Hembusan angin yang mengusik ketenangan keadaan antara Jason dan Susan, akhirnya membuahkan hasil."Jason, kenapa kau tidak menjawab?" tanya Susan, ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya, karena panggilan cinta dalam hatinya belum mendapat respon dari Jason."Susan, aku juga memiliki rasa yang sama seperti yang kau rasakan. Kan tetapi, Susan...," jawab Jason, namun ia menghentikan ucapannya.Nampak keraguan singgah di wajah Jason. Melihat itu, Susan sudah paham, dengan apa yang Jason pikirkan. "Pasti karena Ayahku, kan, Jason?" Susan memberanikan diri dengan menggerakkan tangannya guna menarik dagu Jason agar sejajar dengan wajahnya."Benar, Susan. Aku tahu, aku pasti tidak akan diterima oleh keluargamu. Kau tahu sendiri, bukan? Siapa aku ini? Hem?" Jason tertawa. "Aku hanyalah seorang pemulung. Orang kaya kalangan atas seperti keluargamu itu, menyebut kami dengan sebutan GEMBEL! Hahaha....!"Susan memandangi wajah Jason, ia sadar, apa yang Jason katakan tadi adalah kenyataan. Kebanya
Susan terbayang akan kehidupan keluarganya. Ibunya yang ternyata telah terbunuh, akibat suatu insiden bentrok antar kelompok mafia membuat Susan benci dengan lingkaran kehidupan yang seperti ini. Tak terasa, hingga akhirnya pagi mulai menjelang, Susan dan Jason yang terbangun terkena terpaan sinar mentari baru sadar bahwa ternyata mereka berdua tidur di jalanan. "Susan...?" "Jason...?" Mereka berdua saling menunjuk wajah satu sama lain. Kemudian, "Hahaha...!" Mereka berdua justru tertawa terbahak-bahak setelah bangun pagi hari ini. "Jason, ini karena kamu terlalu lama mendengarkan cerita dan pengalaman hidupku semalam, kita jadi ketiduran di pinggir jalan seperti ini, hahaha...!" Wajah Susan nampak bahagia, baru kali ini Susan dapat tertawa lepas setelah sekian tahun ia hidup dalam lingkungan dunia hitam. Jason sangat bahagia saat melihat senyum Susan yang merkah bahagia. Ia pun berkata, "Lah, kok kamu malah menyalahkan aku, sih, Susan? Aku ya..., tidak akan mendengarkan kalau
Kedua petugas penjaga itu nampaknya tidak mau mendengarkan penjelasan apapun yang keluar dari mulut Jason maupun Susan. Alhasil, mereka berdua ditangkap, kemudian dibawa ke ruang tahanan. "Cepat, masuk! Jangan banyak bicara!" Salah satu petugas menendang pantat Jason yang lekas masuk ke ruang tahanan. Padahal, tanpa ditendang pun, Jason pasti akan masuk ke ruangan itu tanpa bantahan apapun. Akan tetapi, sepertinya mereka sengaja memperlakukan Jason dengan buruk karena melihat penampilannya yang seorang Gembel. Dan kemudian, Jason mendengar suara Susan merintih kesakitan. "Aduh..., sakit...!" seru Susan, tubuhnya yang dorong ke ruangan di sebelah tempat di mana Jason berada. "Susan...? Bagaimana keadaanmu? Apakah kau baik-baik saja?" Jason langsung bergerak mendekati dinding pembatas ruangan mereka. Untungnya, suara mereka dapat terdengar dengan jelas satu sama lain. "Hiks, hiks, hiks...," Sebelum menjawab pertanyaan Jason, Susan mengelap air mata yang mengalir deras di kedua pipin
Beberapa menit kemudian, wajah keempat orang itu babak belur dibuat Jason. Tiga diantaranya Jason hajar sampai tak sadarkan diri. Jason sengaja menyisakan satu orang yang tetap sadar. Jason menarik kerah baju pria yang tersudut di dinding. "Bagaimana rasanya dihajar oleh Gembel?! Hem?!" Jason sekali lagi menampar wajah pria itu. "Sekarang, cepat buka pintu ruangan sebelah. Dan biarkan kami pergi dari sini!" Karena ketakutan, pria itu langsung mengambil kunci yang ada di sakunya. "Ba-baiklah...," ujarnya dengan terbata. "Aku akan melepaskan kalian, tenanglah, jangan pukul aku lagi." Pria itu memohon ampun pada Jason. Dan akhirnya, Jason dan Susan berhasil keluar dari ruangan tahanan itu. Setelah pergi dari sana, Susan yang nampak trauma masih saja terlihat ketakutan. Di sepanjang jalan, Susan tak mau melepaskan tangannya yang menggandeng tangan Jason. Melihat ekspresi wajah Susan seperti itu, membuat Jason merasa sakit hati. Ia merasa bersalah karena tak mampu melindungi Susan.
