?”
Aku menatap wajah ibu yang masih dipenuhi beribu tanya.
“Map ini berisi tagihan daging dan juga bakso yang sudah di pesan oleh Radit. Dia pasti akan sangat terkejut atau bahkan marah besar kepadaku. Karena dia merasa kalau dialah pemilik toko yang sebenarnya. Begitu juga dengan keluarga besar dan juga koleganya. Hach, aku tak bisa membayangkan bagaimananya malunya dia nanti.” Menyatukan tangan dan meletakkan di belakang kepala, lalu bersandar pada ranjang sembari menatap langit-langit kamar.
“Nak, jangan lakukan itu. Radit pasti marah. Ibu takut dia akan mencelakaimu.” Ibu terlihat cemas.
“Aku tahu apa yang akan kulakukan. Dan aku juga sudah mempersiapkan segala kemungkinan ke arah situ.”
“Bagaimana kalau kau meminta bantuan pamanmu?”
“Tidak, Bu. Aku tak ingin menyulitkan siapapun. Kasihan kalau paman juga ikut terlibat di sini. Beliau anggota kepolisian yang masih aktif. Kalau sampai paman bertindak melampaui batas, bisa berbahaya untuk karier dan masa depannya.”
“Tapi, Nak ....’
‘Tolong, percaya kepada putri. Aku bukan gadis lemah seperti yang suamiku sangka. Radit harus membayar atas apa yang dia lakukan.”
Bolamata sayu itu berkaca-kaca. Mata teduhnya kini berubah menjadi kesedihan. Lalu, Ibu memelukku dengan erat untuk memberikan kekuatan.
Kubalas pelukannya dengan erat. Kami harus saling menguatkan. Semenjak kepergian ayah, kami harus menjadi sosok yang mandiri. Termasuk dengan menyingkirkan Radit dan para benalu itu. Semoga hari esok menjadi awal dari kebahagiaanku. Nasib burukku perlahan akan berubah menjadi kebahagiaan. Semoga saja.
Melihat ke arah jam dinding. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Satu jam lagi pernikahan Raditya akan dilaksanakan. Aku harus segera menuju kesana. Tak boleh terlambat walau hanya sedetik saja. Bisa kacau kalau sampai pernikahan mereka sah sebelum kedatanganku.Aku akan menghubungi orang-orang yang sudah bekerja untukku. Mereka sudah profesional dalam mengerjakan tugas rahasia. Aku mengenal salah satu dari mereka dari paman. Untung saja aku masih menyimpan nomornya.“Bagaimana, semua pekerjaan beres?” tanyaku setelah mendengar suara dari seberang.“Sudah,bu. Semua sudah berjalan sesuai dengan yang kita rencanakan.”“Oke. Setengah jam lagi saya sampai di lokasi.”“Siap. Saya tunggu.”Menutup sambungan telepon. Lalu menyambar map yang ada di atas nakas dengan tergesa. Bersamaan dengan itu terdengar suara nyaring seperti pecahan gelas.Aku menoleh ke arah s
PUTRISuara ketukan halus di kaca mobil membuatku tersentak. Ternyata salah satu orang kepercayaanku. Lalu sedikit menurunkan kaca mobil.“Bagaimana?” tanyaku padanya.“Ini buku tabungan yang ibu inginkan.” Pria itu memberikan buku tabungan atas nama Radit. Penasaran dan membuka saldo akhir. Astaga. Aku menutup mulut yang menganga lebar. Bola mata membulat dengan sempurna. Delapan ratus juta. Nominal yang cukup besar walau sudah terpakai untuk biaya resepsi semewah ini.“Haach!!” aku membuangnya dengan kesal. Lalu memukul kemudi dengan kuat.“Tahan, Bu. Jangan emosi.”“Diam! Jangan mencoba mengaturku!” aku menunjuk orang suruhanku. Dia hanya terdiam dan menundukkan kepala.Aku melihat buku tabungan yang sudah kubuang berada di tangannya.“Berikan padaku!” Aku mengulurkan tangan untuk meminta buku yang membuat emosiku memuncak.Pria itu
