Share

Bab 6

Author: Dina Dwi
last update Last Updated: 2025-03-07 02:11:28

"Kenapa ini bisa terjadi?" Akhirnya Fiona bisa bertanya ketika mereka duduk di sudut ruangan. 

Bunyi sesuatu yang seperti ledakan terdengar, Fiona yakin itu seperti suara hancurnya dinding sebelumnya. 

"Mutan Liar tidak akan melepas siapa pun yang pernah lolos hidup-hidup darinya. Anggaplah seperti binatang yang memburu mangsanya. Dan kita sekarang menjadi mangsanya." Vano menjawab pertanyaan Fiona. Keringat mengalir di wajahnya yang kusam namun karena yang paling muda wajahnya lebih terlihat seperti anak kecil. Imut sekali jika di perhatikan.

"Memangnya apa untungnya dia mengejar kita?" Fiona mengernyit.

"Kau benar-benar tidak tahu apa pun, ya?" Ema menimpali. Terdengar seperti Morgan yang menyindir karena nada datarnya.

Dalam hati Fiona cemberut. Aku kan lupa ingatan! Tapi entah kenapa Fiona tidak berani membalas Ema. Ia merasa segan. Lagipula Ema mungkin saja tidak berniat menyindirnya, Fiona mencoba berpikir positif karena tidak bisa menebak Ema.

"Sebelumnya, mutan inilah yang menyerang kami dan kau membantu kami karena kita bersama ke Sentral. Mutan Liar ini tidak sendirian, kami berhadapan dengan enam Mutan Liar lainnya." Sekali lagi Vano mengambil alih menjelaskan padaku.

"Lalu yang lainnya? Kemana keenam Mutan Liar lainnya itu?" tanya Fiona.

Fiona melihat Vano mengangkat alisnya dan tersenyum, hal yang mengejutkan untuk Fiona. Vano lebih sering ketakutan kali ini tersenyum? Tapi Fiona tidak bisa tersenyum membalasnya karena jawaban dari pertanyaannya.

"Kau membunuh mereka," jawab Vano.

Fiona membeku. Ia tidak bisa mengerti bagian mana, yang membuat Vano tersenyum. Sebaliknya Fiona merasa napasnya tertahan hingga akhirnya menarik napas dengan susah payah.

"Bohong, kan?" tanya Fiona pada Vano.

"Eh?" senyum di wajah Vano digantikan raut bingung.

"Aku membunuh?" gumam Fiona.

Vano dan Ema saling berpandangan. Lalu Ema kembali menatap Fiona yang menunduk dan akhirnya sadar. Sadar bahwa Fiona mendengar jawaban yang tidak menyenangkan. Mungkinkah Fiona merasa tertekan karena sudah pernah membunuh?

"Yah, jika kau tidak melakukannya mungkin kita semua tidak akan berada di sini." Ema menarik perhatian Fiona.

Benar, Fiona terguncang. Wajahnya bahkan memucat dan terlihat hampir sama dengan ekspresi Vano saat ketakutan.

"Karena Ter itu kuat dan Morgan itu pintar, mereka pasti bisa mengalahkan yang satu ini." Vano menimpali.

Ema memutar bola matanya mendengar itu. Vano tidak peka dengan yang terjadi pada Fiona.

"Hm, membunuh Mutan Liar adalah hal yang perlu dilakukan saat diincar oleh mereka. Itu untuk bertahan hidup. Berhadapan dengan mereka katakanlah kau membunuh atau terbunuh." Ema berkata lagi. Berniat meredakan rasa tertekan Fiona. Meski sebenarnya nada suara datarnya tidak membantu.

"Apa itu hal yang wajar?" Fiona bersuara.

Ema mengangkat sebelah alisnya, "Tergantung dirimu sendiri. Kau menyamakan ini seperti kebutuhan makan untuk bertahan hidup, itu terserah kau."

"Ya, menurutku ini sama seperti mengalahkan binatang buas yang menyerang kita saat berada di hutan lebat." Fiona mengerutkan keningnya dengan wajah yang masih tertekan.

Ema lagi-lagi mengangkat alisnya, "Kau bisa tahu tentang itu seolah pernah mengalaminya. Tidak, meski kau pernah mengalaminya, tapi saat ini kau 'kan lupa ingatan?"