Jason akhirnya lebih memilih pergi dari kota dan ingin tinggal menetap di desa. Baginya, kehidupan di pedesaan adalah yang paling cocok untuknya. Jason tidak terbiasa dan memang tidak mau hidup dengan gaya yang serba mewah. Pikirnya, dari pada harta yang dimiliki dihamburkan untuk barang-barang mewah, lebih baik ia berikan kepada warga desa yang termasuk dalam golongan fakir miskin. Betapa mulianya hati Jason. Jika Jason menjadi seorang pejabat, pasti rakyat akan mulia. Akan tetapi, kenyataannya di Negara Onde-ondesia justru para pejabat banyak yang korupsi. Mereka hanya mementingkan keuntungan diri sendiri tanpa memikirkan nasib rakyat yang semestinya menjadi tanggung jawab pihak pemerintah. Kehidupan rakyat di negara Onde-ondesia saat ini sangat terpaku dengan yang namanya status sosial. Di mana mereka yang memiliki nama besar dan jabatan, maka mereka akan melakukan hal semena-mena. Padahal, banyak sekali partai politik di negara ini yang menjunjung tinggi anti korupsi. Namun say
Saat ini, Jason dan Susan tengah berada di dekat perbatasan antara kota dan desa. Di tempat inilah ternyata keluarga Putra Putri membangun tempat tinggal mereka yang bisa dibilang seperti Istana. Halamannya nampak sangat luas, serta bangunan yang berdiri kokoh dengan gaya penuh kemewahan terlihat jelas bahwa keluarga Putra Putri ini memang pantas disebut keluarga Sultan. Kekayaan mereka memang sudah terkenal di mana-mana. Mereka mencakup banyak bidang bisnis, baik dari segi pertanian, peternakan, tekstil, bahan pokok, bahkan bahan bakar minyak juga mereka memiliki saham di beberapa perusahaan besar ternama yang ada di negara Onde-ondesia ini. Kemudian, setelah menunggu beberapa menit, Jason kembali melihat penjaga yang mendorong dan mengusirnya pergi tadi, telah kembali menemuinya. Dalam benak Jason, ia tiba-tiba kepikiran untuk mengerjai penjaga itu. Ia menatap penjaga itu seraya menyeringai dan berkata, "Bagaimana? Apakah kamu sudah tahu siapa aku yang sebenarnya? Hem?""Si-silahk
Setelah itu, Jason dan Susan yang telah memasuki halaman kediaman keluarga Putra Putri di arahkan agar masuk ke dalam rumah. Dan ternyata, kedatangan Jason sudah ditunggu oleh Tuan Besar keluarga Putra Putri di sebuah ruangan beserta beberapa kerabatnya yang lain. Dan ketika Jason masuk ke ruangan itu, ia langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di sana. Jason merasakan banyak tatapan sinis yang tertuju padanya. "Apakah kau yang mengaku bahwa kau adalah kerabat kami?" Seorang wanita paruh baya tanpa basa-basi bertanya pada Jason sambil melihat Jason dari kepala sampai ujung kaki. Jason menoleh ke kanan dan ke kiri. Sebenarnya ia bingung ingin menjawab apa. "Kenapa hanya diam?!" Wanita paruh baya itu bertanya lagi. Kali ini ia menatap Jason dengan wajah sinis. "Kalau dilihat dari penampilanmu, kau ini hanyalah Gembel!"Lalu ada seorang gadis yang menyambung ucapan wanita paruh baya tadi. "Mami, kenapa bisa-bisanya gembel seperti dia diperbolehkan menginjakkan kaki di
