"Bu,--" "Jangan kamu pikir karena istrimu yang membiayai acara pengajian Ibu besok, kamu jadi seenaknya berulah! Tidak, Hasan! Aku ini Ibumu! Aku yang melahirkanmu! Tidak pantas kau membentakku hanya karena wanita ini!" cecar Bu Wati, tatapannya sinis memandang Hasan, dan juga Rosa yang berdiri di hadapannya. "Astagfirullah, Bu,--" Lagi ... Hasan mau menjelaskan, tetapi dengan cepat Bu Wati menyangkalnya. "Halah! Sudah, tidak usah mengomel! Sana cuci piring ajak istrimu! Ibu capek seharian masak nggak ada yang bantu!" 'Salah Ibu sendiri, udah tau cuma pengajian biasa, gaya banget pake nyuguhin banyak makanan, kayak mau lamaran aja, eh giliran acara lamaranku kemarin, makanannya bisa di hitung!' Rosa menggerutu dalam hati. Ia pun melenggang pergi begitu saja tanpa memperdulikan omelan sang mertua. Rosa melewati Farid, dan juga wanita bertubuh gempal yang tengah duduk di sofa usang itu, tetapi sebelum langkahnya berhasil melewati mereka, calon istri iparnya itu berdiri, dan meneg
Air mata itu keluar begitu saja tanpa permisi. Rasanya sakit, benar-benar sakit. Tiara melirik putri kecilnya yang tengah asyik beramin di atas kasur. Usianya baru dua tahun, bila perceraian terjadi ... alangkah malang nasib anak itu. "Tega kamu khianati aku, Mas! Sebelas tahun aku bersabar hidup miskin bersamamu! Sekarang kamu punya jabatan, jadi seenaknya mempermainkanku! Tunggu, Mas ... tunggu saja! Tidak akan ku biarkan dia memilikimu!" gumam Tiara, ia menghapus jejak air mata dari wajahnya, dan beranjak dari sana. Tidak, bukan untuk melabrak suami, dan calon madunya, tetapi Tiara ingin mengumpulkan sesuatu sebelum dirinya melakukan aksinya.Sedangkan di ruang tamu, "sttttt ... jangan bilang-bilang nanti ada yang dengar!" kata Farid seraya celingukan. Rumah ini begitu sepi, ia pun penasaran kemana sosok istri bawelnya. Mengapa dari tadi tak terlihat batang hidungnya, sedang pertengkaran sudah terjadi, biasanya Tiara maju paling depan. "Ya biarin, Bang. Toh, pada akhirnya kita b
"Bukan begitu, Sayang ...," kata Farid, entah mengapa dadanya brgitu sesak mendengar penuturan dari istrinya. "Lalu?" Tiara menatap lekat manik mata itu. Manik mata yang di kira suci, ternyata mampu menyimpan seribu kedustaan. "Sebelas ... sebelas tahun kita sudah bersama, Dek." "Hanya itu yang kamu ingat, Mas?" tanya Tiara. Farid tak mampu berkata, ia masih membaca situasi, sebenarnya kemana arah pembicaraan ini."Sebelas tahun kita bersama dalam ikrar suci pernikahan, lalu masa sebelum menikah? Bukankah kita lama berpacaran? Jadi berapa tahun kita sudah bersama, Mas?" "Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan, Dek. Langsung saja, jangan berbelit-belit begini!" kata Farid. Tiara pun tersenyum, dan semakin dalam menatap manik mata itu, "aku hanya bertanya, Mas. Mengapa kamu jadi marah begini?" kata Tiara yang tak mau kalah. "Sudahlah, aku lelah!" Farid mengakhiri obrolan ini, ia menarik selimut lalu memejamkan matanya, tanpa memperdulikan wanita yang ada di sebelahnya. "Kamu lel
