Share

Takut Depresi

last update Terakhir Diperbarui: 2024-04-26 19:02:07

“Mi, kalian sudah menjenguk Runa?” tanya Hanzel saat sarapan bersama keluarganya.

“Jenguk? Memangnya Runa kenapa?” tanya ibu Hanzel.

Hanzel terkejut karena orang tuanya tidak tahu. Dia sampai menatap keluarganya bergantian.

“Jadi, kalian tidak tahu?” tanya Hanzel balik.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Runa?” tanya ayah Hanzel.

“Bintang juga tak memberitahu apa pun,” timpal nenek Hanzel.

Hanzel mendadak merasa bersalah sudah menanyakan soal Aruna. Dia menebak jika keluarganya memang belum diberitahu.

“Kemarin aku dapat kabar kalau Runa keguguran,” jawab Hanzel.

Keluarga Hanzel pun sangat terkejut mendengar jawaban pria itu.

“Tapi kenapa tak ada yang memberitahu oma?” Wanita tua itu tak percaya dengan yang dikatakan Hanzel.

“Kupikir kalian sudah tahu. Mungkin memang tidak memberitahu karena ada alasan lain. Bisa saja Bibi takut kalau Runa semakin sedih jika kita ke sana menjenguk,” ujar Hanzel menjelaskan.

Semua orang pun sedih mendengar penjelasan Hanzel. Mereka memikir
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP
Komen (11)
goodnovel comment avatar
eva nindia
runa terpuruk bolehh tpii jgn kelamaan...
goodnovel comment avatar
eva nindia
c clay nii masihh jdi misterii stelah kemunculan dia ad z kejadian.a....
goodnovel comment avatar
vieta_novie
meski sedih, berharap runa ga sampe depresi.... msh penasaran siapa clay sbnrnya?? apa hanya seorang model yg kebetulan kerja di perusahaan runa.. atau ada sesuatu yg lain di balik kehadiran clay...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Untung Ada Emily

    “Kamu tahu soal kecelakaan di belakang panggung waktu itu. Entah ini kebetulan atau tidak, kamu melihat pria yang mencurigakan. Apa kamu tidak berniat memberitahu seperti apa wajahnya?” Ansel mulai bertanya tapi sikapnya terkesan sedang mengintimidasi. Dia hanya mencoba bersikap tegas agar tidak ada satu pun yang menyepelekannya. Clay menatap Ansel sambil mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria itu. Dia membuang napas kasar, lantas membalas, “Aku tidak bilang kalau melihat wajah pelaku. Aku hanya melihat bayangan di sekitar tiang sebelum lampu itu jatuh.” Ansel memperhatikan Clay yang bicara dengan begitu santai. “Saat aku sedang bicara dengannya. Aku melihat sekelebat bayang aneh yang menurutku mencurigakan. Lalu, lampu itu jatuh. Bukankah bisa dibilang kalau memang ada yang ingin mencelakainya,” ujar Clay lagi. Ansel diam mendengarkan apa yang dikatakan Clay. Semua video yang merekam tempat kejadian, tak ada yang mencurigakan dari orang-orang yang ada di sana. “Aku masih syo

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-27
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Sudah Ikhlas

    “Kamu sudah pulang.” Aruna menyambut Ansel penuh senyum saat suaminya itu baru saja masuk kamar. Ansel sampai berhenti melangkah melihat Aruna tersenyum seperti itu. Aruna mendekat ke Ansel sambil mempertahankan senyumnya. Dia mengambil jas yang ditenteng Ansel, lantas melepas dasi suaminya itu. “Kamu sudah lapar? Mau minum kopi atau teh? Biar aku buatkan,” ujar Aruna sambil menarik dasi dari kerah. Ansel tak membalas ucapan Aruna. Dia masih menatap Aruna dengan ekspresi wajah cemas, apalagi sikap Aruna berbeda dari pagi tadi. “Kenapa aku tanya tidak dijawab? Apa ada yang salah?” tanya Aruna sambil menatap Ansel yang hanya diam. “Kamu sudah baik-baik saja?” tanya Ansel dengan tatapan cemas. Aruna tersenyum mendengar pertanyaan Ansel. Dia lantas memeluk suaminya itu. “Aku baik-baik saja, terima kasih karena sudah ada di sampingku saat masa terpurukku. Aku menyadari jika ada beberapa hal yang tak bisa aku ubah juga sesali. Aku bersyukur ada kamu dan Emi yang selalu menghiburku,”

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-27
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Masih Menyelidiki

