"Iya. Kamu tidak percaya?" tanya Akira lagi, mendongak sedikit ke atas, tatapannya lurus pada mata Nami."A-aku rasa itu sangatlah tidak mungkin.""Kenapa?" tanya Akira, menarik ujung rambut Nami yang berhasil ia gulung hingga wajah mereka teramat dekat.Mata Nami membeliak lebar. "A-akira San," tegurnya lirih, teramat sangat gugup."Hmm," sahur Akira santai. "aku menyukaimu, Nami Chan," ungkapnya. Tangan kirinya membingkai pipi Nami."Ma-mana mungkin bi—," Mata Nami membola saat Akira menarik turun kepalanya hingga bi b1r mereka bersentuhan."Manis," puji Akira, mengusap bagian bawah dengan lembut.Akira lantas beringsut duduk. Bersandar kembali pada sandaran kursi. Tangan kirinya kembali merangkul pundak Nami, menariknya kuat hingga bahu mereka menempel."Mau jadi kekasihku?" ajak Akira santai sembari menoleh pada Nami yang hanya bisa menunduk dengan kedua tangan saling bertaut di atas paha."Aku tidak —,""Harus mau!" ucap Akira tegas, memotong ucapan Nami. Matanya menatap tajam pad
Nami mengusap dadanya berulang-ulang saat kembali teringat dengan peristiwa kelam itu di masa lalu. Air matanya kembali menderas hingga ia harus mengusap air matanya.Namun tak lama berselang, Nami tersentak kaget saat ponselnya kembali bergetar. Dengan tangan bergetar hebat, Nami mengangkat ponselnya ke atas dimana memperlihatkan sebuah panggilan dari seseorang yang juga ia kenal baik."Ha-halo," sapanya gugup. Wajahnya bahkan memucat karena waktu penghakiman itu akhirnya tiba."Nona Muda, saya sudah tiba di parkiran rumah sakit," ungkap Yamamura tanpa basa-basi.Nami semakin tersentak. Ia gegas memejamkan matanya bersamaan dengan menggigit bibir bawahnya agar mengurangi rasa takutnya."Nona Muda," tegur Yamamura karena Nami justru bungkam seribu bahasa."I-iya, aku akan segera kesana," tukas Nami dengan nada tercekat.Dengan perlahan gadis itu berdiri tegak, meskipun harus berpegangan pada pintu loker. Ia bahkan melupakan paper bag pemberian Akira saat dirinya mengayunkan langkahnya
Mobil yang membawa Nami akhirnya tiba di basemen apartemen Akira. Yamamura segera turun, berlari memutar lalu membukakan pintu untuk Nami, membuat gadis itu tersentak kaget karena telah melamun sebelumnya."Silakan, Nona Muda," tukas Yamamura menepikan tubuhnya, mengangguk sopan.Nami perlahan mengusap air matanya karena sekarang bukan saatnya menangis. Namun harus bersiap menerima nasib terburuk ketika dirinya berhadapan dengan Akira beberapa saat nanti.Perlahan Nami turun dari dalam mobil. Mulutnya terkatup rapat dengan wajah sendu juga jantung berdegup kencang, merasa gugup sekaligus ketakutan.Yamamura lantas menutup pintu mobil, menghela Nami agar mengikutinya. Nami terpaksa menurut, namun dirinya berusaha memelankan laju kakinya agar waktu yang mereka perlukan lebih lama dari yang seharusnya.Yamamura menyadari itu, ia lantas menghentikan langkah, lalu berbalik, membuat Nami terkejut setengah mati. "Maafkan saya, Nona Muda!" tukasnya, lalu tanpa aba-aba meng-g0-t0ng Nami layakny
