Pagi ini, Hasan duduk di ruang tamu sambil membaca koran. Suasana rumah terasa tenang, tapi ia tahu ini tidak akan bertahan lama, dan benar saja, dari dapur terdengar suara Rosa memanggilnya dengan nada ceria."Mas! Mas Hasan!"Hasan melipat koran dan berjalan ke dapur, menemukan Rosa berdiri di depan lemari es sambil memegang sesuatu. "Ada apa lagi, Sayang? Kok manggilnya semangat banget?"Rosa memutar tubuhnya, memperlihatkan toples besar berisi acar. "Mas, aku punya ide bagus!"Hasan mengerutkan kening. "Ide apa lagi, Sayang? Jangan bilang ini soal ngidam lagi."Rosa tersenyum lebar. "Iya, Mas. Tapi kali ini sederhana kok. Aku cuma pengen makan acar ini bareng es krim."Hasan melongo. "Acar sama es krim? Astaga, Sayang. Itu kombinasi makanan atau eksperimen laboratorium?"Rosa terkikik kecil. "Eksperimen makanan lah, Mas. Ayo, temenin aku beli es krim sekarang!"Hasan menggeleng sambil tertawa. "Oke, baiklah. Tapi kalau nanti perut kamu bermasalah, jangan salahkan aku, ya."Tak lam
Hasan menaikkan alis, meletakkan bukunya di meja samping tempat tidur. "Tentang apa, Sayang? Ada yang mengganggu pikiranmu?"Rosa menggeleng pelan. "Enggak, Mas. Aku cuma ... merasa bersyukur aja.""Kenapa tiba-tiba bersyukur? Kan kamu sudah punya aku," candanya sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.Rosa tersenyum, lalu duduk bersila di atas tempat tidur. Ia menatap Hasan dengan serius, membuat lelaki itu ikut duduk, merasa perlu mendengar dengan lebih fokus."Mas, kamu tahu nggak? Dari semua yang aku miliki sekarang, kamu adalah hadiah terbaik yang pernah Allah kasih buat aku," ucap Rosa dengan suara pelan tapi penuh kejujuran.Hasan tertegun, tidak menyangka istrinya akan mengatakan hal seperti itu. "Sayang, kok ngomongnya serius banget? Kamu lagi kenapa?""Aku cuma mau bilang ... aku benar-benar bahagia bisa hidup sama kamu, Mas," lanjut Rosa sambil tersenyum. "Aku tahu aku sering bikin kamu capek, permintaanku kadang nggak masuk akal. Tapi kamu selalu sabar, selalu ad
Hasan baru saja berdiri dari tempat tidur, tangannya meraih jaket yang tergantung di kursi dekat meja. Wajahnya tampak serius, lebih serius dari biasanya."Sayang, aku harus pergi. Ini penting," katanya tergesa, sambil berusaha mengenakan jaketnya.Rosa yang masih bersandar di tempat tidur segera bangkit. "Mas! Mau kemana? Sekarang sudah hampir jam sebelas malam!" serunya, nada cemas mulai terdengar dalam suaranya."Di kantor ada masalah besar. Tadi Pak Iwan telepon. Kalau dia sampai menghubungi jam segini, pasti ini urusan mendesak," jawab Hasan sambil melangkah ke pintu.Rosa buru-buru turun dari tempat tidur, menghampiri suaminya, dan berdiri di depannya. "Tunggu, Mas! Ini aneh!""Aneh gimana, Sayang? Masalah kantor itu bisa terjadi kapan saja," balas Hasan dengan nada yang mencoba menenangkan."Tapi ini malam, Mas! Siapa yang masih di kantor jam segini? Apalagi Pak Iwan! Bukannya dia biasanya juga pulang lebih awal?" Rosa menatap Hasan dengan mata yang penuh kekhawatiran.Hasan te