“Saya terima ....”“Hentikan pernikahan ini! pernikahan ini tidak sah!” aku segera bangkit dan membuang kacamata hitam dan melepas topi juga masker. Orang-orang menatap tajam ke arahku.“Pup ...putri?!” Mata Mas Radit membulat seolah tak percaya dengan penglihatannya sendiri. Dia berdiri dan terlihat raut wajah penuh kecemasan.“Iya. Ini aku, istri sahmu!” jawabku dengan penuh penekanan. Lalu melangkah mendekat ke arahnya.“Apa benar anda istri sahnya?” tanya pak penghulu sembari membaca kertas yang ada di hadapannya.“Benar, Pak! Pernikahan ini terjadi tanpa persetujuanku!”‘Tapi di sini tertera kalau Pak Radit itu duda yang istrinya meninggal.”Mendengar keterangan dari penghulu, membuat emosiku makin memuncak. Tanganku mengepal menahan amarah. Teganya dia membuat surat kematian palsu demi bisa menikahi kekasihnya.Plaak. Tanganku bergerak den
“Nena!” Radit mencoba menolong adiknya. Terdengar juga teriakan dari ibu mertuaku yang terlihat mengkhawatirkan putri bungsunya.Darah kental mengalir dari sudut bibir adik kesayangan Radit. Apalagi pipinya juga terbentur tiang tenda. Tentunya membuat lukanya semakin sakit. Aku tersenyum sinis dan menatapnya puas.“Pergi kamu dari sini!” Si Pelakor mendorong tubuhku dengan keras. Karena aku tidak siap hingga membuatku terjatuh.Shiit. Aku melepas jas yang kupakai dan melempar ke arah wanita murahan itu. Lalu melangkah menuju ke arahnya.“Berani kau mengusirku dari rumah ini?!” tanyaku dengan gemerutuk gigi menahan emosi yang sudah mencapai ubun-ubun.“Ya! Ini rumahku dan aku berhak mengusirmu!” jawab Neva dengan angkuh.Aku menaikkan sudut bibirku. “Rumahmu?! Dengan bangga Kau menyebut rumah yang sudah di beli dengan uang hasil merampok adalah milikmu?! Dasar keluarga parasi
“Kau tidak mungkin melakukan itu!”“Aku berani melakukannya! Bahkan detik ini pun kalian semua sudah kehilangan apa yang kalian miliki! Semua surat tanah dan juga mobil sudah ada padaku. Dan kalian akan segera terusir dari rumah kalian!”“Kau takkan mungkin berani melakukan itu. Dan sebelum itu terjadi aku akan menghancurkan hidupmu! Kau pasti akan menyesal wanita jalang!”Dadaku meradang kala ibu mertua yang selama ini aku hormati memanggilku dengan sebutan yang sangat menyakitkan. Aku sungguh-sungguh tidak terima. Gigi gemerutuk menahan amarah. Tanganku mengepal dengan kuat. Dan Plaak. Aku menampar wanita paruh baya itu dengan punggung tanganku hingga membuatnya terjungkal.“Aw!” Terdengar pekikan dari mulutnya. Suasana semakin kacau. Bahkan para tamu undangan ada yang membubarkan diri. Aku tak peduli. Ada atau tidak ada orang di sini itu bukan urusanku.“Putri!” Radit meng
“Dengar putri! Kau bukan saja sudah mengacaukan acara pernikahanku, tapi kau juga sudah menginjak-injak harga diriku!”“”Lalu apa yang salah?! Aku melakukannya karena kau yang memulainya! kalau kau tak melakukan kebodohan dan menghianatiku, aku juga takkan berbuat seperti ini! bagiku kau sangat menjijikkan!”“Tutup mulutmu atau aku ....”“Aku apa?! Kau akan menjatuhkan talak padaku?! Silakan! Dengan senang hati aku menerimanya! Aku tak butuh pria yang penuh kotoran sepertimu! Sangat menjijikkan!”“Kurangajar sekali kamu!”Radit sudah mengangkat tangannya tinggi dan siap mengayun ke arahku. Untung saja orang suruhanku menghentikannya dengan mencengkeram lengan Radit. Dan yang lainnya membentuk formasi melingkar untuk melindungiku.Aku sangat puas dengan kerja mereka. Tanpa harus dengan kekerasan mereka sudah sigap menjagaku.“Berani kau menyentuh Putr
