Home / Romansa / Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku / 7 Menuntaskan Misi Balas Dendam

Share

7 Menuntaskan Misi Balas Dendam

Author: Setia_AM
last update Last Updated: 2024-10-29 19:42:56

"Kamu kelihatannya sangat bersemangat untuk pergi ke hotel bersama saya, ya?"

"Jangan nuduh, Pak!"

Elkan tersenyum sinis. "Tidak usah sok alim, bukankah kamu sendiri yang menawari saya untuk pergi ke hotel mewah?"

Nayara jelas tidak dapat berkutik lagi, diam-diam dia mengutuk mulutnya yang tidak pernah bisa direm setiap kali dalam keadaan emosi.

"Saya ... duduk di belakang saja ya, Pak?" kata Nayara ketika dia dan Elkan sampai di parkiran.

"Kamu pikir saya sopir?"

"Bukan begitu, tapi ...."

"Sudah jangan banyak alasan, cepat masuk."

Nayara mati kutu, biarlah dia ikuti apa maunya atasan galak ini. Daripada dipecat, kehidupan justru akan lebih buruk setelah dia resmi menyandang gelar janda.

"Menurut kamu, hotel di sana bagus tidak?" tanya Elkan sembari menyebut salah satu hotel di kota besar.

"Jangan, Pak! Mahal, yang lain saja ...."

"Kalau hotel di dekat gedung olahraga?"

"Itu kelasnya para artis, Pak. Dompet saya bisa langsung kritis ini ...."

Elkan berdecak sembari mengemudi.

"Hotel yang dekat universitas?"

"Apalagi yang itu, hotelnya terlalu eksklusif untuk saya yang cuma budak korporat dan Bapak yang baru saja naik jabatan jadi pemimpin perusahaan."

Kesabaran Elkan yang hanya setipis tisu dibagi dua, akhirnya mengambil keputusan sepihak untuk mereka.

"Saya mau hotel yang kamu bilang eksklusif itu, kamu yang harus bayar sesuai kesepakatan."

Mata Nayara terbelalak hingga nyaris keluar dari rongganya.

"Mana bisa, Pak? Sudah saya bilang kalau hotel yang itu terlalu eksklusif, kita tidak bisa datang sewaktu-waktu untuk pesan kamar."

"Terus?"

"Kita harus booking dulu jauh-jauh hari."

"Masa sih? Jangan sok tahu kamu, bilang saja kalau kamu mau ingkar janji."

Tidak terima karena terus dicibir Elkan, Nayara berusaha keras memberi penjelasan tentang profil hotel yang sempat dia ketahui gara-gara Andika pernah berencana ingin bulan madu di hotel tersebut, tapi batal karena dana yang terbatas.

"... jadi tidak sembarang orang bisa pesan, selain itu sulit kalau kita mau pesan kamar dadakan. Percaya deh sama saya, Pak."

Elkan mendengus. "Kita akan tetap pergi ke hotel itu, saya mau membuktikannya sendiri."

"Kok Bapak tidak percaya sama saya sih, Pak?"

"Apa untungnya saya percaya sama kamu?"

"Setidaknya saya ini orang yang jujur, Pak. Daripada di sana nanti Bapak malu-malui di depan resepsionis, lebih baik saya carikan hotel lain saja. Yang standar, asal bersih dan pelayanannya bagus ...."

"Tidak, saya mau hotel yang mewah."

Nayara menepuk keningnya beberapa kali.

"Pak, uang saya terbatas."

"Bukan urusan saya, salah sendiri suka mengobral janji. Katanya saya bisa bebas tidur di ranjang mewah dan kamu yang bayar sewa hotelnya."

Ingin rasanya Nayara menangis meraung-raung detik itu juga, tapi dia susah payah menahan diri.

Elkan bisa semakin merasa menang kalau Nayara menunjukkan kelemahannya sebagai pegawai.

Apa boleh buat, terpaksa tabungan selama beberapa tahun ini jadi tumbal gara-gara kelakuan atasan baru. Nayara mengeluh dalam hati.