Ah, yang dikatakan Ema memang benar-benar. Fiona bahkan kaget saat menyadari ini. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu seolah masih mengingat informasi tentang manusia. Ia juga bahkan merasa membunuh itu salah. Bagaimana bisa?

Tapi bukan itu masalahnya sekarang.

"Tapi, tetap saja. Mereka juga mahluk yang sama dengan kita."

Menurut Fiona, mereka sama-sama manusia. Atau sama-sama mutan?

*****

Morgan membantu Ter berdiri. Di depan mereka seorang pria menatap buas ke arah mereka. Di belakang, teman kelompoknya yang lain melarikan diri. Jadi apa kesimpulannya? 

Morgan balas menatap tajam ke depan. Di sampingnya, Ter juga ikutan menatap tak kalah tajamnya dengan Morgan. Sesaat mereka dan sang pria saling melempar tatapan tak bersahabat itu. Tapi ini bukanlah saatnya bermain siapa yang paling lama bertahan menatap tanpa berkedip.

Pria itu, mutan liar. Dan mereka berhadapan kembali. Morgan yakin, sebelumnya ia dan lainnya bisa melarikan diri tapi sekarang mereka harus berhadapan untuk yang kedua kalinya.

Dan kali ini ia dan Ter tidak akan melarikan diri. Yah, meski yang lainnya dengan seenaknya pergi meninggalkan ia dan Ter. Secara tak langsung mereka memberi pesan menyerahkan tugas untuk menghadapi si mutan liar.

"Aku bisa mengalahkannya hanya dalam beberapa detik." Morgan menggerakkan bibirnya mengatakan kalimat itu lalu tersenyum.

Di sebelahnya, Ter yang sudah melepaskan diri dari Morgan untuk berdiri sendiri tanpa bantuannya mendengus geli.

"Heh, tapi syaratnya kau harus menyentuhnya." Ter membalas.

"Ah, itu kekurangannya." Morgan masih tersenyum meski mengaku memiliki kelemahan.

"Jadi apa rencanamu?" Ter menyahut.

Morgan hendak menjawab tapi rupanya mereka tidak diberi kesempatan lebih oleh si mutan liar untuk mengobrol.

Sebenarnya mereka sudah melihat dengan jelas bahwa si mutan liar sedang bersiap menyerang sejak Ema melontarkan petirnya. Tapi mereka malah sedang menunggu serangan si mutan liar. Segera saja mutan itu mengirim anginnya untuk menghantam mereka seperti hembusan angin kecil tapi sangat kuat.

Kecepatan angin yang melesat hanya menyamai kedipan mata. Dengan sigap Ter mengerakkan tangannya ke depan lalu ke samping seolah mengibas kiriman angin si mutan liar yang datang.

Serangan angin si mutan liar menghilang. Bahkan angin di sekitar mereka berhembus pelan seperti tidak ada badai yang tadi hampir terjadi. Ter berhasil tepat waktu menahan serangan tadi.

"Meski aku petarung jarak dekat sedang berhadapan dengan petarung jarak jauh, tapi dengan adanya perisai sepertimu sudah dipastikan aku yang menang." Morgan berkata dengan halus seperti gumaman.

Ter mendengus lagi, "Bukan kau tapi kita."

Morgan mengangguk-angguk. "Yah, meski aku ingin melihat bagaimana angin melawan angin tapi saat ini perisai yang lebih dibutuhkan." 

Morgan menatap Ter yang menurut Ter sedang meremehkannya dan Morgan masih tersenyum kalem lalu melanjutkan, "Selagi aku berusaha mendekatinya yang harus kau lakukan adalah menahan serangannya. Itulah rencananya."

Ter geram, tak terima pada Morgan. Tapi ini bukan saatnya ia memukul kepala Morgan, meski sangat ingin itu bisa ia lakukan nanti. Bisa-bisanya Morgan memandang remeh padanya dan seenaknya menyuruh.

Sekarang mau tak mau ia mengikuti Morgan. Karena memang rencana itu sederhana sekali untuk genius seperti Morgan. Bersyukur rencana sederhana itu tidak seperti sebelumnya yang membuat Ter sering bertukar posisi dengan Gar karena rencana rumit dari genius Morgan.

"Artinya hanya kemampuanku saja yang diperlukan?" Ter memastikan. Morgan mengangguk sebagai jawaban, matanya kembali fokus ke depan.

Si mutan liar terlihat juga ikutan geram tapi jelas berbeda dengan Ter. Dia pasti merasa marah karena serangannya digagalkan.