Tuan Besar keluarga Putra Putri yang saat ini usianya sudah paruh baya bernama Rendi itu kemudian memperhatikan liontin kalung yang bentuknya sama persis dengan simbol keluarnya. "Dari mana kamu mendapatkan kalung ini?" Rendi langsung mendorong petugas keamanan agar menjauh dari Jason, lalu ia membantu Jason untuk berdiri. Dan kemudian, Nyonya Besar yang tak lain istri Rendi yang bernama Maryam, juga ikut mendekati Jason. "Bukankah kalung ini adalah kalung milik Anak kita yang hilang dulu? Benar kan, Mas?" Tatapan Maryam beralih ke Rendi. "Benar, Maryam. Berarti dia ini jangan-jangan...?" Rendi dan Maryam saling tatap. Kemudian Rendi mengeluarkan ponselnya. Dan kemudian terdengar bahwa Rendi tengah menelpon seseorang. Ternyata yang Rendi telpon adalah seorang Dokter ternama, yang namanya sudah dikenal bukan hanya dalam negeri, bahkan di kancah dunia pun namanya melejit. "Dr. Ali..., halo? Bisakah sekarang juga datang ke kediamanku? Ada hal serius yang ingin aku pastikan. B
Tuan Besar Rendi akhirnya menceritakan semua kejadian di masa lalu. Akan tetapi, setelah Tuan Besar Rendi selesai bercerita, ada satu hal lagi yang membuat suasana menjadi ramai."Dan ada satu hal lagi. Karena semua keluarga kita sudah hadir dalam pertemuan hari ini, aku sekalian ingin memastikan. Ternyata ada musuh dalam selimut! Ada penghianat di antara kita!"Duar... Member...!Berita ini membuat gempar. Mereka saling melihat ke sekeliling, mencoba menebak siapakah penghianat yang dimaksud oleh Tuan Besar mereka.Kemudian, setelah beberapa menit kemudian, ada seorang pria yang berdiri dan berkata, "Ehem...! Semuanya, tolong perhatiannya," ucap pria bernama Junaidi itu.Kini semua perhatian tertuju pada Junaidi. "Tadi kita semua telah mendengar bahwa Tuan Besar kita mengatakan adanya penghianat di dalam keluarga kita ini. Kalau begitu, aku ingin menyampaikan pendapatku, bahwa dialah pasti penghianatnya!"Junaidi menunjuk ke pria lain."Junaidi, apa maksudnya ini...?!" Pria yang ditu
Sebenarnya, Jason memang ingin menghadapi para perampok itu sendirian. Namun, Kapten Valdo langsung menghentikannya."Jason, aku tahu dengan kemampuanmu. Tapi untuk kali ini, aku sangat tidak menyarankan jika kau ingin bergerak sendirian melawan para perampok itu. Jika memang kau berniat mencari mereka, aku rasa dapat membantumu. Tapi, aku tidak mau jika kau bergerak sendiri." Kapten Valdo beberapa kali menegaskan pada Jason bahwa ia tidak boleh bergerak sendirian.Karena melihat sikap Kapten Valdo yang sangat perhatian padanya, Jason pun akhirnya mengerti. "Em..., kalau begitu baiklah. Aku mohon bantuannya, Kapten Valdo."Dan saat mereka sedang berbincang, rupanya terdengar smartphone Susan yang berdering."Halo...? Iya?" Susan menjawab panggilan teleponnya.Dan ternyata, yang menghubungi Susan adalah Tuan Besar Rendi. Susan diminta pergi ke kediamannya bersama dengan Martis. Nampaknya ada sesuatu hal penting yang perlu mereka bicarakan."Jason, bagaimana? Bisakah kita pergi ke sana
Ternyata yang menelpon Jason adalah Kapten Valdo. Kapten Valdo memberitahu pada Jason informasi tambahan tentang pergerakan Saryani. Dan setelah itu, Jason kembali tenggelam dalam pikirannya. Hal yang paling Jason pikirkan yaitu tentang pemberitahuan dari sistem yang mengatakan bahwa telah muncul dua orang lagi yang terpilih menjadi User Sistem. Dan salah satu dari orang itu adalah Susan. Alasan Susan menjadi orang terpilih karena hatinya dan hati Jason mempunyai hubungan yang kuat. Karena