Dalam diam, Elkan mengemudikan mobilnya menuju hotel yang dia incar. Tidak tanggung-tanggung, dia memilih hotel kelas atas yang sangat dihindari oleh Nayara sejak awal.

Hotel Alteza.

"Bapak mau memeras saya?" tanya Nayara lemas ketika mobil Elkan memasuki pelataran hotel megah itu.

"Sesuai sama apa yang kamu janjikan tadi."

"Lagian percuma, Pak. Saya sudah bilang kalau hotel ini tuh eksklusif, tidak sembarang orang bisa langsung ambil kamar. Mereka harus booking dulu jauh-jauh hari ...."

"Tidak usah cerewet, buktikan saja di depan resepsionis nanti."

Nayara yang tadinya masih sungkan, kini jengkel setengah mati.

"Kalau mau dipermalukan jangan ajak-ajak lah, Pak."

"Siapa yang mau mempermalukan diri?"

"Pak, serius deh. Daripada nanti Bapak mundur dengan tangan kosong, lebih baik Bapak cari hotel lain saja. Kan yang penting bisa tidur di ranjang, namanya hotel pasti kamarnya jauh lebih baik daripada kontrakan petak. Boro-boro ranjang, bisa tidur di tikar saja sudah bagus."

Elkan tidak mendengarkan Nayara yang sedang tadi terus nyerocos tanpa henti. Dia harus menuntaskan misi balas dendam ini, supaya ke depannya Nayara tidak asal bicara sembarangan lagi.

"Sini biar saya yang pesan," kata Nayara.

"Wah, wah, kelihatannya kamu sudah tidak sabar ingin segera pesan kamar untuk kita."

"Apa? Kan Bapak sendiri yang minta, kenapa jadi kita sih?"

Elkan menatap Nayara dengan tatapan meremehkan, dia teringat kembali dengan ucapan Andika yang mengatakan bahwa Nayara bukanlah istri yang bisa menjaga kesetiaan.

Jadi tidak salah kan kalau Elkan bermain-main sejenak dengan pegawainya ini? Toh sebentar lagi Nayara juga akan diceraikan Andika.

"Sudah cepat pesan kamar sekarang, jangan banyak bicara."

Nayara menurut dan segera mendekati petugas resepsionis.

"Permisi, Mbak ...."

"Ada yang bisa saya bantu, Ibu?"

"Saya mau pesan kamar untuk satu malam saja."

"Sebelumnya apakah Ibu sudah pesan jauh-jauh hari?"

Nayara menggeleng. "Saya pesan dadakan, Mbak. Buat bos saya, bisa?"

Elkan sengaja berdiri agak jauh untuk melihat bagaimana Nayara melobi petugas resepsionis.

"Maaf, Bu. Di hotel ini tidak bisa pesan mendadak, harus jauh-jauh hari."

"Dicek dulu lah, Mbak. Siapa tahu masih ada kamar kosong, orang hotelnya sebesar ini juga ...."

"Mohon maaf, memang aturannya seperti itu. Mungkin Ibu mau booking untuk minggu depan?"

Nayara menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.

"Berarti tidak bisa ya, Mbak?"

"Mohon maaf, tidak bisa, Bu."

Nayara menarik napas, lalu mengucapkan terima kasih kepada petugas resepsionis itu.

"Apa saya bilang?" Nayara berdiri tegak di hadapan Elkan dengan wajah kesal yang tidak dapat ditutup-tutupi lagi. "Kamarnya tidak bisa dibooking mendadak, Bapak pikir ini tahu bulat yang bisa dadakan?"

Elkan balas menatap Nayara dengan tenang.

"Masa tidak bisa? Kamu kali yang tidak pandai melobi," katanya meremehkan.

"Saya sudah berusaha ya, Pak? Kalau tidak percaya, coba saja sendiri!"

"Kok jadi ngegas ngomongnya?"

