Share

Bab 15

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-02-04 18:56:41
15

Awal malam itu diwarnai dengan hujan petir. Martin terpaksa mengonsumsi mi instan, karena tidak ada kurir yang bisa mengirimkan makanan.

Martin menikmati hidangan sembari menonton film laga di laptop. Setelah mi habis, dia menyambar bungkusan malkist dan merobek ujungnya.

Sekian menit berlalu, Martin telah berhenti mengunyah. Dia meneruskan menonton, tanpa menyadari jika ponselnya berkedip-kedip sejak tadi.

Sementara di kamarnya, Yuanna gelisah, karena Martin tidak menjawab panggilan. Perempuan berkepang satu akhirnya beralih menelepon penjaga indekos, yang berjanji akan mengecek ke kamar Martin.

Detik berlalu menjadi menit. Yuanna segera mengangkat panggilan dari sang kekasih. Dia hendak mengomeli Martin, tetapi dibatalkan karena mendengar suara orang lain di sekitar pria itu.

"Koko, di sana ada siapa aja?" tanya Yuanna.

"Aku sendirian di sini, Dek," jawab Martin.

"Kayak ada suara orang lain."

"Oh, itu dari laptop. Aku lagi nonton film."

"Hmm." Yuanna terdiam sejenak semba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 16

    16Langit senja sudah menggelap ketika Jauhari membuka lipatan kursi kecil, yang dibawanya turun dari mobil. Lelaki berjaket jin biru, duduk tegak di kursi. Dia memegangi kamera beresolusi tinggi, lalu mengarahkannya ke sekeliling. Jauhari memfokuskan pandangan ke sekitar. Dia juga menajamkan pendengaran, untuk menangkap bunyi sekecil apa pun di tempat itu. Nirwan, Seno, Ridho dan Muchlis yang duduk bersila di tikar, beberapa meter di belakang Jauhari, mengamati sekitar yang sunyi. Meskipun mereka berkelompok, tetap saja mereka harus waspada terhadap apa pun, yang mungkin ada di sana.Nirwan menyipitkan mata untuk melihat jelas ke container pertama. Dia terkejut ketika sekelebat bayangan melintas dari container, menuju rerimbunan pohon di ujung kanan. Nirwan kembali menambah pagar doa di sekeliling mereka. Sebagai satu-satunya orang yang memiliki kemampuan olah napas di tempat itu, Nirwan harus memastikan rekan-rekannya terlindungi. "Zikir. Jangan bengong," bisik Muchlis. "Bulu k

    Last Updated : 2025-02-05
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 17

    17Malam itu, Jauhari menginap di rumah kontrakan Martin. Dia menempati kamar depan bersama Nirwan dan Seno. Sedangkan Muchlis dan Ridho menghuni kamar belakang. Detik terjalin menjadi menit. Jam berganti cepat, tetapi suasana tetap hening. Hanya suara binatang malam yang terdengar dari luar, selebihnya sunyi. Jauhari menonaktifkan ponselnya, lalu memasang pengisi daya. Dia meletakkan telepon seluler ke meja. Kemudian berdiri dan jalan keluar. Seusai mengecek pintu dan jendela, Jauhari memasuki kamar mandi. Dia menggosok gigi dan mencuci wajah, kemudian keluar untuk kembali ke kamar. Sekian menit terlewati, Jauhari telah berbaring telentang di kasur besar. Nirwan yang berada di sebelah kirinya, beradu dengkuran dengan Seno yang tidur di kasur bawah. Pria berhidung bangir, memejamkan mata sambil membaca doa tidur dalam hati. Perlahan sukma Jauhari melayang, hingga dia tertidur pulas. Waktu sudah bergeser ke dini hari ketika Seno terbangun. Dia memaksakan diri untuk bangkit, lalu

    Last Updated : 2025-02-05
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 18

    18Sore itu, kelompok tamu dari Malaysia akhirnya tiba di hotel tempat mereka akan menginap selama berada di Bandung. Arsyad dan Zainab yang telah menunggu sejak tadi, menyambut keluarga calon besan dengan sangat ramah. Restoran hotel yang semula hening, seketika riuh dengan obrolan beberapa kelompok berbeda. Keempat Bapak berbincang tentang kehidupan sehari-hari dan dunia politik. Sedangkan yang para lelaki muda membahas berbagai proyek yang hendak dilaksanakan secara bersama-sama.Yuanna dan para perempuan lainnya membicarakan rencana pernikahan yang akan dilaksanakan dua bulan mendatang. Sang calon pengantin tampak antusias menerangkan detail gaunnya, dan pakaian buat semua keluarga besar kedua belah pihak. "Oh, jadi bajunya sama warna?" tanya Shayana. "Ya, Ma. Hanya dibedakan sedikit, bagian bordir dan list-nya," jelas Yuanna. "Ini bagus sangat modelnya, Dek. Kakak suka," ungkap Gianina dengan logat Melayu yang kental. Dia menunjuk gambar di ipad Yuanna. "Iya, Kak. Waktu dit

