Share

Bab 111. Lenggo Lumut Murka

Author: Andy Lorenza
last update Last Updated: 2025-01-22 23:58:50

“Ajian Topan Gunung Sumbing, ajian itu juga berguna untuk membentengi diri dari serangan lawan,” jawab Arya.

“Lalu ajian dahsyat yang Mas gunakan untuk menghabisi Ketua Padepokan Gagak Hitam di Pulau Madura itu apa?”

“Oh, kalau itu adalah salah satu ajian andalanku bernama Telapak Petir. Ajian itu akan aku keluarkan ketika saat menghadapi lawan yang memang sangat berbahaya dan sulit di taklukan,” tutur Arya.

“Tapi aku minta nanti apabila kita akan bergerak menumpas Padepokan Lumut, Ketua padepokan yang bernama Lenggo Lumut itu biar aku saja yang menghadapinya. Aku ingin membalaskan dendam tewasnya kedua orang tuaku olehnya,” pinta Mantili.

“Hemmm, tentu saja Mantili. Namun yang terpenting kita berhasil menumpas Padepokan Lumut di samping dendam yang hendak kamu balas pada ketua padepokan itu,” ujar Arya.

“Tentu saja Mas, karena tujuan utama kita memang itu. Sedangkan urusanku dengan Lenggo Lumut adalah urusan pribadi,” Mantili memahami dan dapat menyisihkan antara tugas mulia dan dend
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 112. Sama-sama Bergerak

    Meskipun Arya menyarankan agar jangan terlalu menuruti rasa dendam, namun rasa itu takan mampu di usir sepenuhnya di hati Mantili. Murid Kiai Bimo itu akan bertarung sampai titik darah penghabisan, ia tidak akan pernah bisa tenang sebelum dapat membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya itu pada Lenggo Lumut.Walaupun Mantili tidak mengeluarkan Pedang Bulan dan ajian-ajian andalan yang ia miliki, namun karena semangatnya berlatih membuat gerakan-gerakan di tunjukannya tampak gesit sekali. Arya pun kagum dan yakin jika Mantili nantinya akan dapat mengatasi Ketua Padepokan Lumut itu, sang pendekar berharap dia dan para warga desa-desa besok pagi berhasil menumpas padepokan itu.Sementara malam itu Lenggo Lumut tampak di ruang tengah di temani Ratu Lentik, kemarahannya tadi sore pada anak buahnya masih saja menyenak di hatinya. Lenggo Lumut marah bukan semata-mata karena kegagalan anaknya itu dalam menjalankan tugas yang ia berikan, namun lebih pada rasa penasaran siapa pendekar wani

    Last Updated : 2025-01-24
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 113. Lenggo Lumut Terkejut

    “Berhenti..!” seru salah seorang dari mereka pada rekannya, mereka pun hentikan kuda masing-masing.“Kalian sabar jangan bertindak apa-apa dulu tunggu perintahku,” Arya yang mengetahui lebih awal jika puluhan orang di depan mereka itu adalah para anggota Padepokan Lumut memperingatkan pasukannya agar tidak bertindak lebih awal sebelum ia perintahkan.Sementara pasukan anggota Padepokan Lumut itu perlahan-lahan mulai mendekat, lalu kembali berhenti di jarak 5 tombak dari pasukan para warga desa yang di pimpin Arya itu.Arya dan Mantili bergerak lebih dekat lagi sejarak 2 tombak, beberapa orang dari anggota Padepokan yang mengenal wanita di samping pria berpakaian putih itu berbisik-bisik dengan rekannya yang lain.“Oh, rupanya kau wanita bedebah yang menghajar beberapa orang rekan kami itu?!” salah seorang yang diduga pemimpin pasukan anggota Padepokan Lumut itu buka suara.“Hemmmm, rekan-rekanmu itu lebih bedebah dan pantas diberi pelajaran!” Mantili balas mengumpat.“Sudah Mbak Manti

