Karin yang harus menerima nasibnya yang akan di kirim ke Luar Negri. Enak memang dia yang membuat kesalahan dan hukumannya malah dikirim ke Luar Negri. Karin yang berada di kamarnya yang sedang menyusun pakaian yang memasukan kedalam koper dengan Karin yang terlihat begitu sedih yang akan meninggalkan rumah itu dan apalagi permasalahannya dengan Tsamara yang sama sekali belum selesai. "Aku bahkan tidak mendapatkan maaf dari Tsamara dan juga tidak mendapatkan kesempatan untuk menjelaskan semuanya," ucap Karin yang masih berharap bisa bicara baik-baik dengan Tsamara. Mata Karin melihat kearah pintu dan melihat Silvia yang lewat dari depan pintu kamarnya yang memang terbuka. Karin yang tampak kesal dengan mengepal tangan dan langsung berjalan cepat keluar dari kamarnya dan ternyata mengejar Silvia dan mencengkram pergelangan tangan Silvia yang membuat Silvia kaget. "Kak Karin!" pekik Silvia yang ingin melepas pergelangan tangan yang terasa sakit itu. "Apa-apaan Kakak! lepas
Malam ini Tsamara yang berdiri di depan cermin yang terlihat tampil sangat cantik dengan penampilannya yang sempurna. Dengan memakai dress biru navy yang panjang sampai menyapu lantai. Dress yang lurus memanjang yang di kenakan Tsamara membuat tubuhnya bak layak model. Stylish rambut Tsamara yang di ikat di bagian tengah dan di beri keriting di bagian bawahnya yang membuat penampilannya semakin menari. Tsamara yang tampil elegan dengan polesan makeup natural.Gadis itu memang sudah cantik dari lahir. Jadi bertambah cantik dengan polesan makeup itu. Pandangan mata Tsamara turun pada perut yang masih tetap rata itu. Perlahan tangan mungil itu mengusap lembut perut itu.Tsamara mengingat pertemuannya dengan Mahendra yang sudah menyadari jika dirinya mengandung dan diperkuat dengan pertemuan dengan Lidya yang ingin Tsamara mengakui jika bayi yang dia kandung adalah anak dari pria yang sekarang dia hindari.Wajah itu tampak sangat sendu dengan tatapan sayu pada perut itu seolah Tsamara se
Di tempat acara Perusahaan yang sangat meriah. Ruangan yang di sulap menjadi tempat pesta perayaan yang meriah, dengan susunan bangku berkeliling dan di beri meja bulat, bunga hias yang di beri di tengah meja yang menambah keindahan. Beberapa dekor yang mewah juga di pajang di sudut ruangan yang terlihat cantik.Para tamu yang datang juga menikmati makanan dan minuman yang di sediakan. Pelayan yang mondar-mandir dengan membawa nampan yang melayani para tamu dengan menyuguhkan minuman.Mahendra yang pasti sudah hadir di sana dengan Mahendra yang juga menyapa para tamu dengan mengobrol sedikit.Seperti biasa Mahendra akan memperlihatkan wajah yang berwibawa dan ramah dengan obrolan yang membuat tamunya nyaman. Pembicaraan itu pasti tidak akan jauh-jauh dari dari bisnis.Di tengah obrolan itu tiba-tiba mata Mahendra melihat ke arah pintu masuk dan melihat Tsamara yang masuk bersama Amel. Mahendra cukup lama melihat Tsamara yang tampil sangat cantik. Namun, tetap saja dari wajah itu terli
Karin memang pasti hadir di acara tersebut. Besok Karin akan berangkat ke Luar Negri dan hari ini dia masih di berikan kesempatan untuk menghadiri acara Perusahaan. Karin yang masih di anggap sebagai keluarga Mahendra. Jadi hal itu sangat wajar. Mendengar barusan apa yang di katakan Tsamara membuat hati Karin tersentuh. Dia tadi sangat ingin menghampiri Tsamara untuk kembali meminta maaf dengan memberikan semua penjelasan, tetapi tidak jadi karena mendengar kata-kata itu. "Kamu tidak apa-apa kan Amel aku tinggalkan!" suara Tsamara yang terdengar membuat Karin yang di dekat pohon hias yang menjadi hiasan di sudut ruangan itu langsung bersembunyi. "Tidak apa-apa Tsamara, seperti apa yang aku katakan kepada kamu sebelumnya. Kamu tidak perlu menunggu sampai pesta ini selesai," ucap Amel. "Ya sudah kalau begitu aku pulang ya!" ucap Tsamara. "Iya kamu hati-hati ya," sahut Amel. Tsamara menganggukan kepala dan langsung pergi. Amel menghela nafas yang kembali memasuki acara pesta itu.