    Last Updated : 2025-02-06
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 19

    19Sabtu siang, Alvaro tiba di kediaman Arsyad, dengan menumpang pada taksi. Kehadirannya yang hanya seorang diri, menyebabkan Hendri dan yang lainnya terkejut. Jauhari dan Riaz saling menyiku. Sedangkan Nawang beradu pandang dengan Nirwan, sebelum sama-sama menunduk sambil mengulum senyuman. Keempat pengawal muda itu meyakini jika Alvaro berhasil lolos dari penjagaan ajudan keluarga Pramudya. Hal itu diperkuat dengan kehebohan rekan-rekan pengawal junior, terutama yang tergabung dalam lapisan 3 sampai 10.****Grup Pengawal Muda Lapisan*Azhar : Tolong! Aku diomelin Pak Tio! Yusuf : Sudah tahu Padre itu cerdik. Masih aja santai jagainnya.Jeffrey : Akhirnya Azhar merasakan penderitaanku saat jadi ajudan Padre. Ibrahim : Aku senang! Fawwaz : Aku happy! Chairil : Aku, antara prihatin sama pengen ngakak.Qadry : Yang jadi pertanyaanku. Bang Varo bisa lolos itu, gimana caranya? Jauhari : Padre pura-pura joging. Karena itu hal yang rutin dilakukannya tiap weekend, nggak ada yang cu

    Last Updated : 2025-02-06
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 20

    20Ruangan luas di lantai tiga rumah Arsyad, malam itu terlihat ramai orang. Mereka berlatih jurus kasar olah napas, yang dilanjutkan dengan jurus halus. Alvaro dan Jauhari bolak-balik sepanjang ruangan, sembari melatih jurus halus satu sampai sepuluh. Hendri, Zein, Ubaid dan Bayu ikut berlatih di belakang Alvaro serta Jauhari. Demikian pula dengan Izra dan Emyr. Pada sisi kiri, Riaz, Martin, Azriel dan Seno tengah berlatis jurus kasar. Mereka diawasi Nirwan, Gilang, Gunther dan Kenzie. Yuanna ikut menonton latihan itu bersama Fenita, Irshava, Rini, Gwen, Rheamaza, Divia dan Freya. Mereka duduk di tikar yang digelar di ujung kanan, sembari menikmati kudapan yang disiapkan Zainab. "Bang Zainal dan Bang Adi satu, harusnya jangan cepat-cepat pulang. Aku sudah lama tidak berlatih dengan mereka," cakap Rini."Mereka sangat sibuk, Rin. Kemaren itu bisa ke sini, sekalian meeting sama Kang Hendri," sahut Gwen. "Kapan, ya? Semua anggota kelompok kita bisa ngumpul lagi kayak dulu?" tanya R

    Last Updated : 2025-02-07
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 21

    21 Jalinan waktu terus bergulir. Niat Jauhari untuk kembali ke tempat proyek akhirnya dibatalkan. Sebab dia harus menuntaskan latihan olah napas dan bersiap-siap untuk dibaiat. Sebagai gantinya, Riaz yang berangkat bersama Zein dan yang lainnya. Sedangkan Jauhari dan Nawang mendampingi Alvaro serta Hendri, yang hendak melakukan rapat dengan beberapa pengusaha PG dan PC yang berdomisili di Bandung. Nawang yang diminta menyetir mobil Hendri, berulang kali diteriaki Jauhari yang menempati kursi samping kiri. Kedua pria muda tersebut saling mencela dan beradu kaki. Tanpa peduli dipandangi para bos di kursi belakang. "Kamu kayak baru belajar nyetir, Wang. Bawa mobilnya ndut-ndutan gini," ledek Hendri. "Aku memang belum pernah nyetir mobil model gini, Kang," kilah Nawang. "Mobil ini tipenya sama dengan mobil Yanuar. Harusnya kamu sudah paham," imbuh Alvaro."Aku belum pernah pegang mobil Bang Yan. Nyetir mobil Abang pun cuma sekali," tutur Nawang. "Pinjam mobil Koko Dante. Lancarin n