    “Makan yang banyak,” kata Ayana saat makan malam bersama Aruna di rumah. “Iya, Ma.” Aruna tersenyum menanggapi perkataan sang mertua, apalagi Ayana sampai mengambilkan lauk untuknya. “Papa tidak tahu seperti apa seleramu, jadi ya semoga kamu suka,” ujar Deon yang susah payah memasak setelah pulang kerja demi menyenangkan hati menantunya. Aruna menoleh ke Deon sambil memulas senyum saat mendengar ucapan mertuanya itu. “Aku suka semua masakan Papa, tidak masalah seleraku atau bukan, aku juga tidak pilih-pilih makanan,” balas Aruna sambil memulas senyum. Deon mengangguk senang. Dia dan sang istri sedikit merasa lega karena Aruna sudah tidak sedih lagi. Mereka makan malam bersama, tak ada yang membahas soal keguguran lagi. Mereka membahas masa lalu ayah Ansel yang dulu memang seorang koki dan bercita-cita punya restoran bintang lima yang akhirnya bisa diwujudkan. Setelah makan malam. Aruna dan Ansel di samping rumah duduk di bangku

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-27
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Sudah Baik-baik Saja

    Sudah beberapa hari semenjak kejadian di event. Aruna terlihat sudah semakin baik, serta seperti biasanya.“Bolehkah besok aku mulai kerja?” tanya Aruna saat sedang duduk di ranjang untuk bersiap tidur.Ansel baru saja keluar dari kamar mandi saat mendengar pertanyaan Aruna. Dia memilih mendekat lebih dulu ke ranjang, lantas duduk di dekat Aruna.“Kamu yakin sudah baik-baik saja?” tanya Ansel memastikan.Aruna melebarkan senyum lantas menganggukan kepala.“Iya, aku sudah baik-baik saja. Aku bosan selama beberapa hari ini hanya di rumah, kalau kamu mengizinkan, aku ingin mulai berangkat kerja,” jawab Aruna menjelaskan.“Kalau kamu merasa sudah baik-baik saja, tidak apa jika memang ingin kembali bekerja,” balas Ansel sambil mengusap rambut Aruna.“Terima kasih,” ucap Aruna tampak senang.Ansel mengusap-usap rambut Aruna saat melihat istrinya itu tersenyum. Dia pun mengaj

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-27
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Tak Mau Menyerah

    “Bagaimana menurut Daddy? Bukankah semua ini terasa aneh?” Ansel pergi menemui Langit sebelum ke ruangan Aruna.“Memang, rasa-rasanya aneh jika mendadak lampu itu jatuh begitu saja tanpa sebab. Soal tali yang memang tak layak pakai, pihak event tak mungkin mengabaikan keselamatan seperti yang seharusnya mereka lakukan,” ujar Langit mengemukakan pendapatnya setelah membaca informasi dari Ansel.“Aku pun berpikiran sama, Dad. Aku merasa jika ini bukan hanya kebetulan semata. Hanya saja, kita tak punya banyak bukti, belum lagi kamera Cctv di lokasi juga tak merekam apa pun, kecuali di bagian depan,” balas Ansel mengemukakan pendapat.Langit pun diam berpikir. Dia juga sama dengan Ansel yang mencari petunjuk tapi tak ada satu pun petunjuk yang didapat.“Aku mulai ragu, tapi aku tidak mau menyerah karena ini tentang Aruna,” ucap Ansel lagi.Langit menatap menantunya yang terlihat serius menanggapi masalah

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-27
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Sedikit Petunjuk

    Rio pergi ke toko majalah milik perusahaan Langit. Dia ke sana untuk mengecek lokasi sekalian mencari sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk kecelakaan yang menimpa Aruna. Rio mengamati Cctv yang terpasang di beberapa titik toko besar itu, hingga melihat karyawan toko yang naik tangga sedang membersihkan kamera Cctv. “Siapa yang menggeser posisi kamera?” tanya karyawan pria itu ke karyawan lain yang ada di bawah. “Mana kutahu. Aku juga tak pernah menyentuhnya,” jawab karyawan yang ada di bawah. “Berarti orang-orang yang mengatur event yang menggeser posisinya,” ujar karyawan yang membersihkan kamera Cctv itu sambil membetulkan posisi yang seharusnya. “Bisa jadi,” balas karyawan satunya. Rio mendengarkan percakapan dua karyawan itu. Dari percakapan keduanya, akhirnya Rio tahu kenapa tak ada video berarti yang terekam karena posisi kamera itu diubah ke titik buta. Rio pun mendekat ke dua karyawan itu, lantas menyapa ramah. “Maaf, boleh aku menanyakan sesuatu?” tanya Rio sopan. Dua