"Ya karena Bapak nuduh terus sih, kalau tidak percaya silakan coba sendiri sana."

Nayara melipat kedua tangannya di dada ketika Elkan berdiri dan berjalan ke arah meja resepsionis.

Tutorial mempermalukan diri sendiri, ejek Nayara dalam hati.

Setelah bercakap-cakap sebentar dengan resepsionis yang berjaga, Elkan berbalik dan kembali ke hadapan Nayara yang menunggu.

"Betul kan apa yang saya bilang? Makanya jangan keras kepala kalau dikasih tahu," cerocos Nayara dengan nada menang. "Tidak selamanya pegawai itu salah dan atasan selalu menang."

Elkan tersenyum, lalu melambaikan selembar kartu di depan wajah Nayara.

"Saya sudah dapat kamarnya."

Mata Nayara kembali terbelalak.

"Kok bisa sih? Bapak nyogok ya?" tuduh Nayara spontan. "Dosa lho, Pak. Sadar dong ...."

"Eh, ngomong apa kamu?"

Nayara tidak menjawab, melainkan kembali mendatangi resepsionis tadi.

"Mbak, katanya tidak bisa pesan kamar. Kok bos saya bisa sih?"

Petugas resepsionis itu menatap Nayara, kemudian ganti menatap Elkan.

Bersambung—

Related chapters

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    8 Istri yang Sebentar Lagi Diceraikan

    Nayara tidak menjawab, melainkan kembali mendatangi resepsionis tadi.“Mbak, katanya tidak bisa pesan kamar. Kok bisa saya bisa sih?” Petugas resepsionis itu menatap Nayara, kemudian ganti menatap Elkan.“Maaf Bu, tapi ....”“Pasti bos saya ini nyogok kan? Laporkan saja ke pemilik hotel ini, Mbak!”Petugas resepsionis itu menatap ke arah Elkan sebentar, lalu ekspresi wajahnya berubah.“Apa sih? Jangan nuduh sembarangan!” sentak Elkan.Namun, Nayara telanjur dikuasai emosi.“Mbak kalau kerja yang benar dong!”“Maaf, Ibu ....”“Tadi bilang sama saya katanya pesan kamar tidak bisa dadakan, tapi kenapa bos saya bisa dapat kamar kalau tidak nyogok?”“Bukan begitu, Bu ....”“Jangan begitu lah, Mbak. Saya ini juga pegawai, tapi saya mana mau dapat sogokan. Kasihan nanti pemilik hotel ini kalau dikasih uang panas, Mbak! Bisa sakit nanti, kan?”“Oke, terima kasih ya!” ucap Elkan sambil buru-buru mendorong Nayara untuk menjauh dari meja resepsionis.“Bapak apa-apaan sih, malu ya

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    9 Surat dari Pengadilan

    “Siapa yang cari suami, Mas? Bukankah kamu yang bujuk aku supaya mau jadi istri kamu?” balas ibu dengan nada keberatan.Nayara melengos, dia memang sudah lama curiga kepada ayah tirinya itu. “Lho, apa bedanya? Toh aku sama kamu saling membutuhkan.”“Dulu aku kira begitu, sebelum akhirnya aku merasakan sendiri. Punya suami seperti nggak punya suami ....”“Istri sukanya nuntut ya kalau penghasilan suami sedikit? Harusnya bersyukur kek.”“Aku akan bersyukur kalau kamu setiap hari rajin banting tulang untuk menafkahi aku, Mas. Ini apa?”Tangan Nayara mengusap lembut lengan ibunya, dia memang tidak tahu menahu bagaimana kehidupan rumah tangga sang ibu bersama suaminya yang baru.“Sayang ....”Sementara itu di apartemen, Lika sedang melabuhkan kepalanya di pelukan Andika.“Sayang?” panggil Lika untuk kesekian kali karena Andika tidak kunjung merespons.“Apa sih, Yang? Aku ngantuk ini ....”“Dih, selalu saja begitu. Kamu serius nggak sih sama aku?”“Serius lah.”“Terus kapan ka