Hasan berdiri terpaku di depan pintu. Pak Iwan berdiri di sana, mengenakan jas hujan hitam yang basah kuyup, meskipun di luar tidak ada hujan. Wajahnya pucat, dan matanya... ada sesuatu yang salah dengan matanya. Mata itu kosong, seperti tidak memandang apa pun, meskipun ia jelas-jelas menatap ke arah Hasan."Iwan?" Hasan akhirnya memecah kesunyian, suaranya bergetar.Rosa berdiri beberapa langkah di belakang Hasan, tangannya gemetar memegangi sudut baju suaminya. "Mas, tutup pintunya," bisiknya, nadanya hampir tak terdengar.Namun, Hasan tidak bergerak. Ia terlalu terkejut melihat keadaan Pak Iwan yang tampak tidak seperti biasanya. Wajah lelaki paruh baya itu bukan hanya pucat, tetapi juga penuh dengan guratan lelah dan ... ketakutan?"Pak Hasan ...," suara Pak Iwan terdengar berat, seperti sedang menahan sesuatu. "Tolong ... jangan biarkan mereka masuk."Hasan mengerutkan dahi. "Mereka? Siapa, Wan? Maksud kamu apa?"Pak Iwan tidak menjawab. Sebaliknya, ia melangkah maju, tubuhnya h
Hasan menggenggam erat tangan Rosa, bersiap untuk membuka pagar belakang dan berlari sejauh mungkin dari segala keanehan ini. Tapi tiba-tiba, Rosa menghentikan langkahnya."Mas! Chika!" Rosa berseru dengan napas tertahan, matanya melebar penuh rasa panik.Hasan berhenti mendadak, berbalik menatap Rosa dengan bingung. "Apa maksudmu, Sayang?!""Chika masih di kamar atas! Kita nggak bisa ninggalin dia, Mas!" Rosa hampir menangis. Wajahnya dipenuhi rasa bersalah dan cemas.Hasan mematung. Dalam ketakutan yang melanda, ia sampai lupa bahwa keponakannya yang masih kecil itu sedang tertidur lelap di kamar. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan diri, meskipun situasi di luar kendali."Baik. Kita ambil Chika sekarang," ujar Hasan tegas. "Tapi kita harus cepat. Apa pun itu, mereka mungkin sudah tahu kita ada di sini."Hasan menarik tangan Rosa, membimbingnya kembali masuk ke rumah melalui pintu belakang. Mereka melangkah perlahan, berusaha tidak membuat suara, meskipun jantung mereka berdegup k
"HASAN! CHIKA! LARI!" Rosa menjerit histeris sambil meronta-ronta di sudut kegelapan malam. Sosok-sosok hitam itu semakin mendekat, mengepung mereka bertiga tanpa memberi ruang sedikit pun untuk melarikan diri. Cahaya terang menyilaukan perlahan menyelimuti seluruh ruangan, seperti sedang menunggu untuk menelan mereka. Rosa menggigil, tubuhnya terasa beku, keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya. Chika memeluknya erat, menangis tersedu-sedu di balik punggungnya. Hasan berdiri di depan mereka, melindungi dengan tubuhnya yang gemetar."Rosa, aku di sini! Aku akan melindungimu! Jangan takut!" Hasan berteriak lantang, suaranya serak oleh rasa takut yang ia coba sembunyikan. Namun, dalam hati, ia tahu dirinya juga tak berdaya. Sosok-sosok itu semakin dekat, suara napas berat mereka mengisi udara, membuat Rosa merasa seperti dicekik.Cahaya itu semakin terang, kini hampir menyentuh kaki Hasan. "HASAN, JANGAN BIARKAN KAMI SENDIRI!" Rosa menjerit lagi, namun kali ini suaranya terdengar
Tok... Tok... Tok...Hasan membuka pintu kamar perlahan, napasnya tertahan. Apa pun yang ada di balik pintu ini, ia harus siap. Ternyata, saat pintu terbuka, berdiri seorang wanita yang ia kenal baik—Bi Sumi, asisten rumah tangga mereka. Wajah Bi Sumi pucat, matanya merah dan basah seperti habis menangis. Ia terlihat gelisah, menggenggam erat tas kecil di tangannya."Bi Sumi?" Hasan memecah keheningan. "Ada apa malam-malam begini?"Bi Sumi mengangguk pelan sambil menunduk. "Maaf, Pak Hasan, saya mengganggu malam-malam begini. Tapi saya baru saja mendapat kabar dari kampung... Ibu saya meninggal dunia." Suaranya bergetar, hampir terisak. "Saya harus pulang malam ini juga. Maaf kalau ini mendadak."Hasan terkejut. Wajahnya berubah dari tegang menjadi penuh simpati. "Astaghfirullah... Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Bi, saya turut berduka cita. Tentu, Bi, silakan pulang. Saya akan bantu pesan kendaraan."Mendengar suara Hasan yang penuh empati, Rosa yang penasaran dengan apa yang ter