    Last Updated : 2025-01-26
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 114. Bentrokan Sengit

    Dengan segera ia memerintahkan anak buahnya untuk siaga berbaris di depan padepokan seperti pagar, sementara Lenggo Lumut dan Ratu Lentik itu sendiri berada di belakang barisan anggota padepokan itu.Arya yang memimpin pasukan para warga desa memberi aba-aba untuk berhenti saat mereka telah berjarak sekitar 7 tombak dari barisan anggota Padepokan Lumut itu, kemudian Arya dan Mantili berjalan lebih mendekat sementara Saga yang di tunjuk untuk memimpin anggota Padepokan Lumut ikut maju ke depan menghampiri.“Hemmm, apakah kau yang bernama Lenggo Lumut itu?!” tanya Mantili.“Bukan, namaku Saga.”“Ternyata Ketua kalian sosok yang pengecut juga, berlindung di ketiak anak buahnya! Ha.. ha.. ha..!” Mantili tertawa, hal itu membuat rahang Lenggo Lumut mengembung.Lenggo Lumut terpancing emosi mendengar kata-kata yang dilontarkan Mantili terhadapnya, meskipun Ratu Lentik telah berusaha mencegah namun ia tetap bersikeras untuk maju berdiri sejajar dengan Saga.“Kau bilang aku pengecut..?!”“Ha.

    Last Updated : 2025-01-27
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 115. Arya Sengaja Mengalah

    “Hiyaaaaaat..! ajian Cincin Bulan Menentang Angin..! Blaaaaaaam..! Blaaaaaaaar..!” puluhan benda bulat berwarna ke kuning-kuningan itu meledak sebelum tiba di tempat Mantili berdiri, hal itu di karenakan cahaya putih berupa lingkaran yang berasal dari kedua telapak tangan yang di putar oleh murid Kiai Bimo melesat dan menghantam ke semua Bola-bola kematian itu.Ratu Lentik bukan kepalang terkejutnya, ia tak menyangka jika lawannya memiliki ajian sedahsyat itu.“Jika ajian Bola-bola Kematian tidak mempan, saat aku akan beri dia pelajaran dengan ajian Gelang-gelang Setan!” gumam Ratu Lentik.Kedua tangan Ratu Lentik nampak di gerak-gerakan ke atas dan ke bawah, kemudian di kedua tangannya itu mulai dari siku hingga pergelangan memancar cahaya kuning menyilaukan, cahaya itu makin terang seiring munculnya beberapa buah gelang memenuhi dari siku hingga pengelangan tangannya itu.“Hiyaaaaaaat..! Kali ini kau pasti mampus wanita keparat..! Ziiiiiiiiiing..! Ziiiiiiiiiiing..!” beberapa buah ge

    Last Updated : 2025-01-29
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 116. Dendam Terbalaskan

    “Wuuuuuuuuus..! Blaaaaaaaaam..! Blaaaaaaar..!” Bola berwarna hijau pekat itu pun meledak di tengah-tengah antara Lenggo Lumut dan Mantili yang berhadap-hadapan sejarak 7 tombak.“Bedebah..! Kembali Bola Lumut Beracun ku mampu ia bendung..!” geram Lenggo Lumut dalam hati, sementara Arya yang kini duduk santai berjuntai-juntai di atas atap salah satu bangunan padepokan tertawa membuat Ketua Padepokan Lumut itu makin geram.“Mantili..! Kali ini kau tidak akan lolos lagi..! Nyawamu akan melayang menyusul arwah kedua orang tuamu di neraka..! Hiyaaaaaaaaaaat..!” berawal dengan merentangkan kedua tangannya ke atas kemudian menghentakannya ke tanah, tubuh Lenggo Lumut berubah berwarna hijau keseluruhannya dan bentuk tubuhnya sedikit lebih besar dan tinggi.Tubuh Lenggo Lumut yang menghijau itu ia putar perlahan makin lama makin kencang seperti gasing menderu mengejar Mantili seiring dengan lesatan sinar-sinar hijau yang puluhan jumlahnya, Arya sempat di buat terkejut dan ingin melompat memban