    Last Updated : 2025-02-07
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 22

    22Detik berlalu menjadi menit. Suasana di dalam gudang besar mendadak menegangkan. Terutama bagi Seno yang sibuk memerhatikan sekeliling. Pria berkulit kuning langsat, berulang kali mengusap tengkuk dan punggung tangannya. Seno benar-benar khawatir jika semua makhluk astral muncul secara bersamaan, bisa dipastikan dirimya harus ikut berjuang bersama teman-temannya. Seno membeliakkan mata ketika dua sosok makhluk astral kian terlihat di bawah pohon. Disusul satu bayangan yang bergerak dari rimbunan pohon dekat container. Lamya terus memerhatikan sosok berpakaian khas laki-laki Sunda tempo dulu, yang tengah berdiri membelakangi kamera. Dia mengeluh dalam hati ketika makhluk itu berbalik dan memandangi kamera CCTV. "Dia tahu jika tengah diawasi," tutur Lamya. "Mungkin dia jurig modern," seloroh Nirwan."Kupikir juga begitu. Coba kalian lihat pakaiannya. Nggak terlalu jadul," imbuh Zein. "Maksudku, beda dengan jin yang sering kita temui di tempat proyek lain," lanjutnya. "Bang, aku

    Last Updated : 2025-02-08
  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 23

    23Seunit mobil Jeep Mercedes-Benz abu-abu melesat menembus kepekatan malam. Sang sopir melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi, agar bisa segera tiba di tempat tujuan. Keempat penumpangnya tidak ada yang urun bicara. Mereka tahu jika sang sopir tengah tegang dan tidak boleh diganggu. Mendekati tempat tujuan, Hendri membelokkan mobil ke kanan. Meskipun jalan di situ tidak rata, tetapi itulah jalan pintas tercepat menuju area belakang kantor pengelola proyek KARDZ. Selama berada di sana tempo hari, Hendri sudah mempelajari jalan-jalan kecil yang biasa dilalui pekerja kasar. Gang itu menjadi satu-satunya area yang bisa dilintasi mobil, tanpa harus memutar ke bangunan utama. Sinar lampu mobil Jeep menyorot langsung ke sisi kanan halaman, di mana ada beberapa pohon besar yang menjadi penghalang pandangan, hingga tidak tembus ke bangunan gudang. Gunther yang melihat mobil mendekat, segera menyilangkan kedua tangannya, lalu menunjuk ke kiri untuk mengarahkan mobil ke tempat yang la

    Last Updated : 2025-02-08

Latest chapter

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 65

    65Bulan berganti. Proyek KARZD akhirnya rampung. Pagi itu diadakan peresmian bangunan yang akan menjadi pusat bisnis sepanjang hampir 1km. Ketiga bos HWZ dan keluarga, serta para tamu undangan, memenuhi lobi utama gedung yang akan menjadi pusat kegiatan di kawasan strategis ituKeluarga Danantya, Pramudya, Baltissen dan Adhitama juga turut hadir. Selain mereka, beberapa sahabat Martin di PC dan PCD juga menghadiri acara penting bagi KARZD. Setelah Hendri dan Martin menyampaikan pidato, Mulyadi menaiki panggung untuk membacakan doa, yang diikuti hadirin dengan khusyuk. Selanjutnya, acara pengguntingan pita yang dilakukan kelima komisaris perusahaan tersebut. Zein dan Martin mengapit Wirya, Zulfi dan Hendri. Mereka bersama-sama memotong pita, kemudian mereka mempersilakan ketiga bocah untuk memencet tombol. Bayazid, Fazluna dan Rhetta, berseru ketika berbagai hiasan dari kertas mengilat, muncul dari lantai dua dengan diiringi aneka pita kecil berwarna-warni. Puluhan menit terlewati

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 64

    64Jalinan waktu terus bergulir. Semua anggota rombongan penembus lorong waktu, telah kembali ke kediaman masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Yìchèn yang menetap di kediaman Frederick Adhitama, telah membaca surat panjang dari Shin Hung. Bersama Qianfan dan yang lainnya, Yìchèn juga sudah membahas isi surat dan silsilah keluarga Chow serta Shin Fung. Dua minggu berlalu, Martin dan tim Bandung mendatangi Yìchèn di Jakarta. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan tentang isi surat itu. "Koko yakin mau berangkat ke sana?" tanya Martin sambil memandangi kembarannya lekat-lekat. "Ya, tapi tidak sekarang," jawab Yìchèn. "Lalu, kapan?" desak Martin. "Menunggu aku punya identitas sendiri." "Oh, belum selesai, ya?" Yìchèn mengangguk mengiakan. "Pengacara keluargaku tengah mengurusnya." Martin mengangkat alisnya. "Keluarga Koko?" "Ya. Aku sekarang jadi bagian dari keluarga PBK." Martin mengulaskan senyuman. "Betul juga, sih." "Koko mau diangkat anak sama Papa