Mahendra berada di ruangannya dengan menandatangani beberapa tumpukan berkas. Tangannya sejak tadi terlihat sangat sibuk. Namun tiba-tiba Mahendra menghentikan gerakan pulpen itu kalah teringat sesuatu dan apalagi jika bukan mengingat Tsamara. Dia bertemu wanita itu terakhir saat pesta Perusahaan dan itu sudah 2 hari yang lalu. Mahendra ternyata menuruti apa yang diinginkan Tsamara yang tidak mengganggu Tsamara. Walau hal itu sangat berat, tetapi Mahendra juga sangat mengkhawatirkan bayi yang di kandungan Tsamara dan lebih baik menuruti keinginan Tsamara. Tok-tok-tok-tok. Pintu ruangan yang diketuk membuat lamunan Mahendra buyar. "Masuk!" titah Mahendra. Lusi sekretarisnya yang memasuki ruangan itu dan menghampiri Mahendra. "Ada apa?" tanya Mahendra sembari melanjutkan menandatangani beberapa berkas itu. "Ini, pak!"Lusi meletakkan mobil warna biru di atas meja. "Apa ini?" tanya Mahendra. "Surat resign dari Tsamara dan juga Bu Tsamara mulai sekarang tidak terikat kon
Tsamara akhirnya mengetahui jika dia sudah kehilangan bayinya. Tsamara hanya bisa menangis yang berada di atas ranjang rumah sakit yang masih sangat lemah. Dengan infus yang masih melekat di punggung tangannya.Perlahan tangan Tsamara memegang perut rampingnya dan air matanya mengalir deras saat mengingat jika sebelumnya ada janin yang tumbuh di rahimnya.Tsamara bukan hanya dipenuhi dengan kesedihan tetapi juga penyesalan. Bagaimana tidak beberapa kali dia mengatakan tidak menginginkan bayi itu dan sekarang dia kehilangan bayi itu seolah sang pencipta telah mengabulkan permintaannya.Tsamara mungkin tidak serius dengan apa yang dia katakan dan hanya memberikan gertakan kepada Mahendra agar menjauhinya. Hal itu yang menjadi penyesalan besar bagi Tsamara yang sekarang benar-benar sudah tidak ada lagi janin di dalam kandungannya. Lidya yang memang akhirnya memberanikan diri untuk memberitahu kabar buruk tersebut kepada Tsamara, dia sangat shock dan pasti begitu terpukul. Tetapi Tsamara
Amel yang menoleh ke arah Andre yang ternyata tidak mendapatkan jawaban dari Andre. "Ternyata sia-sia juga aku satu mobil dengannya dan lihatlah dia sama sekali hanya diam. Memang laki-laki yang satu ini sungguh sangat menyebalkan!" umpat Amel di dalam hati."Silvia teman satu sekolahku dulu saat kami di Luar Negri," ucap Andre yang tiba-tiba memberikan jawaban. "Jadi kalian benar-benar saling mengenal dan bukan kebetulan bertemu. Seperti yang dilakukan Silvia kepadaku dan juga Rora yang dengan sengaja bertemu dengan kami dan sosok dekat dengan kami," ucap Amel."Aku sudah mengatakan kami saling mengenal dan apa jawaban itu belum cukup untuk kamu," ucap Andre yang membuat Amel menghela nafas dan kembali melihat lurus ke depan. "Lalu kenapa kamu membantu Silvia untuk menyerang Karin?" tanya Amel."Aku tidak membantu Silvia untuk menyerang Karin," Andre membantah pemikiran Amel. "Jika tidak membantu lalu apa waktu itu. Kamu yang tiba-tiba saja datang dengan sangat sok-sokan dan memb