Nami berlari kencang ke arah pintu keluar dimana Juun terlihat merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Nami lantas menubruk dada Juun, membuat lelaki itu menenggelamkannya ke dalam pelukan."Ssh ... jangan menangis! Aku sudah ada di sini, Sayang. Aku akan menjagamu dengan baik," hibur Juun, mengusap punggung Nami agar gadis itu berhenti terisak.Nami yang dihibur, bukannya berhenti menangis, melainkan semakin meraung-raung sembari merenggut kelepak jas yang Juun kenakan."Nami Chan," hibur Juun kembali, mengarahkan usapannya pada belakang kepala gadis itu."Aku takut, Juun. Aku sangat takut! Aku takut Akira kembali menyakitiku seperti dulu!" balas Nami dengan suara tangisan yang semakin menderas.Juun terkejut. Dirinya tidak mengerti dengan ucapan Nami. "Sebenarnya ap—?""Nami Chan! Bebaskan aku! Aku janji akan menjadi kekasih yang baik!" pekik Akira, memotong ucapan Juun sekaligus membuatnya bungkam dengan seribu pertanyaan di benaknya. Apalagi saat menyadari raut tegang yang Nami p
Nami murung, wajahnya terlihat kusut saat dirinya tiba di dalam kamar. Bahkan ia tidak perduli jika Toshio tidak pulang hari ini, tidak juga berusaha mencari.Nami duduk di tepi ranjang, matanya melirik pada photo kebersamaan antara dirinya dengan Juun saat mereka duduk di bangku sekolah, pada Upacara Perayaan Festival Tanabata, sekaligus hari pertama mereka memutuskan menjalin hubungan.Nami menghela napas berat. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah padaku lagi, Juun?"***Juun baru saja tiba di apartemen murah miliknya. Langkahnya terlihat sedikit gontai, merasa semua peristiwa hari ini terlalu berat untuk ia jalani.Aisyah yang hendak melaksanakan Salat Tahajud, sedikit tersentak saat melihat kedatangan kakaknya dari balik pintu. "Astaghfirullah hal adziim ...! Abang bikin kaget Ais aja!" tegurnya sambil menggelengkan kepala serta mengusap tubuh bagian depan agar debaran jantungnya menjadi normal kembali."Assalam
Juun tanpa sadar tertidur di atas sajadah, ia terengah-engah saat sebuah mimpi buruk tiba-tiba hadir. "Astaghfirullah hal adziim!" desahnya sambil mengusap kasar wajahnya.Juun menghela napas berat sambil bangkit berdiri, membawa serta sajadah, meletakkannya di atas ranjang, lalu berjalan ke arah pintu keluar, menuju dapur. Lelaki itu lantas membuka pintu lemari es, mengambil sebotol air mineral, membawanya ke arah meja lalu meminumnya setelah duduk dan membaca doa."Ya Allah, sebenarnya ini firasat apa? Kenapa aku justru tiba-tiba bermimpi buruk seperti itu?" gumamnya, tidak habis pikir. Kembali meneguk air minum hingga tandas."Semoga ini semua bukan pertanda buruk." Juun menoleh ke depan dimana lampu ruang tamu padam. Namun, di tengah gelap justru terbias sedikit cahaya berwarna putih terang.Lelaki itu bangkit berdiri, berjalan ke arah ruang tamu, tak lupa menyalakan sakelar lampu guna memberikan penerangan. "Siapa yang men
Fujiwara benar-benar datang menjemput Juun dengan sebuah mobil Van hitam. Keduanya lantas pergi meninggalkan gedung apartemen miliknya menuju tempat yang Ryu tentukan."Hai, Brother. Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" todong Ryu memeluk sang sahabat."Aku tidak tahu cerita lengkapnya, yang aku tahu, Nami tiba-tiba menghubungi menggunakan nomor ponsel berbeda, dia berkata jika Akira menculiknya, lalu —," Suara Juun tercekat saat teringat kembali lolongan kesakitan juga tangisan menyayat hati wanita itu."Apa?" desak Ryu, penasaran."Nami ... menangis dan ... aku sempat mendengar jika lelaki itu tengah melakukan sesuatu yang buruk padanya. Apa yang harus aku lakukan, Ryu?" tanya Juun putus asa."Ok, tenanglah! Aku pasti akan membantumu. Fujiwara San!" panggil Ryu pada adik iparnya."Saya, Ketua!" sahut Fujiwara sopan, mengangguk hormat."Lakukan yang biasanya kamu lakukan," titah Ryu, menghela napas berat."Baik, Ketua! Saya mengerti!" sahut Fujiwara tegas, berbalik badan, b