Morgan bersuara, "Dia mendekat." 

Ter bergumam mengiyakan. Si mutan liar itu berjalan perlahan mendekat. Morgan dan Ter juga ikutan berjalan ke arah mutan liar itu. Perlahan langkah mereka berubah dari berjalan jadi berlari.

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Langit Merah   Bab 7

    "Ter!" Morgan berseru begitu angin tornado dilontarkan si mutan liar ke arah mereka. Jarang sekali ia berteriak tidak seperti biasanya yang sering berkata lembut."Berisik! Aku disampingmu! Kau bisa membuatku tuli." Ter merentangkan tangan kedepan. Angin tornado itu seketika menghilang saat mendekati tangannya.Mereka bisa berlari dengan sejajar karena Morgan butuh kemampuan Ter. Ter hanya bisa melindungi jika Morgan tidak jauh darinya.Tapi si mutan liar tidak berhenti disitu saja, dia mengeluarkan banyak serangan berkali-kali. Hal itu membuat Ter juga berkali-kali menetralkan serangannya. Ia mulai kelelahan padahal jarak mereka sudah dekat. Beberapa serangan yang tidak mengarah ke mereka berdua mengenai bangunan di belakang. Akibatnya, dinding bangunan itu dihiasi lebih dari satu lubang.Dan ketika Morgan dan Ter melompat ke arah mutan liar itu, seketika angin layaknya badai hurikan membentengi tubuh mutan liar itu.Ter tak sempat bertindak mencegah karena tidak memperkirakan serang

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 8

    "Sudah mulai senja. Ayo kita kembali saja," kata Gar yang tengah memegang seekor burung dan seekor tupai."Itu ide bagus." Vano tidak bisa menyembunyikan ras leganya."Berburu seperti ini memang tidak mudah. Tenaga yang keluar tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan," sahut Morgan yang tidak mendapatkan apa-apa."Tapi meski aku begini, kau itu ya?! Sudah tidak berusaha apa-apa, tidak tahu malu dan tidak merasa bersalah malah nyengir kalau waktunya kembali. Memangnya ini cukup untuk kita yang totalnya berlima?!" lanjut Morgan dan mengomel pada Vano."Kenapa marah padaku? Kan, Gar yang mengusulkan kembali karena sudah mulai gelap." Vano merenggut."He, kau memang tidak mengerti, ya. Kau juga bahkan hanya mengeluh terus. Kau malah jadi beban tahu. Sadarlah, hilangkan rasa takutmu yang berlebihan itu." Morgan memutar bola matanya teringat Vano yang terus-terusan gelisah saat mereka berburu tadi.Tapi mau bagaimana lagi, Vano tidak bisa mengendalikan pikirannya yang selalu memikirkan

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 9

    Dari awal memang Fiona merasa aneh dengan senyuman Ema. Biasanya gadis itu selalu menampakkan wajah datar. Sekalinya tersenyum ternyata ada makna tersembunyi. Dan lagi, Fiona lebih terkejut ketika tahu Ema keluar dari karakternya yang dikenal Fiona, apa maksud tindakan konyol Ema yang seperti itu tadi?"Ini yang kalian maksud?!" Vano berseru menatap seekor sapi hutan yang sudah mati. Matanya menatap Ema, meminta penjelasan."Yap, silakan dibawa. Itu tugasmu sekarang." Ema berkata dan tampak sengaja mengabaikan tatapan kesal Vano, Vano merasa kesal karena ketakutan pada hal seperti ini gara-gara Ema. Takut pada sapi hutan? Mata Vano jelas terlihat seperti sudah dikerjai dan tertipu."Jadi kau bisa melakukannya?" tanya Fiona memastikan. Karena ia dan Ema tidak bisa membawa sapi utuh itu.Vano tersenyum kecil, "Tentu saja, serahkan padaku."Vano merenggangkan kedua tangannya, lalu dengan tangan kurusnya itu, Fiona melihatnya mengangkat sapi itu."Wah!" Fiona tercengang. Awalnya ia tidak