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 63

    63Bau angit sisa-sisa kebakaran, yang sempat memenuhi area kanan belakang kantor pengelola proyek KARZD, perlahan menghilang. Matahari pagi bergerak cepat memutari bumi. Siang menjelang dengan diiringi gerimis, yang menyebabkan tanah di sekitar gudang kecil menjadi basah. Tim tiga dan empat berjibaku membangun tenda, dengan dibantu Seno, Ridho, dan Muchlis. Maman, Jajang, dan para petugas keamanan, juga turut membantu menjadi penyedia konsumsi. Dua lampu sorot besar diarahkan ke pintu gudang yang ditutupi kain hitam. Empat lampu lainnya digunakan untuk penerangan sekitar tenda, yang dibangun memanjang dari depan gudang kecil hingga ujung gudang besar. Yuanna merapikan lipatan handuk dan pakaian ganti buat anggota rombongan yang berada di lorong waktu. Sedangkan Gantari dan Sinta menyusun bungkusan plastik bening yang berisikan kue-kue serta minuman. Arsyad jalan mondar-mandir di sisi kanan tenda. Dia benar-benar khawatir, karena kelompok Zainal dan Hendri belum juga muncul. Pada

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 62

    62Seorang pria tua menyambut rombongan Yìchèn dengan penghormatan. Dia memberikan bungkusan kain pada orang terdepan, yakni Dante. Keduanya bercakap-cakap sesaat, sebelum lelaki tua membuka pintu bangunan kecil itu. Cahaya terang seketika terpancar dari dalam. Semua orang di bagian depan menyipitkan mata, kemudian mereka berbaris dua orang, sesuai arahan Wirya. Yìchèn yang berpindah ke depan bersama Freya, memberi hormat dengan sedikit membungkuk pada suami Shin Fung, dan keluarga Chow, yang membalas dengan hal yang sama. Yìchèn menegakkan badan, lalu menunggu kedua orang terdepan memulai perjalanan mereka menuju masa modern. Hendri dan Zein menggerak-gerakkan kedua tangan mereka membentuk jurus halus olah napas. Keduanya serentak menembakkan tenaga dalam ke cahaya, yang seketika meredup dan memperlihatkan kumparan kabut tebal yang tidak terlalu terang. Hendri dan Zein melangkah bersamaan. Ubaid dan Bayu mengikuti di belakang. Keempatnya bekerjasama menembakkan tenaga dalam ke s

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 61

    61Langit malam dipenuhi jutaan bintang. Rembulan memamerkan bentuknya yang sempurna, hingga mampu sedikit menerangi dunia. Angin berembus sepoi-sepoi di sekitar halaman depan kediaman keluarga Shin Fung, dan menyebabkan dedaunan di pohon-pohon itu bergoyang dengan pelan. Puluhan orang memenuhi seputar halaman. Mereka menonton ritual sembahyang ala orang Tiongkok, yang dilakukan Shin Fung, keluarga Chow, Yìchèn dan Qianfan. Chyou dan kelompok berselempang kain merah, berjaga-jaga di dekat tempat pemujaan. Kelompok Wirya yang menggunakan selempang biru, bersiaga di sekitar area sebagai lapisan kedua. Pasukan Ming Tianba menjadi pelindung utama di seputar rumah besar. Mereka bergantian mengawasi jalanan, supaya bisa mendeteksi pergerakan dari luar. Sebab saat itu masih zaman penjajahan Belanda, semua warga harus berhati-hati dalam mengadakan aktivitas yang melibatkan banyak orang. Kendatipun Shin Fung dan Tan Liu Chow telah mendapatkan izin dari pejabat setempat untuk melakukan per