    Last Updated : 2025-01-30
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 117. Padepokan Gagak Timur

    Meskipun di langit tampak beberapa awan yang menyelimuti tapi pagi itu cukup cerah dan di perkirakan menjelang siang hujan tidak akan turun, di sebuah kawasan yang di sana terdapat sungai besar memanjang banyak terdapat pemukiman dan deretan lahan persawahaan yang luas milik warga desa.Sungai itu bernama Sungai Berantas, yang tak jauh dari kawasan itu tampak pula menjulang tinggi Gunung Kawi, di pinggiran Sungai Berantas itu lah berdiri sebuah bangunan Kerajaan yang sangat besar dan Megah.Kerajaan itu salah satunya yang sampai sekarang tak mampu ditundukan Pangeran Durjana bersama Padepokan Nerakanya di kawasan timur Pulau Jawa, termasuk pula Padepokan Gagak Timur yang di pimpin Welung Pati yang saat itu berada tidak jauh dari perbatasan wilayah kekuasaan Kerajaan besar di pinggiran Sungai Berantas.Kerajaan itu sendiri tidak lain adalah Kerajaan Kediri, yang pada masa itu di pimpin oleh Prabu Jayabaya. Pada masa itu pula Kerajaan Kediri berkembang sangat pesat hingga di kenal sampa

    Last Updated : 2025-02-01
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 118. Beberapa Penunggang Kuda

    “Ya Ketua, aku akan sampaikan itu jika dia bertanya.”“Nah, sekarang kalian berangkatlah ke sana. Jangan lupa bawa serta beberapa orang dan kereta kuda untuk membawa bahan makanan bantuan dari Padepokan Lumut itu nantinya,” Welung Pati memberi perintah.“Baik Ketua, kami mohon diri untuk berangkat ke sana,” ujar Bari yang di percaya sebagai pemimpin rombongan yang akan berangkat ke Padepokan Lumut itu.****Selepas tengah hari Arya yang 2 hari ini masih berada di Desa Tandur menginap di rumah Sapto sebagai kepala desa di sana bermaksud hendak mohon diri melanjukan perjalanannya, pada saat itu pula wanita berpakaian ungu tampak murung karena musti berpisah dengan pendekar tampan yang dalam beberapa hari ini mendampinginya.“Jadi hari ini kamu hendak melanjutkan perjalanan ke arah barat sana, Arya?” tanya Sapto di ruangan depan rumahnya.“Jadi Paman, aku rasa tujuanku membantu Mantili dan seluruh warga desa di kawasan ini telah selesai.”“Baiklah, tak ada yang dapat kami berikan sebagai

    Last Updated : 2025-02-02
  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 119. Rencana Perampokan

    “Lihat di depan sana tak ada satupun bangunan padepokan yang berdiri selain reruntuhan yang kini telah menjadi arang, apa kamu yakin letak Padepokan Lumut itu di kawasan ini?”“Yakin Kang, dulu aku dan beberapa orang anggota Padepokan Gagak Timur pernah ke sini menemui Ketua Padepokan Lumut itu,” jawab Danar.Tak beberapa lama beberapa orang warga Desa Tandur yang tadi juga mengikuti rombongan berkuda itu menghampiri mereka, sementara Arya hanya mengawasi dari kejauhan saja.“Maaf Kisanak, kalian ini dari mana dan ada tujuan apa datang ke kawasan desa kami?” tanya salah seorang warga yang menghampiri Bari dan rekan-rekannya, Bari pun turun dari kuda begitu pula dengan rekan-rekannya.“Kami datang dari Padepokan Gagak Timur, tujuan kami hendak menemui Ketua Padepokan Lumut. Apakah benar di kawasan ini tempat berdirinya Padepokan Lumut itu, Kisanak?” jawab Bari lalu balik bertanya.“Ya benar, akan tetapi Padepokan Lumut itu sudah runtuh dan Ketua padepokan itu pun telah tewas.”“Apa? Pa