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    10 Kesabaran di Tempat Kerja

    “Sudah, kamu tidak usah ngeles. Andika sudah cerita semuanya, coba kalau selingkuhan kamu itu bukan sepupu dia, kami pasti sudah melaporkan kamu atas tuduhan perzinahan.”Tenggorokan Nayara yang baru saja menelan makanan kini tercekat sepenuhnya karena mendengar tuduhan dari calon mantan ibu mertua.“Kenapa?” Ibu bertanya ketika Nayara menyerahkan ponsel itu ke tangannya.“Biasa, dikata-katain.”“Dikatain gimana?”“Katanya aku tukang selingkuh, ngancem mau melaporkan aku dengan tuduhan pasal perzinahan.”Mata ibu langsung melotot tajam. “Mertua kamu bilang begitu, Nay?”“Calon mantan mertua, Bu.”“Iya, calon. Dia serius bilang begitu sama kamu?”“Iya ....”“Kok kamu nggak lawan sih?” tuntut ibu seolah kecewa. “Lawan dong kalau memang kamu nggak salah, enak saja.”Nayara menghela napas.“Percuma Bu, Andika itu ternyata licik banget. Sudah dia fitnah aku selingkuh, dia juga ngomong yang enggak-enggak sama kakak sepupunya itu. Dia bilang kalau aku adalah istri yang nggak bisa

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    11 Kita Belum Resmi Bercerai

    Kalisa melirik ke arah belakang kepala Nayara. “Nay, dicari tuh!” “Siapa? Pak Elkan?” “Ih, kok ngarep banget—bukan, si Andika!” “Ngapain dia ke sini?” Meskipun Kalisa memberi kode kepadanya berulang kali, tapi Nayara tidak mau repot-repot menoleh. “Nay, aku mau ngomong.” Andika sudah tiba di hadapan mereka. Kalisa melirik Nayara yang tidak mempedulikan keberadaan Andika. “Nay, jangan sombong. Sudah mau jadi janda juga ...” celetuk Andika semena-mena. “Aku nggak ganggu kan, Lis?” Kalisa menggeleng. “Aku sih enggak, tapi ....” “Kalau begitu kamu pindah meja dulu sebentar, aku mau bicara penting sama Naya.” “Ih, ya nggak bisa begitu dong.” “Sebentar saja, Lis.” Nayara menatap Andika dengan sorot mata permusuhan. “Enak saja suruh-suruh orang, sana kamu sendiri yang pergi.” “Aku datang baik-baik lho, Nay.” “Yang kayak begini kamu bilang baik-baik? Lagian kamu mau ngomong apa lagi sih, Ndik? Besok-besok juga kita ketemu di pengadilan kan?” “Justru itu ....” “Ya sudah, ngapai

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    12 Lika yang Begitu Liar

    “Argh! Sialan banget sih?”Lika terlonjak ketika mendengar suara raungan tertahan dari ruangan Andika.“Sudah sore, kamu nggak pulang?”Andika menoleh ke arah pintu dengan wajah kusut.“Ini mau pulang ....”“Kenapa tadi teriak-teriak?”Andika berdecak kesal. “Ini, si Naya. Dia nggak datang di sidang cerai kami.”“Bagus dong, kok kamu malah marah sih?”“Gimana aku nggak marah? Dengan dia nggak datang, maka orang-orang jadi berpikir kalau Naya juga menginginkan perceraian ini, Lika.”“Ya terus?”“Aku gengsi lah, mediasi juga percuma kalau dia nggak hadir. Padahal aku mau bikin dia mati kutu dengan bukti perselingkuhan itu,” kata Andika menggebu-gebu. “Aku juga berencana untuk mengucap ikrar talak di hadapan majelis hakim, biar Naya tahu rasa karena sudah main-main sama aku.”Lika memainkan ujung rambutnya sembari berpikir.“Justru ketidakhadiran Naya bisa kamu manfaatkan untuk merusak nama baiknya, lagian dia yang selingkuh kan? Jadi biarkan saja dia nggak datang, setahu aku