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 10

    "Itu kesimpulanmu?" tanya Fiona."Yeah." Jawab Morgan."Baru kali ini aku menjumpai kemampuan Elektro gravitasi. Benar-benar gravitasi. Biasanya Elektro mengendalikan suatu unsur. tapi kau bisa lebih dari satu bahkan banyak unsur yang bisa kau kendalikan." Lanjut Morgan."Benarkah? Sehebat itu?" Tanya Fiona terkejut dengan kenyataan tentang kemampuannya itu. Morgan mengangguk.“Apa itu hal yang bagus?” tanya Fiona lagi.“Tergantung dari mana kau melihatnya.” jawab Ema tiba-tiba. Fiona segera mengalihkan perhatiannya pada Ema. Tapi Morgan bersuara lagi membuat Fiona memandangnya lagi.“Kemampuan yang hebat bisa melindungi tapi bisa juga mengundang bahaya untuk diri sendiri. Kau tahu banyak orang yang mengincar kemampuan yang hebat dan istimewa atau pun unik.”“Contohnya?” tanya Fiona.“Contohnya, mungkin Pusat Pemberdayaan? Mereka seolah terlihat baik karena mengarahkan para mutan untuk mengendalikan kemampuannya. Mereka membantu mengenali dan mengembangkan kemampuan mutan yang masih k

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 11

    Ema dan Fiona tidak lagi membicarakan tentang kemampuan seorang mutan. Mereka membicarakan tentang para lelaki di kelompok mereka yang saat ini sedang tertidur semuanya. Tentang bagaimana sifat mereka semua.Fiona dan Ema masih mengobrol ketika api dari kayu yang dibakar mulai mengecil dan hampir padam. "Kayunya sudah habis, ya." Kata Ema yang hendak menambah potongan kayu ke dalam api. Tapi sudah tidak ada, ia kembali duduk ke samping Fiona."Lalu bagaimana?" Tanya Fiona sembari menatap Ema dengan lebih teliti karena cahaya yang semakin berkurang.Ema terlihat berpikir tapi tidak menemukan jawaban untuk yang memuaskan pertanyaan Fiona."Mungkin kita harus mengandalkan pendengaran saja untuk berjaga." Kata Ema."Apa waktu terbitnya matahari masih lama?" Tanya Fiona lagi."Lumayan lama. Apa lagi kita berada di ruangan tanpa jendela yang terhubung langsung keluar. Cahaya matahari akan lebih lambat masuk menerangi ruangan." Jawab Ema."Sengaja memilih ruangan bagian dalam bangunan, kare

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 12

    “Tapi, bicara soal kategori kemampuanmu, kau termasuk kategori Elektro, bukan? Telekinesis?” tanya Gar pada Fiona.“Tapi aku tidak tahu mengeluarkan kemampuanku. Aku lupa aku termasuk kategori apa, apa lagi mengendalikan kemapuanmku. Aku tidak tahu.” Fiona membalas.“Mungkin kau hanya perlu pelatihan sedikit.” kata Ema. Gar mengangguk setuju.“Baik, aku akan mencobanya besok.” balas Fiona.Keesokan harinya Fiona dan Ema pergi ke sungai yang sama ketika mereka mengambil air untuk diminum. Kali ini mereka juga berniat sekalian mandi. Suara aliran air sungai membuat tenang suasana. Fiona berjongkok dan menggerakkan tangannya menyentuh air sungai yang tidak keruh namun juga tidak terlalu bening. Rasa dingin yang menyegarkan membelai tangannya.“Ada apa?” tanya Ema yang sedang membuka kancing kemejanya satu persatu.Fiona mendongak menatap Ema saat merasa dirinya ditanyai. Ia memandang Ema yang berdiri disampingnya, “Airnya dingin.”“Kau tidak suka?” tanya Ema lagi.Fiona menggeleng, “Aku

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 13

    Saat Fiona mendengar seruan dari remaja laki-laki yang menyuruh ia dan Ema untuk menunggu, ia justru bergerak cepat. Sama seperti Ema. Dalam hatinya ia berkata, mana mungkin kami menunggu, menunggu bahaya?! Yang benar saja.Saat Fiona dan Ema sudah naik ke permukaan, mereka terpaksa berhenti bergerak. Tubuh mereka langsung tertahan. Hal itu karena mereka berdua tiba-tiba terkurung di dalam pusaran air. Tidak salah lagi, ini adalah ulah salah satu dari mereka.“Sial, hanya mau ambil baju saja tidak bisa.” Ema menampakkan wajahnya geram.“Bagaimana ini?” tanya Fiona spontan dalam keadaan dikelilingi air yang berputar hingga menutupi pandangannya. Selain Ema, ia hanya bisa melihat air di sekelilingnya dan langit di atasnya.Meski airnya tidak jernih, tapi seharusnya masih bisa menampakkan apa yang ada di luar pusaran air. Namun karena gerakan airnya yang cepat membuatnya semakin buram. Fiona juga takut dengan kecepatan berputarnya, jangan remehkan bagaimana rasanya ditampar oleh air.“Ke