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-28
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Terus Mencari Bukti

    Aruna keluar dari ruangan setelah jam kerja berakhir. Dia berjalan sambil menenteng tasnya menuju lift. Dia masuk lift bersama staff lain, hingga saat sampai di lobi, Aruna bertemu dengan Clay yang ternyata masih ada di perusahaan.“Sudah mau pulang?” tanya Clay saat bertemu Aruna.“Ah, ya.” Aruna mengangguk menjawab pertanyaan Clay.“Kenapa jam segini kamu masih di perusahaan?” tanya Aruna.“Sebenarnya tadi ada pemotretan ulang, jadi aku datang kemari lagi dan ini baru selesai,” jawab Clay menjelaskan.Aruna mengangguk-angguk pelan mendengar jawaban Clay. Dia lantas perlahan melangkah untuk menjaga jarak dengan pria itu sesuai instruksi Ansel.“Aku bertemu suamimu tak hanya sekali, kenapa aku merasa dia tak menyukaiku?” tanya Clay tiba-tiba.Aruna cukup terkejut mendengar pertanyaan Clay. Dia pun menghentikan langkah sambil menatap pria itu dengan tanda tanya besar di kepala

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-28
  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   Langit Bertindak

    “Asistenku sudah berusaha meminta agar manager toko membuka rekaman Cctv sehari sebelum event berlangsung, tapi manager itu mengatakan jika hari itu kamera Cctv sedang dilakukan pemeliharaan sehingga kamera tidak berfungsi sebagai mana mestinya,” ujar Ansel setelah menceritakan apa yang diketahuinya. Dia menceritakan semuanya ke Langit.Langit diam berpikir mendengar ucapan Ansel. Sama halnya dengan sang menantu, Langit juga merasa aneh dengan prosedur pemeliharaan Cctv yang bertepatan dengan banyaknya orang sedang beraktivitas di sana.“Daddy akan mendatanginya langsung untuk melihat sendiri kebenaran ucapan manager itu. Polisi hanya mengecek rekaman saat kejadian saja, daddy pun tak berpikiran sampai harus mengecek Cctv sehari sebelum event,” balas Langit sambil menatap Ansel yang bicara dengannya di ruang kerja.“Asistenku pun tidak akan tahu soal kamera Cctv yang tak dalam posisi sebagaimana mestinya jika bukan karena percakapan

    Terakhir Diperbarui : 2024-04-28

Bab terbaru

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Akhir

    Aruna dan yang lain buru-buru pergi ke rumah sakit setelah mendapat kabar jika Winnie mau melahirkan, tapi siapa sangka saat masuk ruangan malah melihat Hanzel juga, membuat semua orang bingung.“Hanz, kenapa kamu di sini?” tanya Aruna bingung.“Milea melahirkan,” jawab Hanzel.“Lah, bukannya ini kamar Winnie?” tanya Aruna bingung.“Ya, mereka berdua di sini. tuh!” Hanzel menunjuk ke dalam.Ternyata Bumi dan Hanzel setuju jika istri mereka satu kamar agar bisa saling bantu menjaga.Aruna, Ansel, dan kedua orang tuanya terkejut mendengar ucapan Hanzel. Mereka buru-buru masuk untuk melihat apakah yang dikatakan Hanzel benar.“Kalian benar-benar janjian. Hamil dan melahirkan bisa barengan,” cerocos Aruna sangat tak menyangka.“Kebetulan saja, aku masuk duluan baru Winnie,” balas Milea.Semua orang yang ada di sana terlihat sangat bahagia, belum lagi setelah itu datang keluarga Hanzel dan Milea karena ingin menyambut cucu mereka.“Anak kalian seperti kembar.” Aruna dan yang lain memandang

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Milea & Winnie

    “Mama, tadi Emily bantu gambar ini, lho.” Kai memperlihatkan gambar yang dibawanya.“Mana coba lihat.” Milea mengambil buku gambar dari tangan Kai.Milea sudah ambil cuti melahirkan karena usia kandungannya memasuki sembilan bulan. Dia fokus dengan kesehatan kehamilan dan Kai yang sekarang sudah duduk di bangku sekolah dasar.“Yang mewarnai siapa?” tanya Milea sambil memperhatikan gambar itu.“Kai dong. Kai pintar ‘kan?” Kai menjawab dengan bangga.“Iya, pintar,” balas Milea.Kai sangat bangga dapat pujian dari sang mama, hingga melihat Milea yang meringis.“Mama kenapa?” tanya Kai sambil menggenggam telapak tangan Milea.“Tidak kenapa-napa,” ucap Milea sambil tersenyum meski perutnya mendadak kencang.“Mama yakin?” tanya Kai yang cemas.Belum juga Milea menjawab, dia merasa kalau perutnya semakin sakit seperti mengalami kontraksi, tentu saja hal itu membuat Kai cemas.“Bibi! Mama sakit!” teriak Kai karena di rumah itu hanya ada dirinya, kedua orang tuanya, dan pembantu.Milea dan Han