Akira terkejut mendengarnya. Ia bahkan tanpa sadar mengumpat di dalam hati. 'Sial ... sial! Bagaimana bisa Ketua Klan Shinryuu mengetahui hal ini, dan bagaimana bisa lelaki mengerikan itu mengenal Nami? Jangan-jangan dia ...!' Matanya terbelalak sambil menoleh cepat pada Nami yang kini berusaha mundur setelah jambakannya terlepas. Nami bahkan tidak perduli penampilannya berantakan dengan rambut kusut masai juga pipi basah bekas air mata. Sementara itu di seberang sana, Ryu yang tidak sabaran segera memberikan sebuah peringatan. "Aku akan menghitung dari 1 sampai 3. Jika kamu tidak melepaskan Okahara Nami. Maka malam ini adalah malam terakhir Klan Tiger bisa bernapas di muka bumi." Akira pun memucat, ia bahkan mulai kesulitan menelan ludahnya yang tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu. Dengan wajah kikuk bercampur takut, juga senyum dipaksakan, lelaki itupun menjawab. "Oh ... ba-baik, Ketua. Mohon tunggu sebentar!" Akira lantas mematikan sambungan telepon setelah mendengar sahuta
Juun akhirnya menjelaskan semuanya tanpa satupun yang tertinggal. Sementara Abi Rahmat, hanya bungkam seribu bahasa, enggan menginterupsi sedikitpun. Hanya hela napas berat bersama gumam istighfar yang senantiasa lolos dari bibirnya sebagai respon atas semua berita buruk ini. Juun akhirnya ikut terdiam setelah sekian lama berucap. Ia ikut menghela napas pendek, pasrah akan keputusan sang ayah. Abi Rahmat berjalan perlahan ke arah tembok kawat yang ada di rooftop hingga angin senja meniup rambut pendeknya yang sudah dipenuhi uban. Matanya menatap lurus ke arah matahari tenggelam di antara gedung-gedung yang berseberangan dengan rumah sakit. "Apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ian?" tanya Abi Rahmat tanpa menoleh pada sang putra yang kini ikut berdiri di samping kirinya, Juun ikut mengarahkan pandangan kemana ayahnya memandang. "Aku mencintainya, Abi. Tapi, jika Abi tidak berkenan? Aku —""Apa kamu akan berhenti berjuang?!" tegur Abi
Ummi Fatimah pun terpaksa menceritakan semua yang terjadi pada suaminya, di ma a lelaki itu hanya bisa bungkam seribu bahasa. Sesekali terdengar ucapan istighfar lolos dari celah bibirnya yang kini mulai tertutupi dengan kumis. "Bagaimana menurut, Akang?" tanya Ummi Fatimah cemas. "Panggil Ian kemari. Tapi, sebelum itu..., Akang mau melihat keadaan Nami. Neng mau ikut?" ajak Abi Rahmat seraya mengulurkan tangan kanannya disertai tatapan lurus menghujam mata. "Iya, Kang. Neng ikut!" tukas Ummi Fatimah bersemangat sambil menerima uluran tangan. Keduanya lantas berjalan bersisian ke arah luar guna mencari ruangan Nami dirawat. "Oh ya, Akang mengerti, ya, isi pembicaraan orang-orang?" tanya Ummi Fatimah setelah suaminya bertanya pada salah seorang petugas keamanan mengenai ruang rawat Nami yang baru. "Sedikit-sedikit, Sayang. Akang diam-diam setiap malam belajar Bahasa Jepang, biar gak bingung saat diajak berinteraksi dengan calon besan