“Bukti apa?! Sebaliknya Aku yang bisa melaporkanmu karena kau dan keluargamu berniat melenyapkan aku! Aku punya videonya. Dan itu bisa menjadi satu bukti. Sangat mudah bagiku memasukkan kalian ke dalam penjara! Tapi itu belum waktunya. Terlalu mudah untuk kalian. Akulah yang akan menghukum kalian dengan caraku!”“Bukti apa?!”“Tunggu sebentar!”Aku mengambil ponsel dan memperlihatkan video percakapan Radit bersama ibu dan juga Nena. Wajah Radit berubah masam lalu membanting ponselku hingga hancur berkeping-keping. Sial dia beusaha menghilangkan barang bukti. Untung saja aku sudah tersimpan di laptop.“Kau tak bisa mengancamku! Akulah yang akan melaporkanmu yang sudah mencuri surat-surat tanah milikku!”“Ayo silakan! Laporkan saja! Dengan senang hati aku akan menunggunya! Dan yang lebih penting bayar dulu tagihannya kalau tidak ....”“Kalau tidak apa?! aku sudah k
POV RADITYADengan penuh kekesalan dan menanggung malu yang luar biasa, aku berlari dan masuk ke dalam kamar untuk menumpahkan kekesalanku. Bahkan tak peduli dengan ibu yang masih menangis dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan.“Haacch ...” Aku berteriak sembari meremas rambut dengan kesal serta membuang barang-barang yang ada di sekitar.“Hentikan, Mas!” Neva berusaha menghentikan dengan memelukku. Aku terus berontak dan berteriak hingga mengundang orang-orang datang ke kamarku.“Diamlah, Radit!” teriak ayah Neva.“Tenang, Nak. Jangan berbuat sesuatu yang bisa merugikanmu.” Entah siapa lagi yang berusaha menenangkan. Namun apa yang mereka lakukan justru membuatku makin naik pitam.Melepaskan tubuhku dari Neva dan menatap tajam ke arah orang-orang yang berusaha menasehatiku.“Kalian menyuruhku untuk tenang dan diam?! Bagaimana caranya aku bisa tenang?! Ka
“Apa aku menolak waktu paman ... mencium bibirku?” aku menyapu bibir paman dengan jemariku, membuat paman memejamkan mata untuk menikmatinya.“Jawab paman?” tanyaku kembali masih dengan menyapu bibir sexynya dengan jemariku.“Tadi kau begitu berani. Kenapa sekarang diam? Hmm?” tanyaku kembali.“Aku ... aku .... ““Sst ... “ Aku menutup mulut paman dengan telunjukku. Menatap wajah tampan di hadapan membuatku tak tahan untuk tak menyentuh bibirnya. Tinggi badanku yang hanya sepundak paman, membuatku harus berjinjit untuk memberikan kecupan tipis pada bibirnya. Cup, satu kecupan sukses mendarat di bibir paman.Tak ada pergerakan. Kami saling diam dengan bibir saling menempel. Perlahan paman menjauhkan bibirnya dariku dan membingkai wajahku dengan telapak tangannya.“Ini rumah sakit. Kita tak boleh melakukan hal yang lebih.” Bisik paman dengan tersenyum. Aku merasakan harum
Wajah paman semakin dekat. Bahkan ujung hidung kami saling bersentuhan. Oh Tuhan, benarkah ini. Apa aku sedang tidak bermimpi. Pria yang sudah menggetarkan hatiku tengah menatapku penuh hasrat.Aku memejamkan mata menandakan dari sebuah kepasrahan. Aku dikejutkan oleh benda kenyal yang menyentuh bibirku membuat jantungku memacu kian cepat. Bibir paman menyapu dengan lembut hingga membuatku terbuai.Entah mendapat dorongan dari mana hingga membuatku membalasnya dengan lebih berani. Sejenak kami saling berpagut dalam balutan rindu.Sayangnya semua keindahan itu harus terhenti karena masuknya perawat yang membawa kursi roda untukku. Kami pun saling melepas pagutan dengan perasaan malu.“Sorry,” ucap paman lirih. Dia menjauh dariku sembari menghapus jejak pada bibirnya yang basah. Lalu menyugar rambutnya dan berdiri membelakangiku. Paman masuk ke dalam toilet. Entah apa yang akan dilakukannya. Aku akan mencari tahu tentang hal itu.“M