    Last Updated : 2025-02-03

Latest chapter

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 183. Pria Berpakaian Coklat

    Seorang pria berbadan kekar berparas cukup tampan mengenakan pakaian coklat berjalan santai menuju Lembah Neraka, pria itu datang dari arah selatan dan mulai memasuki kawasan yang saat ini diawasi oleh para mata-mata dan para anggota yang dipilih Padepokan Neraka yang di pimpin Pangeran Durjana itu.Baru saja menjejakan kaki masuk di kawasan itu, seorang mata-mata padepokan datang menghadang yang diikuti beberapa orang bersenjata golok dan tombak.“Berhenti..! Kau memasuki kawasan padepokan kami, kau siapa dan ada keperluan apa masuk ke sini?” tanya mata-mata padepokan.“Hemmm, saya hendak bertemu dengan Ketua kalian Pangeran Durjana,” jawab pria berpakaian coklat itu.“Katakan dulu kau siapa dan ada perlu apa menemui Ketua kami..!”“Kalau berkenaan dengan keperluan apanya saya menemui Ketua kalian itu rahasia dan tak perlu juga kalian ketahui, jika saya tidak diperbolehkan ke padepokan kalian tidak apa saya tunggu saja di sini. Yang pasti katakan pada Ketua kalian itu bahwa saya Seta

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 182. Menuju Kerajaan Mandalu

    Sembari menunggu matahari agak condong ke barat, tengah hari itu mereka manfaatkan untuk beristirahat dan makan siang bersama. Dari arah barat tampak pula 3 orang yang tengah berjalan santai meniti pematang sawah menuju dangau tempat beberapa petani sedang makan siang bersama itu, mereka terdiri dari satu orang wanita dan dua orang pria.Para petani di dangau sempat arahkan pandangan ke arah ketiga orang yang tengah meniti pematang itu, mereka saling pandang seperti bertanya apakah ada di antara mereka yang mengenal tiga orang yang berjalan di pematang sawah menuju ke arah dangau mereka itu.Keseluruh para petani itu menampakan raut wajah yang bingung pertanda tak ada satupun di antara mereka yang mengenali tiga orang yang saat itu telah dekat dengan dangau tempat mereka duduk makan siang bersama, dua orang di antara petani itu hentikan makan lalu berdiri dari duduknya berjalan menghampiri ketiga orang yang telah tiba di depan dangau itu.“Maaf, jika kehadiran kami telah mengganggu is

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 181. Raja Setan Segajad

    Bayangan hitam yang sangat besar tiba-tiba saja muncul tepat di depan Setan Tanduk Neraka duduk bersila melakukan semedi, saking besarnya puncak kepalanya menyentuh langit-langit goa padahal dia juga memposisikan tubuhnya duduk di atas batu besar di depan Guru Pangeran Durjana itu.Makin lama bayangan itu semakin jelas wujudnya yang tak kalah menyeramkan dengan wujud Setan Tanduk Neraka, kehadirannya di sana membuat dinding-dinding goa bergetar hebat seakan mau runtuh.“Ha.. ha.. ha..! Ada gerangan apa kau memanggilku ke sini, Setan Tanduk Neraka..?!” kembali dinding-dinding goa itu bergetar hebat, Setan Tanduk Neraka membuka matanya.“Terimalah sembahku yang mulia Raja Setan Sejagad,” ucap Setan Tanduk Neraka memberi sembah, sosok raksasa di depannya itu hanya anggukan kepala.“Maafkan saya yang mulia jika saya lancang memanggil yang mulia Raja datang ke sini, adapun tujuannya hendak meminta bantuan menyempurnakan ilmu tanduk neraka yang mulia sematkan di kepala saya. Yang mulia berk