Pemakaman Umum. Mobil yang dikendarai Lidya berhenti di pemakaman umum. Lidya yang pasti tidak sendiri melainkan bersama Tsamara. Seperti yang apa yang Tsamara inginkan dia hanya ingin melihat rumah anaknya. Walau bayi yang dia kandung baru beberapa bulan saja. Tetapi Tsamara ingin melihat tempat peristirahatan anaknya. Masih dalam kondisi yang sangat lemas membuat Tsamara yang keluar dari dalam mobil dengan. "Pelan-pelan Tsamara!" Lidya yang terlihat sangat khawatir pada kondisi Tsamara yang memang belum pulih sepenuhnya. "Aku tidak apa-apa sama sekali Tante jangan Khawatir," ucap Tsamara yang selalu merasa baik-baik saja. "Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Lidya. "Iya aku jauh baik-baik saja," jawab Tsamara. "Ayo Tante! tunjukkan padaku di mana tempat anakku," ucap Tsamara. "Baiklah! ayo!" Lidya pun berjalan ingin menunjukkan makam itu. Lidya sangat bertanggung jawab yang mengurus segalanya untuk Tsamara. Dia juga bertanggung jawab dengan jadi yang tidak tertahan hidup itu.
Setelah menghabiskan malam pertama mereka berdua Mahendra dan Tsamara yang melanjutkan dengan bermain-main di pinggir pantai. Tsamara yang tampil begitu anggun menggunakan dress putih sampai mata kakinya yang sekarang berlari-lari dikejar-kejar Mahendra yang juga menggunakan setelan kemeja berwarna putih dengan celana pendek berwarna coklat susu. Pasangan itu sama sekali tidak hentinya saling bercanda satu sama lain.Sekarang Mahendra yang memutarkan tubuh sang istri dengan menggendongnya yang membuat Tsamara terus saja berteriak dengan kedua tangannya berada di leher Mahendra.Kedua tangan Mahendra yang berada di bawah pantat Tsamara yang menggendong istrinya itu dan sesekali Tsamara merentangkan tangannya dan sampai akhirnya menempelkan dahinya di dahi Mahendra. "Kamu sangat bahagia?" tanya Mahendra.Tsamara menganggukkan kepalanya."Bagaimana mungkin aku tidak bahagia dan aku juga tidak bisa menggambarkan kebahagiaanku seperti apa," jawab Tsamara."Aku juga sangat bahagia," sahut
Acara pernikahan yang telah selesai. Mahendra dan Tsamara yang sekarang berada di dalam kamar Hotel. Kamar pengantin pada umumnya yang penuh dengan suasana romantis. Tempat tidur king size dengan sprei berwarna putih yang ditaburi dengan kelopak mawar yang dibentuk dengan love dan di bagian tengahnya terdapat dua angsa yang saling berhadapan. Selain itu juga terdapat banyak tangkai mawar yang berada di atas lantai yang menambah suasana kamar tersebut yang semakin romantis dan belum lagi dengan lampu yang tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap. Di tambah dengan aroma kamar tersebut yang begitu khas dan sangat menyejukkan. Tsamara yang duduk di depan cermin yang sedang menyisir rambutnya. Setelah acara pernikahan yang sangat melelahkan itu selesai. Tsamara langsung membersihkan diri agar terlihat fresh. Dia sudah mandi dan tidak lupa keramas yang juga sudah melepas gaun pengantinnya dengan baju tidur berwarna merah mencolok yang panjang sampai mata kaki. Krrekkk Su
"Itu calon istrimu!" tunjuk Andre yang membuat Mahendra langsung menoleh. Mahendra melihat calon istrinya berjalan begitu cantik dan anggun yang didampingi oleh sahabat-sahabatnya. Tsamara terlihat sangat tenang dengan memegang buket bunga di tangannya. Mahendra sampai tidak berkedip melihat calon istrinya yang benar-benar seperti bidadari yang sangat cantik.Bukan hanya mata calon suami yang tidak berkedip melihat pengantin yang sangat cantik itu. Semua tamu undangan juga langsung tertuju pada