Lalu disini, siapa yang salah? Farid kah? atau Tiara? Farid yang selingkuh karena bosan dengan istrinya, dan Tiara yang murka karena di selingkuhi suaminya. Keduanya sama-sama salah, semua bisa terjadi karena renggannya komunikasi. "Aku tidak pernah menyesal telah memotong barangmu, Mas! Yang membuatku menyesal, mengapa harus aku melawan orang tuaku hanya untuk menikah denganmu, bila akhirnya kita harus seperti ini!" omel Tiara di sepanjang jalan. Kakinya terus melangkah tak tentu arah. Entah kemana tujuannya sekarang, yang pasti dia ingin segera menjauh dari kampung ini, kampung yang sudah sebelas tahun menjadi tempatnya bernaung. "Mama," panggil Chika, gadis kecil itu baru tersadar dari tidur panjangnya. "Kenapa sayang?" sambil menggendong anaknya, Tiara terus berjalan dengan langkah cepat menelusuri gelapnya malam. "Chika kenapa di gendong, Mamah? Kita mau kemana?" tanya bocah dua tahun itu. "Kita mau ...," lama Tiara menggantung ucapannya, sebab ia pun tak tahu harus kemana,
Pak Bowo yang sejak tadi diam di dalam kamar, kini keluar karena mendengar pertengkaran anak, dan menantunya tak kunjung usai. Tak ada yang ingin di bela, Pak Bowo hanya tidak enak bila suara mereka terdengar hingga ke rumah tetangga sebelah. Apa kata mereka nanti? tengah malam begini masih saja bertengkar. "Apa yang kalian peributkan! Kalau Rosa tidak mau meminjamkan motornya, sudah! Jangan di paksa. Pakai motor yang ada, usaha dulu, bagaimana caranya hingga motor itu hidup!" kata Pak Bowo sambil membetulkan sarung yang ia kenakan. "Kamu ini, Pak! Sudah tahu anak sekarat masih saja membela Rosa! Bagaimana kalau Farid mati?" sahut Bu Wati. "Mati ya sudah, Buk. Mau di apain? Berarti memang sudah ajalnya, mana bisa kita hentikan," jawab Pak Bowo, lalu melenggang keluar menuju motor yang sejak tadi di engkol Hasan tetapi tak kunjung hidup. Bu Wati tercengang mendengar penuturan suaminya. Lelaki yang sudah berpuluh tahun menjadi pendamping hidupnya itu tak ubah sedikit pun tata, dan c
"Hasan benar, Bu. Jika kamu terus protes, anak kebanggaanmu ini bisa-bisa jadi mati sungguhan," sahut Pak Bowo sambil berjalan mendekati anak, dan istrinya yang tengah berkumpul di dekat mobil pick up itu."Bapak ini! Lihat, bagaimana mungkin Farid tidur di tempat kotor begini!" "Ya nggak masalah, Buk. Mau pake apa lagi? Motor nggak ada yang mau nyala, alhamdulillah Mas Tohir pulang. Sudahlah, yang penting Farid bisa sampai rumah sakit!" Dengan wajah masam nan pasrah akhirnya Bu Wati merelakan putra kebanggaannya tidur di tempat bekas sapi. Betul kata suaminya, tidak ada pilihan lain. Dari pada menunggu motor yang entah kapan menyala, lebih baik pakai yang ada dulu. Meskipun ... itu bekas sapi, dan banyak kotoran sapi. "Siapa yang akan menemaninya di rumah sakit?" tanya Pak Tohir sebelum berangkat. "Ya kamu, Hir. Siapa lagi?" "Saya? Yang benar saja? Saya baru pulang, lagian saya cuma tetangga, yang wajib itu kalian! Dasar keluarga aneh!" gerutunya lalu masuk ke dalam mobil pick
🌻KEJADIAN MALAM PURNAMA🌻 Brakkkkkk! Suara pintu di dobrak cukup mengagetkan Pak Bowo, dan istri serta ketiga putranya yang tengah bersantai di ruang tamu sambil menyaksikan acara TV. Kedatangan tamu tak di undang itu sangat mengganggu ketenangan beliau. Pak Bowo, Bu Wati, Farid, Rohim, maupun Hasan, secara bersamaan mengalihkan pandangannya ke daun pintu yang sudah tak berbentuk akibat di buka paksa, dan menanti siapa yang datang dengan cara tak sopan malam-malam begini. "KELUAR KALIAN!" Pekik lelaki itu, nafasnya memburu seperti kerasukan set*n. "Ada apa ini, Pak?" tanya Bu Wati, wajahnya pias karna cemas. Belum sempat Pak Bowo beranjak dari tempat duduknya, si pembuat onar sudah masuk dengan membawa gol*k, dan mengacungkannya kedepan seolah ingin menebas orang. "Astagfirullah," cicit Bu Wati. "Pak Koja, ada apa ini?" tanya Pak Bowo pada lelaki yang mendobrak pintu rumahnya tadi. Koja, lelaki dengan wajah sangar, berbadan kekar, datang membawa gol*k. Siapa yang tak