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 180. Pangeran Durjana Cemas

    Para anggota atau anak buah Pangeran Durjana yang mendiami padepokan itu telah mencapai 2.000 orang, itu semua karena Padepokan Neraka memang memiliki daya tarik kuat untuk bergabung menjadi anggota sebab merasa terjamin kehidupan mereka di sana dengan berlimpah ruahnya upeti yang mereka terima dari berbagai Kerajaan dan padepokan yang telah mereka taklukan.Namun begitu Pangeran Durjana yang serakah itu masih belum puas dengan menguasai kawasan timur Pulau Jawa itu saja, ia ingin dapat menguasai seluruh Pulau Jawa dari timur hingga kawasan barat seperti yang dikehendaki Gurunya Si Setan Tanduk Neraka itu.Kedatangan Pangeran Durjana di halaman padepokan di sambut oleh Dipo Geni sebagai tangan kanannya atau di Kerajaan sebagai Panglima, melihat raut wajah junjungannya tidak terlihat gembira Dipo Geni tak berani bertanya selain mengiringi junjungannya itu hingga ke dalam ruangan kebesaran Padepokan Neraka itu.“Dipo Geni, selama saya pergi meninggalkan padepokan ini apakah ada Kerajaan

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 179. Roh Sura Brambang

    Tanpa menunggu waktu lama lagi Pangeran Durjana segera meninggalkan goa itu, ia menuju ke arah timur itu artinya di akan kembali ke padepokannya di Lembah Neraka di kawasan Gunung Merapi.Setan Tanduk Neraka sebenarnya sosok mahkluk astral sejenis jin yang sebelum dimasuki roh Sura Brambang sosok bertubuh empat kali lipat manusia biasa itu tidak pernah bisa dilihat dan dia pun tak bisa juga menunjukan dirinya setiap saat kepada manusia.Roh Sura Brambang yang selalu gentayangan berupa arwah penasaran itu, takan pernah merasa senang jika Tanah Jawa belum mengalami kehancuran karena memang semasa hidupnya dulu merupakan dedengkot tokoh golongan hitam. Melalui raga halus mahkluk astral yang mengerikan itulah, ia dapat berkomunikasi dan bisa dilihat oleh Pangeran Durjana sebagai murid sekaligus jalan mewujudkan keinginan jahatnya itu yang ingin melihat kehancuran di muka bumi terutama Pulau Jawa.Sosok Setan Tanduk Neraka bukan saja berwujud mengerikan tapi juga memiliki ilmu yang luar bia

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 178. Setan Tanduk Neraka

    Dari sisi kiri depan mulut goa tampak berkelebat sebuah bayangan merah, sosok itu seperti berlari-lari meniti dinding goa lalu salto di udara beberapa kali sebelum akhirnya ia duduk bersila pula di atas batu besar berhadap-hadapan dengan mahkluk aneh dan menyeramkan itu.“Ha.. ha.. ha..! Sudah lama kau tak datang mengunjungiku di sini bocah bejad..!” terdengar suara dan tawa dari makhluk mengerikan itu menggelegar memekakan telinga.“Maafkan saya Guru, saya baru sempat datang saat ini karena sebelumnya sibuk dengan rencana yang pernah saya sampaikan membuat sebuah padepokan dan sekarang semua itu telah terwujud. Bukan hanya itu saja Guru, saya juga telah berhasil menguasai kawasan timur Pulau Jawa ini,” tutur sosok yang baru masuk ke dalam goa itu, seorang pria berbadan kekar mengenakan pakaian serba merah.“Ha.. ha.. ha..! Ternyata selama ini kau hanya dapat menguasai kawasan timur saja, murid bodoh kenapa tidak seluruh Pulau Jawa ini?!” seru mahkluk aneh yang di panggil dengan sebut