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Aku Terima

    “Pernyataanmu tadi, apa bisa aku anggap benar?”Jean tertegun hingga menoleh Raja yang duduk di belakang stir. Dia mengulum bibir menunjukkan kalau sedang dalam kondisi panik dan bingung.“Aku tidak tahu harus menyebutmu apa? Adik tidak mungkin, teman terlalu aneh.”Jean mencoba sedikit mengelak dari pengakuannya ke Milea.“Berarti memang bagus pacar. Jadi, apa bisa jadi pengakuan untuk seterusnya?” tanya Raja lantas menoleh Jean.Jean benar-benar salah tingkah mendengar pertanyaan Raja. Dia memberanikan diri menoleh ke pemuda itu.“Jangan berharap banyak kepadaku. Aku memiliki banyak kekurangan termasuk mungkin takkan bisa memberikan cinta yang sempurna untukmu,” ucap Jean takut Raja kecewa.“Kamu tahu, tidak ada yang namanya cinta sempurna. Yang ada, saling melengkapi kekurangan masing-masing. Asal kamu mengizinkan, aku akan menerima semua kekurangan itu.”Raja menatap Jean penuh harap. Dia menyadari jika Jean seperti tidak tertarik dengan sebuah hubungan percintaan, tapi dia pun ta

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Berkumpul Bersama

    “Apa kamu tidak merasa aneh jalan denganku?”Jean mengamati sekitar, banyak remaja memperhatikannya yang sedang jalan dengan Raja.“Kenapa aku harus merasa aneh?” tanya Raja balik dengan santai.“Karena kamu jalan dengan wanita yang layak jadi kakak, tante, mungkin mama.”Jean menjawab sambil menoleh Raja.Raja tertawa mendengar ucapan Jean, lantas membalas, “Untuk apa memikirkan pandangan orang yang tidak ada habisnya. Yang menjalani aku, kenapa mereka yang repot?”“Lagi pula sekarang kita hanya jalan, kalau kamu menerima perasaanku, aku malah akan menggandeng tanganmu lantas memberitahu mereka kalau kamu kekasihku, bukan kakakku, tanteku, atau mamaku,” ujar Raja lagi memberi clue ke Jean untuk merepon perasaan yang diungkapkan sebelumnya.Jean langsung berdeham mendengar ucapan Raja, bahkan mengulum bibir sambil memalingkan muka.Raja menoleh Jean yang memalingkan muka darinya, dia pun lantas kembali berkata, “Apa kamu yakin belum mau memutuskan? Tapi kalau belum juga tidak apa, aku

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Restu Tanpa Minta

    “Jean,” panggil Ive saat melihat putrinya sedang menuruni anak tangga.Jean yang sedang ingin ke dapur mengambil minum, akhirnya berbelok ke ruang keluarga untuk menghampiri sang mama dan papa.“Ada apa, Ma?” tanya Jean.“Duduklah sini,” pinta Ive sambil menepuk sofa di sampingnya.Jean menuruti ucapan sang mama, lantas menatap kedua orang tuanya bergantian.“Apa ada masalah, Ma?” tanya Jean agak cemas karena tak biasanya kedua orang tuanya memanggil sambil memperlihatkan ekspresi serius seperti itu.“Apa kamu sebelumnya menolak kencan buta karena sudah punya pacar dan pacarmu itu yang tadi pagi jemput?” tanya Ive memastikan sebelum bicara ke pembahasan lebih lanjut.Jean sangat terkejut mendengar pertanyaan Ive, membuatnya gelagapan karena bingung harus menjawab apa.Ive dan Alex saling tatap, mereka pun semakin yakin kalau memang benar pria yang menjemput Jean adalah pacar putrinya.“Sebenarnya, asal kamu suka, tidak masalah kamu mau pacaran sama siapa, mau nikah sama siapa. Mama da