Nami enggan menjawab, ia justru segera berjalan cepat ke arah jendela hingga membuat Ummi Fatimah semakin terkejut saat melihat Nami membuka kaca, lalu melompat ke bawah. "NAMI!" Ummi Fatimah berteriak kencang d bersama degup jantung berdetak kencang seraya berlari ke arah jendela. Wanita itu segera melongok ke bawah bersama seluruh perasaan takut mendera. Namun, akhirnya ia bisa bernapas lega saat melihat di bawah sana sang putra tengah memeluk Nami yang lemas dalam dekapan. Ummi Fatimah bahkan tanpa sadar mengucap syukur karena Nami selamat. Sementara itu, Juun segera menggendong Nami ala bridal, lalu meletakkannya di atas brankar yang segera didorong oleh para perawat menuju ruang perawatan. Salah seorang dokter, rekan sejawatnya bahkan segera menepuk pundak Juun seraya berujar dengan nada menguatkan, "Kamu harus kuat, Dokter Juun. Hanya kamu yang bisa menguatkan Dokter Nami saat ini. Lagipula kami semua men
Nami bungkam seribu bahasa. Kepalanya bahkan tertunduk dalam, tidak berani mengatakan isi hatinya yang kini tidak berbentuk lagi akibat peristiwa buruk yang telah terjadi padanya. Ummi Fatimah pun berusaha mengerti. Ia ikut bungkam, membiarkan Nami berkutat dalam lamunan. Hanya jemarinya yang menggenggam sebagai bentuk jika dirinya perduli pada sang calon menantu. Nami perlahan mengangkat kepala, menatap wajah teduh Ummi Fatimah yang kini melepaskan niqab miliknya. Sementara Juun dan Abi Rahmat pergi keluar guna bicara empat mata. "Ummi, apakah saya boleh mengatakan sesuatu?" ujarnya meminta dengan sopan, meskipun suaranya terdengar serak."Katakan saja, Nak! Apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar Ummi Fatimah, mengijinkan. Nami terdiam, kesedihannya terasa mencekam. Ummi Fatimah mengangguk sambil tersenyum hangat. "Katakanlah, Nak."
Juun terdiam. Matanya menatap tajam pada Nami yang balas menatapnya datar. "Omong kosong apa yang baru saja kamu ucapkan, Nami Chan?" tanyanya geram.Nami tersenyum sinis. Ia membalas tatapan itu tidak kalah dingin. "Ba yi sia lan itu, Juun. Apa dia sudah ma ti?"Juun menggebrak tepi brankar hingga membuat Nami terkejut setengah mati. Jantungnya terdengar berdetak kencang, namun gadis itu berusaha untuk tidak menjerit. Ia bahkan semakin menatap dingin pada sang kekasih."Aku rasa otakmu perlu dicuci hingga bersih agar berhenti mengatakan sebuah omong kosong." Suara Juun terdengar berdesis kuat. Ia tidak mampu lagi menahan emosinya hingga tanpa sadar mengatakan sesuatu yang buruk."Ya, tentu saja." Nami menyahut dengan santai, terlihat tidak merasa bersalah sedikitpun."Agar otakku tidak mengingat kembali jika ja nin sia lan itu masih bersarang di rahimku." Nami melanjutkan ucapannya.Juun menggeram. Ia bahkan melepaskan pegangan tangannya dengan sedikit kasar hingga Nami pun semakin te
Baju Juun penuh dengan da rah yang tentu saja berasal dari Nami. Sementara gadis itu kini telah berada di dalam ruang operasi tempat mereka bekerja guna menyelamatkan nyawanya.Dirinya tidak diijinkan ikut serta karena semua teman-temannya khawatir lelaki itu tidak bisa bertindak profesional. Apalagi saat melihat wajah panik juga lolongan histeris yang ia berikan beberapa saat yang lalu.Juun duduk di atas kursi tunggu sembari mengacak-acak rambutnya hingga berantakan dengan kepala tertunduk dalam. Sementara Aisyah ikut duduk di samping kanannya, mengusap punggung sang kakak guna memberikan dukungan."Abang," panggil Aisyah lirih sembari membersit hidungnya yang mampet dari balik niqab yang ia kenakan."Hmmm," sahut Juun menggumam, enggan mengangkat kepala. "Abang yang tenang, ya," pinta Aisyah, kembali sesenggukan.Juun tersentak. Ia lantas dengan cepat menoleh pada sang adik dengan tatapan menuntut jawaban.Aisyah lan