Tsamara yang benar-benar harus memuji kecantikan Tsamara. Mereka tidak tanggung-tanggung yang pasti berbisik-bisik membicarakan Tsamara yang pasti mengagumi calon pengantin tersebut. "Ngedip woy!" tegur Andre yang membuat Mahendra tersentak dengan dirinya yang tersenyum geleng-geleng. Bagaimana dia bisa berkedip jika calon pengantinnya saja seperti itu."Tenang bentar lagi kamu akan bisa menatapnya secara dekat dan tidak perlu khawatir akan hal apapun," sejak tadi Andre terus saja menggoda Ma
Hari Pernikahan. Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang juga. Hari pernikahan Tsamara dan Mahendra. Pernikahan mereka yang diadakan secara order di salah satu tempat yang sudah di dekor dengan seindah mungkin yang sesuai dengan keinginan Tsamara dan Mahendra. Tempat pernikahan itu sudah mulai dikunjungi para tamu yang berdatangan yang turut menghadiri acara sakral tersebut. Dengan susunan bangku yang rapi yang berwarna putih yang sudah disusun sedemikian rupa. Tidak lupa dengan paduan dekorasi yang indah dengan bunga berwarna putih yang dipadukan dengan pink. Para tamu undangan yang benar-benar dimanjakan dengan pemandangan yang sangat indah itu. Sementara Tsamara yang masih berada di salah satu ruangan yang khusus untuk pengantin wanita yang masih sedang di make up. Tsamara juga terlihat sangat cantik menggunakan gaun panjang berwarna putih tanpa lengan. Gaun Indah itu sampai menyapu lantai. Tsamara yang berdiri dengan memegang bunga dan menatap dirinya di cermin. Ame
Tsamara yang berada di dalam kamar yang baru saja selesai dari kamar mandi dan menghampiri cermin yang seperti biasa sebelum tidur memakai skin care terlebih dahulu. Ponsel Tsamara yang berdering membuat Tsamara yang langsung melihat panggilan masuk tersebut yang ternyata dari Mahendra. "Kenapa dia menelpon? apa ada sesuatu?" tanyanya dengan rasa penasaran. Tanpa berpikir panjang yang akhirnya Tsamara mengangkat panggilan telepon tersebut. "Hallo!" sapa Tsamara."Kamu sedang apa?" tanya Mahendra dengan suara yang sangat lembut. Tsamara pasti sangat merindukan suara yang berbicara itu. "Ingin tidur," jawab Tsamara."Kamu bisa tidur dan kamu tahu tidak tahu, bahwa aku sama sekali tidak bisa tidur," ucap Mahendra."Oh iya. Memang kenapa?" tanya Tsamara "Bagaimana aku bisa tidur jika beberapa hari ini kita tidak pernah bertemu dan bahkan baru kali ini aku menelpon kamu. Walau dilarang berkomunikasi dengan kamu. Ternyata hal itu membuatku tidak tahan dan mau tidak mengulur menghubungi
Tsamara begitu sangat bahagia mendapatkan kejutan dari sahabatnya. Tsamara sampai meneteskan air mata yang mungkin tidak bisa berkata-kata dengan apa yang telah diberikan sahabatnya kepada dia. Sangat wajar dalam situasi seperti itu dia sangat terharu."Kamu oke Tsamara?" tanya Rora yang mendapati sang sahabat menegaskan air mata.Tsamara hanya menganggukkan kepala dengan terharu."Tapi aku melihat kamu tidak baik-baik saja. Kamu sampai meneteskan air mata. Apa kita melakukan kesalahan?" tanya Rora dengan panik.Tsamara menggelengkan kepala, "kalian sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Bagaimana aku tidak meneteskan air mata dengan keadaan yang sekarang aku dapatkan. Selama ini aku hanya punya kalian bertiga. Aku bersama dengan Amel perjuangan kami yang besar dan perjuangan itu juga tidak mudah. Aku mengenal kamu Rora yang selalu memberikan dukungan kepadaku. Kamu juga Karin. Di luar semua yang terjadi. Kamu adalah orang satu-satunya yang sangat mengerti aku dan terus memberi