Setelah puas menikmati udara malam, Pak Bowo kembali mencoba menyalakan motor supra miliknya, ia berharap besi tua itu segera menyala agar dirinya bisa menyusul sang istri ke rumah sakit. Berulang kali mengengkol, dan akhirnya supra tua itu mau menyala. "Alhamdulillah," serunya kegirangan, merasa usahanya tak sia-sia. Bergegas Pak Bowo memasukan motor Hasan, dan juga motor Farid ke dalam rumah. Setelah itu ia menarik pedal gas, dan mulai menelusuri gelapnya malam. Jalanan Kota Palembang nampak sepi, wajar saja saat ini jam hampir menunjukkan pukul 12 malam. Dengan perasaannya yang tercampur aduk, Pak Bowo menuju rumah sakit. Sedikit berharap bila putra pertamanya itu masih bisa di selamatkan. Bila tidak, bagaimana nasib Chika nanti, tapi ..., "kemana perginya Tiara malam-malam begini membawa Chika?" gumam Pak Bowo. ***Kukuruyukkkk ... "Hoammm," Rosa menguap sambil meregangkan otot-otot tangannya. Tubuhnya terasa lelah, mungkin karena semalam dia tak bisa tidur sebab memikirkan m
Suara sepatu para petugas berseragam bergema di dalam apartemen kecil itu, menciptakan ketegangan yang semakin menyesakkan. Lampu gantung berayun pelan akibat pintu yang didobrak paksa beberapa detik sebelumnya. Hasan berdiri kaku, wajahnya penuh amarah, sementara Mia berusaha keras mempertahankan ketenangannya.Rosa melangkah masuk, senyumnya lebar, namun dingin. Tatapan matanya menyorot tajam, seolah mengukur setiap inci dari ekspresi Mia dan Hasan. Di belakangnya, dua petugas tetap siaga, senjata mereka mengarah tanpa goyah."Kau pikir bisa mengendalikanku, Mia?" Rosa berkata pelan, hampir berbisik, namun cukup jelas untuk membuat ruangan itu terasa lebih dingin.Mia mendongak, menatap Rosa tanpa gentar. "Aku tidak pernah mencoba mengendalikanmu, Rosa. Aku hanya memastikan kau tidak bisa mengendalikanku."Rosa tertawa pelan, langkahnya mendekat hingga berdiri hanya beberapa meter dari Mia. "Kau pintar. Itu yang membuatmu menarik. Tapi sayangnya, permainan ini bukan tentang siapa ya
Suasana di ruang kerja Hasan begitu tegang hingga udara pun terasa berat. Lampu gantung bergoyang pelan, menciptakan bayangan samar di dinding, seolah menjadi saksi bisu dari pertemuan yang penuh intrik ini.Mia berdiri tegak di depan Rosa dan Hasan, sorot matanya tajam seperti pisau yang siap menebas. Dengan penuh keyakinan, dia melempar flashdisk kecil ke atas meja. Bunyi benturan kecilnya terdengar nyaring di ruangan yang hening, membawa pesan yang tak perlu dijelaskan dengan kata-kata.“Di dalamnya ada semua bukti untuk menghancurkan kalian,” ucap Mia, suaranya tenang namun penuh tekanan. “Tapi aku tidak datang untuk mengancam. Aku datang untuk membuat kesepakatan.”Rosa mengangkat alisnya, lalu tertawa pelan. Suaranya bergema lembut di ruangan itu, namun ada nada tajam yang tersembunyi di balik tawa itu. "Kesepakatan? Kau pikir kau masih bisa mengendalikan permainan ini, Mia?" Dia melangkah pelan mendekat, tatapan matanya menusuk. "Kau lupa siapa yang memegang kendali."Mia tak b