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Jean Untukku

    “Lain kali jangan mendatanginya dengan alasan kamu merasa bersalah! Bukankah kamu seharusnya merasa bersalah karena mendekati kekasih adikmu sendiri.”Raja baru saja sampai rumah saat sang kakak juga sampai di rumah. Dia memperingatkan kakaknya itu agar tak mendekati Jean lagi.Saat Arthur hendak membalas ucapan Raja, Amanda sudah lebih menegur mereka berdua.“Kenapa kalian bersitegang lagi?” tanya Amanda sambil menatap kedua putranya itu.Raja dan Arthur menoleh bersamaan ke Amanda. Raja terlihat tak senang karena menyadari jika sang mama pasti akan membela kakaknya.Amanda menatap Arthur yang hanya diam, hingga tatapannya tertuju ke Raja.“Raja, mama mau bicara denganmu sebentar, bisa?” tanya Amanda dengan suara halus agar putranya tak salah paham kepadanya.Raja menatap sang mama, lantas mengangguk karena tak bisa menolak permintaan wanita itu.Raja pun mengikuti sang mama yang berjalan lebih dulu di depannya. Dia mengikuti hingga sang mama masuk ke ruang kerja ayahnya.“Mama mau b

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Tak Senang

    “Yang ini nanti kamu kirim ke bagian marketing. Jangan lupa minta untuk dicek ulang,” perintah Jean ke sekretarisnya.“Baik, Bu.” Sekretaris Jean mengangguk.Jean memberikan berkas yang baru dicek. Dia lantas kembali mengurus berkas lainnya yang bertumpuk di mejanya.Saat sedang fokus ke berkas, tiba-tiba saja telepon kabel di mejanya berdering, membuat Jean menjawab panggilan itu lebih dulu.“Selamat siang Bu Jean, ada seseorang yang ingin menemui Anda tapi belum membuat janji. Anda ingin menemuinya atau tidak?” tanya staff resepsionis dari seberang panggilan.Jean mengerutkan alis mendengar pertanyaan resepsionis.“Siapa?” tanya Jean penasaran hingga dia terdiam mendengar nama yang disebutkan resepsionis.Jean menutup panggilan itu, lantas memilih keluar dari ruangannya untuk menemui orang yang mencarinya.Jean pergi ke lobi, hingga melihat pria yang berdiri membawa sebuah paper bag.“Mau apa kamu menemuiku?” tanya Jean sambil menatap Arthur yang datang menemuinya.Arthur membalikka

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Hanya Memastikan

    Raja tersenyum melihat Jean keluar memakai celana. Dia tidak menyangka kalau wanita itu mau berganti pakaian hanya karena dirinya memaksa ingin mengantar.“Besok aku akan membawa mobil,” ucap Raja sambil menyodorkan helm ke Jean.“Kamu tidak perlu menjemputku setiap hari,” balas Jean sambil menerima helm dari Raja lantas memakainya.Siapa sangka Raja mendekat ke Jean, lantas membantu memasang tali pengaman helm.Jean cukup terkejut dengan apa yang dilakukan Raja, tapi dia berusaha untuk tenang.“Aku suka melakukannya,” balas Raja setelah selesai memasang tali helm sambil menatap Jean.Jean mengalihkan pandangan dari pemuda itu, bahkan menggeser posisi agar tak terlalu dekat dengan Raja.“Bisa kita berangkat sekarang?” tanya Jean karena mulai salah tingkah melihat tatapan Raja.Raja hanya mengulum senyum, lantas naik ke motor disusul Jean. Pemuda itu pun melajukan motor meninggalkan rumah Jean.Di rumah, ayah Jean keheranan karena mobil putrinya masih di garasi.“Jean ke kantor naik ap

  • Kakak Cantik, Jadi Mamiku!   S2 : Menepati Ucapan

    [Jill, jika ada yang menyukaiku, tapi tak sesuai ekspektasiku. Apa yang harus aku lakukan?]Jean mengirimkan pesan ke Jill karena tak tahu harus bagaimana mengatasi masalah yang sedang dialaminya.Jean duduk di kasur sambil menatap pesan yang baru saja dikirimkan ke Jill. Hingga beberapa saat kemudian pesan itu dibaca sepupunya itu.[Fokus pada keinginan awalmu, Jean. Baru kamu bisa memutuskan apa yang kamu inginkan.]Jean membaca pesan dari Jill, memang tak banyak membantu tapi setidaknya itu bisa membuatnya tenang. Dia pun mengirimkan balasan terima kasih ke sepupunya itu, lantas mengembuskan napas kasar.Hari berikutnya, Jean sarapan bersama kedua orang tuanya seperti biasa.Ive terlihat menatap Jean yang makan tanpa bicara, banyak perubahan yang membuat wanita paruh baya itu sedih.“Akhir minggu ini, bagaimana kalau kita Me Time bersama, Jean?” tanya sang mama ingin kembali mempererat hubungan keduanya.Jean memandang sang mama, lantas menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis.

DMCA.com Protection Status