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    13 Senang Saat Jadi Janda

    “Apa-apaan ini?”Nayara tiba di rumah dan langsung disambut oleh gerutuan ayah tirinya.“Apanya yang apa-apaan, Yah?”“Ini, surat dari pengadilan.”Nayara menerima amplop itu dan seketika wajahnya menjadi cerah.“Syukurlah, aku resmi jadi janda!”Ayah tiri Nayara membelalakkan matanya.“Anak edan, jadi janda kok bangga!”Nayara berhenti bersorak, kemudian menatap ayah tirinya dengan sorot mata permusuhan. Anak edan, katanya?“Ayah bilang apa tadi? Ayah ngatain aku?”“Itu kan sesuai sama tingkah laku kamu, perempuan mana coba yang senang saat dirinya jadi janda?”“Aku!” Ibu mendadak muncul dari belakang Naya. “Aku juga akan bahagia seandainya jadi janda jauh lebih baik daripada punya suami yang sudah nggak cinta lagi.”Nayara membusungkan dada ketika ibu nyata-nyata membelanya.“Ngomong apa sih kamu, jangan ngawur!” Ayah tiri Nayara terlihat tidak terima.“Kamu yang ngawur! Kamu ngatain anakku gila, itu sama saja artinya dengan kamu bilang ibunya juga gila. Aku nggak terima ya anakku d

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    14 Karakter Aslinya yang Perhitungan

    “Apa hak kamu membanding-bandingkan saya sama Pak Ryan?”“Saya cuma kasih tahu saja, Pak. Ya sudah, keputusannya saya akan tetap cuti karena pak kepala sudah kasih izin.”“Kamu berani sekali membantah saya, ya ....”“Kalau Bapak sampai mempersulit ini, saya jamin pak kepala jadi tahu tingkah Bapak dan tidak mungkin pegawai lain juga akan tahu. Pikirkan jabatan Bapak yang baru seumur jagung di perusahaan ini, permisi.”Tanpa menunggu jawaban apa pun dari Elkan, Nayara berbalik pergi meninggalkan ruangan.“Berani sekali sih dia?” Elkan geleng-geleng kepala.“Gimana, Nay? Dapat?”“Dapat nggak dapat,” sahut Nayara sembari tersenyum kepada Kalisa yang sedari tadi menunggunya.“Jadi nekat nih?”“Nekat lah, kan urusannya sama pak kepala. Nggak ada sangkut pautnya sama Pak Elkan.”“Ya sudah, yuk pulang? Aku butuh istirahat, kamu sih enak mau cuti ....”Nayara nyengir dengan wajah puas. Kerja keras dengan status sebagai janda tanpa anak, buat apa lagi uangnya kalau bukan untuk memb

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    15 Mantan Suami Tidak Tahu Diri

    “Yang, bagi duit ya?” pinta Lika yang langsung mengambil ponsel milik Andika. Sebetulnya dia hanya modus karena ingin memeriksa aplikasi pesan instan kekasihnya itu, dan kebetulan dia melihat kontak Nayara muncul di pembaruan status.“Janda kamu banyak duit nih,” sinis Lika seraya menunjukkan status itu. “Jangan-jangan yang dia pakai adalah nafkah yang dulu kamu kasih.”Andika langsung menatap Lika dengan tidak mengerti.“Maksudnya gimana, Yang?”Lika berdecak dengan tidak sabar.“Kamu pasti rutin kasih nafkah sama Naya selama dia jadi istri kamu kan? Pasti uang itu yang dia pakai foya-foya seperti ini.”Mata Andika membulat ketika Lika menunjukkan pembaruan status milik Nayara.“Hotel Alteza? Naya menginap di sana?”“Lihat saja statusnya tuh, menyebalkan banget.”Lika mengulurkan ponsel itu ke tangan Andika yang langsung memeriksa status yang dimaksud.Benar saja, keterangan yang Nayara tulis seolah menampar Andika yang pernah berstatus sebagai suaminya sebelum bercerai.“Kok dia mam