Mia menatap punggung Rosa dan Hasan yang perlahan menghilang di balik pintu gudang. Napasnya terengah, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena beban pikiran yang menghimpit dadanya. Ruangan itu terasa semakin sempit, meski hanya dia dan dua pria berjas hitam yang masih berdiri di sana. Mereka mengawasinya seperti dua bayangan gelap tanpa emosi.Mia mengusap keringat di pelipisnya, mencoba menenangkan diri. Ini belum selesai. pikirnya. Justru permainan baru saja dimulai.Keesokan harinya, Mia kembali ke rumah sakit tempat Farid dirawat. Aroma antiseptik menyambutnya saat ia melangkah di koridor yang sunyi. Langkah kakinya mantap, meski di dalam hatinya berkecamuk badai. Farid masih terbaring lemah di ruang perawatan VIP, infeksi alat kelaminnya membuatnya tak berdaya.Saat Mia membuka pintu kamar, Farid menoleh pelan. Wajahnya pucat, namun matanya penuh kecurigaan.“Kau datang lagi,” gumam Farid dengan suara serak.Mia memaksakan senyum, mendekatinya sambil membawa nampan kecil
Pintu gudang terbuka lebar, dan di ambang pintu berdirilah Rosa, menatap mereka dengan ekspresi dingin namun penuh kemenangan. Dua pria berjas hitam berdiri di belakangnya, wajah mereka tanpa emosi."Lama tidak bertemu, Mia."Mia membeku. Jantungnya berdegup kencang saat ia mencoba membaca situasi. Ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ini adalah perang.Hasan berdiri di sebelah Mia, ekspresinya tak terbaca. Dia tampak tenang, tapi Mia tahu otaknya pasti sedang bekerja keras mencari jalan keluar.Rosa melangkah masuk, suara sepatu hak tingginya menggema di dalam ruangan. “Aku sudah menunggumu, Mia. Aku tahu cepat atau lambat kau akan mencoba melarikan diri.”Mia mencoba tersenyum tipis, meski dalam hatinya dia tahu dia sedang dikepung. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, Rosa.”Rosa terkekeh, matanya bersinar tajam. “Kau tidak perlu berpura-pura. Aku sudah menyelidikimu sejak awal.”Mia menelan ludah, tapi dia tetap menjaga ketenangannya. “Lalu kenapa kau tidak langsung bertindak?”R
Mia menatap Hasan dengan napas tertahan. Ruangan itu terasa semakin sempit, udara semakin berat. Hasan masih menggenggam ponselnya, suara di seberang menunggu jawabannya.“Serahkan Mia, dan kita bisa menyelesaikan ini tanpa perlu darah.”Mia menelan ludah. Ini adalah saat yang menentukan.Hasan menutup matanya sesaat, lalu menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Tidak semudah itu.”Mia nyaris tidak bisa percaya. Dia… membelanya?Orang di seberang telepon tertawa pelan. “Kau masih terlalu lunak, Hasan. Ini bukan soal seberapa mudah atau sulitnya. Ini soal kepentingan. Kau tahu siapa yang ada di balik semua ini, kan?”Hasan tidak menjawab, hanya mengepalkan tangan.Mia merasakan ketegangan di ruangan itu semakin meningkat. Ini lebih besar dari yang dia bayangkan.Suara di telepon melanjutkan, lebih dingin dari sebelumnya. “Kau punya waktu sampai besok pagi. Jika kau tidak menyerahkannya, aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian berdua.”Klik. Sambungan terputus.Mia mencoba m
Hujan mulai turun, rintik-rintiknya membasahi wajah Mia saat dia berdiri di hadapan Hasan. Tangannya masih dalam cengkeraman kuat pria itu. Nafasnya berat, pikirannya berpacu mencari cara keluar dari situasi ini.Hasan menatapnya tajam, matanya penuh kemarahan yang terpendam. “Katakan, Mia. Semua yang kau rencanakan.”Mia bisa saja berbohong. Dia sudah sering melakukannya. Tapi kali ini, dia tahu kebohongan tidak akan menyelamatkannya.“Aku…” Mia menelan ludah, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Aku memang mendekati Farid karena alasan tertentu. Tapi itu bukan karena aku ingin menyakitinya.”Hasan tersenyum sinis. “Benarkah? Kau ingin aku percaya bahwa kau mendekati kakakku dengan niat baik?”Mia menarik napas dalam. “Awalnya aku hanya ingin mendapatkan kepercayaan Farid… untuk bisa lebih dekat dengan keluargamu.”Hasan menggelengkan kepala, ekspresinya semakin mengeras. “Dan setelah itu? Apa kau berencana menipu kami? Mengambil uangku?”Mia tidak menjawab, tapi tatapan Hasan sem