    Last Updated : 2025-03-07
  • Langit Merah   Bab 14

    Fiona melihat punggung Morgan yang berlari cepat. Sedangkan ia masih berdiri dan belum berpindah, lalu akhirnya ia terjatuh.Fiona bingung kenapa tubuhnya melemas, meski sebelumnya ia tidak yakin tubuhnya kuat tapi tanpa aba-aba ia hilang keseimbangan. Ia jatuh berlutut di tanah.Sekarang ia mengerti kenapa Morgan meminjamkan jaketnya. Pakaian yang menempel ditubuhnya sangat terbuka karena terbakar di bagian perutnya. Menampakkan atasan pakaian dalamnya.Fiona mengeratkan jaket Morgan yang besar tapi tidak terlalu tebal. Ia lalu bangkit berdiri, sejenak berpikir apa ia harus mengikuti Morgan atau memanggil Garter dan Vano.Ia tidak tahu bahwa ia baru saja lepas dari pengaruh kemampuan Penggerak Ketertiban Mutan kategori hipnosis.Fiona memutuskan berlari lagi, berlari ke arah yang berbeda dengan Morgan. Ia memutuskan memanggil Garter dan Vano.Padahal ia sudah berhasil bebas dari pengaruh dijebak dengan hipnotis untuk memanggil semua temannya, tapi Fiona justru melanjutkan keinginan P

    Last Updated : 2025-03-07

Latest chapter

  • Langit Merah   Bab 30

    "Ayah setuju jika saya pergi ke Pusat Pemberdayaan?" Vano menatap ayahnya tidak percaya.Padahal sebelumnya ayahnya sangat gigih tidak setuju jika Vano pergi. Dan Vano sudah berencana membuat dirinya pergi bahkan jika ayahnya tidak setuju. Tapi belum sempat Vano berbuat apa-apa ayahnya ternyata sudah berubah pikiran.Keesokan harinya orang-orang yang Vano duga sebagai orang dari Pusat Pemberdayaan datang ke rumah Vano. Mereka jumlahnya tiga orang sama seperti kemarin tapi orangnya tidaklah sama. Mereka berbeda dengan orang yang sebelumnya."Kami di beri tahu jika seharusnya anak anda dijemput kemarin. Tapi anda meminta waktu sehari untuk menundanya."Zack mengangguk saat salah satu tiga orang itu berbicara."Aku butuh waktu berpikir dan mempersiapkan segalanya. Karena tentu saja Vano butuh persiapan." Zack menaruh dua tangannya dibawah dagunya. Tatapannya sangat serius."Sebenarnya anda tidak perlu mempersiapkan apa-apa. Kami hanya diperintahkan untuk menjemput anaknya tanpa membawa b

  • Langit Merah   Bab 29

    Vano mencuri dengar dari balik pintu saat ayahnya berusaha keras untuk bernegosiasi pada orang-orang yang ingin membawaku. Aku tidak tahu harus merasakan apa, ayah bahkan mengatakan hal yang mustahil."Aku akan memilih penguji dan peneliti untuk anakku sendiri.""Maaf tuan Zack, anda tidak bisa melanggar aturan meski keluarga anda adalah keluarga besar. Ini adalah kewajiban semua masyarakat. Dan ini semua untuk kebaikan bersama. Bagaimana jika kemampuan anak anda muncul di saat yang tidak tepat? Maka sebelum itu terjadi kami harus membawanya. Tenang saja kami akan menjaga dan merawat mereka dengan baik. Anak anda akan kembali kepada anda lagi jika sudah mendapatkan perizinan. Dan itu biasanya tidak sampai bertahun-tahun. Bahkan ada yang hanya sebulan saja." Vano mendengar suara pria yang bersama ayahnya di ruang kerja ayahnya.Vano lalu pergi menjauh ketika merasa orang-orang berserta ayahnya hendak keluar ruangan. Tapi Vano tidak menjauh terlalu jauh. Ia bersembunyi di balik dinding