Rasanya tubuh ini sudah sehat dan tak perlu obat apapun. Berdekatan dengan paman pasti lebih mujarab dari obat manapun.Tunggu, bukankah paman sedang marah kepadaku. Bagaimana kalau dia menolak untuk menjagaku. Atau dia mau tapi aku dicuekin. Aduuh bagaimana ini. Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.“Put! Cepat telpon pamanmu suruh ke sini. Ibu harus berangkat sebentar lag biar bisa lihat jenazah budemu.”“Hah? Aku. Bu?” aku menunjuk ke arah diri sendiri.“Iya. Cepetan!”“Ibu saja! Nih hapenya!” aku menyerahkan ponsel kepada ibu. Tak mungkin aku duluan yang menghubungi paman.“Kamu aja! Cepetan. Ibu mau beres-beres dulu!”Duh Gusti, bagaimana ini. Ibu benar-benar tak mau mengerti perasaanku.“Cepat puuuttt!!”“Iya!”Aku mengusap layar dan membuka aplikasi berwarna hijau dan mencari nomor paman. Rasanya ragu untuk menyentuhnya. Ja
“Oke, Paman tahu. Tapi setidaknya kau masih punya rahim dan bisa hamil. Jangan pernah meremehkan sesuatu yang berhubungan dengan nyawa, Putri!”“Sudahlah, Paman. Aku tak butuh nasehatmu! Yang jelas aku akan memakai jasa pengacara yang hebat untuk memberikan hukuman berat kepada mereka!”“Tapi Put ... ““Tolong, keluar! Aku ingin sendiri!”“Put! Paman seperti tak mengenal dirimu lagi! Hanya karena dendam kau sampai kehiangan jati diri dan juga hati nuranimu! Paman seperti tak mengenalmu lagi!”‘Tolong keluar, Paman! Aku ingin sendiri!” teriakku dengan kesal. Tanpa terasa airmata mengalir deras pada pipiku.“Baiklah! Paman hanya ingin kau menjadi putri yang dulu, yang penuh dengan cinta, kasih sayang. Bukan putri yang memenuhi dadanya dengan api dendam!”“Keluar, Paman! Keluar!!” aku menutup telinga dan tak mau mendengar nasihat apapun dariny
“I ... Iya Mbak Yu. A-ada apa?” tanya Paman degan terbata. Aku tahu kalau dia masih merasa canggung dengan kejadian tadi.“Radit dan keluarganya sekarang di mana?!”“Mereka sudah di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.”“Baguslah! Kau harus menghukum mereka seberat-beratnya!” ucap Ibu sembari mengepalakn tangan. Rupanya beliau masih terbakar emosi.“Itu bukan kewenanganku Mbak. Nanti pengadilan yang akan menghakimi mereka!” jawab Paman.“Huuch pokoknya aku mau ketemu sama mereka dan bakal tak uwes-uwes mereka nanti!” ucap ibu dengan gemas. Jelas saja dia tidak terima anaknya diperlakukan seperti ini.“Sudahlah, Mbak. Yang penting sekarang kita fokus untuk pengobatan Putri. Mereka sudah ada yang mengurusi!”“Ya sudah. Mbak mau ngurus administrasi dulu. Kamu tolong tungguin Putri dulu, ya!”‘Iya, Mbak! Tapi gak bisa l