Latest chapter

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    101

    "Ya, hiduplah dengan lebih baik lagi bersama keluarga kecil kamu." Gio mengangkat tangannya sebagai isyarat bagi Nia untuk segera pergi.Sesaat setelah Nia keluar, sebuah taksi menepi di depan Kafe dan Kalila melangkah turun."Aku sudah sampai, nih ... Masih lama? Ya sudah, aku tunggu!" Kalila mengakhiri percakapan dengan seseorang, kemudian menyimpan kembali ponsel miliknya ke dalam tas.Namun, langkah Kalila sontak terhenti saat seseorang menabraknya tepat setelah dia melangkah masuk ke dalam kafe."Gio! Kok main tabrak saja?"Kalila terhuyung sebentar sebelum akhirnya bisa menyeimbangkan diri."Hati-hati kalau jalan!" imbuhnya sedikit kesal.Gio menyipitkan matanya."Mentang-mentang kita sudah bercerai, apa harus kamu seangkuh ini di depanku?"Kalila balas menatap Gio yang wajahnya sedikit memerah."Aku tidak mengerti kamu ngomong apa."Kalila bergegas pergi menjauh untuk mencari meja yang masih kosong. Jika sesuai rencana, seharusnya Zia akan menyusul lima belas menit kemudian.Na

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    79

    "Terus kenapa menatapnya penuh curiga begitu? Saya ini bukan tukang tipu," sela Elkan sedikit tersinggung. "Bukan curiga, Pak. Aneh saja, kenapa tidak ambil pegawai lain saja untuk jadi asisten pribadi?" "Suka-suka saya, hanya saya lihat akhir-akhir ini kerjaan kamu beres semua ...." "Yang kemarin-kemarin tidak beres memangnya?" potong Nayara berani. "Beres sih, tapi akhir-akhir ini kamu gesit. Kebetulan saya akan sangat sibuk ke depannya." Nayara langsung memegang keningnya. Bayangan seberapa banyak pekerjaan jika menjadi asisten pribadi Elkan membuatnya tegang duluan. "Kenapa wajahmu begitu, seharusnya kamu bahagia karena ini penawaran langsung dari bos." Nayara memutar bola matanya dengan malas. "Gajinya berapa, Pak?" "Soal gaji, saya tidak pernah mengecewakan. Saya naikkan lima belas persen, lumayan kan?" "Cuma lima belas persen?" "Kenapa, kurang?" Nayara sibuk menimbang-nimbang. "Gimana, ya? Kalau dua puluh lima persen saya mau, Pak!" "Wah, mata duitan." Nayara ce

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    78

    "Aku tidak bilang begitu, hanya saja apa kalian sudah mampu dari segi modal?"Pertanyaan Elkan tak urung membuat Andika dan Lika diam membisu."Justru itu! Kami sedang berusaha mencari investor yang mau kasih pinjam modal ke kita," kata Andika pongah."Kenapa tidak mengumpulkan modal sendiri dari gaji kalian? Minim risiko dan jelas lebih aman.""Kelamaan kalau kami harus mengumpulkan uang dulu, El." Kali ini Lika yang menjawab. "Berapa sih gaji pegawai seperti kami ini?""Tentu lumayan kalau digabungkan berdua," sahut Elkan kalem. "Saranku, kalian menabung dulu sambil memikirkan gambaran bisnis apa yang ingin kalian wujudkan. Investor kaya sekalipun, dia akan tetap mempertanyakan proposal bisnis kalian."Andika melirik Lika dengan isyarat seolah dia sudah menduga jika menemui Elkan adalah perbuatan yang sia-sia saja.Jaka tiba untuk mengantarkan minuman sesuai permintaan Nayara."Maaf menunggu lama, Pak ....""Apa Nayara tidak kasih tahu kamu kalau saya ada tamu?" tanya Elkan."Sudah