Hasan menghela napas panjang, lalu menarik Rosa kembali ke dalam rumah. "Mungkin kamu masih terpengaruh mimpi buruk tadi, Sayang. Sudahlah, kita masuk. Besok pagi pasti semuanya terasa lebih baik."Meski Rosa mengangguk, ia tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa ganjil yang melingkupinya. Ia melirik ke arah pintu sekali lagi sebelum akhirnya masuk, bertanya-tanya apakah malam ini benar-benar sudah selesai.***Rosa menatap langit-langit kamar setelah Hasan membawanya masuk. Rasa gelisah masih menghantui pikirannya. Mimpi buruk tadi terlalu nyata, seakan-akan ia benar-benar mengalami setiap detiknya. Namun, Hasan berusaha menenangkannya."Rosa, coba tarik napas dalam-dalam," ujar Hasan sambil mengusap lembut punggung istrinya. "Apa pun yang tadi kamu rasakan, itu cuma efek mimpi. Kita di sini aman, semuanya baik-baik saja."Rosa mengangguk kecil, mencoba meyakinkan dirinya bahwa Hasan benar. Tapi rasa berat di dadanya masih ada. Sejenak ia duduk di tepi ranjang, memandangi Hasan yang
Suara sepatu para petugas berseragam bergema di dalam apartemen kecil itu, menciptakan ketegangan yang semakin menyesakkan. Lampu gantung berayun pelan akibat pintu yang didobrak paksa beberapa detik sebelumnya. Hasan berdiri kaku, wajahnya penuh amarah, sementara Mia berusaha keras mempertahankan ketenangannya.Rosa melangkah masuk, senyumnya lebar, namun dingin. Tatapan matanya menyorot tajam, seolah mengukur setiap inci dari ekspresi Mia dan Hasan. Di belakangnya, dua petugas tetap siaga, senjata mereka mengarah tanpa goyah."Kau pikir bisa mengendalikanku, Mia?" Rosa berkata pelan, hampir berbisik, namun cukup jelas untuk membuat ruangan itu terasa lebih dingin.Mia mendongak, menatap Rosa tanpa gentar. "Aku tidak pernah mencoba mengendalikanmu, Rosa. Aku hanya memastikan kau tidak bisa mengendalikanku."Rosa tertawa pelan, langkahnya mendekat hingga berdiri hanya beberapa meter dari Mia. "Kau pintar. Itu yang membuatmu menarik. Tapi sayangnya, permainan ini bukan tentang siapa ya
Suasana di ruang kerja Hasan begitu tegang hingga udara pun terasa berat. Lampu gantung bergoyang pelan, menciptakan bayangan samar di dinding, seolah menjadi saksi bisu dari pertemuan yang penuh intrik ini.Mia berdiri tegak di depan Rosa dan Hasan, sorot matanya tajam seperti pisau yang siap menebas. Dengan penuh keyakinan, dia melempar flashdisk kecil ke atas meja. Bunyi benturan kecilnya terdengar nyaring di ruangan yang hening, membawa pesan yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata.“Di dalamnya ada semua bukti untuk menghancurkan kalian,” ucap Mia, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Tapi aku tidak datang untuk mengancam. Aku datang untuk membuat kesepakatan.”Rosa mengangkat alisnya, lalu tertawa pelan. Suaranya bergema lembut di ruangan itu, namun ada nada tajam yang tersembunyi di balik tawa itu. "Kesepakatan? Kau pikir kau masih bisa mengendalikan permainan ini, Mia?" Dia melangkah pelan mendekat, tatapan matanya menusuk. "Kau lupa siapa yang memegang kendali."Mia tak b