mereka saling mencintai, hal itu ternyata dapat memicu terhubungnya jiwa Susan dengan dimensi sistem. Akan tetapi, sistem tidak memberitahu Jason tentang satu orang lagi yang entah keberadaannya ada di mana. "Sebenarnya, siapakah satu orangnya lagi ya?" Jason yang sangat penasaran, akhirnya berulang kali menanyakan beberapa hal lagi tentang pengguna Sistem lain. Dari semua jawaban sistem, Jason hanya mengetahui bahwa pengguna yang sistem maksud saat ini berada jauh darinya, mungkin berada d
Lalu Jason bertanya pada sistem, 'Sistem, apakah ada orang lain yang memiliki Sistem sepertiku selain aku di belahan Dunia ini?' Tring! "Tentu saja ada. Jason adalah orang yang ke-1993 yang terpilih untuk menggunakan Sistem." Jason tersenyum pahit. "Apa...?! Ke-1993 katamu...? Yang benar saja!" Kemudian muncul sebuah file di hadapan Jason. Ia pun bingung dan merasa penasaran. "Apa ini...?" Jason mencoba membuka isi data dari file tersebut. "Aku telah melihat isi data dari file yang kau berikan. Isi dalam data ini menampilkan data pribadi sejumlah 1993 orang yang telah menggunakan sistem di masa lalu. Aku melihat ada namaku yang tercantum di dalamnya, dan terletak di paling terkahir. Dan aku mengeceknya. Ternyata..., semuanya adalah benar. Data sekecil apapun, ada di dalam file itu. Wah, sistem memang sangat hebat, ya?" Kemudian Jason baru sadar akan suatu hal. "Oh, iya, Sistem! Aku ingin membaca kembali tentang data diriku. Jadi, dengan begitu aku akan bisa tahu, siapa d
Jason terkejut, "Eh...? Apa ini? Kenapa Sistem memberikan ucapan selamat padaku? Dan lagi...," Jason yang awalnya girang, berubah dalam sekejap gara-gara pemberitahuan itu menjadi serius. Ternyata, Jason mendapat tantangan dari Sistem untuk mendapatkan cintanya Susan. Jika Jason berhasil, maka sistem akan memberikan hadiah dua kali lipat. "Tugas baru...?" ujar Jason yang sedang termenung di dalam kamarnya. "Selamat...? Berarti tugas ini bukanlah tugas biasa?" Tring! "Benar, ini adalah tugas spesial dari Sistem." Dan pertanyaan Jason langsung dijawab oleh sistem. Dari sini Jason akhirnya mengerti tentang arti sistem yang ia miliki. Ternyata semua perasaan yang Jason rasakan dan semua kejadian yang akan Jason lakukan, Sistem sudah memperhitungkannya terlebih dahulu sebelum Jason bertindak. Betapa hebatnya anugerah Tuhan yang berupa Sistem ini. Jika semua orang dapat memiliki Sistem seperti ini, dunia pasti akan baik-baik saja. Namun sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Han
Suasana saat ini masih terasa nuansa romantis. Namun suasana itu berubah saat Jason mendapat satu pemberitahuan dari sistem yang mengatakan adanya tanda bahaya. Tring! "Peringatan! Jason sedang diintai! Para pengintai memiliki senjata sniper. Dan saat ini, ada beberapa sniper yang mengintai Jason." Jason langsung bergegas. "Susan, ini gawat! Kita dalam bahaya!" Jason kemudian mengajak Susan pergi ke tempat yang sangat ramai. Tring! "Peringatan! Yang mengintai Jason bukan hanya penembak jitu. Ada beberapa drone misterius yang terus mengikuti langkah Jason dari atas sana!" 'Sial...! Mereka kali ini semakin niat untuk menyerangku! Kali ini, aku tidak mau melibatkan orang yang tak bersalah dalam masalahku ini.' Jason bertekad untuk menumpas para mafia agar tidak ada lagi yang namanya kehidupan dunia hitam. Beberapa saat kemudian, Jason yang tadinya pergi untuk menjenguk Juharman, ternyata ia telah dibuntuti sejak awal. Itu artinya, orang yang menggunakan drone tahu tentang ke