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    77 Ayah Tiri Nayara

    “Sudah dari tadi, Bu!” Nayara sengaja mengeraskan suaranya, seraya melirik ayah tirinya. “Anak datang kok nggak disuruh masuk sih,” omel ibu sambil menggamit lengan Nayara. “Ngomel terus perasaan, bikin pusing lama-lama di rumah ....” “Jangan di rumah kalau begitu, kerja sana!” “Aku ini suami lho, kepala keluarga, kok dibentak-bentak begini ... Kualat gimana?” “Nggak akan kualat kalau kepala keluarganya kayak kamu,” gertak ibu. “Yuk Nay, kita masuk saja.” Ayah tiri Nayara melengos, kemudian keluar dari rumah sambil mengentakkan kakinya. “Kok kayaknya aku datang di saat yang salah ya, Bu?” tanya Nayara tidak enak. “Aku pikir sudah lama nggak nengok Ibu, makanya sengaja datang. Tapi ayah malah marah-marah nggak jelas, memang aku yang salah sih ... Nggak pernah kirim kabar, apalagi kirim uang.” Ibu mengembuskan napas panjang. “Ibu lihat kamu sehat begini saja sudah senang, kamu tambah kinclong ... Itu artinya kamu bahagia, kurang apa lagi, coba?” “Kurang membaha

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    76 Kunjungan Kerja

    Andika hanya meringis, dia bersedia melakukan segala cara supaya bisa meraih simpati Elkan kembali. “Besok Anda ada kunjungan kerja, Pak.” Nayara memberi tahu Elkan di hari pertama akhir bulan. “Bersama Pak Kalandra dari Lazuardi, agenda kegiatannya meninjau pabrik daur ulang ... Saya tidak ikut kan, Pak?” Nayara mendongak menatap Elkan yang sedang menyeruput kopinya. “Pak?” Elkan hanya balas menatap Nayara dengan cangkir masih menempel di bibirnya. “Pak!” “Ohok!” Elkan langsung tersedak dan terbatuk-batuk. “Eh maaf, Pak!” Nayara jadi merasa bersalah karena memanggil Elkan di saat atasannya itu sedang minum kopi, buru-buru diulurkannya beberapa lembar tisu kepada Elkan. “Kamu ini ya ...” Elkan masih terbatuk-batuk. “Mau bunuh saja?” “Kejam amat, tersedak saja tidak akan membuat Anda lewat, Pak!” Elkan tidak menjawab, melainkan sibuk membersihkan tumpahan air kopi sembari masih terbatuk-batuk kecil. “Saya pesankan kopi baru ya, Pak!” Lagi-lagi Elkan tida

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    75 Selalu jadi Penghalang

    Elkan mendengus. “Saya kok tidak percaya.” “Lho, itu terserah Anda. Tidak ada yang memaksa untuk percaya, apalagi orangnya juga belum saya temukan.” Elkan tidak bicara lagi, melainkan fokus mengemudi karena sudah ada pekerjaan yang menunggunya di kantor. “Argh, menyebalkan!” Lika memukul-mukul tangannya sendiri dengan kesal. “Kenapa sih janda satu itu selalu saja nempel sama Elkan? Bikin aku jadi susah untuk melancarkan pesonaku, padahal aku yakin kalau Elkan sebenarnya ramah ... Semua gara-gara si janda!” Lika mengembuskan napas gusar, dia memperbaiki posisi duduknya kemudian mengambil bedak untuk merias ulang wajahnya yang merah padam. “Semoga saja apa yang aku lakukan baru-baru ini bisa bikin Andika mendapatkan jabatan sekretaris lagi, uang jajanku sudah menipis ... Aku nggak mau hidup hemat kayak orang susah,” gumam Lika yang tidak bisa menutupi perasaan gusarnya. Salah satu alasan dia bersedia menjalin hubungan dengan Andika adalah karena pria itu sangat loyal da