Mia menatap punggung Rosa dan Hasan yang perlahan menghilang di balik pintu gudang. Napasnya terengah, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena beban pikiran yang menghimpit dadanya. Ruangan itu terasa semakin sempit, meski hanya dia dan dua pria berjas hitam yang masih berdiri di sana. Mereka mengawasinya seperti dua bayangan gelap tanpa emosi.Mia mengusap keringat di pelipisnya, mencoba menenangkan diri. Ini belum selesai. pikirnya. Justru permainan baru saja dimulai.Keesokan harinya, Mia kembali ke rumah sakit tempat Farid dirawat. Aroma antiseptik menyambutnya saat ia melangkah di koridor yang sunyi. Langkah kakinya mantap, meski di dalam hatinya berkecamuk badai. Farid masih terbaring lemah di ruang perawatan VIP, infeksi alat kelaminnya membuatnya tak berdaya.Saat Mia membuka pintu kamar, Farid menoleh pelan. Wajahnya pucat, namun matanya penuh kecurigaan.“Kau datang lagi,” gumam Farid dengan suara serak.Mia memaksakan senyum, mendekatinya sambil membawa nampan kecil
Pintu gudang terbuka lebar, dan di ambang pintu berdirilah Rosa, menatap mereka dengan ekspresi dingin namun penuh kemenangan. Dua pria berjas hitam berdiri di belakangnya, wajah mereka tanpa emosi."Lama tidak bertemu, Mia."Mia membeku. Jantungnya berdegup kencang saat ia mencoba membaca situasi. Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah perang.Hasan berdiri di sebelah Mia, ekspresinya tak terbaca. Dia tampak tenang, tapi Mia tahu otaknya pasti sedang bekerja keras mencari jalan keluar.Rosa melangkah masuk, suara sepatu hak tingginya menggema di dalam ruangan. “Aku sudah menunggumu, Mia. Aku tahu cepat atau lambat kau akan mencoba melarikan diri.”Mia mencoba tersenyum tipis, meski dalam hatinya dia tahu dia sedang dikepung. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Rosa.”Rosa terkekeh, matanya bersinar tajam. “Kau tidak perlu berpura-pura. Aku sudah menyelidikimu sejak awal.”Mia menelan ludah, tapi dia tetap menjaga ketenangannya. “Lalu kenapa kau tidak langsung bertindak?”R
Mia menatap Hasan dengan napas tertahan. Ruangan itu terasa semakin sempit, udara semakin berat. Hasan masih menggenggam ponselnya, suara di seberang menunggu jawabannya.“Serahkan Mia, dan kita bisa menyelesaikan ini tanpa perlu darah.”Mia menelan ludah. Ini adalah saat yang menentukan.Hasan menutup matanya sesaat, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Tidak semudah itu.”Mia nyaris tidak bisa percaya. Dia… membelanya?Orang di seberang telepon tertawa pelan. “Kau masih terlalu lunak, Hasan. Ini bukan soal seberapa mudah atau sulitnya. Ini soal kepentingan. Kau tahu siapa yang ada di balik semua ini, kan?”Hasan tidak menjawab, hanya mengepalkan tangan.Mia merasakan ketegangan di ruangan itu semakin meningkat. Ini lebih besar dari yang dia bayangkan.Suara di telepon melanjutkan, lebih dingin dari sebelumnya. “Kau punya waktu sampai besok pagi. Jika kau tidak menyerahkannya, aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian berdua.”Klik. Sambungan terputus.Mia mencoba m
Hujan mulai turun, rintik-rintiknya membasahi wajah Mia saat dia berdiri di hadapan Hasan. Tangannya masih dalam cengkeraman kuat pria itu. Nafasnya berat, pikirannya berpacu mencari cara keluar dari situasi ini.Hasan menatapnya tajam, matanya penuh kemarahan yang terpendam. “Katakan, Mia. Semua yang kau rencanakan.”Mia bisa saja berbohong. Dia sudah sering melakukannya. Tapi kali ini, dia tahu kebohongan tidak akan menyelamatkannya.“Aku…” Mia menelan ludah, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Aku memang mendekati Farid karena alasan tertentu. Tapi itu bukan karena aku ingin menyakitinya.”Hasan tersenyum sinis. “Benarkah? Kau ingin aku percaya bahwa kau mendekati kakakku dengan niat baik?”Mia menarik napas dalam. “Awalnya aku hanya ingin mendapatkan kepercayaan Farid… untuk bisa lebih dekat dengan keluargamu.”Hasan menggelengkan kepala, ekspresinya semakin mengeras. “Dan setelah itu? Apa kau berencana menipu kami? Mengambil uangku?”Mia tidak menjawab, tapi tatapan Hasan sem