  • Langit Merah   Bab 28

    "Lalu.. bagaimana denganmu?" tanya Fiona dengan sedikit takut. Pandangannya kosong.Morgan tersenyum miring. Fiona mengeraskan wajahnya, "Kau benar-benar mau menjadi tawanan yang ditangkap?" sindir Fiona.Fiona mengepalkan tangannya. Ia yakin Ter dan Vano juga menegang saat ia mengatakan itu."Jangan bercanda. Kau ke Sentral untuk menjadi tawanan?!" ulangnya dengan marah. Fiona untuk pertama kalinya menampakkan wajah yang benar-benar murka. Morgan sampai terkejut melihat itu."Aku tidak punya tujuan, jadi.." Morgan mencoba menjelaskan."Jangan konyol," desis Ter menarik baju bagian atas Morgan hingga Morgan harus terpaksa melihat ekspresi Ter yang sama murkanya.Sedangkan Vano mengangkat wajahnya dan menatap Morgan yang sedang berdebat dengan temannya yang lain. Tarikan napas lebih keras dilakukan Vano. Saat Morgan menyinggung tujuannya ke Sentral. Tiba-tiba ingatan tentang masa lalu menyeruak di benak Vano.*****"Silakan," ucap seorang pria berumur tiga puluhan setelah menarik kursi

  • Langit Merah   Bab 27

    "Tidak perlu dilanjutkan lagi." Pemuda bermata biru itu menatap mereka berempat dan Viktoria dengan bergantian.Ia melewati Viktoria yang tidak bersuara. Viktoria hanya menatap dalam diam ketika ketua kelompoknya maju.Pemuda itu buka suara lagi. "Perkenalkan namaku Zayn. Dan yah, aku ketua dari kelompok ini. Pertarungan ini kita hentikan saja."Perkataan tiba-tiba seperti itu tentu saja mengejutkan. Morgan dan yang lainnya terkejut dengan permintaan Zayn. Bahkan Viktoria yang selalu tidak berekspresi menampakkan getaran di wajahnya."Kalian bisa pergi dan kami tidak akan mengganggu lagi." Zayn kembali melanjutkan.Fiona terkejut dengan mata sedikit melebar. Morgan menarik napas tiba-tiba tapi tidak langsung mengeluarkannya dan memilih menahan napas. Pikiran mereka saat ini mencoba menebak pikiran pemuda bermata biru itu.Pemuda itu tidak menampakkan ekspresi yang membuat mereka terancam. Itu ekspresi seperti mengalah. Tapi tetap saja tindakannya mengundang banyak pertanyaan."Jadi ka

  • Langit Merah   Bab 26

    "Aku tidak tahu ternyata kita bisa mengalahkan mereka dengan waktu secepat ini." Fiona buka suara di belakang Morgan."Sebelumnya kita kesusahan untuk menangkap mereka. Tapi kesempatan tidak terduga muncul. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang ada," balas Morgan."Tapi jika mereka punya kemampuan seperti itu, kenapa mereka tidak mengeluarkannya dari awal? Kenapa mereka tidak mengalahkan kita dari awal? Itu yang belum aku pahami." Morgan melanjutkan. Ia sedikit menebak alasannya tapi belum benar-benar yakin dengan tebakannya itu.Fiona meletakkan tangannya di bawah dagu tampak seolah sedang berpikir. "Apakah mereka butuh kekuatan lebih untuk melakukan itu? Dan mungkin itu akan menguras banyak energi mereka," tebak Fiona.Morgan mengangguk, "Itu juga yang aku pikirkan. Karena itu, saat mereka merasa sulit untuk mengalahkan kita maka saat itulah mereka harus mengeluarkan kemampuan itu." "Jadi mungkin saja mereka tidak akan menyerang dengan serangan yang melumpuhkan dalam sekej

  • Langit Merah   Bab 25

    Rino menyiapkan kedua telapak tangannya yang seketika mengeluarkan cahaya. Perlahan api mengumpul di telapak tangannya membentuk bola api yang semakin lama semakin membesar.Tak butuh peringatan, Rino melemparkan bola api dari kedua tangannya ke arah Helen. Helen tidak diam saja langsung mengeluarkan airnya.Aliran air muncul melindunginya dan Hans. Membentuk pusaran yang mengelilingi mereka dan mereka berdua berada di dalamnya. Rena melompat atau bisa dikatakan terbang ke atas pusaran dimana bagian atasnya terbuka dan menampakkan Hans dan Helen sedang berdiri diantara aliran air yang berputar.Yang membuat Fiona takjub adalah saat Rena melompat dengan kakinya yang mengeluarkan api. Rena terbang di udara dengan kaki yang terbakar. Dia mengingatkan Fiona dengan benda yang terbuat dari logam dan bisa terbang menembus udara menuju angkasa. Tapi Fiona tidak mau memikirkan itu sekarang. Ia terfokus dengan aksi mereka.Saat di atas udara, juga di atas pusaran air yang terbuka di tengahnya,