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    74 Yang Ikut Terlibat

    “Jangan bahas itu di sini,” tegur Lika diiringi gelengan kepala. Sore harinya di kediaman orang tua Elkan .... “Bikin pusing saja.” “Kenapa, Pa?” Alvi menatap Elkan, lalu menarik napas panjang. “Masalah di kantor Al Drink, ada lagi, ada lagi!” “Namanya juga bisnis, Pa. Ada kalanya dapat ujian,” sahut mama Elkan. “Ujian apa sih yang tidak bisa papa hadapi?” komentar Elkan sembari meraih cangkir berisi teh. “Ini lain, kalian tidak akan menyangka ...” Alvi menatap istri dan anaknya bergantian. “Papa dapat kabar dari Pak Bobi, katanya ada pegawai lain yang ikut terlibat selain Andika.” Elkan terdiam, dia teringat kembali dengan kasus yang ditimbulkan Andika di kantor ayahnya. “Jadi Andika tidak bertindak sendiri, Pa?” “Tidak, makanya papa heran. Kecewa, lebih tepatnya. Kalau seperti ini, gimana perusahaan kita mau maju dan bertahan?” “Kalau memang kesalahan mereka sangat fatal, mungkin sudah saatnya Papa mempertimbangkan untuk memecat mereka.” “Elkan

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    73 Luput dari Penyelidikan

    Andika melangkah penuh percaya diri menuju ruangan Bobi sembari membawa bukti rekaman yang sudah dia edit sedemikian rupa. “Pak Mantyo sudah sembuh?” sapa Wildan saat bertemu dengan Wildan yang akan menyeduh kopi. “Saya ... sedikit lelah,” jawab Mantyo linglung. “Oh ya, mana Lika?” Kening Wildan berkerut ketika mendengar pernyataan Mantyo. “Dia ada di mejanya, Pak.” “Kalau Andika?” Kening Wildan berkerut lagi. “Tadi sih setahu saya, Andika bersih-bersih ruang rapat. Memangnya kenapa, Pak?” “Tidak, tidak apa-apa.” Wildan mengangguk dan segera pergi setelah dia selesai menyeduh kopi. Baru saja dia mau masuk ke ruangannya, Andika muncul dan memanggil nama Wildan. “Kamu dipanggil Pak Bobi tuh!” “Oke, terima kasih sudah kasih tahu.” Andika tidak menanggapi ucapan terima kasih itu, Wildan sendiri tidak mengerti kenapa dia bersikap seperti musuh kepadanya. Tanpa menunggu waktu lama, Wildan segera pergi menemui Bobi di ruangannya. Selang beberapa menit, Wildan keluar

  • Kakak Sepupu di Ranjang Suamiku    72 Kalau Andika Balas Dendam

    Lika terus melakukan pendekatan-pendekatan melalui nada bicaranya yang manja. Mantyo dengan mudah terperangkap dalam pesona semua yang Lika pancarkan. “Kamu ... tidak kembali kerja?” “Pekerjaan saya adalah membuat Bapak bahagia, enak kan kopinya?” “Enak sekali ....” “Mau yang lebih enak?” “Ap—pa maksudnya?” Lika tersenyum dan terus mendekat Mantyo untuk meneguk kopi itu hingga tandas. “Saya agak kesulitan, Pak ...” Lika mulai mengeluh dengan gaya manjanya yang khas. “Kesulitan kenapa! Siapa yang berani-berani membuat kamu merasa kesulitan?” Lika tidak segera menjawab, hanya saja dia membuat wajahnya terlihat semelas mungkin. “Katakan apa yang kamu alami, Lika! Saya pasti akan bantu kamu,” bujuk Mantyo dengan wajah memerah. “Mana bisa kamu bekerja di sini, tapi tidak merasa nyaman seperti itu.” Lika mengangguk dengan wajah muram. “Terima kasih atas motivasinya, Pak ....” “Katakan siapa orang yang bikin kamu tidak nyaman?” “Saya ... tidak enak

DMCA.com Protection Status