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 60

    60Rombongan pimpinan Chyou tiba di depan rumah besar berarsitektur khas zaman dulu. Batu hitam menghiasi sisi bawah dinding, sedangkan bagian atasnya di-cat putih. Shin Fung mempersilakan semua orang memasuki ruangan. Dia penasaran, karena tidak ada seorang pun yang membuka kain penutup di wajah mereka. Selain itu, nyaris tidak ada yang berbincang. Selain Yìchèn, Qianfan, dan beberapa pengawal berselempang kain merah.Para pelayan bergegas menyuguhkan minuman dan makanan di belasan meja besar. Loko, Michael, Gibson dan Cedric mengelilingi setiap meja untuk mengecek, apakah ada racun pada hidangan. Shin Fung membatin, bila sepertinya anak buah Yìchèn memahami berbagai cara pengamanan, dan hal itu kian meningkatkan rasa keingintahuannya. "Saya belum tahu nama Tuan," ujar Shin Fung sambil memandangi pria berbaju cokelat di kursi sebelah kanannya. "Saya, Vong Qianfan," jawab lelaki yang rambutnya telah dihiasi uban. "Berasal dari mana?" "Guangzhou." "Bagaimana Tuan bisa bertemu de

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 59

    59Kelompok satu dan dua akhirnya tiba di ujung lorong. Kabut putih tebal nan dingin menyelimuti tempat hening dan sangat terang itu.Semua orang mengatur barisan sesuai rencana yang telah dibuat ketiga komisaris HWZ. Mereka menunggu Martin mengatur napas, lalu mereka mengikuti langkah pria berpakaian bangsawan Tionghoa tersebut, menembus kabut. Hendri, Ubaid, Zein dan Bayu, mendampingi Martin di barisan terdepan. Keempat pria berpakaian prajurit tersebut, menembakkan tenaga dalam ke sisi kanan serta kiri, agar orang-orang di belakang bisa melihat lebih jelas ke depan. Tiba di depan gerbang besar bernuansa putih, Ubaid dan Bayu mundur. Posisi mereka digantikan Chyou dan Qianfan, yang akan bertugas sebagai pendamping utama Martin. Martin menempelkan telapak tangan kanannya ke gerbang. "Bibi, aku datang," tuturnya menggunakan bahasa Tiociu. Martin mundur selangkah ketika gerbang membuka sedikit demi sedikit, hingga terbuka sepenuhnya. Martin tertegun menyaksikan seorang perempuan pa

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 58

    58"Baru kali ini aku masuk lorong waktu. Ternyata sepi dan ... aneh," tutur Zulfi dengan suara pelan. "Aku juga baru tahu bagian dalamnya kayak gini. Kemarin itu cuma masuk beberapa meter," jawab Wirya. "Kita melalui jalur aman, Bang. Ini bagian paling dalam dari lingkaran kumparan waktu," jelas Rahman yang berjalan di depan bersama Wirya. "Ada berapa lapisan, Man?" tanya Zulfi yang berdampingan dengan Dante di barisan kedua. "Biasanya, ada tiga." Rahman menunjuk keluar. "Tim Kang Hendti ada di lapisan kedua. Lorongnya lebih besar, tapi banyak akar dan bebatuan. Nggak kayak yang kita lewati ini," lanjutnya. "Lapis ketiga, lebih gelap sekaligus banyak gangguan. Itu yang dilewati kelompok Kang Hendri, waktu mencari Koko Martin tempo hari," pungkas Rahman. "Pantas mereka semua luka-luka," sahut Wirya. "Ya, karena di sana mereka bertemu dengan berbagai bentuk makhluk gaib. Paling banyak, kurcaci yang bentuknya mengerikan," terang Rahman. "Kayak di film The Lord Of The Ring?" "Be

  • Kekasih Di Balik Kabut   Bab 57

    57Matahari baru naik sepenggalah, ketika sekelompok orang berkumpul di dua tempat. Kelompok Zainal berada di belakang kantor pengelola proyek. Sedangkan kelompok Zein berada di dekat mulut goa tepi sungai. Yìchèn yang ikut dalam rombongan kedua, memerhatikan sekeliling sambil bergumam. Dia kaget, karena tempat itu memang mirip dengan sungai di Guandong, yang pernah didatanginya tempo hari. Yìchèn memegangi beberapa bebatuan yang landai. Sungai yang airnya menyusut karena musim kemarau, menjadikan batu-batu itu bisa terlihat jelas. Pria berambut sebahu, duduk di salah satu batu. Dia meraih seruling khas Chinese yang dibawakan Chyou dari Taiwan, lalu menempelkan benda itu di bibirnya.Alunan musik tunggal nan lembut, menyebabkan semua orang terdiam. Mereka menonton Yìchèn yang tengah bermain musik sambil membayangkan sosok orang-orang yang dikasihinya. Yìchèn begitu merindukan Mùchèn dan kedua orang tuanya. Bahkan pria berambut sebahu tersebut juga merindukan kudanya, yang telah ma

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status