Taksi melaju melewati jalanan kota yang diterangi lampu jalan remang-remang. Mia duduk di kursi belakang, jari-jarinya gemetar saat dia menggenggam ponselnya. Pesan yang baru saja dia terima terus berputar di pikirannya.“Kau sudah membuat pilihan yang salah, Mia. Sekarang giliran kami yang bermain.”Siapa yang mengirim pesan itu? Apakah mereka sudah menemukan Marco?Mia menoleh ke luar jendela dan merasakan ketakutan merayapi tulangnya. Sebuah mobil hitam tampak mengikuti taksinya sejak tadi. Tidak ada sirene, tidak ada tanda-tanda mencolok, tetapi nalurinya tahu—mereka sedang diawasi.Sial.Dia tidak bisa langsung kembali ke rumah dan bertemu Marco. Jika dia membawa mereka ke sana, itu sama saja seperti menyeret Marco ke dalam bahaya.Dia harus berpikir cepat.Mia bersandar ke depan, berbicara dengan sopir taksi dengan suara tenang tapi mendesak. “Pak, bisa belok ke jalan kecil di depan sana? Saya harus turun di tempat lain.”Sopir itu menatap Mia sekilas melalui kaca spion, tampak
Mia tahu dia harus bertindak cepat. Situasi di restoran ini semakin berbahaya, dan Marco baru saja memperingatkannya tentang sesuatu yang lebih buruk. Tapi sebelum dia bisa berpikir jernih, Rosa sudah mengambil langkah lebih dulu.Dua pria berjas hitam memasuki restoran, wajah mereka datar dan serius. Keamanan restoran. Rosa melirik mereka dan memberi isyarat halus.“Mia,” Rosa berkata dengan suara pelan namun tegas, “Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekati suamiku, tapi aku akan memastikan kau tidak bisa melakukan apa pun lagi.”Mia menatap Hasan, berharap pria itu akan membelanya. Tapi Hasan hanya diam, wajahnya penuh kebingungan. Mia tahu, kepercayaannya mulai runtuh.Sial.“Maaf, Bu,” salah satu petugas keamanan berkata sopan, “Kami mendapat laporan bahwa ada tamu yang mengganggu di sini. Kami harus meminta Anda pergi.”Mia menguatkan dirinya. Dia tidak bisa panik sekarang.Dia tersenyum kecil, menampilkan wajah polosnya. “Saya tidak mengerti apa maksud Anda. Saya hanya sedang makan
Mia merasa kendali ada di tangannya. Hasan mulai terperangkap dalam pesonanya, dan Farid semakin bergantung padanya. Meski Rosa sudah mulai curiga, Mia yakin dia bisa mengatasinya. Namun, di balik rencana yang sempurna, ada sesuatu yang Mia tidak duga—sesuatu yang bisa menghancurkan semuanya dalam sekejap.Dua hari setelah pertemuan dengan Rosa, Mia menerima pesan dari Hasan.(Mia, bisa kita bertemu di luar rumah sakit? Aku ingin mengobrol denganmu tanpa ada orang lain.)Mia tersenyum tipis. Ini lebih cepat dari yang ia perkirakan. Dengan cepat, ia mengetik balasan.(Tentu, Pak Hasan. Kapan dan di mana?)(Besok malam, di restoran La Belle di pusat kota. Aku ingin mengenalmu lebih jauh.)Restoran mewah. Tanda bahwa Hasan mulai melihatnya lebih dari sekadar suster kakaknya. Mia tidak bisa menahan rasa puas yang menjalar dalam dirinya.Namun, saat ia menutup ponselnya, suara dingin Marco terdengar dari belakang.“Kau mulai bermain di luar rencana.”Mia menoleh dengan malas. “Aku tidak be