Taksi melaju melewati jalanan kota yang diterangi lampu jalan remang-remang. Mia duduk di kursi belakang, jari-jarinya gemetar saat dia menggenggam ponselnya. Pesan yang baru saja dia terima terus berputar di pikirannya.“Kau sudah membuat pilihan yang salah, Mia. Sekarang giliran kami yang bermain.”Siapa yang mengirim pesan itu? Apakah mereka sudah menemukan Marco?Mia menoleh ke luar jendela dan merasakan ketakutan merayapi tulangnya. Sebuah mobil hitam tampak mengikuti taksinya sejak tadi. Tidak ada sirene, tidak ada tanda-tanda mencolok, tetapi nalurinya tahu—mereka sedang diawasi.Sial.Dia tidak bisa langsung kembali ke rumah dan bertemu Marco. Jika dia membawa mereka ke sana, itu sama saja seperti menyeret Marco ke dalam bahaya.Dia harus berpikir cepat.Mia bersandar ke depan, berbicara dengan sopir taksi dengan suara tenang tapi mendesak. “Pak, bisa belok ke jalan kecil di depan sana? Saya harus turun di tempat lain.”Sopir itu menatap Mia sekilas melalui kaca spion, tampak
Mia tahu dia harus bertindak cepat. Situasi di restoran ini semakin berbahaya, dan Marco baru saja memperingatkannya tentang sesuatu yang lebih buruk. Tapi sebelum dia bisa berpikir jernih, Rosa sudah mengambil langkah lebih dulu.Dua pria berjas hitam memasuki restoran, wajah mereka datar dan serius. Keamanan restoran. Rosa melirik mereka dan memberi isyarat halus.“Mia,” Rosa berkata dengan suara pelan namun tegas, “Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekati suamiku, tapi aku akan memastikan kau tidak bisa melakukan apa pun lagi.”Mia menatap Hasan, berharap pria itu akan membelanya. Tapi Hasan hanya diam, wajahnya penuh kebingungan. Mia tahu, kepercayaannya mulai runtuh.Sial.“Maaf, Bu,” salah satu petugas keamanan berkata sopan, “Kami mendapat laporan bahwa ada tamu yang mengganggu di sini. Kami harus meminta Anda pergi.”Mia menguatkan dirinya. Dia tidak bisa panik sekarang.Dia tersenyum kecil, menampilkan wajah polosnya. “Saya tidak mengerti apa maksud Anda. Saya hanya sedang makan
Mia merasa kendali ada di tangannya. Hasan mulai terperangkap dalam pesonanya, dan Farid semakin bergantung padanya. Meski Rosa sudah mulai curiga, Mia yakin dia bisa mengatasinya. Namun, di balik rencana yang sempurna, ada sesuatu yang Mia tidak duga—sesuatu yang bisa menghancurkan semuanya dalam sekejap.Dua hari setelah pertemuan dengan Rosa, Mia menerima pesan dari Hasan.(Mia, bisa kita bertemu di luar rumah sakit? Aku ingin mengobrol denganmu tanpa ada orang lain.)Mia tersenyum tipis. Ini lebih cepat dari yang ia perkirakan. Dengan cepat, ia mengetik balasan.(Tentu, Pak Hasan. Kapan dan di mana?)(Besok malam, di restoran La Belle di pusat kota. Aku ingin mengenalmu lebih jauh.)Restoran mewah. Tanda bahwa Hasan mulai melihatnya lebih dari sekadar suster kakaknya. Mia tidak bisa menahan rasa puas yang menjalar dalam dirinya.Namun, saat ia menutup ponselnya, suara dingin Marco terdengar dari belakang.“Kau mulai bermain di luar rencana.”Mia menoleh dengan malas. “Aku tidak be