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 177. Di Sebuah Goa Besar

    “Dia merasa sangat tertekan dan merasa terhina sekali di bawah kendali Pangeran Durjana, sebagai seorang raja dia tak memiliki harga diri lagi. Dia mengajak kerja sama untuk melawan Pangeran Durjana itu, sebagai imbalannya Satrio Mandalu bersedia menyerahkan beberapa daerah kekuasaannya pada kami di perbatasan utara sana. Saya sebenarnya sangat kasihan dan sama sekali tak menginginkan daerah itu kalaupun kami bersedia membantunya, hanya saja sampai saat ini saya belum memberi keputusan karena saya masih disibukan untuk mengurus Kesultanan dan daerah-daerah kekuasan di Demak ini,” jelas Sultan Demak.“Mungkin ada baiknya kami nanti akan ke Kerajaan Mandalu itu bertemu dengannya, tentu dia tahu persis kediaman Pangeran Durjana dan para anak buahnya itu.”“Benar Dezo, saya juga hendak mengusulkan itu padamu. Pangeran Durjana memang telah keterlaluan beberapa tahun ini terkesan memperbudak Kerajaan-kerajaan dan padepokan di kawasan timur itu,” ujar raja Kesultanan Demak itu.“Saya juga pe

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 176. Pernah Dikalahkan Arya

    “Jangan panggil saya dengan sebutan seperti itu Mas Tapa, panggil saja saya Arya,” ujar murid Nyi Konde Perak itu yang merasa risih dipanggil Tuan Pendekar.“Baik Arya apakah benar pria pengacau itu tidak akan datang kembali ke desa kami ini?” tanya Tapa Diwo.“Saya kenal dengan pria itu, dia adalah Pangeran Durjana musuh bebuyutan saya dan kami pernah bertarung dulunya sebelum saya dikabarkan tewas,” jelas Arya memastikan.“Oh, kalau begitu kami ucapkan terima kasih dan kami sudah tak merasa kuatir lagi akan kemunculannya di kawasan desa kami ini,” ucap Tapa Diwo.“Sama-sama Mas Tapa, sekarang kami mohon diri untuk kembali ke istana Kesultanan Demak, jika ada hal-hal yang mencurigakan atau apa saja itu yang menguatirkan warga di sini segera laporkan pada pihak istana,” tutur Arya sembari berpamitan.“Baik Arya,” Tapa Diwo dan para warga Desa Damai yang berada di sana lambaikan tangan saat Arya dan rombongan kembali ke istana Kesultanan Demak.Memang tidak ada luka dalam yang di derit

  • Kembalinya Sang Pendekar Rajawali Dari Andalas   Bab 175. Penyamaran Terbongkar

    “Jahanam..! Saya yang akan bertarung denganmu..!”Panglima Kerajaan Demak maju menerjang, pria bertopeng hanya mengelak beberapa langkah ke samping lalu dengan santai ia memasukan pedang di tangannya ke dalam sarung yang ia sandang dipunggungnya.“Hemmm, ternyata kau punya nyali juga Panglima. Baik saya akan melayanimu dengan tangan kosong pula,” ujar pria bertopeng.Terjadilah pertarungan yang cukup seru dan menegangkan, jual beli pukulan tangan kosong pun terlihat.“Buuuuuuuuk..!”Sebuah tendangan keras tak terduga bersarang di dada Panglima hingga membuatnya terguling-guling beberapa kali di tanah, pria bertopeng sepertinya hendak menghabisi Panglima Kerajaan Demak itu terlihat dirinya melesat ke udara lalu menghujamkan kepalan tinjunya ke arah perut Panglima.Angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu hebat mengarah tubuh Panglima yang tergeletak mendekap dadanya yang nyeri, beberapa jangkauan lagi kepalan tangan itu akan menghantam dan bisa saja membuat perut Panglima itu meled

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status