  • Langit Merah   Bab 24

    "Tumben kau biasa saja saat berhadapan dengan orang asing." Ter kembali mengajak Vano berbicara lagi.Vano meringis, "Setidaknya dia hanya kategori Raga. Jadi aku rasa dia sedikit tidak berbahaya."Ter mendengkus, "Yang benar saja. Kalau dia tidak berbahaya, bagaimana mungkin dia bisa bertahan setelah ku lempar tubuhnya mengenai batu, sampai-sampai batu besar itu hancur."Vano melebarkan matanya, "Eh, benarkah?"Vano segera memperhatikan sekitar gadis itu, musuhnya. Memang benar. Ada beberapa potongan batu di belakang gadis itu."Hm," Vano memiringkan kepalanya. "Tapi itu wajar saja menurutku. Soalnya dia kategori Raga, kan? Tubuhnya tentu saja lebih kebal. Aku juga tahan benturan, kok."Ter melihat Vano seolah kepalanya tumbuh dua."Dari dulu aku tidak paham. Kenapa di saat bahaya tidak mungkin terjadi, kau ketakutan setengah mati. Tapi saat bahaya yang jelas seperti ini, kau justru biasa saja. Kalau begitu kenapa kau ketakutan saat kau tahu tubuhmu itu juga kuat?" Ter terperangah me

  • Langit Merah   Bab 23

    Fiona membuat dinding tanah yang kokoh sebagai tameng dari serangan balasan dari Hans yang sedang berdiri di batang pohon. Fiona sudah memperkuat strukturnya supaya tidak mudah dihancurkan serangan es dari musuhnya itu."Fiona, di sebelah kiri!" Morgan berseru memperingati Fiona. Jangan lupakan musuh pengendali air juga ada di sini.Berkat itu, Fiona mengubah bentuk dinding yang tegak menjadi kubah yang menutupi mereka. Seketika pandangan Morgan menjadi gelap. Mereka berdua terkurung di dalam."Rasanya kesal sekali," kata Morgan disela-sela gemuruh suara yang terdengar dari kubah tanah yang bergetar. Tampaknya musuh mereka mencoba menghancurkan tanah yang melingkupi mereka.“Hei. Apa hanya ini yang bisa kau lakukan?” tanya Morgan.“Apa?” Fiona terkejut mendengar pertanyaan Morgan yang terkesan meremehkan.“Setahuku kemampuanmu itu telekinesis. Aku terkejut kau bisa mengendalikan tanah. Tapi jika kemampuan telekinesismu menghilang mungkin akan sulit untuk mengalahkan mereka.” Morgan m

  • Langit Merah   Bab 22

    Kehidupan Garter yang keras berubah karena kecelakaan yang dialaminya. Saat umurnya sudah sepuluh tahun, saatnya anak sepertinya diantar ke Pusat Pemberdayaan. Karena anak yang diantar bukan hanya Garter. Mereka harus naik ke mobil angkutan khusus. Mirip mobil boks tapi bak tertutupnya dilengkapi kursi untuk beberapa orang.Dan lagi ternyata anak-anak yang diantar bukan hanya dari panti asuhan dimana Garter berasal. Mereka juga menjemput anak-anak dari panti asuhan lain dan membawanya ke Pusat Pemberdayaan.Saat berhenti di sebuah panti asuhan, Garter yang sudah duduk bersama beberapa anak di dalam mobil mendengar sesuatu. Mereka tidak diperbolehkan untuk keluar. Makanya mereka tidak bisa melihat bagaimana pemandangan panti asuhan. Apakah sama seperti panti asuhan mereka atau lebih bagus lagi?"Apa yang terjadi?" Anak di depan Garter bertanya entah pada siapa. Posisi duduk mereka saling berhadapan dengan Garter berada di ujung dalam mobil. Berbatasan dengan logam yang memisahkannya d

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status