Setelah melakukan semua kegiatan Mahendra dan Tsamara yang akhirnya hari ini Tsamara dan Mahendra yang sudah sampai di depan rumah Tsamara dengan mereka berdua yang masih berada di dalam mobil. Mahendra memegang tangan Tsamara dengan tersenyum pada Tsamara."Sebentar lagi kita berdua akan menikah," ucap Mahendra yang membuat Tsamara menganggukkan kepala."Kata kak Indah menjelang hari pernikahan kita tidak boleh bertemu dulu," ucap Tsamara yang membuat Mahendra mengkerutkan dahi."Kita tidak boleh bertemu!" tanya Mahendra memastikan. Tsamara menganggukkan kepala."Kak Indah mengatakan jika hal itu pamali menghindari hal-hal yang tidak terduga. Jadi kita berdua jangan bertemu sampai pernikahan minggu depan dan lagi pula persiapan pernikahan kita sudah sampai 95%. Kita sudah menyiapkan lokasi pernikahan, undangan pernikahan, catering dan hal-hal lainnya," ucap Tsamara."Tapi masa iya kita tidak bertemu selama satu minggu," sahut Mahendra yang sangat keberatan dengan keinginan Tsamara.
Setelah seharian Mahendra dan Tsamara bersama mengurus segala persiapan pernikahan mereka berdua yang akhirnya sekarang pasangan itu yang berada di dalam mobil yang berhenti di kediaman Mahendra."Ayo turun!" ajak Mahendra."Memang kita harus mampir lagi ya?" tanya Tsamara yang mungkin terlihat begitu capek dan rasanya ingin pulang saja. "Sebentar saja Tsamara. Ada yang ingin dikatakan mama kepada kamu dan mungkin saja mama harus mengatakan sekarang," ucap Mahendra yang membuat Tsamara menghela nafas.Mahendra yang langsung meraih tangan kekasihnya itu."Kamu capek ya seharian?" tanya Mahendra yang membuat Tsamara menganggukkan kepala dan memang benar-benar begitu capek dan sangat melelahkan."Bagaimana? kalau kamu menginap saja di rumah. Besok kamu baru pulang?" tanya Mahendra memberikan saran. "Mana boleh seperti itu," sahut Tsamara membuat Mahendra mengkerutkan dahi. "Kenapa?" tanya Mahendra heran."Kita belum menikah dan aku tidak mau menginap di rumah calon suamiku," ucap Tsam
Tsamara yang tiba di rumahnya dan ingin memasuki kamar yang bersamaan dengan Amel yang juga baru pulang. "Aku pikir kamu sudah kembali sejak tadi," ucap Tsamara yang memang tadi Amel duluan pulang terlebih dahulu bersama dengan Mahendra dan ternyata mereka bahkan malah sampai berbarengan dan padahal Tsamara dan Mahendra tadi tidak langsung pulang. "Iya aku memang baru sampai," jawab Amel."Memang kamu habis dari mana?" tanya Tsamara kebingungan."Tadi aku sama Andre mampir sebentar ke minimarket. Aku membeli beberapa cemilan yang memang stoknya sudah habis," jawab Amel "Hmmm, aku lihat kamu dan Andre belakangan ini sangat dekat. Apa akan ada hilal setelah ini," ucap Tsamara yang menatap curiga sahabatnya itu. "Hilal apa maksud kamu Tsamara. Kamu itu ada-ada saja!" ucap Amel dengan geleng-geleng kepala."Ya, hubungan kalian berdua itu sangat tidak biasa dan bukankah wajar aku mempertanyakan hal itu dan siapa tahu saja kalian berdua memiliki hubungan yang spesial yang tanpa aku keta