Dan tak lama kemudian terdengar suara Radit menjerit sangat keras. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Suara bag big bug tak ada hentinya disertai suara jeritan ibunya Radit. Sepertinya paman sedang memukuli Radit dengan brutal. Syukurlah, paman selalu datang tepat pada waktunya.‘Tangkap mereka semua!” Paman memerintah kepada anak buahnya.Sepertinya terdengar penolakan dari Radit dan ibunya. Bahkan aku mendengar suara Radit yang terus memanggil nama istrinya. Aku yakin wanita itu pasti terluka parah, hingga membuat Radit berteriak histeris.Kemudian, aku merasakan tubuhku sedikit terangkat. Rupanya paman menaruh kepalaku di atas pangkuannya.“Putri! Bangunlah!” Paman menepuk-nepuk pipiku. Dia pasti sangat khawatir. Sebenarnya aku masih sadar dan mendengar semua aktifitas di sekitar. Hanya saja aku merasa seperti tak bertenaga. Bahkan untuk membuka mata saja rasanya tidak sanggup.Aku berusaha tetap bertahan. Namun lamba
Radit tahu kemana arah pandanganku. Seketika dia memasang badan untuk istrinya. Dan wanita itu juga bersembunyi di balik tubuh Radit.Rahangku mengeras menahan amarah. Entah apa yang terjadi denganku, sepertinya ada dorongan yang menyuruhku untuk melenyapkan janin yang ada di perut wanita itu. Hati kecilku memngatakan jangan, tapi bisikan itu sangat kuat dan mengalahkan perasaanku sebagai sesama wanita.Aku juga seperti tak bisa mengontrol tubuhku yang terus mendekat ke arah si pelakor yang masih ketakutan.“Berhenti, Putri! Jangan sakiti Neva! Dia tidak bersalah! Kalau kau mau membalas dendam balas saja kepadaku!” seru Radit berusaha menghentikanku. Namun kembali bisikan itu semakin kuat dan tak bisa terbendung.“Kau pikir aku tidak tahu kalau dia juga ikut pergi ke paranormal bersama ibumu! Dan yang lebih membuatku kesal adalah dia mempercantik diri dengan uangku yang kau curi! Dan kini aku ingin melihatmu dan juga ibumu menangis darah
“Berani sekali kau! Rasakan ini!” aku berusaha bangkit untuk menyerang si pelakor. Namun si Radit sialan kembali mendorongku hingga terjatuh.“Jangan berani menyentuh Neva atau kau akan tahu akibatnya!”” seru Radit sembari menunjukku. Jelas saja apa yang dilakukannya membuatku kesal.“Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?! Aku ingatkan, Kalian saat ini berada di posisi yang tidak aman. Jadi jangan bertindak bodoh atau kalian menginginkan hukuman yang lebih berat! Pintu gerbang penjara sudah di depan mata dan menanti kalian!” ancamku kepada Radit dan kroni-kroninya. Jelas saja hal ini membuatku makin kesal.“Aku tidak peduli dengan semua omong kosongmu. Sedikit saja kau menyentuh kulit Neva, kau akan menyesal!”“Aku tak takut dengan ancamanmu. Yang sangat membuatku menyesal hanya satu, yaitu pernah menjadi istrimu!”Radit mendengkus kesal. Lalu melangkah ke arah ibunya.Aku ban
“Aaacchh!”Terdengar suara teriakan dari ibunya Radit. Hal itu membuatku penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi di dalam sana. Namun saat aku hampir mencapai pintu, paman menarik lenganku dan membawaku untuk menjauh.Dengan kesal aku menepis tangan paman.“lepasin, Paman! Kenapa Paman menahanku?”“Jangan masuk ke sana! Itu bisa membahayakan dirimu! Di dalam sedang terjadi perkelahian!”“Iih, gak apa-apa. Lagian aku’kan cuma mau lihat ibunya Radit menjerit karena apa. Itu saja, kok!”“Kau lihat sendiri, Radit saja tidak berani masuk ke dalam! Dia berpikir untuk menyelamatkan dirinya sendiri! Jadi jangan nekad! Turuti kata-kata Paman!”Lebih baik aku pura-pura menurut saja. Tunggu saat Paman agak lengah, aku akan berlari menuju ke sana. Paman pasti takkan mampu mencegahku.Paman terlihat begitu waspada. Dia terlihat sedang menerima telpon dari seseorang dan m