Kemudian Saryani mencoba mendengarkan rencana apa yang akan dikatakan oleh Hamsin. "Katakan padaku, rencana apa yang kau miliki untuk menghadapi Jason si Gembel itu?""Tenang saja. Jadi begini...," Hamsin menggosokkan kedua telapak tangannya, lalu ia mengatakan rencana yang telah ia susun dengan rapih.Setelah mendengarkan dengan jelas, nampaknya Saryani setuju dengan rencana yang Hamsin miliki. "Kedengarannya bagus. Aku rasa, rencanamu akan berhasil. Kalau begitu, ayo kita siapkan sekarang juga. Aku tidak mau berlama-lama jauh dari Susan. Aku ingin segera menikahinya, hahaha...!"Saryani dan Hamsin akhirnya menjalankan rencana yang dikatakan oleh Hamsin tadi.***Sedangkan Jason, setelah beberapa hari kemudian keadaan tubuhnya sudah pulih seperti semula. Ternyata, sistem itu sudah menjadi nyawa dari Jason. Buktinya, saat sistem kehabisan daya akibat melakukan pertahanan darurat, Jason ouh ikut tertidur pulas selama kurang lebih dua hari.Dan hari ini, adalah hari yang sudah Jason ren
Dua hari kemudian, akhirnya Jason terbangun dari tidurnya. "Jason..., kamu...? Syukurlah...," ujar Susan dengan perasaan senang karena akhirnya Jason kembali sadar, dan Susan tanpa sadar langsung memeluk Jason. "Eh...? Su-Susan...? Ada apa? Kenapa kau menangis?" Jason bingung, karena ia tak mengingat apa-apa. Lalu Susan melepaskan pelukannya, dan ia pun memegangi wajah Jason dengan kedua telapak tangannya seraya menatap wajah Jason. "Jason..., apakah kau tidak ingat dengan apa yang terjadi padamu kemarin?" Kedua mata Susan nampak berkaca-kaca. "Tunggu dulu..., aku akan mencoba mengingatnya." Saat Jason mencoba mengingat kejadian yang menimpanya, ia pun membaca pemberitahuan sistem. Tring! "Selamat datang kembali, Jason. Sekarang sistem telah kembali aktif." Melihat pemberitahuan itu, akhirnya Jason mulai ingat. 'Benar juga, ini pasti adalah efek samping dari pertahanan darurat. Aku pikir, hanya sistem saja yang akan tertidur, ternyata itu juga berpengaruh pada tubuhku.' Jason
Susan akhirnya mengerti dengan jalan pikir Jason. Jason berpikir, membunuh satu orang demi menyelamatkan seratus orang adalah hal yang lebih baik. Lagi pula, orang yang Jason bunuh adalah orang jahat. Jason berpikir lagi, sudah berapa nyawa yang orang ini bunuh di masa lalu? Sepuluh? Dua puluh? Atau ratusan? Yah..., faktanya Aswin memang seorang mafia yang dikenal juga akan kekejamannya.Di masa lalunya, Aswin memang sering membunuh orang. Entah sudah berapa ratus nyawa orang yang ia renggut demi kepentingan pribadinya dan demi kesenangan semata. Namun hari ini, tidak akan ada lagi nyawa yang akan Aswin renggut karena hari ini adalah giliran nyawanya yang akan direnggut oleh Jason.Kemudian, Jason berhenti menghajar Aswin karena melihat tubuh Aswin yang tidak lagi bergerak. Jason pun menatap tubuh Aswin yang sudah penuh luka dan babak belur. Bahkan, orang yang mengenal Aswin tidak akan bisa mengenali wajahnya sekarang. Sebab, wajahnya nampak sangat kacau dibuat oleh Jason."Susan, ayo