Nami tercekat. Air matanya tanpa sadar menetes saat melihat hasil test pack miliknya. Kedua tangannya bahkan bergetar hebat hingga benda tersebut jatuh ke atas lantai, tepat di samping kanan kakinya, seiring isakannya yang terdengar menyayat hati."Kenapa? Ini tidak mungkin ...," Kepalanya menggeleng kuat-kuat, masih berharap jika ini semua mimpi buruk belaka.Namun harapannya harus sirna saat ia memberanikan diri kembali menatap pada benda tersebut, hasilnya tetap menunjukkan garis dua, pertanda jika dirinya benar-benar hamil.Tangisnya pun kembali pecah. Ia lantas menggigit punggung tangannya saat mendengar pintu diketuk seseorang dari luar disusul suara yang ia kenal dengan baik. "Afwan, Oni Chan. Apa Oni Chan baik-baik saja?" tanya Aisyah khawatir.Aisyah bahkan belum menanggalkan mukena karena baru selesai salat isya. Keningnya berkerut saat tidak mendengar sahutan dari dalam. "Oni Chan!" panggilnya kencang sembari menggedor pintu. Perasaan takut tiba-tiba hadir."Oni Chan!" pangg
Nami kembali memulai harinya seperti biasa, seolah-olah peristiwa buruk yang terjadi 2 bulan yang lalu hanya sebuah mimpi buruk semata. Gadis itu bahkan terlihat begitu ceria karena hubungannya dengan Juun menunjukkan kemajuan berarti.Mereka bahkan tidak segan saling menunjukkan perasaan masing-masing di tempat kerja."Bagaimana rasanya?" tanya Nami sambil menatap penuh harap Juun. Keduanya tengah duduk di bangku taman rumah sakit yang biasanya digunakan para pekerja magang untuk menyantap bekal makan siang."Enak." Juun menyahut cepat setelah berhasil menelan makanan yang ada di dalam mulut. Lelaki itu lantas tersenyum manis sambil merapikan poni Nami yang tertiup angin sehingga menutupi mata kirinya.Nami tersipu, ia tidak menyangka jika akan mendapatkan pujian dari mulut kekasihnya."Apapun yang kamu buat, rasanya sungguh enak di lidahku." Juun melanjutkan pujiannya hingga membuat wajah Nami semakin bersemu merah."Kamu malu?
Akira terkejut mendengarnya. Ia bahkan tanpa sadar mengumpat di dalam hati. 'Sial ... sial! Bagaimana bisa Ketua Klan Shinryuu mengetahui hal ini, dan bagaimana bisa lelaki mengerikan itu mengenal Nami? Jangan-jangan dia ...!' Matanya terbelalak sambil menoleh cepat pada Nami yang kini berusaha mundur setelah jambakannya terlepas. Nami bahkan tidak perduli penampilannya berantakan dengan rambut kusut masai juga pipi basah bekas air mata. Sementara itu di seberang sana, Ryu yang tidak sabaran segera memberikan sebuah peringatan. "Aku akan menghitung dari 1 sampai 3. Jika kamu tidak melepaskan Okahara Nami. Maka malam ini adalah malam terakhir Klan Tiger bisa bernapas di muka bumi." Akira pun memucat, ia bahkan mulai kesulitan menelan ludahnya yang tiba-tiba berubah menjadi sebongkah batu. Dengan wajah kikuk bercampur takut, juga senyum dipaksakan, lelaki itupun menjawab. "Oh ... ba-baik, Ketua. Mohon tunggu sebentar!" Akira lantas mematikan sambungan telepon setelah mendengar sahuta